Copyright (Naruto) : Masashi Kishimoto
Copyright (LIFE : Naruto as a Uke Part II) : Sylvan
Chapter II : Recall
AN : Paragraf yang di center alignment adalah flashback.
Tanda petik satu (') : Inner
"Aku tidak pernah meminta kepada mereka. Aku tidak pernah meminta kepada mereka apapun. Aku tidak pernah menuntut kepada mereka agar mereka melakukan sesuatu yang aku inginkan. Aku tidak ingin ada hal yang akan mereka jadikan alasan bagiku untuk mematuhi semua perintah mereka. Aku tahu aku hanyalah sesuatu barang yang mereka gunakan untuk mereka pajang dan pamerkan layaknya perhiasan dan barang mewah. Tak ayalnya aku ini hanyalah seorang anak dengan gelar penerus keluarga bangsawan. Melakukan hal ini dan melakukan hal itu, mereka mengatur seluruh sendi kehidupan yang aku jalani tanpa ada sedikitpun menyisakan ruang bagiku untuk melakukan apa yang aku ingin kan. Tanpa ada sedikitpun rasa peduli. Bahkan untuk sekedar menanyakan bagaimana kabarku hari ini, apa yang sedang aku ingin lakukan, atau pertanyaan-pertanyaan semacamnya. Itu benar. Bahkan aku tidak pernah meminta kepada mereka untuk dilahirkan. Lalu kenapa aku harus menanggung semua beban berat seorang bangsawan hanya untuk menjaga gelar dan kehormatan mereka yang sangat tidak masuk akal itu ? Ya, mereka akan melakukan apa saja hanya untuk tetap dikatakan sebagai orang yang terhormat, apa saja. Mengorbankan perasaan anak mereka sendiri ? Ha, please. Mereka pernah melakukan sesuatu yang lebih besar dari pada hanya sekedar "mengorbankan perasaan". Mereka bahkan rela hingga menghabisi nyawa orang lain jika orang itu mengetahui tentang kebusukan mereka. Mereka hanya tinggal menutup semua dengan uang. Bagi mereka, nama besar mereka bahkan lebih berharga dari nyawa seseorang. Yang benar katamu ? Aku telah melihatnya puluhan kali semenjak aku masih anak-anak hingga aku sebesar ini. Aku tidak begitu yakin apakah mereka itu manusia ataukah makhluk lain. Mereka terlalu jahat untuk menjadi manusia".
Surai silver pria itu tertunduk bersama dengan kepalanya. Tak henti-hentinya ia menggenggam sepasang cincin yang harusnya akan ia pakaikan kepada orang yang ia kasihi. Ia menempelkan genggaman tangan ke dahinya sambil memejamkan mata. Ruangan itu nampak gelap, hanya ada beberapa guratan cahaya matahari dari luar yang masuk menembus gorden yang sangat tebal ke dalam ruangan. Sendirian, sunyi tanpa suara. Ia meneriakkan kekesalan yang entah harus kepada siapa ia tujukkan dalam diam. Beberapa kali ponsel dalam saku celana bahan putih yang ia pakai bergetar tanda panggilan masuk, namun ia tidak sedikitpun bergeming dari keadaannya. Rasa pedih dari serpihan-serpihan kaca yang menusuk tangan kanannya hampir tidak terasa. Darah yang sebelumnya mengalir dan menetes dari tangannya pun kini telah mengering. Pecahan kaca yang lainnya hanya tergeletak tak bersuara di hadapannya, menemani pria itu melewati detik-detik yang ia habiskan dalam diam.
"Sepanjang hidupku, aku habiskan tanpa merasakan apapun. Semuanya kosong bagiku. Aku tak pernah merasa sedih, aku tak pernah merasa benci, aku tak pernah merasa marah, aku pun juga tak pernah merasakan kebahagiaan. Terlebih, sebuah emosi yang bernama cinta. Sampai pria itu hadir dalam kehidupan kosongku. Pria itu hadir dan mengisi semua ruang kosong dalam hati ini, hingga aku bisa merasakan semua emosi yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Dia mengajariku untuk marah, ia mengajari ku bagaimana rasa kesedihan, ia mengajarkan semuanya. Yang terpenting, ia mengajariku apa itu cinta. Bukannya aku bodoh dan benar-benar tidak mengetahui atau belum pernah mendengar tentang apa itu cinta. Aku mengerti semua itu hanya secara teoritis, namun pada kenyataannya, hatiku tak pernah merasakannya".
Kedua indera pendengarannya menangkap sesuatu. Tanpa membuka matanya pun ia tahu jika pintu ruangan gelap itu telah dibuka oleh seseorang. Cahaya yang masuk dari luar pintu membuat keadaan ruangan sedikit terlihat. Pecahan kaca berserakan, dan semua perabot di sana sudah tidak berada pada tempatnya. Indera lain pria silver itu mengatakan bahwa si pembuka pintu ini berbeda dengan yang tadi. Jika orang ini sama dengan yang tadi, pasti telinga sang pria silver akan langsung mendengar permintaan maaf secara bertubi-tubi karena telah mengganggu dirinya. Kali ini hening padahal pintu telah terbuka. Jawabannya hanya satu.
"Pergilah. Aku akan membeli cermin yang lebih besar daripada yang ini jika memang cermin ini begitu mahal. Yang paling penting sekarang adalah kau segera pergi dari sini. Sebelum kejadian yang sama terjadi pada wajahmu".
Pria di seberang sana perlahan melangkahkan kaki masuk lebih dalam ke ruangan itu. Emosinya memuncak namun tidak begitu terlihat. Ia semakin berjalan mendekati pria silver yang masih belum bergerak sejak tadi, masih memejamkan kedua matanya sambil menggenggam erat sepasang cincin yang ia miliki.
"Beraninya kau berkata seperti itu tepat di depan wajahku. Kau pikir kau siapa ? Aku tidak membesarkan seorang pemberontak di dalam rumahku ini".
"Koreksi. Kau tidak membesarkanku sama sekali. Yang membesarkan ku selama ini adalah para pelayan dan perawat yang bekerja di sini. Adapun kau, aku bahkan tak mengenal siapa dirimu yang sebenarnya".
Buagh.
Sebuah pukulan tepat menyasar wajahnya. Keadaannya yang sedang terpejam membuatnya tak siap hingga ia terhuyung jatuh dari kursinya. Sepasang cincin yang sejak tadi ia genggam pun terlempar entah kemana. Kepalanya serasa berputar, ditambah suasana ruangan yang remang-remang, membuat pria silver itu kesulitan menyesuaikan navigasi tubuhnya untuk kemudian berdiri tegak di atas kedua kakinya. Yang bisa lakukan hanyalah menggeliat sambil sesekali mengerjapkan kedua matanya untuk meringankan pusing yang ia alami. Baru saja ia dapat memahami situasi sekitar, ia merasakan udara di perutnya tertekan keluar. Ya, pria yang meninjunya kini menambahkan sebuah "hadiah" untuknya dengan menendang bagian perut. Pria silver itu kembali terjatuh ke lantai sambil memegangi perutnya.
"Kau... kau tidak lebih dari seorang lelaki yang menyukai lelaki lain. Perilaku kotor yang bahkan lebih rendah daripada binatang. Memikirkannya saja membuatku ingin muntah. Bagaimana bisa seorang pria mencintai pria yang lain ?! Aku bahkan tidak tahu kata apa yang pantas untuk menggambarkan perilakumu itu. Kau hanyalah sebuah aib, tak lebih dari secuil kotoran yang mencemari nama keluarga. Kau harusnya bersyukur karena aku masih bisa mendapatkan seorang gadis untukmu dan kau bisa menikah dengannya. Dasar anak yang tak tau diuntung. Katakan padaku, apakah rasanya nikmat, hmm ? Ketika tubuhmu disentuh oleh pria lain ? Ketika tubuhmu ditindih dan ditiduri oleh pria lain ? Padahal kau sendiri adalah pria, kau benar-benar tidak punya harga diri".
"Aku tak pernah meminta untuk menjadi anakmu. Kenapa tidak kau buang saja aku ketika kau mengetahuinya dulu ? Itu pasti akan lebih mudah bagimu dan juga bagiku".
"Apa kau bercanda ?!! Siapa yang tidak menyesal memiliki anak gay sepertimu ??!! Tapi semua orang telah mengetahui bahwa kau adalah anakku. Pasti mereka akan bertanya-tanya mengapa aku membuangmu. Namaku akan tercoreng karenanya".
Pria silver itu telah mampu berdiri tegak walaupun dengan susah payah. Kini ia berdiri sejajar dan berhadapan dengan pria yang memanggil dirinya ayah dari si pria silver. Tangan pria silver itu menggenggam dengan sangat erat.
"Kalau begitu berhentilah memanggil ku anakmu".
Buagh.
Kini sebuah tinjuan serupa diluncurkan oleh sang pria silver sesaat setelah ia menyelesaikan kalimatnya. Pria yang ada di depannya terhuyung ke belakang dan terududuk dengan kedua tangan sebagai sanggaannya.
"Jangan pernah memanggil ku sebagai anakmu. Aku tidak pernah meminta untuk menjadi anakmu. Jangan lagi sebut aku anak yang tidak tau berterima kasih karena kau tidak pernah memberikan apa yang aku mau. Kau bahkan tak pernah merawatku ketika aku masih kecil, karena kau sibuk menjaga nama keluarga bodohmu itu. Aku tidak pernah menyusahkanmu dan aku selalu memenuhi kebutuhan diriku sendiri sejak aku berumur lima belas tahun. Aku tak pernah perduli apalagi mengurusi kehidupan pribadimu. Dan aku juga tak pernah memintamu untuk mengurusi kehidupan pribadiku jadi berhentilah bersikap seperti seorang ayah sekarang, karena itu sudah terlambat. Jika kau masih saja bersikeras untuk ikut campur, aku akan melakukan hal-hal gila yang tidak akan pernah kau bayangkan sebelumnya".
Pria silver itu menjeda sebentar kalimat yang baru saja ia ucapkan. Kemudian melanjutkan kalimatnya dengan sebuah usiran.
"Sekarang enyahlah dari sini. Aku juga tidak akan berlama-lama di sini. Aku akan pergi dari rumahmu ini segera setelah aku menemukan cincinku. Sekarang pergi atau ku buat kau babak belur, pria tua".
Pria yang dipanggil pria tua itu pun berdiri. Ia terlebih dahulu membersihkan celananya yang terkena lantai. Kemudian membenahi dasi dan tuxedo mahal miliknya yang sedikit berantakan.
"Kau kira hanya kau yang bisa mengeluarkan ancaman huh ? Jika kau masih bersikeras menolak perjodohan yang aku buat, aku akan membuat hidupmu menderita".
Sang pria silver pun menemukan cincinnya kembali. Ia memungut sepasang cincin miliknya dan kemudian berlalu tanpa menghiraukan kehadiran atau bahkan ancaman yang diberikan oleh pria yang ada di hadapan dirinya. Ia berhenti di ambang pintu ruangan itu sambil menjawab ancaman ayahnya.
"Kau berbicara seperti orang yang belum melakukannya. Kau sudah melakukannya bahkan sejak aku lahir, dan aku masih hidup sampai sekarang. Jika ingin mengancamku, carilah sesuatu yang lebih bagus. Aku tidak akan merubah keputusan yang telah aku buat. Aku hanya akan menikah dengan orang yang aku cintai. Entah dia itu laki-laki atau perempuan, aku tidak peduli. Mencemari namamu atau tidak, itu bukanlah urusanku, karena sekali lagi, aku bukanlah anakmu".
Sang pria silver berlalu begitu saja. Meninggalkan ayahnya berdiri di sana, di dalam ruangan yang dipenuhi dengan pecahan kaca dan perabot yang berantakan. Raut wajahnya begitu datar tanpa menunjukkan ekspresi apapun. Ia pergi menuju suatu tempat yang sudah ia pesan seminggu sebelum nya bersama kekasihnya. Sebuah kafe kecil milik mantan muridnya dahulu. Ia tidak peduli dengan kenyataan bahwa ayahnya juga sudah menyiapkan sebuah pesta pernikahan yang sangat mewah dengan ratusan tamu undangan dari berbagai kalangan elit. Bahkan yang ia undang dalam pesta kecilnya di kafe itu hanyalah beberapa orang terdekat dan teman-teman sejawatnya.
Dari dalam ruangan, pria tua itu terus saja menatap punggung si pria silver sampai ia menghilang dari pandangan. Segera terbetik dalam benaknya untuk menghubungi seseorang yang ia anggap mampu mengatasi ganjalan kecil yang sedang ia hadapi. Ia merogoh saku bagian dalam dari tuxedo mahal yang ia kenakan dan meraih ponsel miliknya.
Tap.
Tuut tuut tuut
"Halo".
"Ini aku".
"Seperti yang aku duga, anak itu sangat keras kepala. Ia masih bersikukuh untuk menikahi kekasih prianya. Memikirkannya saja membuatku ingin muntah. Ini akan berakibat sangat buruk bagi nama keluarga. Apa yang akan dikatakan oleh orang-orang ketika melihat mempelai yang bersanding dengan anakku berjenis kelamin sama dengannya ?!".
"Aku ingin kau membereskan masalah ini sebelum sore hari. Mereka akan melangsungkan acara mereka di sebuah kafe di dekat Universitas Konoha. Aku ingin kau membereskannya supaya pesta malam ini sukses".
"Kalau tidak ? Hmm... kau tahu apa yang harus kau lakukan". Ia pun menutup telponnya disertai dengan seringai di wajahnya.
"Mungkin dia benar. Bukannya aku tak tahu bahwa seorang pria harusnya memiliki pasangan seorang wanita, begitu pula sebaliknya, seorang wanita harusnya memiliki pasangan seorang pria. Aku hanya tidak merasa seperti itu. Seumur hidupku aku tidak pernah merasakan ketertarikan kepada siapapun, entah itu pria ataupun wanita. Namun ketika ia datang, semua menjadi jelas. Aku memiliki ketertarikan kepada pria, bukan kepada wanita. Entah bagaimana itu bisa terjadi. Maksudku, aku pun tidak memilih untuk menjadi seperti ini. Aku tidak memilih untuk bisa menyukai lelaki. Yang aku tahu hanyalah ketika aku melihatnya, jantungku berdegup kencang dan darah ku berdesir hebat seperti orang yang sudah gila. Andai aku bisa memilih, tentu aku akan memilih untuk menyukai seorang wanita, menikah, memiliki anak dan menua bersamanya. Sebuah hidup normal yang menyenangkan. Akan tetapi aku tak mampu melakukannya. Sebanyak apapun aku mencoba, sekeras apapun aku mencoba, aku tak bisa menyukai seorang wanita. Rasanya tak sama, jantungku tidak berdegup kencang dan tubuhku tidak merespon dengan respon yang sama ketika aku melihat dirinya. Apa yang salah denganku ? Apakah ini takdir ? Ataukah ini memang sebuah kutukan yang diturunkan untukku ? Apa kau pikir menjadi seperti ini sangat menyenangkan ? Apa kau pikir menjadi seperti ini merupakan keinginanku sendiri ? KAU SALAH BESAR. Dan kau tak henti-hentinya menyalahkan ku pada sesuatu yang bahkan aku sendiri tidak dapat mengontrol nya. Kau benar-benar bukan seorang manusia".
Siang berganti malam, cahaya surya meredup di ufuk barat beriringan dengan gelap nya malam yang datang dari arah timur perlahan menyelemuti angkasa. Satu persatu gedung di kota Konoha dan bangunan lain menyalakan penerangan yang mereka miliki untuk mengusir kegelapan. Kecuali kamar apartemen yang ditempati oleh Shikamaru pada hari ini. Sore hampir berganti malam namun ia belum juga menyalakan penerangan apapun di dalam kamarnya. Cahaya oranye yang masuk ke dalam kamarnya terus memudar hingga akhirnya hilang total. Keadaannya masih sama sejak beberapa jam yang lalu. Ya, ia terus menemani sahabatnya yang menangis sepanjang siang. Kemudian ketika sore menjelang, ia tertidur tepat di atas pelukan Shikamaru. Shikamaru pun tak bergerak agar si blonde sahabatnya tak terganggu. Membiarkannya untuk melakukan apa yang ia inginkan untuk hari ini. Ya, untuk hari ini saja setidaknya ia tidak terganggu oleh apapun.
Shikamaru terlentang di atas lantai dan menjadikan kedua tangannya sebagai bantalan untuk kepalanya. Dan sahabatnya tertidur pulas dengan memeluk tubuhnya di atas dadanya. Tatapan kedua mata Shikamaru begitu kosong mengarah pada langit-langit kamar. Berfikir tentang apa yang harus ia lakukan ketika orang yang sekarang sedang tidur di atas tubuhnya sudah terbangun. Kalimat menghibur ? Kalimat simpatik ? Lelucon ? Memberi semangat ? Ikut merasakan kesedihan ? Mengerti ? Ugh, terlalu banyak yang ingin dia katakan kepada si blonde, tapi ia yakin bahwa bocah itu pasti membutuhkan waktu untuk sendiri. Akan lebih baik jika ia menahannya sampai Naruto benar-benar pulih dari luka yang ia derita.
Malam mulai menjelang, satu persatu gedung yang berada di sekitar apartemen Shikamaru mulai menyalakan penerangan mereka. Satu persatu cahaya penerangan mereka masuk ke dalam kamar apartemen Shikamaru yang sudah sangat gelap dan tak terlihat apapun. Sebuah cahaya menyilaukan mata muncul dari ponsel miliknya disertai getaran yang bisa terdengar oleh telinga. Getaran dengan durasi yang panjang menandakan bahwa ada panggilan masuk. Untung saja ponsel itu berada dekat dengan Shikamaru, sehingga ia tak perlu sampai membangunkan Naruto hanga untuk mengambil ponsel miliknya.
"Halo, bagaimana ?".
"Begitukah ? Syukurlah kalau begitu. Aku sangat lega mendengarnya".
"Besok ? Mungkin Naruto bisa skip kelas paginya".
"Yup. Terima kasih, Sakura".
Tuut tuut tuut
"Aku harus mencuci outfit Naruto sebelum noda darahnya mengering".
Tak lama kemudian, ia mendengar suara ketukan pintu yang berasal dari luar. Berat rasanya, tapi mau tidak mau ia harus membuka pintu kamar nya. Mungkin saja itu adalah urusan yang sangat penting.
Dengan berat hati Shikamaru menyentuh sedikit wajah Naruto dengan jari telunjuknya. Naruto langsung membuka matanya dengan kaget dan langsung terduduk tegap.
"Maaf, Shika. Aku jadi tertidur di ataa tubuhmu. Aku pasti berat".
"Sudahlah. Aku yang harusnya minta maaf kepada mu karena telah mengganggu tidurmu. Setelah semua yang terjadi, kau pantas untuk beristirahat dari ini semua. Aku mebangunkanmu karena ada tamu yang mengetuk pintu. Aku akan menemuinya jadi kau tunggulah di sini".
"Baiklah". Naruto mengangguk
Tok tok tok tok
"Iya aku datang".
Cklek
"Naruto di dalam ?".
"Masuklah".
TBC
Hello Minna-san. Syl is here. Di sini akan mulai masuk ke masalah utamanya ya minna-san. Dan insyaAllah Sylvan bakal memperdalam lagi pembahasan tentang semua couple disini. Jadi ga melulu bicara soal Naruto terus. Mungkin ini bakal jadi fic terpanjang yang Sylvan bikin. Entah apa yang merasuki diriku ini hahaha...
News : Omegaverse dan YOI (JJBEK) fanfic is coming up abis Unleashed selesai minna-san. Terus Difference juga bakal Syl terusin dalam waktu dekat ini. Maaf sekali karena fic syl yg itu mandek. InsyaAllah update soon.
Terima kasih yang sudah membaca sampai sini.
Ripiw, kritik, saran, komentar, bully, anything. Coret coret aja di bawah
Sekian dan terimakasih
Syl out.
