Chapter 2 : Weird mark
Zen Wistaria memasuki ruangan megah dimana Izana Wistaria ada di dalamnya setelah pengawal pintu ruangan itu mengumumkan kalau dia bisa memasuki ruangan itu. Ruangan itu berhiaskan tipikal ruangan pangeran pada umumnya, karpet sutra merah membentang menutupi lantai marbel ruangan itu, jendela-jendela kaca yang besar dengan tirai elegant tak luput menghiasinya, ditambah lagi dengan lampu gantung nan megah menghiasi langit-langit ruangan itu menambah kesan mewah nan megah ruangan milik Izana Wistaria itu.
"Ada perlu apa kamu ke sini, Zen?" Tanya Izana Wistaria pada adiknya yang baru saja memasuki ruangannya. Walaupun dia sudah tahu apa maksud kedatangan Zen menemuinya, tapi bukan berarti dia tak bisa menggoda adiknya itu sedikit bukan?
Zen membungkukan badannya sedikit memberikan tanda hormat dahulu, "Nii-sama, saya datang ke sini untuk mengklarifikasi tentang rumor yang beredar."
Seringaian kecil terbentuk di sudut bibir pangeran Clarines itu, sambil menyandarkan pipinya pada tangannya yang dia letakan di atas meja, Izana berkomentar "Soal gadis itu 'kan?" ucapnya dengan tak tertarik akan topic yang mereka berdua bicarakan. Mata biru memukau miliknya menatap adiknya yang mengangguk itu dengan tatapan meledek, "Lalu kenapa kamu menolong gadis itu, Zen?" mata biru itu menyipit sedikit dengan kerlingan ledekan di dalamnya, "Apakah karena Shirayuki? Atau karena kasihan?"
Zen hanya bisa mengeraskan kepalan tangannya yang ada di samping mendengarkan pertanyaan dari kakaknya itu. Tak ada alasan baginya menolong gadis itu. Dia hanya ingin menolong gadis saja. Bukankah sudah semestinya kalau ada seseorang yang terluka kita menolongnya?
Menarik nafas pelan, menenangkan dirinya, Zen menjawab sambil menatap sepasang mata biru milik kakaknya yang terlihat sama persis dengan miliknya dengan tatapan tegas "Tidak, aku hanya ingin menolongnya saja. "
Iris mata Izana membulat sedikit, "Sou ka. Baiklah aku tak keberatan akan hal ini. Lagipula kamu langsung datang menemuiku saja sudah cukup untuk mengklarifikasi akan rumor itu," senyuman meledek menghiasi wajah tampan pangeran Clarines itu, "Kawaii yo Zen."
Sebal sekaligus malu menjadi ekspresi yang terlihat di wajah pangeran Zen Wistaria. "Nii-sama!" protesnya akan ledekan kakaknya itu.
Masih dengan senyuman meledek itu Izana lalu mulai memasang wajah serius "Jadi apa yang ingin kamu minta lagi?"
"Kore da," Adiknya itu mengeluarkan sebuah belati dari balik jubahnya, meletakan belati itu di atas meja kerja kakak. Izana mengerutkan keningnya seakan-akan bertanya pada adiknya 'ada apa dengan belati itu?'. "Belati itu milik gadis yang kami tolong." Dengan wajah datar Izana menatap belati itu, sebuah tanda dari belati itu mencuri perhatiannya.
Tanda bulu burung yang ditancap pedang.
Zen juga menundukan kepalanya seraya memerhatikan tanda belati itu, "Apakah kakak pernah melihat tanda ini?" komentnya sambil menatap kakaknya yang masih menatap belati itu. Ada sesuatu yang Zen tak tahu apa artinya di balik kerlingan mata biru milik kakaknya.
Senyuman misterius khas Izana terukir di wajahnya, "Tidak aku tak mengenalnya."
Urat kening Zen berkedut menanggapi perkataan kakaknya itu. Zen tahu kalau kakaknya sebenarnya mengenali tanda itu. Mengetahui watak kakaknya yang sulit untuk ditebak akhirnya Zen memutuskan untuk membiarkan kakaknya itu berbohong padanya. Lagipula nanti juga dia sendiri yang akan mencari tahu mengenai tanda itu.
"Ne, Zen apakah pernah terlintas dibenakmu kalau belati ini bisa saja barang curian?" entah itu sebuah pernyataan atau pertanyaan Zen tak bisa memilihnya.
"Maksudnya gadis itu mencuri belati ini?" mengambil belati itu lagi lalu membungkusnya kembali, Zen menggelengkan kepalanya dua pasang mata biru mereka saling bertemu, "Tidak."
Izana berdesah dalam hati 'Ciri khas Zen sekali.' Memejamkan matanya sejenak Izana mendengar adiknya kembali berbicara.
"Mitsuhide bilang dia pernah melihat tanda ini sebelumnya tapi lupa entah dimana" ucapan itu tak sengaja Zen ucapkan ketika dia berpikir kembali apa yang sudah dikatakan pengawalnya beberapa hari yang lalu.
Kalau Mitsuhide Louen pernah melihat tanda itu berarti tanda itu milik sebuah keluarga Nobel, tapi kenapa Mitsuhide tak bisa mengingat dimana dia pernah melihatnya? Secara Mitsuhide menjadi orang yang paling bisa Zen andalkan, jadi aneh bukan kalau dia tak mengingatnya?
Ah memikirkannya sudah membuat Izana semakin curiga tentang asal-usul gadis yang ditolong Zen itu. Menerawang ke depan memutar-mutar pikirannya membayangkan tanda di belati itu.
Dan ..
"Zen, kalau sudah tak ada urusan lagi kamu bisa pergi." Tanpa disadari Izana mengusir adiknya itu, sementara memorinya mengingat sesuatu yang sudah lama terjadi.
Suara 'Click' tanda pintu sudah tertutup rapat terdengar nyaring ditelinganya. Mata birunya menyipit berkonsentrasi terhadap memori yang baru saja terbangun di dalam jaringan syaraf otaknya.
Tanda bulu burung tertancap pedang itu sama dengan apa yang pernah dia lihat sewaktu kecil.
Tapi dimana?
Pertanyaan itu menghantui pikiran pangeran Clarines ini.
Memori akan mendiang ayahnya muncul kembali.
Sepasang iris biru indah itu membulat membayangkan apa yang dia ingat tentang tanda itu.
Tanda yang sama terukir elegant di atas pegangan pedang milik mendiang ayahnya.
-;-
"Na Ojou-chan gadis yang ditolong Master seperti apa rupanya?"
Suara Obi terkesan santai tapi sebenarnya dia sangat penasaran dengan gadis yang ditolong oleh Masternya itu –secara dia tak ikut bersama rombongan pangeran kedua Clarines itu ke Lyrias, karena Zen menyuruhnya untuk tetap tinggal di Wistal –ditambah lagi dengan rumor yang beredar membuat rasa ingin tahunya semakin bertambah.
Shirayuki berhenti sejenak dari pekerjaannya –yang sedang menanam bunga herbal –lalu berpikir sebentar. "Hmm.. Seperti apa ya? Aku tak benar-benar melihatnya sih'" gumamnya pelan –kalau dipikir-pikir lagi dia memang tak begitu melihat wajahnya secara dia terlalu focus untuk mengobati luka gadis itu –mata hijau miliknya membulat mengingat kembali akan rupa si gadis yang sekilas dia lihat, "Menawan."
Um Shirayuki sangat yakin kalau rupa si gadis akan sangat tampak menawan kalau luka-luka di wajah dan tubuhnya itu tidak ada, serta rambut lebat hitam panjang itu dirapikan. "Layaknya seorang putri." Yup tak diragukan lagi kalau gadis itu dalam kondisi baik, rupanya pasti seperti seorang putri.
"Seorang putri eh?" gumam Obi, sebuah ide untuk meledek gadis berambut merah yang menjadi tunangan Masternya itu terlintas dibenaknya. "Apa tak apa tuh Ojou-chan? Nanti Master Zen direbut lo'" sambil tersenyum meledek Obi bertanya pada Shirayuki.
Semburat merah mewarnai kedua pipi Shirayuki "Apa sih Obi. Lagipula aku percaya pada Zen." Senyuman hangat tergambar karena memikirkan pangeran kedua itu menghiasi wajah Shirayuki yang kotor karena noda tanah.
"Sou da yo ne.." balas Obi menanggapinya dengan santai, lalu kembali membantu Shirayuki menanam bunga herbal lagi.
-;-
