Mendengar pengakuan Sasuke, otaknya menjadi bingung, membuatnya berpikir sepanjang jalan. Mereka baru saja melewati rumah Sakura. Ia tak pernah datang tepat waktu, sehingga bisa dipastikan Sakura setiap hari lebih dulu sampai di sekolah daripada dirinya. Namun, mumpung hari ini dia sedang menjadi anak baik karena ada Sasuke, dia sempat memerhatikan rumah itu tadi, sejenak menghentikan dirinya dari keheranan.

"Sasuke," panggilnya, pada akhirnya dia bersuara. Sedari tadi rasanya tidak enak bertanya pada Sasuke. "Aku bingung, ada apa denganmu?"

"Apanya yang ada apa? Kau kan yang bilang aku cocok dengannya. Aku sepertinya mau berkenalan dengannya. Nanti kenalkan kami."

Jawaban Sasuke semakin membuatnya shock. Dia kembali menegang, seperti tadi ketika Sasuke dengan enteng membenarkan bahwa Hinata cocok dengan Sasuke padahal mereka belum saling mengenal. Ada sesuatu yang tidak beres dengan Sasuke. Dia tahu ini hal aneh yang baru bagi adik Itachi itu.

Ini pertama kalinya Sasuke sangat antusias saat dia akan berkenalan dengan seseorang, seperti ia sudah pernah bertemu dengan orang yang belum dikenal. Seperti Sasuke sudah pernah melihat Hinata dari jauh, namun tidak berani menanyakan nama gadis itu secara langsung atau memperkenalkan dirinya pada gadis itu.

"Maksudku bukan begitu Sasuke. Ayolah, kau bahkan tidak pernah mau tahu nama gadis berambut pirang yang sering kau lihat fotonya di facebook Sakura. Itu pun, aku yang memaksamu melihatnya. Jadi, Hinata, kenapa kau begitu tertarik?" ujarnya panjang lebar.

"Aku melihatnya, dua hari yang lalu, di Purple Cake and Bakery Shop. Ibunya memanggilnya Hinata. Ibuku bilang nama keluarga mereka Hyuuga. Aku sudah melihat akun facebook-nya dan juga adiknya. Ciri-cirinya …"

"Cukup. Aku mengerti. Jangan bilang kau tertarik padanya!" katanya tak percaya.

Sasuke menaikkan kedua alisnya. Ia memandang Naruto yang menatapnya penuh arti seolah mengatakan, 'Tidak mungkin gadis seperti Hinata'. "Memangnya tidak boleh?" tanyanya ketus. "Dia kan perempuan, aku laki-laki, apa itu tidak normal?" tambahnya lagi dengan raut tidak suka.


Naruto dan semua karakternya milik Masashi Kishimoto

Lirik dalam ffn ini sepenuhnya milik author beserta kutipan-kutipan di dalamnya.


Chapter 2


Tidak seperti biasanya, hari ini Naruto sangat diam. Beberapa teman sekelasnya bahkan sampai mengira Naruto sedang dirasuki hantu. Pemuda itu sesekali melirik Hinata yang duduk di deret kursi ketiga di barisan yang berada di dekat jendela.

Hinata sedang menyiapkan buku di mejanya. Di belakangnya Shikamaru terbuai dalam tidur yang menenangkan. Di depan gadis itu Gaara sedang memandangi kucing yang sedang berjalan-jalan di atas tembok. Di sampingnya, Chouji sedang memakan sarapannya. Di depan Chouji, pemuda dari klan Inuzuka sedang terkikik, Naruto bisa melihat sampul bacaaan mesum yang menutupi wajah pemuda itu. Di belakang Chouji, seseorang dari klan Aburame, duduk dengan tangan di pangkuan, pandangan lurus ke depan, tingkahnya seperti patung.

Tempat duduk Hinata hampir dapat dikatakan dikelilingi oleh para murid laki-laki. Naruto tahu betul, bukan karena menyukai Hinata mereka ada di sana, namun karena menyukai apa yang ada pada Hinata, yaitu makanan, kecuali Shikamaru, yang memutuskan tempatnya sekarang adalah tempat yang pas untuknya tidur sepanjang hari.

Dia menebak-nebak di mana Sasuke akan duduk. Dia sendiri, karena menyukai dirinya menjadi perhatian semua orang, dengan bangga duduk di tengah-tengah murid lainnya. Di baris ketiga dari lima baris yang ada di sana, dan di deret ke-tiga, tepat di sebelah kanan Chouji. Hanya ada satu meja yang belum di huni di kelas ini, itu pun karena salah satu temannya dulu pindah sekolah.

Berkat Sasuke, dia kembali mengingat seorang gadis bernama Shion, dulunya duduk di meja paling belakang di baris yang sama dengannya. Gadis itu pernah menyatakan suka padanya, namun dia tolak karena yang dia suka hanya Haruno Sakura. Beberapa minggu setelah pernyataan suka, Shion pindah ke Iwa. Tidak diragukan lagi, di sanalah Sasuke akan duduk.

Sebentar lagi pasti Sasuke masuk bersama wali kelas mereka, yaitu Ibiki. Tadi Sasuke bilang dia harus ke kantor kepala sekolah untuk melengkapi data diri. Lalu dia juga menyuruh Sasuke pergi ke bagian kesiswaan untuk mendaftarkan diri ke salah satu klub yang ada di sekolahnya.

Dengan begitu berbedanya dari Sasuke yang biasanya, dia langsung saja mendapatkan pertanyaan dari Sasuke, "Apakah Hinata ikut klub memasak?" dia benar-benar kuatir dengan Sasuke yang senang sekali membicarakan Hinata. Tadi dia sampai malu sendiri, karena hampir semua siswa satu sekolah mengenal Hinata. Dia takut nanti dikira dia yang suka Hinata.

Dia mengacak rambut pirangnya dengan kesal. Dia was-was dengan kabar yang disampaikan Sasuke nanti. "Aku daftar ke klub memasak." Pernyataan inilah yang amat ditakutinya. Mudah-mudahan bukan itu yang keluar dari mulut Sasuke.

Tiga menit kemudian, Ibiki dan Sasuke masuk ke dalam kelas. Sontak siswa-siswi berbisik-bisik penasaran. "Tenang semua. Hari ini kalian kedatangan teman baru," ucap Ibiki. "Nah, perkenalkan dirimu."

"Uchiha Sasuke," kata Sasuke singkat.

Ibiki berjalan dengan santai, menghampiri Shikamaru yang masih tidur. Tanpa bicara mengguncang-guncang tubuh Shikamaru sampai pemuda itu mendongak menatapnya. "Hei, Tukang Tidur, kau duduk di belakang sana saja," perintah Ibiki seraya menunjuk tempat yang dulu ditempati Shion. "Sekarang bila kau tidak mau aku mengganggu tidurmu," tambahnya dengan nada mengancam.

Sambil menguap malas, dia mengambil tasnya yang tersangkut di sebuah gantungan khusus di sisi mejanya yang sebelah kiri. Shikamaru pindah begitu saja tanpa protes ke tempat duduk Shion. Ibiki kembali lagi ke depan dan memerintahkan Sasuke duduk di belakang Hinata.

Astaga, apa dia menggunakan kekuasaan ayahnya untuk memindahkan Shikamaru agar bisa duduk dekat dengan Hinata? Naruto bertanya dalam hati, menggelengkan kepala, terheran dengan tingkah Sasuke yang menurutnya sudah berada di tahap mengerikan.


Dengan penuh semangat Hinata menyiapkan diri untuk pelajaran hari ini. Sepulang sekolah nanti ada jadwal bagi klubnya. Benar-benar menyenangkan, bahkan istirahat dia sudah bisa mempersiapkan segala keperluan untuk aktivitas klubnya hari ini. Belum lagi pelajaran terakhir adalah Agroindustri.

Dari rumah tadi dia membawa hasil panen kentang yang ia tanam di halaman belakang rumah. Mungkin beberapa temannya membawa bahan-bahan yang dibeli dari pasar. Ayame, selaku guru Agroindustri mereka minggu lalu telah mengatakan tema mereka hari ini adalah kentang.

Ibiki di jam pertama untuk mata pelajaran Fisika, sepertinya datang terlambat. Demi menghilangkan rasa bosan ia membaca buku paketnya. Mempelajari materi yang akan mereka bahas.

Buku yang ia baca, beberapa menit kemudian ia tutup karena guru Fisika-nya telah sampai di kelas dengan seorang siswa mengekor di belakangnya. Hinata terkejut mengetahui siapa siswa itu. Dalam beberapa detik saja, jantung yang tadi berdetak normal, kini berdentum dengan kecepatan maksimal. Dia sampai merasa jantungnya akan segera pecah.

"Uchiha Sasuke." Dia tidak mendengar gurunya berbicara, namun ketika pemuda itu mengucapkan namanya, rasanya dentuman jantung Hinata semakin liar. Dia benar-benar tidak mengerti mengapa orang baru itu bisa memberi efek yang begitu dahsyat terhadap dirinya.

Dia tidak memerhatikan gurunya yang baru saja berjalan melewati mejanya, menghampiri Shikamaru dan menyuruh temannya itu pindah ke belakang. Namun, ketika itu Sasuke, dia merasa gugup.

Sasuke itu, entah kenapa, walaupun kata adinya jelek, tetapi baginya sangat menawan. Apalagi saat pemuda itu muncul dengan seragam lengkap, tubunya terlihat semakin indah. Sosoknya yang jangkung, bahkan sama dengan Ibiki-sensei. Melangkah dengan anggun, dan yang paling penting adalah sorot mata kelam Sasuke yang selalu menjeratnya dalam pesona.

Ada apa dengan diriku? Ia bertanya dalam hati. Dua hari yang lalu, perjumpaan dengan Sasuke di toko kue ibunya membuat perubahan yang signifikan terhadap isi otaknya. Dia yang biasa berimajinasi tentang makanan, sesekali memikirkan Uzumaki Naruto, tiba-tiba seluruh ruang dalam pikirannya disita oleh mata oniks Sasuke. Memikirkan pemuda itu tanpa henti, bertanya-tanya kapan lagi mereka akan bertemu. Mengunjungi ibunya di toko kue secara berkala, berpikir mungkin bisa melihat Sasuke lagi.

"Aku sudah gila!" teriak Hinata tadi malam, dan berhasil menarik perhatian Hanabi, untung pintu kamar sudah dia kunci waktu itu.

Hal itu belum apa-apa, dibanding jantungnya yang terasa mau copot hanya karena mendapat permintaan pertemanan dari Uchiha Sasuke di facebook. Pertanyaannya kemudian bertambah satu lagi, "Apakah Sasuke juga merasakan hal yang sama?"

Selama dua hari itu dia berpikir apa yang akan dia katakan jika mengajak Sasuke mengobrol. Dia lihat pemuda itu sering on di facebook. Tetapi, pada akhirnya dia tidak melakukan apa-apa, kecuali menelusuri seluruh foto yang dimiliki Sasuke.

Layaknya dirinya yang selalu mengirim foto makanan, Sasuke selalu mengirim foto-foto keren. Segala macam hal yang terlihat tidak keren, setelah difoto oleh Sasuke berubah menjadi keren. Misalnya, permukiman kumuh di salah satu distrik di Konoha atau kucing jalanan yang tidak memiliki tuan.

Dengan semua yang dia alami selama dua hari ini, tentu dia semakin gila karena keberadaan Sasuke saat ini. Duduk di belakangnya, setelah Ibiki-sensei mengusir Shikamaru dari sana.

Duduk di belakangku?! Dia baru saja tersadar dari segala lamunannya. Dia langsung menoleh ke belakang. Dan perasaannya melompat-lompat senang ketika mendapati Sasuke mengatakan, "Hai" padanya sambil memasang senyum tipis. Salah tingkah, akhirnya dia meluruskan kembali posisinya. Pelajaran pun dimulai dengan jantungnya yang belum tenang.


Jam istirahat dimulai. Hinata mengeluarkan banyak bekal dari dalam kantung plastik yang lumayan tebal. Itulah mata pencahariannya, semua pelanggannya adalah anak laki-laki, kecuali Tenten yang memang selalu main dengan anak laki-laki.

Para pemesan itu mengerumuninya untuk sesaat, mengambil bekal mereka masing-masing, lalu pergi ke tempat favorit mereka setelah membayar makanan Hinata tersebut. Sasuke tersenyum melihat hal itu. Jarang dia menemukan seseorang yang begitu giat di bidang yang dicintai.

Naruto yang memperhatikan tingkah Sasuke itu menggeleng-gelengkan kepala, dia mengambil salah satu kursi Shino dan meletakkannya di sisi kanan meja Hinata setelah tidak lagi ramai di sana. Hanya ada Chouji yang sedang makan dalam damai.

Chouji dan Hinata yang menyadari langsung melihat Naruto. Lagi-lagi Hinata salah tingkah ketika tanpa sengaja bertemu pandang dengan Sasuke. Jantungnya kembali berdetak kencang ketika Naruto mengajak Sasuke berjalan ke tempatnya, dan menyuruh pemuda bermata kelam itu duduk di kursi yang ada di sebelah mejanya.

"Sasuke, inilah Hinata yang sangat ingin kau kenal," ujar Naruto memberi penekanan pada setiap kata yang ia ucapkan. Chouji yang juga mendengar terlihat kebingungan. "Hinata, kenalkan, ini Uchiha Sasuke."

Sementara Hinata, lantaran gugup dia tidak berani berbicara, karena akan terdengar aneh. Naruto mengurut keningnya, Sasuke mengulurkan tangannya sambil memandangi Hinata yang tidak menyambut uluran itu. Keduanya benar-benar merepotkan.

"Aku Sasuke, Uchiha Sasuke, kita berteman di facebook. Aku tidak memasang fotoku di sana," kata Sasuke akhirnya. Dia menurunkan uluran tangan sebelum sempat dijabat oleh Hinata. Baginya ini tidak apa-apa, tentulah membutuhkan waktu lama untuk proses pendekatan. Begitu yang dia baca di beberapa blog. Sebelum meminta seorang gadis menjadi kekasih, seorang pria harus melakukan pendekatan terlebih dulu.

"Ma … maaf, Uchiha-san. A … aku Hinata, Hyuuga Hinata," kata Hinata. Dia merasa bersalah karena tidak menyambut uluran tangan Sasuke. Ingin rasanya dia mengulurkan tangan, namun dia takut tangannya malah terlihat gemetaran.

Sasuke yang terbiasa memerhatikan tingkah laku manusia, tahu sekarang Hinata sedang gugup. Terlihat dari wajahnya yang tegang dan berkeringat, serta tangan Hinata yang meremas-remas kotak bekal miliknya. Namun, yang tidak dia tahu adalah apa yang harus dia lakukan untuk menghilangkan kegugupan Hinata, membuat Hinata merasa nyaman di dekatnya.

"Biar aku yang melakukan." Lantaran tidak sabaran, akhirnya Naruto mengambil alih tugas Sasuke. "Begini, kalian bertemu di toko kue ibumu dua hari yang lalu. Apa kau ingat itu Hinata? Setelah hari itu Sasuke terus saja membicarakanmu," jelas Naruto blak-blakan.

Awalnya Sasuke ingin protes, tetapi melihat Hinata yang mulai berhenti meremas-remas, dan memandang ke arahnya, dia maafkan Naruto.

"I … iya, aku ingat itu. Waktu adikku menabraknya, kami meributkan soal kue mochi yang dihabiskan Hanabi bersama temannya, aku kesal sekali padanya. Akhirnya kami bertengkar, dan malah mengganggu. Maaf lagi, Uchiha-san."

Mendengar cerita Hinata yang lancar, meyakinkan Sasuke bahwa temannya memang memiliki kemampuan sosial yang tak perlu diragukan lagi.

Sebenarnya bukan itu yang ingin disampaikan Hinata, ia tahu apa maksud Naruto mengatakan Sasuke terus saja membicarakan dirinya. Dia tahu dan dia senang, tetapi dia tidak berani mengakui bahwa setelah itu juga dia sering membicarakan Sasuke, meski bukan dengan seseorang, melainkan dengan boneka kelincinya.

"Benarkah? Kau sering bertengkar dengan adikmu?" tanya Naruto penasaran. Dia belum tahu Hinata memiliki adik.

"Hampir setiap hari," jawab Hinata.

"Nah, dengan Sasuke kau tak boleh sering bertengkar. Dia sangat ingin mengetahui semua tentangmu. Kau harus banyak berbicara dengannya. Kan bagus kalau kalian saling mengenal," oceh Naruto.

Begitulah Sasuke memulainya, meskipun dengan bantuan Naruto. Namun, yang terpenting dia dan Hinata bisa mengobrol. Dan obrolan mereka semakin lancar ketika Naruto memutuskan menyeret Chouji yang sesungguhnya lebih tertarik dengan makanan ketimbang obrolan Sasuke dan Hinata.

Tadinya Hinata akan mempersiapkan berbagai macam hal untuk klub memasaknya setelah menghabiskan bekalnya. Namun, semua rencananya berubah, dia justru asyik bercakap-cakap dengan Sasuke. Mereka saling membicarakan diri mereka masing-masing. Bertanya tentang lawan bicara tanpa merasa ragu lagi. Mereka terlihat seperti sudah bertahun-tahun saling mengenal.

Di sela-sela obrolan mereka, Hinata juga mempersilakan Sasuke makan dari kotak bekalnya ketika Sasuke bilang dia penasaran dengan makanan yang dibuat Hinata.

Dari obrolan mereka, yang ditakuti Naruto ternyata benar-benar terjadi. Dengan nada datar Sasuke mengatakan bahwa dirinya masuk ke klub memasak yang diketuai oleh Hinata. Untung Naruto sudah tidak di sana lagi ketika dia mengatakan itu.


"Kau memang selalu begitu blak-blakan dengan semua orang, ya?" tanya Sasuke pada Naruto. Mereka kembali berada di kamar Sasuke. Pemuda bertompel itu mengumpat dengan kesal, pasalnya Naruto sambil cengar-cengir mengadukan segala tindakannya di sekolah pada orangtuanya.

"Heh, ingat, karena sifat blak-blakkan lah kau bisa dekat dengan Hinata," jawab Naruto enteng. "Dan kau, jangan hanya berinteraksi dengan Hinata, cobalah bergaul dengan yang lain, supaya penyakit anti-sosialmu itu cepat hilang."

"Terserahlah. Aku sibuk," balas Sasuke tak peduli. Seseorang baru saja memberitahukan dia dari surel bahwa ada sesuatu yang harus dia kerjakan. Dia mematikan laptopnya, lalu berjalan ke lemari pakaiannya.

Di dalam lemari ada tombol hijau yang letaknya berada di rak paling atas. Sasuke menekan tombol itu. Naruto sama sekali tak terkejut ketika lemari itu bergeser sampai sebuah pintu terlihat.

Dia mengikuti Sasuke masuk ke sebuah ruangan rahasia. Kalau tempat itu dibuka berarti Sasuke ada pekerjaan. Di seluruh dinding ruangan itu menempel foto-foto model terkenal Hatake Kyousuke. Ada foto Kyo bersama model wanita, ada bersama Akatsuki Band, dan kebanyakan foto tunggal.

Naruto sangat menyukai foto Kyo yang sedang bertelanjang dada dengan sayap sewarna malam sambil memegang sebilah pisau yang terhunus ke salah seorang wanita tak bersayap yang memeluknya. Wanita berambut cokelat terang yang menjadi pasangan Kyo waktu itu hanya mengenakan lingerie. Tubuh wanita itu seperti model kebanyakan, kurus, wajah tirus, dengan ukiran rahang yang sempurna.

Mata Kyo yang mirip batu rubi pun terlihat seolah sedang menusuk mata si wanita. Lengan kanan Kyo memeluk wanita itu, namun yang kiri menolak, justru mengunuskan pisau. Pesan yang disampaikan foto itu sangat menarik. Foto yang luar biasa dari seorang fotografer paling handal di seantero Konoha.

Sasuke tahu siapa fotografernya, Uchiha Shisui, teman kakaknya. Dan Sasuke sangat mengagumi seniornya itu. Foto-foto lain di ruangan ini, semuanya dijepret oleh Shisui, Sasuke tidak mau menempel sebuah foto di dindingnya bila bukan dari idolanya itu.

Suara air dari dalam kamar mandi menyadarkan Naruto dari lamunannya. Dia ingin sekali punya satu foto keren seperti Kyo. Sepertinya khayalan itu sulit terwujud. Sekali-sekali dia harus mencoba meminta bantuan dari Sasuke, berhubung hari ini dia sudah membantu temannya itu dekat dengan targetnya.

Lima belas menit kemudian Sasuke keluar dari kamar mandi dengan tampilan yang hampir sama dengan Kyo, hanya saja warna matanya masih hitam dan kacamata yang masih melindungi mata Sasuke.

Pemuda itu hanya menutupi area pribadinya dengan selembar handuk. Dia menggosok-gosok rambut basahnya dengan handuk lainnya. Bagian perut sampai ke dada tampak sangat berotot, dada bidang yang mengesankan, berapa lama waktu yang dibutuhkan Sasuke untuk memahat otot-ototnya. Seingatnya dia juga berusaha untuk mendapatkan bentuk tubuh seperti Sasuke, tetapi belum membuahkan hasil.

"Sasuke, apa kau yakin dengan Hinata?" tanya Naruto lagi dan lagi. Pertanyaan itu terus diulang-ulang semenjak mereka pulang dari sekolah. "Aku tidak bermaksud apa-apa, hanya saja apa tidak aneh kau dengannya?"

"Aku harap kau tidak menyebut-nyebut namanya untuk saat ini. Kalau tidak, akan kuhabisi kau."

"Yang mana maksudmu, tidak menyebut-nyebut Hinata di depan keluargamu atau …"

"Dua-duanya," potong Sasuke. Saat ini dia sedang mengenakan celana dalam sambil menjaga handuknya tetap terikat di pinggangnya. Setelah itu dia memakai celana boxer, kemudian dilanjutkan dengan jins biru tua.

Melihat Sasuke yang tengah menyemprotkan body spray beraroma daun teh yang berbaur dengan rumput vetiver dan sandalwood, membuat Naruto teringat dengan foto Kyo yang bertelanjang dada itu.

"Tubuhmu itu proporsional," gumam Naruto, "Hinata pasti akan tertekan bila berhubungan denganmu, lebih baik hentikan proses pendekatanmu dengannya."

"Tertekan dengan Hatake Kyousuke, tetapi tidak dengan Uchiha Sasuke."

Sasuke berdiri di depan cermin, dia mengeringkan rambut dengan hair dryer yang biasanya hanya dipakai oleh perempuan. Setelah kering dia memakai jel rambut, membentuk rambutnya dengan cekatan. Hasil akhirnya seperti buntut ayam, rambutnya kini benar-benar terlihat angkuh, bangga karena sanggup menantang gravitasi.

"Terus mau sampai kapan kau bersembunyi di balik topeng culunmu?" tanya Naruto. "Sakura tidak tahu itu kau, kalau tahu dia pasti akan mengejar-ngerjamu sampai kau tak bisa bicara lagi."

Itu benar. Ia termenung sesaat, menatap dirinya di dalam cermin. "Kalau ada yang tahu, biar Hinata yang tahu. Orang lain tidak perlu tahu." Dia pun menutup acara berdandannya dengan memakai soflens.

"Kau tahu, Hinata sepertinya suka padamu, tetapi dia belum tentu suka juga pada Kyousuke. Nanti kalau dia tahu, dan ternyata dia benci dengan penampakanmu di dunia hiburan bagaimana?"

"Kau tenang saja," ujar Sasuke, terkikik geli.

Di klub memasak tadi, dia menempeli Hinata dan selalu berusaha membicarakan banyak hal dengan Hinata. Hatake Kyousuke pun tak luput dari pembicaraan mereka. "Kau tahu, sekarang ini gadis-gadis mengidolakan Hatake Kyousuke, apa kau juga suka padanya?" waktu itu dia bertanya sembari memakan roti isi keju yang baru matang, sementara Hinata sibuk menghiasi kue yang tidak Sasuke tahu namanya dengan butter cream.

"Aku sering mendengar namanya, tetapi tidak pernah melihat orangnya," jawab Hinata polos. "Sakura dan Ino sering membicarakannya. Apa Uchiha-san kenal dengan Kyousuke?" tutupnya dengan pertanyaan yang terdengar menggelikkan di telinga Sasuke.

"Apa?" pekik Naruto tak percaya. Benar-benar luar biasa Hinata itu. Sepertinya otak gadis itu memang hanya terisi oleh makanan.

"Sebaliknya, dia mengenal hampir seluruh chef yang ada di Konoha. Belum pernah bertemu secara langsung, kenal lewat jejaring sosial saja."

"Benar-benar. Kau tidak takut bentuk tubuhmu berubah bila berkencan dengannya?"

"Kami belum berkencan, ingat. Kalau pun iya, aku kan bisa menambah porsi olahraga," jawab Sasuke enteng.

Ini bukan hal yang sulit untuk disimpulkan. Jelaslah sudah, Sasuke berada di tahap tertinggi dari yang namanya jatuh cinta. Temannya itu benar-benar tergila-gila oleh Hinata. Dia memutar kepalanya untuk mencari-cari apa sebenarnya yang dimiliki Hinata sampai temannya yang dia kenal cuek, anti-sosial, begitu tertarik pada Hinata yang notabenenya pernah menyatakan suka padanya.

Tidak ada satu pun yang lebih, kecuali berat badan Hinata. Ya, berat badan Hinata berlebih, cukup banyak, tidak terlalu banyak. Dia pun heran dengan durasi yang dibutuhkan Sasuke untuk tergila-gila pada Hinata. Dua hari. Kalau dia terus memikirkan ini, dia pun bisa menjadi gila.


Cinta yang tidak akan pernah kedaluarsa adalah cinta yang ada di dalam dirimu, bukan di luar dirimu.

#Uchiha Itachi


Verse 1

Pertemuan pertama yang menjeratku

Biji cinta itu jatuh di dalam hatiku

Aku tidak bisa memilih biji yang mana

Tuhan lah yang memilihkannya

Pertemuan kedua yang mengikatku

Biji cinta telah tumbuh menjadi pohon sakura

Bukan aku yang merawatnya

Takdirlah yang mmbuatnya mekar

Chorus:

Bukan kau yang membuatku jatuh cinta

Aku tegila-gila, itu karena diriku sendiri

Bukan untukmu aku mencintaimu

Kucintai engkau untuk diriku

Bukan untukmu aku menjaga dirimu

Kujaga kau selalu agar aku bahagia

Verse 2

Aku ini pria egois, sayang

Kulakukan segalanya untuk diriku sendiri

Kupeluk kau untuk menghangatkan tubuhku

Kubuat kau tersenyum untuk menghangatkan hatiku

Kubuat kau tertawa agar aku juga tertawa

Back to chorus

Bahagiamu adalah bahagiaku

Lukamu adalah lukaku

Sayang, hidupmu adalah hidupku

Aku tidak bisa bahagia bila kau terluka

Chorus

#Akatsuki Band


Cinta di luar dirimu hadir karena sebuah alasan

Cinta yang ada di dalam dirimu hadir tanpa alasan

Cinta karena terbiasa, klise bukan?

Apa yang akan kau katakan bila terbiasa 'bersama' itu berubah menjadi terbiasa 'berjauhan'?

#Uchiha Itachi

Naruto jadi teringat dengan salah satu lagu Akatsuki, dia pernah berusaha menyanyikan lagu itu di depan rumah Sakura, yang didapatkannya adalah usiran dari ibu Sakura. Ia juga mengingat dengan jelas kutipan-kutipan dari Uchiha Itachi. Para personil band ternama asal Konoha itu rata-rata memang tidak ada bedanya dengan pujangga.

Yang paling sering melantunkan syair cinta adalah Uchiha Obito, keseluruhan syair yang dibuat pria itu ditujukan untuk Nohara Rin, seorang pembawa berita di Senju channel.

"Oke, terserahmu, Sasuke. Tetapi aku peringatkan kau, jika kau meneruskan ini, kekacauan akan terjadi di antara kalian berdua. Semoga saja Hinata bisa tahan dengan dirimu."