Naruto © Masashi Kishimoto
Inspired by Eyeshield 21 © Riichiro Inagaki, Yuusuke Murata
Warning: BL, OOC, OCs, abal, deskrip gaje, berbau amefuto, etc
Note: Chapter terpanjang yang pernah saya buat. Sekedar peringatan tambahan, kalo pun nanti saya enggak menemukan chara yang cocok untuk diberi peran, atau saya tak bisa memainkan karakternya, terpaksa saya harus memakai OC.
Chapter 2 : Closer
Sebingkai jendela sebagai pengantar pantulan cahaya agar si pirang dapat melihat catch sempurna itu sama sekali tak cukup besar untuk orang macam Naruto. Ia ingin menyaksikannya langsung! Jadilah, dari lantai tiga tersebut, ia segera berlari menuju tangga—yang entah mengapa ia tahu dimana letaknya, padahal ia tengah tersesat—dan segera menuju lantai dasar.
"Yahoooo~!" seru si pirang itu dengan nada riang. Akhirnya ia menemukannya! Menemukan orang yang sempurna untuk menjadi partnernya! Oh, yeah, selama setahun ia mencari seseorang yang bisa menjadi partnernya di lapangan, dan pencarian itu akan berhenti hari ini. Naruto membayangkan dirinya bertanding, di field, dengan tim-nya, dan patnernya. Itu terdengar hebat dan menyenangkan, bukan?
Ia masih berlari. Cuek dengan tatapan mata heran dari orang-orang yang ada di ruang-ruang yang ia lewati—yang salah satunya adalah ruangan kelasnya, tentu ia tak meyadari hal itu—dan menambah kecepatan larinya. Tak perduli bahwa nyawanya kembali 'berpencar' akibat didera kelelahan (perlu kau tahu, berlari dengan Sakura tadi cukup menguras tenaga), hanya berpacu memuaskan adrenalin yang mengalir di tubuhnya. Kemeja putihnya berkibar tak karuan, berantakan dan kusut. Namun senyum lebar kembali menghiasai wajahnya. Haha, dia belum pernah merasa tertarik sampai sebesar ini!
Agak kehilangan arah saat sampai di lantai dasar, ia berdiri panik tepat setelah ia menuruni (atau lebih tepat meloncati) tiga anak tangga terakhir sekaligus. Menoleh ke kanan dan ke kiri begitu cepat, yang akan membuat orang khawatir sambungan leher dan kepalanya bakal putus. Mau bagaimana lagi, ia ingin segera melihat pemuda itu secara langsung. Mencari jalan, ia pun memutuskan untuk menyusuri koridor menuju arah selatan, tempat lapangan itu terletak. Naruto menyeringai senang. Tak tahu kenapa. Mulai menggila, mungkin?
"Semoga anak itu belum pergi...," gumam pemuda pirang itu.
Ia masih berlari, hingga ia dapat melihat lantai koridor yang bersinar alami tertimpa sinar matahari langsung. Artinya, semakin dekat dengan lapangan, sepertinya. Naruto masih saja tersenyum rubah, merasa tidak sabar untuk bertemu dengan bocah itu.
Ia mengerem sebisanya saat ia sudah sampai di tepi koridor yang menghadap langsung ke arah lapangan tanah luas itu. Ia menahan napas ketika matanya tak dapat menangkap sosok sempurna yang ia saksikan tadi. Mengedarkan pandangan dengan cepat, menyapu seluruh sudut lapangan dengan tatapan singkat. Namun nihil.
"Sialan.. dimana dia? Dimana?" kata Naruto dengan nada kesal. Ekspresi wajahnya sedikit kecewa. Ia—yang sudah berlari sekuat tenaga dari lantai tiga—harus menelan kenyataan pemuda itu sudah pergi. Sudah tak ada.
"Sial! Sial! Sial!" umpat si pirang. Tapi, ia belum mau menyerah begitu saja. Katakanlah ia keras kepala, tapi ia takkan mau melepaskan apa yang ia mau sebelum berusaha sekeras mungkin.
"Mungkin aku harus mencari lagi... Ah!"
Gotcha! Pemuda porselen itu ternyata ada di bawah gawang lapang berbentuk garpu tala besar di sisi barat lapangan. Menyiapkan bola-bola yang akan dilemparkan oleh mesin pelempar, tepat dihadapan gawang. Tak mau buang waktu, ia segera menghampiri bocah itu—lagi-lagi dengan berlari, seperti staminanya tak pernah habis saja—dengan senyum lebar tampak di wajahnya.
Naruto tiba-tiba menjadi sangat iri pada para sprinter dunia. Ya ampun, kenapa ia tak bisa berlari lebih cepat? Ia sudah tak sabar! Kaki, ayolah berlari lebih cepat!
Lari Naruto yang berisik sedikit mengusik bocah berambut hitam itu. Terbukti, pemuda itu langsung menghentikan aktifitasnya dan melirik ke arah Naruto. Naruto yang semakin mendekat, dan pemuda hitam yang tetap diam.
"Hai! Aku melihatmu tadi. Over-head catch tadi sangat perfect!" sapa Naruto begitu berada di hadapan pemuda berambut hitam tersebut. Tanpa basa-basi. Pemuda itu tak membalas, hanya menatap Naruto dengan tatapan dingin nan menusuk. Seolah berkata, 'Sana pergi! Kau mengangguku!'. Tapi Naruto tetap saja Naruto, tidak peka dan terus saja mengoceh,
"Hei~! Kau mau bergabung denganku?"
"..."
"Kau bisa menjadi Receiver! Ya, Receiver! Itu posisi yang bagus untukmu!"
"..."
"Kita pasti akan memenangkan turnamen daerah kalau ada kau! Tidak, tapi juga bisa memenangkan Youth Cup!"
"...Hei, kau—"
"Dan kita bakal jadi team yang hebat! Ditambah beberapa pemain lagi dan—"
"Berisik!" seru anak itu. Kontan saja Naruto tersentak dan menghentikan ocehannya. Sorot mata kesal dan dingin masih terpancar dari bola mata hitam tersebut. Mata samudra yang menatapnya diam-diam merasa terpesona pada kelamnya mata itu. Pesona menenangkan.. sekaligus penuh kesedihan.
"Ah."
Sejenak, tak ada yang mau membuka suara. Pemuda porselen itu lalu melanjutkan kegiatannya, mengambil beberapa bola kulit berbentuk oval lalu menatanya sedemikian rupa pada mesin pelempar, dan mengaktifkannya. Naruto tak mau menunggu pemuda itu pergi, maka ia pun membuka percakapan,
"He-hei! Aku ingin berbicara denganmu sebentar!"
Namun sama sekali tak digubris oleh sang pemuda. Naruto mati kutu. Hanya dapat diam, dengan rasa jengkel tak tertahankan karena tak dianggap.
Si pirang melirik ke arah mesin yang sudah sedikit bergetar, tanda telah siap melontarkan bola. Naruto langsung sedikit menghindar, berjaga-jaga agar tak menganggu jalur bola. Ia sudah cukup rupawan, tak perlu pipi lebam untuk merusaknya.
Pemuda berambut hitam itu lalu segera berlari mencari posisi yang pas, menggunakan instingnya untuk mengira-ira titik jatuh bola. Tak sampai sepuluh detik kemudian, terdengar bunyi hempasan keras, tanda bola telah terlontar dari mesin. Kepala pemuda porselen itu menengadah ke atas, menatap bola, berusaha mengejar dan menangkapnya. Sekitar tiga puluh yard dari end zone, pemuda itu langsung melompat tinggi sambil menjulurkan kedua tangannya.
Lalu, menangkap bola yang tengah terbang tepat di atas kepalanya. Over-head catch.
Naruto merasa sangat terpesona dengan pemuda itu. Lompatannya, larinya, cara menangkap bola, sangat sempurna. Perfect player.
Akibat pengaruh gravitasi bumi, tubuh pemuda yang kini memeluk bolanya di dada itu langsung jatuh ke bawah, menimbulkan bunyi yang cukup keras dan debu tanah berterbangan. Sangat tak beruntung lapangan ini tak di lengkapi sprinkler. Naruto sedikit terbatuk saat debu-debu itu menggelitik indra penciumannya. Matanya pun tak dapat menangkap sosok pemuda itu karena tertutup debu tanah pula.
"Aish, sial, disini tak ada sprinkler."
Debu-debu mulai menghilang tertiup angin yang berhembus, mata Naruto dapat menatap sosok pemuda itu lagi. Tubuh itu tengah terbaring di tanah sambil memeluk bola, letak ia terbaring agak jauh dari tempat ia melompat, kemungkinan pemuda itu sempat berguling setelah terjun. Naruto kemudian memanfaatkan momen itu untuk mematikan mesin pelempar agar bola kedua tak terpental dan malah mengenai sang pemuda.
Naruto lalu menghampiri pemuda itu, memastikan tak ada kecelakaan fatal. Terjun dari ketinggian sekitar lima belas meter dari tanah itu lumayan menyakitkan. Apalagi, baru saja Naruto sadari, pemuda itu tak memakai jersey dan pelindung! Helm pun tidak.
"Hei. Kau oke?" kata Naruto dengan nada khawatir sambil mengulurkan tangannya, yang sama sekali tak dihiraukan oleh si pemuda berambut hitam. Pemuda itu bangkit berdiri, lalu menepuk-nepuk bahunya yang terkena debu.
"Hn."
Entah mengapa, mata Naruto ingin melirik ke arah sepatu sang pemuda cuek di hadapannya. Sneakers. Pemuda itu hanya memakai sneakers berwarna putih. Hanya sneakers. Ia pun terbelalak.
"Dasar kau gila! Kau bahkan tak memakai spike untuk lapangan tanah saat berlari! Sungguh Tuhan memberkatimu hingga membuatmu tak mengalami patah tulang," kata Naruto cepat. Sedikit khawatir sebenarnya.
"Cih," gumam pemuda itu. Pemuda itu pun tertatih-tatih menuju ke pinggir field. Mungkin agak lelah karena melakukan over-head catch yang tak mudah. Dan, sedikit memar kebiruan akibat kontak langsung dengan tanah.
"Sini, kubantu kau ke pinggir."
Naruto langsung membantu dengan memapah pemuda itu ke pinggir field. Mata samudra itu melirik ke samping, menunggu bantuannya ditepis oleh sang pemuda. Namun, kali ini pemuda itu sama sekali tak menolak. Dalam hati Naruto mendesah lega. Paling tidak sekarang kehadirannya mulai diakui.
Mereka menjatuhkan diri di tepi field tanah tersebut. Nafas mereka payah, terengah tak karuan. Sang pemuda menutup matanya. Keringat juga membasahi tubuh keduanya. Belum ada yang membuka suara. Masih sibuk menormalkan kembali nafas mereka dan mencari stamina yang tersisa. Naruto melepas tasnya yang ia rasa menganggu. Tas yang penuh buku tak penting—bagi Naruto.
Yang penting bagi Naruto adalah Amercan Football dan calon partnernya yang duduk disampingnya ini. Oh, dia memang tergila-gila dengan American Football.
Pemuda itu membuka matanya, dan mendapati sebuah tangan berkulit kecokelatan tengah menyodorkan sebotol penuh air mineral kepadanya. Ia melirik ke sebelahnya, dan mendapatkan senyuman tulus terlukis di wajah si pirang.
"Minumlah. Untukmu."
Tak mau membuang keberuntungan, pemuda itu menyambar botol minum yang ditawarkan Naruto, lalu meminumnya. Naruto tersenyum. Sepertinya pemuda berambut hitam ini mulai terbuka terhadapnya, setelah sebelumnya begitu dingin dan cuek kepadanya.
"Thanks," balas sang pemuda singkat.
"Ah, kita lupa berkenalan. Aku Naruto, Namikaze Naruto. Kau?" kata Naruto ramah, sambil mengulurkan tangan mengajak pemuda dihadapannya untuk berkenalan. Namun, uluran rangan tersebut sama sekali tak dihiraukan oleh pemuda berambut hitam itu. Tadi, saat ia tak diharaukan sang pemuda, sempat terbesit di pikiran Naruto kalau pemuda ini sangatlah menyebalkan. Tapi, tak disangka akan semenyebalkan ini. Angkuh, dingin.
"..."
"Hei, aku ingin tahu namamu!" seru Naruto kesal, merasa tak dianggap oleh sang pemuda porselen.
"Kurasa tak penting kau tahu namaku." Naruto berkedut kesal.
"Itu penting, Teme! Itu penting karena aku tertarik denganmu!" seru Naruto. Tapi kemudian Naruto menutup mulutnya dengan kedua tangan. Hah? Apa yang tadi dia katakan? Dia merasa tertarik dengan pemuda di hadapannya itu. Tertarik. Kata yang sungguh memancing rasa salah paham.
"Baka."
"Apa?"
'Pemuda yang menyebalkan,' pikir Naruto. Sayangnya, Naruto tak sempat melihat wajah sang pemuda yang sedikit bersemu merah.
"...Dobe," balas pemuda itu. Naruto memajukan bibirnya, tanda sedang bad mood. Bad mood karena pemuda disampingnya ini—ketusnya bukan main!
"Hei, apa-apaan itu! Namaku Naruto, bukan Dobe! Dasar Teme!" seru Naruto keras, membuat telinga pemuda didepannya sedikit berdengung. Pasti, karena Naruto berseru dekat sekali dengan telinganya dan memakai suara lengkingan tinggi. Naruto sih masa bodoh jika pemuda itu mengalami tuli sesaat karena suaranya. Toh, dia juga sempat mengalami saat-saat tak dianggap oleh pemuda angkuh itu. Itu menyebalkan.
"Dan aku juga bukan Teme, Dobe."
"Maka dari itu, aku ingin tahu siapa namamu!"
"..."
"Hei! Rohmu masih ada di tubuhmu, kan?"
Tak menjawab, pemuda itu bangkit berdiri dan berjalan meninggalkan Naruto. Naruto yang kesal tak dianggap oleh pemuda itu juga bangkit berdiri. Pemuda itu sama sekali tak menolah pada Naruto. Kekesalan Naruto sudah mencapai puncaknya.
"Teme! Dengarkan aku!" Pemuda tersebut berhenti, tapi masih memunggungi Naruto. Naruto mengambil bola kulit yang ada di dalam tasnya, kemudian melanjutkan kalimatnya, "Aku beri kau tantangan! Jika kau bisa menangkap pass dariku, kau bisa pergi. Tapi jika kau gagal, kau harus dengarkan aku dan sebutkan namamu!"
Mungkin karena terasa tertarik dengan tantangan Naruto, wajah tampan sang pemuda kembali menghadap ke arah si pirang.
"Kuterima tantangan bodohmu itu."
Mereka pun segera kembali ke tengah field. Naruto dan pemuda tersebut berdiri sejajar di garis yard ke enam puluh. Mereka menghadap ke arah timur field atau lapangan. Naruto tak perduli kini mereka tak memakai jersey, spike, helm, dan perlengkapan lain. Masa bodoh. Yang hanya mereka pikirkan adalah cara untuk memenangkan tantangan yang dibuat sepihak oleh Naruto.
"Oke, Teme. Kita hanya berdua, tak ada yang menjadi center yang akan melempar snap ball. Hut call sebanyak dua kali dariku, lalu aku akan melempar bolanya. Got it?" Pemuda itu hanya mengangguk singkat.
Lalu permainan pun dimulai.
"SET! HUT! HUT!"
Naruto memasang kuda-kuda dan melempar bolanya. Bola itu meluncur lurus dan anggun, tapi juga cepat. Penuh tenaga, dan berputar cepat membelah angin. Seperti peluru yang dilepaskan. Dan itu long pass andalan Naruto.
Pemuda itu tak mau kalah, ia segera berlari mengejar bola tak sampai sedetik setelah Naruto melempar bola. Bola itu sesuai dengan dugaannya semula, long pass yang berputar cepat. Bakal sedikit sulit untuk menangkapnya. Naruto hanya menatap aksi pemuda itu dari tempatnya melempar tadi dengan pandangan tertarik.
'Larinya cepat,' pikir Naruto, 'pasti waktu lari empat puluh yard miliknya sekitar empat detik enam sekon. Jauh lebih cepat dariku yang hanya lima detik.'
Di yard empat puluh, pemuda itu mendapatkan timing yang pas, lalu melompat tinggi. Salah satu tangannya diulurkan semampunya. Lemparan setinggi itu sangat tidak mungkin ditangkap dengan kedua tangan oleh pemuda yang tak memiliki postur tinggi tersebut. Satu-satunya cara adalah menangkapnya dengan satu tangan, walau tingkat keberhasilannya sangatlah kecil.
'Hei, Teme itu yakin akan menangkap bolanya dengan satu tangan? Mustahil,' pikir Naruto tercengang dengan aksi nekat sang pemuda berambu hitam itu.
Tepat! Pemuda itu tepat menentukan arah jatuh bola! Timing-nya sangat pas dengan bola yang mulai meluncur turun, sehingga nantinya bola akan sampai di jangkauan tangan pemuda itu. Dan bola itu pun meluncur...
GREB
Pemuda itu berhasil menyentuh bolanya! Jelas hal itu sangat membuat Naruto kesal. Idiot, sungguh idiot! Argh. Naruto mengumpat dalam hati kami, berusaha menghilangkan kecemasan di saat-saat menuju kekalahannya..
'Kalah?' pikir Naruto sedikit tidak terima, 'Aku kalah?'
Namun sayang. Pemuda itu kehilangan bolanya, dan jatuh ke tanah tanpa mendapatkan bolanya. Sedang bola kulit itu pun juga terjatuh, karena tadi sempat berbenturan dengan tangan pemuda berambut hitam itu.
Benar, pemuda itu bukan menangkap bolanya, hanya bisa membuat bola berhenti meluncur dengan memblock-nya.
Melihat itu, Naruto menyeringai. Dia menang! Dia tahu kemenangan takkan semudah itu didapatkan oleh si pemuda hitam. Haha!
Ia pun lalu segera menghampiri pemuda yang kini tengah berbaring lagi di tanah, setelah gagal catch pass dan jatuh. Tak jauh dari situ bola yang tak tertangkap juga jatuh menggelinding. Naruto mengulurkan tangannya, berniat membantu sang pemuda.
"Jadi, siapa namamu, Teme?"
Pemuda itu menatap si pirang di hadapannya dengan tatapan iritasi. Naruto tetap tersenyum tak jelas, antara bahagia atas kemenangannya namun juga berusaha mengeluarkan kesan ramah di sapaannya. Tapi, pemuda itu tetap menyambut uluran tangan Naruto. Setelah berhasil kembali berdiri—dengan seragam yang sudah sangat kotor dan berantakan—ia sedikit melunak pada Naruto.
"Sasuke, Uchiha Sasuke," jawab pemuda itu, mau tak mau, karena ia sudah kalah. Ia bukanlah orang yang akan mengingkari kesepakatan yang telah ia setujui.
Naruto sedikit tersentak saat nama itu terdengar olehnya. Badannya sempat gemetar ketakutan, pandangan matanya sedkit teralihkan ke arah lain. Membuang muka. Takut pemuda bernama Sasuke itu dapat membaca pikirannya yang tengah panik setengah mati. Padahal, Uchiha Sasuke hanyalah manusia biasa yang tak punya talenta membaca pikiran seperti tokoh-tokoh hero di komik-komik.
"Kau... U-Uchiha?" Sasuke hanya mengangguk singkat.
"Ada apa?"
Naruto langsung menjawab gugup, "Tidak, tidak ada apa-apa." Sasuke hanya memberikan pandangan penasaran. Ada sesuatu yang disembunyikan oleh Naruto. Tapi apa? Entahlah. Sudahlah, masa bodoh dengan itu. Toh, tak ada sangkut pautnya dengan dirinya.
Sasuke lalu berkata dengan menggunakan nada ketus, "Karena urusan kita sudah selesai, aku pergi." Ia melakukannya karena teringat bahwa ia kalah dari tantangan Naruto. Padahal ia sudah hampir mendapatkannya tadi! Sialan. Gara-gara ia tak mempunyai tinggi badan yang lebih, hanya 170 sentimeter. Tinggi badannya sudah cukup, sebenarnya, tapi untuk posisi penangkap pass hal ini bisa menjadi batu sandungan yang cukup besar. Pemuda pirang silau didepannya saja tingginya sekitar 176 sentimeter. Menyebalkan.
Merasa akan ditinggalkan begitu saja, Naruto berseru memanggil Sasuke, "He-hei! Kau! Sasuke-teme! Aku belum selesai! Kau mau ke mana?"
Sasuke berhenti dan berbalik, "Kantin. Menunggu jam istirahat. Kau tak sadar sudah berapa lama kita ada disini, sedangkan orang lain duduk di belakang mejanya?"
Naruto menatap ke arah dinding gedung sekolahnya. Di Konoha High School, memang ada jam besar di bagian belakang gedung. Saat mata samudra itu melihatnya, jarum jam panjang mengarah ke angka tujuh dan jarum pendek di angka sembilan. Wajah Naruto memucat, dan matanya melotot.
"Ya ampun, aku baru sadar kalau sudah membolos hampir satu setengah jam. Hei, Teme, tunggu! Jangan tinggalkan aku! Aku ikut!"
"Jadi, kau ini masih anak baru, Teme?" tanya Naruto, sebelum menjejalkan mie ramen yang telah ia ambil menggunakan sumpit dari mengkoknya ke dalam mulutnya. Sasuke belum membalas, memilih untuk mengunyah potongan sandwich yang ada di dalam mulutnya terlebih dahulu. Sungguh berbeda dengan Naruto yang terburu-buru dalam memakan ramennya, Sasuke terlihat menikmati sandwich miliknya.
"The-mwe?" kata Naruto lagi dengan mulut penuh. Membuat kalimat yang ia ucapkan tak terlafalkan dengan jelas. Tapi, setidaknya Sasuke tahu bahwa si pirang tengah mencari atensinya.
"Hn." Oke, karena Naruto sama sekali tak memiliki ide apa arti dari kata 'Hn' yang dikeluarkan Sasuke, ia akan menganggapnya sebagai jawaban pengganti 'ya'. Siapa suruh menjawab dengan kata sesingkat dan setidakjelas begitu.
"Dan ini tahun keduaku," kata Naruto membagi informasi tentang dirinya.
"Tak ada yang bertanya."
"Hanya untuk mengingatkan bahwa aku lebih tua darimu," balas Naruto sambil menjulurkan lidah ke arah Sasuke, bermaksud mengejek. Sasuke sedikit tersentak saat menerima fakta tersebut. Memang dari segi usia, Naruto lebih tua, tapi jika dilihat dari segi kepribadian sangat jelas siapa yang lebih dewasa. Sungguh tidak matching.
Lalu keheningan kembali menyelimuti ruang kantin yang masih lengang itu. Tentu saja, karena ini belum jam istirahat. Hanya dua anak badung itu saja, Sasuke dan Naruto, yang memilih untuk membolos. Sebenarnya, tak murni membolos sih. Mereka hanya terlambat masuk kelas. Tak apalah, karena jikalau mereka tetap nekat untuk masuk ke kelas mereka lagi, hasilnya akan dikeluarkan dari kelas. Sama saja tak ikut pelajaran.
"Hei, kenapa kau memilih sekolah di Konoha High School?" tanya Naruto ingin tahu. Entah mengapa Naruto ingin menggali sedalam-dalamnya tentang Sasuke. Ingin mengenal Sasuke lebih dalam.
"Bukan urusanmu," balas Sasuke ketus. Nada bicaranya terdengar marah dan penuh emosi, namun itu semua tak kentara tertutupi ekspresi wjahnya yang tetap kalem.
Naruto sedikit kesal dengan ucapan sang juniornya yang sangat tajam dan ketus. Dia tahu alasan Sasuke mendaftar di Konoha High School sama sekali bukan urusannya tapi, hei, tak ada salahnya, kan ingin tahu? Dia saja tak pernah menggunakan nada seperti itu pada siapa pun. Sasuke ternyata sangat pelit bicara, selain pelit ekspresi. Sekalipun bicara pasti hanya dapat memancing emosi. Setidaknya ia membalas dengan kalimat yang memiliki subjek-predikat-objek-keterangan sambil tersenyum atau apalah, bukan hanya kata yang belum pantas disebut kata dengan muka stoic yang menyebalkan—bagi Naruto.
Tunggu. Kenapa Naruto jadi menilai Sasuke? Ah, Masa bodoh.
Oh, tiba-tiba Naruto ingat salah satu tujuannya menemui Sasuke.
"Hei, Teme, kau sudah main American Footbal—amefuto—sejak kapan?" Pertanyaan itu lagi-lagi tak langsung dijawab oleh sang pemuda berambut hitam. Naruto berkedut sebal. Kenapa pemuda disampingnya ini begitu menyebalkan, sih? Tapi, jujur saja, Sasuke itu sebenarnya pemuda yang manis. Oke, memang lebih cenderung tampan nan rupawan, tapi entah mengapa, di mata Naruto seorang Sasuke memang manis.
Benar-benar membuat Naruto tertarik.
"... sejak kanak-kanak."
"Wow, pantas saja teknikmu sudah hebat! Dasar-dasarnya juga sepertinya sudah kau kuasai dengan baik! Aku saja baru mulai bermain amefuto sejak tiga tahun tahun yang lalu."
"Hn."
"Hei, tak bisakah kau menjawabku lebih panjang dari itu, Sasu-chan?"
BLETAAK
"Sekali lagi kau panggil aku dengan sebutan itu..." Naruto dapat merasakan aura hitam yang menguar dari Sasuke. Naruto sedikit bergidik. Memang sih Sasuke yang dingin dan ketus itu sedkit menyebalkan, tapi masih lebih baik daripada aura menyeramkan ini. Hrrr... Naruto sungguh akan mencatat hal ini dalam otaknya. Jangan pernah menggoda seorang Uchiha Sasuke.
"Ups, santai, Teme-chan." Kali ini Sasuke hanya memberikan tatapan (yang seperti ingin) membunuh Naruto—dengan harapan itu betul-betul terjadi. Sayangnya tidak. Mustahil. Sasuke masih punya akal sehat, terima kasih. Hanya saja berharap di sekitar sini ada bola tenis—sepertinya ukuran bola itu kurang besar, bagaimana dengan bola basket?—untuk menyumpal mulut si pirang sebagai gantinya juga tak ada salahnya, kan?
Sedangkan si pirang hanya mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf V. Tak lupa dengan cengiran rubahnya. Membuat Sasuke kehilangan selera untuk kembali menegur Naruto. Lebih baik, diamkan saja. Ia sudah mulai mengerti, menegur Naruto hanyalah buang-buang waktu.
Naruto pun kembali ke jalur pembicaraan mereka.
"Teme, kau mau menjadi reciever Konoha Clover Luminous?"
"Apa?"
"Konoha Clover Luminous! Tim American football Konoha High School, atau kalau kubilang lebih bagus Konogaku saja."
"Kau sakit?" tanya Sasuke sambil mengangkat salah satu alisnya ke atas. Dia merasa heran saja dengan tingkah laku Naruto yang kekanak-kanakan. Sedang Naruto mengecek temperatur badannya dengan menyentuhkan penggung tangan di dahi, "Tidak tuh."
Sasuke pura-pura tak menganggap tindakan bodoh Naruto tadi tak pernah terjadi. Memalukan.
"Aku bukan pemain American Football."
"Memangnya kenapa sih? Kemampuan catching-mu itu akan sangat berguna di tim!"
Sasuke mengalihkan pandangannya, hingga mata hitamnya tertumbuk pada satu titik, mata Naruto. Terlihat semangat disana, rasa juang, rasa bersungguh-sungguh. Namun, entah mengapa, Sasuke masih ragu. Ragu akan tawaran Naruto, ragu akan peyakinan Naruto, ragu... akan perasaannya sendiri. Apakah ia harus menerimanya?
"Haloo~ Rohmu masih ada ditempat?" tanya Naruto dengan tampang bodoh sambil menggoyangkan telapak tangan kanannya didepan wajah Sasuke yang tampan. Sasuke mendapatkan kembali kendali dirinya.
"Aku tak mau, Dobe."
"Apaa? Kau harus mau! Konoha sangat membutuhkanmu untuk memenangkan turnamen tahun ini~!" seru Naruto ngotot. Si pirang mengatupkan kedua telapak tangannya di depan wajahnya, lalu duduk menghadap Sasuke, agak membungkuk. Dia berusaha mengeluarkan seluruh pesona memelas dan penuh permohonan yang dapat ia keluarkan.
"Kumohon! Kumohon kau mau bergabung dengan Luminous!" kata Naruto penuh harap.
Tiba-tiba terdengar suara, "Sayangnya, Naruto, sebelum Uchiha bergabung ke tim American Football sekolah, kalian berdua harus menjalani detensi karena membolos pelajaran."
Naruto sontak mengangkat wajahnya, begitu pula Sasuke yang lalu ikut menoleh ke sumber suara.
"IRUKA-SENSEI!" Tentu kalian tahu siapa yang berseru sedemikian kagetnya.
"Ini gara-gara kau, Teme," kata si pirang sambil menggosokkan sikat kuat-kuat ke lantai toilet yang kotor dan becek. Sedangkan yang diajak bicara, hanya diam sambil mengelap kaca wastafel dengan lap basah. Lagi-lagi tak dipedulikan oleh Sasuke. Sungguh, Naruto merasa dirinya orang yang paling malang sedunia.
Naruto yang tengah dalam posisi jongkok, menghentikan aktifitasnya untuk sekedar melakukan peregangan. Uft, pinggangnya terasa sangat sakit setelah lama membungkuk. Ia memukul-mukul daerah pinggangnya, berharap hal tersebut akan mengurangi rasa pegal yang mendera. Ia juga menguap lebar, sedikit mengantuk.
Kini, Naruto dan Sasuke tengah membersihkan toliet sekolah, tepatnya toilet pria. Tentu, karena akan sangat gila jika ingin membersihkan toilet wanita, mengingat perilaku seorang gadis puber yang menganggap toilet sebagai 'salon' sementara. Lima menit sekali, ke WC. Lima menit kemudian, bercermin dan memoleskan bedak. Lima menit setelahnya, menyemprotkan cairan parfum ke seluruh jengkal tubuh mereka. Kalau begitu, kapan Sasuke dan Naruto membersihkan toiletnya? Yang ada malah baru dimulai sore harinya saat sekolah sudah bubar.
Kembali ke cerita.
Membersihkan toilet adalah detensi dari Iruka-sensei pada Sasuke dan Naruto, karena keduanya ketahuan membolos. Mau tak mau, mereka harus mengerjakannya. Walau hanya setengah hati. Memang, siapa sih yang mau menerima detensi dengan hati berbunga-bunga?
Tiba-tiba saja Naruto ingat pada seorang anak beralis tebal dan memakai spandex warna hijau, yang sangat bahagia saat ia menerima detensi untuk lari keliling lapangan dari guru yang serupa dengan anak itu. Hah.
"Ya ampun, aku bisa mati bosan jika menggosok lantai menjijikan ini terus-menerus!" keluh Naruto. Sedari tadi, Naruto tak henti-hatinya mengoceh, entah itu keluhan atau guyonan garing, berbeda dengan Sasuke yang mengerjakan tugasnya dalam diam. Tak kaget, karena Naruto adalah tipe orang yang hiperaktif dan tak bisa diam, lain dengan Sasuke yang pelit bicara.
"Oh, iya. Bagaimana dengan tawaranku tadi, Teme? Bergabunglah dengan Luminous!"
"Malas," balas Sasuke dengan nada tak berminat.
"Kenapa?"
"Aku benci American Football."
Sesaat, terjadi kecanggungan yang melanda toilet pria berbau sabun pel itu. Naruto agak terkejut, sebenarnya. Sasuke yang terlihat 'bercahaya' dan menikmati saat-saat menangkap bola di lapangan tadi pagi, tapi kenapa sekarang pemuda stoic itu malah mengatakan bahwa ia membenci amefuto?
Naruto sekarang mengerti arti kalimat 'Begitu banyak misteri di dunia ini'. Namun, ia lebih memilih untuk tidak bertanya lebih jauh tentang kebencian Sasuke ini.
"Lagipula, tim-mu masih payah dan lemah, kudengar kalian kalah di partai pertama turnamen oleh tim baru," kata Sasuke melanjutkan.
Mendengar perkataan Sasuke—yang sungguh sangat enteng keluar dari mulutnya—kontan membuat Naruto naik darah. Tak ada yang boleh menghina tim-nya! Apalagi Sasuke mengatakannya seolah tanpa beban dan dosa. Fakta kalau mereka bahkan masih belum dapat menang di pertandingan uji coba melawan tim 'pinggiran' bukanlah sesuatu yang cukup untuk membuktikan bahwa dirinya dan seluruh anggota tim itu lemah!
"LUMINOUS TIDAK LEMAH!"
Naruto langsung bangkit berdiri dan mendorong tubuh Sasuke ke dinding. Sasuke dapat merasakan suhu dingin dari dinding yang menjalar melalui punggungnya. Ia melihat ke arah depan, dan disadarinya bahwa jaraknya dengan Naruto sangatlah dekat. Ekspresi marah tampak jelas di wajah Naruto, sangat jelas. Dalam hati Sasuke agak bergidik ngeri.
Naruto mengunci tubuh Sasuke dengan meletakkan kedua tangannya bersandar di dinding tepat di samping kanan-kiri kepala Sasuke. Perasaannya begitu campur aduk, antara kesal, benci, tapi juga kecewa. Ia benci saat tim-nya disebut lemah, karena di sisi lain ia merasa terhina, artinya ia juga dihina sebagai orang yang lemah. Ia kesal karena seolah diremehkan oleh pemuda di hadapannya ini. Ia kecewa pada dirinya sendiri, karena perkataan Sasuke benar adanya. Seolah ia telah gagal mewujudkan impiannya sendiri. Ia merasa gagal.
Tapi tidak. Ia tidak boleh seperti ini. Seorang Namikaze Naruto bukanlah orang yang akan dikalahkan dunia dengan begitu mudahnya. Ia harus membuktikan kepada semua orang, terutama pemuda yang ada di hadapannya ini, bahwa ia akan berhasil. Bahwa ia tidak lemah.
"Akan kubuktikan bahwa kau salah, Teme! Akan kupastikan kau akan bergabung dengan Konoha Clover Luminous! Dan sebagai tandanya..."
Naruto—entah sadar atau tidak—sedikit menunduk, menenggelamkan wajahnya ke perpotongan leher dan bahu Sasuke. Menghirup aroma mint, dan menghembuskan nafas yang terasa menggelitik bagi Sasuke. Si pirang kemudian menggigit kecil leher itu, meninggalkan tanda merah yang sangat kentara di kulit putih pucat Sasuke. Tanda yang takkan hilang dalam selang waktu sebentar. Sasuke hanya berdiri terpaku, masih kurang dapat menerima apa yang tengah terjadi.
Kemudian, Naruto menyejajarkan wajahnya dengan Sasuke, agar mata samudra yang penuh percaya diri itu dapat bertemu pandang dengan mata kelam yang berusaha tak merasa gugup milik Sasuke. Mata Naruto terlihat berani, dan tersirat rasa kecewa yang amat sangat mendalam. Sasuke yang melihatnya, bagai terhipnotis. Mata itu... membuatnya merasa bersalah, membuatnya merasa menjadi orang yang paling berdosa di seluruh dunia.
Sekali lagi, mereka pun belum mengerti, apa yang membuat mereka seperti ini.
"...Sebelum tanda merah itu hilang, kau pasti akan menjadi Wide Receiver Konoha Clover Luminous!"
TBC
Nama timnya ngaco. story doang : 4.166 words
Well, saya gak pandai membuat NaruSasu yang fluffy war *apa pula?* jadi lebih ke persahabatan-team work saja. Maaf untuk Kak Nad a.k.a Ange la Nuit, plotnya jelek, sangat OOC dan super abal. Special thanks untuk Kak Ren a.k.a UchihaLovesUzumaki yang sudah bersedia menjadi tutor saya. Juga untuk teman-teman yang menyempatkan diri membaca fic ini. =)
Glosarium:
end zone : daerah di field tempat akhir bola dibawa untuk mendapatkan touch down. Ada di sisi-sisi lebar lapangan (ada 2 untuk masing-masing tim) dan biasanya lebarnya hanya 10 yard.
receiver/wide receiver (WR): posisi penangkap bola. Sudah pasti tugasnya adalah melakukan catching. Termasuk di bagian offense.
yard: satuan jarak, 10 yard sekitar 9 meter.
spike : sepatu untuk main amefuto. Ada 2 macam, yaitu spike untuk lapangan tanah (bentuknya mirip sepatu sepak bola, dengan tonjolan-tonjolan penambah gaya gesek) dan spike untuk lapangan berumput (bentuknya seperti sepatu olah raga, namun alasnya bergelombang seperti kerikil kecil-kecil)
Pelindung: ada macam-macam. Dari neck roll (menjaga leher), shoulder pad (menjaga bahu dan dada) , blocking pad (menjaga perut), hand grab (menjaga tangan/pergelangan tangan), side pad (menjaga paha), dan knee band (menjaga lutut). Gambarnya bisa cari sendiri di ES21 vol 1 bagian omake atau di internet.
taping : pelapisan persambungan lutut, kaki, dan lainnya dengan tape (kayak perban gitu) untuk mencegah luka (... dan pergeseran sendi. Mungkin? *ngeri sendiri*)
sprinkler : hah, ini alat yang mancurin air itu loh, mirip penyiram air di taman berumput.
Center : salah satu posisi di permainan American Football. Ada di barisan line, di tengah, selain menjadi 'benteng' terdepan juga bertugas untuk melempar bola ke belakang melalui celah kaki sesuai hut call dari Quarter Back.
Hut call : tanda mulai sebuah play. kalo udah pernah nonton pertandingan amefuto asli pasti tahu. Yang 'set! Hut! Hut! Hut! Hut!' itu.
Saya sarankan kalian coba deh cari-cari info tentang american football, karena peraturannya rada rumit gitu lah. Termasuk gambar lapangannya ya! Jika ada kesalahan info akan diperbaiki chapter depan. Glosariumnya banyak juga. =P
Yang review dapet hadiah cipok dari Sena-chan~! *dibazooka sama you-know-who*
Review?
