"Selain itu apalagi?" tanyanya menghadap wajah samping Natsu, setia menunggu jawaban dari mulut yang beku seratus persen itu. Pikiran serta jiwanya berlarian ke segala arah, menghempaskan kesadaran sang pemuda terpojok ke alam bawah sadar. Dia buru-buru membuyarkan lamunan, ogah memberi harapan palsu usai ditatapi sayu berkepanjangan

"Emmm...itu...entahlah, aku tidak tau" jawab Natsu sejujur-jujurnya. Mau memutar otak seratus delapan puluh derajat pun, jawaban yang dicari tak kunjung datang. Rasa takut sempat merasuki hati sempitnya, menyadari wanita itu mulai menundukkan kepala. Semacam kekecewaan tersirat?

"A-aku minta maaf, karena tidak bisa memberi jawaban lain. Tapi aku benar-benar serius, soal keindahan langit biru yang menjadi topik pembicaraan kita sedari tadi. Bagaimana menjelaskannya, ya? Terpukau...ya, aku terpukau! Lalu...lalu..."

"Hahahaha!"

Tawa dadakannya membuat Natsu heran, apa yang lucu? Jawaban tadi logis bukan? Tidak masuk akal dari segi mana, sampai-sampai ditertawakan oleh orang asing? Sesaat cukup ramai, belum lama keheningan menyelimuti kembali. Dia beranggapan harus bertanya, namun terlalu gentar jikalau wanita itu mengejeknya lagi seperti tadi. Pikiran negatif macam kotoran yang patut dibuang jauh-jauh. Darimana datang dan munculnya? Natsu sendiri terlalu bodoh hingga menjawab 'tidak tau'.

"Maaf, aku tidak memiliki maksud apapun kok. Jawabanmu bagus, sangat bagus" telingaku yang berhalusinasi atau apa? Natsu tambah dogol, serupa manusia IQ jongkok yang dikasih pertanyaan satu tambah satu berapa. Respon ambigu lawan bicara yang bikin pusing tujuh keliling

"Bagus darimananya? Aku pikir biasa saja, tidak istimewa maupun berkesan" pantas julukan bodoh tetap melekati Natsu hingga SMA, dia belum menyadari arti jawaban terus terangnya

"Kejujuranmu yang menjadikannya berkesan. Eto...salam-san?" keseriusan berimbas lawakan gagal, huh?

"Dan pirang-san? Tidak enak sekali panggilannya, ayo berkenalan"

"Lucy Heartfilia dan kamu?"

"Natsu Dragneel. Senang berkenalan denganmu, Heartfilia-san"

"Semoga kita dapat berteman baik, Dragneel-san. Mau melanjutkan pembicaraan atau mungkin sesi bertanya?" tawaran yang bagus, pikir Natsu menyetujui saran kedua. Rasa penasarannya mencapai batas maksimal

"Apa kamu berasal dari SMA Fairy Tail? Aku baru menyadarinya beberapa saat lalu"

"Ka-kamu juga, ya?! Aku baru menyadarinya satu menit belakangan, ja-jadi kita sama!" terserah apa katamu, padahal beberapa saat lalu dan satu menit belakangan terlihat jelas perbedaannya. Natsu cekikikan, dia pikir Heratfilia-san lucu

"Ya, kita sama, karena telat menyadarinya" kini mereka berdua saling menertawai kebodohan masing-masing. Kerenyahan tawanya menimbulkan gema di dalam ingatan Natsu, kian sakit tiada kepalang

"Omong-omong kakimu terluka, mau kuantar ke puskesmas terdekat?" kepekaan Natsu terasah seiring kedekatan yang ikut bertambah. Lucy menggeleng pelan, menolak tawaran baik teman barunya sehalus mungkin. Tas jinjing berwarna biru tua dengan gantungan Snoopy disambar cepat, hendak meninggalkan bukit juga Natsu

"Rumahmu...dimana rumahmu?" ia bertanya harap-harap cemas. Semoga Tuhan berbaik hati mengabulkan keinginannya

"Jalan Magnolia blok F, kenapa?" nya-nyaris searah! Natsu enggan mempercayai jawaban konkret Lucy, tetapi berusaha menyakinak kembimbangan hati 'Heartfilia-san tidak mungkin berbohong!

"Aku tinggal di jalan Magnolia blok G. Kali ini kamu tidak akan menolak tawaranku untuk pulang bersama kan?"

"Boleh, ayo pulang bersama"

Bunga-bunga cinta bermekaran? Kenapa jadi teringat iklan kopi di televisi? Natsu serius mengalaminya, di sisi lain semakin meragukan kata pepatah. Mana cocok disebut jatuh cinta pada pandangan pertama? Cenderung mengacu ke perasaan tertarik, mungkin itulah salah satu penyebab hati si pemuda berdebar-debar, sesak sekaligus bahagia. Bersama Lucy bagaikan kebutuhan pokok yang mau tak mau dipenuhi, ayolah, semua terjadi kelewat cepat!

Senja melukiskan warna oranye di hamparan langit nan luas. Kejernihan air sungai dipantulkan oleh sinar hangatnya, memperlihatkan kilauan cahaya yang indah penuh ketenangan. Natsu bersyukur dipertemukan dengan Lucy, ya, hitung-hitung kagak tersesat sewaktu perjalanan pulang nanti, kalau betul-betul terjadi pasti si duo cerewet Erza dan Gray, akan memberi ceramah sepanjang catatan sejarah di papan tulis kelas, dari jalan Magnolia menuju taman kota yang tak kunjung kelar!

"Terima kasih telah mengantarku. Rumahmu memang di blok G kan? Aku merasa tidak enak hati kalau kamu sampai berbohong, agar kita bisa pulang sama-sama"

"Iya, mampir aja kapanpun. Aku menerima kedatanganmu dengan senang hati"

"Kamu juga jangan sungkan. Status kita adalah teman, bukan pirang-san maupun salam-san. Mengerti?"

"Mengerti bu guru, hehehe...baiklah, sampai jumpa besok di sekolah"

Lucy membalas lambaian tangan Natsu cepat, membuka gerbang bercat hijau tua yang hampir luntur, mengetuk keras berulang kali sampai seorang wanita kepala tiga membuka pintu, memutar grendel yang terpasang di sisi kanan lalu menutupnya dalam keadaan semula. Dia memperhatikan sejak awal, bersembunyi dibalik tebok seraya memutar kepala menghadap depan. Natsu pun melakukan perilaku sejenis, hanya sedikit berbeda. Tidak ada senyum yang menyambut, sekedar disapa suara denyit pintu tua berumur puluhan tahun.

Tuduhan yang dilontarkan Lucy salah total. Jika Erza mendengar cerita ini, esok pagi atau nanti malam melalui telepon rumah, pasti dia ketawa seperti orang betul-betul ketawa. Natsu memiliki sifat polos yang amat keterlaluan. Gray pernah berkata, panggung sandiwara enggak cocok buatnya. Baru aja berandai mau ikut klub teater, udah diejek duluan di garis start. Akting justru dituduh kebohongan, karena para pemain tidak benar-benar mengalami peristiwa semacam itu di naskah mereka. Memang benar, tapi...namanya juga akting.

Drrttt...drttt...drttt...

"Halo?" tanya Natsu mendekatkan ponsel ke telinganya, menunggu si penelpon membalas

"Halo. Natsu kamu kemana saja? Kata teman-teman alumni SMP kamu tidak ikut reuni" cepat sekali ketahuannya...koneksi bukanlah kendala bagi Lisanna, dikarenakan dia memiliki perangi yang mudah bergaul termasuk dengan orang baru sekalipun. Anak boss perusahaan besar memang hebat

"Bisakah kita bicarakan lain kali? Aku lelah"

"Hoi Natsu, tunggu sebentar, Natsu!"

Penguntit tingkat dewa, kutu yang sulit diusir pergi! Natsu membanting pintu keras, tanpa menghiraukan getaran handphone yang memaksanya menjawab panggilan masuk. Tingkah Lisanna dari hari ke hari makin berlebihan. Apa dengan mengetahui segala aktifitasku kamu diberi uang? Kamu akan meninggal jika tidak menanyakannya sekali saja? Lis sadarlah, kamu bukan ibu, kakak atau tanteku! Kita sebatas teman biasa dan tetangga, tidak lebih. Kenapa pemahaman sederhana macam ini sulit kau camkan lekat-lekat di otak?

Memikirkannya banyak menguras tenaga, baterai tubuh pun cuma tersisa lima persen dari delapan puluh. Dia merebahkan tubuh di atas kasur, menutup kedua mata menggunakan lengan kanan, tidak ingin cepat-cepat dipejamkan takut kebablasan. Natsu bukan tipikal cowok jahat, yang tega menyakiti hati wanita terang-terangan dengan segudang kejujuran menyakitkan, terpaksa memendam segenap rasa lelah, benci, jengkel hingga mencapai batas akhir.

"Ya, aku memang keji sebenarnya terhadap Lisanna. Kata siapa aku baik?"

Keesokan harinya...

Dini hari Natsu terbangun, kemarin tidur sekitar jam lima sore sampai empat pagi. Melenyapkan mimpi kosong tanpa arti penting. Keran diputar searah jarum jam, air dingin mengucur deras tak berkesudahan, sampai Natsu menutup ulir rapat-rapat. Dicipratkannya ke wajah sebanyak tiga kali, memandangi kaca kusam lalu mengambil sikat gigi di dalam tempat odol. Menggosok secara berkala sehingga ketika dipamerkan nampak putih berkilau.

Waktu menunjuk jarum panjang di angka enam, sedangkan jarum pendek di angka empat. Natsu bersiap-siap mengenakan sepasang sepatu kets, tak ketinggalan tas kecil berisi pakaian renang di sebelah kanan. Dia melewati jalan seperti biasa, namun berangkat lebih pagi dari jam seharusnya. Seorang wanita bersurai pirang menengok kesana-kemari, meski tidak diminta kemari Natsu tetap melangkahkan kaki pergi mendekati Lucy. Bukan otak yang menggerakkan kaki, melainkan hati berluap kegembiraan tiada tara.

"Heartfilia-san!" panggil Natsu sekencang mungkin, lupa memperhitungkan tetangga sekitar yang masih tertidur lelap

"Oh, Dragneel-san. Ada perlu apa memanggilku?" balas Lucy bertanya. Natsu menggaruk belakang kepalanya bingung, mengira-ngira harus menjawab apa supaya wanita berparas cantik itu tidak menaruh curiga

"Kamu sedang menunggu siapa?"

"Lisanna, kami selalu berangkat sama-sama. Tetapi kemarin aku bangun kesiangan, gak jadi deh...kemarin dia ditemani siapa, ya?" pertanyaan yang tidak wajib dibalas, pikirnya. Lagi pula Lucy menanyai diri sendiri, menurut keyakinan Natsu seorang

"Lucy-chan, maaf aku terlambat!" teriak seorang wanita berambut pendek sebahu, melambaikan tangan yang dibalas Lucy dengan senyum berseri. Natsu mencari sumber suara, terdiam sejenak melihat Lisanna tengah berlari kemari. Apa surat izin pura-pura tidak kenal boleh diberlakukan? Ucapnya malas

"Jangan bengong terus, ayo berangkat!" ajak Lucy meraih tangan Natsu cepat, membuatnya berdentam terutama di bagian jantung, serasa dipaksa copot dari tempat asalnya! Dia sekedar menganggukan kepala, berusaha keras memberi isyarat normal sebelum benar-benar dikuasai alam khayal

Mimpi terindah di dunia nyata! Natsu sempat memiliki pikiran, begini terus pun tidak apa-apa, selama Lisanna terus bungkam tanpa mengucapkan sepatah kata peretak kesenangan. Belum lama menikmati, Lucy berpindah menggengam tangan Lisanna, mereka berbicara seakan melupakan kehadiran Natsu di belakang punggung. Senyum pilunya mengembang pasti, meninggalkan secercah harapan di sepanjang jalan bersama ekspetasi berlebih dalam bayangannya.

"Sadarlah Natsu, sadarlah! Kalian baru berkenalan, jangan mempercayai cinta pada pandangan pertama. Pepatah itu palsu!"

"Hey Natsu, daritadi aku panggil kenapa tidak menjawab?"

"Ma-maafkan aku Lisanna-san"

"Kalian saling mengenal rupanya" ujar Lucy meramaikan suasana. Sekolah mulai terlihat di ujung mata, membuat kesal Natsu yang masih menginginkan moment ini berlangsung, lebih lama semakin baik tentunya

"Kemarin aku dan Natsu be..." Natsu menggerak-gerakkan bibir tak bersuara, diikuti tangan menyilang menandakan 'dilarang'. Lisanna menutup mulut rapat, mengibaskan tangannya ketika ekspresi penasaran Lucy mendominasi di wajah hampir sempurna

Baiklah, hari yang berat akan segera dimulai. Natsu menghela nafas panjang, ritual yang sering dilakukannya menjelang detik-detik terakhir bel berbunyi, dilanjut mengambil sebuah buku sembari membulak-balik halaman kosong sekejap mata. Setelah menemukan kertas bertuliskan tangan mirip ceker ayam, dia membacanya dari awal ke akhir, mencari-cari informasi yang dibutuhkan dekat barisan paling pojok kanan. Natsu menepuk jidat keras, ingat melupakan beberapa pekerjaan rumah malam kemarin.

"Sial, aku belum mengerjakan PR akuntansi!"

Ding...dong...ding...dong...

"Sebagai hukumannya, kamu harus membantu sensei membawa tugas harian ke ruang guru. Mengerti?" tanya sesosok pria separuh baya dengan surai oranye nya yang acak-acakan. Natsu terpaksa mengiyakan, mengikuti sang guru dari belakang dan menjadi tontonan banyak murid

Mendapat hukuman bukanlah kejadian menyenangkan, apalagi kalau Gildarts-sensei yang memberi. Natsu dibuat semalu-malunya seakan telanjang di depan umum. Postur tubuh serta senyum aneh yang dipaksakan mengembang itulah penyebab dirinya dipandang sinis. Sanksi teraneh dan tergila sepanjang sejarah sekolah Fairy Tail berdiri, membawa setumpuk buku berat namun tetap dituntut tersenyum gembira. Apa tujuan yang hendak dicapai? Natsu merasa tidak mempunyai waktu sebanyak itu demi menjawabnya.

"Masih kuat?"

"H'ai, semangat anak muda!" peraturannya adalah, jika ditanya seperti tadi harus menjawab seperti itu. Gildarts-sensei anti mentolerir salah balas. Mudah kan mengucapkannya? Anak TK pun bisa, masa kalah?

"Kurang semangat nih, sensei tinggal, ya!"

"Tu-tunggu!"

BRUKKKK!

Akibat berlari cepat-cepat, tanpa sengaja Natsu menjatuhkan seluruh barang di dalam pangkuan tangannya, dengan mata kepala sendiri menyaksikan buku berbalut sampul plastik putih diinjak murid lain secara tidak sadar. Dia gelagapan di tempat, macam dukun tengah komat-kamit melafalkan mantera. Badannya bergerak refleks, mengikuti intuisi yang memerintahkan untuk meraih buku tersebut. Seseorang menyentuh punggung tangan itu hangat, membuat Natsu dapat mencium parfum khas yang tersebar rata di setiap permukaan kulit. Aroma kayu manis.

"Lu-lu...lu-lu...LUCY?!" teriak Natsu memanggil sang pemilik nama, spontan menjaga jarak beberapa petak ubin guna menghindari kontak fisik langsung

"Eto...aku hanya ingin membantumu. Apa tidak boleh? Aku lihat kamu kesulitan membawa tumpukan buku itu sendirian"

"Ma-maaf...aku tidak bermaksud apapun sewaktu menghindarimu. Tentu, tawaranmu ku terima dengan senang hati"

Ya, Natsu sadar dia bukan manusia super yang memiliki tenaga monster. Usai melaksanakan amanat, mereka berdua keliling bersama di koridor sekolah, bosan karena tidak ada kegiatan yang perlu dikerjakan. Lucy menghentikan langkah mendadak, berbalik ke belakang seraya menyodorkan buku bersampul putih, berisi identitas singkat Lisanna di bagian tengah.

"Lihat, kertasnya kotor bahkan terdapat bekas injakan sepatu di sini" ucap Lucy menunjukkan setiap letak secara mendetail, yang menyebabkan Natsu tambah bersalah

"Salahku sehingga buku Lisanna jadi kotor"

"Mengaku saja tidak cukup, bagaimana caramu menebusnya?"

"Aku berjanji, akan menyalin dari lembar awal sampai akhir, tanpa tersisa satu halaman pun!"

"Pegang janjimu, Dragneel-san" nada bicara Lucy kasar. Natsu tau jelas kenapa dia berbuat demikian, kalau Erza atau Gray dihina dia pasti mengecap perasaan serupa

"Beritau aku, dimana kelasmu?!" pertanyaan yang mengganjal di mulutnya keluar dengan mulus tanpa hambatan. Sontak Natsu memalingkan muka, main kabur enggan menatap ekpsresi Lucy yang berubah drastis

"Kelas B IPA. Kunjungilah aku kapanpun kamu mau! Jangan sungkan!"

Perkataan senada yang diucapkannya kemarin, sewaktu senja menghampiri mereka di depan pagar bercat hijau luntur. Baik siang maupun sore bagi Natsu sama saja, yang terpenting wanita itu adalah Lucy, bukan orang lain. Bel usai istirahat berbunyi nyaring, masih seperti kemarin, dia berdiri mematung di kejauhan, menanti sampai rambut pirangnya tidak lagi tertangkap retina mata. Barulah Natsu masuk ke dalam kelas, walau dimarahi Erza habis-habisan, grins khasnya mampu menampakkan wujud kembali, setelah ditutupi badai hitam sekian lama.

Sore hari...

"Pulanglah duluan, nanti aku menyusul"

"Mau kutemani? Sekarang sudah jam empat, bahaya pulang sendirian"

"Dibanding mengkhawatirkanku, ada seseorang yang lebih patut dikhawatirkan"

Yang lebih patut dikhawatirkan, siapa? Benak wanita itu bertimbul tanya, sekedar menatapi punggung sahabatnya lalu beranjak pergi. Mau dikata penting pun tidak tepat, kepintaran Lucy seakan mampu menerka jawaban paling tepat dari kecemasan Lisanna. Hanya satu nama yang pantas disebut, Natsu. Pria pertama di antara banyaknya teman lelaki yang sukses merebut hati perempuan bermarga Strauss itu.

"Lagi pula mereka cocok. Aku mendukung Lisanna apapun kata teman-teman"

Sementara Lisanna...

SREKK...!

Tap...tap...tap...

"Ada perlu apa, Lisanna-san? tanya Natsu langsung menuju ke point utama, benci berbasa-basi dengan siapa pun ketika sibuk tak terkecuali Lucy

"Kenapa tidak ikut renang? Pak pelatih sampai mencarimu, lho" gembira? Tidak juga, bukan kabar penting yang patut dibesar-besarkan. Buat murid lain pasti merupakan suatu kebanggaan, tetapi Natsu itu masuk golongan aneh, jadi dia agak dijauhi. Beda cerita menyangkut luar kelas, disebut-sebut fansnya mampu menyaingi si nomor satu

"Peduli amat, bukan urusanmu" balasnya garang lanjut memindahkan salinan catatan. Lisanna memfokuskan pandangan ke satu titik, terheran-heran menyadari bukunya tidak berada di meja Gildarts-sensei

"Meminjam PR untuk disalin?"

"Menurutmu apa?"

"Kemarikan, aku mau lihat" paksa Lisanna mengambil buku akuntansinya. Natsu membuang muka ke samping, cepat atau lambat mengetahui kejadian yang sama persis akan terjadi

"Maaf. Aku tidak sengaja menjatuhkannya, dan...bukumu diinjak, beberapa halamannya sempat tertiup angin tadi, gak heran kalo kotor. Sebagai penembusan, aku sedang menyalin ulang supaya kamu enggak kena marah Sensei. Aku janji, besok pasti udah beres"

"Kenapa sungkan? Aku tidak enak hati merepotkanmu. Lihat, sampai kaku begini" jari-jemari Natsu ditekuk bergiliran. Dia sendiri pasrah, membiarkan Lisanna berbuat sesuka hati. Asal tidak merugikan saja

"Jangan dikerjakan lagi, ayo pulang!"

Eh...?

"A-awas!" erang Natsu panik setengah mati, memeluk Lisanna erat sehingga dia tidak jatuh dan membentur lantai. Romansa singkat itu berlangsung dua menit lamanya, mereka yang terbuai lamunan mulai perlahan-lahan sadar lalu meninggalkan kelas

"Ho...hoi!"

"Sekali saja...biarkan aku menggenggamnya"

Nada memelas andalan Lisanna sukses meluluhkan hati baja Natsu. Kehangatannya mengingatkan pemuda itu kepada seseorang, ya, Lucy Heartfilia penghuni blok F jalan Magnolia. Berstatus tetangga sepuluh langkah sekaligus teman beda kelas yang teramat istimewa jauh di dalam lubuk hati.

Tiba di rumah masing-masing, Natsu segera mandi lalu dengan sengaja mencueki Lisanna yang menyerukan selamat tinggal di sebrang. Penat serasa menghilang usai diguyur sepuluh menit bawah pancuran shower. Handuk putihnya digosok-gosok ke pucuk kepala, guna mengeringkan rambut setelah keramas sebentar, tak ketinggalan membersihkan titik-titik air yang tertinggal di sekujur badan.

Malam balik menyapa kota tercinta Magnolia, menampilkan sosok bulan purnama dengan bulatannya yang sempurna. Natsu malas menontoni, menarik hordeng kasar dan merebahkan diri di atas kasur, tengah memikirkan sesuatu di sela-sela iklan.

"Lagi-lagi Lucy yang terlintas. Apa perasaan ini yang disebut cinta?"

"Arghhh...meski dipaksa sekalipun aku tidak mau menyebutnya cinta atau suka. Apa kedua kata tersebut mempunyai perbedaan?" buntu, Natsu asal menyimpulkan sama

Tik...tok...tik...tok...

"Yosh, hanya ada satu cara tersisa. Aku tinggal mendekati Lucy setiap kali kesempatan datang. Dengan begitu, aku bisa mengetahui apakah menyukainya atau tidak. Hahaha...sambutlah kelahiran Albert Einstein generasi dua!"

Sedangkan Lisanna...

"Lucy-chan, kau harus mendengarkanku! Ini sangat penting!" ujar Lisanna penuh semangat empat lima, yang tersampaikan jelas walau si penelpon terpaut jarak lima rumah

"Te-tenanglah Lisanna. Aku tidak akan pergi kemana-mana, kok"

"Ehem...begini ceritanya, aku nyaris terjatuh dan..."

"Kamu baik-baik saja kan? Tidak ada yang terluka?!" tanya lawan bicara memberondong akibat ketakutan berlebih. Lisanna tertawa kecil, memperbaiki posisi telepon yang meresot dari lubang telinga

"Natsu menangkapku, berterima kasihlah padanya karena telah menghilangkan kegelisahanmu. Hey, aku tidak salah mengambil keputusan bukan? Apa menurutmu, perasaanku pasti terbalas?"

Dan jawaban Lucy adalah...

"Aku tau kamu mengambil keputusan yang tepat. Niscaya perasaanmu akan dibalas suatu hati nanti"

Lisanna menyakiti dirinya sendiri tidak langsung. Natsu dikhianati oleh dua buah kalimat yang Lucy ucapkan sebagai pemacu semangat, sedangkan dia melukai hati si bodoh yang diam-diam menaruh perasaan khusus.

Karena di awal bab pun, kisah cinta ini tidak berjalan searah jarum jam.

Bersambung...

A/N : Seharusnya cerita ini udah beres dari kemarin-kemarin, tetapi ingatan author bentrok sama materi IPA dan SBK. Mau bikin juga rasanya otak penuh. Maaf kalau chapter 2 jelek, review please? Mohon masukannya

Balasan review :

Fic of Delusion : Hehehe bener tuh, sayangnya SR pada pasif. Semoga impian author bisa terwujud, kali ini aja. Thx ya udh review, jadi yang pertama lagi

Naze-Dzena : Kalo buat Jellal sih aku masih bingung, mau masukin dia atau enggak. Gak enak jadiin Jellal PHO (Perusak Hubungan Orang). Thx ya udh review, jangan lupa lho review lagi, hahaha /ngarep

Wotaku0348 : Tau aja, cepat atau lambat Lisanna pasti jadi antagonis (harus yakin). Lagunya bagus kok, apalagi yang versi SKE48. Kalo yang JKT48 terlalu singkat, jadi kurang puas. Thx ya udah review

kyouryuusuke1 : Oke deh, thx ya udah review. Maaf lama update-nya