Kurangkai Puisi dan Simfoni
A Hunter x Hunter Fan Fiction.
Disclaimer: Hunter x Hunter © Togashi Yoshihiro.
Chapter 2
Kurapika terdiam. Senritsu menatapnya dengan bingung.
"'Jangan-jangan' apa, Kurapika?"
"Hmm… tidak jadi…" jawab Kurapika singkat.
Senritsu hanya diam sambil memandang wajah Kurapika yang hampir tanpa ekspresi itu. Padahal sesungguhnya, ilusi tentang sesosok makhluk halus… eh, maksudnya… sesosok manusia tengah berkecamuk di dalam pikiran Kurapika.
Sesosok manusia dengan wajah aneh dan dandanan yang (menurutnya) norak.
Eh? Bukan Hisoka, lho… Yang dimaksud Kurapika itu adalah Kuroro Lucifer. Ya, bagi Kurapika, tampilan Kuroro sudah cukup norak. Meskipun begitu, dia tetap sering merenung tentang Kuroro.
Betul-betul perasaan yang sulit untuk dipahami…
"Ada seseorang yang sedang kamu pikirkan, ya?" tanya Senritsu tiba-tiba. Kurapika nyaris terbatuk saking kagetnya.
"A-apa?"
"Detak jantungmu beda dari yang biasanya. Lembut, tapi terdengar sedih dan merana."
"Oh… ya, aku tahu, aku takkan bisa menyembunyikan apapun darimu, Senritsu," desah Kurapika.
"Memikirkan dia, ya?"
"'Dia' siapa?"
"Pemimpin Gen'ei Ryodan itu."
Jantung Kurapika serasa terhunus ketika mendengar ucapan Senritsu.
"APA maksudmu? Mana mungkin aku memikirkan DIA!" Kurapika mencoba berkelit. Senritsu hanya tertawa memperhatikan tingkah Kurapika yang aneh itu.
'Kadang-kadang, tidak enak juga punya teman seperti Senritsu. Dia tahu semuanya!', pikir Kurapika seraya mengedumel di dalam hati.
Apa aku benar-benar terus memikirkanmu?
Apa aku tak dapat menghapusmu dari ingatanku?
Sungguh menyebalkan…
Karena aku MEMBENCIMU!
Kenapa kamu selalu menyisipi relung-relung mimpiku?
Mengapa aku tak dapat menendangmu pergi dari pikiranku?
Aku tidak mau 'terbelit' olehmu!
Aku jatuh…
Ke dalam jurang yang gelap
Penuh racun, penuh 'bisa'
Berbahaya bagai ular
Aku jatuh…
Ke dalam mimpi tanpa batas
Ilusi tanpa ujung
Akankah aku terjaga
Dari mimpi terburuk ini?
Kuroro terbangun, mengerjapkan matanya sejenak karena silaunya cahaya mentari yang telah membumbung tinggi, tepat di atas kepala. Rasa lapar mendesaknya untuk bangun dan pergi ke dapur.
Semenjak jantungnya 'dikurung' oleh Judgement Chain milik Kurapika, Kuroro yang tidak boleh lagi menggunakan Nen dan berbicara dengan anggota Gen'ei Ryodan yang lainnya itu pun terpaksa tinggal di sebuah apartemen mewah dan hidup sendirian. Kadang rasa kesepian dan rapuh melanda jiwanya, dan dia pun segera pergi jalan-jalan mengelilingi kota untuk menghapus rasa yang tidak menyenangkan itu.
Kuroro lantas mengubek-ubek isi kulkas, mencari 'benda' apapun yang bisa dimakan.
"Hah… ternyata memang lebih enak kalau ada orang lain yang mendampingi kita…" keluhnya seraya memandang jendela, yang tertimpa oleh sinar matahari yang benderang. "Kapan kamu sadar?"
Kurapika berdiri di depan balkon, diam, memandang matahari yang memancarkan warna-warna terang. Pagi yang cerah untuk memulai hari yang indah.
Langit biru serasa menyatu dengan dedaunan hijau yang lembut. Sungguh sebuah pemandangan yang menentramkan hati…
Kurapika duduk di dekat balkon. Warna rambutnya yang keemasan semakin berkilauan ketika beradu dengan cahaya sang surya.
Sudah bisa Anda bayangkan betapa 'cantik'-nya seorang Kurapika?
Namun, suasana menenangkan ini harus mendadak terhenti ketika suara ribut terdengar di kediaman keluarga Nostrad. Kurapika lantas keluar dari kamarnya dan memeriksa apa yang tengah terjadi. Senritsu dan beberapa pelayan berdiri mematung di depan layar televisi.
"Kurapika, puluhan orang lagi-lagi terbunuh secara sadis di sebuah toko bunga!" teriak Senritsu begitu melihat Kurapika muncul. "Mereka meninggal dengan leher patah dan usus terburai…"
"APA?" Kurapika mendekat dan menatap televisi lekat-lekat. Pemandangan yang mengerikan terbentang di sana.
"Lagi-lagi, pelakunya tidak terlacak…" Senritsu berujar. "Si pembunuh melakukan segala aksinya dengan sangat rapi. Tidak ada barang bukti, maupun bekas sidik jari yang bisa diteliti oleh pihak kepolisian."
"Yang seperti ini harus segera diselesaikan! Kita tak bisa diam saja dan membuat lebih banyak lagi nyawa yang terbunuh dengan sia-sia!" cecar Kurapika. Rasa keadilannya sebagai seseorang yang pernah merasakan betapa sakitnya ketika orang-orang yang disayanginya tewas mengenaskan, perlahan muncul dan membludak.
"Iya, aku setuju denganmu," sahut Senritsu.
"Setelah bersiap-siap, kita pergi ke toko bunga itu, ya. Aku ingin melacak siapa pelakunya. Firasatku mengatakan kalau pelaku dari dua pembunuhan sadis ini adalah orang yang sudah cukup kukenal," Kurapika berkata, diiringi oleh anggukan oleh Senritsu.
Kurapika pun semakin dekat, dengan 'sosok' yang tengah menunggu kedatangannya itu…
_ to be continued _
Special Closing Note (from HxH characters):
Kuroro : Apa kabar minna-san? Senang dapat menjumpai kalian semua pada segmen kali ini… Segmen ini adalah segmen yang khusus dibuat author untuk menutupi kekurangan-yang-amat-sangat pada bagian cerita utama di chapter ini… Author ini memang paling bego sedunia, ya? *dipentung author*
Author : Manusia rese'! Kamu itu saya tempatkan di sini bukan untuk menghina saya, tapi untuk merendahkan dan menginjak-injak harga diri saya!
Kuroro : Ya elah… itu sama saja, Non! Lagipula, saya ini tokoh anime, bukan manusia!
Author : Oh iya, ya… *garuk-garuk jilbab*
Kurapika : Author! Saya mau protes nih!
Author : Mau protes apa, Kurapika cinta-ku? *PLAK!*
Kurapika : Ini nih… masa' hampir dari semua fanfic yang author buat, aku selalu dijadikan pasangan-nya dia (menunjuk Kuroro) sih? Aku itu BENCI BANGET sama dia!
Author : E? I-itu…
Kurapika : Ayo jawab… *mengeluarkan rantai*
Author : AH! Saya ingat, saya belum belajar untuk ulangan Kimia buat hari Senin nanti… jadi saya harus pergi… Goodbye! *kabur pake jurus angin (?)*
Kurapika : Author geblek! Kok malah ditinggalin sih?
Kuroro : 'Kan malah bagus…
Kurapika : Bagus apanya?
Kuroro : Kita bisa berduaan, hehehe…
Kurapika : Eits! Kalau kamu berani berbuat macam-macam seperti yang terjadi di Chain Princess chapter 9, jangan salahkan aku kalau aku harus membunuhmu!
Kuroro : Maaf, maaf… Tapi, masalahnya, kita di sini bukan untuk berantem. Tapi untuk menjawab review dari pada readers!
Kurapika : Hmm… jadi gitu, ya…
Kuroro : Ng, ini review dari KuroPika X-san alias Lucia-chan (panggilan ini dikasih oleh author, lho!). Dia nanya kenapa aku nggak ikutan mati setelah mendengar sonata kegelapan itu. Nah, jawabannya adalah… karena aku pakai penyumbat telinga merek Nimbus 2012! *bangga*
Kurapika : Hah? Kayaknya Nimbus itu nama sapu terbang-nya Harry Potter deh… Lagipula, itu 'kan Nimbus 2000… kok bisa nyasar ke 2012 sih? Mau cepat-cepat kiamat yah?
Kuroro : Namanya juga produk keluaran terbaru… Hahaha…
Kurapika : Bohong banget deh…
Kuroro : Hmm… lalu, ada review juga dari beberapa readers yang meminta author untuk update sesegera mungkin. Saya kasih tempe ya, author sebenarnya bukan nggak mau update cepat-cepat, tapi karena situasi yang sangat tidak memungkinkan (author sedang dilanda masa-masa ulangan dan tugas-tugas yang tak kunjung berakhir), maka author secara tidak langsung meminta maaf karena mungkin nggak akan bisa cepat update.
Kurapika : Kalau dulu kenapa jaman author masih bikin Chain Princess update-nya bisa cepat, itu karena waktu nulis fanfic tersebut author tengah libur panjang menunggu detik-detik masuk SMA. Jadi author sangat berharap akan kesabaran minna-san untuk menunggu ya…
Kuroro : Nah, karena nggak ada yang mau dibahas lagi, kita cabut, yuk!
Kurapika : Tunggu! Aku masih mau mencari si author gaje bin sarap itu. Mau kurantai tangannya karena sudah berani ngetik fanfic macam-macam!
Beberapa menit kemudian…
Author : Mereka berdua sudah pergi yah? Ya sudahlah… kali ini mereka berdua yang saya tugaskan untuk membuat catatan penutup. Jadi, sampai jumpa di chapter selanjutnya! Jangan lupa review-nya yah!
_ Azumaya Miyuki _
