Aku menatap Sasori dalam, "Tadi.. Maksud ucapanmu tadi itu apa, Sasori-san?"
Sasori terdiam sejenak. Menatapku dalam. Selang satu menit, dia raut wajahnya yang awalnya serius, sekarang seakan sedang berusaha menahan tawa, "Hinata... kau memang manis." ucapnya dengan senyuman yang membuat aku bergidik.
Kami saling bertatapan dalam jangka waktu yang lama. Tanpa ada satupun yang membuka suara. Aku semakin gugup tidak karuan karena dia selalu tepat menatap mataku dengan pandangan yang sangat dalam, "Ada apa?" ucapku membuka suara.
"Hanya memikirkan apa yang harus aku katakan." balasnya lancar.
"Sampai kapan?"
Dia menelusuri wajahku sekarang. Jelas saja aku risih dengan apa yang dia lakukan, "Sampai aku puas."
"Maksudmu?"
Dia memutar bola matanya, "Sampai aku puas menatapmu, Hinata."
Ikh, bulu kudukku berdiri. Dengan cepat aku berputar 180o , membelakanginya. "Aku tidak suka di pandang."
"Hei, Hinata, aku.."
Warning:
OOC, AU.
.
Disclaimer:
Masashi Kishimoto
.
OnlyLove
Z.V. Phantomhive
Chapter 2
"Hinata?"
Aku masih sibuk dengan dunia baruku.
"Hey, Hinata? Kau mendengarku?"
"Ah, ya! Kenapa, Sasuke?" aku benar-benar baru sadar. Dari nada suaranya, sepertinya dia sudah mulai kesal menungguku.
"Ayo pulang." ucapnya cepat sambil mengambil tas yang dia geletakkan di mejanya.
Yah, ini hanya kebetulan, karena rumah Sasuke itu 'bersebelahan' dengan rumahku, dia sering kali mengajakku untuk pulang bersama.
Hanya saja lain cerita jika Sasori sudah menungguku di depan pintu kelas, "Hinata, ayo pulang" ucapnya dengan senyum yang ramah.
Aku menatapnya lama. Rasanya wajahku panas sekarang. Percaya tidak percaya tadi siang dia benar-benar menyatakan cintanya padaku. Dia memberikan senyuman kecil kepadaku.
Detik berikutnya aku terlonjak mendengar Sasuke yang berjalan keluar—sebelumnya, dia menabrak meja, dan tepat mengenai pinggangnya—dan dengan sengaja dia menabrak bahu Sasori. Sebenarnya, apa sih maunya?
Sedangkan Sasori menatap kepergiannya dengan senyuman. Ada apa diantara mereka sebenarnya? Detik selanjutnya, Sasori menatapku, "Ayo Hinata... Sampai kapan kau mau terdiam di situ?"
Aku meresponnya dengan sangat lemot, sampai akhirnya aku sadar dengan apa yang dia katakan, "Ah, ya. Maaf." ucapku tergesa-gesa sambil membereskan buku-bukuku.
.
.
.
.
"Hahahahahaha..."
"Berhenti tertawa, itu tidak lucu."
Sekarang dia membekap mulutnya berusaha menahan tawa. Hanya saja punggungnya bergetar karenanya.
"Sudahlah, Sasori!"
Aku menyesal tadi harus membeli jus jeruk.
.
10 menit yang lalu..
Aku baru saja membeli jus jeruk di mesin otomatis.
"Hinata, jangan-jangan, Sasuke itu menyukaimu, ya?"
CROOT
Secara tidak sengaja aku menyemburkan hampir semua isi mulutku. Aku sedikit syok dan kaget dengan apa yang dia katakan.
"Hinata? wajahmu... hahahahahahahaha"
.
"Sudahlah, Sasori. Lagi pula tidak mungkin Sasuke-"
"Tetapi bisa saja, kan, Hinata?"
"Tapi itu tidak wajar. Terlalu aneh. Bukannya dia menyukai Sakura?"
"Bisa saja dia berbohong."
"Aku tidak pernah mendengar dia berbohong."
"Well, kita tidak tahu apa yang Sasuke pikirkan, Hinata."
"Um.." aku berfikir sejenak. "Mungkin Naruto tahu."
"Ckckckck..." dia berdecak ringan "Sasuke itu tertutup, Hinata."
"Tapi, Naruto kan sahabatnya."
"Tetapi-" dia menjeda suaranya sejenak "Sudahlah, kita lupakan saja. Aku sedikit merinding lama-lama. Seakan-akan dia-" ucapnya sambil mengusap-usap lengannya.
"Memiliki telinga dimana-mana?" ucapku mengira-ngira pernyataannya.
"Yeah. Mengerikan." dia menghela nafas perlahan dan memasukan tangannya ke dalam saku, "Maaf waktu itu..."
"Hm?"
"Er... Waktu itu, tu. Saat-"—dia memikirkan dengan baik apa yang harus dia katakan—"valentine" bisiknya.
"Eh?"
"Waktu itu aku terlalu gugup. Gomen!" ucapnya sembari menunduk kecil.
"Aku pulang."
Sepi. Tidak ada jawaban.
"Kakak?" aku berjalan melewati lorong-lorong putih yang berada di rumahku. "Halo? Neji-nii?" aku merasa tidak nyaman jika dia belum ada di rumah. "Neji-nii?" kamarnya pun kosong melompong.
Aku mendesah perlahan. Pasti dia pergi ke...
"Nona Hinata? Anda sudah pulang?"
"Bibi? Mana Neji-nii?
Wanita tua itu menghela nafas, "Seperti biasa nona. Tuan muda berada di-"
"Ah, aku mengerti. Terima kasih." ucapku memotong perkataannya, sambil tersenyum ringan. "Aku permisi" setelah itu aku berjalan menuju kamarku.
Neji-nii ada di rumah sakit lagi? Hah, aku harus memberti tahu Ten-ten.
Dengan malas aku menaruh tas sekolahku di meja belajar, dan mengambil ponselku. Mengetikan nomor telefon Tenten, dan menelefonnya.
"Halo, Hinata?"
"Ten-ten.." ucapku pelan.
"Ada apa?"
"Neji-nii."
Tidak ada jawaban dari seberang sana. Aku menunggu 10 detik untuk mendapatkan jawaban lagi, "Lagi?"
"Ya."
"Sekarang dia ada di mana?"
"Rumah sakit biasa, sepertinya. Aku juga baru diberi tahu."
"Oh, oke. Aku akan kesana. Mau ikut?"
Aku teringat dengan janjiku dengan Sasori tadi, "Err, maaf. Sepertinya-"
"Tidak apa."
Setelah itu tanpa salam apapun, dia memutuskan pembicaraan kami. Aku yakin sekarang dia sedang bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit.
.
"Hinata, nanti malam kita pergi, yuk." gumam Sasori kepadaku, saat kami sudah sampai di depan rumahku.
"Eh? Kenapa?"
Dia memutar bola matanya, "Well, besok kan hari Sabtu. Tidak ada salahnya kita berjalan-jalan, kan?"
"Err.. Kau tidak berniat macam-macam, kan?" ucapku ragu.
Dia tersenyum ringan, "Tidak akan. I swear." ucapnya sambil mengangkat jari tengah dan telunjutk kanannya kepadaku.
Aku masih berfikir dengan tawarannya. Sedangkan dia mengangkat tangannya sejajar dengan dadanya, dan melirik jam yang ada di pergelangan tangannya.
"Sekarang jam 4. Nanti jam 6.30, kau ku jemput." Setelah berbicara seperti itu dia berlari pergi. Sebelumnya dia menyampaikan sebaris kalimat, "Aku tidak menerima penolakan, Hinata."
.
Sepertinya aku akan tertidur jika tidak ada suara yang mengganguku. Aku mendengar jelas suara jendelaku yang dilempari kerikil. Dengan malas aku bangkit dari posisi tidurku dan mendekati jendela itu. Membukanya lebar, dan menatap orang yang melempari jendelaku dnegan kerikil. "Sasuke? Apa yang kau lakukan, sih?" ucapku sinis.
Dia memandangku dari jendelanya yang terbuka. Jarak jendelaku dan jendelanya hanya kurang lebih satu meter. "Nanti malam kita pergi ke festival kembang api, yuk." ucapnya datar dan cepat.
Aku diam sesaat untuk mencerna apa yang dia katakan, "Maaf, Sasuke." ucapku sambil tersenyum minta maaf.
"Kenapa? Biasanya kau senangkan?" ucapnya sinis.
Iya, memang biasanya saat festival kembang api dia mengajaku untuk pergi bersama. Tetapi pada akhirnya kami pasti selalu bertemu dengan teman-teman yang lainnya. "Maaf Sasuke. Aku sudah ada janji." ucapku datar. Jika aku mengucapkannya penuh semangat, pasti dia akan marah kepadaku.
Dia menatapku lama. "Gara-gara Sasori, kan?" ucapnya sinis. Detik berikutnya dia pergi begitu saja sebelum aku mengucapkan apapun. Dia marah karena Sasori mengajaku? Atau karena dia memang sudah lama ingin mengajakku? Argh, sudahlah, abaikan saja.
.
.
.
.
Aku keluar dari rumahku dengan pakaian yang biasa. Kaus hijau lumut, dengan celana jins yang hanya selutut. Rambutku juga aku ikat ke belakang. Karena rasanya malam ini panas sekali. Baru aku melangkahkan kakiku ke luar rumah, Sasori sudah menungguku, sambil mengemut sebatang ice cream.
Dia melambai-lambaikan tangannya ke arahku. Er, sepertinya suasana semakin panas. Aku baru kali ini melihat dia menggunakan baju lain selain seragam. Dan entah mengapa bajunya sedikit aneh dimataku. Dia menggunakan kaus tanpa lengan berwarna hitam dengan corak berbentuk cipratan darah, serta celana jins longgar yang hanya mencapai tempurung lututnya. "Malam! Cepat sekali kau keluar." ucapnya sambil menghampiriku.
"Memangnya harus selama apa?"
"Well, bukannya perempuan itu biasa berdandan?"
Aku menatapnya sejenak. Dia lebih suka wanita yang memoles wajahnya dengan bedak? "Kau ingin aku berdandan?"
Dia meliriku sebentar, "Tidak juga. Seperti itu juga kau sudah cantik."
Ah, ternyata benar. Suasana malam ini sangat 'panas'. "Gombal." ucapku singkat sambil meyembunyikan wajahku dari pandangannya.
Dia tersenyum ringan. Aku bisa melihatnya dengan jelas dari sela-sela rambutku yang menjuntai. "Sudahlah. Ayo pergi" ucapnya sambil menggandeng tanganku.
Aku terkejut dan mengangkat kepalaku. Sekilas saat aku mengangkat wajahku secara tiba-tiba aku melihat seseorang yang mengamati kami dari dalam jendela dengan tatapan sinis. Tetapi detik berikutnya dia menghilang tiba-tiba.
.
.
TBC
Terlalu singkat, ya? Heheheh, gomen..
Sekali lagi gomen.. Updatenya lama.. Soalnya sy br tau cara mengupdate... (author macam apa ini?)
Uoh,. Saya tetap semangat walaupun yang rivew sedikit..
Ayo-ayo.. Dibutuhkan KRITIK DAN SARAN..!
Rivew, please..!
