Shouldn't Have

Main pair : Hunhan

Supported Cast :

Kris Wu

Byun Baekhyun

Park Chanyeol

And other(s)

Rate : T

Sumary : "Dan pada akhir tiap kisah, aku selalu menjadi pihak yang ditinggalkan. Kurasa aku sudah terbiasa dengan itu."-Xi Luhan. "Tangan ini akan selalu berada dalam genggamanku hingga kau sendiri yang meminta untuk melepasnya."-Oh Sehun.

Seoul, 2017.

"Sebagian besar lagu yang kau ciptakan bertemakan tentang patah hati. Apakah anda selalu patah hati?" Tanya seorang reporter.

"hmm.." Ada jeda dari seorang narasumbernya. "Tentu setiap orang pernah merasakan patah hati bukan?"

"Ya, anda benar." "Tapi, yang saya kagumkan dari anda adalah bagaimana anda bisa membuat perasaan patah hati yang berbeda-beda dari setiap lagu anda, Sehun-ssi?"

"Aku mengamati berbagai orang di setiap sudut kota Seoul. Berbagai macam ekspresi, perasaan, emosi mereka kugambarkan lewat laguku." Jawab si narasumber yang diketahui bernama Sehun. "Setiap orang merasakan perasaan patah hati yang berbeda-beda. Aku hanya mengaplikasikan perasaan itu dalam sebuah lirik."

"Wah, pasti itu sangat sulit bagi anda." Reprter itu terlihat takjub mendengar jawaban yang dilontarkan. "Apa ada rencana untuk project anda berikutnya?"

"Aku sedang mengerjakan project duet. Untuk detail nya nanti kalian akan mengetahuinya. Tentu ini bersifat rahasia." Sebuah senyum tipis Sehun berikan.

"Oke, sepertinya saya dan para penikmat music tidak sabar untuk menantikan project anda berikutnya, Sehun-ssi." Si reporter yang bermarga Kim itu berdiri dan mengulurkan tangan pada Sehun. "Terimakasih atas waktu Anda sehun-ssi. Saya permisi."

"Ya, saya juga berterimakasih." Sehun membalas jabatan tangan itu sambil tersenyum.

Wajah seorang Oh Sehun berubah drastis menjadi datar dan dingin sepeninggalan sang reporter. Aura kelam yang selalu muncul dari dirinya menguar kesegala penjuru studio rekaman. Pintu kemudian diketuk oleh seseorang dan Sehun hanya membalas dengan gumaman.

"Sehun-ah, Park sajangnim ingin project duet Seohyun ini bertemakan tentang cinta. Tepatnya jatuh cinta." Seorang pemuda berkulit tan menghampiri Sehun.

"Berikan saja pada orang lain." Jawab Sehun singkat tanpa menoleh kearah sumber suara.

"Andwae. Sajangnim meminta kau yang membuatnya. Dia ingin menantangmu." Timpal pemuda tan itu.

Sehun pun memutar kursinya dan menghadap si pria tan yang sedari tadi berisik itu. "Kalau begitu kau saja yang kerjakan, jongin." Aura dingin berhembus kencang kearah Jongin, pemuda berkulit tan. Tetapi Jongin, a.k.a Kai ini tidak gentar terhadap aura kelam Sehun. Ia berkacak pinggang.

"Kalau aku bisa tentu aku yang mengerjakannya!" Ucapnya sedikit meninggi. "Project ini kan kau yang mengerjakan. Aku yang memproduseri, bagian kita itu berbeda."

Sehun pun tak kalah dan ikut berdiri "Kim Kai, aku tak bisa membuatnya. Dan apa itu? Lagu jatuh cinta?" Sehun mendecih meremehkan. "Tidak, tidak. Aku tidak akan melakukannya. Pergilah."

Kai hanya menggeleng lemah. "Kau tidak membuat ini sendirian, manusia kutub." Ia mendorong bahu Sehun untuk kembali duduk ke kursinya "Seorang komposer sudah dipersiapkan untukmu. Dia akan tiba di Seoul hari ini dan bertemu denganmu besok."

Sehun menepis tangan kai "Suruh saja dia yang buat kalau begitu." Sehun kembali fokus pada instrument music didepannya. "Keluarlah, aku sibuk."

"Dasar manusia kutub! Aku tak mau tahu, kau harus bertemu dengannya besok dan membicarakan project ini!"

Tak ada tanggapan dari Sehun

"KAU YANG MEMBUAT LIRIKNYA, DIA YANG MENGARANSEMEN MUSIKNYA KEMUDIAN KALIAN BERDUA- YAAAAKKK!"

Botol berisi air mineral mendarat manis di kepala Kai. "Kau! Keluar!" Sehun kemudian mendorong kai keluar dari ruangannya.

Bagaimana bisa aku membuat itu sementara aku sudah lupa bagaimana rasanya jatuh cinta Batin Sehun.

.

.

Incheon airport terlihat padat seperti biasanya. Beberapa orang terlihat menitikan air mata untuk mengantar seseorang pergi, da nada yang tersenyum bahagia menyambut seorang yang mereka rindukan datang.

Pesawat yang membawa penumpang dari belahan barat Bumi sukses mendarat mulus di bandara Incheon. Seorang gadis bersurai coklat hazel terlihat menggeret koper besar yang terlihat lebih besar daripada badannya sendiri. Matanya yang berbalut kacamata hitam berpendar mencari seseorang yang ia kenali diantara barisan penjemput. Matanya kemudian menemukan tulisan "RUSA BETINA" besar diatas karton berwarna merah muda kesukaannya yang dipegang tinggi-tinggi oleh seseorang. Ia pun tersenyum dan berlari kecil kearah tulisan itu.

"Luhannie!" Pekikan khas seorang Byun Baekhyun menyapa indra pendengaran Luhan.

"Ah, Baekhyun. Aku merindukanmu." Luhan pun menghamburkan pelukan pada sahabatnya itu.

"Nado nado nado!" Baekhyun pun tak kalah saing dengan luhan dan mengeratkan pelukannya. Kalau dilihat dari jauh, mereka seperti sepasang teletubbies yang berpelukan sambil berloncat-loncat ria tak kenal usia.

"Ehemmm." Suara deheman memecahkan acara pelukan mereka.

"Huahhh, siapa ini?" Tanya Luhan sarkastik. "Kau tumbuh dengan baik, dobi." Luhan memeluk singkat seseorang yang bernama dobi ini.

"Aku Park, Park Chanyeol. Bukan dobi, bukan yoda atau peri telinga." Protes Chanyeol.

"Oh, aku tidak mengatakan kau adalah yoda." Ledek Luhan.

"Kau tidak ingin memelukku?" Chanyeol memajukan bibirnya sambil merentangkan tangan minta dipeluk Luhan.

"Ah, Chanchan. Aku merindukanmu.." Luhan menyambut pelukan Chanyeol dengan senang. "Bagaimana?" Tanya luhan pelan disela pelukan mereka.

"Apanya?" Tanya balik Chanyeol tak kalah pelan.

"Aisssh si bodoh ini." Luhan pun kemudian melepaskan pelukannya ketika ia melihat reaksi Baekhyun yang kelewat datar melihat mereka berpelukan.

"Kalau begitu ayo kita pulang, Lu. Eomma dan appamu pasti sudah menunggu." Tak berbasa-basi, Baekhyun pun menggeret koper Luhan dan berjalan mendahului Luhan dan Chanyeol yang masih terpaku ditempat dan menatap stu sama lain tanda tidak mengerti.

.

Sesampainya Luhan di rumah, ia disambut dengan pelukan hangat oleh Heechul dan Hangeng. Mereka jelas merindukan putri semata wayangnya. Selama Luhan di Boston, orang tuanya menjenguk Luhan setahun sekali. Dan pada tahun kedua, Luhan meminta orangtuanya untuk tidak menjenguknya, karena Luhan pikir, mereka sudah tua dan lebih baik berdiam di Seoul. Selain itu, Luhan juga tak ingin karena kedatangan orangtuanya dapat menumbuhkan rindu dan ingin kembali ke Seoul. Maka dari itu selama 3 tahun belakangan Luhan hanya bertukar kabar lewat telefon.

Sahabatnya, Baekhyun dan Chanyeol pun juga sama. Luhan hanya mengabari mereka setahun sekali untuk menandakan bahwa ia baik-baik saja. Kabar kedatangan Luhan ini Baekhyun ketahui dari eommanya Luhan. Awalnya Baekhyun sangat marah karena ia tidak diberitahu Luhan. Tapi pada akhirnya ia mengusulkan diri untuk menjemput sahabatnya itu (Baekhyun emosinya sangat tidak stabil, dan kadang dapat berubah sesuai waktu).

Selesai membersihkan diri, Luhan turun kebawah untuk makan malam. Disana sudah ada eomma dan appanya. Baekhyun dan Chanyeol sudah pulang karena harus mengurus sesuatu (alibi mungkin).

"Duduklah nak, eomma sudah buatkan miso untukmu dan bulgoggi untuk appa." Ujar heechul.

"Wah, eomma memang yang terbaik." Luhan mengacungkan jempolnya. "Selamat makan." Luhan kemudian menyantap makanannya dengan lahap.

Mereka makan malam sambil bersenda gurau. Tak jarang mereka tertawa bersama mendengar cerita Luhan selama di Boston.

"Seharusnya kau pulang setelah menyelesaikan studimu." Appanya memasang wajah murung yang dibuat-buat.

"Appa." Luhan menghampiri sang appa dan memeluknya dari belakang. "Aku memang berniat untuk pulang saat itu. Tapi." Ada jeda sebentar

"Aku ditawarkan oleh proffesorku pekerjaan disebuah label rekaman disana. Kupikir taka da salahnya untuk mencoba." Jawab Luhan dengan nada imut. "dan juga, apa appa tahu? Pemuda di Boston sangatttttt tampan."

"Jangan pacaran dengan orang Barat Luhan." Titah sang appa.

"Wae? Kenapa tak boleh?" Luhan berdiri dan merajuk

"Karena mereka itu tinggi-tinggi, sedangkan kau?" kemudian tawa terdengar diseluruh ruang makan. Eomma Heechul hanya menggeleng pelan.

"Isssh, dasar appa!" Luhan kemudian kembali ketempat duduknya dan minum segelas air. Kemudian ia bangkit lagi. "Akan kubuktikan pada appa kalau aku bisa dapat pria tinggi nanti."

"Ya, ya, anakku yang terbaik." Appanya mengacuungkan jempol.

"Oiya, Lu." Eommanya kemudian menatap Luhan. "Eomma bingung, bagaimana bisa kau mendapat pekerjaan di Korea?"

"Waktu di Boston, aku bertemu seseorang bernama Park Hae Jin. Ia berkata bahwa ia seorang direktur di sebuah agensi di Seoul." Luhan mengambil jeda sebentar dan lanjut berbicara "Ia menawarkanku menjadi seorang komposer di agensinya. Awalnya aku menolak karena aku pikir dia seorang mafia yang sedang menyamar untuk merekrut anggota mafia lainnya. Tapi setelah aku cari di internet, ternyata benar dia memang seorang CEO di agensi itu."

Orang tua Luhan mengangguk paham.

"Lalu kau menerimanya?" Tanya Heechul

"Tentu saja eommaku yang cantik." Luhan pun tersenyum. "Kalau aku tidak menerima tawaran itu, lantas mengapa aku berada di Seoul?"

"Kapan kau mulai bekerja?" Sekarang, appanya yang bertanya.

"Besok aku akan bertemu dengannya dan membahas semuanya."

.

.

Jam menunjukkan pukul 10. Luhan sudah berdiri di depan SM ent. Tempat dimana ia akan bertemu dengan Park Hae Jin itu. Ia menilik penampilannya dari atas kebawah. Sweater berwarna peach khas musim dingin dan rok putih mengmebang di bagian lututnya menjadi outfitnya hari ini. Rambutnya yang panjang ia gulung keatas dan kakinya dibalut dengan ankle boots.

"Perfect." Ujar Luhan pada dirinya sendiri. Ia kemudian melangkah masuk kedalam gedung dan bertemu dengan receptionist disana untuk meminta bertemu dengan CEO itu. Receptionist itu melihat daftar tamu yang akan ditemui dan mendapati nama Luhan disana.

"Mari saya antar." Wanita bernametag Jung Sooyeon itu mempersilahkan Luhan. Luhan diantar kelantai 10, tempat dimana CEO Park berada.

Luhan mengetuk pintunya secara pelan. Kemudian sebuah suara mempersilahkannya masuk. Ia kemudian masuk dan langsung memberi hormat pada CEO Park.

"Annyeonhasseyo, Xi Luhan imnida."

"Ah, ya American girl, miss Xi Luhan." Ia bangkit dari kursinya. "Silahkan duduk."

"Jadi?" Tanya CEO itu.

"Ne?" Luhan tersenyum canggung.

"Kau bersedia bukan menjadi komposer di perusahaanku?" Tanya sang CEO. "Maaf, aku tak bisa berbasa-basi." Lanjut CEO Park sambil tersenyum.

"Ah, itu." "Tentu saya bersedia sajangnim." Jawab Luhan mantap.

"Oke." Pria itu mengambil beberapa kertas dari mejanya dan menyerahkannya kepada Luhan. "Ini adalah project pertamamu."

Luhan membacanya sebentar dan mengangguk tanda mengerti.

"Apa ada yang ingin kau tanyakan?" Tanya CEO Park.

"Ini." Luhan menyodorkan sebuah kertas. "Siapa orang ini?" Luhan menunjuk sebuah nama.

"Ah, itu adalah si pencipta lagu sekaligus produsernya. Kau akan bekerja sama dengannya untuk propject ini."

"Oh, jadi begitu. Baiklah sajangnim saya akan memberikan yang terbaik." Ucap Luhan diiringi dengan senyumnya. "Tapi.."

"Ada apa, Luhan-ssi?"

"Dimana saya bisa menemui orang ini?" Tanya Luhan

"Akan kupanggilkan sekretarisku untuk mengantarmu ketempat orang itu." Park Haejin itu kemudian memanggil sekretarisnya untuk mengantarkan Luhan.

"Baiklah sajangnim, saya permisi." Baru Luhan berbalik, CEO Park memanggil Luhan lagi.

"Luhan-ssi. Hati-hati dengan orang itu. Jangan membuat dia mengeluarkan sisi gelap."

Luhan hanya menatap bingung Park Sajangnim dan melangkah pergi menuju ketempat sang produser lagu tersebut.

.

.

"Sehun-ah, ayo cepat! Sebentar lagi komposernya akan datang." Perintah Kai sambil menarik-narik pergelangan tangan Sehun. Sehun yang ditarik malah tidak menanggapi dan hanya melangkah gontai.

"Isssssh manusia kutub ini mengapa keras kepala sekali." Gerutu Kai. "Yak! Cepat!"

"Kau terlalu berisik kamjjong." Gumam Sehun pelan

"Aku mendengarmu Olaf." Kai membalikkan badannya dan memberi tatapan kejam pada Sehun yang terlihat tidak peduli.

Pintu studio kemudian terbuka. Pandangan Luhan beralih pada dua orang yang baru masuk kedalam ruangan itu. Mereka terlihat kontras batin Luhan. Luhan pun langsung bangkit dari tempatnya duduk dan tersenyum ramah. Kai hanya terpaku ditempatnya dan kemudian menggeleng keras-keras. Sementara Sehun, ia hanya berlalu menuju kursi kebesarannya dan mengerjakan sesuatu yang menurut Kai, errr- tidak penting.

"Ah, apa kau komposer baru itu?" Tanya Kai to the point.

"Ne, Xi Luhan imnida" Luhan mengulurkan tangannya.

"Ah," Jongin menyambut tangan Luhan. Lembut sekali tangannya batin Kai. "Kim Jongin imnida."

"Senang bertemu denganmu Jongin-ssi."

"Kai."

"Ne?" Tanya Luhan heran

"Kau bisa memanggilku Kai. Itu nama kerenku." Jawab Kai bangga.

Terdengar decihan pelan dibalik kursi hitam besar. "Ah ya, dan pria yang dibalik kursi itu adalah Oh Sehun. Ia adalah partnermu dalam project ini."

"Eoh," Luhan pun menghampiri Sehun. "Senang bertemu denganmu, Sehun-ssi. Mohon bantuannya." Luhan mengulurkan tangannya. Sementara Sehun, ia menghentikan pekerjaannya dan menatap wanita itu lekat-lekat. Luhan merasa rishi dilihat seperti itu dan ia merasa tangannya mulai kebas karena menggantung diudara. Kemudian kai datang menghampiri keduanya dan menepis pelan tangan Luhan.

"Emm, Luhan-ssi. Tunggu sebentar." Ia pun menarik Sehun sedikit menjauh dari Luhan. "Yak, kau ini! Bersikaplah manis sedikit." Bisik Kai.

"Kenapa aku harus?" Sehun melipat kedua tangannya.

"Dia adalah partnermu. Kau tak ingin kan project ini gagal?" Tanya Kai lagi.

"Itu bukan urusanku." Jawab Sehun santai dan kemudian berbalik kearah Luhan. "jadi, Luhan-ssi. Semoga anda betah disini." Ucap Sehun penuh penekanan.

"Tentu saja, aku akan berusaha." Jawab Luhan santai disertai senyuman.

"Tugasmu adalah seorang komposer kan?" Tanya Sehun sambil duduk di kursinya dengan santai.

"Ya." Jawab Luhan seadanya.

"Saya ingin anda menulis liriknya. Sedangkan saya yang akan membuat aransemennya."

"Bukankah membuat lirik adalah tugas Anda?" Tanya Luhan

"Ya, tapi saya ingin Anda yang mebuatnya, secepatnya." Ujar sehun seperti tak terbantahkan.

"Maaf, saya seorang komposer. Saya tidak membuat lirik lagu kalau Anda tahu." Luhan mulai merasa sebal dengan orang ini. Kenapa tingkahnya membuat Luhan jengkel, padahal ini adalah pertemuan pertamanya dengan Sehun.

" Saya tidak peduli. Anda harus membuatnya, besok harus ada di meja ini." Sehun menunjuk mejanya.

Luhan mulai naik darah, bagaimana bisa ia disuruh membuat lirik lagu sementara ia tidak pernah sekalipun menulis. Kalau Luhan bisa, ingin sekali ia menendang kaki orang menjengkelkan ini.

"Maaf, saya tekankan sekali lagi-"

"Aku tak ingin mendengar bantahanmu. Jadilah komposer yang penurut kalau ingin tetap berada disini." Sehun melangkahkan kakinya keluar ruangan menyeret Kai yang sedari tadi terpaku mendengar interaksi keduanya.

Sepeninggalan sehun, Luhan membuang nafas dengan keras. "Yak! Kau pikir kau siapa bisa menyuruhku seenaknya! Dasar manusia es tidak berguna! Aku yakin lagumu tidak sebagus aransemenku!"

.

Sehun menarik kai menjauh dari ruangan itu. Kai yang sedari tadi masih terpaku, mulai kembali kesadarannya. Ia pun melirik kebelakang sebentar dan menghentikan langkah Sehun.

"Apa kau sudah gila?" Tanya Kai dengan wajah menuntut.

Sehun menghentikan langkahnya dan berbalik. "Diamlah kamjjong. Aku pusing mendengar suaramu"

"Tetap saja." Kai mulai memelas. "Dia sudah berlaku baik padamu tapi kau." Kai mendelik "Astaga, aku tidak mengerti lagi padamu." Kai pun mengusak rambutnya kasar dan berlalu meninggalkan Sehun yang menatapnya datar. "YA TUHAN! MENGAPA KAU MENCIPTAKAN MANUSIA SEPERTI SEHUN YANG SEPERTI MANUSIA KUTUB!" kai bermonolog keras-keras.

Sehun menatap kepergian Kai dalam diam. Kau tidak mengerti Kai. Aku sudah mengunci hatiku. Dan wanita itu, ia terlalu bahaya jika kubiarkan ia masuk dalam kehidupanku. Matanya mengisyaratkan sesuatu yang tidak aku mengerti.

.

.

Sesampainya dirumah, Luhan langsung membaringkan tubuhnya. Entahlah, ia merasa lelah hari ini. Baru ia memejamkan matanya, ponselnya bordering dan menampilkan nama Baekhyun di layarnya.

"Em, baek. Ada apa?" Tanya Luhan

Aniya, aku hanya ingin menelfon mu. Kau terlihat sangat lelah.

"ya, hari ini aku mulai bekerja."

Oh, ya? Ditempat yang kau bilang waktu itu?

"Eum." Jawab Luhan siingkat.

Bagaimana? Apakah menyenangkan?

"Ya, setidaknya itu sangat menyenangkan sebelum aku bertemu dengan orang gila." Ucap Luhan penuh penekanan pada kata gila.

Hah? Orang gila? Mana mungkin disebuah perusahaan ada orang gila yang dipekerjakan Lu?

Baekhyun sangat bodoh untuk hal-hal seperti ini. Luhanpun hanya menggeleng. Dan tentu itu tidak dilihat oleh Baekhyun

"Ya dia gila. Sangat GILA."

Apa si gila itu tampan?

Luhan bangkit dari tempat tidurnya. "Darimana kau tahu dia pria?"

Eyy, perkiraanku tak pernah meleset. Jadi bagaimana? Apa dia tampan? Bagaimana rupanya?

"Dia…" Luhan menerawang langit-langit. "Entahlah, aku tidak bisa menilai seseorang."

Aigoo, seharusnya kau tahu dari sekali melihat.

"yayaya." Luhan hanya bergumam malas.

Siapa memang namanya?

"Jika kuberitahu mungkin kau tak akan mengenalnya."

Justru itu aku bertanya padamu, rusa.

"Dia seorang penulis lagu bernama- oh. Oh siapa ya.?" Luhan berpikir sebentar. "Oh Sehun jika aku tidak salah."

Oh dia bernama Oh Sehun. Ada jeda sebentar pada Baekhyun kemudian seketika Luhan menjauhkan ponselnya mendengar lengkingan keras dari Baekhyun.

"Yak! Jangan berteriak!" Marah Luhan

Oh Sehun? Ommo! Luhan-ah kau sangat beruntung bisa bertemu dengannya. Dia adalah pencipta lagu terkenal di Korea. Lagunya selalu menduduki peringkat pertama di weekly chart.

"Kau mengenalnya?" Tanya Luhan heran

Seantero Seoul tahu siapa dia Lu.

"But I'm not." Bantah Luhan

Itusih hanya kau saja berarti. Lu, apa tadi pria gila yang kau bilang tadi itu dia?

"Eo, wae?"

Tarik kembali kata-katamu Lu. Aku takut kau nanti jatuh kedalam pesonanya. Dia adalah man of the world yang sulit diincar oleh para wanita

Oke, perkataan Baekhyun sudah mulai ngelantur. " Byun, jangan menggosip. Aku sudah lelah."

Tetap saja! Kau harus bersikap baik padanya Lu. Tuhan sudah mengirimkan keberuntungan padamu. Kau sudah diberi kesempatan bertemu dengan pangeran dalam dunia nyata. Lu, dengar, kau harus mendengarkan lagu-lagunya..-

Sambungan diputus oleh Luhan. Ia bosan mendengar ocehan Baekhyun yang seperti kabel listrik yang taka da jeda itu. Ia berbaring dan memejamkan matanya beberapa saat. Ia mengerjap dan beranjak mengambil ponselnya yang ia letakkan sembarangan dikasurnya.

"Jja, mari kita lihat seberapa terkenalnya kau" Luhan mulai mencari beberapa kata dalan situs pencarian. Ia menemukan nama Sehun paling atas di situs pencarian itu. Tak lama ia melihat beberapa tracklist lagu.

"Hmmm, rupanya ini yang kau sombongkan Sehun-ssi." Luhan memilih salah satu tracklist itu dan mengmabil earphone di nakas sebelah kanan tempat tidurnya.

Luhan mulai menghayati tiap lagu tersebut, lirik, aransemen, vocal dan hal lainnya. Ia hanya mengangguk dengan mata terpejam. Setelah lagu yang satu selesai, ia mendengarkan lagu yang lain.

Musiknya di buat dengan cara berbeda, tetapi mengapa liriknya bertema sama? Batin Luhan.

Selesai mendengarkan semua lagu itu selama 1 jam. Luhan terlihat termenung sambil berpikir. Ia menimang-nimang perkataan Sehun yang menyuruhnya untuk membuat lirik dari lagunya. Seleranya sangat tinggi tentang lagu, bagaimana aku bisa membuat lagu berkualitas dalam wwaktu semalam?

"Arrrgggh!" Luhan mengacak rambutnya frustasi. Ia kemudian bangkit dan menuju meja kecil di dekat jendela kamarnya. Ia terlihat berpikir sebentar dan menulis sesuatu di kertas kosong. Ia menulis, kemudian disobek, karena tidak sesuai dengan keinginannya. Begitu berulang-ulang hingga ia menemukan sebuah pencerahan.

"Kau berniat menantangku bukan Sehun-ssi?" Luhan tersenyum miring. "Kita lihat apakah kau masih akan meninggikan dirimu setelah ini."

TBC

Hai hai! Aku kembali nih dengan chapter baru. Maaf ya kalau di chapter ini mungkin gak bagus dan gak jelas. Hehee. Semoga para readers suka dengan ceritanya. Oh iya, terimakasih buat para readers yang udah review dan like ff ini. Semoga chapter ini tidak mengecewakan kalian.

Big hug and kiss