Chapter 2

Eagle's Love


Frederich sudah bangun dari pukul 3 pagi karena ia harus membereskan sesuatu. Sesudah selesai, ia langsung berjalan ke kamar Misuto untuk meminta bantuannya. Ia di kamarnya selama setengah jam karena Misuto merasa ada sesuatu yang kurang dari Frederich. Hingga akhirnya, Misuto berkata,

"Yang menyebabkan ini semua kurang adalah... Dirimu yang sangat kaku !"

"Eh ?" ujar Frederich

"Apa jadinya jika semua Gadis itu berjalan bersama dirimu ? Mereka akan dilihat seperti bersama dengan atasan mereka !" lanjut Misuto

"Uh..."

"Sebaiknya kau tidak perlu terlalu kaku."

"Ba... Baik..."

Misuto tersenyum dan kemudian membiarkan Frederich keluar. Setelah itu, ia harus meminta ijin kepada Yanagi Shiro selaku pemimpin dari Markas Angkatan Laut Kure. Ia berjalan ke arah kantornya dan mengetuk pintunya. Ia sama sekali tidak mendengar siapapun dari dalam. Ia mengetuk sekali lagi dan kali ini dikagetkan oleh seseorang yang menepuk pundaknya dari belakang.

Ia melihat ke belakang dan menemukan Shiro yang berdiri di sana. Ia melihat Shiro terlihat sedikit bingung dengan penampilan dari Frederich, hingga Frederich berkata,

"Selamat pagi, Laksamana Yanagi."

"Selamat pagi, Letnan Muda Willhelmson." jawab Shiro

"Saya memohon ijin untuk pergi ke kota hari ini."

"Huh ? Ijin pergi ke kota ?"

"I... Iya."

"Ada apa gerangan ? Apa divisi Viltus melakukan sesuatu di kota ?" ujar Shiro

"Ti... Tidak. Hanya saya pergi ke kota hari ini." ujar Frederich sedikit panik

"Huh ? Tumben sekali."

"..."

"Apakah Viltus mengetahui hal ini ?" tanya Shiro

"Belum. Ia belum mengetahuinya." jawab Frederich

Shiro melihat ke arah Frederich dan berpikir sebentar. Ia sempat berpikir bahwa Shiro tidak akan membiarkannya pergi. Namun, apa yang dikatakan oleh Shiro sesuai dengan apa yang diperkirakan oleh Yuuya.

"Silakan. Kau itu termasuk yang paling jarang ke kota. Jadi, kau kuijinkan."

"Terima kasih banyak." ujar Frederich

"Apa kau pergi bersama dengan Haruto dan Yuuya ?" tanya Shiro

"Ah... Ya, begitulah."

"Sepertinya kau tidak akan menjawab diriku jika diriku bertanya mengapa kau pergi ke kota. Jadi, sudahlah. Yang paling penting adalah kau kembali kemari. Itu saja."

"Ba... Baik, Laksamana Yanagi."

"Ada baiknya kau menghirup udara segar daripada hanya bersama dengan pria yang tidak mengenal sesuatu yang bernama istirahat."

"Ahahahahaha..."

"Berhati-hatilah di luar. Aku akan memberitahu Hayate dan Viltus mengenai ini."

"Terima kasih banyak, Laksamana Yanagi. Saya mohon undur diri."

Frederich langsung memberi hormat dan pergi meninggalkan Shiro. Ia langsung berjalan ke arah gerbang dan memperhatikan notes yang ia pegang. Dan setelah menginjakkan kakinya keluar dari Markas Angkatan Laut, ia akan memulai misinya.


Haruto dan Yuuya sudah menunggu di tempat yang dijanjikan. Mereka sudah selesai membelikan tiket konser untuk dua orang. Dan saat ini, mereka berdua menunggu kedatangan dari Frederich. Yuuya tahu Frederich diminta oleh Misuto untuk membelikan bunga untuk acara seperti ini dan agar dirinya tidak dicurigai, beli setiap kali ingin bertemu dengan yang lain.

Namun, ini sudah lewat tiga puluh menit. Dan selama itu belum ada tanda-tanda dari Frederich sedikit pun. Haruto langsung menghela nafas dan tidak berapa lama mereka melihat Frederich. Frederich langsung berhenti dan berkata di depan mereka,

"Maafkan aku... Aku sama sekali tidak menyangka akan sepadat itu."

"Itu dapat dimaklumi sih... Ini pertama kalinya dirimu ke kota sendirian." ujar Yuuya

"..."

"Sudahlah. Ini untukmu." ujar Haruto

"Eh... Terima kasih banyak dan maaf menyusahkan kalian." ujar Frederich

"Sudahlah. Kami sudah berjanji kepada dirimu." ujar Yuuya

"Iya."

"Sebaiknya kau berjalan sekarang. Aku yakin, dia sudah menunggumu." ujar Haruto

"Ah... Iya."

"Jangan lupa membeli bunga !" ujar Yuuya

Frederich mengangguk dan langsung pergi meninggalkan mereka. Setelah cukup jauh, Yuuya langusng berkata,

"Aku menang..."

"Tch..." ujar Haruto

"Jadi, jangan lupa traktir diriku untuk sarapan." lanjut Yuuya

"Iya... Iya..."

"Baguslah."

"Daripada itu... Apakah kita akan mengikuti mereka ?"

"Tidak perlu. Aku yakin karena dirinya yang pergi banyak yang penasaran. Jadi, aku yakin... Orang itu ada di sekitar sini."

Haruto melihat ke arah Yuuya sebentar dan langsung menghela nafas. Setelah itu, mereka berdua mencari sarapan untuk kemudian langsung menjalankan rencana mereka selanjutnya.


Furutaka melihat ke arah jam tangannya. Ia langsung bergumam,

"Sebentar lagi Frederich-san akan datang."

Ia langsung menghela nafas dan berpikir mengenai rencana yang akan ia lakukan bersama Frederich. Ia sama sekali tidak menyangka pada saat itu Frederich menyetujui apa yang diminta olehnya. Dan itu tentu saja membuatnya panik setengah mati.

Ia kembali menghela nafas dan berkata,

"Namun, apakah ini benar-benar cocok dengan diriku ? Laksamana Amarov berkata ini yang cocok untuk kugunakan.

Pakaian yang saat ini ia gunakan adalag rok pendek selutut berwarna coklat tua dengan atasan baju berwarna hitam dan jaket berwarna biru tua. Selain itu, ia mengenakan bots berwarna coklat muda. Ia pun mengenakan sebuah penjepit rambut yang diberikan oleh Viltus. Ia pun mengingat pada saat dirinya bertemu dengan Viltus setelah menanyakan hal tersebut ke Frederich.

Kejadian itu terjadi sekitar seminggu yang lalu. Pada saat ia datang ke ruangan Viltus, Viltus sedang memperhatikan dokumennya. Dan yang Furutaka katakan pada saat itu dengan wajah merah setelah mendobrak pintu adalah,

"Laksamana ! Tolong aku !"

"Heh ?" ujar Viltus dengan wajah bingung sekaligus kaget dengan pintu yang baru saja jebol.

Furutaka langsung menggebrak meja Viltus dan itu membuat dirinya sangat terkejut. Viltus sontak berkata,

"Ummm... Furutaka... Dapatkah kau tenangkan dirimu sebentar ?"

"Tenang... Aku tidak tahu... Arrrgggghhhh..." ujar Furutaka

"Ummm... Furutaka ?"

"Apa yang harus kulakukan ?! APA YANG HARUS KULAKUKAN ? Laksamana... Bantu aku..." ujar Furutaka yang sedikit menangis sembari menggoyang-goyangkan Viltus.

"Apakah ini pertama kalinya diriku melihat Furutaka seperti ini ? Apa sebaiknya diriku memanggil Aoba saja..." ujar Viltus

Mendadak Viltus didorong oleh Furutaka yang melihat ke arah dirinya yang sambil berkata,

"Jangan... Panggil... Aoba..."

"Wajahmu terlalu dekat... Terlalu dekat !" ujar Viltus

Furutaka langsung melepas Viltus dan Viltus sendiri langsung menghela nafas melihat Furutaka yang seperti itu. Ia langsung berdiri dan menyiapkan minuman untuk Furutaka. Ia berkata,

"Yang seperti biasa cukup ?"

"I... Iya..." ujar Furutaka

"Bagaimana caranya diriku dapat menolongmu jika kau bertindak tidak seperti biasanya... Hmmmm..." ujar Viltus yang berpikir sebentar

"Laksamana ?"

"Tidak... Tidak apa-apa... Jika diriku berkomentar, aku yakin Taihou akan menampar diriku." ujar Viltus

Setelah selesai membuatkan Furutaka minuman, Viltus langsung duduk dan berkata,

"Kita akan berbicara setelah kau benar-benar tenang. Aku tidak ingin mendapatkan berbagai rumor tanpa dasar kembali karena kejadian ini."

"Ba... Baik..." ujar Furutaka

Furutaka meminum minuman tersebut dan langsung tersenyum. Ia berkata,

"Seperti biasa... Teh Oolong yang kau seduh itu sangat enak, Laksamana."

"Dapat dikatakan diriku sudah cukup lama tidak membuat teh. Tapi, sudahlah jika kau senang." ujar Viltus

"Ahahahahaha..."

"Jadi, apa yang menjadi masalahmu ?"

Furutaka langsung terdiam pada saat mendengar pertanyaan dari Viltus. Ia langsung menaruh gelas tersebut dan terlihat gelisah. Viltus yang memperhatikan Furutaka berasumsi sesuatu, namun ia membiarkan Furutaka untuk bercerita kepada dirinya. Akhirnya, Furutaka menarik nafas panjang dan berkata,

"Laksamana..."

"Ya ?"

"Apakah kau tahu mengenai grup musik yang datang ke kota ini ?" tanya Furutaka

"Grup musik ? Ah... Mereka. Ya, diriku tahu. Mengapa ?" jawab Viltus

"Kau tahu... Aku ingin menonton konser mereka..." ujar Furutaka

"Jika seperti itu sih, bukan masalah besar. Diriku dapat meminta bantuan dari Shiro untuk membiarkan dirimu ke kota..."

"Bukan seperti itu Laksamana !" ujar Furutaka sembari menggebrak meja sekali lagi

"Heh ! Tunggu sebentar, Furutaka..." ujar Viltus yang terkejut

"Jika hanya itu... Itu bukan masalah besar bagi diriku !" ujar Furutaka yang semakin dekat dengan Viltus

"Furutaka... Tenangkan dirimu dahulu." ujar Viltus yang mengangkat tangan kirinya dan berusaha menjauh

"Kau tahu... Masalah utamanya bukan itu... Ada masalah lain... Dan itu... Sangat gawat !"

"Dekat... Terlalu dekat ! Furutaka... Wajahmu terlalu dekat !" ujar Viltus

"Itu karena... Itu karena..."

"Furutaka ?" ujar Viltus yang melihat Furutaka melihat ke arah bawah

"Itu karena..."

"Huh ?"

"Frederich-san... Menemani diriku nanti. Sabtu ini !" ujar Furutaka dengan wajah merah

Viltus melihat Furutaka sebentar dan sedikit tertawa. Sontak Furutaka langsung berkata,

"Laksamana !"

"Ahahahaha... Maaf... Maaf... Habis, jarang sekali diriku melihatmu seperti itu." ujar Viltus

"Hmpf..."

"Baik... Baik... Jadi, apa yang ingin kau tanyakan padaku ?" tanya Viltus

Furutaka melihat ke arah Viltus, lalu ke arah bawah dan terlihat semakin gelisah. Ia kemudian bertanya,

"Apakah kau dapat menyarankan kepadaku pakaian yang cocok untukku ?"

"Huh ? Dapatkah kau mengulangi pertanyaan tersebut ?" tanya Viltus

"Dapatkah kau menyarankan diriku pakaian yang cocok untuk kukenakan pada saat bersama Frederich-san ?" tanya Furutaka kembali

"Tunggu... Tunggu... Tunggu... Kenapa meminta bantuanku ?" tanya Viltus

"Itu karena... Anda merupakan orang yang dapat kupercaya untuk ini. Maka dari itu..." ujar Furutaka

Viltus melihat wajah Furutaka dan berkata dalam hati

'Wajah itu... Wajah yang tidak dapat kulawan.'

Viltus langsung berdehem dan kemudian berkata,

"Baiklah... Diriku akan membantumu. Setelah diriku selesai bekerja, aku akan membantumu untuk pakaian yang akan kau kenakan. Pakaian yang cocok untuk berkencan dengan Frederich."

"La... Laksamana !"

Viltus hanya tertawa saja dan langsung mengerjakan dokumennya kembali, sementara Furutaka terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Viltus barusan.


"Berkencan... Dengan Frederich..."

Furutaka langsung menyadari wajahnya merah kembali karena mengingat apa yang dikatakan oleh Viltus pada saat itu. Ia langsung menggelengkan kepalanya dan berkata dengan pelan,

"Tenangkan dirimu... Tenangkan dirimu... Ini bukan berarti... Diriku akan... berkencan... dengan Frederich..."

Ia langsung menggelengkan kepalanya lagi dan ia semakin tidak tenang. Ia ingat salah satu teknik yang diajarkan oleh Viltus untuk menenangkan diri. Mulai menghitung. Namun, apa daya karena pikiran yang benar-benar kacau, ia gagal total.

Hingga akhirnya ia merasakan ada seseorang yang memegang pundaknya. Sontak ia melihat ke belakang dan semakin panik melihat orang tersebut. Di sana, ia melihat seorang pria yang cukup tinggi yang mengenakan pakaian celana panjang dan kemeja yang dilapisi dengan jaket hitam. Pria yang berdiri di belakangnya adalah Frederich yang terlihat khawatir dengan Furutaka.

Frederich langsung berkata,

"Ummm... Furutaka ?"

"Ah... Aku tidak apa-apa... Ahahahahaha..." ujar Furutaka

Frederich melihat ke arah Furutaka sebentar dan kemudian langsung tersenyum. Ia kemudian memberikan bunga yang ia beli untuk Furutaka yang sangat terkejut melihat hal tersebut. Dan kemudian ia berkata,

"Mungkin... Ini adalah permintaan maafku karena sedikit terlambat."

"Ah...Te... Terima kasih..." jawab Furutaka

Furutaka menerima bunga tersebut dan terdiam. Di dalam kepalanya ia berkata,

"Aaaaahhhhhh... Frederich-san sangat... romantis... Apakah ini... Benar-benar... Kencan ?!"

Sementara Furutaka diam saja, Friedrich melihat ke arah Furutaka sebentar dan mengingat apa yang dikatakan oleh Misuto sebelumnya,

"Beli bunga untuk wanita... Mayoritas dari mereka menyukainya. Dan sebaiknya kau harus hati-hati dalam memilih bunga. Aku tidak memiliki cukup banyak pengetahuan mengenai bunga, jadi aku tidak dapat memberi nasihat lebih lanjut lagi."

Frederich tersenyum kecil dan berkata dalam hati,

"Terima kasih, Misuto !"

Frederich langsung menarik nafas panjang dan kemudian berkata,

"Sepertinya dirimu sudah menunggu cukup lama di sini, ya ?"

"Ah... Ti... Tidak koq..." ujar Furutaka

"Walaupun demikian, diriku ini tetap saja salah karena telah membuat wanita semanis dirimu menunggu diriku sendirian seperti ini." ujar Frederich sembari tersenyum

Rupanya pujian tersebut menjadi serangan telak kepada Furutaka dan membuat wajahnya merah. Dan hal tersebut semakin membuat dirinya panik dengan keberadaan Frederich. Ia menunduk dan menutupi wajahnya dengan bunga yang diberikan oleh Frederich.

Furutaka kemudian ingat apa yang dikatakan oleh Viltus pada saat dirinya masih di kantor Viltus pada saat itu,

"Sebaiknya dirimu jangan terlalu sering panik... Mungkin akan cukup susah, namun sebaiknya kau langsung membicarakan secara langsung apa yang ingin kau lakukan."

Furutaka langsung menghela nafas dan kemudian bertanya kepada Frederich,

"Frederich-san... Apakah kau sudah membeli tiket untuk konser tersebut ?"

"Ah... Tentu saja... Ini..." ujar Frederich yang langsung terdiam

Ia melihat dua tiket yang diberikan oleh Yuuya dan Haruto sebelumnya. Di sana tertera jam untuk mereka berdua masuk, namun yang tertera di sana bukanlah jam yang dibicarakan oleh Yuuya dan Haruto sebelumnya. Ia langsung berpikir,

"Amami-san... Kouga-san... Kalian... Benar-benar..."

Ia tidak memiliki waktu lama untuk memikirkan hal tersebut. Ia langsung berkata,

"Ini tiket untuk kita berdua... Namun, sangat disayangkan diriku mendapatkan jam siang."

"Eh ? Sayang sekali..." ujar Furutaka

"Maafkan diriku, Furutaka."

"Ah... Itu bukan apa-apa..." ujar Furutaka dengan wajah merah

Furutaka langsung terdiam sebentar dan kemudian ia mendengar Frederich bertanya,

"Bagaimana jika kita sarapan saja dahulu ?"

"Eh ? Tidak... Itu ti..." ujar Furutaka

Namun belum sempat Furutaka selesai berbicara, perutnya langsung berbunyi cukup keras. Dan itu benar-benar membuat dirinya semakin malu. Frederich tertawa sedikit dan berkata,

"Baiklah... Sepertinya di dekat sini ada cafe..."

"I... Iya..." balas Furutaka dengan wajah merah

"Bagaimana jika kita ke sana saja lebih dahulu ? Aku yakin di sana ada makanan yang dapat kau makan..." ujar Frederich

"..."

"Bagaimana ?"

"Bo... Boleh saja..."

"Baik, ayo kita ke sana." ujar Frederich

Frederich kemudian langsung mengulurkan tangannya ke Furutaka dan itu membuat Furutaka terdiam sebentar. Ia tanpa berpikir panjang langsung memegang tangan Viltus dan berjalan di sebelah Frederich.


Mereka sudah duduk di cafe tersebut dan mereka berdua sudah memesan pesanan mereka masing-masing. Frederich hanya memesan kopi dan roti, sementara Furutaka memesan teh dan beberapa makanan ringan. Namun setelah memesan pesanan mereka masing-masing, mereka berdua terdiam. Mereka sama sekali tidak memiliki topik untuk dibicarakan. Hingga akhirnya Furutaka ingat apa saran yang diberikan oleh Viltus,

"Pada saat dirimu berkencan dengan Frederich nanti, sebaiknya jangan tanyakan mengenai pekerjaan. Namun, tanyakan saja bagaimana kehidupannya di sini atau memintanya menceritakan sedikit tentang dirinya."

Furutaka langsung mengangguk dan kemudian melihat ke arah Frederich. Ia kemudian bertanya,

"Frederich-san ?"

"Ada apa, Furutaka ?" tanya Frederich

"Be... Begini... Bagaimana menurutmu mengenai... ummm... Jepang ?" tanya Furutaka sedikit tidak yakin

Frederich melihat ke arah Furutaka sebentar dan kemudian tersenyum. Setelah itu, ia langsung berkata,

"Daripada kau mendengarkan kisah membosankan dari diriku, bagaimana jika diriku yang mendengarkan kisah dari gadis manis seperti dirimu, Furutaka."

Mendengar itu Furutaka sama sekali tidak dapat berkata apa-apa. Dan terima kasih kepada hal tersebut, itu membuat semua rencana di kepalanya hancur berantakan. Ia langsung sedikit panik dan kemudian merasakan tangan dari Frederich yang memegang tangannya sembari berkata,

"Aku ingin mendengarnya dari dirimu..."

"Ba... Baik..." ujar Furutaka dengan wajah merah

Setelah itu, Furutaka dengan malu-malu mengangguk dan mulai membicarakan mengenai dirinya. Setelah pesanan mereka datang dan kemudian akhirnya mereka menyantapnya. Setelah selesai, mereka kembali berbincang-bincang.

Dan tidak berapa lama, handphone milik Frederich berbunyi dan itu mengejutkan dirinya. Ia melihat apa yang tertera di sana dan itu semakin membuatnya terkejut. Furutaka menyadari hal tersebut dan bertanya,

"Apa... Laksamana..."

"Ah... Bukan." ujar Frederich

"Lalu..."

"Furutaka, aku keluar sebentar..." ujar Frederich

"..."

"Tenang saja... Diriku akan kembali ke sini. Jika bisa, tunggu saja di sini hingga diriku kembali." lanjut Frederich

"Baik..." ujar Furutaka

Frederich melihat wajah Furutaka sebentar, memegang tangan Furutaka dan menciumnya. Itu membuat Furutaka sangat terkejut. Frederich langsung berkata,

"Aku akan kembali... Tenang saja. Diriku tidak akan meninggalkan gadis semanis dirimu."

"Frederich-san..." ujar Furutaka dengan wajah merah

"Jika dirimu ingin memesan sesuatu, pesan saja... Lagipula, dirimu merupakan putri untuk saat ini."

"Ba... Baik..."

Frederich tersenyum ke arah Furutaka dan langsung dibalas oleh Furutaka. Frederich keluar dan kemudian berkata kepada salah satu pelayan cafe tersebut untuk mengirimkan tagihan ke kantornya di Kure. Setelah itu, ia mulai berjalan dan berkata,

"Terima kasih banyak, Amami-san... Atas semua referensi yang kau berikan kepadaku. Itu benar-benar menyelamatkan diriku."

Frederich kemudian melihat kembali ke arah handphone dan kemudian langsung menghela nafas. Ia langsung berjalan. Namun, sebelum itu ia berjalan ke arah toko bunga dan membeli bunga di sana. Ia kemudian berkata,

"Sekarang saatnya untuk operasi selanjutnya."