Disclaimer : Tite Kubo.
Warning : AU, gaje, abal, Typo(S), OOC mungkin, alur kecepetan, dan sebagainya.
Give Thx :
To Relya schiffer g login dulu : heheh iyah nieh, yups multi.. banyak pair gak yah? Entahlah belum terlalu terpikirkan hingga ke sana, tapi sepertinya ada hehehehe. Makasih atas reviewnya ^^
To sweetiramisu : hehehe makasih reviewnya yah, ini udah diupdate.
A/N : yah, setelah fic kemaren yang lumayan singkat, chapter kedua hadir sekarang..mungkin sedkit lebih panjang, konflik? Mungkin belum terlalu muncul.. yah dilihat saja deh.. heheeh
A Star and A Bee.
Chapter 2.
Rain.
"Tadaima," Shaolin membuka pintu utama dari rumah yang lumayan mewah. Tidak ada yang menyahut perkataannya, karena semua anggota keluarga sedang berada di ruang makan. Derap langkah kaki mulai terdengar saat Shaolin melangkahkan kakinya menuju ruang makan itu.
Sret.
Shaolin membuka pintu rumah yang masih bergaya jepang klasik dengan campuran modern di dalamnya. "Soifon," semua anggota keluarganya menoleh menatapnya.
"Tadaima," Shaolin kembali mengulangi ucapannya.
"Okaerinasai," perempuan paruh baya tersenyum ramah menatap gadis manis itu.
"Ada apa?" Shaolin bertanya, karena dia menatap kakaknya yang biasanya pulang larut, kini telah duduk di hadapannya.
"Kita akan merayakan keberhasilan kakakmu dalam proyek barunya di perusahaan ayah," laki-laki yang dikenalnya sebagai Ayah itu, tersenyum bangga menatap kakaknya.
Buk. Tas yang dari tadi tergantung manis di tangannya jatuh ke lantai, ada sesuatu yang berbeda dari Shaolin, tatapannya terkejut saat mlihat ekspresi bangga a Ayahnya. Tidak ada yang menyadari perbedaan ekspresi Shaolin, karena semua anggota keluarganya masih membanggakan kakaknya. Shaolin menundukkan kepalanya, dan segera berbalik.
"Soifon!" panggil kakaknya, tapi Shaolin terdiam dan berlari ke kamarnya.
Blam.
Shaolin menutup pintu kamarnya, dia meletakkan tasnya di meja belajarnya dan menghempaskan tubuhnya ke kasur miliknya.
Shaolin menutup matanya dengan tangan kanannya, "apa yang aku lakukan?" dia menghembuskan nafasnya dengan keras. Dia tidak mengerti, perasaan ini selalu muncul setiap kakanya mendapat penghargaan.
Tap, tap, tap. Derap langkah kaki terdengar, Shaolin bangkit dari kasurnya dan menatap pintu kamarnya.
"Soifon," suara perempuan terdengar dari balik pintu itu. Shaolin segera berdiri dan duduk di meja belajarnya.
"Iya?" ucap Shaolin sambil membuka buku sehingga terlihat belajar.
"Boleh aku masuk?" Shaolin terdiam lama, dia tidak ingin menatap iris keemasan milik kakaknya itu untuk sekarang. Hening, Shaolin menatap pigura yang dia letakkan di suduk kanan meja belajarnya, pigura itu berisi foto dia dan kakaknya. Shaolin menundukkan kepalanya.
Tap, tap, tap. Langkah kaki kembali terdengar.
Cklek. Pintu terbuka, Shaolin menatap kakaknya.
"Yoruichi-neesama," ucap Shaolin sambil menundukkan wajahnya, dia merasa bersalah sekarang.
"Kau kenapa?" dia bertanya dengan nada kekhawatiran di dalamnya. Shaolin berbalik, dan duduk di kasurnya.
"Tidak apa-apa," dia menjawab, namun dia tetap tidak berani menatap sepasang iris keemasan itu.
Yoruichi ikut berjalan dan duduk di belakang Shaolin. "kau kenapa?" tanyanya lagi, namun kini suaranya sangat pelan seolah berbisik. Tangannya perlahan menyentuh rambut Shaolin, "dimana pita yang satu lagi?" dia bertanya.
Shaolin tersentak, dia tidak mungkin menjelaskan yang sesungguhnya, yang ada masalahnya malah semakin parah, "apa?" Shaolin berusaha bersikap kaget, dan dia meraba kepangannya. Alis Yoruichi bertaut menanggapi reaksi Shaolin, tapi dia hanya diam menunggu Shaolin menjelaskan.
"A-astaga, pasti terjatuh," Shaolin berusaha panik, dia berdiri dan mengaduk-aduk isi tasnya, padahal dia yakin dan sangat yakin pita itu tak ada di sana.
Yoruichi merebahkan tubuhnya, "kenapa bisa tertinggal?" Shaolin menggerakkan bola matanya, keringat dingin mulai terlihat di wajah manisnya. Yoruichi hanya menatapnya saja, namun bagi Shaolin tatapan itu sudah seperti tatapan seorang jaksa yang sedang menuntut seorang terdakwa. "Shaolin Shihoin," Shaolin terkejut, jika kakaknya sudah berkata seperti itu, berarti dia meminta jawaban sejujur-jujurnya. Shaolin memutar kepalanya dengan perlahan.
Kini dia menatap iris keemasan milik kakaknya, dia mulai menggaruk kepalanya, "itu, i..itu," Shaolin mulai gugup menjawabnya, dia mengedarkan pandangannya, mencoba mencari inspirasi untuk kebohongannya.
"Itu apa?" jantung Shaolin mulai berkerja ekstra, tangannya pun sudah mulai basah akibat keringat yang mengucur, padahal cuaca sedang dingin. Bola matanya juga tak henti-hentinya bergerak, dia melakukannya antara ingin menghindari tatapan kakaknya, atau mencoba untuk berkelit?
Tiba-tiba matanya terhenti, sebuah lampu seolah menyala di kepalanya, "tadi ada temanku yang terkilir, karena perban sekolah yang telah habis, mereka meminjam perbanku, dan aku tidak punya pilihan lain, karena..karena Unohana-sensei juga memintaku," Shaolin berbicara cepat, dan dalam hatinya, 'Maafkan aku Unohana-sensei, membuat Anda terlibat dalam tindak kejahatan,' Yoruichi terdiam.
"Benarkah itu?" Shaolin menganggukan kepalanya cepat, sangking cepatnya membuat Yoruichi makin curiga, lalu dia berdiri dan menghampiri Shaolin. Dan saat dia berhenti di depan wajah adik semata wayangnya, dia membungkukan badannya sedikit hingga tubuh mereka sejajar, "kau tidak bohong, kan?" Yoruichi menatap lurus iris abu-abu milik Shaolin.
"Ti-tidak," Shaolin berusaha untuk tidak mengerakkan bola matanya, agar tidak terlihat berbohong, namun dia tetap tidak dapat menyembunyikan degup jantung yang terdengar kencang, serta keringat yang terlihat jelas di wajahnya dengan jarak sedekat itu.
"Baiklah," kakaknya tersenyum dan mengacak rambut Shaolin, setelah itu kakaknya melangkah pergi, "kau melupakan sesuatu," ucap kakaknya saat di ambang pintu, jantung Shaolin yang sudah mulai beristirahat kembali berdegup.
"A-apa?" tanya Shaolin, Yoruichi memutar kepalanya dan menatap Shaolin. Lalu, Shaolin mengerti, "selamat Yoruichi-neesama," kakanya tersenyum, lalu merogoh saku celananya.
"Ini," Yoruichi melempar sesuatu ke arah Shaolin dan di tangkap dengan sempurna oleh dirinya, "kau tidak ingin makan bersama?" tanya Yoruichi, Shaolin hanya menundukkan kepalanya.
"Aku..masih kenyang," dari sudut matanya Yoruichi dapat melihat ekspresi Shaolin, lalu dia mengehela nafasnya.
"Baiklah, aku duluan ya," kakaknya tersenyum, dan melambaikan tangannya. Sebuah dentuman dari pintu kamarnya menandakan bahwa kakaknya sudah meninggalkan kamarnya. Suara desahan terdengar dari bibir Shaolin, dia lega akhirnya dia bisa sendiri di sini.
"Baiklah, bagaimana caranya aku mengambil pita itu?" Shaolin kembali merebahkan tubuhnya. Perlahan dia menatap permen dengan rasa madu, yang baru saja diberikan kakaknya, "gomennasai, Yoruichi-sama," tatapan mata Shaolin kini melembut dan penuh rasa bersalah.
Sebuah motor hijau berhenti di depan sebuah rumah sederhana, perempuan berambut hijau terang dan bermata pink itu, turun dari motor tersebut, "sampai besok, Ggio," dia menatap laki-laki berkepang yang mengendarai motor itu sambil melambaikan tangannya.
"Iya," perempuan itu menatap pergelangan tangan Ggio yang terlilit kain putih di sana, dia ingin mengabaikannya tapi rasa penasarannya jauh lebih besar.
"Ggio, sejak kapan kau memakai benda itu?" tanya perempuan bernama Lilynette itu sambil menunjuk pergelangan tangan Ggio. Ggio menatap pergelangan tangannya, lalu dia tersenyum.
"Ini?" dia mengangkat tangannya, "aku mengambilnya, dari perempuan galak yang mirip denganmu," alis Lilynette langsung bertaut, dan menatap sangar Ggio.
"Apa kau bilang?" Lilynette langsung menarik rambut panjang Ggio, hingga laki-laki itu mengaduh kesakitan, "sekali lagi kau brkata seperti itu, awwwww," tiba-tiba Lilynette berteriak karena pipinya ditarik oleh Ggio.
"Lepaskan," perintah Ggio masih dengan menarik pipi Lilynette. Dan setelah itu tangan Lilynette terlepas dari rambut kepangannya. Ggio pun melepaskan tangannya, Lilynette langsung mengelus pipinya dan menatap galak Ggio, "lihat, kau galak, kan? Wee," Ggio kembali menggoda perempuan yang hanya berbeda 2 tahun dengannya.
"Kau menyebalkan," Lilynette menyilangkan tangannya di depan dadanya, dan mengalihkan pandangannya. Lalu seketika, tangan Ggio berpindah ke kepala Lilyentte, dan mengacak rambut hijau itu, "iih," Lilynette memberontak.
Ggio hanya tersenyum dan kembali menyalakan mesinnya, "aku pulang, ja," setelah itu asap langsung menyelimuti Lilynette.
Lilynette mengibaskan tangannya untuk menghilangkan asap itu, dan segera melangkah masuk ke rumahnya.
Ggio memacu motornya dengan cepat, dan mengelilingi kota Karakura di hari yang sudah hampir malam itu. Angin yang menerpa wajahnya dan menerbangkan rambutnya memberi sensai tersendiri bagi Ggio. Suara bising ditimbulkan oleh motor itu, dan kembali meramaikan jalan yang semakin sepi. Hal ini memang selalu Ggio lakukan setelah dia mengantar Lilynette pulang, sebelum ahirnya dia pulang ke rumahnya sendiri. Dia tinggal sendiri semenjak kematian orang tuanya 8 tahun lalu.
Cklek. Ggio membuka pintu rumahnya. Rumah itu sederhana hanya memiliki 2 kamar, satu ruang tamu, dan ruang makan. Rumah itu diberikan oleh orang tuanya sebelum mereka meninggalkan Ggio. Di rumah seperti itu Ggio tinggal sendiri, rumah itu terlihat terawat dan rapi untuk ukuran seorang laki-laki yang tinggal sendiri, beberapa pigura berukuran sedang menghiasi dinding rumah itu, pigura kedua orang tuanya. Ggio mendesah, menatap kondisi rumahnya, dia langsung berjalan ke kamarnya dan berbaring di kasurnya."haah."
Entah apa yang ada di pikiran laki-laki itu di dalam kondisi sendirian seperti ini. Hal ini juga yang membuatnya tidak betah berada di rumah, sendiri dan sepi seperti ini menurutnya benar-benar menyebalkan. Tiba-tiba dia mengangkat tangannya, dan menatap pita putih yang masih bertengger di pergelangan tangannya, "kita lihat, apa dia bisa mengambil pita ini?" dia berseringai, dan segera berjalan ke kamar mandi.
02.00 dini hari.
Shaolin belum tertidur, dia masih terjaga untuk satu kata BELAJAR. Dalam waktu selarut ini dia masih belajar, untuk tugasnya besok yang dihadiahi oleh Unohana, "hoaam," Shaolin menguap dan berdiri dari kursinya mencoba untuk merenggangkan beberapa ototnya yang dari tadi bekerja dalam posisi duduk.
Tiba-tiba dia merasa haus, dan berjalan keluar dari kamarnya dan mengambil segelas air putih, untuk membasahi kerongkongan yang telah sekering padang pasir di Mesir.
Tap, tap, tap, derap lagkah terdengar menghiasi lorong rumah yang sudah mulai sunyi. Shaolin berusaha untuk tidak menimbulkan bunyi dari langkahnya, agar tidak membangunkan anggota keluarganya.
Ctek. Shaolin menyalakan lampu dapur, dan mengambil sebuah gelas.
Crasss. Bunyi air terdengar di telinga Shaolin. Saat merasa cukup dia menghentikan aliran air itu, dan memindahkan isi gelas tersebut ke dalam tubuhnya. Shaolin kembali berjalan menuju kamarnya, dia memelankan langkahnya saat melewati ruang kerja Ayahnya yang masih terang benderang.
"Soifon," langkahnya terhenti saat itu juga, dia memutar tubunya dan menatap pintu di depannya.
"Iya?" dia brsuara pelan.
"Masuk," perintah Ayahnya, Shaolin segera menggeser pintu itu dan masuk ke dalam ruang kerja milik Ayahnya. Terlihat Ayahnya duduk di kursi sedang menatap beebrapa lembar kertas putih di depanya.
"Ada apa?" Shaolin bertanya, tak terlihat sebuah pergerakan dari posisi Ayahnya saat mendengar suara tanya itu. Shaolin hanya menundukkan kepalanya. Dia tidak terlalu suka di dalam ruangan ini, banyak pigura kecil yang menghiasi dinding ruangan itu, dan pigura terbaru adalah pigura kakaknya dengan medali emas sebagai juara pertama dalam sebuah lomba lari, dan pigura yang lain saat kakaknya, menjabat sebagai manager di perusahaan ayahnya.
"Ayah sudah dengar, lomba lari akan di adakan minggu depan," jantung Shaolin berdegup kencang, dia tidak menyangka Ayahnya akan membicarakan ini.
"I-iya," Shaolin menganggukkan kepalanya.
"Ayah berharap kemenangan," ekspresi wajah Shaolin berubah, saat mendengar nada bicara Ayahnya yang menjadi dingin itu, "Kau boleh kembali," dia memerintahkan, Shaolin hanya mengangguk dan kembali ke kamarnya.
Sesampainya di kamarnya, dia tidak lagi menduduki meja belajarnya, dia langsung berbaring dan memejamkan matanya. Dia terlalu lelah untuk berpikir sekaang, dan dia berharap alam mimpi dapat menghiburnya sejenak.
Tap, tap, tap, tap, drap, drap, drap.
Sebuah langkah yang awalnya datar, tiba-tiba berubah menjadi langkah tergesa-gesa yang menghiasi koridor sekolah itu. Sepasang kaki milik Shaolin Shihoin itu berjalan cepat menuju ruang klub lari. Dia tidak ingin terlambat di rapat penting seperti ini.
Sret. Shaolin mengedarkan pandangannya, semua anggota telah datang, lalu dia menoleh ke samping. Kuchiki Byakuya berdiri sambil menatapnya, "Kuchiki-sensei, aku.." perkataannya langsung dihentikan dengan satu gerakan yng dilakukan tangan Byakuya.
"Cepat duduk," Shaolin hanya mengangguk, dia tidak mengerti kenapa belakangan hari ini dia menjadi sering terlambat. Shaolin duduk di samping laki-laki yang lumayan pendek di usianya 16 tahun, dan memiliki rambut seputih salju, Hitsugaya Toushiro. Shaolin mengedarkan pandangannya sejenak, belakangan klub lari menjadi ramai oleh anggota perempuan, tapi Shaolin dapat menebak alasannya. Dia kembali menatap Byakuya yang berbicara di hadapannya, dia mengamati baik-baik wajah guru yang menjadi idola di sekolahnya.
Rambut panjang hitamnya, nada bicaranya yang dingin, sikap tubuh yang tegap. 'astaga, apa yang aku pikirkan?' secara refleks Shaolin menggelengkan kepalanya.
"Akan di adakan pemilihan untuk mengikuti lomba tingkat nasional, lusa," Shaolin kembali tersentak, dan menatap pelatih larinya itu, yang juga merupakan alumni sekolah ini, dan teman sepermainan kakaknya, "baiklah, latihan akan dimulai dari hari ini, setiap sepulang sekolah." Perkataan itu mengakhiri rapat mereka di pagi hari ini. Byakuya segera keluar dari ruangan itu.
"Lihat lihat, Kuchiki-sensei memang keren," ucap beebrapa anak perempuan. Shaolin menoleh menatap perempuan-perempuan itu. Dalam pikirannya dia mengakui Byakuya memang sosok laki-laki idaman para perempuan, tapi dia memilih diam dan menyimpan pendapat itu untuk dirinya sendiri. Dia kembali mendesah dan melangkah keluar, hingga seseorang menepuk pundaknya dari belakanga.
"Shihoin," panggilnya, Shaolin berhenti dan menoleh ke belakang.
"Hitsugaya, ada apa?" dia bertanya.
"Ada apa dengan pita mu yang biasanya?" Shaolin terkejut, dia tidak menyangka Hitsugaya mmperhatikan pitanya, bahkan dia tahu pitanya berubah.
"Tidak ada, hanya berganti suasana," Shaolin mengucapkannya sedatar mungkin, "baiklah, aku duluan," dia berlari meninggalkan laki-laki berparas imut, yang juga memiliki penggemar tersendiri di sekolahnya.
Shaolin berjalan pelan menyusuri koridor sekolahnya, di dinding itu dihiasi dengan beebrapa foto penghargaan yang telah di dapat oleh sekolah ini, dan salah satunya foto kakaknya juga ada di sana, "Yoruichi-senpai sangat hebat," segerombolan perempuan berdiri di depan foto itu, Shaolin memang sudah mendengar tentang banyaknya penggemar kakaknya di sekolah ini.
"Dia bahkan memenangkan banyak perlombaan lari dengan membawa sekolah kita, dia benar-benar hebat, aku ingin bisa seperti dia," ucap perempuan lain, Shaolin sudah terbiasa mendengar ungkapan-ungkapan kekaguman itu.
"Lalu, menurutmu apakah Shaolin-san juga akan memenangkan perlombaan itu?" telinga Shaolin mulai bekerja, dan berusaha menangkap suara-suara walau sekecil apapun itu.
"Entahlah, kita kan juga punya Hitsugaya-kun dan Ulquiorra-kun," perempuan-perempuan itu mulai berjalan. Di sudut lorong Shaolin menundukkan kepalanya dan mulai berjalan.
Buk.
Shaolin menabrak seseorang, dia mengangkat kepalanya perlahan, "Hei, apa yang kau lakukan?" saat wajah Shaolin terlihat sempurna laki-laki itu berseringai, "kamu lagi," ucapnya. Shaolin hanya berdecak.
"Minggir, aku tidak punya waktu untuk meladenimu," tanpa mengucapkan kata maaf, Shaolin berjalan melewatinya. Laki-laki tadi-Ggio-berseringai dan menarik pergelangan Shaolin.
"Hei, hei," Ggio menahan gerakannya tanpa membalikan badannya. Shaolin berhenti, tapi dia sama sekali tidak memutar kepalanya.
"Apa yang kau mau dariku?" tanya Shaolin. Ggio berbalik dan menarik Shaolin mendekat. Shaolin mendongakan kepalanya dan menatap iris keemasan laki-laki itu. Shaolin mulai memberontak, "lepaskan aku," Shaolin sedikit berteriak dan berusaha menarik tangannya. Sehingga beberapa orang memperhatikan mereka berdua.
"Kau tidak ingin mengambil ini?" Ggio menunjuk pita putihnya. Shaolin langsung berdecak dan mengulurkan tangannya untuk mengambil pita putih itu.
"Kembalikan, apa untungnya benda itu untukmu," Shaolin berusaha mengambil benda putih itu. Ggio tampak diam dan berpikir.
"Kau benar, aku pikirkan dulu," Ggio melepaskan tangannya, "ja," Ggio berbalik dan meninggalkan Shaolin sendiri.
"Apa maksudnya sih?" Shaolin langsung berbalik, dan berjalan menuju kelasnya.
Teeeet. Bel tanda masuk sekolah berbunyi.
Selama pelajaran Shaolin sama sekali tidak memperhatikan gurunya, dia diam memikirkan perkataan yang baru saja dia dengar, 'Aku harus berlatih,' itu adalah kata-kata yang dia ucapkan dalam pikirannya, dan dia harus melakukannya. Jika, dia ingin menang, dan melampaui kakaknya.
-Skip time-
Teeeeeeeeeeeeeeeet.
Bel pulang sekolah akhirnya berbunyi tepat pada pukul 15.00 tidak kurang dan tidak lebih. Para siswa sudah mulai keluar dari kelas mereka, dan berjalan untuk mengikuti kegiatan klubnya. Shaolin sendiri berjalan menuju klub lari.
"Shaolin-san," seseorang menyapanya, perempuan berambut oranye kecoklatan itu tersenyum ramah kepadanya.
"Ada apa?" Shaolin menghentikan langkahnya sejenak dan menatap perempuan di hadapannya.
"Kau baik-baik sajakah?" dia bertanya cemas, Shaolin hanya mengalihkan pandangannya.
"Kau tidak hanya menyapaku untuk mengatakan itu, kan?" Inoue Orihime terkejut mendengar balasan pertanyaannya dari Shaolin, namun seketika dia kembali tersenyum.
"Kau ingin ke klub lari, kan?" Sholin hanya mengangguk, "ayo, kita pergi bersama," ajaknya, tidak ada respon dari Shaolin yang dia lakukan hanya berbalik dan langsung berjalan, "nee, Shaolin-san?" panggilnya.
"Hnn," jawab Shaolin singkat.
"Apa kau benar baik-baik saja, kau tidak terlihat seperti biasanya," Orihime kembali mengulangi pertanyaannya.
"Tidak ada yang perlu kau khawatirkan," ucapnya lagi.
"Aku dengar dari Rangiku-san, kau bertanya tentang Ggio-kun," langkah Shaolin terhenti, dan langsung menatap Orihime, "a-ada apa?" tanyanya kaget.
"Dari mana kau tahu?"
"Tadi, Rangiku-san menceritakannya, di-dia terkejut saat kau bertanya tentang Ggio-kun," terdengar nada kegugupan dari nada suaranya. Shaolin hanya berdecak, "tidak apakah, Shaolin-san?" Orihime bertanya hati-hati, dia takut jika tiba-tiba Shaolin bereaksi seperti itu lagi.
"Iya, tidak apa," Shaolin kembali berjalan. Dia sudah tahu hal ini dapat terjadi jika dia bertanya pada Rangiku.
"Shaolin-san, ada apa dengan pitamu?" Orihime bertanya dan kembali berjalan di samping Shaolin.
"Ada apa? Aneh, ya?" Orihime mencoba menahan tawanya, dan tersenyum.
"Tidak, warna kuning seperti ini juga cocok untukmu, tapi karena kita terbiasa melihatmu dengan pita putih, jadi sedikit aneh," Shaolin menyentuh pitanya.
"Benarkah, apa aku lepas saja?" tangan Shaolin mulai bergerak untuk melepas pitanya.
Tangan Orihime bergerak cepat menyentuh tangan Shaolin dan menghentikan gerakannya, "tidak, jangan Shaolin-san, ka-kau cukup manis kok mengenakannya," Orihime menurunkan tanganya, dan membenarkan pita itu, "Shaolin-san, percayalaha kau itu pantas mengenakan ini, dan kau itu manis," ucap Orihime meyakinkan Shaolin. Tanpa Orihime ketahui terdapat semburat merah di pipi Shaolin.
"Soifon," ucapnya. Orihime terkejut, namun sebelum dia dapat mencernanya Shaolin sudah memberinya jawaban, "bukan Shaolin-san, tapi Soifon," Shaolin-Soifon-kembali melangkah. Orihime tersenyum.
"Baiklah, Soifon," Orihime berlari dan berdiri di hadapan Soifon, lalu dia mengulurkan tangannya, "teman?" Soifon terkejut mendengar ucapan itu, dan dia menyambut uluran tangan itu.
"Iya," Soifon tersenyum tipis, Orihime sedikit terkejut menatap senyuman itu. Awalnya dia takut untuk mendekati Soifon, karena menurut rumor yang terdengar, dia menyebalkan, menakutkan, dan sangat dingin. Tapi, setelah Orihime mendekatinya dia tidak merasa begitu, menurutnya dia perempuan manis, dan memiliki harga diri yang memang sedikit tinggi.
Sebuah pertemanan terjalin, antara mereka yang tidak pernah berbicara. Soifon berjalan sambil mendengar cerita Orihime, hingga sebuah pertanyaan menghantui pikirannya, "Kenapa kau ingin ke klub lari?" Orihime terdiam dan menatap perempuan di sebelahnya.
"Aku ingin bilang, kepada Ulquiorra untuk menungguku, karena aku ada kegiatan UKS nanti," Soifon terkejut, dia mengerjapkan matanya beberapa kali, meyakinkan bahwa yang Orihime maksud adalah Ulquiorra schiffer laki-laki dingin yang juga saingannya dalam hal berlari.
"Ulquiorra?" Orihime tertawa melihat ekspresi keterkejutan Soifon, dia tidak menyangka bahwa Soifon akan terkejut karena dia menyebutkan nama laki-laki dari salah satu anggota klubnya.
"Tentu saja, hanya ada satu Ulquiorra di sekolah ini," Orihime masih berusaha menahan tawanya, seolah dapat membaca pikiran Soifon dia kembali menggerakkan bibirnya di sela-sela tawanya, "rumah kami berdekatan, jadi kami pulang bersama," Orihime menjelaskan.
"Kau tidak menyukainya?" tanya Soifon lagi, lalu laki-laki berambut oranye terang melewati mereka, sambil tersenyum kepada Orihime. Soifon memperhatikan pipi Orihime yang mulai merah, "aku lupa, kalau kau menyukai Kurosaki Ichigo," Orihime langsung menoleh dan menatap Soifon.
"Ayo, nanti kau terlambat," Orihime segera mengalihkan pembicaraan dan mereka kembali berjalan bersama
Sementara di dekat tempat mereka berjalan, Ggio tersenyum, "Ggio, ada apa?" tanya seseorang yang juga berdiri di sampingnya.
"Tidak, aku pergi dulu ya," Ggio akan melangkahkan kakinya, tapi pergelangan tangannya ditahan oleh perempuan yang bernama Sunsun itu.
"Kau berjanji pulang denganku hari ini," tuntutnya. Ggio mendesah dan berbalik menatap perempuan yang memiliki rambut hijau gelap itu. Tangan Ggio bergerak dan mengelus rambut panjang itu, dia mendekatkan bibirnya. Lalu, dia menyingkap rambut yang menutupi telinganya.
"Tidak ada tempat dimotorku untukmu, Sunsun," Ggio berbisik, Sunsun terkejut mendengar ucapan itu, dan sebuah kecupan mendarat di pipinya, "selamat tinggal," Ggio berbalik, dan meninggalkan perempuan yang masih berdiri di tempatnya menatap punggung laki-laki yang baru saja mencium pipinya.
"Kurang ajar kau, Ggio!" dia berteriak. Ggio hanya tersenyum licik, dan memejamkan matanya.
Lapangan berlari sudah mulai ramai oleh para anggota.
"Ulquiorra!" Orihime berlari memanggil laki-laki bermata hijau itu, Ulquiorra menoleh.
"Ada apa?" tanyanya datar, Orihime tersenyum.
"Aku ada kegiatan UKS nanti, tunggu aku ya?" Ulquiorra hanya mengangguk, senyum Orihime langsung merekah, lalu dia mengulurkan tangannya mengajak ber-highfive, Ulquiorra mnggerakkan tangannya dan sebuah bunyi terdengar dari tangan mereka berdua, "aku pergi dulu, Ulquiorra. Ganbatte!" Orihime menyemangati dan berbalik. Saat berpapasan dengan Soifon dia hanya tersenyum, dan segera berlari kecil meninggalkan lapangan itu.
"Suit suit," sebuah siulan terdengar dari pinggir lapangan, Soifon menoleh. Ggio melambaikan tangannya, Soifon hanya membuang wajahnya. "kuning, ya?" Ggio sedikit berteriak hingga Soifon mendengarnya dan kembali membalikkan wajahnya, "Apa?" tanya Ggio.
"Pergi kau," Soifon mengusir Ggio, tapi Ggio bukannya pergi dia malah berjalan mendekati Soifon, "Apa?" tanya Soifon galak.
Priiiiiiiiiiiiiiiiit.
Sebuah bunyi mengagetkan mereka berdua, sehingga mereka langsung menoleh. Byakuya membuyikan pluit yang tandanya para anggota harus berkumpul. Ggio langsung berbalik, Soifon merasa bingung dengan tingkah aneh laki-laki itu hari ini.
"Shihoin, cepat!" teriak Byakuya dari tengah lapangan, sehingga Soifon langsung berlari mendekat, "kita akan mengukur kecepatan lari hari ini, Shihoin kau yang pertama," Soifon hanya mengangguk dan bersiap di posisinya. Saat pluit terdengar dia langsung berlari. Byakuya menatap stopwatch di tangannya, terdapat ekspresi kurang mengenakan dari wajahnya.
"Hosh..hosh..hosh," Soifon langsung menatap pelatihnya, dari ekspresinya Soifon dapat menebak hasilnya.
"Sekali lagi," Soifon hanya mengangguk, dan kembali berlari. Kecepatan larinya tiaklah secepat yang mereka semua bayangkan, dia hanya anak biasa dengan kecepatan lari yang biasa pula. Ekspresi Byakuya tetap sama tidak berubah, lalu dia menggeleng. Saat Soifon berhenti dia melihat ekspresi itu, dia menundukkan kepalanya, "duduklah," Soifon berjalan gontai ke tempat istirahat, dia menatap teman-temannya berlatih, saat nama Hitsugaya dipanggil, dia menunjukkan kecepatan yang lebih baik dari Soifon.
Dan tiba saatnya Ulquiorra dipanggil, Soifon mengangkat kepalanya, dia menatap laki-laki itu. Dia yang memegang angka tercepat untuk sekarang. Dan saat dia berhenti Byakuya mengangguk mantap, hal ini semakin membuat Soifon terdiam, dia tidak mengerti bagaimana caranya agar dia bisa menjadi secepat itu.
"Semua berkumpul," Soifon kembali berjalan ke tengah lapangan. Tanpa dia sadari sepsang bola mata emas memperhatikannya, dan pemilik bola mata itu segera berbalik menjauhi tempat Soifon. Ya, pemilik bola mata itu Ggio, Ggio Vega.
Ggio segera menyalakan motornya, dan menjemput Lilynette, "tumben kau sudah datang?" tanya Lilynette di depan sekolahnya.
"Tidak apa, cepat naik," perintahnya. Lilynette menatap bingung laki-laki di hadapannya, "sudah mau hujan," ucapnya. Akhirnya Lilynette menurut dan duduk di motornya.
Lilynette melingkarkan tangannya di pinggang Ggio, dan setelah itu, Ggio langsung melajukan motornya dengan kecepatan penuh
Beberapa menit terlewati mereka tiba di rumah Lilynette, "sampai jumpa, Ggio," Lilynette melambaikan tangannya.
Ggio hanya tersenyum, "iya," Lilynette berbalik dan membuka pagar rumahnya, dan saat itu juga deru motor kembali terdengar. Ggio langsung melaju menuju rumahnya, "haah," dia merebahkan tubuhnya, dia menatap langit yang mulai mendung melalui jendela kamarnya.
"Akan hujan," dia menatap langit yang mulai gelap, dia memejamkan matanya sejenak. Namun, pikirannya dipenuhi dengan ekspresi Soifon saat berada di lapangan tadi dan saat dia membuka matanya dia langsung menatap pita putih di perglangan tangannya. Seketika itu juga, dia segera bangkit dari kasurnya dan mengambil kunci motornya. Dimenit berikutnya deru motor milik Ggio kembali terdengar.
Perkiraan Ggio benar, hujan turun. Rintik-rintik hujan pun mulai menyentuh permukaan aspal. Karena cuaca yang tidak mendukung latihan klub lari di selesaikan.
"Baiklah, sampai jumpa besok," ucap Byakuya, para anggotanya sudah mulai bubar dari lapangan itu, "Shihoin, kemari sebentar," Soifon hanya menurut, dia menatap timbangan di hadapannya, dan saat dia mendongakkan kepalanya Byakuya menatapnya, "aku tahu kau bisa melakukannya, kau tentu tidak ingin mengecewakan keluargamu, kan?" perkataan Byakuya membuat Soifon kembali terdiam, "lakukanlah sebaik kakakmu," Byakuya menyentuh punggung Soifon dan berlalu.
Soifon menggerakkan kakinya dan berdiri di atas timbangan itu. Soifon terkejut saat menatap arah jarum di timbangan itu. Lalu, dia segera turun dari timbangan itu, "aku harus berlatih, aku harus menang," Soifon segera mengambil posisi, dan kembali berlari. Setelah satu putaran dia menatap stopwatch di tangannya, "ini belum cukup," dia kembali berlari terus, terus dan terus hingga hujan deras menemani langkahnya.
Ggio yang baru tiba di sekolah itu lagi, terkejut saat menatap Soifon masih berlatih di sana. Dia tidak tahu apa yang dia lakukan sekarang, hanya saja memikirkan perempuan itu membuatnya gelisah. Sehingga, dia memutuskan untuk kembali ke sekolah dan melihat kondisinya.
Ggio berjalan menuju tempat Soifon berlari, dengan payung putih di tangannya. Tiba-tiba saat sedang berlari Soifon terjatuh, karena licin akibat hujan, dan saat dia mencoba berdiri dia kembali terjatuh dan begitu seterusnya. Ggio hanya diam dan menatap dari pinggir lapangan, dia ingin membantu tapi langkahnya terhenti, saat melihat Soifon melampiaskan kekesalannya, dengan memukul aspal di bawahnya. Dia kesal, kesal karena semua orang membandingkannya dengan kakaknya, menekannya bukan mendukungnya. Dia benci dan dia kesal saat tidak bisa melakukannya.
Dan hingga akhirnya dia diam, diam menerima sentuhan hujan di tubuhnya. Sekarang dia merasa kakinya sakit, karena terlalu memaksakan dirinya. Tiba-tiba dia terkejut saat merasakan sesuatu menutupi kepalanya. Dia mendongakkan kepalanya, "ka..u," suara Soifon sudah mulai bergetar akibat dingin. Laki-laki berpayung putih itu hanya diam menatap Soifon.
"Baka," sebuah umpatan terdengar di sela-sela kencangnya suara hujan. Soifon hanya membuang wajahnya menatap laki-laki yang berdiri di hadapannya.
Di tempat lain.
Klub majalah masih berkutat di ruangan mereka.
"Halibel, ada berita," ucap Rangiku, saat baru masuk ke ruangan itu. Permepuan berambut kuning itu menoleh dan menatap Rangiku.
"Apa itu?" Rangiku memberikan beberapa foto ke hadapan Halibel. mata hijau yang dia miliki langsung membulat, dia sgera mencari ponselnya, "Sunsun, aku punya berita untukmu,"
Di ruang klub lari, Hitsugaya memasuki ruangan klub itu.
"Ada apa, Hitsugaya-kun?" tanya perempuan bercepol, sang manager klub.
"Tidak apa," Hitsugaya segera duduk di kursi, dan menunggu hujan reda bersama sang manager. Pikiran Hitsugaya melayang,
Flashback.
Saat latihan dibubarkan, Hitsugaya melihat Soifon yang dipanggil oleh Byakuya. Dia menatap dari sudut matanya, sebelum akhirnya dia berlari menuju ruang klub. Tiba-tiba hujan deras turun dengan cepat, dan saat dia menyadari Soifon tidak di sana dia mulai merasa aneh.
"Kau melihat Shihoin?" dia bertanya kepada Ulquiorra.
"Dia masih berlari di lapangan," laki-laki yang juga memiliki bola mata hijau itu terkejut, dan segera berbalik. Dia kembali mengambil payung, dan berlari menuju lapangan. Tiba-tiba langkahnya terhenti saat menatap Soifon terjatuh, dia segera meningkatkan kecepatannya. Tapi terlambat, Soifon telah dilindungi oleh payung putih milik seorang laki-laki.
Hitsugaya menundukkan kepalanya, dan segera berbalik kembali ke ruang klub.
End Of Flashback.
"Ini," Hinamori memberikan secangkir teh untuk Hitsugaya, sehingga lamunannya buyar, dan dia menatap manager yang sangat perhatian itu, "agar tidak terlau dingin," Hinamori tersenyum, Hitsugaya menatap senyuman perempuan itu, lalu dia memejamkan matanya sejenak.
"Arigatou," ucap Hitsugaya, dan mulai menyesap tehnya perlahan.
"Tidak masalah, kenapa kau belum pulang?" tanya Hinamori.
"Hujan, kau sendiri?" Hinamori tersenyum.
"Ada yang harus aku selesaikan," mereka kembali diam, dan sibuk akan urusan masing-masing, walau sesekali Hinamori menatap Hitsugaya.
Di sekolah yang sudah mulai sepi itu, masih terdapat beberapa orang lagi di tempat berbeda. Mereka seorang laki-laki dan perempuan. Ulquiorra Schiffer dan Inoue Orihime.
Kedua orang yang masih menunggu hujan itu, berdiri di dekat pintu utama Karakura High School, "tidak apakah, kita tidak membantu Soifon?" tanya Orihime.
"Iya," jawab Ulquiorra singkat, Orihime hanya menatap Ulquiorra dan kembali mengamati hujan yang turun satu persatu.
Tiba-tiba Orihime tersenyum, dan menarik tangan Ulquiorra, Ulquiorra terkejut dengan apa yang dia lakukan, "apa yang kau lakukan?" tanya Ulquiorra yang sekarang sudah berdiri di luar gedung, sehingga tubuhnya merasakan sentuhan dingin yang diberikan oleh air hujan.
"Aku sudah lama tidak hujan-hujanan," Orihime tersenyum, Ulquiorra hanya mendesah, dan segera menarik Orihime berlari pulang.
"Ayo," Orihime tertawa, dan mereka berdua pun berlari menerobos hujan dengan tangan yang bertautan.
"Ini," Halibel memberikan berlembar-lembar foto hasil jepretan Rangiku kepada perempuan berambut hijau terang, "kau bilang kau pacarnya, kan?" tanya Halibel.
Sunsun hanya menatap geram foto di hadapannya, "aku tidak tahu, ap..apa yang harus aku lakukan?" mata Sunsun mulai berkaca-kaca seolah akan menangis. Halibel menatap temannya itu.
Halibel merogoh sakunya dan mengangkat telepon dari seseorang, "halo." Halibel nampak menatap Sunsun sejenak, lalu dia menganggukkan kepalanya, "aku tahu, baiklah," lalu ponsel Halibel tertutup.
"Aku mohon..Halibel..bantu aku," air mata Sunsun mulai jatuh, "aku..aku," Halibel berdiri dari kursinya.
"Aku akan membantumu," Sunsun berdiri dan memeluk Halibel dari belakang, dengan linangan air mata di pipinya.
"Terima kasih, Halibel-senpai," tampak sebuah senyuman menyeringai di bibir perempuan berambut hijau itu. Halibel hanya memejamkan matanya.
To Be Continued.
A/N : gaje banget kah?
Maaf banget kalau mengecewakan, aku meminta maaf, dan aku berusaha untuk lebih baik di yang berikutnya.
oleh karena itu, kritik dan saran masih dibutuhkan, onegaishimasu,
Thx sebelumnya
Thx bagi yang mau baca ^^
