Pringles; yeah, cemilan berupa keripik kentang dengan bungkus berbentuk tabung, yang mungkin jarang kalian sadari berasal dari Malaysia. Tentunya sang personifikasi negara yang bersangkutan bangga akan produknya yang bisa menembus ke pasar impor berbagai negara itu, namun sungguh; tak pernah sebelumnya ia begitu mensyukuri produk itu. Tidak sampai detik saat kejadian ini terjadi.
Kita lihat bagaimana kondisi saat ini; personifikasi negara Indonesia-dalam keadaan pingsan, dengan benjol kecil di keningnya tepat di hadapan Malaysia yang menggenggam erat bungkus Pringles kosong dengan nafas terengah-engah. Ternyata sampah bisa juga digunakan sebagai senjata untuk melindungi diri jika ada di tangan orang yang tengah dibalut rasa panik.
Menghela nafas, Malaysia mencoba mengangkat tubuh kakaknya ke atas sofa. Bukannya dia sengaja membuat kakaknya tepar (lagi), salahkan insting seme… oke, insting manusianya yang langsung membela diri dengan benda yang paling mudah dicapai begitu merasa akan diserang. Kebetulan saja 'benda yang paling mudah dicapai' disini adalah Pringles dan 'membela diri' yaitu dengan cara memukul sekuat tenaga ke arah penyerangnya. Masalah penafsiran 'diserang' di sini tak ingin ia pikirkan lebih lanjut.
Lagipula ia tak menyangka Indonesia yang rutin latihan silat bisa begitu mudahnya pingsan hanya dengan bungkus snack yang begitu ringan. Bukannya Malaysia tidak tahu seberapa sering ia bolos latihan hanya untuk menyempatkan diri menonton sinetron Cinta Vikri kesayangannya sih…
Malaysia segera merogoh handphone di sakunya dan menekan-nekan tombol untuk mencari kontak Singapore seteleh sebelumnya mengikat tangan dan kaki 'kakak'nya dengan tali rafia; hanya untuk jaga-jaga jika pemuda itu tersadar lagi sebelum Malaysia sempat meminta 'pertolongan'.
33 Sides Of Indonesia
Hetalia belongs to Hidekaz Himaruya
-Melayucest belongs to their fans, for now at least-
Tuut…
Tuut…
Tuut…
Tlek
"Halo?"
"Ini aku."
DHEG
"…"
"…"
"Hei, Singapore, cepat kesini dan ambil Indon atau aku akan…"
"Maaf, nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif. Silakan tinggalkan pesan setelah bunyi PIIIP. PIIIP~" dan bersamaan dengan berakhirnya bunyi 'PIP' konyol itu, sambungan telepon pun diputus secara sepihak, menelantarkan Malaysia yang masih memegang handphonenya dengan ekspresi naas yang bisa dilambangkan dengan icon (='A'=x).
Malaysia mencoba menghubungi Laos dan Cambodia, dua personifikasi negara ASEAN yang dalam bayangannya saat ini sosoknya lebih menyerupai dua setan tengil yang tega-teganya menelantarkan pemuda imbisil yang sedang labil.
Sayangnya Malaysia baru ingat kalau nasib ponsel Cambodia sudah berakhir dalam perut Mariabelle chan; meski pada waktu itu sebenarnya sudah kesekian kalinya Indonesia diperingati untuk tidak mengajak jalan-jalan komodonya ke negara tetangga.
Sedangkan Laos? Hanya dijawab dengan, "Halo, Malaysia. Maaf aku sedang sibuk mengurus bantuan sumbangan dari negaraku yang akan dikirim ke Jepang. Nanti hubungi saja lagi," sebelum akhirnya ditutup tanpa sempat disela Malaysia.
"Ngh…"
Sontak Malaysia bergidik ngeri begitu mendengar desahan kecil dari sosok di belakangnya. Untungnya figur yang kini terasa begitu menakutkan bagi Malaysia itu hanya bergerak sedikit, bukannya siuman dan mengeluarkan tenaga Gatot Kaca untuk melepaskan diri dari ikatannya lalu melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda dengan 'adik' kesayangannya seperti yang ditakutkan Malaysia.
Merinding, lamat-lamat jemari Malaysia kembali menekan tombol ponselnya. Sebenarnya ia enggan berurusan dengan adik Indonesia yang paling sering adu bacot dengannya itu, namun saat ini tidak ada alternatif lain yang terlintas dalam benaknya.
Tuut…
Tuut…
Tuut…
TLEK
"AKU TAHU APA YANG INGIN KAU KATAKAN, TAPI PELAKUNYA BUKAN AKU, SUNGGUH!"
… Apanya?
Tidak ada kata 'halo' atau kalimat salam standar lainnya, hanya seruan yang jika diketik dipenuhi kata yang tersusun dengan caps-lock on menjawabnya. Namun Malaysia terlalu pusing dengan masalahnya sekarang untuk menyempatkan diri memikirkan itu.
"Kalimantan, aku hanya ingin minta tolong padamu… ini perihal Indon," ujar Malaysia yang menambahkan, "Kumohon, ini sangat mendesak," begitu melihat Indonesia kembali mengerang pelan.
Terdengar helaan nafas lega dari seberang sana. "Oh… oke. Kukira ini masalah stok Cadburry yang berkurang dari gudang penyimpananmu… Ada apa dengan kakak?"
"Jadi Indon… Hei, bagaimana kau tahu masalah Cadburry itu?"
"Uhh... lupakan saja. kau menelepon karena ada keperluan 'kan? Jadi Kakak kenapa?"
Cukup tergesa-gesa untuk bisa dibilang 'mencurigakan' begitulah isi hati Malaysia mendengar tanggapan Kalimantan, namun saat ini ia memilih untuk mengesampingkannya.
"Ada sedikit masalah hingga dia… ehm… pingsan, dan aku ingin kau menjemputnya."
"Pingsan? Kok bisa?"
Saat ini pikiran Malaysia sudah dipenuhi cukup banyak masalah yang membuatnya jengah adu jotos dengan Kalimantan seperti biasa. Jadi ia memilih tidak menjawab pertanyaan terakhir secara jujur dan membalas, "Po… pokoknya kau harus segera kesini! Kutunggu!" sebelum akhirnya memutus sambungan.
PIP
"Hm? Kita belum melakukan apapun dan kau ingin Kalimantan menjemputku?"
Bulu kuduk Malaysia berdiri.
Layaknya yang seringkali terjadi dalam film horor, tubuhnya serasa membeku dan ia merasa kesulitan hanya untuk menolehkan kepalanya ke arah sumber suara barusan.
Dengan kaki gemetar, perlahan Malaysia melangkah menjauhI sofa sambil berkali-kali menenangkan diri dengan sebaris kalimat, 'Tidak apa-apa… Dia takkan bisa menjangkauku dengan tangan dan kaki terikat seperti itu…'
"... Apa-apaan tali ini? Apa kau sedang mood dengan sesuatu yang berhubungan dengan bondage, hmm?"
Menyeringai, Indonesia berhasil menggigit rangkaian tali yang membatasi pergerakannya hingga lepas. "Sayang sekali, tapi jika kau memang ingin yang seperti itu maka kau-lah yang seharusnya diikat."
Malaysia tidak pernah merasa tubuhnya sekaku ini begitu melihat Indonesia dengan senyum mencurigakannya melangkah ke arahnya; lengkap dengan tali rafia tadi di tangannya. Saat Indonesia dengan semena-mena menjadikannya korban percobaan jurus silat baru, atau bahkan menjadikannya tester kekuatan gigitan Mariabelle chan, Malaysia masih sempat lari.
Namun, kali ini ia hanya bisa menjerit.
Kalimantan melangkah dengan enggan ke arah rumah Malaysia. Dodol Garut dibawanya sebagai buah tangan; atau mungkin akan berakhir menjadi tanda permintaan maaf jika Malaysia kembali mengungkit-ungkit masalah Cadburry-nya.
Setibanya di sana, ia sempat mengetuk pintu mahogani rumah yang luas itu hingga beberapa menit tanpa mendapat jawaban apapun sebelum akhirnya menggerutu, "Gimana sih? Tadi dia yang nyuruh datang!"sambil menendang pelan pintu di hadapannya.
Namun begitu mendengar suara-suara menggema dari dalam rumah, Kalimantan langsung menyelonong masuk lewat pintu yang kebetulan tidak dikunci. 'Kan tadi dia yang nyuruh datang, awas kalo marah-marah cuma gara-gara gw masuk gitu aja.'
'Cuma' eh, Kalimantan? Adakah yang pernah bilang seberapa miripnya kau dengan kakakmu?
"Oi, Malay, aku sudah dat…"
Omongannya terputus ketika melihat pemandangan yang sama anehnya dengan Orang Utannya mencoba mengawini komodo kakaknya. Tentu saja hal itu tak pernah terjadi, tapi baginya hanya perumpamaan itu yang sesuai dengan apa yang diregistrasikan otaknya dari sesuatu yang ia saksikan di ruang tengah kediaman Malaysia saat ini.
Dua orang pemuda berkulit sawo matang. Oh, tentunya Kalimantan tidak butuh tanda pengenal mereka untuk mengidentifikasi dua orang yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengannya itu. Itu; sosok yang parasnya kini dihiasi rona kemerahan yang sedang terhimpit diantara sofa dan orang diatasnya dengan tangan terikat adalah Malaysia. Dan tentunya ia tidak salah mengenali kakak tercintanya yang kini tengah menindih sosok yang seringkali bertarung verbal dengannya perihal masalah wilayah kekuasaan.
... Jika perumpaan yang tadi terlintas dalam benaknya memang tidak mungkin, apa jangan-jangan komodo kakaknya-lah yang mencoba mengawini Orang Utannya?
"Adikku sayang, bisakah kau tidak mengganggu kegiatan kami dengan pulang sekarang juga?"
Kalimantan hanya mengangguk menanggapi perintah kakaknya dan melangkah keluar dengan wajah layaknya icon (O_O) tanpa menghiraukan jeritan keputusasaan Malaysia.
To be Continued
omake
Indonesia: *nggigit tali rafia sampe lepas, maklum kebiasaan latian makan beling(?)*
Malaysia: O_O|||
Indonesia: *pengen ngomong, 'kok talinya gampang banget robek sih? Kualitasnya jelek neh' tapi gak jadi begitu liat bungkus plastik bertuliskan 'Made in Indonesia' di lantai*
... haruskan saya masukkan adegan lemon disini? *PLAK*
Apdetnya kelamaan memang, soalnya fic ini sempat mau saya bikin hiatus... *ditendang* Soalnya selain buntung ide, penggemar Melayucest kayak berkurang drastis semenjak masalah bola itu sih... (termasuk saya sebenernya)
gomen kalo alurnya lambat n ga jelas atau ada typo, silakan lapor pada author~
thanks 4 reading, review please? *nyodorin Cadburry colongan*
