Author's Note : Kuroko no Basuke bukan milik saya, saya hanya memiliki cerita beserta alurnya. Kemungkinan akan adanya salah penulisan Typos, tata bahasa jelek, dll.
AU Setting, OC, Gender-Bender. Aka-Kuro Twins.
Pairings : Decide Later
Characters Copyright : Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki.
Terima Kasih untuk para Author yang baik yang telah meng-like dan mem-follow cerita aneh ini beserta silent readers yang mau membaca cerita ini.
Terima Kasih telah mengijinkan agar cerita ini dapat dilanjutkan. *Dogeza mU_Um
Tomorrow never dies though tragedy come to you without any greeting. As long as human still alive every thing could be happen in every different aspect, so it is the human choice how to endure every thing in their life.
.
.
Chapter 1
.
.
"Sei nii-san, hadiah apa yang kau inginkan untuk ulang tahun kita besok?" Tanya gadis mungil berambut biru langit kepada anak laki-laki berambut merah di hadapannya yang sedang menatap papan shogi kesukaannya.
"Kuda putih." Jawab Seijuuro sambil menjalankan pion shoginya.
"Lagi? Bukannya Otou-san telah membelikanmu seekor untuk ulang tahun kita yang ketujuh kemarin?" Tanya anak perempuan itu dengan polosnya sambil memeluk boneka anjing kesayangannya.
"Kemarin itu poni. Kuda poni dan kuda putih tentu saja berbeda." Jawab Seijuuro singkat.
"Tapi menurut Tetsumi kuda poni putih dan kuda putih sama, kan sama-sama kuda, hanya beda tinggi saja."
"Bukankah keledai juga serupa? Kenapa tidak kau sebutkan sekalian." Jawab Seijuuro melihat langsung kepada adiknya.
"Hai, Nii-san benar. Tetsumi lupa kalau kedelai, kuda poni dan kuda satu jenis hewan yang sama."
"Keledai, Tetsumi. Keledai, bukan kedelai. Kedelai itu nama kacang-kacangan, sejenis tumbuhan." Seijuuro membetulkan kosa kata adiknya.
"Mou… Salah dikitkan enggak apa-apa. Lagian ke-de-lai dan ke-le-dai itu kan mirip-mirip namanya. Lagian keduanya juga bisa menghasilkan susu." Protes Tetsumi yang terpaksa harus mengeja agar tidak salah kembali dengan menggembungkan pipinya dengan muka sedikit memerah yang membuatnya terlihat imut.
"Susu kedelai memang ada, tapi aku tidak pernah mendengar ada yang namanya susu keledai di pasaran." Jawab sang kakak, Seijuuro yang absolute dengan tidak mau kalah.
"Kalau begitu diadakan saja. Bukannya motto Nii-san, "Aku selalu benar, aku selalu menang". Kalau Nii-san yang minta pasti akan segera tersedia, jadi Tetsumi tidak salah, kan." Jawab Tetsumi langsung ke intinya.
"….." Keduanya saling bertatapan dengan muka yang datar.
"Hai, hai. Lebih baik kau jalankan saja pion milikmu, Tetsumi." Seijuuro hanya bisa menghela napas karenanya dalam hati ingin rasanya ia menelan bulat-bulat adiknya yang entah saking polosnya atau dengan sadarnya membuat raut wajah yang imut-imut, mungkin kalau sudah dewasa nanti dia harus mengusir para lalat yang akan menghampiri adiknya.
"Sabar sedikit Nii-san. Tetsumi kan juga harus berpikir. E..tooo…" Tetsumi melihat papan shogi dengan memiringkan kepalanya, dengan rambut yang dikuncir dua dan wajah polosnya yang berpikir kebingungan membuat terlihat lebih moe lagi.
Tetsumi mengerutkan dahinya sehingga kedua alisnya dapat bertemu. Dipandanginya papan shogi itu dengan serius, sang kakak yang berada dihadapannya hanya dapat memperhatikannya dengan sabar. Tetsumi kembali menatap kakaknya kali ini menatap langsung ke mata kakaknya dengan poker face-nya seperti biasa. Diam-diam sekilas Seijuuro menaikan salah satu alisnya yang menunjukan rasa penasaran akan apa yang dipikirkan saudari kembarnya itu. Tak dapat disangka Tetsumi menunjuk ke arah luar jendela di samping mereka, "Ah, ada power ranger."
"Clitter…Clitter…Clitter." Ruangan tersebut sunyi sejenak dengan Seijuurou yang menatap bingung adik perempuannya. "Kau pikir aku percaya power ranger itu benar-benar ada?" Tanya Seijuuro dengan nada sedikit kesal karena dipermainkan adiknya. "Kalau gitu ada kamen raider." Lanjut Tetsumi polos dengan tangan masih menunjuk ke arah luar jendela dan mendapatkan tatapan dingin dari kakaknya.. "EVA… ninja Jiraiya…Patlabor…Gundam…" jawabnya satu per satu yang tidak ditanggapi oleh kakaknya.
"…. Jangan curang Tetsumi, kau pasti akan memindahkan pion milikku saat aku melihat ke jendela." Mereka diam sejenak kemudian si anak perempuan berkata dengan datar, "Ahh… Ketahuan, ya." Tetsumi kembali melihat papan shogi di depannya kemudian menatap kakaknya kembali yang sekarang sudah melipat kedua tangannya di dada. "Nee, Nii-san. Soal kuda putih, bukannya kau akan kesusahan saat menaikinya tanpa bantuan orang lain?" Begitulah pernyataan sopan yang dikemukakan sang adik kepada sang kakak yang mempunyai makna terselubung bahwa tinggi badan sang kakak terlalu pendek tapi memangnya kalau naik kuda ada batasan tinggi maksimal juga ya?
"Setidaknya aku lebih tinggi lima centimeter dibandingkan dirimu." Jawab sang kakak dengan bangga.
"BRAKK!" papan shogi beserta pion-pionnya jatuh berserakan ke atas lantai.
"Ah.. gomen ne Nii-san.. tuan Nigou tidak sengaja menjatuhkan papan shogi milikmu. WOOF!" Tetsumi memegang erat boneka anjing Alaskan malamute miliknya 'Nigou' sambil memainkan salah satu kaki bonekanya dengan wajah polosnya dan menirukan suara anjing, di sisi lain Seijuurou hanya menatapi papan shogi beserta pionnya yang berserakan di lantai berusaha meredam emosinya.
"Di sini rupanya kalian berdua." Dari arah pintu ruangan mereka berada saat ini terdengar suara seorang wanita dewasa memanggil mereka. "Ah, Okaa-san." Panggil Tetsumi kepada wanita setengah baya yang memiliki paras yang sama dengan dirinya hanya saja lebih dewasa dan berdiri dari duduknya untuk menghampiri wanita tersebut.
"Huph!" wanita itu menangkap putrinya yang berlari ke arahnya. "Kaa-san, mana Tou-san?" Tetsumi menonggakkan kepalanya ke atas, menatap ibunya yang tersenyum dan membelai kepalanya. "Tou-san sedang bertemu dengan klien Mi-chan. Apa hari ini kau menjadi anak baik Hime-chan?" Senyum sang ibu kepada anak perempuannya. "Uhm. Hari ini Mi-chan jadi anak baik Kaa-san." Angguk sang anak perempuan berambut sebiru langit itu. "Bohong! Tetsumi sudah menghancurkan papan shogi milikku." Adu sang kakak yang berambut merah itu kepada ibu mereka dan menunjuk ke arah lantai dimana papan shogi beserta pionnya itu berada.
Sang wanita yang berambut sebiru langit itu menghela napasnya dan menatap anak perempuannya dengan lembut. "Mi-chan." Panggil sang wanita dengan nada rendah. "Itu perbuatan Nigou, Kaa-san. Nigou kesal karena Sei Nii-san memanggil Tetsumi pendek." Jawab Tetsumi sambil menggembungkan kedua pipinya dan memainkan kaki boneka anjing Alaskan Malamute-nya itu. "Hah…" wanita itu hanya bisa menghela napas panjang dan tak habis pikir akan pertengkaran kedua anaknya ini. "Itu karena kau yang menghina-ku terlebih dahulu Tetsumi dan kau mencoba bermain curang, I-mo-u-to." Seijuuro membela dirinya. "Sudah-sudah, ayo kalian berdua berbaikan." Pinta ibu mereka.
"Tidak mau." Jawab Tetsumi dengan segera dengan wajah sebal dan masih menggembungkan pipinya. "Mi-chan jika kau tidak berbaikan dengan kakakmu tidak ada vanilla milkshake untuk selamanya." Ancam sang ibu kepada anak perempuannya yang menjadi check mate bagi sang anak. "Maafkan Tetsumi dan Nigou, Sei nii-san." Tetsumi mengulurkan tangannya kepada Seijuuro dengan salah satu tangannya masih memegang "Nigou". Seijuuru menjulurkan lengannya dan meraih tangan sang adik, mereka berdua saling berjabat tangan sebagai permintaan maaf. Ibu mereka yang melihat momen ini tersumeringah melihat kepolosan kedua bayi besarnya itu.
"Baiklah, sekarang ayo kita keluar dari ruangan ini. Sebentar lagi saatnya makan malam, ayah kalian akan segera pulang." Senyum sang ibu kepada putra dan putrinya."Uhm." Tetsumi mengangguk kecil dan mengikuti ibunya beranjak pergi dari ruangan tersebut. Ia menatap menghentikan langkahnya sejenak dan menatap Seijuuro yang masih berdiri terdiam. "Nii-san." Panggilnya.
Penglihatan Seijuuro perlahan menjadi sedikit kabur. "Eh." Gumamnya. Saat ini segala sesuatu dihadapannya terlihat buram dan mengabur. "Ke… na… pa.." pandangannya semakin lama semakin mengabur, dan akhirnya hanya gelap yang terlihat olehnya.
"Nii-san… Sei nii-san…" samar-samar ia mendengar suara adiknya memanggil. 'Tetsumi?' pikirnya. "Gelap.. aku harus segera membuka mataku. Aku tidak akan membiarkan Tetsumi sendiri.' Seijuuro memaksakan membuka matanya. Samar-samar ia melihat adiknya menangis terduduk dihadapan dirinya yang tergeletak di jalan. "Tet.. su…" panggilnya terbata-bata. 'Jangan menangis Tetsumi. Aku berjanji akan selalu disampingmu.' Ia ingin menyuarakan pikirannya, tapi apa daya. Ia hanya bisa terbaring lemah di jalan yang dingin ini dan menutup matanya kembali.
.
.
TBC
Terima kasih untuk Ichika 07, Chii, dan Arisa atas reviewnya.
Untuk permintaan Chii saya hanya bisa bilang. Maaf, tampaknya cerita ini hanya akan menjadi cerita yang normal (Straight) oleh karena itu cerita ini akan penuh dengan Gender Bender dll.
Maaf lama tidak mengupdate, karena banyak tugas jadi saya agak susah untuk mengupdate cepat.
Sejujurnya fanfic ini saya tulis dalam bahasa Inggris dengan judul TRAÎTRISE berikut linknya :
s/10102710/1/TRA%C3%8ETRISE
Mohon ditengok jika berkenan. (Promosi terselubung hehehehe)
Kalau ditanya kok versi Indonesia dan Inggrisnya beda? jawabannya cuma satu. Saat saya ingin mempublish cerita ini (Eng Ver) teman saya berkata, "Coba tolong fic-nya di ubah bahasa Indonesia, saya lagi malas baca bahasa Inggris." dan Alhasil karena saya malas men-translate jadinya versi Indonesia seperti ini deh.
Tapi inti cerita keseluruhan tetap sama.
Selanjutnya khusus ver Indonesia saya berusaha untuk menjaga rating tetap "T" karena kemungkinan disebabkan cerita ini adalah req dari salah satu teman saya maka khusus ver Ing akan ada perubahan rating ke depannya.
Terakhir sekali lagi saya ucapkan terima kasih kepada para author yang baik yang telah mem-follow dan meng-like cerita aneh ini... dan kepada silent readers yang membaca cerita ini. Tidak lupa saya mengucapkan salam perkenalan saya kepada author sekalian. Semoga kita dapat berteman di dunia fanfic ini . Hehehehehe...
.
Regards,
Pao-Pao
