+JUST BE FRIENDS~ANOTHER+ ©3plusC
Chapter #02 + Never want to happen?
+WARNING+
Luka POV, Crack- Pairing (?), Alur cepet (?), serba ?
+DISCLAIMER+
CFM, AH Software, Internet Co., seperti biasa~
"GYAAAAA-"
"Oi, oi, kakak, sadar! Ngapain teriak- teriak gitu! Ayo turun dan makan."
Aku tersadar dari lamunan panjangku. Kulihat sosok adik lelakiku, Len, dengan sosok sok-elegan seperti biasa.
"Lenny, bisa tolong bilang, kakak tak ikut makan malam hari ini. Biar pelayan yang mengantarnya kesini." Ujarku malas, bangkit dari tempat tidur. "Aku lagi nggak mood.."
"Enak aja, turun sendiri sono."
….*sweat drop*
Sigh, sejak tadi sampai kini di rumah aku benar- benar pusing. BAGAIMANA BISA?
Krucuu~k. Sial, perutku meronta- ronta. Sabar, oke. Aku turun sekarang. Kulewati tangga, kulihat atas, tetap seperti biasa: rumah mewah dengan lukisan- lukisan antik diatasnya. Ayah adalah seorang seniman terkenal berlevel internasional.
"Kakaaak~ tadi udah dapat barangnya dariku, kan? Kutitipin sama guru kaka~k." Seorang gadis super loli memelukku, itu Rin, saudara kembar Len. Salah satu dari beribu target sensei pedo itu.
"Harusnya kau tak usah repot- repot, Rin. Aku bisa mengambilnya sendiri."
"Tapi itu titipan Miku-chan, nee~ harus segera dikasih kalau tidak akan tertimpa kesialan!" Dia memanyunkan bibirnya, "Peruntunganku hari ini bakal sukses bila aku melakukan kebaikan dengan sigap~"
Aku menepuk jidatku. Oh, ya~ anak zaman sekarang~ percaya sama yang begituan~=="
"Kak, kakak, guru kaka tadi itu masih muda dan keren banget~ pengen deh nanti Rin punya pacar seperti itu xD"
HOEGH *muntah darah lebai*
APAA?
"Jangan! Jangan pernah mengagumi guru sial itu! Dia itu pedo kelas berat, jadi hati- hati bila kau ada didekatnya, kau bakal diapa- apain!" Aku menelan ludah. Sial, mantera apa yang digunakan lelaki itu sehingga banyak gadis yang menyukainya, termasuk para target dan korbannya?. "Lalu, jangan percaya semua yang dia katakan!"
Rin terperangah, "Pedo itu apa, ya?"
*gubrak*
"RIN! Kau masih punya aku! xO" Len tiba- tiba memeluk Rin dari belakang. Oke, sekarang saatnya seorang kakak melihat adegan incest yang tak pantas dilihat anak dibawah u- *author dilempar sandal*
Ya ampun, oke, family complex yang begitu kental. Untung saja benang merah keduanya tidak terhubung, bisa mati aku.
Kulirik jajaran pelayan yang memandangi kami penuh harap. .."Rin, Len, ayo makan, keburu dingin nanti."
"Nona Luka, Nyonya Meiko sepertinya bakalan lembur lagi." Seorang wanita berambut perak panjang mengingatkanku. Oh, sudah kuduga. Pasti ke bar lagi =='', aku yakin tante norakku itu bakal pulang diatas jam 12. Malam.
Inilah keluargaku, dimana hari- hariku diisi dengan celoteh dua adikku. Dengan pelayan- pelayan di rumah ini, aku sedikit sungkan, tapi inilah hidup sebagai konglomerat. Sejak kecil aku di didik sebagai seorang lady. Dimana aku sempat melewati fase stress hingga menjadi preman :P. Tapi aku salah. Sejak ibu meninggalkan rumah ini, kehidupanku berubah drastis. Ayah yang memang tak pernah menampakkan dirinya bahkan sebelum ibu pergi mengutus adiknya, Meiko untuk menjaga kami. Dasar pria tak berperikemanusiaan. Kenapa tidak dia saja yang datang? Tapi tak apa, kehadiran tante cukup membawa kebahagiaan di rumah ini. *jahat*
Aku menggenggam erat pisau makanku. Tidak, aku tidak ingin mebunuh siapa- siapa kok :P Aku merasa iri pada Miki saat seperti ini. Miki, dia murid beasiswa di VocaGakuen. Teman sepermainanku sedari kecil. Keluarganya..ehm, dalam artian kurang mampu-lah, tapi dia, dengan semangat yang tak pernah padam, mampu menakhlukkan segala rintangan. Aku iri padanya. Ya, dia tak pernah mengeluh. Keluarga kecilnya pun mendukung dia penuh. Keluarga yang setiap saat saling membahagiakan satu sama lain. Ukh, mungkin Miki sainganku dalam hal pelajaran,
tapi aku tak mau jadi saingannya dalam hal cinta.
"Kak, kakak…?" Len menyadarkan lamunan anehku. Oh, sepertinya aku mulai banyak melamun. =3=
"Hayo, kakak melihat hal yang aneh hari ini?" Tanyanya penuh kecurigaan.
"Nggak! Aku lihat benang merah itu seperti biasa! Aku tak menemukan pasangan hari ini! Swear, deh"
"Yah, padahal kupikir ada perkembangan dari kemampuan kakak. Kakak bisa berubah, jadi mahou shoujo gitu~ membawa seseorang pada jodohnya.."
Segera saja kujitak kepalanya. "Dasar bodoh! Itu tak mungkin terjadi! Aku kan bukan Kami- sama!". Aku menggeleng- geleng. "Itu hanya bisa dilakukan oleh Kami- sama! Yang realistis dong."
Mendengar hal itu Rin bereaksi, "Kak, keajaiban itu bisa datang kapan saja." Oke, dia memang pengikut setia ramalan bintang.
Eh, apa aku belum cerita soal dua adikku yang tahu kemampuanku? Yah, orang dalam semua tahu. Maksudku, keluarga besarku. Aku tak mengerti kenapa mereka semua bisa tahu, mungkin ada peramal yang mengatakannya *plak*, kalau Rin dan Len sih maklum, ayah bisa cerita pada mereka saat kecil. Tapi kakek-nenekku? om-tante? Oh, jangan ingatkan soal tante Meiko yang hampir selalu meminta tolong padaku mencarikan jodohnya. Huh =3=
"Senang sekali rasanya punya kakak yang masuk jajaran superhero, fufufu~" Len mulai berkhayal. Ayolah, hentikan pemikiran konyol kalian..ini semua membuatku stress.
"Masa sih kakak nggak pernah nemuin pasangan sebelumnya?" Rin ikut- ikutan…
"Kan sudah sering kubilang, aku cuma bisa melihat benang merah terhubung dari orang- orang yang sudah menikah. Misalnya erm…kakek dan nenek? Hm…tuan dan nyonya Shion? Lalu…pasangan paruh baya yang ada di toko kelontong itu?"
"Ayah dan Ibu?" :3
GLEK. "Jangan ingatkan aku, Lenny!" Aku menghabiskan sisa piringku dan beranjak. Aku tak mau pembicaraan ini mengarah ke 'situ'!
"Kakak tak pernah bercerita, apa benang merah mereka terhubung…dan bila iya, kenapa mereka berpisah? Bagaimana nasib orang- orang yang bercerai itu?"
"Aku tidak tahu. Hanya Kami- sama yang punya jawabannya."
.
.
Duh, lagi- lagi. Aku semakin pusing, nih. Kubolak- balik buku pelajaranku, kutulis cepat jawaban peer- peerku. Kutoleh jam weker kecilku, pukul 7.00 p.m. Cih, kenapa masih jam segini? *maksudnya apa author gatau xP*
Mataku beralih pada jari kelingkingku, hal yang tak pernah terjadi karena saat ini aku memelototinya tanpa alasan. Kenapa harus DIA? Aku bersyukur tak punya rasa padanya sekarang, karena mau tak mau ini akan sangat menyakiti Miki. Dia teman terbaikku, sahabatku. Apa aku sanggup mengakui bahwa orang yang dia cintai adalah jodohku? TAK MUNGKIN, BODOH. Aku memukul kepalaku dengan pensil.
Aku benar- benar tak ingin ini terjadi. Tapi apa aku harus mengingkari ketetapan Kami-sama?
"Kak~ marah?" Rin mengintip dari balik pintu kamarku.
"Nggak. Masuklah."
"Kakak, main game sama kami yuk?" Rajuknya.
TIDAK AKAN. "Tidak! Aku tak mau kena hukum lagi karena ini, apalagi saat jam-nya sensei sial itu! Aku tidak mau!"
Ya, itulah kenapa aku sering tertidur saat jam pelajaran. Membuat guru- guru heran kenapa aku yang pernah dikenal sebagai 'Sukeban' saat SMP, dan terkenal punya muka garang, jadi salah satu murid terbaik di VocaGakuen. Padahal kerjaan malamku adalah dianiaya kedua adik otaku game dengan berjam- jam menatap layar TV. Jika tidak, aku bakal dilindas dengan road- roller kesayangan mereka. Hei, aku tak bercanda. Road- roller itu hadiah dari Leon, teman ayah yang kepala kontraktor. Heraaan…itu terjadi 8 tahun yang lalu, saat si duo berusia empat tahun. ..kenapa ada orang yang dengan senangnya memberi dua sosok inosen kendaraan keren itu? *smirk*
"Kak~"
"Apa?"
"Kalo gitu antar aku ke rumah Miki, ya~?"
"Hah? Kau bisa minta tolong sama Soune, kan?" Soune itu sopir keluarga. Yang mengantar kami kemana- mana, termasuk sekolah, dengan limosin mewah. Hei, tapi aku menolak, jalan kaki saja sama Miki :P
"Iyaah…tapi sama kakak, dooong~"
"Heeh? Untuk apa? Sama Len saja."
"Ayolah, kaaak~ peruntungan hari ini bilang aku harus dekat sama setiap anggota keluargaku. Bahkan kakak tahu? Hari ini aku nelpon Ayah~" Rin semakin merajuk.
Membuatku geleng- geleng kepala. Ya ampun. Mimpi apa aku semalam punya adik seperti ini? Masih sudi saja menelepon pria tak bertanggung jawab macam ayah.
Yah, daripada jadi ribut,
"Yo, akan kutemani. Lagipula aku sudah- sedikit- selesai"
.
.
Rumah sederhana di jantung Tokyo. Seorang gadis manis berambut turquoise membukakan pintu. Wajahnya sedikit sayu.
"Ah..selamat datang." Ujarnya lemas. Hn? Dia sakit?
"Miku!" Langsung saja Rin memeluk gadis berusia 14 tahun itu. "Aku sangat khawatir padamu! xO"
Miku Hatsune adalah salah satu teman baik adikku. Usianya dua tahun lebih tua, namun mereka seperti seumuran. Dia sering mengajak kami menonton anime di rumahnya. Sambil pyjamas party. Pribadinya sangat ceria dan tabah, mirip Miki. Namun kali ini, yah..
"Luka- senpai, tadi barangnya sudah kan? Aku tadi pulang, badanku tak enak sekali. Maaf ya." Dia membungkukkan badan, aku jadi salah tingkah.
"I-ie~, tak apa~ semoga cepat sembuh, Miku-chan"
"Memang barang apa, sih kak? Kok terlihat mencurigakan sekali." Rin menyolot.
"Mau tau saja kau. Sekarang, aku harus apa, huh?" Bisikku di telinganya.
Rin tersenyum kecil, "Malam ini kita bantu- bantu sedikit ^o^/"
Sambil memberi kode pada Miku, lalu menggeretku, ke belakang rumah Miki, dimana ada taman yang luas…, hm, rumah Miku tembus depan- belakang.
Di seberangnya ada rumah kecil, yang terang, itu panti asuhan Himawari, milik keluarga Hatsune.
"Wah, kalian datang."
Suara ini….sudah kuduga, kutoleh belakang, terlihat sosok lelaki yang mirip dengan Miku- chan.
"Ada ketua kelas juga?"
Mikuo Hatsune, kakak Miku, teman sekelasku!
"Tak kusangka, mantan yankee ini ikutan juga, huh." Ujarnya dengan berpose semi- dramatis. Wekh, dia ini lelaki paling menyebalkan kedua disekolah setelah Gakupo. Oh, ralat, ketiga karena Kiyo- sensei yang nomer satu. Dia mantan anak buahku waktu SMP—atau bisa disebut wakilku. Oh, nostalgia ini membuat mukaku semerah udang rebus.
Rin? Adikku itu sudah lari duluan ke Himawari. Terlihat banyak anak- anak kecil yang mengerubutinya. Eh, tunggu..
"Hei, penghuninya berkurang ya? Kok tambah sedikit?" Tanyaku pada Mikuo.
"Hn. Banyak yang sudah diadopsi, ayah dan ibu bilang, ini kemajuan, tapi bagi kami, ini buruk, habis, rumah jadi sepi tanpa mereka." Mikuo melipat tangan. Kuharap dia bukan pedo…==''
"Miku sakit, ya?"
"Iyalah, kau sudah lihat, kan? Lalu Rin meneleponnya, dan bilang akan bantu-bantu malam ini"
"Kemana ayah dan ibumu?"
"Ke rumah nenek di Hokkaido. Nenek sakit"
"Musim sakit…" Gumamku. Aku segera menyusul ke Himawari. Begitu masuk, anak- anak 'dibawah umur' berebut memelukku. Aku tersenyum senang. Hangatnya..^^
Aku memperhatikan benang- benang merah yang terikat di jari kelingking mereka, ya..aku telah melihatnya sejak kecil…dan ketika aku kecil, aku tak pernah memikirkan sesuatu sampai seperti ini…layaknya kalian…
Saat aku merasa sedikit tenang dari pikiran- pikiran ngacoku hari ini, mataku tiba- tiba terbelalak, jantungku hampir saja loncot bila aku tak berhasil menahannya *lebai*
…
"Wa~ sensei dataa~ng~"
"Yeee~ ayo kita belajal lagi~"
Aku melihat sosok lelaki itu, dengan tegang.
Kiyoteru-sensei!
.
.
.
+TO BE CONTINUED+
