Chapter 2 ― Sinful Life

Kuroshitsuji

©Yana Toboso/ Square Enix

Rated : T for now, maybe changing later

Genre : Hurt/comfort, dark, little bit romance (I hope so)

Warn! Typo(s), OOC, slash (boyxboy), messed up modified canon, complicated scenes (and author), still learning author, and etc.

Summary : Kematian bukanlah akhir. Kisah ini masih berlanjut. Sampai jasadnya hancur tak berbentuk. Sampai mahkotanya jatuh. Sampai singgasananya habis dimakan waktu.

.

.

.


Public school: Weston adalah sekolah ternama tempat anak-anak bangsawan dari seluruh Britania mencari ilmu sekaligus tinggal bersama. Sekolah ini dikuasai oleh peraturan dan tradisi. Tradisi hukumnya absolut disini. Semua keputusan dipegang oleh kepala sekolah. Sekolah ini sangat tertutup dan tidak mengizinkan intervensi pemerintah, sehingga yang pernah bertemu dengan beliau hanyalah wakil kepala sekolah dan empat orang prefek dari empat asrama ―Green Lion, Sapphire Owl, Scarlet Fox, dan Violet Wolf― yang diberi wewenang untuk membantu mengatur sekolah ini.

Semua kegiatan di sekolah ini diatur dengan bunyi lonceng. Mulai dari bangun tidur, morning tea, sekolah, sarapan, dan... waktu fag.

Fag adalah salah satu tradisi khusus di Public School: Weston. Yaitu keadaan dimana murid junior membantu murid senior tertentu, seperti membersihkan kamar, menyetrika baju, dll. Dengan kata lain menjadi butler mereka. Hanya saja murid senior harus menjaga murid yang lebih junior.

Ciel bersama Sebastian menyusup ke sekolah ini sebagai murid dan supervisor ―guru yang mengajar semua bidang― asrama Sapphire Owl. Tujuan mereka untuk saat ini adalah bertemu dengan kepala sekolah. Cara satu-satunya yaitu dengan menjadi fag prefek sehingga ia dapat mengikuti 'pesta minum teh tengah malam' yang diadakan kepala sekolah bersama dengan para prefek.

Ciel mengernyitkan keningnya. Manik matanya memperhatikan sekeliling. Ruangan yang luas dengan langit-langit yang tinggi. Dari atas terjuntai lampu gantung sederhana. Di tiap sisi dindingnya menempel almari dengan buku yang tersusun rapi. Ditengahnya berderet meja-meja yang berantakan sisa sarapan murid-murid dari asrama yang sama dengannya, Sapphire Owl atau yang lebih dikenal dengan blue house. Dan sialnya, belum apa-apa dia harus terjebak disini untuk membereskan semua kekacauan ini pada waktu fag hanya karena dia belum mendapatkan senior pembimbing. Ini pasti akan merepotkan.

"Sebastian...," bisik Ciel.

Ciel membuka penutup mata, memperlihatkan simbol kontraknya dengan Sebastian yang terukir di bola mata kanan. Kurang dari sedetik, Sebastian telah muncul disampingnya.

"Bagaimana dengan Derek Arden?"

"Saya telah memeriksa daftar murid, dan namanya terdaftar di asrama Violet Wolf." lapor Sebastian. Dia menyerahkan lembaran kertas berisi daftar murid di sekolah ini.

"Violet Wolf? Purple House? Bukankah seharusnya dia berada di Red House?" ucap Ciel. Pangkal alisnya mengernyit heran. Ciel melihat satu persatu nama yang tercetak disana.

"Ini aneh." lirih Ciel.

"Aku akan ke Purple House. Seharusnya saat ini dia ada disana. Dan sebastian, bereskan semua kekacauan ini"

oOo

Asrama Violet Wolf (Purple House)

"Penampakan yang luar biasa" decak Ciel, "benar-benar tempat bagi murid-murid yang jenius dalam seni." lanjutnya lagi. Kakiny melangkah pelan memasuki asrama Violet Wolf.

Didepannya berdiri kokoh bangunan megah berarsitektur unik. Bentuk bangunannya seperti berasal dari tulisan para novelis tentang penyihir. Semak belukar memagari tiap sisi jalan, dihiasi beberapa lentera yang tak kalah unik ―karena digantung seperti lampion― disusun sedikit acak untuk menerangi jalan menuju hanya berupa jeruji dengan ujung tajam, dihiasi beberapa dekorasi sederhana sedangkan di tiap sisi gerbang terdapat patung serigala. Emblem asrama mereka ditopang besi berbentuk setengah lingkaran, mulai dari sisi gerbang sampai sisi yang satunya lagi.

Ciel menatap keadaan asrama yang seperti kosong tak berpenghuni. Dari ekor matanya, ia bisa melihat beberapa gagak yang bertengger di dekat patung serigala di gerbang masuk. Sepertinya ia benar-benar disambut dengan hangat ya.

Bisa ia rasakan ada banyak bola mata menatapnya tidak suka dari balik semak-semak. Sepertinya ada lebih dari tiga puluh murid. Hampir semua dari mereka memakai mantel dengan hood terpasang hingga menutupi sebagian wajah mereka.

"Orang luar."

"Lencananya Blue House."

Ciel bisa mendengar seruan samar dari murid-murid itu. Tapi fokusnya lebih terarah pada pemuda di depannya yang sedang menuruni tangga. Pemuda berpenampilan aneh ―sebenarnya tidak juga mengingat ini Purple House― dengan banyak tindikan ditelinganya. Tapi bukan hal itu yang membuatnya menjadi fokus Ciel, tapi bunga Dahlia yang tersemat pada lubang kancing jasnya.

Prefek atau fag prefek?

"Ada perlu apa kutu buku datang ke Purple House? Disini bukan tempat untuk orang-orang yang hobi belajar." ucapnya sarkatis. Ciel mengernyitkan keningnya tidak kentara. Sepertinya fag perefek ―batin Ciel.

"Benar."

"Keluar. Murid asrama lain keluar saja."

"Betul. Keluar sana."

Ciel mendengar seruan-seruan semua murid asrama Violet Wolf membentuk koor secara serentak. Batu-batu kecil tak luput dilemparkan oleh mereka ke arah Ciel, memaksa Ciel untuk segera melangkahkan kakinya dari wilayah mereka. Ciel berusaha menutupi wajahnya dari lemparan batu-batu tersebut sambil melangkah pergi dari Purple House. Ia tidak ingin memancing masalah. Ia masih harus mencari tahu sesuatu dulu, bukan?

oOo

Asrama Sapphire Owl (Blue House)

Ciel menghela nafas sebelum memelangkahkan kakinya masuk ke dalam asramanya. Asrama dengan bangunan megah berarsitektur umum. Gerbangnya berupa jeruji dengan dengan ujung besi yang melengkung membentuk setengah lingkaran. Disampingnya dibangun pilar beton. Tak terputus hingga ke sisi yang satu lagi membentuk persegi. Di puncak pilar itu, emblem asramanya berdiri kokoh didampingi patung burung hantu dikedua sisinya.

Ciel menaikkan sebelah alisnya heran melihat kerumunan murid-murid di depan ruang makan asrama mereka.

"PHANTOMHIVE!"

"Ya, kak Clayton?" Ciel sedikit tersentak saat pemuda berkacamata dengan poni sedikit klimis memanggil namanya dengan keras. Pemuda itu menghampirinya.

"Aku jarang memuji orang. Tapi, hanya sekali ini saja, aku memujimu!"

"Huh" Ciel mengalihkan tubuhnya ke arah yang ditunjukkan pemuda itu.

"Aku sampai tidak mengenali ruang makan kita yang kun― maksudku memiliki nilai sejarah ini, Phantomhive."

Ciel mengangkat sebelah alisnya ketika melihat ruang makan asrama Sapphire Owl yang awalnya sangat berantakan menjadi sangat bersih. Bahkan ia sampai bisa melihat semua perabotan yang berada disana berkilauan. Sebastian terlalu berlebihan ―batin Ciel.

"Kau sangat hebat, Phantomhive." ujar Clayton lagi pada dirinya.

Ciel menatap senior seasramanya yang masih menatap kagum hasil kerjanya ―sebenarnya hasil kerja Sebastian. Fokusnya beralih pada bunga Genitian yang disematkan pada lubang kancing jas pemuda itu. Kedua sisi bibirnya tertarik ke samping.

"Aku senang kakak menyukainya. Sebenarnya aku sangat pandai mengerjakan pekerjaan rumah tangga." Ciel berujar dengan senyuman kecil tersungging di wajahnya.

"Bilang saja padaku kalau ada apa-apa, kak Clayton."

.oOo

"P-p-phantomhive, kak Cole memanggilmu"

Seorang pemuda yang tak begitu Ciel kenal tapi ia ketahui sebagai sesama anggota seangkatan di asrama Sapphire Owl menghampirinya.

"Eeh!? Kak Cole!?" pekik Macmillan, teman seasrama dan sekamar Ciel yang tadi tengah mengobrol dengannya.

"Siapa dia?" tanya Ciel heran.

"Kau nggak tahu? Dia itu fag prefek asrama Scarlet Fox." ujar Macmillan bersemangat.

"Dan dia juga pria tercantik di sekolah ini. Dimana kau mengenalnya?" sambung pemuda tadi tak kalah semangat. Wajah mereka memerah, entah karena terlalu antusias atau teringat feromon murid yang bernama Cole itu, atau bahkan gabungan dari kedua hal tersebut, Ciel tidak mempedulikannya.

"Well, aku belum pernah bertemu dengannya,"

"Sudahlah! Cepat pergi sana!" potong mereka berdua sambil mendorong tubuh Ciel ke arah pemuda itu. Ciel pun mau tidak mau berjalan ke arah Cole.

Disamping jendela koridor, Ciel melihat seorang pemuda bersurai ikal berdiri menghadap keluar. Helai-helai surainya berwarna keemasan tertimpa cahaya mentari. Seakan menyadari kehadirannya yang hanya beberapa langkah dibelakang, pemuda itu membalikkan tubuhnya agar bisa melihat pemuda bersurai kelabu itu lebih jelas.

"Ah, kau Phantomhive ya?" dia tersenyum lebar, "Senang bertemu denganmu! Namaku Maurice Cole, fag kak Redmond dari Red House"

"Ya, aku Ciel Phantomhive," ujar Ciel. Ia sedikit mendongak dikarenakan senior ―kalau tak salah ingat murid tahun kedua Red House sekaligus fag prefek― itu mempunyai tubuh yang jauh lebih tinggi dari dirinya. Cole manatapnya dari atas hingga bawah, seakan-akan tengah menilai Ciel.

"Ada perlu apa, ya?" lanjut Ciel lagi jengah ditatap seperti itu oleh Cole.

"Ah, ya! Hampir saja lupa. Sebenarnya, prefek dan fag prefek sering berkumpul di Swan Gazebo. Lalu kami mebicarakan seorang murid baru yang sangat hebat."

"Hah!?"

"Iya. Seorang earl yang senang melakukan pekerjaan rumah, dan kabarnya lagi dia salah satu penumpang di kapal pesiar mewah Campania yang tenggelam itu. Dan kami... memutuskan ingin mengobrol dengan anak itu." jelas Cole panjang lebar.

"Karena itu, Phantomhive, bisakah kau datang ke Swan Gazebo?"

Ciel membulatkan matanya walau tidak kentara, sebelum keterkejutan itu ditutupi dengan seulas senyuman kecil dan ekspresi innocent di wajah manisnya

"Tentu. Dengan senang hati."

Cole tersenyum manis ketika mendengar jawaban Ciel.

"Benarkah? Kalau begitu kami tunggu besok sore, jam 4"

oOo

Esok sore

Swan Gazebo adalah tempat berkumpulnya prefek dari masing-masing asrama beserta fag-nya. Letaknya disamping sungai, sedikit jauh dari asrama manapun sehingga akses masuknya sulit, terutama bagi para murid biasa. Arsitekturnya sangat mewah, berbentuk pentagon tanpa dinding. Atapnya berbentuk kubah yang mengerucut ke atas ditopang dengan pilar-pilar yang berada di tiap titik pentagon, sedangkan di puncak atap terdapat patung angsa. Semerbak harum bunga memenuhi tempat itu karena tanaman-tanaman, khususnya mawar, tumbuh disekeliling gazebo itu. Pohon-pohon yang berada disana disusun apik, menambah kesan teduh dan asri. Beberapa kanal juga diikat di tepi dermaga, sebagai fasilitas untuk menikmati keindahan di tempat itu.

Tapi semua keindahan itu tidak sedikit pun membuat Ciel mampu mengurangi keheranan atau sekedar mengurangi tanda tanya yang ada dibenaknya. Didepannya telah berdiri para prefek dan fag dengan wajah penuh kekesalan. Tatapan tajam mereka diarahkan kepada Ciel, sedangkan aura tidak mengenakkan menguar disekeliling mereka.

"Kau terlambat dua jam, Ciel." ucap Clayton penuh tekanan. Intonasinya tinggi, kentara dia sangat kesal dan tidak berencana menutupinya.

"Bu, bukankah aku diminta datang jam 4?"

"Hee? Jelas-jelas aku menyuruhmu datang jam 2, Phantomhive." Ciel mengeraskan rahangnya hingga gigi-giginya saling berbenturan menimbulkan gemeletuk samar. Sebelah tangannya mengenggam erat keranjang anyaman berisi kudapan manis ―seharusnya diberikan sebagai hadiah― yang dipegangnya sedari tadi. Ia tahu, walaupun beradu argumentasi, mereka tidak akan mendengarkan ataupun percaya padanya. Dengan penuh kekesalan dia membalikkan badannya, memilih untuk pergi dari gazebo tersebut dan menyusun rencana untuk membuktikan bahwa dia tidak bersalah.

Kaki-kaki mungilnya melangkah cepat, secepat yang ia bisa. Bola mata birunya melirik Cole yang tengah tersenyum penuh kemenangan di dinding gazebo. Hanya untuk sesaat Ciel menatapnya dingin. Hanya dalam sedetik bola mata itu berpendar kemerahan.

"Aku akan membuatmu menyesal, Maurice Cole."

.

.

.

Chapter 2 fin


a/n :: Hahaa.., gak kerasa udah 3 bulan semenjak saya mempublis fict ini. Saya tahu saya sangat lama, tapi saya sudah bilang saya paling nggak bisa update cepat karena kemarin ada masalah dengan internet, dan sekarang saya harus siap-siap untuk ospek #sigh

Dalam chapter ini, saya mengambil scene dari manga-nya, tapi chapter depan saya akan mulai membelokkan scene-nya sedikit demi sedikit dan mengarahkannya ke plot yang saya buat. Mungkin fict ini akan sedikit lambat (khususnya ketika update), tapi saya harap kalian tetap menikmatinya.

Terimakasih untuk semuanya yang sudah menyempatkan diri me-review fict saya, saya sangat senang mendapati hasil imajinasi saya mendapatkan apresiasi dari kalian semua. Arigatouuu~ . Ini ada balasan untuk reviewer non-login :)

Ciel Michaelis : Saya juga selalu berusaha terlepas dari typo(s), tapi yaaaah~ memang sulit. Ketika saya menulisnya, saya juga merasa bagian itu terkesan monoton. Tapi saya tetap menulisnya karena ketika saya mencoba tanpa kata-kata itu, kalimat yang saya buat jadi rancu. Tapi ketika anda me-review, saya mengeceknya lagi, dan memang ada beberapa yang dapat dihilangkan, hehee... Sankyu sudah mengingatkan. Semoga kamu juga suka chapter ini ^^

Vincent Lawrence : Hai, hai, arigatou Vincent-san. Saya rasa chapter yang ini pun mudah diikuti (lol), dinikmati yaaa~

Cieru cherry : Terimakasih~ ini sudah lanjut kan :)

Terimakasih juga yang sudah menyempatkan diri login sebelum me-review,

nana-chan love naruto/fetwelve/Ayumi Ryu Chiharu/RaFa LLight S.N/Kim Victoria

Arigatouuu~

Sampai jumpa di chapter selanjutnya ^^ (atau fict yang lain hahaa~ #plakk)

Sign, Rin-ku