Disclaimer : Riichiro Inagaki dan Yusuke Murata
Hola Minna-san! I'm back! Maaf ya, jadwal update-nya telat sehari. Abis sekalian nyelesein bahan artikel sih! Gomen!!
Hiruma : "Oi, author sialan! Cepetan mulai ceritanya!"
Kuchi : "Bentar dong! Sabar dikit napa! Gomen banget karena telat sehari update-
nya!"
Hiruma : "Dasar author pemalas!"
Kuchi : "He?"
Hiruma : "Cepetan mulai!"
Kuchi : "Okey, akhir kata, Selamat membaca!"
Last Chapter :
Mamori kini sudah menggenggam lengan Hiruma erat-erat.
"Hiruma-kun…" Panggil Mamori takut-takut.
"Hm?"
Tiba-tiba sebuah tangan menggapai pundak kanan Mamori.
"AAAAAAAAAAAHHHHHHHHHH!!!!!!!!!!!!!"
HANTU?
"Oi, kau ini kenapa sih, manajer sialan?" Tanya Hiruma sambil menutup telinganya dengan kedua tangannya.
"Ta–tadi ada yang memegang pundak kananku," Jawab Mamori takut-takut.
"Keh, mungkin hantu itu ingin membawamu ke dunia sana. Kekekeke."
"Mou, Hiruma-kun! Itu tidak lucu!"
Hening…
"Oi, manajer sialan!"
"Hm?"
"Lepaskan tangan sialanmu ini dari lenganku!" Perintah Hiruma.
"Eh?" Mamori baru menyadari bahwa tangannya menggenggam lengan Hiruma erat-erat.
"Eh…Gomen, Hiruma-kun." Ucap Mamori sambil melepaskan genggamannya dengan muka merah.
"Tch."
……………….
……………….
……………….
AAAAAAAAAAAAUUUUUUUUUUU!!!!!
……………….
……………….
……………….
"A–Apa itu?" Tanya Mamori takut-takut.
"Tch. Sejak kapan ada anjing serigala di sekitar sini?" Gumam Hiruma heran.
"AAAAAHHH!!!" Teriak Mamori tiba-tiba.
"Oi, manajer sialan! Jangan berteriak dengan tiba-tiba begitu. Ada apa sih?"
"Ka–kau…tidak melihat bayangan pu–putih yang barusan lewat di depan pintu…??" Tanya Mamori dengan wajah berkeringat.
"He? Bayangan putih?" Tanya Hiruma sambil mengernyitkan dahi.
………………
………………
………………
Bantu aku…
………………
……………...
………………
"Hi–Hiruma-kun… Suara itu…"
"Tch. Hantu itu lagi ya," Gumam Hiruma.
"La–lalu apa yang akan kita lakukan?" Tanya Mamori. Dia sudah berharap matahari cepat-cepat menampakkan sinarnya. Sayang, sekarang baru jam 2 pagi.
"Kau pikir apa yang bisa kita lakukan? Selama hantu itu tidak menghampiri kita, setidaknya kita aman."
"Itu jika dia tidak menghampiri kita, jika dia menghampiri kita?" Tanya Mamori dengan wajah amat sangat ketakutan. Baru mendengar suaranya saja sudah membuat tubuh panas dingin begini, apalagi jika dia menghampiri kita.
Hiruma memandang Mamori dengan wajah heran. "Lama-lama pertanyaanmu tambah tidak masuk akal. Sebaiknya sekarang kau tidur saja." Perintah Hiruma. Mamori menggeleng.
"He?" Hiruma tambah heran.
"Kalau saat aku tidur hantu itu membawaku bagaimana?" Tanya Mamori lagi.
"Oi, manajer sialan! Ternyata tidak makan kue sus selama 8 jam bisa membuat otakmu kacau, ya! Kekekeke."
"Mou, ini tidak ada hubungannya dengan kue sus, tau!"
PRAK!
Hiruma dan Mamori kontan mengarahkan pandangan mereka ke arah jendela kelas. Aneh, kaca itu retak dengan tiba-tiba.
"Hi–Hiruma-kun? Ka–Kau tahu apa artinya ini?"
"Kita harus mengganti kaca jendela yang retak." Jawab Hiruma santai.
"Bukan! Kaca jendela yang retak tiba-tiba itu pertanda buruk,"
"Kau pikir–"
………………..
………………..
……………….
Aku tidak mengambilnya…
……………….
……………….
……………….
"Heh, mengambil apa?" Tanya Hiruma pada Mamori.
"Aku tidak mengambil apa-apa, baka! Itu bukan suaraku!" Mamori yang sedari tadi ketakutan, sekarang malah merasa kesal.
"Hey, apa ada yang ingin kau sampaikan?" Tanya Mamori dengan suara lantang.
"Aku tidak ingin menyampaikan apapun, manajer sialan! Kekekeke." Jawab Hiruma.
"Mou, Hiruma-kun! Aku mencoba untuk berkomunikasi dengan hantu itu!"
………………
………………
………………
Aku tidak mengambil uang itu…
………………
………………
………………
"Apa kau dituduh oleh seseorang?" Tanya Mamori sambil memandang ke langit-langit.
Cih, sifat keibuannya keluar. Pikir Hiruma.
………………
………………
………………
Sahabatku menuduhku…
………………
………………
………………
"Sudahlah, kau sudah mengatakannya. Aku percaya padamu, pergilah ke alam baka." Ujar Mamori sambil tersenyum.
………………
………………
………………
Terima kasih…Selama ini…tak ada yang mempercayaiku…Terima kasih…
………………
………………
………………
"Sama-sama." Jawab Mamori.
"Oi, manajer sialan! Padahal dari tadi kau ketakutan setengah mati, kenapa sekarang kau tenang sekali?"
"Karena setidaknya aku tahu bahwa hantu itu tidak akan membawaku ke dunia sana."
"Tch. Apa kau tidak merasa heran?" Tanya Hiruma.
"Heran kenapa?"
"Siapa yang membuatmu kesini?"
"Eh, Suzuna-chan yang bilang bahwa aku ditunggu teman-temanku disini,"
"Tch. Pasti ini ulah cheerleader sialan itu."
"Suzuna-chan?"
"Dia pasti yang mengurung kita disini, membuat suara-suara menakutkan, membuat kaca retak, dan berpikir bahwa hantu itu ada." Jelas Hiruma panjang lebar.
"Iya juga. Kenapa aku tidak menduganya ya?" Gumam Mamori.
"Selain itu, Sena tiba-tiba meminjam handphone-ku dan berlari entah kemana," lanjut Mamori.
"Entah kenapa pintu menuju ke atap dikunci dan aku terpaksa mengerjakan pekerjaanku di kelas sialan ini." Sambung Hiruma.
"Jadi ini semua ulah mereka!"
"Keh, akan kuberi pelajaran pada mereka nanti." Gumam Hiruma.
"Hoamh… Sekarang masih jam 3 pagi. Yah, setelah tahu bahwa ini ulah mereka, aku bisa tertidur dengan nyenyak." Ujar Mamori.
"Kekekeke. Seorang anggota komite disiplin ketakutan setengah mati oleh hantu imitasi. Ini akan jadi bahan menarik untuk buku ancaman. Kekekeke."
"Mou, Hiruma-kun! Diam! Aku mencoba untuk tidur!" Gerutu Mamori sambil menyandarkan kepalanya di atas meja dengan bantalan tangannya. Belum sampai 5 menit, Mamori sudah tertidur dengan lelap.
"Kekekeke. Foto manajer sialan yang sedang tidur juga bahan buku ancaman yang bagus. Kekekeke." Hiruma lalu mengeluarkan kamera dari tasnya dan memulai memotret. Setelah merasa cukup dengan 'bahan buku ancamannya', Hiruma juga berusaha untuk tidur. Dia tetaplah seorang manusia, bukan. (Setengahnya setan sih!). Hiruma lalu duduk di belakang bangku yang ditempati Mamori dan mulai berusaha untuk tidur.
"Mimpi indah, manajer sialan. Kekekeke."
THE END
OMAKE :
GRESEK! CEKLIK!
"Apa yang–" Kata-kata Hiruma terputus saat melihat pintu kelas itu tertutup sendiri.
"YA~ Bagus Monta. Mereka sudah terkurung di dalam." Bisik Suzuna pada Monta yang mengunci pintu, dan Sena yang ada disebelahnya.
"Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang, Suzuna?" Tanya Sena sambil berbisik.
"YA~ Tentu saja kita akan pulang. Ayo!" Ajak Suzuna sambil tetap berbisik dan mengajak mereka berdua untuk pulang. Dengan mengendap-endap, mereka keluar gerbang sekolah.
Di perjalanan pulang…
"Ano, apa tidak apa-apa mengunci mereka di kelas?" Tanya Sena khawatir.
"YA~ Tentu saja tidak apa-apa." Jawab Suzuna enteng.
"Lalu bagaimana cara kita mengetahui apakah hantu itu benar-benar ada atau tidak, MAX?" Tanya Monta.
"Kita tinggal menanyakannya pada Mamo-nee. Jika hantu itu benar-benar ada, apa kalian mau berada disana?" Tanya Suzuna.
"HIE, tidak."
"Tidak, MAX!"
"YA~ Kalo begitu kita tinggal tunggu saja besok." Monta dan Sena mengangguk. Suzuna tersenyum licik.
Fufufu…Besok pasti menarik.
FIN
Kuchi : "Wauw, selesai juga akhirnya. Setelah Kuchi baca ulang, rasanya cerita ini
Gaje dan gak ada intinya. Membosankan."
Hiruma : "Emang."
Kuchi : -pundung di pojokan-
Sena : "Ano, Yuu-san. Jadi ternyata itu hantu beneran, ya?"
Kuchi : "Yup! Bener banget. Setelah Kuchi pertimbangin, kalo cuma hantu
bo'ongan sih udah biasa. Jadinya Kuchi jadiin hantu asli deh."
Sena : " Terus lolongan anjing serigala sama kaca retak itu kenapa?"
Kuchi : "Katanya, anjing serigala itu bisa ngeliat hantu. Trus, kaca jendela yang
retak dengan sendirinya itu konon dipake hantu buat media
berkomunikasi." (Katanya).
Sena : "Kok tau sih?"
Kuchi : "Kalo soal anjing serigala sih di sekitar rumah sering kedenger suaranya.
Di komplek Kuchi hampir semuanya melihara anjing serigala. Cuma
rumah Kuchi doang yang nggak."
Hiruma : "Heh, author sialan! Katanya mau bikin siang-siang. Sekarang udah jam
12 malem!"
Kuchi : -ngelirik jam dinding- "HIE?! Udah jam segini? Wah, Kuchi mau buru-
buru kabur nih!"
Hiruma : "Oi, author sialan! Untuk apa sih bikin dialog kayak gini. Kayak ada
yang baca aja."
Kuchi : "Gak tau. Pengin aja."
Hiruma : "Tch. Pindah aja lo ke fandom lain sana!"
Kuchi : "Kuchi emang mau migrasi kok. Bye!"
Akhir kata, good bye! Pada rajin-rajin bikin fic ya! Soalnya Kuchi lebih suka baca daripada bikin. Kuchi juga mau migrasi ke fandom yang sepi kayak Full Metal Panic, Gundam Wing, Vampire Knight, dll. Eh. Kuchi mau nanya :
Penulisan "kananku" itu –ku nya dipisah nggak sih?"
Trus kasih tau ya, yang harusnya dipisah ama nggak itu apa perbedaannya. Kuchi butuh info buat nge-edit artikel yang bakal dimasukkin ke majalah sekolah. Kalo nanya guru Bahasa Indonesia ntar yang ada malah dijelasin panjang lebar dulu.
Akhirnya, Good Bye!! Tinggalin review- ya!! Oh iya. Kuchi dapet ide ini pas baca ulang komik Yurara's Moon. Ada yang tahu?
Oh ya, anonymous review juga diterima kok! Waktu chap 1 di disable soalnya.
BYE!!!!!!
