Disclaimer : Bleach © Tite Kubo
.
Demons
.
Hoshikawa Mey
.
.
.
Dengusan masam, kerutan permanen.
Tidak perduli seindah apapun bintang menghiasi langit malam di luar, tidak perduli kerlap-kerlip lampu taman menyemarakan keindahan deretan bonsai di taman indah nan luas di Kurosaki mansion—semua hanya sampah. Onggokan tampilan perusak mata yang tidak akan memperbaiki suasana hati.
Kurosaki Ichigo.
Pemuda gagah yang namanya kini tengah naik daun dideretan keluarga Kurosaki berdiri suram di pinggiran teras taman. Beberapa orang sepupu ataupun keluarganya sendiri telah mencoba mengajaknya berbincang beberapa menit lalu, namun mereka menyerah saat tanggapan sinis atau dengusan masam diperoleh sebagai jawaban. Tidak masalah. Seharusnya sejak awal mereka sudah tahu kepribadian Ichigo jauh dari kata menyenangkan, toh—Ichigo sudah tahu kemunculan mereka hanya karena penasaran mengorek informasi bagaimana orang pembangkan seperti dirinya bisa mendapatkan Kuchiki Rukia sebagai menantu keluarga Kurosaki. Mereka hanya iri, mereka ingin mencari celah kelemahan, lalu memperoloknya untuk dipertontonkan. Karena itu—berbincang dengan mereka tidak ada gunanya.
"Hai, Ichigo."
Ichigo memaki pelan, mengutuk kemunculan seorang pria yang ia kenal sebagai salah seorang sepupunya. Entah siapa namanya, Ichigo bahkan tidak ingat. Namun ada satu hal yang tidak disukai Ichigo, karena orang itu adalah salah satu sepupunya yang paling menyebalkan.
"Tidak perlu bersikap seolah tidak melihatku, Sepupu."
Tubuh Ichigo berbalik, menatap arah lain dari pemandangan taman mansion, matanya masih melirik sinis pada orang disampingnya. Terkutuklah pesta bulanan keluarga Kurosaki yang membuanya dipertemukan dengan semua anggota keluarga.
"Kudengar kau baru menikah, aku ingin mengucapkan selamat." pemuda itu tersenyum manis menepuk pundak Ichigo, tidak perduli tatapan si surai orange menusuk sinis. Ichigo tahu pemuda itu tidak akan mudah diusir. "Oh ya, ngomong-ngomong aku belum melihat istrimu. Dan sejak tadi kulihat kau datang sendiri. Apakah kalian bertengkar?"
Nah—benar bukan? Orang ini sungguh menyebalkan.
Kenapa semua orang selalu menanyakan keberadaan istrinya disaat ia bisa melakukan kegiatan sendiri. Memang saat ini adalah acara keluarga, sudah seharusnya Ichigo lebih mengakrabkan perempuan yang baru dinikahinya pada semua anggota keluarga besar. Tapi perlu dicatat, itu bukan kesalahannya. Mereka memang sedang dalam hubungan yang kurang baik, tapi perlu untuk diketahui—mereka masih dalam rutinitas komunikasi yang normal. Meski tidak sama dengan hari-hari sebelum terjadi percekcokan di antara mereka, tetap saja Ichigo sudah dengan terpaksa berbincang dengan istrinya untuk membuat perempuan itu ikut serta dalam acara keluarga Kurosaki. Dan sekali lagi—jangan salahkan dirinya ketika Rukia langsung menolak sopan dengan mengatakan tidak bisa pergi dengan dirinya karena sudah memiliki rencana lain.
Lihat betapa liciknya perempuan itu.
Perempuan kanibal itu mungkin masih dendam pada dirinya dan sengaja membalas dendam, mempermalukan Ichigo dengan tidak ikut mendampingi diacara keluarga perdana Rukia semenjak menjadi seorang menantu keluarga Kurosaki. Oh—jangan dikira Ichigo akan tinggal diam atas perlakuan tidak menyenangkan yang diperolehnya, nanti ada saatnya ia akan buat perhitungan pada Rukia. Nanti. Pasti.
"Oh—ayolah, Ichigo. Ceritakan sesuatu tentang istrimu. Aku bahkan belum pernah melihat wajahnya, apakah dia cant—wow!"
Ichigo bernafas tenang, sedikit lega tampaknya ada hal lain yang mengalihkan perhatian sepupunya dari topik pembicaraan tentang istrinya. Seperti ada sesuatu yang cukup spektakuler, karena beberapa orang sepupunya yang lain bergumam kagum pada objek yang arahnya berlawanan dengan tatapan mata kuning madu Ichigo. Yah—Ichigo tidak terlalu ambil peduli, ia juga tidak berminat dengan semua hal yang menarik perhatian para sepupunya.
"Hei, Ichigo."
Ichigo berdecak pelan, tangan sepupunya terus menarik-narik lengan jasnya. Sepupunya itu seperti tidak bosan mengganggu.
"Apakah perempuan itu akan menjadi calon menantu keluarga Kurosaki berikutnya? Lihat dia, sangat cantik."
Setengah hati badan Ichigo membalik, memfokuskan mata mengikuti arah telunjuk sepupunya mengacung. Awalnya ia tidak terlalu memperhatikan, namun lambat laun irisnya menangkap sesosok perempuan yang duduk di teras taman bersama beberapa orang tetua. Wajah manisnya terus tersenyum dan sesekali tertawa merespon ucapan dari sang tetua, dan ada kalanya di jeda percakapan ia akan menuangkan teh pada cangkir sang tetua. Tampilan perempuan itu begitu sempurna dan berkilau bagi setiap mata memandang. Bahkan keindahan lampu taman yang telah sengaja tertata cantik tenggelam oleh keindahan perempuan itu.
"Uwaa... perempuan itu tersenyum kearah sini, Ichigo." tangan sepupu Ichigo menggapai-gapai mencari lengan Ichigo, namun wajahnya berkerut bingung saat tidak meraih apapun. Matanya melirik kesamping, hanya kosong yang menunjukkan bahwa ia sedang berdiri sendiri. "Lho, kemana Ichigo pergi?"
.
.
.
Air kolam pemandian air panas sedikit beriak, memunculkan gelombang kecil ketika airnya yang mengepulkan uap hangat dimasuki oleh badan Ichigo.
Pemuda itu menyandarkan diri pada batuan kolam, mencari posisi ternyaman untuk mengistirahatkan sejenak isi kepala karena terlalu banyak dipenuhi pemikiran yang membuatnya berdenyut menyakitkan. Sejak menikah, ia begitu berlebihan mempekerjakan otaknya akhir-akhir ini. Apakah seharusnya ia tidak memilih jalan pintas dengan menikahi putri bangsawan Kuchiki untuk membuatnya dihargai anggota keluarga lain? Tapi—kalau ia tidak melakukannya, tentu ia masih akan dipandang hina oleh yang lain. Lahir dari ibu seorang Kurosaki dan ayah seorang Shiba, tapi malah mendapat gelar kehormatan marga Kurosaki. Bayangkan bagaimana tidak cemburunya para anggota keluarga lain yang sudah susah payah melahirkan keturunan laki-laki Kurosaki demi mendapatkan nama. Hanya karena Kurosaki Masaki putri kesayangan di keluarga Kurosaki, hanya karena Kurosaki Ichigo seorang laki-laki, selebihnya tidak ada hal yang seharusnya bisa membuat Ichigo menjadi seorang Kurosaki. Karena itu dia dibenci, anggota keluarganya sendiri yang membuatnya menjadi manusia tidak memiliki tata krama seperti sekarang.
"Bukankah acara belum selesai sama sekali."
Ichigo tersentak terkejut, kepalanya mendongak mendapati seorang perempuan duduk manis di samping pinggiran batu kolam tempat Ichigo bersandar. Perempuan itu tidak lagi terbalut kimono indah seperti beberapa menit lalu, kini hanya mengenakan yukata sederhana dengan membawa nampan berisi sake berserta cawan.
"Kau tampaknya menikmati berbicara dengan para tetua," tubuh Ichigo bergerak santai, lebih memilih mengalihkan padangan kearah sisi lain kolam ketimbang menatap kembali perempuan disampingnya. Meski tidak melirik, ia tahu perempuan itu tengah tersenyum saat sedang menuangkan sake.
"Bukankah aku harus terlihat mengagumkan di hadapan keluargamu?" tangan perempuan itu menyerahkan cawan kecil terisi yang langsung di sambut Ichigo. "Semua orang akan berkata istri Kurosaki Ichigo mengesankan, lalu mereka mulai berpikir bagaiman seorang Kurosaki Ichigo mendapatkan istri sehebat itu. Bukankah yang seperti itu akan membuat namamu tampak hebat? Benar bukan?"
Mendengus kasar, dalam satu tegukan sake habis. Dahi Ichigo menyerinyit kecil saat nuansa alkohol merangsa indra. "Tampaknya kau pandai bermain peran."
"Aku hanya mencoba menikmati. Mau tambah lagi?"
Tangan Ichigo mengulurkan cawan kosong, menunggu untuk diisi kembali. Namun mendadak telapak tangannya merasakan sensasi lembut menyentuh permukaan kulit. Cawan kosong terabaikan, tergantikan oleh tangan perempuan bersurai hitam yang menyentuh jejak garis luka pada tangannya.
"Apakah masih sakit?"
Tidak ada jawaban. Entah karena sake atau karena uap air kolam yang hangat, sentuhan pada kulit Ichigo memberikan stimulus yang berbeda padanya. Karena itu tanpa peringatan, dalam satu tarikan perempuan yang berada di pinggiran kolam ikut masuk bergabung menikmati hangatnya air kolam tanpa harus repot-repot melepas yukata.
"Ichigo?"
"Abaikan tetang itu," tangan Ichigo meraih pinggang mungil milik perempuan itu, menciptakan kontak lebih dekat hingga nafas mereka berhembus dalam jarak yang dekat. "Sekarang aku yang lebih ingin tahu, apakah kau—masih sakit?"
Perempuan itu mengulum senyum. Kata 'sakit' yang mereka sebut masing-masing memiliki arti yang berbeda, namun ia tahu 'sakit' yang suaminya maksud jauh lebih menjadi fokus utama untuk mereka bahas. "Kau menginginkan tubuhku?"
"Karena kau yang merayuku."
Senyum penuh arti terkembang dari pemilik surai hitam, matanya terus mengerjap menampilkan iris violet yang menyimpan nafsu yang sama. "Bukankah ini pemandian campur di rumahmu? Bagaimana kalau ada anggota keluarga Kurosaki yang memilih beristirahat lebih dulu dan masuk kesini?"
Tahu bahwa iris mata istrinya juga memancarkan kilatan yang sama, Ichigo tidak membuang banyak waktu. Percakapan hanya membuat waktu terulur sia-sia. Karena itu tangannya tanpa harus dikomandoi sudah meraih gundukan halus di depan dada istrinya lewat celah yukata yang tersingkap. "Tampaknya kau sudah lupa, Rukia. Kita masih punya tugas yang jauh lebih penting, memberi mereka pewaris."
Mata Rukia mengerjap, menerima sensai nikmat dari perlakuan suaminya. Bibirnya sudah mengeluarkan desahan kecil hasil respon tangan-tangan terampil menjamah tubuh. "Jadi—jika aku menolakmu sekarang, apakah kau akan mencari perempuan lain untuk menggantikanku."
Surai orange itu menggeleng, sedikit menggelitik tengkuk saat menyeruak ke persimpangan leher Rukia. Tangan Ichigo kini jauh lebih gigih menyingkap yukata di dalam air, menjelajahi baigan tersensitif milik istrinya. Ada rasa bangga saat perempuan itu terkesiap kecil dan mencengkram lengannya lebih ketat. "Kau tidak akan menolakku, Rukia. Kau adalah istri yang penurut."
"Lalu—" Rukia terkesiap, pahanya telah dibuka dengan lebar, celana dalamnya juga sudah dirampas sejak tadi. "—kenapa kau masih bertanya meskipun sudah tahu—ahhm."
Nafas Rukia tertahan, mengetatkan cengkraman pada lengan Ichigo, ia butuh peganggan sebelum berlangsung menjadi lebih gila bersama suaminya yang kini makin menenggelamkan wajah pada persimpangan lehernya. Ada geraman halus dari bibir pemuda itu sebelumnya, Rukia tahu bahwa pemuda itu juga sedang merasa sensasi luar biasa dari penyatuan mereka.
"Kau tahu, kau terlalu banyak bicara."
Rukia tertawa ringan meski nafas tidak beraturan, mulai mengikuti irama hentakan pinggul suaminya. "Kalau begitu, buatlah aku menjeritkan namamu."
Kepala Ichigo tidak lagi berada di persimpangan leher, kini mata mereka tengah beradu dengan kilatan penuh nafsu. Apakah ini tantangan baginya? Kalau memang benar, Ichigo tidak lagi menyia-nyiakan waktu. Mengambil irama menggila dan membungkam bibir istrinya ketika desahan semakin terdengar liar. Menikmati suasana uap air yang kian memanaskan gairah.
.
.
.
"Hei, apakah kalian tahu? Sepupu kita kemarin datang sendiri?" percakapan ringan sebagai awal pagi anggota keluarga Kurosaki. Mereka bisa saja memuji, atau bahkan merendahkan salah satu anggota keluarga mereka, sayang nyatanya mereka tidak perduli. Selagi semua informasi masih layak dan terbilang menyenangkan untuk dibicarakan, mereka akan tetap melanjutkan meski terkadang akan menyakiti perasaan orang lain. Terlebih lagi yang mereka bicarakan adalah sepepu tercinta mereka, Kurosaki Ichigo.
"Ah, benarkah?" salah satu menyahuti. "Pantas saja dia kembali lebih cepat ke kamar tadi malam. Apakah dia malu pada kita?" lanjutnya dengan tawa puas.
"Kasihan sekali. Kalau bukan karena sikapnya yang kasar pada istri, bisa saja wajah istrinya yang dipilihkan Genryu-ji sangat jelek. Makanya dia tidak bisa membawa istrinya di hadapan kita."
"Tapi kudengar dari ayahku yang menghadiri pernikahannya, istrinya adalah seorang Kuchiki. Kalian pernah lihat Kuchiki Byakuya kan? Mana mungkin wajah anggota keluarga Kuchiki jelek."
"Bagaimana menurutmu, bukankah kau kemarin datang di acara pernikahan Ichigo?"
Yang ditanyai menggeleng, membalas tatapan penuh tanya dari wajah-wajah Kurosaki. "Wajah istrinya ditutupi, aku tidak bisa melihat dengan jelas."
"Kenapa kalian tidak mendatangi kamarnya saja. Istrinya sudah tiba disini kemarin sore."
Wajah-wajah penuh rasa penasaran berubah memucat mendengar suara serak khas yang begitu mereka kenal sejak dilahirkan di dunia. Tentu saja, bahkan hampir banyak orang mengenali pemilik suara itu karena orang itu adalah tetua yang paling dihormati di keluarga Kurosaki, Kurosaki Genryusai.
Tampaknya tidak baik melanjutkan pembicaraan pagi. Walau sang tetua sudah tahu dengan kebiasaan cucu-cucunya, tapi sebagai generasi pewaris tidak sepantasnya mereka memperbincangkan rumah tangga sepupu mereka di hadapan sang tetua. Kembali pada sikap sopan dan penuh tata krama satu per satu anggota keluarga Kurosaki duduk memenuhi meja makan tanpa ada lagi percakapan yang di lontarkan. Mereka malu karena ketahuan berbicara buruk, tapi mereka tidak menyesal. Itulah buruknya mereka.
Sang tetua—Kurosaki Genryusai berdehem keras, tampak sengaja untuk memperlihatkan kharismanya. Matanya memandang satu per satu wajah generasi pewarisnya, mencari sosok yang ingin dilihat. "Mana Ichigo?"
Pertanyaan dari sang tetua membuat yang lainmencibir. Alasan kenapa Kurosaki Ichigo menjadi yang paling dibenci diantara semua deretan pewaris, karena pemuda itu layak mendapatkannya. Seberapapun tak pantasnya pemuda itu menjadi pewaris, sang tetua tetap menjadi orang yang paling menyayangi dan pelindung pemuda tidak tahu sopan santun itu. Meski pemuda itu tidak pernah tahu karena kurangnya rasa peka atau memang tidak perduli, tapi anggota keluarga yang lain cukup sadar dengan gelagat pilih kasih dari sang tetua. Buktinya saja diantara semua pewaris, hanya Ichigo yang dipilihkan calon istri yang terbaik dari keluarga bangsawan terkemuka.
"Ahh.. mungkin dia kurang sehat, Genryu-ji. Aku lihat dia kembali lebih awal ke kamarnya tadi malam." salah seorang menyahut. "Dan—kenapa Genryu-ji sarapan pagi disini? Bukankah pelayan sudah menyiapkan sarapan untuk Genryu-ji di ruang makan utama?"
"Aku bosan sarapan dengan orang tua kalian. Sesekali aku ingin melihat wajah menantu keluarga ini."
Semua orang yang ada di meja makan tersenyum, terlebih lagi mereka yang sudah memiliki pasangan. Pasangan adalah sebagai modal utama untuk bersaing, semakin berada ataupun semakin berbudipekerti yang baik maka akan semakin menyanjung nama mereka. Tampil terbaik adalah kewajiban bukan selingan, karena dalam hal persaingan tidak pernah mengenal kata akhir.
"Kakek sarapan pagi disini?"
Wajah-wajah senyum di meja makan mendongak menatap sumber suara yang tidak begitu familiar namun terasa bersahabat. Bukan hanya suaranya, namun kehadirannya bagai sebuah magnet yang membuat mata tidak bisa lepas darinya. Sosoknya yang terbalut kimono begitu anggun dan menawan, amat manis dan menggoda. Jelas dialah yang masih menjadi misteri atas kemunculannya tadi malam. Tidak ada yang sempat berinteraksi dengannya selain para tetua, karena itulah kemunculannya di Kurosaki Mansion dipagi hari semakin memunculkan banyak pertanyaan. Apakah perempuan itu seorang menantu, atau—seorang calon menantu berikutnya?
Pemikiran terakhir membuat pewaris-pewaris Kurosaki yang masih melajang membusungkan dada, membuat lebih tegap berwibawa untuk mudah lebih terlihat, berharap mendapatkan hadiah manis di pagi hari.
"Kau sudah bangun?" Kurosaki Genryusai tersenyum dibalik deretan kumisnya yang sudah memutih, terlihat terhibur dengan kemunculan perempuan berkimono sederhana tapi anggun, namun mata sang tetua mengerut melihat pemandangan yang tak lazim. Dihadapannya perempuan itu membawa nampan berisi teh yang asapnya masih mengepul. "Kenapa kau membawa nampan teh? Pelayan mana yang bersikap kurang ajar membiarkanmu melakukan kegiatan dapur seperti itu?"
Perempuan itu tertawa menyenangkan. Teguran dari sang tetua malah terdengar seperti rasa perduli daripada amarah. "Ini hanya teh, Kakek. Dirumah aku juga sudah biasa melakukannya setiap pagi. Lagi pula aku melakukannya karena keinginanku, bukan karena—"
"Kenapa kau masih berdiri? Kakek tidak suka ada orang yang berdiri ketika sedang berbincang dengannya."
Lagi-lagi suasana berubah drastis. Seperti cuaca yang berubah sejuk karena kemunculan si perempuan anggun, kali ini hawa berubah menjadi tidak menyenangkan saat sosok bersurai orange muncul seperti mengotori pemandangan para pewaris Kurosaki. Boleh disambut, dialah sang sepupu kesayangan—Kurosaki Ichigo.
Pemuda berwajah berkerut itu berjalan tanpa harus repot terpesona pada pusat magnet di ruangan, karena perempuan itu malah cepat mengikuti langkah Kurosaki muda seperti mangnet yang tertarik kutub yang cocok. "Aku membuatkanmu teh untuk berdamai. Kenapa kau malah masih terlihat marah padaku?" perempuan itu merengut, tapi malah terlihat semakin menggemaskan.
Tidak sadar seisi ruangan masih memperhatikan, Ichigo mendengus menatap tidak suka perempuan yang berdiri di sebelahnya. "Kau tidak perlu melakukan hal itu pagi-pagi ketika kita sendiri baru tertidur pagi ini, kau tahu jam berapa kita baru selesai—" mulut Ichigo langsung di bekap tangan mungil, menghentikan semua kalimat agar tidak terjabarkan semua meski sudah terasa terlambat. Kalimat Ichigo secara garis besar hampir menjelaskan tentang aktivitas mereka di pemandian air panas kemarin berlanjut aktif ke tempat berikutnya.
Perempuan bersurai raven itu memerah, menunduk menyembunyikan rasa malu. Ekspresinya mengembalikan kesadaran Ichigo, baru teringat bahwa mereka berada di Kurosaki Mansion, bukan rumah pribadi mereka. Iris kuning madu itu akhirnya melempar pandang ke satu per satu wajah memerah sepupunya, dan disana ada Kurosaki Genryusai. Apakah—
Tawa Kurosaki Genryusai memecah keheningan. Garis-garis kerutan di pinggiran matanya semakin terlihat saat tawanya semakin kencang. "Perempuan ini adalah Kuchiki Rukia, istri sepupu kalian." ucapnya masih diselingi tawa. "Kalian lihat, seharusnya kehidupan pernikahan itu seperti mereka. Ahh—kalau seperti ini aku semakin tidak sabar menunggu pewaris laki-laki berikutnya."
Kalimat penjelas dari Kurosaki Genryusai benar-benar menambah masam di wajah para pewaris lain. Mereka sama sekali tidak bahagia, mereka cemburu, mereka juga tidak terima. Yah—karena inilah yang namanya kehidupan, mereka nyatanya masih memasang topeng wajah tersenyum meski kesal setengah mati.
.
.
.
"Sudah kukatakan, mereka suka melihat pertunjukan suami-istri bahagia. Kau tidak lihat wajah sepupumu seperti ingin memenggal kepalamu dan merebutku karena sangat cemburu."
Ichigo diam tidak menjawab. Matanya terus fokus menatap pemandangan luar dari balik jendela. Patut diakui ia menikmati bermain peran bersama Rukia pagi tadi. Walau sebenarnya yang mereka lakukan bukan karena dibuat-buat, itu hanya alami terjadi begitu saja, tapi ia cukup puas dengan hasil yang diperoleh.
Pagi sebelum sarapan pagi, mereka berdua sudah bangun. Benar mereka melakukan aktivitas malam hingga dini hari, tapi itu tidak mempengaruhi kebiasaan bangun mereka yang ternyata sama-sama disiplin—jam enam pagi. Malah mereka sempat melanjutkan kegiatan mereka saat mandi pagi bersama. Mau apa dikata, meski mereka menikah bukan karena cinta, tapi nafsu lebih memegang kendali penuh membangun koneksi di antara mereka berdua. Rukia adalah perempuan yang baru pertama kali merasa nikmatnya dijamah seorang laki-laki, tentu tidak akan menolak saat bisa terus mengulangi kenikmatan itu bersama seseorang yang sama sekali tidak dilarang untuk menyentuhnya. Dan Ichigo—tentu ia masih sama dengan laki-laki kebanyakan, ia juga akan menikmati tidur dengan seorang perempuan, terlebih lagi perempuan itu cukup menarik dan berada dalam jangkauan. Jadi mereka terus melakukannya dan disaat pergulatan telah selesai, mereka membicarakan tentang para sepupu Kurosaki Ichigo yang menyebalkan, yang beberapa malah meneteskan air liursaat melihat Rukia dan belum mengetahui bahwa perempuan itu adalah istri Ichigo. Akhirnya mereka sepakat untuk Rukia yang tampil lebih dulu di ruang makan, lalu disusul oleh Ichigo. Dan—komentar positif Kurosaki Genryusai sebagai hadiah mereka karena sudah bermain peran dengan baik.
"Kau—sangat pandai berwajah cantik di hadapan mereka. Kau tidak pernah melakukannya dihadapanku sebelumnya." komentar Ichigo tanpa mengalihkan pandangan dari jendela, memunculkan respon tawa dari sang istri.
Rukia terus tersenyum walau sorot matanya telah berubah, tidak lagi hidup dan ceria, tapi dingin dan datar. "Aku bersikap sesuai apa yang kau inginkan, Ichigo." Amat manis tangannya merangkul lengan suaminya, menyandarkan kepala saat tahu sang suami tidak keberatan sama sekali. "Hari pertama pernikahan kita kau berkata bahwa aku palsu dan tidak perlu bersikap manis, dan kau tahu—itu yang kulakukan saat dirumah. Dan kemarin saat aku bertemu dengan para tetua Kurosaki, aku tahu kau akan membutuhkan seorang istri yang luar biasa untuk membuatmu unggul diantara yang lain. Semua hanya permainan sederhana, kau tahu itu kan?"
"Lalu—kenapa kau datang? Bukankah kau bilang punya kesibukan yang lain?"
"Ohh—tentu saja aku sibuk. Kau tidak lihat para tetua begitu menikmati teh yang tersuguh untuk mereka kemarin malam? Kau pasti belum mencicipi tehnya bukan?"
"Memang apa bedanya?" komentar Ichigo masih tidak kurang minat. Ia hanya ingin cepat sampai di rumah dan melanjutkan tidur yang masih terasa kurang, berbincang dengan istrinya hanya sebagai selingan pengisi waktu perjalanan. Sejujurnya ia bahkan hampir tidak menyimak semua perkataan istrinya.
"Tentu berbeda. Kau pikir siapa yang tengah hari sudah tiba di Kurosaki Mansion untuk meracik teh?"
Ungkapan terakhir Rukia menarik perhatian Ichigo, cepat-cepat menarik lengannya dari rangkulan, mengabaikan protes kecil karena langsung menatap ngeri iris violet istrinya. "Kau tidak—"
"Ya, aku melakukannya Kurosaki Ichigo. Dan kau harus percaya seperti aku percaya kau bisa saja meniduriku di sini sekarang meski supir masih menjalankan mobi di depan."
Mulut Ichigo menganga seperti kehilangan kata-kata, candaan Rukia sama sekali tidak membuat urat di lehernya merenggang santai, malah tatapannya semakin tajam. Satu fakta yang sudah tersebar ke khalayak umum, ketika orang asing memasuki Kurosaki Mansion—pastilah tidak akan ada yang berani karena sambutan tidak mengenakan dari para tetua. Kalau mereka bijak, seharusnya mereka membawa salah seorang anggota keluarga Kurosaki sebagai pendamping. Setidaknya hal itu dilakukan demi menghindari pengalaman yang tidak menyenangkan. Tapi—yang dilakukan oleh Rukia—istrinya, perempuan itu sudah mendatangi kandang singa sendiri. "Rukia..."
"Ya?"
"Kau—perempuan yang mengerikan."
"Jadi, kau ingin aku seperti itu?"
.
.
.
Setangkai bunga krisan putih dipotong ujungnya, sengaja dipotong dalam posisi diagonal, kemudian ditancapkan dengan manis ke dalam vas bunga. Rangkaian yang tampaknya masih setengah jadi melihat ada beberapa kekosongan disudut tertentu, tapi tetap saja indah dan memiliki garis seni.
"Wah... rangkaian yang indah, Nyonya. Benar-benar mencerminkan kepribadian yang merangkai."
Rukia tersenyum, tidak mengalihkan fokus pada bunga meski pelayan yang memuji baru menyuguhi teh. "Tapi Ichigo bilang aku mengerikan."
Sang pelayan terdiam. Seperti tersedak oleh kata-kata sendiri, sang pelayan tidak berani melanjutkan lagi percakapan karena perkataan majikannya mematikan kata.
"Kau tidak perlu merasa bersalah, aku hanya bercanda."
"Ah, tentu saja saya tahu nyonya bercanda," sang pelayan tertawa kikuk. "Perempuan secantik nyonya tidak mungkin tuan sebut mengerikan."
Tidak memiliki respon apapun selain tawa dari nyonya Kurosaki, si pelayan hanya menunduk penuh rasa bersalah. Nyonya mereka adalah bentuk kutub kebalikan dari tuan besar mereka, perempuan yang menyenangkan dan tidak pernah mengkritik. Bahkan menjadi sosok perempuan mandiri yang serba bisa disaat para perempuan bangsawan terbiasa hidup dilayani. Alangkah sayang rasanya perempuan sesempurna itu terpaksa terkurung hidup bersama tuan besar mereka yang temperamen. Apakah mungkin itu alasan mengapa ada kalanya wajah nyonya mereka masih terlihat sedih? Perempuan itu tidak bahagia, tapi berpura-pura bahagia.
"Nyonya," takut-takut sang pelayan mengutarakan isi pemikiran, menahan sedikit sebelum diungkapkan sepenuhnya. "Saya yakin, suatu saat nanti—"
Iris violet Rukia terus mengerjap, menanti perkataan pelayan yang masih menggantung. Ia tidak akan mendesak, berbuat kasar dan angkuh pada pelayan tidak akan menghasilkan rasa hormat dari mereka. Itu hal yang Rukia pelajari dari kecil. Setidaknya pelayan lebih manusiawi daripada bangsawan. Ia pastinya—
Brakk!
Suara dari ruang depan menarik perhatian mereka, menyela pembicaraan hingga terlupakan. Bunyi kasar seperti pintu yang dibuka sembrono, lalu ada bunyi derap langkah menyusul. Mungkinkah Ichigo sudah kembali dalam keadaan emosi—lagi?
"Tuan, anda tidak boleh masuk." Terdengar suara pelayan menghadang di depan pintu. Kalau memang itu adalah Kurosaki Ichigo, seharusnya tidak ada daerah terbatas untuk pemuda itu. Rukia mencium firasat buruk saat dua orang bertampang berandal masuk menembus ruang istirahatnya.
Tampang bengis dengan tanda luka di wajah, mengertak penuh kengerian pada tiap pasang mata tanpa terkecuali si nyonya rumah. "Dimana Kurosaki Ichigo?"
Rukia diam. Memasang wajah dingin nan menusuk. Ia tidak menampilkan ekspresi takut, malah wajah cantiknya lebih terkesan menantang saat berdiri menghadapi para tamu yang tidak diharapkan kehadirannya. "Dia pergi ke luar."
"Dimana dia sekarang?" suara itu semakin meninggi dan membentak kuat, beberapa orang pelayan malah ada yang terkesiap ketakutan saling berlindung dibalik punggung sesama pelayan.
"Kenapa kalian tidak mencarinya sendiri di luar daripada mengobrak-abrik tempat ini disaat orang yang kalian cari tidak berada disini?" Rukia tahu dimana suaminya berada, bahkan hingga sore nanti ia tahu kemana tujuan suaminya. Tapi tentunya tidak akan semudah itu mengorek informasi dari seorang Kuchiki Rukia.
Komentar pedas dari sang nyonya rumah memancing dengusan emosi dari dua orang berandal bertampang mengerikan itu. Salah satu dari mereka maju, menantang dengan tatapan intimidasi yang sama sekali tidak membuat Rukia gentar—tapi semakin membuat si berandal kesal. Tangannya mengepal dalam bentuk tinju, siap untuk dipergunankan bahkan untuk mematahkan tulang.
Brakk!
"Nyonya!" salah seorang pelayan menjerit histeris, saat itulah Rukia benar-benar menyalahkan suaminya yang tidak pernah mau menempatkan penjaga dirumah mereka.
.
.
.
Kurosaki Genryusai menghentakkan tongkat di lantai penuh amarah. Ia tidak bisa duduk tenang, bahkan untuk menarik nafas saja tetap tidak akan meredakan emosinya. Dari balik mata tuanya terus menatap bergantian wajah cucunya serta istrinya.
Seperti biasa, wajah Kurosaki muda tetap keras dan tidak bersahabat, sementara istrinya terus menunduk tanpa ekspresi. Kekesalan semakin memuncak melihat sudut bibir menantu keluarga Kurosaki favoritnya itu ada jejak darah yang mengering. Sungguh semua adalah kesalahan Kurosaki Ichigo.
Pagi masih terasa luar biasa saat Kurosaki Genryusai berbincang tentang perniagaan serta usaha yang semakin berkembang yang sedang mereka jalankan. Walau terkadang ada perkataan tidak sopan dari Kurosaki Ichigo, Genryusai tetap menikmatinya. Sayang hal-hal menyenangkan selalu berlangsung sebentar, ditengah perbincangan seorang pelayan menerobos masuk, membawa kabar tidak menyenangkan—menantu Kurosaki favoritnya diserang oleh orang bayaran pesaing mereka. Akhirnya tanpa membuang waktu mereka menuju kediaman Kurosaki muda. Sayang mereka terlambat karena saat tiba kondisi kediaman sudah berantakan, dan lebih buruk lagi ada tanda memar di wajah cantik perempuan yang sebelumnya bermarga Kuchiki itu.
"Sudah kukatakan untuk tidak bermain dengan mereka, Ichigo. Kau tidak lihat apa yang sudah terjadi pada istrimu?"
"Tentu. Aku akan mengakhirnya. Tapi setelah mereka menerima pembalasan dariku."
"Sudah kukatakan, hentikan!" Genryusai membentak kuat, suara seraknya menggelegar bak petir menyambar tanah. Sayang selain beberapa orang pelayan yang menguping diluar yang terkejut takut, amukan Genryusai sama sekali tidak mempengaruhi ekspresi keras Ichigo. "Apa lagi yang ingin kau buktikan? Setiap kali kau ikut campur, pasti selalu terjadi masalah. Apakah kau masih tidak mengerti juga?"
Ichigo tersenyum sinis. Kenapa kakek tua Kurosaki itu tidak pernah mengerti kemarahan tidak akan pernah berhasil pada Kurosaki muda? Seharusnya kakek tua itu sudah bisa belajar dari pengalaman bahwa emosinya hanya akan mendapat balasan lebih hebat dari Kurosaki Ichigo. Ichigo muak di perintah, ia selalu menjadi orang yang dikendalikan, dan selalu—ia yang menjadi dipersalahkan pula. "Aku sudah saat mengerti, Genryu-ji. Aku mengerti bahwa kau menganggapku anak tidak berguna yang akan selalu menjadi masalah untukmu. Aku juga tahu seharusnya aku berprilaku baik sebagai rasa terimakasih karena sudah dibesarkan di keluarga Kurosaki."
"Cukup."
Itu belum cukup bagi Ichigo. Kalau kakeknya bisa, kenapa dia tidak boleh mengeluarkan racun yang sama? "Aku tahu kau sangat membenciku karena anak kesayanganmu meninggal karena bersikeras ingin melahirkanku. Seperti yang kau katakan, aku memang harus bersyukur karena terlahir sebagai laki-laki, setidaknya aku tidak akan menyusul ayahku yang begitu mudah kau singkirkan. Begitu kan yang ingin kau katakan—"
"Kurosaki Ichigo!" Genryusai membentak marah. Sejak awal seharusnya ia tahu bahwa buah tidak akan jauh jatuhnya dari pohon. Meskipun putri kesayangannya—Kurosaki Masaki—memiliki sikap lembut, tentunya Kurosaki Ichigo bisa mewarisi sikap tidak tahu sopan santun Shiba Isshin.
Tanpa adanya pengendalian lagi tangan keriput Genryusai meraih cangkir teh yang terisi air panas di atas meja, menyiramkan tepat ke wajah Ichigo. Berharap wajah pemuda itu bisa berhenti menampilkan ekspresi sakit yang memuakkan. Kenapa cucunya itu selalu menyimpan rasa sakit itu? Sayang—sesaat kemudian ia menyesalinya. Air panas itu tidak akan pernah mengenainya kulit cucunya, seharusnya ia sadar sudah memilihkan istri terbaik untuk cucu tidak tahu diri itu. Yah—perempuan itu melindunginya, memeluk Ichigo sehingga air panas mengenai permukaan punggung kimono Rukia yang tebal. Melakukan tindakan persis seperti yang Masaki lakukan saat Genryusai mengusir Shiba Isshin dulu.
"Kakek, sudah cukup." Rukia akhirnya bersuara, menahan diri agar tidak merintih sakit karena air panas yang merembes hingga ke kulit. Tangannya masih memeluk wajah Ichigo, menyembunyikan wajah memuakkan pemuda orange dalam pelukan yang aman.
"Cih! Kau melindunginya." Genryusai memungut kembali tongkat yang sempat dijatuhkannya, berjalan tanpa emosi yang berkurang saat menuju pintu keluar. "Kau tahu kan Rukia, keluarga Kuchiki tidak akan tinggal diam atas peristiwa ini? Pastinya kau tahu apa yang akan mereka lakukan nanti."
.
.
.
Aliran air kolam bergemercik mengisi kekosongan malam, menjadi musik dikala sepi merasuk jiwa. Malam dingin tanpa semilir angin, menusuk rasa hingga ke tulang. Di lorong jalan Ichigo berjalan dengan langkah berat, terdiam kaku tanpa ekspresi. Dahinya memang masih memiliki kerutan permanen, tapi tetap saja wajah hampa lebih mendominasi. Lorong terlihat gelap dan suram, beberapa orang pelayan pasti sudah pergi tidur dan mematikan lampu-lampu yang tidak perlu dinyalakan untuk menerangi malam. Mereka tentu tidak perduli bahwa majikannya akan terjaga hingga tengah malam serta berkeliaran di lorong-lorong rumah, yah—Ichigo pun merasa tidak membutuhkan penerangan sama sekali.
Langkah pemuda itu terhenti di ambang kamar, tidak melangkah masuk meskipun sudah menggeser sedikit pintu. Lampu utama tidak lagi menyala, hanya lampu-lampu meja yang membuat iris kuning madunya bisa menangkap sosok istrinya yang juga masih terjaga. Perempuan itu tampak tidak menyadari kehadiran Ichigo, ia jauh lebih sibuk mengkompres kulit punggungnya yang terlihat berubah warna menjadi merah muda. Dalam hati Ichigo sedikit berpikir kenapa perempuan itu memilih melakukannya sendiri ketimbang harus meminta pelayan untuk melakukannya. Tentu tangan mungilnya tidak akan kesusahan menjangkau belakang punggung.
"Ah, kau sudah kembali?" perempuan itu tersadar, meletakan handuk putih di tangan pada mangkuk kecil di pinggir meja, menaikkan yukata dan mengikatnya dengan rapi. "Kau butuh sesuatu? Atau kau ingin berendam air hangat dulu sebelum tidur?"
Perempuan itu terus berceloteh, membuka lemari mencari-cari sesuatu yang Ichigo yakini adalah pakaian tidur milik Ichigo sendiri. Iris kuning madu Ichigo hanya terus mengamati, mengikuti setia gerak gerik punggung istrinya. Tubuh kecil dan begitu rentan, entah dari mana keberanian bisa datang dari perempuan sekecil itu? Dia tidak pernah mengeluh, menangis, ataupun lari saat hal-hal mengerikan mendekat. Perempuan itu akan selalu menantang balik, mempertahankan diri dengan semua harga diri dalam dirinya. Sungguh perempuan dingin.
Tapi—kenapa perempuan itu bisa memiliki pelukan yang begitu hangat?
Walaupun isi kepala menolak, Ichigo masih bisa mengingat dengan baik. Seluruh indra sudah merekam bagaimana Rukia begitu erat melindunginya di hadapan sang tetua. Apakah itu bagian kepalsuan dari perempuan itu juga? Ah—mungkin saja. Tapi, tidak. Ichigo ingin menyangkal logika, sejenak ia ingin percaya perempuan itu melakukan untuknya dengan sungguh-sungguh. Ia ingin merasakan perempuan itu.
"Ichigo?" mata Rukia mengerjap bingung, secara mendadak suaminya memeluk dengan ketat, menatap dengan tatapan yang membingungkan.
Mata mereka saling beradu pandang. Ichigo memang tidak bisa menembus masuk ataupun mencari arti dari tatapan istrinya, tapi biarlah. Ia hanya ingin memiliki perempuan itu saat ini, memeluk hingga matahari datang esok pagi. Meraskan rasa perempuan itu diseluruh indra, membagi kehangatan dari kulit ke kulit, menyatukan raga hingga menyedot habis apa yang ia butuhkan dari perempuan itu.
Ichigo menginginkannya.
"I,Ichi—mhh." desahan Rukia teredam oleh ciuman kuat. Jantungnya terus berpacu dengan hentakan lembut yang diberikan oleh Ichigo dibawah sana. Tubuh mereka telah bersatu, dengan irama yang tidak biasa. Keringat saling bercampur saat kulit saling bergesekan, menciptakan gaya tarik-menarik listrik statis.
Gairah terus membangun ke tingkat yang lebih intens. Pelukan Ichigo kian mengetat, mengunci dalam dekapan posesif. Pemuda bersurai orange itu akan menggeram saat ciuman mereka terlepas karena kurangnya pasukan oksigen, lalu kembali melahap bibir mungil Rukia meskipun jalur bernafasan mereka tidak berjalan normal.
"Rukiahh.."
Rukia terkesiap, tangan Ichigo mengeksplor seluruh tubuhnya seperti tangan-tangan setan. Menjamah hingga meniggalkan jejak disekujur tubuh, memaksa nyonya Kurosaki untuk tunduk pada penaklukan Kurosaki Ichigo. Rukia tahu kenikmatan itu terus membangun, bagai balon air yang terus diisi dengan masa air yang lebih banyak, terus memenuhi hingga siap meledak. Nafas Rukia makin terputus-putus, tahu nirwana menanti di ambang. Ichigo pun begitu. Cengkraman posesif yang kian ketat, tubuh yang semkin gemetar mengejar nikmat, dia dekat dengan puncak kenikmatan.
"Berikan semua untukku, Rukia." nafas gemetar mengipasi leher Rukia, kecepatan pinggul Ichigo pun semakin menghentak cepat. "Semua untukku. Kau milikku, hanya milikku Ruki—mnnhhh"
Geraman kuat serta suara terkesiap yang disuarakan seirama solo menunjukkan baik Ichigo maupun Rukia sudah mencapai kenikmatan bersama. Tubuh mereka masih gemetar dengan nafas yang saling berlomba, pelukan Ichigo tidak pula melonggar meski nafas tidak teratur mereka sedang meredakan perasaan kesemutan yang masih terasa di sekujur tubuh. Rasa nikmat itu nyata, dan begitu menakjupkan. Dalam sekejap Ichigo memejamkan mata, menyerah pada rasa lelah atas penaklukan tubuh istrinya. Tidak perduli kulit berkeringatnya masih memeluk istrinya dengan ketat, ia sama sekali tidak berniat melepaskannya. Tanpa sadar bibirnya tertarik membentuk garis tersenyum. Benar-benar tidak mengetahui bahwa istrinya memiliki ekspresi yang berbeda saat ini.
Perempuan itu—Rukia—menatap kosong langit-langit kamar. Iris violetnya sama sekali tidak secerah kuning madu milik suaminya. Hanya hampa tanpa isyarat apapun, kembali seperti boneka porselin pucat yang siap dikendalikan.
"Semuanya untukmu?" Rukia berguman sendiri, tahu suaminya sudah jatuh tertidur dari mendengar nafasnya yang berhembus teratur. Bibir Rukia kemudian membentuk senyum kaku seperti 'topeng noh', tinggal terserah orang bagaimana menafsirkannya bila melihat senyum itu. "Kau terlalu serakah, Kurosaki."
.
.
.
To be continued...
Saya menikmatinya, libur 4 hari mengetik tanpa harus perduli dengan skripsi ataupun pekerjaan. Dan membaca review-review sebagai amunisi menambah semangat sebelum mengetik. Rasanya menyenangkan...
Tapi setelah chapter ini mari kembali ke realita, saya bisa saja akan terhambat update chapter berikutnya. Yah—libur sudah berakhir, skripsi masih belum selesai, dan lembur kerja menanti di depan...
Terimakasih reviewnya n.n
Meskipun ada yang hanya sempat membaca tapi belum sempat mereview, saya tetap senang n.n
Sampai berjumpa di chapter selanjutnya (entah kapan) XD
Oh ya—maaf kalau ada pertanyaan, saya tidak bisa menjawabnya kalalu acount itu tidak log in. Ini terjadi pada waktu review-review fanfic saya yang lain, ada seseorang yang meminta saya untuk menjawab reviewnya di update fanfic, tapi saya tidak bisa melakukannya—maaf. Hanya bertanya lewat account yang log in, saya pasti dengan senang hati menjawabnya (meski mungkin sedikit lama merespon karena sibuk) XD
Sekali lagi terimakasih reviewnya.. n.n
(ohh—tolong abaikan bahasa penutup saya yang formal ini )
