Naruto disclaimer by Masashi Kishimoto
Rate:
T
Genre:
Romance, Friendship
AU, OOC, typo, etc.
~ Present ~
A Perfect Holiday
Summary:
Cuaca dingin serta badai yang menerjang Konoha membuat penerbangan pesawat tidak bisa lepas landas. Lalu bagaimana dengan Sakura dan keempat temannya yang ingin berlibur ke New York?
.
.
.
Chapter 2
.
.
.
Setelah selesai sarapan, Sakura dan keempat sahabatnya kini beranjak pergi meninggalkan restoran. Mereka berniat untuk bermain salju diluar penginapan. Saat sudah berada diluar, hawa dingin langsung menyerang kelima gadis itu. Walaupun mereka sudah memakai jaket yang sangat tebal, mereka masih bisa merasakan kedinginan.
"Huuh! Disini dingin!" Keluh Sakura sambil mengosok-gosokan kedua telapak tangannya yang berbalut sarung tangan berwarna putih.
"Disini memang dingin!" Jawab Ino.
Disana, salju sudah tidak turun lagi. Jadi mereka bisa bebas bermain diluar sana.
.
.
.
.
.
Sementara itu direstoran…
"Teme cepat! Kita harus segera menyusul gadis-gadis itu." Ucap Naruto sambil memakan ramennya dengan terburu-buru.
"Untuk apa kita menyusulnya, Dobe?" Tanya Sasuke acuh. Ia kembali fokus dengan handphone miliknya itu. Naruto tidak menjawab pertanyaan sahabatnya itu, selesai menghabiskan ramennya, pemuda itu segera meneguk hot chocolate yang tadi dipesan oleh dirinya. "Haah, Temee! Panaaass!" Karena terlalu terburu-buru untuk segera menyusul gadis-gadis tadi, ia tidak sadar kalau dirinya langsung meminum hot chocolate miliknya yang masih panas tersebut.
"Bagaimana jika Hinata-chan melihat bibirku nanti?!" Ucapnya sambil mengipas-ngipas bibirnya memakai tangannya.
"Salah sendiri kau terburu-terburu seperti itu. Itu dosamu karena sudah menggoda sepupuku." Ucap Neji pada Naruto yang masih saja mengipas-ngipas bibirnya itu. Tetapi pemuda berambut pirang itu tak menggubris ucapan Neji, dirinya terlalu sibuk dengan bibir miliknya.
"Dasar, Dobe!" Ucap Sasuke. Ia mengabaikan Naruto yang masih saja sibuk dengan urusan bibirnya.
"Aku mau ke toilet dulu." Ucap Naruto setelah beberapa lama sibuk dengan bibir nya itu, ia memutuskan untuk ketoilet sebentar. Meninggalkan Sasuke, Sai, Neji, dan juga Shikamaru disana.
Sai sedang sibuk dengan handphone miliknya itu, sama dengan Neji. Sementara Shikamaru ia sedang mendengarkan musik dari headphone nya sambil menutup kedua matanya. Hanya Sasuke lah yang sedang terdiam.
Pemuda itu hanya membolak-balikan ponsel miliknya, sambil mengedarkan pandangannya kearah depan. Lalu tiba-tiba saja ia mendengar tawa seorang gadis. Dengan cepat, Sasuke menoleh kearah jendela yang ada disebelah sampingnya. Yang dimana sumber suara itu berasal.
Benar saja. Dirinya melihat gadis bermata emerald tadi sedang bermain salju dengan salah satu temannya yang berambut pirang.
"Hoii.. Ino! Ayo kejar aku..!" Ucapnya sambil berlari menjauhi temannya, Ino.
"Awas kau Sakura!" Ino segera melempar Sakura dengan bola salju yang berada ditangannya itu, dan sukses mengenai bahu Sakura. Gadis bermata emerald itu lalu membalas lemparan Ino dengan bola salju miliknya dan langsung mengenai Ino. Sakura tertawa lebar melihat dirinya berhasil membalas lemparan yang tadi dilemparkan oleh Ino.
Entah kenapa melihat Sakura tertawa seperti itu membuat Sasuke terpaku pada sosok gadis itu. Hatinya kembali menghangat hanya dengan melihat Sakura tertawa senang seperti itu.
Sasuke terus saja menatap wajah gadis dengan helaian bunga sakura itu. Tapi ia dikejutkan dengan suara sahabatnya yang memanggil namanya dengan sedikit berteriak, siapa lagi kalau bukan Naruto?
"Teme! Ayo kita susul gadis-gadis tadi!" Teriak Naruto pada Sasuke. Sontak saja pemuda itu terkejut mendengar suara cempreng milik sahabat nya itu.
"Hn? Memangnya Sh-" Ucap Sasuke terpotong oleh ucapan Naruto.
"Shikamaru, Sai, dan juga Neji menyetujuinya." Potong Naruto. Memdengar itu, Sasuke menoleh kearah Shikamaru yang sudah melangkahkan kakinya meninggalkan dirinya dan juga Naruto.
Tidak seperti biasanya Sahabatnya itu, Shikamaru menyetujui ucapan Naruto. Pemuda berambut nanas itu bahkan tidak terlalu menyukai mahkluk bergender perempuan.
"Hn." Jawab Sasuke enteng, lalu berjalan bersama Naruto menyusul para gadis yang sudah berada diluar.
.
.
.
.
.
Temari terduduk diam memperhatikan para sahabatnya yang sedang bermain salju. Ia sedikit lelah karena sedari tadi terus saja bermain salju dengan para sahabatnya itu. Karena terlalu asyik memperhatikan sahabatnya itu, gadis tersebut tidak menyadari bahwa ada seorang pemuda yang ikut terduduk disampingnya.
"Hei.." Panggil pemuda itu. Membuat Temari sedikit terkejut. Gadis itu segera menolehkan kepalanya kearah pemuda yang tadi memanggilnya. Gadis tersebut melihat pemuda yang sepertinya tak asing.
"Kau.."
"Ya.. Aku yang berada direstoran tadi." Ucap pemuda itu seakan mengetahui apa yang dipikirkan oleh Temari.
"Ehm.. Jika kau lupa.. Namaku Temari." Ucap Temari sambil memperkenalkan dirinya sekali lagi pada pemuda itu.
"Shikamaru.." Temari mengganguk mendengar ucapan Shikamaru.
"Kenapa kau tidak ikut bermain dengan sahabatmu yang lain?" Mungkin ini sedikit aneh. Tak biasanya pemuda berambut nanas itu berbincang-bincang dengan seorang gadis.
"Aku sedikit lelah.. Jadi aku memutuskan untuk beristirahat sejenak disini." Jawab Temari sambil menatap kearah Shikamaru.
"Oh.." Hanya itu jawaban dari Shikamaru yang terdengar oleh Temari.
Kemudian tidak ada lagi perbincangan diantara mereka berdua.
.
.
.
.
.
"Haah! Sudah-sudah! Aku lelah, Ino! Aku ingin beristirahat dulu." Keluh seorang gadis berambut coklat itu sambil berjalan menjauhi Ino yang sedang bermain salju.
"Yaah! Terserah kau sajalah, Tenten!" Jawab Ino.
"A-aku juga i-ingin beristirah s-sebentar." Ucap gadis lainnya yang berambut indigo.
"Loh? Kau juga ingin beristirahat, Hinata?" Tanya Sakura pada Hinata.
"I-ya.. Sakura-chan.." Jawabnya.
"Yasudah kalau begitu kita bermain berdua saja, Sakura." Usul Ino.
Hinata berjalan menyusul Tenten yang tidak berada jauh didepannya. Mereka berdua berjalan mendekati Temari yang sedang duduk disana.
"Loh? Sakura dan Ino mana?" Tanya Temari kepada kedua sahabatnya itu.
"Mereka masih betah bermain." Jawab Tenten. Lalu gadis itu mendudukan dirinya disamping Temari. Hinata yang tadinya ingin duduk disamping Tenten, seketika membatalkan niatnya ketika ia mendengar suara yang memanggil namanya.
"Hinata-chan!" Gadis itu menoleh kearah sumber suara, dan ia langsung melihat pemuda yang ia kenali bernama Naruto itu tersenyum kearahnya.
"N-naruto-kun.." Ucapnya. Naruto lalu berlari menghampiri Hinata.
"N-naruto-kun ada a-apa?" Tanya Hinata sambil mencoba untuk menstabilkan detak jantungnya.
"Ahaha! Tidak apa-apa, Hinata-chan.." Jawab Naruto sambil mengaruk-ngaruk belakang kepalanya.
Sementara Neji yang melihat hal itu, ketika ia ingin menghampiri mereka bedua, ada suara yang mengintrupsinya.
"Neji! Sudahlah, Naruto tidak mungkin macam-macam pada sepupumu itu. Kau juga sudah mengenal Naruto sudah lama kan?" Ucap pemuda berambut hitam climis pada Neji.
"Hm? Kau benar, Sai. Aku sudah mengenal sifat Naruto." Jawab Neji. Sedangkan Sai hanya tersenyum membalasnya.
.
.
.
.
.
Sakura dan Ino melangkahkan kakinya menuju tempat penginapan, dirinya dan juga Ino bermain terlalu jauh dari tempat penginapan mereka. Setelah hampir lima belas menit, mereka kini sudah sampai didepan penginapan mereka dengan nafas terengah-engah.
"Sakura, Ino!" Temari memanggil kedua sahabatnya itu.
"Kalian dari mana saja sih?" Ucapnya lagi. Sakura maupun Ino tak menjawab pertanyaan Temari. Mereka berdua sibuk mengatur nafas mereka masing-masing.
"Kami asyik bermain salju sehingga tidak sadar sudah berada jauh dari tempat penginapan ini." Akhirnya Ino menjawab pertanyaan dari sahabatnya itu. Temari mengangguk, kemudian matanya melirik kearah Sakura. Ia dengan jelas bisa melihat wajah Sakura yang sedikit pucat.
"Sakura? Kau kenapa? Wajahmu pucat sekali!" Ucap Temari khawatir sambil berjalan memdekat kearah Sakura. Mendengar Ucapan Temari, sontak seluruh sahabatnya itu menoleh kearah Sakura. Ino langsung menoleh kearah Sakura, Hinata dan juga Naruto yang sedanv berbincang-bincang pun kini menoleh kearah Sakura. Begitu juga dengan pemuda bermata onyx yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya, Sasuke.
"Aku tidak apa-apa, Temari. Aku hanya terlalu kecapaian." Ucap Sakura supaya sahabatnya itu tidak khawatir padanya.
"Yasudah kalau begitu kau duduk dulu, disana." Temari menuntun Sakura untuk duduk.
"Hmm.. Terima kasih, Temari." Jawab Sakura.
"Aku akan membawakanmu minuman hangat." Ucap Temari kepada Sakura, lalu ia pergi untuk membawakan minuman hangat untuk Sakura.
Ino datang dan menghampiri Sakura, gadis itu duduk disebelah Sakura lalu ia mengelus-ngelus panggung gadis pink itu.
"Kau tidak apa-apa, Sakura?" Tanya Ino sambil mengusap-ngusap punggung Sakura.
"Aku tidak apa-apa, Ino. Aku hanya terlalu kecapaian." Jawabnya. Ino mengangguk, lalu ia terdiam duduk disamping Sakura. Matanya melihat kesekeliling tempat itu, tidak ada orang sama sekali diluar sana. Hanya ada sahabatnya dan juga sekumpulan pemuda yang ada direstoran tadi.
Ino mulai bosan, sahabatnya yang lain kini sedang asyik mengobrol dengan para pemuda yang ada direstoran tadi. Kecuali pemuda berambut hitam climis itu, pemuda berambut nanas. Dan juga pemuda berambut raven yang sedang asyik memperhatikan wajah Sakura yang ada disampingnya.
'Kenapa dia terus saja menatap Sakura? Apa dia menyukai Sakura?' Batinnya bertanya-tanya. Ino melihat sekali lagi, pemuda itu masih saja menatap sahabatnya itu. Sedangkan sang gadis yang kini sedang ditatap, tidak sadar dengan hal itu.
Sakura terduduk diam sambil menutup kedua matanya. Tangannya mengusap-mengusap keningnya sendiri. Ino yang sudah mulai bosan itu beranjak meninggalkan Sakura, gadis itu lalu menghampiri pemuda berambut hitam climis yang sedang memainkan ponselnya.
"Hai.." Sapanya. Ino lalu duduk disamping pemuda itu. Pemuda bernama Sai itu menolehkan kepalanya kearah Ino, ia tersenyum pada gadis itu. Membuat wajah cantik Ino memerah melihatnya.
"Kau sendirian saja?" Tanya Ino berbasa-basi. Sejenak, Sai menyimpan ponsel miliknya itu. Lalu menatap kearah Ino.
"Ya.. Mereka sibuk dengan urusannya masing-masing." Jawab pemuda itu. Ino mengangguk menjawabnya.
"Kau sendiri?" Ino menolehkan kepalanya kearah Sai, menatap langsung wajah pemuda tersebut.
"Ya.. Teman-temanku juga sama.." Jawabnya. Lalu keheningan pun terjadi diantara mereka berdua.
.
.
.
.
.
Beberapa menit kemudian, Temari datang sambil membawa segelas air hangat. Gadis itu melangkahkan kakinya kearah Sakura yang masih terduduk.
"Sakura.." Panggilnya. Gadis pink itu lalu menoleh kearah dirinya.
"Ini, minumlah.." Ucap Temari sambil menyerahkan gelas berisi air hangat tersebut kepada Sakura.
"Terima kasih, Temari." Ucapnya sebelum meminum air hangat itu.
Sakura meneguk air hangat itu perlahan-lahan sambil sesekali meniup-niup air hangatnya. Beberapa menit kemudian, segelas air hangat itu habis diminumnya.
Sakura mengosok-gosokkan telapak tangannya itu, gadis itu kedinginan. Ia ingin segera kembali kepenginapannya itu. Ia lalu segera beranjak dari duduknya itu.
"Sakura? Kau mau kemana?" Tanya Temari ketika ia melihat Sakura beranjak dari duduknya.
"Aku ingin ke dalam.." Jawabnya. Temari pun kini berdiri mengikuti Sakura.
"Sebaiknya kita segera masuk kedalam.." Ucap gadis itu kepada teman-temannya.
Hinata, Ino, dan juga Tenten mengangguk lalu beranjak dari duduknya.
"Eh? Kalian mau kemana?" Tanya Naruto.
"Kami mau kembali ke kamar kami." Jawab Temari. Gadis-gadis itu pun lalu pergi meninggalkan para pemuda tersebut disana.
.
.
.
.
.
"Kita akan pulang sekarangkan, Sakura?" Tanya Ino pada Sakura yang tengah bermain laptop pink miliknya.
"Kita tidak bisa pulang ke Konoha sekarang, Ino. Malam ini kemungkinan badai akan datang." Jawab Sakura sambil menatap kearah Ino.
"Lalu berapa lama kita akan tetap tinggal disini?" Tanya Ino lagi.
"Aku juga tidak tahu. mungkin jika cuaca sudah membaik, kita pasti akan pulang ke Konoha." Sakura menyimpan laptop pink miliknya lalu beralih menatap kearah sahabatnya berada.
"Lagipula, disini sangat menyenangkan. Kita beruntung sekali dapat bertemu dengan para pemuda tadi." Ino tersenyum mengingat kejadian tadi pagi saat bertemu dengan pemuda berambut hitam climis yang sudah menarik perhatiannya itu.
"Haahh! Coba kuingat lagi! Namanya itu Sa.. Sa..? Aduhh aku lupa namanya!" Gerutu Ino sambil menggaruk rambut pirang miliknya. Sedangkan keempat sahabatnya itu hanya memutar matanya bosan.
"Sai, maksudmu?" Temari menyebutkan nama salah satu pemuda yang ia temui tadi pagi. Mendengar itu, Ino kembali tersenyum riang.
"Ah, iya! Sai-kun namanya!" Ucap Ino sambil megacungkan jari telunjuknya keatas.
"Ya ampun, Sakura! Aku sangat menyukainya pada pandangan pertama!" Ino memeluk Sakura yang berada disampingnya itu dengan sangat erat.
"Aduuh, Ino! Lepaskaan!" Sakura meronta dipelukan Ino. Mencoba melepaskan pelukan sahabatnya itu. Ino pun langsung melepaskan pelukannya pada Sakura.
"Issh, Sakura! Aku ini sedang jatuh cinta tahu!" Ino sedikit kesal dengan Sakura. Sementara Sakura hanya mengangguk-nganggukkan kepalanya acuh.
"Kau pasti cemburukan padaku? Karena Sai-kun, pemuda yang paling tampan diantara yang lainnya itu juga terlihat menyukaiku?" Ino menyenggol lengan milik Sakura.
"Apa katamu? Aku bahkan tidak menyukai pemuda bernama Sai itu, Ino! Lagipula yang paling tampan itu bukan dia! Tapi Sas-" Sakura sadar akan perkataannya itu. Ino yang mendengarnya lalu tersenyum jahil kearah Sakura.
"Maksudmu itu, Sasuke? Menurutmu ia yang paling tampan diantara pemuda lainnya?" Ino kembali menyenggol lengan Sakura. Terlihat sekali bahwa gadis merah muda itu terlihat gugup.
"K-kau.. Apa s-sihh.. Ino?" Gadis itu mencoba agar tidak tergugup, tetapi usahanya itu gagal. Dirinya terlihat sangat gugup sekali.
Ino pun kembali mencoba untuk menggoda sahabatnya itu.
"Asal kau tahu saja, Sakura.." Ino sejenak menghentikan ucapannya, Sedikit melirik kearah Sakura. Gadis merah muda itu pun menoleh kearahnya.
"Pemuda bernama Sasuke itu sering sekali memperhatikan wajahmu, Sakura.." Ino menghentikan kembali ucapannya itu. Sontak, Sakura yang mendengar hal itu langsung terkejut.
'Sasuke-kun sering memperhatikanku?' Batinnya sedikit senang. Tapi ia tidak percaya dengan ucapan sahabatnya itu, ia mengira Ino hanya sedang bercanda dengannya.
"J-jangan bercanda, Pig!" Sakura sedikit tidak percaya dengan ucapan Ino.
"Aku serius, Sakuraa!" Ino mencoba meyakinkan Sakura. Tapi tetap saja gadis itu tidak percaya dengan ucapannya.
"Ino benar, Sakura.." Sakura menoleh, ia melihat Temari yang sedari terdiam itu sedang melirik kearahnya.
"Pemuda bernama Sasuke itu kerap kali memperhatikanmu. Aku yakin jika ia sebenarnya itu menyukaimu, Sakura.." Jika Temari, Sakura bisa sedikit percaya dengan ucapannya itu. Gadis itu tidak pernah berbohong padanya.
"Benar kan, ucapanku itu?" Ino kembali tersenyum. Sedangkan Sakura, gadis itu tidak menyangka bahwa pemuda yang ia sukai itu sering kali memperhatikannya. Tapi kenapa ia tidak pernah sadar akan hal itu? Sedangkan sahabatnya itulah yang sadar hal tersebut. Sakura tersenyum tipis.
"Tapi Sai-kun yang paling tampan tentunya.." Ino merebahkan tubuhnya diatas kasur, tak lupa dengan senyuman yang tercetak dibibirnya. Sakura dan Temari mengacuhkan ucapan Ino itu. Tenten sedari tadi sudah memasang earphone ditelingannya, jadi ia tidak mungkin mendengar ucapan Ino. Sedangkan Hinata, ia diam-diam mendengar perbincangan antara ketiga sahabatnya itu. Tak bisa dipungkiri, bahwa dirinya pun juga sama. Sebenarnya ia menyukai pemuda berambut pirang tadi, Naruto. Ia juga sudah sangat nyaman berada disamping pemuda itu.
Baru beberapa jam saja, para pemuda itu sudah dapat mencuri hati para gadis ini.
.
.
.
.
.
"Aku masih penasaran dengan para gadis tadi." Naruto memulai perbincangan diantara teman-temannya itu. Sontak, keempat para temannya itu menoleh padanya.
"Jangan berbicara yang aneh-aneh, Naruto. Mereka itu sahabat dari sepupuku, Hinata." Ucap Neji sambil memandang kearah Naruto.
"Tapi.."
"Sudahlah! Aku ingin beristirahat dulu." Ucap Neji. Ia lali membaringkan tubuhnya diatas kasur.
Naruto mendelik kesal, pemuda itu lalu memandang keseluruh penjuru kamar. Ia melihat Sai dan juga Sasuke sedang merebahkan tubuh mereka masing-masing diatas kasur, mereka berdua sedang tertidur lelap.
Naruto pun melihat kearah Shikamaru, dirinya melihat temannya iti sedang bermain dengan ponselnya. Ia lalu menghampirinya.
"Shikamaru?" Panggilnya sambil mencoba duduk disebelah Shikamaru.
"Hm?" Naruto sedikit kesal mendengar jawaban dari Shikamaru itu, ia jadi teringat dengan Sasuke, pemuda irit bicara itu.
"Ck.. Kau sedang apa sih, Shikamaru? Serius sekali?" Tanya Naruto. Shikamaru mengalihkan pandangan dari ponselnya.
"Mau tahu saja." Jawabnya singkat. Pemuda berambut nanas itu pun kembali memainkan ponselnya. Dan itu membuat Naruto semakin kesal. Ia lalu diam-diam melirik kearah handphone milik Shikamaru, dan ia melihat bahwa temannya itu sedang berkirim pesan dengan seseorang yang bernama Temari.
Otak Naruto meloading kejadian tersebut. Temari.. Sepertinya ia sudah tidak asing lagi memdengar namanya. Naruto lalu mengingat-ngingat lagi, dan setelah beberapa kemudian, ia sudah teringat.
'Oh ya! Temari itu adalah salah satu gadis direstoran tadi.' Batinnya.
'Tapi, kenapa Shikamaru tahu nomor telepon milik Temari? Ah, mungkin ia yang meminta nomornya.' Naruto lalu beranjak pergi meninggalkan Shikamaru.
Tapi baru beberapa langkah kemudian, ia menghentikan langkahnya itu.
'Shikamaru memiliki nomor telepon Temari, yang adalah sahabat dari Hinata. Temari pasti punya nomor ponselnya!' Naruto membalikkan badannya lalu kembali menghampiri Shikamaru.
"Shikamaru!" Panggilnya.
"Apa?!" Jawabnya malas. Ia tetap memandangi layar handphonenya, mengacuhkan teman berisiknya itu.
"Kau sedang berkirim pesan dengan Temari, kan?" Tanya Naruto.
"Memangnya kenapa?" Akhirnya Shikamaru menoleh kearahnya.
Naruto tersenyum riang, lalu berbicara.
"Kalau begitu, Temari pasti tahu nomor ponsel milik Hinata.." Shikamaru mengerti arah pembicaraan Naruto.
"Lalu kau ingin meminta nomor ponsel milik Hinata pada Temari?" Tebak Shikamaru.
"Kau benar sekali!" Jawab Naruto, Tak lupa dengan senyumannya.
"Kau minta saja pada Neji, ia kan sepupunya." Shikamaru kembali fokus dengan ponselnya itu.
Sementara Naruto, ia kembali kesal. Neji pasti tidak mau memberikannya nomor ponsel milik Hinata kepadanya.
"Neji tidak mungkin mau memberikannya padaku." Shikamaru menghela nafasnya pelan.
"Haah! Baiklah akan kuminta nomornya." Seketika Naruto tersenyum riang. Ia berterima kasih pada temannya itu.
Beberapa menir kemudian, terdengar jawaban dari Temari. Ia melirik kearah ponsel milik Shikamaru.
"Temari sudah mengirimkan nomornya." Ucap Shikamaru. Naruto kemudian dengan tidak sabar mengambil ponselnya yang terdapat diatas kasur miliknya itu, lalu kembali menghampiri Shikamaru.
"Berapa nomornya, Shikamaru?" Tanya Naruto.
"Kau lihat saja sendiri." Shikamaru menyerahkan ponselnya kepada Naruto. Pemuda itu lalu segera mengetik nomor ponsel Hinata yang dikirim oleh Temari.
"Sudah! Terima kasih, Shikamaru." Setelah berterima kasih, Naruto kembali menuju kasur miliknya.
Saat ia ingin mengirim pesan kepada Hinata, ada suara yang memanggilnya.
"Naruto! Temari bilang kau sebaiknya jangan menganggu Hinata, ia sekarang sudah terlelap pulas. Temari tidak mau sahabatnya itu merasa terganggu." Ucap Shikamaru, setelah itu dirinya kembali melihat ponselnya.
Naruto mendengus kesal. Dirinya lalu hanya menyimpan nomor ponsel milik Hinata tanpa mengirim pesan padanya.
.
.
.
.
.
Pagi datang dengan cepat..
Para gadis cantik itu ternyata sudah bangun dari tidurnya. Sakura, gadis itu baru saja selesai mandi. Ia kemudian segera memakai jaket tebal miliknya.
"Sekarang kita akan kemana, Sakura?" Tenten bertanya pada Sakura.
"Hm? Aku juga tidak tahu.." Jawab Sakura sambil menoleh kearah Tenten.
"A-apa kita akan s-segera pulang sekarang?" Hinata pun membuka suara nya.
"Aku tidak mau pulang! Aku masih ingin bertemu dengan Sai-kun!" Ino melarang para sahabatnya itu agar tidak pulang ke Konoha dulu. Dirinya masih ingin tinggal disini.
Sontak saja Sakura yang memdengar ucapan Ino terkejut.
"Mungkin kita bisa pulang bersama dengan para pemuda itu.." Ucap Sakura. "Benar juga apa kata Sakura, sebaiknya aku tanya saja kepada Shikamaru." Temari lalu mengambil ponselnya dan mengetikkan pesan kepada Shikamaru.
Ino yang mendengar bahwa Temari sudah mendapatkan nomor ponsel dari salah satu pemuda tersebut menjadi iri. Ia bahkan tidak tahu nomor ponsel milik Sai. Begitu juga Sakura, Tenten, dan Hinata.
Namun beberapa saat kemudian, Hinata mendengar ponsel miliknya berdering. Segera saja ia mengambil ponselnya itu, dan ia mendapat pesan dari nomor ponsel yang tidak dikenal.
Hinata mengerutkan keningnya ketika melihat isi pesan itu. Pesan tersebut berisi dimana seseorang yang mengirim pesan pada Hinata itu meminta untuk bertemu.
Hinata lalu menjawab isi pesan tersebut dengan kata 'ini siapa?' lalu segera mengirimnya.
Beberapa detik kemudian, ponselnya kembali berdering. Segera saja gadis lavender itu membukanya. Wajahnya sontak memerah, kini ia tahu bahwa yang mengirimnya pesan adalah seorang pemuda yang bernama Naruto.
'Ternyata ini nomor ponsel milik Naruto-kun.." Batinnya sambil tersenyum.
'Tapi.. Dari mana Naruto-kun tahu nomor ponselku? Ahh, sudahlah. Mungkin akan kutanyakan langsung kepada Naruto-kun.'
.
.
.
.
.
Sementara itu, Naruto terlihat sangat gembira sekali. Pasalnya, ia sudah mengajak gadis pujaannya itu untuk bertemu dan tanpa ragu pun Hinata menyetujuinya. Hatinya sontak senang. Ia lalu segera mengambil jaket tebal miliknya dan segera pergi keluar kamar tanpa pamit kepada teman-temannya itu.
Sai yang menyadari hal itu hanya menggelengkan kepalanya. Naruto terlihat sangat semangat sekali dari pada hari-hari sebelumnya. Dan itu semua karena Hinata.
.
.
.
.
.
"Sakura-chan, a-aku ingin keluar sebentar, b-boleh kan?" Hinata sudah bersiap-siap untuk segera menemui Naruto.
"Kau mau kemana, Hinata? Kalau begitu kita keluar bersama saja." Sakura pun yang juga ingin keluar mengajak Hinata untuk bersama.
"Ahh, i-iya. Tidak apa-apa, S-sakura-chan.." Sakura tersenyum lalu mengajak Hinata untuk pergi, ia juga sudah pamit kepada teman-teman yang lainnya.
.
.
.
.
.
Sakura dan Hinata menghentikan langkahnya sejenak, ketika mendengar suara handphone yang berbunyi.
"Itu suara ponselmu, Hinata?" Tanya Sakura kepada Hinata.
"I-iya itu suara p-ponselku." Jawab Hinata. Lalu ia segera mengambil ponselnya yang ia simpan disaku jaketnya.
Hinata kemudian membuka pesan tersebut. Entah apa isi pesan tersebut, Hinata kini terlihat buru-buru sekali.
"S-sakura-chan aku permisi d-dulu. Aku sudah d-ditunggu seseorang. A-ku buru-buru." Setelah mengucapkan itu, Hinata langsung pergi meninggalkan Sakura sendirian dikoridor penginapan itu.
Sakura merasa heran pada Hinata.
'Memangnya ia ingin bertemu siapa?' Batinnya. Gadis merah muda itu pun lalu kembali melangkahkan kakinya.
Sakura terus melangkah, ia tidak sadar bahwa kini ada seorang pemuda yang juga tidak sadar dengan keberadaan Sakura didepannya. Pemuda itu berjalan sambil memainkan ponselnya, sedangkan Sakura ia sibuk membenarkan jaket hangat miliknya sehingga ia juga tidak sadar dengan pemuda yang berada beberapa meter dihadapannya itu.
Jarak mereka semakin menipis, hingga akhirnya pun mereka bertabrakkan.
Bruuk!
Sontak saja Sakura terkejut. Ia tidak sadar sudah menabrak seseorang.
"Ah, maaf! Saya tidak sengaja!" Ucapnya sambil meminta maaf kearah pemuda tersebut.
"Hn." Sakura mengangkat wajahnya untuk melihat siapa yang ia tabrak tadi, dan seketika ia terkejut melihat seseorang yang ia tabrak tadi.
Sasuke Uchiha, pemuda yang ia temui kemarin direstoran.
"U-uchiha-san.." Suara Sakura terdengar gugup.
"Hn? Panggil nama depanku saja." Jawab Sasuke.
"A-ah iya.. S-sasuke-san, maaf aku t-tidak sengaja.." Ucap Sakura sambil menundukkan kepala merah mudanya.
"Hn.."
"K-kalau begitu aku p-permisi dulu." Setelah mengatakan itu, Sakura bersiap untuk pergi. Tetapi sebuah tangan menahannya.
Sakura menoleh kearah pergelangan tangannya, ia melihat ada sebuah tangan lain yang memegang tangannya itu. Tidak salah lagi, itu tangan milik Sasuke.
Gadis merah muda itu lalu mengangkat kepalanya menatap sang pemilik tangan tersebut. Ia menatap langsung mata onyx milik pemuda itu, ia seperti terhipnotis menatap mata tersebut.
Sasuke pun juga sama, ia menatap mata emerald milik Sakura itu. Ia terus saja menatap matanya.
Mereka berdua saling bertatapan dikoridor penginapan tersebut.
.
.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan kesan pesannya!
Maaf belum bisa lanjutin fic yg blindness, soalnya belum ada ide yg bagus.
Maaf juga kalau banyak Typo dan bermasalah di alur, atau Feel nya gk kerasa.
Untuk yang terakhir, mohon reviewnya minna ^_^
