Gue balik coy, ini sistem kebut tiga jam gabu'ung dah. Oiya gue suka kaget ndiri tadi baca komenan ternyata ada 1 review yang bisa nebak jalan cerita chap ini ._.v wauw anda luar binasa sumpah. Okelah yang penasaran jalan ceritanya, silahkan baca! Reviews jangan lupa :3
.
.
Kim Taehyung seorang remaja berusia 16tahun yang mengharapkan keluarganya kembali, sebuah mimpi buruk yang nyata telah menghancurkan keluarga Taehyung mencetak dirinya menjadi pribadi yang buruk, ansos, dan pendendam. Apakah Ia dapat berubah?
.
.
.
.
"Siapa namamu, bocah?" tanya bartender itu.
"Aku Kim Taehyung" ucap Taehyung, bartender itupun mengangguk lalu mengulurkan tangannya, "Perkenalkan, aku Hoseok"
Taehyung merasakan detak jantungnya seakan berhenti berdetak, "Tunggu, SIAPA?!" tanya Taehyung dengan shock. Bartender bernama Hoseok itu pun bergidik terkejut karena teriakan Taehyung yang mengejutkannya. Hoseok (nama bartender itu) mengangguk dengan wajah kebingungan. "Iya, aku Hoseok. Jung Hoseok"
Kemudian jantung Taehyung kembali berdetak, kecewa. Hoseok yang berada didepannya adalah Jung Hoseok. Bukan Kim Hoseok yang Taehyung cari. "Oh, senang berkenalan denganmu, ahjussi" ucap Taehyung ragu, bingung harus memanggilnya apa karena Taehyung tak tau berapa usianya.
Hoseok menatapnya kesal, "Hey, nak. Setua itukah aku dimatamu? Aku masih 20 tahun" ketus Hoseok, Taehyung memasang fake smile, "J-joseonghamnida. Aku tidak tau kalau umurmu... sama dengan umur kakakku" jawab Taehyung dengan memelankan nadanya di kalimat akhir. Namun Hoseok masih bisa mendengar, "kakakmu?"
Taehyung terkejut karena Hoseok mendengarnya, "A-apa? Ah tidak" Taehyung terkekeh canggung untuk membohongi Hoseok. "Kau kenapa? Apa kau sakit? Kurasa kau sangat pucat, kau mau sedikit minum? Akan kuambilkan air putih saja" dengan segera Hoseok beranjak dari sofa lalu menyiapkan segelas air mineral untuk Taehyung. Taehyung masih terpaku disofa, bisa-bisanya Ia bertemu orang yang memiliki nama dan usia sama dengan kakaknya yang sekarang mungkin sudah menyusul orangtua Taehyung.
Hoseok pun kembali dengan membawa segelas air putih lalu memberikannya pada Taehyung, Ia membiarkan Taehyung meminumnya.
"Aku rindu keluargaku" ucap Taehyung dengan reflek, Hoseok menaikkan alisnya "kalau begitu pulanglah, apakah temanmu masih lama?" tanya Hoseok. Ia sama sekali tak mengerti pokok permasalahannya.
Tiba-tiba saja saat Hoseok dan Taehyung bercerita, ada sebuah keributan didepan panggung yang biasa digunakan pole dance, "Berhenti menyentuh istriku!"
Buakk! Drakk!
Pyarr!
"JIMIN-AH!" Taehyung berteriak karena seseorang yang sedang dihakimi adalah temannya sendiri, yang telah menjebloskan Ia kedalam neraka duniawi ini. Taehyung dan Hoseok pun berlari mendatangi Jimin yang kali ini tak sadarkan diri akibat kepalanya dipukul dengan botol bir.
Taehyung tampak sangat panik, Ia berusaha menutup luka Jimin dengan tangannya namun darahnya terus mengalir, "Astaga bagaimana ini" ucap Taehyung panik. "Bawalah Ia pulang"
"Hyung! Kumohon ikutlah" pinta Taehyung dengan wajah memelas membuat Hoseok mengerjapkan matanya, "Untuk apa?"
"Aku tidak bisa menyetir mobil"
.
.
.
.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Taehyung dengan panik, Ia terus menggigiti kukunya menunggu penjelasan dokter yang tiap 5 menit masuk kekamar Jimin untuk melakukan kontrol. "Setidaknya temanmu masih bernapas" ucap dokter itu lalu meninggalkan tempat.
"W-what?" Tanya Taehyung tak percaya dengan wajah meremehkan. "Yang benar saja"
Taehyung pun duduk dikursi tunggu depan kamar Jimin bersama Hoseok. Hoseok dengan baju bartender yang Ia gunakan tampak sangat aneh berada didalam rumah sakit seperti ini. Sedangkan Taehyung masih berseragam membuat mereka tampak seperti anak SMA dan pesuruhnya. "Dokter macam apa dasar gila" gerutu Taehyung, Hoseok hanya menghela napas, "Aku akan melakukan hal yang sama dengan dokter tadi jika aku jadi dia"
Taehyung membelalakan matanya "Hah?"
"Orang mana yang tidak bingung jika ditanyai pertanyaan bertubi padahal orang itu sedang mencoba untuk memikirkan jawabannya?"
Pernyataan Hoseok membuat Taehyung menunduk merasa bersalah, "M-mianhae" ucap Taehyung dengan lesu, Hoseok terkekeh "Oh ayolah aku bercanda" kemudian Ia menjitak kepala Taehyung. "Kau tak mau pulang? Bukankah besok kau sekolah?"
Taehyung menggeleng lalu tersenyum kecil, "Aku ingin menemani Jimin, kau kembalilah, terimakasih telah mengantarku kemari"
Pertama kalinya dalam hidup! Bukan, pertama kalinya semenjak nightmare itu menghantui Taehyung, Taehyung tersenyum kepada oranglain. Hoseok pun membalasnya dengan anggukan, "Tapi kau tidak bisa menyetir. Mau kuambilkan bajumu dirumahmu?"
Taehyung menggeleng "Tidak usah, aku akan membolos besok" ucapnya lirih kemudian masuk kedalam kamar yang ditempati Jimin. "Baiklah, aku pergi" Hoseok pun memberi hormat lalu berjalan menjauh.
Taehyung duduk dikursi yang berada disamping kasur Jimin. Ia mengamati Jimin dengan intens, kemudian menggigit bibir bawahnya. "Kau bukan temanku, tapi percayalah aku benar-benar khawatir terhadapmu" ucapnya dalam hati sambil mengusap tangan Jimin dengan lembut.
Raut wajah Taehyung kian berubah, Ia jadi tampak semakin sedih. Bahkan kini air matanya membasahi pipinya, Ia memang tidak terisak namun air matanya tak kunjung berhenti mengalir. "Aku tak ingin kau mati, kumohon tetaplah hidup" Taehyung mengusap air matanya dengan kasar, hidungnya memerah akibat menangis. Ia tak ingin Jimin bernasib sama seperti keluarganya.
"Tsk, bodoh"
Taehyung kemudian melepas genggamannya pada tangan Jimin, "K-kau.. sudah sadar?!" tanya Taehyung dengan terkejut. Bagaimana tidak terkejut, Jimin sadar secepat itu.
"Ayolah, kenapa kau menangis?" tanya Jimin lirih. Taehyung kemudian mengusap air matanya cepat-cepat, "Dan kenapa kau melepaskan genggamanmu?" Jimin kemudian meraih tangan Taehyung lalu menggenggamnya sambil sesekali mengusapnya lembut layaknya Taehyung lakukan tadi "Ini membuatku nyaman" Taehyung membiarkan Jimin mengusap tangannya.
"Kau membuatku khawatir" ujar Taehyung dengan sangat pelan, Ia sangat malu jika Jimin mendengarnya, namun tetap saja Jimin dapat mendengarnya, "Oh? Jadi ini murid yang paling cuek dan tak pedulian yang sering dibicarakan para murid disekolah?" Jimin terkekeh lemas membuat Taehyung menaikkan satu alisnya pertanda tak paham.
"Kim Taehyung seorang murid yg dikenal paling menyeramkan ternyata bisa menangis juga. Aku tersentuh haha" Ejek Jimin, Taehyung hanya menghela nafasnya kesal. "Berhenti menertawaiku, aku membencinya" gerutu Taehyung yang malah terlihat lucu dimata Jimin.
"Oiya, bagaimana kau bisa membawaku kemari?" tanya Jimin penasaran, "Aku tadi meminta salah seorang bartender mengantarku. Ia yang menyetir, oh ya. Ini kunci mobilmu" Taehyung pun meletakkan kunci mobil Jimin diatas meja kecil disebelah kasur Jimin. "Istirahatlah yang cukup" lanjutnya sambil menatap Jimin iba. "Baiklah sekarang kau boleh pulang, terimakasih telah mengkhawatirkanku" ucap Jimin sambil tersenyum kecil akibat masih lemas.
"Aku akan menginap disini"
"Tapi-"
"Jika kau mengusirku, aku tak akan menganggapmu sebagai teman"
"T-tapi-"
"SELAMANYA" ucap Taehyung penuh penekanan, Jimin meneguk ludahnya lalu mengangguk, "Baiklah kau boleh menemaniku"
Taehyung pun tersenyum, "Nah begitu"
Jimin membulatkan matanya, "K-kau bisa tersenyum?" tanya Jimin yang dibalas tatapan malas oleh Taehyung, "Kau kira selama ini aku tak bisa menarik ujung bibirku untuk menghasilkan senyuman?" tanya Taehyung tak percaya. "Aku bisa tersenyum, namun selama 9 tahun ini belum ada yang bisa membuatku tersenyum, jadi jika aku tersenyum tanpa sebab akan membuat kejiwaanku terganggu" jelas Taehyung panjang lebar. Jimin pun mengangguk sambil menggumam kata 'oh' pertanda Ia paham apa yg dibicarakan Taehyung. "Lalu kenapa kau tidak mau berteman? Padahal banyak sekali yang ingin berteman denganmu"
Taehyung menghela nafasnya sambil mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan, "kau tau? jika kau ingin mengenal seseorang, kau harus rela kehilangan mereka suatu saat. Dan aku tak akan rela, siapapun itu aku takkan rela. Itulah mengapa aku menangis saat kau tak sadarkan diri. Aku takut kau pergi" lanjut Taehyung dengan wajah memelas, namun Jimin hanya menatapnya heran, "Oh ayolah ini hanyalah insiden kecil. Aku sudah terbiasa dengan ini" ucap Jimin menenangkan, "Jangan mengkhawatirkan aku, ya? Aku lebih bisa menjaga diri dibandingkan dengan dirimu"
Taehyung hanya mengangguk pasrah. "Istirahatlah, ini sudah larut malam" ucap Taehyung sambil berjalan kearah sofa lalu berbaring disana. "Jadi? Apakah sekarang kita teman?" tanya Jimin penasaran, Taehyung menghela nafas lalu menutup matanya dengan lengannya, "Kau adalah teman pertamaku, dan berhentilah bertanya karena aku sangat lelah" gerutunya dengan ketus. Oh, pribadi Taehyung yang beku sudah kembali rupanya.
.
.
.
.
9.00 AM
"Hey kenapa kau tidak sekolah?" tanya Jimin ketika melihat Taehyung baru bangun dari sofa. Taehyung menggeleng pelan dengan mata yang masih terpejam. Jimin terkekeh melihat kelakuan temannya, "Tsk, aku baru pertama kali melihatmu dengan ekspresi seperti itu. Kau lucu"
"Shutup" Taehyung menyela ucapan Jimin dengan ketus lalu kembali berbaring disofa. Baru beberapa detik Ia akan memulai tidurnya lagi, tiba-tiba ada yg mengetuk pintu kamar.
"Masuk" seru Jimin dari dalam kamarnya, seseorang membuka pintu kamar Jimin, seseorang yang tampak asing bagi Jimin. "Annyeonghaseyo" ucap Jimin dengan sangat formal kepada dua orang pria yang sedang berjalan menghampiri Jimin. "Kalian siapa?"
"Oh jadi kau yang membuat keributan kemain malam?" tanya seorang lelaki dengan rambut blonde kepada Jimin dengan wajah pedas. Jimin mengerjapkan matanya lalu mengangguk pelan, "Lain kali berhenti melakukan itu dasar bocah" bentak seorang dengan rambut blonde tadi. Jimin pun mengangguk pelan, "Tapi kalian siapa?"
"Argh bisakah kalian kecilkan suara kalian!? Aku tidak bisa tidur" teriak Taehyung dengan geram sambil membuka matanya mencoba melihat siapakah si perusak suasana tersebut.
Taehyung terkejut ketika melihat siapa yang berada didepannya kini. "Hoseok hyung?" tanyanya pada seseorang yg diyakini adalah Hoseok. "Oh, kau masih mengingat namaku rupanya" Hoseok menampakkan eyesmilenya kearah Taehyung membuat Taehyung tersenyum kecil kearahnya. Namun siapa pria berambut putih itu?
"Hey bisakah kalian berkencan diluar sana? Aku masih ada urusan dengan si pembuat onar ini"
"Apa? Kencan?" Taehyung membulatkan matanya terkejut ketika teman Hoseok mengatakan hal itu. Yang benar saja bahkan mereka baru saling mengenal kurang dari 24 jam.
"Baiklah, tuan pemarah" Hoseok pun menarik tangan Taehyung keluar dari kamar Jimin lalu mengajaknya jalan-jalan ketaman rumah sakit.
Mereka berdua pun duduk disalah satu kursi panjang yang tersedia di taman. Taehyung terus menunduk, sementara Hoseok terus menoleh sana sini memandangi apa saja yang ada disekitarnya. "Hey, kau sakit?" tanya Hoseok ketika Ia sadar bahwa Taehyung terus menunduk, Taehyung pun menggeleng sambil tersenyum kecil. "Aku hanya takut orang yang kau panggil tuan pemarah tadi memarahi Jimin"
Hoseok pun mengangkat sedikit alisnya, "Kau menyukai Jimin?", seketika Taehyung terbatuk akibat ucapan Hoseok. "Hah? Tentu saja tidak. Ia hanya temanku, yap.. teman pertamaku"
"Teman pertama?" Hoseok sedikit kebingungan dengan omongan Taehyung mengenai teman pertama, "Aku belum pernah memiliki teman sebelumnya"
Hoseok mengangguk mengerti, "Lalu apakah aku bisa menjadi teman keduamu?"
Taehyung terkejut mendengar ucapan Hoseok, dadanya sedikit sesak entah mengapa. Karena dari kemarin Ia masih menganggap Hoseok sebagai kakaknya. Kakak yang telah lama menghilang. Namun kenyataan pahitnya, Hoseok bukanlah kakaknya.
"Oh, tentu bisa hehe" ujar Taehyung sambil terkekeh walaupun matanya tengah berkaca-kaca. "Woo~ kau kenapa, apakah kau menangis?" Tanya Hoseok panik ketika melihat air mata Taehyung keluar dari matanya, Taehyung dengan cepat menghapusnya, "Ah ini.. aku sangat mengantuk sehingga pandanganku mengabur akibat air mata. Hehe"
"Kau pasti sangat lelah menjaga bocah itu semalaman, mari kuantar kau kembali kekamar" Hoseok pun merangkul bahu Taehyung sambil mengusap rambut lelaki itu dengan lembut, Taehyung sangat nyaman dengan apa yang dilakukannya, seketika Ia merindukan kakaknya beserta keluarganya.
Sesampainya didepan pintu kamar, saat tangan Taehyung menyentuh gagang pintu dan mulai membukanya, lelaki dengan rambut blonde itu masih mengoceh didepan Jimin. Jimin sedari tadi hanya menghela nafas pasrah mendengarkan ocehan lelaki manis bermulut pedas ini.
"Min Yoongi hentikan" Hoseok mulai malas dengan temannya ini lalu menariknya untuk duduk disofa. "Tapi bocah ini merusak bar ku!"
"Hyung, Ia sedang sakit."
"Dia punya hutang didalam bar ku! Aku tidak mau tau"
"Lagipula tak ada yang mempermasalahkannya kan? Sudahlah" Ujar Hoseok menenangkan amarah lelaki blonde bernama Yoongi tadi. Taehyung mengamati tingkah laku Hoseok kepada Yoongi seolah.. Hoseok memang pantas menjadi seorang kakak walaupun Hoseok lebih muda dari Yoongi (terlihat ketika Hoseok mulai memanggil Yoongi dengan sebutan hyung)
"Hft baiklah." Yoongi kembali berdiri, menatap intens Jimin "Hey bocah, kau punya hutang padaku. 10 juta won, kau harus menggantinya"
"Bisakah aku menyicil?" sela Jimin, Yoongi mengangguk, "Asal kau bisa melunasinya! Permisi" Yoongi pun beranjak keluar dari kamar Jimin diikuti oleh Hoseok, "cepat sembuh, Jimin" Hoseok pun menutup pintu kamar Jimin.
Taehyung pun mengamati wajah Jimin yang sangat tenang, bahkan bisa dibilang meremehkan? "Hey, untuk apa kau menyicil? Setauku kau kan berasal dari keluarga berada. Bukankah 10 juta adalah jumlah yang kecil?"
Jimin hanya tersenyum penuh arti, Ia mengusap dagunya sendiri "Hm, menyicil? Supaya aku dapat sering bertemu dengan mahluk bermulut pedas itu"
Taehyung menatap Jimin malas, "Oh. Jadi kau tertarik dengan Yoongi?" pertanyaan Taehyung hanya dibalas senyuman pervert Park Jimin.
"Hft kau ini, belum tentu Yoongi tertarik denganmu" Taehyung memutar bola matanya malas. Jimin hanya terkekeh, "Dan kau? Apa hubunganmu dengan pria berwajah lonjong tadi?" . "Namanya Hoseok!" bentak Taehyung penuh penekanan. "Ya ya ya siapalah itu, apakah dia bartender yang kemarin mengantarku kemari?"
Taehyung mengangguk, "Ya. Bukankah dia sangat baik?" tanya Taehyung, Jimin hanya menggeleng "Biasa saja"
"Kau ini! Sudah dibantu malah meremehkan" ketus Taehyung sedikit kesal membuat Jimin mengerjapkan matanya, "Sudah dibentak berapa orang aku hari ini..." ucap Jimin lirih.
"Tidurlah, kau pasti sangat lelah diceramahi oleh Min Yoongi tadi"
Jimin mengangguk, lalu memejamkan matanya, "Tidurku akan lebih nyenyak jika aku membayangkan saat aku mulai mengendarai lelaki blonde itu"
Mendengarnya, Taehyung memutar bola matanya malas, "Mesum! Sudah cepat tidur!"
"Baiklah cerewet" Jimin pun memejamkan matanya dan perlahan terbawa kedalam alam bawah sadarnya.
Tak beberapa setelah Jimin tertidur, Taehyung hendak mencari udara segar diluar kamar. Namun ketika Ia membuka pintu kamar Jimin, tanpa sengaja Ia menabrak dada Hoseok. "H-hyung? Kau masih disini?" Tanya Taehyung terbata-bata karena terkejut, Hoseok tersenyum kaku sambil mengusap tengkuknya, "Y-ya. Hehe, ponselku ketinggalan, bisakah kau ambilkan disana?" Hoseok menunjuk meja yang terletak didepan sofa. Dengan cepat Taehyung pun mengambil ponsel Hoseok dan memberikannya kepada sang pemilik.
"Oh, tunggu" Hoseok mengotak atik ponselnya lalu memberikannya pada Taehyung, Taehyung menatap bingung lelaki yang berada didepannya, "Catatlah nomor teleponmu disitu. Akan lebih mudah ketika aku ingin menghubungimu"
"Kenapa kau ingin menghubungiku?" Oh God, itu benar-benar pertanyaan bodoh seorang Kim Taehyung.
"Kau bilang temanmu hanya ada dua, aku dan Jimin. Ketika Jimin sedang sakit seperti itu, teman kedualah yang bertugas untuk menghiburmu agar kau tidak kesepian" tutur Hoseok yang membuat wajah Taehyung memanas, pipinya memerah karena merasa diperhatikan, selama 9 tahun lamanya belum pernah ada yang membuat Taehyung merasa nyaman walaupun sudah banyak yg mencoba memperhatikan sekaligus bersikap baik padanya.
"Baiklah, ini" Taehyung memberikan ponsel Hoseok kembali lalu menutup pintu kamar dengan cepat sebelum Hoseok mengatakan terimakasih.
Taehyung bersandar pada pintu, pandangannya kosong. Yang ada dipikirannya kini hanya satu;
'berhenti menganggapnya kakak yang sudah lama hilang. Dan berhenti berharap bahwa Ia adalah kakakmu, karena Ia bukan kakakmu, Kim Taehyung!'
.
.
.
.
-TBC-
Ah masa gue apdet lama amat, abisnya gue sibuk classmeet sih -_- reviewnya mana coba~ review banyak gue tambahin vhope sama yoonmin nc deh kalo bisa :v
Oiya ini gue tadi nulisnya ga sadar sumpah, abis liat vmin moment jadi gemes pen nambahin vmin disini. Trus gua inget pair nya vhope yaoloh -_- anggep aja vmin tadi hanya butiran butiran kekhilafan gue. Trus banyak yang req nc ternyata :v okelah gua tambahin nc di part tertentu nanti :v
