Disclaimer : Naruto by Masashi Kishimoto

Locked out of Heaven song by Bruno Mars (recommended song)

My story by mine

Warning : AU. Alur lambat (I've warned you). Kata-kata yang terlalu bertele-tele. Typo(s?) dimana-mana.

Enjoy

.

.

.

Ingin dicinta. Apakah kau juga ingin? Hyuuga Hinata hanya ingin dicinta. Dan mencintai. Tapi bagaimana jika cintanya terobek penghianatan? Masihkah sanggup dia mencinta?

Dia hanyalah seorang manusia biasa. Dengan kekuatan terbatas, dengan kehidupan terbatas, dengan cinta yang juga terbatas. Salahkah jika dia egois? Sekali ini. Merasakan saat dirinya benar-benar merasakan dicintai. Tulus tanpa batas dari seorang yang tak dia cintai. Merasakan rengkuhan hangatnya, napas beratnya, denyut nadinya. Kemudian tertidur, menutup mata dari semua dosa yang tak bisa dielakkan. Karena, tentu sudah kuperingatkan, Hinata Hyuuga hanyalah seorang manusia. Memiliki keterbatasan, bahkan dalam memberi cinta.

Cinta bukan tentang menerima , tapi juga memberi. Apakah salah jika dia haus? Haus untuk menerima, haus untuk dilimpahi. Cinta. Sisi tergelap manusia yang selalu dijadikan alasan bagi manusia untuk menghancurkan. Yah, itulah kenyataanya. Dia hancur berkeping-keping. Terlalu memberi. Terlalu memuja. Terlalu merindu. Terlalu, dia terlalu mencinta. Dan itu membuatnya sakit. Terlalu sakit untuk memikirkan dia, orang yang terlimpahi cintanya, meruntuhkan cintanya.

Hinata membuka kedua kelopak matanya saat dirasanya sepasang tangan melingkari pinggulnya. Kembali memejamkan mata, merasakan hembusan angin malam yang menyapu beranda apartemen, ketika terdengar suara berat menembus indra pendengarnya.

"Kenapa tidak menyambutku?" terdengar seperti merengek, tapi itulah kata yang terucap dari Sabaku Gaara. Menyusupkan kepalanya di perpotongan leher kekasihnya, Gaara seakan ingin menarik wanitanya kembali keatas ranjang. Mencium wangi Hinata bercampur peluh miliknya. Kemudian kembali mereguk kenikamatan surgawi itu. Lagi, lagi dan lagi.

Tapi Gaara tahu, keinginan liarnya itu tak akan pernah disambut sukacita dari wanita dalam dekapannya. Keterdiaman Hinata bukanlah hal baru bagi Gaara selama 1 minggu mereka tinggal bersama. Dingin, tanpa ekspresi, tanpa cinta. Dan Gaara memakluminya. Selama Hyuuga Hinata disisinya itu tak masalah. Biarlah waktu yang nanti merubah segalanya. Tentu, Gaara akan setia menanti. Sampai hati Hinata teroles cinta kasih mereka.

"Sudah makan, Hime?" lagi, tak ada jawaban dari pertanyaan yang dilontarkan Gaara. Memperdalam rengkuhannya pada pinggul sang gadis, Gaara menghirup kembali aroma yang dikeluarkan dari leher bagian kanan Hinata. Tak puas, diciuminya setiap bagian dari leher wanitanya. Ciuman yang berubah menjadi kecupan, jilatan dan gigitan nafsu terhenti saat Hinata dengan terburu-buru membalikkan badannya.

Saling berhadapan, Gaara dapat melihat salivanya yang tertinggal di leher pucat Hinata berkilat tertimpa sinar rembulan. Menyeringai dalam diam, sang Sabaku bungsu berdecak puas meneliti hasil karya yang dibuatnya di area tersebut.

"Hen..hentikan semua i..ini , Gaara." Suara Hinata yang membelah keheningan tak mendapat respon berarti dari Gaara. Ah, seandainya Hinata tahu apa yang ada dalam pikirannya. Bagaimana imajinasi liar kembali memutari kepala Gaara saat suara lirih Hinata terdengar seperti desahan yang mengiringi malam penyatuan mereka dulu. Mengulang kembali aktivitas yang mengunci semua indranya dalam surgawi terindah. Apalagi yang hendak dihentikan Hinata saat semua yang mereka lakukan seakan terkunci rapat di tiap sel otaknya. Hentikan ciumannya kah? Hentikan desahannya kah? Ataukah menghentikan tarian surga itu? Oh, jangan harap. Sekali Gaara memulai, dia akan selesaikan sampai selesai.

"A..aku salah. Kita berbuat salah. To..tolong, kita ma..masih bisa perbaiki dari awal." Memantapkan hati, Hinata mendongakan kepalanya menatap mata sehijau zamrud yang memicing seakan tak suka dengan apa yang telah diucapkan Hinata. Apakah semua hal yang telah mereka lakukan terlihat salah di sepasang netra perak itu? Mengapa Hinata tak bisa merasakan apa yang dia rasakan saat ini. Keinginan sederhana hanya untuk mendapati sosok Hinata terbaring lelap di pelukannya, setiap pagi, selamanya. Sesederhana itu.

Tak tahukah pemilik mahkota sewarna indigo itu betapa setiap detiknya, setelah pertemuan pertama mereka, setelah Gaara merasakan rasa itu di sudut hatinya, dirinya bagai pungguk merindu rembulan. Memimpikan sesuatu yang dulunya begitu mustahil di dapatkannya. Dan sekarang, setelah sang pungguk membawa bulan dalam dekapannya, apakah bisa dia melepaskannya? Tidak. tak akan pernah.

"Kamu adalah hal yang paling indah yang pernah diberikan Tuhan kepadaku." Zamrud itu membara dalam keremangan malam, mempertegas secara tak langsung apa yang telah diucap pemiliknya.

Terdiam, mungkin hanya itu yang dapat dilakukan Hinata. Mengapa? Mengapa orang yang dicintainya tak dapat mengucapkan kata sesederhana ini. Dengan keyakinan seperti ini ,dengan mata yang menatap tajam seperti ini. Salahkah bila Hinata bingung? Bingung meletakkan hatinya. Kepada siapakah dia harus mempercayai tempat hatinya nanti?

" Hanya aku yang mencintaimu, Hime." Kasar tangan Gaara mengelus kulit wajah seputih porselen milik Hinata. Terpaku. Dua pasang mata berbeda warna terperangkap dalam keindahan mata masing-masing.

Hanya hal sesederhana ini yang dibutuhkan Hinata. Dicintai. Dan siapa yang tak akan luluh? Saat sebesar ini perhatian yang diberikan Gaara, masihkah Hinata menolak? Walau dulu secara lantang Hinata tegaskan, dari dulu sampai nanti cintanya hanya satu. Tapi saat pencobaan menggempurmu, masihkah ada keyakinan itu?

"Hanya aku." Sebaris verba terakhir yang terucap dari bibir Gaara mengakhiri segalanya. Malam itu, kembali Hinata rasakan bibir Gaara yang merindu menyentuh bibirnya. Tak ada gairah. Tak ada nafsu. Hanya kecupan lama yang melambangkan ketegasan hati yang diikrarkan Gaara malam itu.

Sudah terlalu lelah Hinata mencinta. Sudah terlalu sakit Hinata mendamba. Saat sesosok pangeran menawarkan cinta yang manis, Hinata terombang-ambing mengikuti arus. Mencintai dan dicintai. Kata yang begitu mudah terucap tetapi sangatlah sulit dikecap. Kenyataanya, cinta yang begitu lama dipupuk untuk pasangannya, Namikaze Naruto, harus berbuah sakit hati yang tak terelakkan. Membuat Hinata bingung. Membuat dia rapuh. Tanpa ada pegangan, dimana lagi dia akan temukan kebahagiaan kecilnya?

Air mata yang kembali mengaliri kedua pipi Hinata menyertai kecupan bibir mereka malam itu.

.

.

.

"HINATA !" teriakan sesosok pria membelah kedamaian pagi itu. Terduduk lemas di atas tempat tidur yang tak layak untuk ditiduri, bed cover yang raib entah kemana, selimut yang membuntal di sudut atas kasur, dan bantal yang tertata acak di setiap sudut kamar, bola mata birunya menatap kosong ke depan. Tak dihiraukannya saat sahabat wanitanya berjalan melewati pintu, menatap sayu kepadanya.

"Naruto," pemilik surai merah pudar sebahu itu mencoba memanggil sang sahabat yang tenggelam dalam lamunan kosongnya. " sudah 3 hari ini kamu belum makan, cobalah isi dulu perutmu. Lihat, aku bawa ramen kesukaanmu. Masih hangat loh, buatan tangan langsung dari paman Teuchi. Bahkan tadi dia heran lalu bertanya kepadaku, mana si pirang berisik itu? Hahaha," tertawa pelan mencoba menghilangkan suasana tak nyaman di ruangan itu, Sakura melirik Naruto yang tak juga membalas ucapannya. Menghela napas tertahan, Sakura kemudian berdiri, meletakkan bungkusan yang tadi dibawanya ke atas salah satu meja yang masih layak pakai di kamar itu.

Kamar itu sangat berantakan. Baju-baju berceceran keluar dari lemarinya, pecahan kaca dimana-mana. Sungguh Sakura tak habis pikir. Begitu besar kah dampak yang telah diperbuatnya malam itu bagi kehidupan Naruto? Bahkan sampai kehilangan akal sehingga melukai dirinya sendiri dengan memecahkan cermin di kamar hanya menggunakan kepalan tangannya sendiri. Sungguh, Sakura memejamkan mata, dia merasa sangat bersalah akan keadaan sahabatnya sekarang.

" Maaf," bersimpuh di bawah lutut Naruto, Sakura tak kuasa menghentikan tangis lirihnya. Sungguh dia merasa menjadi pendosa. Hanya demi keegoisannya semua jadi berakhir seperti ini. Apa yang mau dikata? Jam tak mungkin berputar mundur. Penyesalan ini harus dia pikul sampai akhir hayatnya. " Maaf, Naruto, maaf. Ini semua salahku. Karena aku.."

"Ssh, Sakura-chan, jangan menangis." Iris biru Naruto fokus menatap sahabat wanita cerewetnya yang terlihat begitu rapuh di bawahnya. " Hinata-chan tidak pergi kok. Dia hanya sedang berlibur. Iya, dia sedang berlibur. Tapi, yah, mungkin dia sedang marah padaku jadinya dia enggak ngabarin aku dulu." Birunya kembali memudar menatap kosong pada satu titik sudut langit-langit kamarnya. "tapi kenapa Hinata-chan marah sama aku yah? Padahal akukan sayang sama Hinata-chan. Dia juga sayang sama aku kan? Mmh, aneh. Yah, mungkin aku bakal berkeliling lagi mencari kemana Hinata-chan pergi."

Tarikan lemah di lengan kanan Naruto menghentikan pergerakannya yang hendak berdiri untuk melaksanakan niatannya tadi. Netra sewarna daun itu berair,menandakan pertahanan pelupuk mata Sakura yang bobol menahan air yang mengalir deras di kedua pipinya. Sungguh Sakura tak sanggup. Dia harus segera menyadarkan teman jingganya ini sebelum Naruto makin hancur. Atau, sebelum mereka makin hancur.

"Sakura-chan, tolong lepaskan tanganku,"

"NAMIKAZE NARUTO, SADAR! DIA SUDAH PERGI. DIA HANCUR! TAK BISAKAH KAMU MENGERTI KEADAAN SAAT INI? " teriakan frustasi Sakura bergaung memenuhi setiap sudut kamar berantakan itu. Mencengkram erat kerah Naruto, Sakura tak kuasa menahan gigilan di sekujur tubuhnya. Menahan sesal di setiap pori sekujur tubuhnya, sesal yang tak akan pernah berujung bagi Sakura.

"Dia pergi, Naruto. Saat kamu sadar akan cintanya. Saat kamu mulai mencoba mencintanya…Karena aku," Menghapus air yang mengganggu penglihatannya, Sakura mati-matian melafalkan kalimat-kalimat terakhirnya.

"Asanya putus, saat cinta menghinggap di hatimu. Dan kalian hancur. Kemudian dia pergi. Itu Naruto, itu yang terjadi."

Kesadaran menghantam telak pada Naruto. Terduduk kembali, Naruto menunduk. Apa yang telah kulakukan, pikirnya. Menutupi realita dengan imajinasi seindah surga. Mengatakan semua baik-baik saja padahal tidak. Padahal semua hancur. Aku, dia dan Sakura. Kami hancur. Dan dia, adalah korban dari segala peristiwa yang terjadi. Karena keegoisanku tentu saja.

Masih terekam dalam memori Naruto bagaimana senyuman nyonya Namikaze, yang beberapa saat sebelumnya bermarga Hyuuga itu, mengembang sesaat setelah mengucapkan janji suci dihadapan Tuhan. Bersumpah setia sampai mati. Mencintai sampai mati. Dan Naruto merona, tertawan pada senyuman tanpa dosa yang diumbar pasangan hidupnya itu.

Bukan dia tak mencinta. Perjodohan yang seakan mengekang kebebasannya dalam menjelajahi kehidupan membuatnya berontak pada awalnya. Umurnya masih 24 tahun dan dia sudah harus menikah? Jangan bercanda! Dia sadar bahwa dialah pewaris utama seluruh aset Namikaze yang tersebar di tiap sudut negara ini. Sudah terlalu banyak waktu yang dia korbankan hanya untuk mengurusi tetek bengek perusahaan yang mencekik kebebasannya. Waktu, tenaga, dan cinta. Semua dia sisihkan hanya demi menjadi seorang anak yang sesuai dengan harapan orang tuanya.

Kemudian dia datang. Sahabat kecil yang terlupakan dari masa lampau. Masih dengan pipi meronanya. Masih dengan kegagapannya. Mungkin yang berubah hanya bentuk fisiknya yang melekuk, menampakan kematangan seorang wanita di umurnya yang ke 24.

Bukan, bahkan cinta gadis kecil yang beranjak dewasa itu pun masih bergejolak di setiap pembuluh nadinya. Dari dulu sampai sekarang.

Kenyataan bahwa wanita ini yang akan kembali merantai kebebasannya membuatnya buta. Matanya gelap tak melihat sinar dambaan di sepasang iris perak itu. Lidahnya kelu, membalas untaian kasih yang terucap. Kulitnya kebas, merasa sentuhan cinta yang tak berujung. Dan wanitanya, wanita itu mengharap. Mengharap butiran cintanya menggunung, seperti rasa ini yang tak pernah habis dia rasa untuk Naruto.

Dan kemudian, roda berputar. Saat rasa itu menggunung di hati Naruto, angin berhembus meruntuhkan rasa tak berujung yang ada dalam hati wanitanya. Saat hatinya hancur, saat hatinya terserpih, Naruto sadar. Hatinyapun hilang. Angin meniupkan rasa lain. Rasa rindu,sesal, dan cinta. Ya, Namikaze Naruto mencintai Namikaze Hinata.

.

.

.

Ah, saya tak bisa berkata. Apresiasi kalian benar –benar membangkitkan gairah menulis saya. Bahkan sampai ada yang manggil senpai. Oalah, saya juga masih pemula dalam bidang tulis –menulis.

Dan sekedar pemberitahuan, bagian 1 sudah saya edit

hatakrj