A/N : Eh?Udah nyampe sini?Ya sudah silahkan nikmati chapter 2 nya /o/
Disclaimer: Kuroko no Basket (c) Fujimaki Tadatoshi
Warning: boyxboy,berusaha romance tapi gagal ah sudahlah.
Fandom : Kuroko no Basket
Pairing : Aomine x Kagami (Aokaga)
Rate : T
We are (not) just a rival
( 'A')
"Kagami-kun,bukankah itu penggemarmu?" Kuroko menunjuk 2 orang gadis yang sedang menunggu seseorang di depan pagar sekolah. Kagami melihat ke arah yang Kuroko tunjuk. Bola mata nya membulat karena kaget. Tidak dia sangka, penggemarnya itu akan menunggunya di depan pagar sekolah. Jangan bilang,mereka ingin mengajak Kagami pulang bareng..
Kagami mendecih kesal lalu memikirkan cara untuk pulang ke apartemennya tanpa bertemu apalagi berbicara dengan penggemarnya itu lagi.
"Kuroko. Bisakah kau mengalihkan perhatian mereka?" Kagami memohon.
"Tidak mau."
"Sial!Kalau begitu aku akan melewati pagar belakang.." kata Kagami sambil mengacak-ngacak rambutnya.
"Tetapi pagarnya cukup tinggi." Jelas Kuroko datar.
"Aku tahu itu!Masa bodolah!Jaa, Kuroko!" Kagami langsung berlari meninggalkan bayangannya itu untuk menuju ke pagar belakang sekolah. Kuroko yang melihat sang cahanya pergi hanya menghela nafas pelan lalu pergi ke pagar depan untuk pulang kerumahnya. Beruntung, 2 gadis tersebut tidak melihat Kuroko lewat didepan mereka. Kalian pasti sudah tahu sebabnya apa.
( 'A')
Nafas kagami terengah-terengah, dia sangat kelelahan saat ini. Wajar saja ia kelelahan, ia berlari dari gedung sekolah ke pagar belakang, lalu ia memanjat pagar dengan buru-buru takut kelihatan murid lain apalagi guru, dan entah karena dia bodoh atau bagaimana,setelah ia berhasil meloncati pagar belakang sekolah ia malah lari tanpa tujuan walaupun tidak ada yang menggejarnya, termasuk 2 penggemarnya tersebut...
Jadi,disinilah Kagami. Tempat untuk menenangkan dirinya dan perutnya yang sudah menangis, di Maji Burger. Dia memesan 15 cheeseburger kesukaannya,lalu mengambil tempat duduk didekat jendela. Segerombolan gadis-gadis dari luar yang kebetulan lewat & melihat kagami melalui jendela,hanya tertawa karena mungkin mereka baru melihat ada manusia yang porsi makannya sebanyak itu,atau mungkin itu salah satu cara mereka untuk menyapa Kagami,karena mungkin saja mereka penggemar Kagami dari sekolah lain yang menyaksikan pertandingan Seirin 2 hari yang lalu.
Merasa terganggu karena Kagami tidak suka ditatap saat dia makan, Kagami pun memberikan "Death Glare" nya kepada gadis-gadis itu. Ajaib,gadis-gadis itu langsung meninggalkan Kagami, Kagami pun menghela nafas lega lalu melanjutkan makannya.
"Wah...kau mengusir penggemarmu."
"?!"
Kagami hampir tersedak mendengar suara yang sangat familiar itu. Ia langsung menengok ke arah sumber suara itu. Tepat dugaannya—
"Yo."
—itu Aomine. Kali ini Kagami benar-benar tersedak. Tepat di depannya terdapat lelaki bersurai dark blue dan memiliki kulit tan tersebut sedang membawa paket set teriyaki burger kesukaannya itu.
"?!Akh—uhuk uhuk"Kagami pun langsung meneguk minumannya.
"Hah?Tidak usah berlebihan seperti itu." Aomine menaruh makanannya di meja tempat Kagami berada, dan duduk dikursi depan Kagami. Ya. Bisa dikatakan mereka satu meja.
"Siapa suruh kau muncul tiba-tiba!Dan juga—SIAPA YANG MENYURUHMU DUDUK DI SINI?!"Kagami teriak lumayan kencang, membuat pelanggan lainpun pada memperhatikan mereka.
"Cih. Kau berisik sekali,Kagami,tempat ini sudah rame dan berisik tau."Aomine membuka bungkus teriyaki burger yang baru ia beli tadi—
"Tidak ada tempat kosong lagi,jadi aku duduk disini."
—lalu melahapnya.
"Ughh..." Kagami menatap Aomine kesal,lalu melanjutkan makan nya yang sempat tertunda.
"Lalu...kenapa kau mengusir penggemar-penggemar mu itu?"Aomine mencoba mencari topik pembicaran.
"Mereka mengganggu." Kagami menjawabnya tanpa ragu-ragu.
"...dan kau langsung mengusir mereka?"
"Tepat."
"...kenapa?" Aomine bertanya sekali lagi, dia tidak percaya dengan jawaban yang Kagami berikan barusan.
"HAH?!Kau tuli ya?Tidak ku sangka,selain bodoh kau juga tuli,Ahomine!Sudah ku bilang,mereka menganggu ku!"
"Aku tidak tuli!"
"Arghhh!Kau membuat ku kesal!" Kagami benar-benar emosi. Rasanya ia ingin melempar semua benda disekitarnya (terkecuali cheeseburger nya) tepat ke arah wajah lelaki yang kini berada dihadapannya. Tetapi,ia sadar bahwa dirinya kini sedang berada ditempat umum.
"Haah.."Aomine menghela nafas. Burger milik Aomine sudah habis, wajar saja,ia hanya memesan 1. Sekarang ia sedang mengemili kentang gorengnya.
"Lalu,apakah kau benar-benar tidak suka penggemarmu itu?Walau mereka hanya melihatmu?"
"Hari ini aku benar-benar kesal karena 'penggemar' ku". Jawab Kagami,ia menekankan suaranya saat ia menyebut kata 'penggemar'
"Maksudmu?"
"Aku juga mempunyai penggemar di sekolah. Walau cuman 2. Tetapi mereka benar-benar membuatku KESAL! Mereka mendatangiku saat istirahat,menyuruhku menjawab-menjawab pertanyaan mereka, dan jika aku tidak menjawab aku tidak boleh pergi dari mereka. Menyebalkan bukan?!" Kagami melahap cheeseburger untuk melampiaskan emosinya.
Setelah mendengar curhatan Kagami, Aomine semakin penasaran tentang Kagami dan para penggemar-penggemarnya. Dia menyeringai tipis, setelah ia mengetahui bahwa ternyata Kagami tidak suka dengan penggemar-penggemarnya. Mungkin karena Aomine tahu, Kagami memang tidak bisa memperlakukan wanita dengan baik. Atau mungkin, Aomine senang karena kini ia tidak perlu lagi memikirkan Kagami dengan para penggemarnya.
"Lalu,apa yang mereka tanyakan?"
"Hmm...Mereka menanyakan 'pertandingan seirin 2 hari yang lalu,terus mereka menanyakan apa betul aku mencetak banyak skor'." Kagami memasang pose berpikir. Mencoba mengingat kembali kejadian tadi siang.
"...dan juga mereka bertanya tentang 'siapa orang yang ku temui kemarin,dan apakah dia penting bagimu'."
Dasar bodoh. Kagami mengatakan itu tanpa memikirkan dahulu. "Lalu,kau jawab apa?" Aomine menyeringai. Kali ini mungkin lebih—lebar?
"Aku bilang aku menemui seseorang. Lalu, untuk pertanyaan yang terakhir, aku menjawab i—?!" Kagami menghentikan perkataannya setelah ia melihat Aomine yang berada dihadapannya sedang menyengir. Kali ini ia sadar, bahwa perkataannya barusan adalah penyebab mengapa Aomine memasang wajah seperti itu sekarang.
"Heeh,kenapa tidak kau lanjutkan~?" tanya Aomine dengan nada setengah menggoda.
"Khu!?" Kagami benar-benar menyesal dengan apa yang ia lakukan barusan. Malu sekali rasanya. Kagami menunduk malu, ia merasakan pipinya mulai panas saat ia mendengar suara Aomine yang seductive itu.
" Coba jawab pertanyaan yang terakhir itu... Katakanlah yang keras,Kagami." Aomine menggoda Kagami sekali lagi, dan kali ini sukses membuat muka Kagami makin memerah.
"Hah?!Mana mungkin aku akan lakukan itu!" Kagami mengangkat wajahnya lalu melotot ke arah Aomine. Bukannya kaget atau takut melihat wajah Kagami yang marah, Aomine malah menyeringai lebar.
"Hehh. Wajahmu merah."
"?!"
Kali ini Aomine benar-benar membuat Kagami kesal. Kagami langsung menarik kerah baju Aomine dengan tangan kanannya. Ia mengepal erat-erat tangan kirinya,bersiap untuk meninju Aomine. Ia dekatkan wajahnya ke wajah Aomine.
"Aku harap kau masih sayang masih nyawamu, Aomine!" ucap Kagami geram. Ingin sekali ia menghabisi Aomine saat itu tapi untuk yang kedua kalinya Kagami harus mengurung niatnya karena mereka sedang di tempat umum dan juga para pelanggan lain pun langsung memerhatikan mereka berdua.
Aomine melirik sebentar ke arah para pelanggan lain lalu menatap wajah Kagami yang masih belum melepaskan ekspresi kesalnya itu. Aomine mengela nafas pelan,tiba-tiba muncul ide di otaknya. Ia pun menggenggam tangan kanan Kagami yang dipakai nya untuk mencengkram kerah bajunya.
"Kau mau apa hah?!" Ucap Kagami sambil mempererat cengkramannya.
"Apa kau tidak malu apa dilihat banyak orang?"
"Hah?!"
"Ikut aku." Aomine melepas cengkraman Kagami lalu menggenggam tangan Kagami dengan tangan kanannya, tangan kirinya dipakai untuk mengambil tasnya dari bawah meja.
"O-Oi!Kita mau kemana?" Protes Kagami setelah tangannya ditarik oleh Aomine, buru-buru ia menyambar tasnya yang ada di bawah kakinya dengan tangan kirinya. Tangan kanan Kagami masih digenggam oleh Aomine, lalu Aomine menarik tangan nya itu, membuat wajah mereka lebih dekat.
"I-itai! Apa yang kau lakuka—"
"Ayo kita pergi."
"Hahh?!K-kemana?!"
Aomine mendekatkan bibirnya ke telinga kanan Kagami "Ketempat yang lebih sepi. Disini berisik." bisiknya.
Aomine langsung menarik tangan Kagami untuk keluar dari tempat ini. Kagami menundukkan kepalanya, mencoba menghindari eye contact dengan para pelanggan lainnya. Dia sangat malu saat ini. Bukan karena dia sudah membuat kekacauan di tempat ini, tetapi ia hanya tidak mau ada orang lain yang melihat wajahnya yang memerah saat ini.
To Be Continued
A/N : Yeay!Puji Tuhan selesai chapter 2 nya! Rencana nya saya ingin buat two shoots tapi gak jadi...lagi orz. Dan seperti biasa saja gak bisa bikin adegan romantis orz.. M-makasih banget buat yg mau review!Mungkin saya akan bales disini?baiklah...:
For Kirio-san: Enggak tau kenapa saya suka liat Kagami malu-malu gitu hshshs(?). Makasih,makasih,makasih sekali lagi makasih :'D. Hidup Aokaga!
For Chijou-san:Hahaha ;D Terima kasih!
Oke ini mungkin gak penting, saya itu orang yang jarang banget dipuji hasil karyanya... Jadi bagi saya, ini saja sudah bersyukur bangetu
Arigatou gozaimasu *bows* Terima Kasih!
