Special BIG THANKS to:
fallforhaehyuk | XiuBy PandaTao | wyda joyer | MidnightPandaDragon1728 | Haanniieess | Isnaeni love sungmin | Miettenekomiaw | danactebh | diahuang91 | jettaome | kauskakibau | ayulopetyass11 *yang rela review dua kali gara-gara kedodolannya* *plak* | missjelek | rheatna1004 | yeYeWooKIM97 | zhe | KT in the house | oraurus | BabyZiren KTS | ajib4ff | Riszaaa | dewicloudsddangko | Peachzt | ressi jewelll | pedokriseme | Shin SungGi | shintaelf | scorpioXtaurus | ShinJiWoo920202 | awlia | Heyitsmezifan | shotix | paradisaea Rubra | Chris AidenicKey | Dark Shine | beautypeach | abstyle zitao | Yhieza26 | KrisPanda | korean tea | Miyamoto Arufina – Jung Hye Ra | aniani47 | ynj906 | RunaPandaKim | Njitao | blueacacias | Lindaputrio | KRISme | putri | NaughtyTAO (maaf kalo ada nama yang ga kesebut)
Terima kasih banyak untuk support kalian di chapter kemarin.
Ga nyangka, feedback kalian sungguh luar biasa :') Jeongmal gomawo dear, you rock as always! Calanghae~ *kasih heart shape*
.
.
::
Chapter sebelumnya:
"Ketika aku mendengar jika calon tunanganku ingin mendapatkan bayaran di muka. Aku jadi penasaran orang jenis apa dia. Tapi sekarang aku sudah tahu..."
"..."
"...kau ternyata ingin menggodaku hanya demi uang, eh?"
"..."
"Tch, jangan munafik Huang. Aku sudah tahu orang seperti apa dirimu."
"Anda pasti salah paham!"
"..."
"..."
"..."
Jangan bercanda!
Aku, tunangan Pangeran Wu?
::
.
.
.
.
.
.
Royal Fiance
based on "Roiyaru Fuianse – Royal Fiance"
.
.
Disclaimer:
The Royal Fiance © Kamon Saeko & Asuma Risai
The cast and the characters are belongs to God
.
.
Cast:
Huang Zi Tao (Tao), Wu Yi Fan (Kris), slight others
.
.
Genres:
Romansu, Dorama, Hurt/Comfort
.
.
Rated:
T (plus plus)
.
.
Warnings:
Boys Love, Slash, Yaoi, Alternative Universe, Typo, Misstypo, and others
.
.
NB:
Gue ga jiplak fanfic lain. Gue cuma make alur cerita sesuai manganya. Gue juga cuma copy-paste plotnya aja *tolong katakan padaku, apa bedanya*.
Tapi karakternya emang gue ganti jadi KrisTao sih. Berarti ini bukan jiplak kan? Iya kan? *maksa*
Well
Tak ada keuntungan apapun yang saya terima, selain kepuasan karena berhasil(?) membuat fanfiction ini. Jika ada nama, tempat, atau kejadian yang sama dengan fanfic-fanfic lain, abaikan wae beb. Ini epep juga keinspirasi dari manga buatan orang kok :P
Take easy bro :D
NB *lagi*:
Kata beberapa author, typo adalah sebagian dari seni. Dan kata Deidara, seni adalah ledakan *blarr*. Jadi kalau ada typo atau kata-kata yang tak benar susunan kalimatnya, berceceran di fanfic ini, ledakkan saja orang yang bikin ini cerita! *dibom beneran*
.
.
and HAPPY READING!
.
.
Selamat menikmati fanfic nista ini bersama orang yang kau sayang :*
.
.
Enjoy! ^^
.
.
.
.
.
.
Chapter 2
Huang Zi Tao terlihat mulai menahan deru nafasnya ketika sosok sang Pangeran itu kembali berjalan menjauh. Bisa dilihatnya dengan jelas saat punggung lebar Kris yang sedang berjalan di depannya dengan langkah anggun namun angkuh, khas seorang Aristokrat sejati. Sungguh berbanding terbalik terhadap sosok Kris yang pernah tersenyum tulus padanya beberapa waktu yang lalu di atas atap gedung sekolah mereka.
Zi Tao kelihatan seperti ingin berteriak memanggil sang Pangeran sekali lagi. Tapi ia tak mampu.
Suaranya seolah tercekat.
Tertahan di antara batang kerongkonannya yang kering.
'Anda salah paham. Saya kemari hanya untuk bekerja...'
Batinnya menjerit gusar. Sedikit sedih karena isi hatinya tak juga tersampaikan.
Kepalan tangannya sedikit demi sedikit mulai mengendur. Namun tubuhnya masih bergetar kecil menahan tangis.
Kedua matanya yang berkantung tampak mulai memerah dan basah. Menghadirkan bulir-bulir kristal bening yang mengalir pelan keluar dari pelupuk matanya.
"Tuan Muda Huang.."
Seruan seseorang dari balik tubuhnya itu sontak membuat diri Zi Tao tersadar.
Ia segera membalikkan tubuhnya cepat, tentu saja setelah ia mengusap air matanya yang tadi sempat mengalir keluar. Di belakangnya hadirlah sosok Kim Suho. Sekretaris Kerajaan Ecuratan yang sekarang ini tengah berdiri menatapnya, sambil mengernyitkan dahinya bingung.
"Apa anda baik-baik saja, Tuan Huang? Apa anda merasa tak enak badan?" tanya sang Sekretaris itu sedikit cemas.
Pria yang diketahui Zi Tao bermarga "Kim" itu kemudian berjalan pelan ke arahnya. Lalu mengecek kondisi Zi Tao yang ia sangka sedang sakit.
"Saya tidak apa-apa.." jawab bocah bersurai raven itu pelan. Menggunakan suaranya yang sedikit parau karena habis menangis.
Kim Suho terlihat sedikit tak percaya dengan jawaban bocah di depannya itu barusan. Namun sayangnya ia tak bisa berbuat apa-apa lagi jika Huang Zi Tao sendiri mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja.
"Kalau begitu mari saya antar anda untuk berganti pakaian terlebih dahulu. Sebentar lagi anda akan diperkenalkaan dengan anggota kerajaan yang lain."
Anggukan pelan dari Zi Tao menjadi jawaban atas kata-kata sang Sekretaris. Mengerti, Zi Tao lalu berjalan mengikuti Suho yang sudah melangkahkan kakinya terlebih dahulu. Menggiring Zi Tao ke sebuah kamar ganti yang dikhususkan untuknya.
Sang sekretaris kemudian undur diri dari hadapan Zi Tao. Ia membungkukkan tubuhnya hormat. Setelah itu berjalan keluar dari dalam kamar, dan membiarkan Zi Tao seorang diri di dalam sana.
Suara derit pintu yang terbuka tiba-tiba saja membuat Zi Tao membalikkan tubuhnya cepat. Iris hitamnya membelalak kaget ketika sesosok tubuh pria beruban sedang berdiri penuh wibawa di ambang pintu.
"Kenapa kau belum juga berganti pakaian?"
Pria itu... adalah kakek-kakek yang pernah ditolongnya beberapa waktu yang lalu.
"Tuan?"
Zi Tao melangkahkan kakinya cepat. Dan segera menghampiri sang pria tua yang tengah menyunggingkan senyum tipis ke arahnya.
"Kenapa anda membohongi saya?"
"..."
"Anda bilang saya hanya bekerja sebagai seorang pengurus rumah tangga biasa. Tapi—kenapa saya bisa menjadi tunangan seorang Pangeran?"
Jemari mungil Zi Tao mulai menggenggam jemari renta pria tersebut. Tak urung perlakuan Zi Tao barusan membuat sang pria terkekeh geli. Dan mulai mengusap kepala Zi Tao yang sedang berdiri di hadapannya.
"Maafkan kakek, nak Zi Tao. Kakek tak bermaksud untuk membohongimu."
Ucapan sang kakek membuat Zi Tao kontan bungkam.
Ingin marah-pun rasanya percuma. Lagipula mana mungkin ia tega memarahi pria baik yang sudah membantunya membiayai dana rumah sakit serta operasi bibinya tersebut?
"Apa kau marah kepada kakek?"
Huang Zi Tao tersentak kecil.
Marah?
Oh, sungguh kurang ajar sekali sikap Zi Tao jika ia berani merasa seperti itu kepada penolongnya.
"Tidak, Tuan. Saya hanya—hanya..." Zi Tao menghentikan kata-katanya. Merasa tak tahu ingin berkata apa lagi setelah ini.
"Seandainya saja anda mengatakan hal yang sesungguhnya, tentu saya dan Pangeran Wu tidak akan terkejut seperti ini." Zi Tao berujar lirih. Membuat pria tadi memandanginya dengan perasaan sedikit bersalah.
"Apa Wu Fan berlaku kasar terhadapmu?" tanyanya cemas. Dan Zi Tao segera menggelengkan kepalanya pelan.
"Tidak Tuan." jawabnya.
"Hanya saja, mungkin sekarang ini Pangeran Wu sedikit terkejut saat mengetahui bahwa saya adalah calon tunangannya. Dan mungkin hal itulah yang membuat beliau salah paham terhadap saya."
"Bocah itu terlalu berlebihan." ujar sang kakek, lalu meremas jemari Zi Tao sedikit kuat. "Biar aku tegur dia nanti. Seenaknya saja bersikap seperti itu kepadamu."
"Tapi—" Zi Tao hendak berujar sekali lagi. Namun batal ketika genggaman tangan sang kakek mulai terlepas dan pria itu kemudian berjalan keluar dari kamar ganti. Bersama dengan seorang pemuda bersurai dark woody yang belum pernah Zi Tao lihat sebelumnya.
"Kita pergi sekarang Penasihat Kim." ujar sang kakek, diikuti anggukan patuh dari pemuda yang dipanggilnya "Penasihat Kim" barusan.
"Baik, Yang Mulia."
"Dan untukmu, nak Zi Tao. Segeralah berganti pakaian. Kakek menunggumu di ruang makan."
Pintu kamar kemudian kembali tertutup sesaat setelah sang kakek keluar dari kamar ganti. Dan kembali menyisakan Zi Tao yang berada di dalam sana dengan raut wajah bingung.
'Apa yang harus aku lakukan saat bertemu dengan mereka nanti?'
.
.
.
.
.
Langkah kaki mungil Zi Tao terhenti tepat saat ia baru saja memasuki ruangan yang ia kira ruang makan—mengingat ada sebuah meja bundar besar di tengah-tengah ruangan. Lengkap dengan beberapa buah kursi yang tampak mewah mengelilinginya—beberapa saat setelah ia berganti pakaian. Si bocah Huang itu hanya berani diam mematung di tempatnya berdiri. Kedua matanya menerawang jauh ke depan. Memandang takut dan ragu pada sekelompok orang berpakaian mewah yang tengah duduk serta berbincang sembari menyesap wine dari gelas kristal mereka.
'Oh, Tuhan. Sekarang aku harus bagaimana? Kenapa ini terjadi kepadaku?'
"Tempat duduk anda ada di sebelah sana Tuan Muda Huang." ujar suara seseorang dari samping Zi Tao. Sontak membuat pemuda bersurai kelam itu berjengit kaget.
Zi Tao menolehkan kepalanya ke samping, dan mendapati seorang pemuda bersurai dark woody yang tadi dilihatnya di kamar ganti sedang tersenyum manis ke arahnya.
"Ma—maaf. Aku hanya sedikit terkejut."
Si pemuda bersurai gelap itu kembali tersenyum. Dan menganggukkan kepalanya memaklumi.
"Saya Kim Kibum. Penasihat Kerajaan sekaligus tangan kanan Baginda Raja di Ecuratan." ujarnya kemudian. Memperkenalkan diri.
Senyum manisnya kembali merekah, memamerkan bibir merah delima miliknya. Kulitnya yang putih, serta helaian rambutnya yang kelam, seolah menegaskan bahwa ia adalah sang Snow White yang pernah Zi Tao kenal lewat buku dongeng anak-anak.
Penasihat Kim membungkukkan tubuhnya sembari meletakkan sebelah tangannya di depan dada. Tanda bahwa ia menghormati Zi Tao karena ia tahu jika Zi Tao sebentar lagi juga akan menjadi bagian dari keluarga kerajaan.
Huang Zi Tao kembali diam mematung. Dan menganggukkan kepalanya membalas salam perkenalan dari sang Penasihat Kerajaan.
"Hm, inikah pemuda manis yang sedang digosipkan dayang-dayang itu huh?"
Tiba-tiba muncul-lah suara lain yang kembali mengejutkan Zi Tao.
Penasihat Kim kembali membungkukkan tubuhnya pada sosok yang baru saja hadir di belakang Zi Tao. Membuat Zi Tao mau tak mau membalikkan tubuhnya guna memandangi sesosok pria berwajah tampan yang ternyata juga tengah menatapnya.
"Annyeong.." sapanya ramah, sembari mengangkat sebelah tangannya menyapa Zi Tao.
"Aku Choi Minho. Paman Kris Wu. Senang bertemu denganmu, Huang Zi Tao-sshi.."
Pemuda bersurai ebony itu hanya bisa mengernyitkan dahinya bingung melihat sikap pria yang mengaku sebagai paman dari sang Pangeran Wu tersebut. Zi Tao sendiri juga hanya mampu menurut saat sebelah tangannya diseret oleh si pria Choi. Dan memaksa si bocah Huang itu untuk duduk berdampingan dengan seorang pemuda bersurai cokelat ikal yang sedang menikmati wine di gelas kristal miliknya.
"Tempat dudukmu ada di sini. Ayo, ayo, jangan malu-malu.."
Zi Tao menurut, dan segera duduk di kursi yang sudah dipilihkan oleh si pria Choi.
Dia kemudian melayangkan pandangan matanya tepat ke depan. Dimana sosok sang Pangeran Ecuratan, Kris Wu. Yang terlihat sibuk berbicara dengan seorang wanita cantik yang Zi Tao sangka sebagai Ibu dari sang Putra Mahkota.
"Nah, Chanyeol. Coba sapa calon kakak iparmu ini. Jangan diam saja seperti itu.." ujar Choi Minho kemudian.
Si pemuda bersurai cokelat ikal itu sontak menuruti perintah sang paman. Ia kemudian memandang Zi Tao yang duduk di sebelahnya sekilas, dan mulai mengambil sebelah tangan si bocah Huang.
"Saya Wu Can Lie. Tapi anda bisa memanggil saya menggunakan nama Korea saya, Chanyeol. Senang bertemu dengan anda, kakak ipar.."
Dikecupnya pelan punggung tangan Zi Tao kemudian. Membuat bocah bermarga Huang itu merasa malu karena diperlakukan seperti itu. Wajah Zi Tao sontak bersemu merah. Ia lalu menundukkan kepalanya cepat. Mengalihkan pandangan matanya dari Chanyeol yang sedang tersenyum simpul menanggapi tingkah sang kakak ipar yang menurutnya menggemaskan tersebut.
Chanyeol sendiri lalu mengerling sejenak ke arah depan. Dimana ia berani bersumpah bahwa ada binar mengerikan yang keluar dari iris elang milik kakaknya. Pemuda bersurai cokelat itu tertawa tertahan, dan segera melepaskan genggaman tangannya pada jemari Zi Tao sebelum ia menerima lemparan sendok dari tangan pemuda bersurai emas yang duduk di hadapannya.
Tak beberapa lama kemudian para dayang terlihat mulai memasuki ruang makan dengan troli-troli yang mereka bawa.
Huang Zi Tao hanya bisa menatap makanan-makanan mewah yang tampak asing mulai tersaji di atas mejanya. Ia lalu meremas kuat kain katun yang membalut kaki jenjangnya. Sedikit ragu-ragu bagaimana dia bisa memakan makanan tersebut dalam kondisi seperti ini.
Dilihatnya para anggota keluarga Kerajaan lain yang tengah sibuk menikmati hidangan mereka masing-masing. Bahkan Chanyeol yang duduk tepat disampingnya-pun terlihat begitu antusias dengan hidangan yang disajikan.
Suasana di ruangan itu kontan langsung hening. Mengingat semua orang yang berada di sana tengah menikmati makan malam mereka dalam suasana tenang. Terkecuali Zi Tao yang hanya bisa diam sembari memandangi makanannya.
"Hm, bukankah ini artinya penobatanmu sudah ditetapkan, Kris?"
Pertanyaan yang keluar dari bibir Choi Minho sontak membuat suasana hening itu langsung buyar. Suara denting garpu dan sendok yang tadi sempat tercipta-pun mendadak hilang. Tergantikan dengan kekehan kecil yang keluar dari bibir Chanyeol.
"Hal tersebut belum ditentukan paman. Dia bahkan bisa menolaknya mengingat betapa keras kepalanya kakakku itu." ujar Chanyeol kemudian. Diiringi tawa geli setelahnya.
"Kita bahkan tidak akan pernah tahu, apa yang akan terjadi di hari itu sebelum upacara." lanjutnya.
Huang Zi Tao terhenyak. Tak begitu mengerti dengan maksud pembicaraan dua lelaki yang duduk mengapitnya ini.
Ia kemudian mengalihkan pandangannya menatap Choi Minho. Hendak bertanya pada pria bersurai hitam itu.
"Um—maaf.. Tapi, apa maksudnya dengan 'penobatan Pangeran Wu'?"
Choi Minho tersenyum kecil.
Pria bermata besar itu balas memandang Zi Tao, sembari menyesap red wine yang tengah digenggamnya. Sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Zi Tao dengan sesungging senyum penuh wibawa miliknya.
"Pergantian tahta Keluarga Wu yang berdasarkan kemampuan serta wibawa mereka. Merupakan hal yang harus dipenuhi oleh Pangeran Kerajaan di negeri kami."
"..."
"Dan sebagai Putra Mahkota Kerajaan Ecuratan. Kris adalah yang paling pantas untuk menjadi Raja setelahnya..."
"..."
"Kemudian daripada itu. Kemungkinan besar kakek Kris-lah yang telah memutuskan, dengan siapakah sang cucu mahkota menikah kelak."
"..."
"Itulah kenapa—"
"—satu-satunya orang yang menginginkanmu untuk menikah dengan Kris tanpa peduli apapun lagi. Adalah kakeknya."
Zi Tao kembali terdiam di tempatnya duduk.
Otaknya berusaha mencerna ucapan sang pria Choi barusan. Dan sekarang akhirnya ia tahu kenapa ini semua terjadi menimpanya.
"Aku rasa sudah sebaiknya kita menghentikan pembicaraan pribadi ini, ahjusshi. Anda terlalu banyak bicara malam ini."
Desisan pelan itu terdengar begitu sinis di telinga Zi Tao. Membuatnya mau tak mau mendongak ke depan. Memandang sang Pangeran Wu yang sedang mengiris tenderloin steak-nya dengan pandangan hampa. Hati Zi Tao mencelos, merasa bahwa ia sepertinya memang tak akan pernah melihat senyuman sang Pangeran seperti saat di atas atap sekolah mereka beberapa hari yang lalu.
"Kau terlalu serius, Yi Fan.." ujar sang Raja pelan. Ikut menimpali pembicaraan adik dan putranya tersebut. Pria tampan itu tersenyum sejenak saat mendapati Zi Tao memandanginya. Menampilkan dua buah lesung pipi di wajah menawannya.
Pria tersebut Wu Shi Yuan (Shi Yuan – Korean, Si Won). Ayah dari Kris serta Chanyeol. Sekaligus sang Baginda Raja di Kerajaan Ecuratan mereka.
"Hamba tidak, Paduka.." sahut Kris kemudian. Mengomentari kata-kata sang ayah.
"Tapi hamba yakin jika Paduka belum pernah merasakan apa yang sedang hamba rasakan saat ini—"
"—perasaan yang membuat Paduka seolah menjadi seekor burung yang seharusnya bisa hidup bebas, tapi malah ditakdirkan untuk terperangkap dalam sebuah sangkar emas." lanjutnya.
Sang Pangeran tertua itu kemudian tersenyum samar. Sebelum akhirnya ia memilih untuk segera beranjak berdiri. Dan meninggalkan ruang makan yang mendadak hening. Terbius dengan kata-kata konotasi yang keluar dari kedua belah bibirnya.
.
.
.
.
.
Huang Zi Tao menghela nafas panjang ketika acara makan malam sekaligus perkenalan dirinya terhadap keluarga kerajaan itu telah berakhir meski tak berjalan cukup baik. Ia terlihat lelah. Terlalu lelah hingga ia tak mampu memakan apapun dari atas piringnya.
Keluarga Kerajaan yang ia kira penuh dengan kemewahan serta kewibawaan itu. Ternyata bisa juga terlihat kompleks seperti ini.
Membuatnya tak bisa melihat kehangatan sebuah keluarga di antara mereka semua.
"Apa yang kau lakukan Huang?"
Sebuah suara yang memanggil nama marga keluarganya membuat Zi Tao mendongak. Ia sedikit terkejut, namun hal tersebut tak berlangsung lama.
Ah, seharusnya dia sudah tahu siapa sosok yang menyapanya barusan. Mengingat hanya si Pangeran berambut pirang-lah yang memanggil namanya seperti itu.
"Ikuti aku sekarang."
Kris memberi isyarat kepada Zi Tao agar pemuda bersurai hitam itu mengikutinya. Zi Tao menurut. Kemudian mengekor di belakang tubuh Kris bak anak anjing yang patuh terhadap perintah majikannya.
"Ini adalah kamarmu." ujarnya kemudian. Ketika mereka berdua telah tiba di salah satu kamar yang terdapat di Manor ini.
"Sebelum mereka mengadakan pesta pernikahan untuk kita di Ecuratan. Kau paling tidak harus mempelajari beberapa tatakrama di sini."
Zi Tao tersentak kaget. Terlalu terkejut mendengarkan kata-kata sang Putra Mahkota barusan.
"Tidak—tunggu! To-tolong kembalikan saya ke asrama sekolah saja..." ujarnya. Memohon penuh harap.
Kris tersenyum miring kala mendengar permintaan Zi Tao.
Salah satu sudut bibirnya terangkat ke atas. Memamerkan senyuman sinisnya yang sering kali Zi Tao lihat akhir-akhir ini.
"Kemana katamu?" tanyanya sengit. Masih dengan sesungging seringai yang terpatri di wajah tampannya. "Kau seharusnya sudah dikeluarkan oleh pihak sekolah mulai sekarang."
Si bocah Huang itu kontan terdiam. Membenarkan kata-kata sang Pangeran Wu di hadapannya.
Kris memandang Zi Tao sekilas. Dan mulai memasuki kamar sang pemuda bersurai raven yang saat ini menjadi tempat kedua kakinya berpijak.
"Semenjak kau akan memiliki banyak waktu luang. Kau harus mulai bersiap untuk mempelajari segala hal mengenai negara kami, Huang. Bagaimana-pun juga kau akan menjadi rakyat Ecuratan sebentar lagi."
Zi Tao tertegun.
Kedua telinganya mulai mendengarkan kata-kata sang Pangeran dengan seksama.
"Asal kau tahu Huang—"
"..."
"—Ecuratan adalah sebuah negara yang terkenal dengan produksi wine terbaik di dunia. Begitu juga dengan sebuah legenda yang mengikutinya."
"..."
"Konon, di sebuah tempat di negeri kami, ada sebuah pohon anggur cantik yang bersinar dan di penuhi cahaya. Ada yang bilang jika sepasang kekasih mengucapkan janji cinta mereka di bawah pohon tersebut, maka cinta mereka akan abadi selamanya."
"..."
"Terdengar menjijikkan sekali kan?"
Pertanyaan Kris membuat Zi Tao mengganjal ludahnya di tenggorokan. Ia tercekat, dan segera memandang sang Pangeran yang masih tersenyum sinis memandangnya.
Keterdiaman Zi Tao sontak membuat Kris jengah. Putra Mahkota dari Ecuratan itu kemudian mulai beranjak mendekati pemuda bersurai kelam di depannya. Kedua mata elangnya memicing tajam. Menusuk saat menatap Zi Tao yang berdiri terpekur ketakutan.
"Seperti yang kau ketahui Huang—" katanya. "—ini adalah kontrak."
"Kau membutuhkan uang. Dan aku juga menginginkan kekuasaan. Jadi berhentilah bersikap seperti orang yang tidak mau bertanggung jawab mulai sekarang."
Kepala Zi Tao yang semula tertunduk mendongak. Membalas tatapan iris elang Kris yang masih tak puas menatapnya.
"Tepati janjimu untuk selalu mengabdi pada keluarga Kerajaan." ujar sang Pangeran Wu itu lirih.
"Toh kau sudah kami bayar, kan?" tanyanya kemudian. Membuat Zi Tao ingin menundukkan kepalanya sekali lagi. Menyembunyikan wajahnya yang tengah menampakkan pias terluka.
Tak mendapati balasan apapun dari bibir Zi Tao. Kris lalu melangkah begitu saja meninggalkannya. Terlihat begitu jelas jika sang Pangeran itu tak ingin berlama-lama berada di ruangan tersebut. Jangankan berada di kamar yang sama bersama Zi Tao. Menatap wajahnya-pun ia enggan.
Namun sesungguhnya, Kris bukannya tak mau.
Ia hanya—tidak sanggup.
"Oh ya, Huang.." panggil Kris pelan. Dan segera menghentikan langkahnya.
Merasa dipanggil Zi Tao-pun mengangkat kepalanya cepat. Usai mengusap wajahnya yang entah kenapa telah basah. Ia kemudian memandang ke depan. Membuat tatapan matanya jatuh menabrak pundak lebar Kris yang memunggunginya.
"Sebenarnya aku sangat tidak menyukai air mata seseorang—terlebih air matamu. Jadi—"
"—berhentilah menangis."
Deg
Zi Tao tersentak. Detakan jantungnya seolah berhenti detik itu juga.
Ia memang tak melihat wajah Kris secara langsung mengingat pemuda itu sedang memunggunginya. Tapi sekilas..
Ia melihat ujung telinga Kris telah memerah tanpa sebab.
"Menurutku kau sangat jelek saat menangis dan memasang wajah mengenaskan seperti itu." lanjut Kris kemudian. Dan kembali melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu.
"Istirahatlah, Huang. Aku akan kembali beberapa saat lagi."
Suara pintu yang berdebam pelan sontak terdengar ketika Kris telah benar-benar keluar dari dalam ruangan kamar Zi Tao.
Suasana hening kemudian tercipta. Mengelilingi Zi Tao yang masih berdiri memandang bekas kepergian Kris. Pemuda bersurai raven itu kembali menarik nafas panjang. Memikirkan sampai kapan sang Pangeran akan bersikap sedingin itu padanya.
.
.
.
.
.
Hembusan angin yang bertiup sepoi-sepoi malam itu membuat Zi Tao menikmati waktu kesendiriannya di beranda kamar. Jemari mungilnya mencengkeram erat terali besi yang menjadi pembatas tubuhnya. Sedang kedua matanya memandang langit hitam di atas sana dengan sayu. Langit yang gelap, tanpa ada bintang maupun rembulan yang menemani. Mirip dengan kondisinya saat ini.
"Haloooo!"
Suara sapaan seseorang yang terdengar cukup nyaring berhasil membuat Zi Tao melonjak kaget dengan jantung yang berpacu cepat.
Di hadapannya, muncullah sosok Wu Can Lie, atau Chanyeol, sang Pangeran termuda kekaisaran Wu, sedang berdiri di hadapannya dengan sebaris senyum lebar yang memamerkan sederetan gigi putihnya.
Manik hitam Zi Tao membola kaget. Terlalu terkejut akan kehadiran adik dari Pangeran Kris yang menurutnya tiba-tiba itu.
"Pangeran Wu?" sapa Zi Tao pelan, dan langsung membungkukkan tubuhnya hormat.
Dilihatnya dengan seksama saat tubuh jangkung pemuda bersurai karamel lembut itu ketika meloncati pagar pembatas dan langsung berdiri dengan gagahnya di samping Zi Tao.
"Eiiy, kau terlalu formal kakak ipar.." ujar Chanyeol, dengan manik auburn-nya yang menyeringai jenaka.
Zi Tao tersenyum saat memandang iris Chanyeol yang sewarna dengan manik milik Kris tersebut. Hanya saja bedanya kedua mata Chanyeol ini memiliki aura hangat yang berbeda dengan milik sang Pangeran tertua.
"Apa yang anda lakukan malam-malam begini Pangeran?" tanya Zi Tao sopan. Masih menggunakan nada formal yang sama.
"Chanyeol, hanya Chanyeol kakak ipar!" seru Chanyeol kemudian. Sembari menggenggam kedua bahu Zi Tao. Bibirnya masih mengulum senyum hangat, namun kedua matanya mulai memandang serius ke arah Zi Tao.
"Kau itu calon istri kakakku. Bagaimana bisa kau memanggil adikmu yang tampan ini dengan panggilan seperti itu?" tanya Chanyeol kemudian, dan mulai melepaskan genggaman tangannya pada bahu Zi Tao.
Ia mengangkat pundaknya sekilas, lalu menyisir surai karamelnya menggunakan jari. Memasang wajah narsis.
Melihat tingkah konyol pemuda karamel itu, membuat Zi Tao mau tak mau tersenyum juga.
Setidaknya Chanyeol bisa bersikap layaknya manusia biasa yang tak memikirkan status sosial dan kekuasaan. Tidak seperti orang itu.
"Sudah kuduga. Senyumanmu memang sangat manis kakak ipar." ucap Chanyeol sekali lagi, dan mulai mengulurkan sebelah tangannya guna mengusap sebelah pipi Zi Tao. "Kakakku beruntung memilikimu.." lanjutnya kemudian. Membuat pias Zi Tao langsung sewarna dengan bara api. Merah membara.
"Jangan menggodaku.." ucap Zi Tao lirih, dan mulai menampik jemari besar Chanyeol.
Si pemuda Huang itu kemudian memundurkan tubuhnya sedikit menjauh. Dan kembali berdiri menyandar pada balkon. Ia terkekeh kecil saat mendengar Chanyeol menggerutu di belakangnya.
"Kau terlihat tak senang malam ini. Bertengkar dengan naga bodoh itu, eh?" tanya Chanyeol yang mengikuti tingkah Zi Tao. Bersandar di balkon, sembari menatap langit gelap di atas sana.
"Ani.." jawab Zi Tao pelan. Membohongi pemuda dengan senyum lebar itu.
"Jangan dipikirkan." ujar Chanyeol kemudian. "Kakakku itu memang susah ditebak jalan pikirannya. Dia hanya belum tahu bahwa kau adalah satu-satunya pendamping yang tepat untuknya."
Huang Zi Tao mendesah pelan saat mendengar adik kandung Kris itu berkata seperti itu kepadanya. Jemarinya kembali mencengkeram terali besi di hadapannya itu. Dan kali ini lebih kuat.
"Tapi, apakah mungkin jika dia bisa jatuh cinta dengan pasangan yang dipilihkan untuknya?" tanyanya lirih. Dengan tatapan matanya yang memandang Chanyeol sendu. "Hanya demi menjadi seorang Raja pengganti, dia bahkan rela menikah denganku. Orang yang sama sekali dia belum kenal sebelumnya.."
Dipandangi seperti itu Chanyeol hanya bisa tersenyum kecil. Helaian surai karamelnya tampak bergerak-gerak pelan terkena hembusan angin malam. Pemuda jangkung itu terlihat mengambil nafas panjang sebelum berbicara membalas kata-kata Zi Tao.
"Semuanya berawal saat Permaisuri pergi meninggalkan kami demi pria lain.." ujarnya, mulai bercerita. "Pernikahan orang tua kami-pun awalnya juga karena hal perjodohan. Dan bertahun-tahun setelah Baginda serta Permaisuri bersama. Pernikahan mereka hancur karena Permaisuri lebih memilih untuk hidup dengan kekasih gelapnya."
Zi Tao termenung.
Jadi Permaisuri yang sekaligus ibu mereka itu sudah tidak berada di antara mereka lagi?
Lalu wanita yang tadi dilihatnya saat makan malam tersebut. Bukan ibu mereka?
"..."
"Kakakku mungkin adalah orang paling keras kepala yang pernah kau kenal. Tapi semenjak kepergian ibu kami, dia bertekad untuk menuruti semua kemauan ayah dengan maksud membuatnya senang. Itulah sebabnya dia bersedia mematuhi permintaan Raja, saat kakek menyuruhnya menikah denganmu."
"..."
"Dia bahkan diam saja walau tahu bahwa Baginda sedang menjalin hubungan dengan Penasihat Kim. Kau tahu dia kan? Pria yang selalu mengikuti kakek?" tanya Chanyeol, membuat Zi Tao menganggukkan kepalanya.
Ia baru mengetahui satu hal baru hari ini. Rupanya pria bernama Kim Kibum yang memiliki wajah bak Putri Salju itu adalah kekasih Baginda Raja Ecuratan. Kekasih ayah Kris dan juga Chanyeol.
"Apa yang kau lakukan di sini, Wu Can Lie!?"
Desisan pelan seseorang dari arah belakang membuat Zi Tao dan Chanyeol sama-sama menolehkan kepala mereka. Lumayan terkejut saat mendapati sang Pangeran Wu tertua sudah ada di ambang pintu kaca dengan raut wajah tak bersahabat.
Chanyeol yang melihat gelagat tak baik dari Kris tampak ingin berbicara dengan pria bersurai emas gelap tersebut. Namun urung ketika Kris sudah memberondongnya dengan pertanyaan yang terkesan mengintimidasi.
"Bukankah kau sudah tahu jika ini ruangan milik tunanganku? Apa yang kalian berdua lakukan malam-malam begini, huh?" tanyanya.
"Tolong tinggalkan kamar ini sekarang juga kalau kau masih memiliki rasa hormat padaku Chanyeol." perintah Kris kemudian. Dan memandang sang adik sengit. Tak dipedulikannya lagi Zi Tao yang berdiri terpekur ketakutan di belakangnya.
"Aku hanya ingin mengobrol sebentar dengan kakak ipar. Jangan marah seperti itu, gege.." ujar Chanyeol sembari tersenyum manis. Tak mengindahkan tatapan elang Kris yang semakin tajam menusuk auburn-nya.
"Berhenti mengoceh dan tinggalkan kamar ini. Sekarang!" sentak Kris geram. Membuat Chanyeol memilih untuk mengalah dan menuruti perintah sang kakak.
Hening kemudian menyelimuti Zi Tao dan Kris yang kini hanya tinggal berdua.
Pemuda dengan surai keemasan mulai melangkahkan kakinya masuk terlebih dahulu. Baru setelah itu diikuti oleh si pemuda bermata panda.
"Bukankah aku sudah pernah mengatakannya kepadamu, Huang? Segala macam bentuk pengkhianatan tidak akan pernah diampuni sampai kapanpun."
Suara desisan bernada sinis yang sama kembali terdengar memenuhi salah satu kamar di Manor itu. Huang Zi Tao hanya bisa diam, tak berani membantah ketika sepasang auburn yang sedingin es itu melayang tajam tepat menghujam manik matanya sendiri.
Satu sudut bibir Kris terangkat pelan-pelan. Menciptakan senyuman menghina di wajah pemuda tampan itu.
"Jadi setelah kau berniat menggodaku demi uang. Sekarang kau ingin merayu adikku, huh?"
Sebuah tuduhan yang terdengar kejam membuat Zi Tao membelalakkan black pearl-nya kaget. Sungguh. Ia tidak tahu kenapa pemuda bersurai emas itu suka sekali menghinanya seolah ia adalah seonggok sampah.
Manik matanya kembali berkaca-kaca. Dan Zi Tao tak sempat melawan saat sebelah tangan pemuda pirang itu mencengkeram lengannya kuat.
"Ku peringatkan kau, Tuan Huang yang terhormat. Kau. Calon. Istriku. Jadi jangan pernah kau memiliki niat untuk mengkhianatiku, atau aku sendirilah yang akan menghancurkanmu menggunakan tanganku sendiri." ujar Kris kemudian dan sarat dengan penekanan di setiap kalimat yang ia lontarkan kepada Zi Tao.
Ia mendecih tak suka saat melihat sebuah anakan sungai mulai mengalir dengan bebas membasahi pipi pemuda bersurai hitam yang tengah ia cengkeram sebelah lengannya itu.
Kedua auburn-nya menatap nyalang, masih dengan pandangan menghinanya.
Si bocah Huang kemudian menutup kedua matanya cepat saat Kris terlihat mengangkat sebelah tangannya yang lain. Bersiap untuk memukulnya.
Ah, dia baru saja ingat jika Kris benci dengan air mata.
Sesaat setelah Zi Tao menutup manik miliknya, ia tak merasakan rasa sakit usai dipukul. Ia hanya mendengar sebuah debaman yang memekakkan telinga dari sisi tubuhnya. Tanda jika Kris melencengkan kepalan tangannya tadi ke tembok. Menghujamnya dengan sangat keras.
Tubuh ringkih Zi Tao terdorong ke belakang. Menabrak dinding dingin Manor.
Pemuda itu membelalakkan kedua matanya kaget saat merasakan tubuhnya terjepit, dan berada di tengah-tengah antara tembok dan tubuh Kris sendiri.
Kris mendekati Zi Tao. Lalu menyentuhkan tangannya yang tadi ia gunakan untuk memukul tembok ke dagu pemuda bersurai ebony itu.
"Kau sudah kubeli dengan uang dan kau sudah masuk dalam lingkup keluarga Ecuratan secara cuma-cuma. Kau tidak bisa menyalahi takdirmu yang menjadi milikku, Huang.." bisiknya lirih, tepat di depan telinga Zi Tao yang memerah.
Ia menyeringai licik ketika tak mendapati perlawanan berarti dari pemuda ebony itu. Menjulurkan lidah dinginnya keluar, ia lalu menjilat daun telinga Zi Tao yang berada tepat di hadapannya.
"Ahh—"
Suara rintihan terdengar nyaring di telinga pemuda yang memiliki nama asli Wu Yi Fan itu. Kris lalu menaikkan sudut bibirnya semakin tinggi. Dan kembali memandang Zi Tao yang gemetar serta menggeliat kecil dihimpitannya. Tanda tak nyaman.
"Geumanhae..."
Zi Tao meminta dengan nada pelan, nyaris tak terdengar.
Ia ingin memberontak, tapi ia tahu jika ia kalah tenaga dengan Kris. Sebelah tangannya yang bebas hanya bisa ia gunakan untuk mencengkeram pakaian yang dikenakan sang Pangeran Wu tertua. Mencoba mendorong dada bidang yang menjepitnya dengan dinding sekuat yang ia bisa.
"Pangeran, jebal, geumanhae..."
Usaha perlawanan dari Zi Ta hanya membuat Kris semakin gencar menjilat permukaan kulit porselennya. Benda lunak nan basah milik pemuda blonde itu malah turun ke bawah. Melumuri leher jenjang Zi Tao dengan saliva.
Tubuh Zi Tao semakin gemetar dengan hebat saat Kris menyeretnya, lalu mendorongnya dengan kasar ke atas permukaan kasur yang ada di tengah ruangan.
Zi Tao mendelik kaget ketika Kris perlahan mulai merangkak naik ke atas ranjang yang dibalut bedcover warna maroon itu. Membuat Zi Tao kembali menyembunyikan 'mutiara hitam'nya cepat. Tepat saat kecupan ringan hadir di celah-celah lekukan leher miliknya.
"Ahh—hajima, jebal jebal.."
Bocah Huang itu hanya bisa mengerang pelan alih-alih memprotes. Geliatan tubuhnya semakin ketara saat jilatan dan kecupan bibir Kris berubah menjadi gigitan dan hisapan. Menciptakan bulatan-bulatan abstrak berwarna merah pekat di permukaan kulitnya. Zi Tao hampir saja memekik keras saat jemari Kris merobek pakaian atasnya, tapi terhalangi dengan sebelah tangan Kris yang menutup celah bibirnya. Mencegahnya agar tak bersuara.
"Andwae—andwae!"
Zi Tao menggelengkan kepalanya cepat saat Kris terlihat ingin mencium bibirnya. Kedua tangannya berusaha menghalangi tubuh pemuda itu agar tak mendekat. Sedang manik matanya sudah sangat basah, penuh dengan air mata.
Kris tersenyum sinis saat Zi Tao tampak menolak perlakuan tak senonohnya.
Ia mendekatkan wajahnya tepat di hadapan wajah Zi Tao yang masih menangis. Sedang tubuh bagian bawahnya telah menindih tubuh Zi Tao, menahannya agar tidak bisa bergerak dan kabur meninggalkannya.
Kris mengangkat sebelah tangannya, dan kembali menyentuh dagu Zi Tao.
"Selalu bersikap seperti manusia polos.." desisnya pelan, menikmati isakan Zi Tao yang terdengar seperti musik pengantar tidur baginya. "Tapi siapa yang menyangka jika wajah polos ini yang membuat wanita dan laki-laki lain rela mengeluarkan uang mereka hanya untuk tubuh mungil ini, hm?"
Mendengar hinaan yang begitu menyakitkan itu membuat Zi Tao hanya bisa mencengkeram kuat kain bedcover yang menjadi alas tubuhnya. Meredam denyut nyeri di jantungnya karena tuduhan yang sedemikian rupa itu tertuju padanya.
Sedang pemuda yang masih berada di atas tubuhnya, pemuda yang tengah menindihnya itu, hanya bisa tersenyum mengejek. Merasa jika kata-katanya benar.
"Ahh—!"
Zi Tao melenguh tanpa sadar ketika jemari Kris telah bermain-main di area dada telanjangnya. Memilin dua bulatan berwarna kemerahan yang terlihat menggemaskan di mata Kris.
"Menyukainya, Huang?" ejek Kris, masih gencar dengan sentuhan jarinya di titik tersebut.
Merasa bosan, Kris kemudian mengganti jemarinya dengan bibirnya. Dilumatnya pelan sebelah bulatan itu, sedang yang satunya masih ia permainkan dengan tangannya yang lain. Sukses membuat Zi Tao membuka mulutnya lebar-lebar dengan mata yang melotot ngeri. Lalu menjerit keras namun tanpa suara.
"Geuman-ahhh... Geumanhae-ukh!"
Tingkah Kris tak terhenti sampai di situ. Pangeran tertua itu kemudian memindahkan tangannya di atas pengait celana Zi Tao. Berusaha mengoyaknya agar terbuka. Sedang Zi Tao hanya bisa mengerang lebih kuat. Malu karena benda miliknya bergesekan dengan sebelah lutut Kris.
Ada perasaan aneh yang menjalar di dada Zi Tao. Perasaan aneh namun nikmat. Seolah perasaan itu adalah candu terlarang bagi mereka berdua.
"Pangeran—jebal. Jangan lakukan ini padaku..."
Isakan kecil kembali Zi Tao keluarkan saat jemari Kris berhasil melepas kain hitam yang tadi membalut kakinya. Menyisakan sebuah cawat yang menutupi area pribadinya. Gelengan kepalanya semakin kuat. Sedang bibirnya masih mengerang dan meracau tanpa ingin berhenti. Dada telanjangnya sudah basah akan saliva milik sang Pangeran Wu. Dan Kris sendiri memegangi pinggul ramping Zi Tao erat. Memenjarakan tubuh pemuda itu seolah tangannya adalah sepasang borgol yang bisa mengunci pergerakan Zi Tao.
"AKH!"
Zi Tao menjerit tertahan menahan sakit ketika tubuh bagian bawahnya terasa ngilu. Digigitnya bibir plum miliknya kuat hingga berdarah. Sedang kuku jemarinya tanpa sadar merobek bedcover yang mengalasi tubuhnya yang hampir telanjang bulat.
Nafas Zi Tao terdengar berderu cepat. Saling bersahut-sahutan dengan nafas Kris yang berada di atas tubuhnya.
Gerakan Kris yang sejak tadi menggoda itu tiba-tiba terhenti. Membuat Zi Tao kembali mengerang saat Kris perlahan beranjak meninggalkan tubuhnya dengan pakaian terkoyak hebat.
"Kau harus mengingat ini baik-baik Huang." ujarnya lirih, dengan tatapan dingin yang keluar dari iris kecokelatannya.
.
.
'Kenapa?'
.
.
"Aku bisa memberikanmu lebih daripada ini jika kau berani berkhianat lagi. Jadi—jangan pernah mengkhianatiku. Kau mengerti, huh!?"
.
.
'Kenapa kau melakukannya padaku?'
.
.
Zi Tao diam, tak menjawab pertanyaan Kris.
Kedua manik hitamnya memandang pemuda bersurai emas itu penuh dengan perasaan takut dan terancam. Sedang sebelah tangannya pelan-pelan mulai menarik selimut, lalu menutupkannya pada tubuh bawahnya yang tadi terbuka. Isakan demi isakan keluar dari celah bibirnya yang bergetar menahan tangis. Dan anakan kecil sungai kembali keluar membasahi pias manisnya yang pucat pasi.
Kris terlihat mulai beranjak berdiri sembari merapikan kemeja yang ia pakai tampak kusut bekas cengkeraman Zi Tao. Ia menyisir helaian suteranya sebentar, sebelum akhirnya mulai melangkahkan kakinya pelan menuju pintu kamar.
"Dan satu lagi Huang.." panggilnya sekali lagi. Mengejutkan Zi Tao yang masih menangis dalam diam di atas ranjang. Mau tak mau membuat Zi Tao harus kembali memandangnya.
"Sampai kapan-pun... Kau adalah milikku." perintahnya tegas. Tanpa mau dibantah. "Camkan hal itu baik-baik di kepalamu."
.
.
'Yang tadi itu...'
.
.
Dan setelah berkata seperti itu perlahan Kris mulai meninggalkan Zi Tao. Menyisakan sang pemuda bersurai ebony yang wajahnya masih basah bersimbah air mata.
'Yang tadi itu, maksudnya apa?'
.
.
.
To be Continued
.
.
.
(a/n):
Maap ya apdetnya lelet banget. Bilangnya beberapa hari, jadinya malah berhari-hari :( Jeongmal mianhae buat yang udah nungguin m(_ _)m. Maklum ini otak ga bisa diajak kompromi sih :3 Pengennya ngetik cepet, tapi mood buat ngebikin lanjutan ini FF ga dateng-dateng :D
Maaf juga kalo saya belom sempet balesin reviewnya :3 Ga punya waktu luang sih *ngeles* Kapan-kapan aja ya bro? :p
.
O ya, mau review lagi ga?
Saya terharu loh waktu liat review chapter 1 kemaren :') padahal di chap 1 kekurangannya masih bejibun (:^^:)a
Yang belum review ayo review ^^
Karena seperti biasa, review kalian adalah penyemangat buat saya ^^
.
See ya di chap depan~
Bye... (.'')/
