#6 : Morning Kiss

Akhir-akhir ini Natsu sibuk. Eksistensi Lucy -sang istri total terabaikan. Dia pun mendadak cemburu, pada paper work yang selalu diperhatikan. Jadwal rapat teratur dengan jam tertentu dan wawancara pekerja -mereka beruntung bisa melihat suaminya langsung. Pagi-pagi sekali berangkat. Pulang malam langsung menyapa kasur -tidur begitu saja tanpa bilang apa-apa.

Makanya, pagi ini Lucy berniat mengacangi.

"Selamat pagi, Luce. Bagaimana tidurmu?" Tanya Natsu menatap punggung Lucy. Namun dihadiahi lemparan bantal tiba-tiba.

"A-aww ... kenapa?"

"Pikirkan saja sendiri." Amuk Lucy melipat tangan depan dada. Masih membelakangi Natsu yang hedan.

"Ayo bangun sama-sama. Nanti kugosok punggungnya, deh. Sekalian buat sarapan." Tawaran itu juga ditolak mentah-mentah. Lucy mendengus sebal.

"Kumohon, ya, ya, ya?" Entah dia itu anak-anak atau pria 25 tahun. Lucy membalik badannya, wajah Natsu terlihat memelas dengan mata melebar.

"Huh! Kau pikir aku akan terpengaruh." Ia tak sebodoh sebelum mereka menikah. Natsu tahu istri tercinta marah. Pacaran tiga tahun bukan berarti tanpa memetik hasil.

"Kita habiskan waktu bersama-sama. Maaf tidak bisa menemanimu," ucapnya melingkarkan tangan di pinggang Lucy. Menyampirkan dagu pada bahu sang blonde yang tersipu malu. Tahu-tahu jarak mereka tereliminasi banyak. Onyx dan karamel bersanding.

"Sebagai hadiahnya, berikan aku morning kiss, oke?" Bariton Natsu menggelitik bulu roma Lucy yang menegang. Sapuan merahnya kentara di kedua pipi itu.

DUAGHH!

"U-ughhh ... perutku." Terkena sikutan. Bibir itu melirih kesakitan. Lucy beranjak, membelakangi Natsu yang masih berbaring di kasur.

"Cepat bangun. Itu kiss morning-mu karena terlambat peka."

Entah Natsu mesti tersenyum atau meneruskan ringisannya. Toh, Lucy memilih masa bodoh daripada bersikap peduli.

Dan kiss morning tadi benar-benar sesuatu. Natsu harus menahan keinginannya untuk merasakan manis bibir Lucy.

#7 : Bulan Madu

Sesuai katanya, Natsu meluangkan lebih banyak waktu bersama istri tercinta. Bukan main pengorbanan yang ia lakukan, atasan sampai cemburu karena waktu malam mereka terpotong, jadilah tak ada teman minum arak. Para rekan juga merasakan hal serupa, beberapa bilang -saat mereka mabuk hingga melantur, kalau Lucy beruntung punya suami seperti dia.

Ah, entah Lucy kurang tahu bersyukur atau apa, amarahnya belum reda.

"Jadi apa yang sebenarnya kau inginkan?" Mereka di kamar sekarang, Natsu yang baru pulang kantor malah diacuhkan.

"Lagi-lagi tidak peka. Kita belum bulan madu!" Salahkan jadwal padat sang calon direktur, terlebih pegawai mereka mengundurkan diri. Natsu sebagai tangan kanan tentu amat dipercayai.

"Me-memang penting, ya?" Oh, ingin sekali dia tertawa. Salam bodoh ini mana paham arti bulan madu. Setahu dia tidak ada manis-manisnya bintang malam itu.

"Jelas! Ketika ditanya aku bingung mesti menjawab apa." Menggembungkan pipi sebal, Lucy menyebabkan kadar diabetes Natsu kian melonjak, bahkan meskipun sudah menikah tetap terlihat imut.

TAP ... TAP ... TAP ...

Langkahnya mendekati Lucy dengan seringai dibuat manis, bak serigala berbulu domba siap menerjang mangsa.

BRUKK!

"Na-Natsu, apa yang kau -?!" Ciuman intens itu tepat mengunci bibirnya. Lucy merah padam akibat ulah si bodoh salam -dia selalu tahu cara meredam amarah Nona Lucy Dragneel.

"Luce, dengarkan baik-baik. Semanis apa pun bulan madu aku lebih menyukai karamel -tidak, semua tentang dirimu. Kita akan menghabiskan waktu di rumah. Pertama, biaya perjalanan mahal. Kedua ..."

"Bisa-bisa aku cemburu kalau kamu lebih menyukai bulan madu dibanding suamimu. Lagi pula setiap terbit warnanya putih, kok, bukan kuning kecokelat-cokelatan. Kau ditipu."

"Dasar bodoh ... tapi aku pegang ucapanmu." Pucuk salamnya dibenamkan pada dada sang istri. Posisi mereka dibiarkan begitu -Natsu menindih tubuh Lucy. Tertutup selimut mencapai badan atas.

Tolong jangan tanya apa yang terjadi selanjutnya. Mungkin cicak di dinding tahu sesuatu.

#8 : Sibuk Sendiri

Giliran Natsu mengurangi aktivitas-nya, Lucy malah sibuk dengan layar laptop dan kaca mata baca. Siapa pun tahu, teman sekolah, orangtua, kakak kelas bahkan para guru, jika cita-cita wanita blonde adalah penulis. Nah, dia berusaha meraih mimpi tersebut. Setelah puas hanya berkarya di internet, keinginan punya buku kian menjadi-jadi. Kebetulan pula ide mengalir deras.

"Luce, aku pulang! Hari ini kita makan apa?" Detik berubah jadi menit, satu, dua, tiga, Natsu merasa diabaikan karena eksistensi laptop.

"Halo~ Kau mendengarku?" Tangannya sengaja dikibaskan ke depan layar laptop. Lucy menyingkirkan kasar dan masih fokus, tapi bukan Natsu kalau mudah menyerah.

"Hey Luce, kamu tidak niat balas dendam, 'kan?"

"Wah, lihat, ada bintang jatuh!" Pura-pura ia menunjuk langit malam. Namun perhatian Lucy tidak teralihkan sedikit pun -malah mesam-mesem.

"Gawat aku hampir jatuh. HOAAA!" Berakhir konyol, Natsu menginjak kakinya sendiri demi minta perhatian. Jatuh mencium dingin lantai tanpa dibantu istri tercinta, miris.

"Hey Luce mau mendengar permainan harmonika-ku?" Tak perlu komando atau persetujuan, Natsu asal meniup jejeran lubang yang justru menimbulkan suara bising. Lucy membalas dengan memutar lagu kencang-kencang, setidaknya lebih merdu.

"Sebenarnya apa, sih, yang kau ketik?!"

"Hn, aku mengerti padahal. Seharusnya kau bertanya kalau bingung." Jemari lentik Natsu mengambil alih tuts keyboard. Awal-awal Lucy ingin marah, tapi ... kali ini maafkan saja, deh!

Jangan memaksakan diri. Bagiku kamu lebih penting dari sebuah novel.

Kita makan malam dulu, oke?

Ternyata Natsu perhatian.

#9 : Hamil

Lucy sering muntah-muntah, Natsu khawatir dan menyuruhnya ke dokter, tapi ditolak dengan alasan, 'nanti sembuh sendiri.'. Jantan sekalipun tetap saja dia menyandang julukan 'suami takut istri'. Perintah Nona Dragneel itu mutlak, bagai raja di negara Inggris sana. Membantah maka siap-siap dihadiahi senyum manis. Masih hidup merupakan suatu keajaiban.

"Kumohon, kita ke dokter, oke? Lima menit!" Mati-matian membujuk, Lucy melontarkan death glare yang mematikan pergerakan Natsu, sementara dia santai menuju kamar.

"Ti-dak! Berapa kali kubilang, huh? Aku tidur dulu."

Masa iya gagal, setelah minta izin sehari penuh pada atasan kena PMS dadakan? Natsu menghela napas panjang. Acuh tak acuh Lucy menutup pintu keras -tanda 'jangan ganggu aku'. Bukan berarti dia menyerah, lho, kepala pink itu memiliki ide yang (menurutnya) cemerlang.

"Maaf. Ini demi kamu!" Pintu kamar dibuka diam-diam. Macam maling professional Natsu mengendap masuk. Menggotong Lucy ala bridle style ke klinik terdekat.

Benar-benar penuh perjuangan, berlari satu kilometer sambil membawa tubuh Lucy yang terbilang berat -efek makan puding karamel dan kawan-kawan. Mengganti posisi gendongannya, Natsu asal duduk di salah satu kursi. Untung tinggal satu pasien tersisa, jadi tidak perlu menunggu lama.

"Mas, istri-nya pingsan?" Tanya seorang wanita di samping kanan.

"Rahasia! Ahahaha."

"Lalu kenapa digendong?"

"Ssstt! Aku membawanya diam-diam karena Luce sulit dibujuk. Lagi pula dia imut saat tidur, tidak tega membangunkannya." Entah niat pamer atau apa, Natsu bangga mengungkapkan fakta tersebut.

"Istrimu beruntung punya suami sebaik Anda. Semoga cepat punya anak, ya."

Garuk-garuk kepala malu, eh, jadi salah tingkah begini. Natsu menyelonong masuk tanpa perlu dipanggil. Dokter sendiri heran apa pasiennya pingsan atau bagaimana sampai digendong begitu. Ya, daripada dimarahi habis-habisan? Masih sayang istri dan telinga dia.

Pulang-pulang langit berganti warna jadi oranye. Sedari tadi Natsu menyungging seulas senyum -seakan terukir abadi pada paras tampan itu.

"Unnn ... ini di mana?"

"Sudah bangun? Kita di perjalanan pulang."

"Kau membawaku kemana?" Melototnya Lucy kalah dibanding sebuah berita bahagia. Natsu pun memutuskan cerita.

"Kata dokter kamu hamil. Akhirnya aku jadi ayah!"

"Dasar ... padahal aku sendiri yang ingin memberitahumu. Kalau dokter bilang, 'kan, jadi kurang spesial."

"Bukan masalah, kok. Mau dokter atau siapa pun yang penting keluarga kita segera lengkap. Aku, kamu dan Nashi, anak kita!"

"Curang. Kau mendahuluiku!"

Jadilah sepanjang perjalanan mereka berdebat -menyangkut nama untuk sulung keluarga Dragneel. Pengantin baru dasar...

#10 : Kenapa Nashi?

Satu pertanyaan yang belum terjawab, kenapa anak tunggal mereka diberi nama Nashi?

"Tumben kau menanyakanya," sela Natsu di tengah sarapan pagi mereka.

"Habis aku penasaran. Ceritakan saja."

"Ingat saat kamu pergi ke luar kota, dua minggu ketika mengandung? Aku kangen nasi buatanmu yang hangat dan lembut. Jadinya kuberi nama Nashi!" (Nashi=plesetan dari nasi)

"Alasan konyol macam apa itu?!"

"Bercanda, bercanda. Nashi itu singkatan dari Natsu dan Rushi. Berisyarat nama sekaligus buah cinta kita!" (Rushi=ejaan Lucy dalam bahasa Jepang)

BLUSHH!

"Terserah kau sajalah."

Tamat.

A/N : Dan berakhir dengan gaje-nya, hahaha. Ternyata aku memang kurang pintar bikin drabble. Ya kapan2 akan kucoba lagi. Review please?

Balasan review :

Fic of Delusion : Tapi sayangnya aku juga tak yang manis2, itu maksudnya apa? Lagi2 kamu ambigu del, hahaha. Maksudnya sayang kamu gak manis2 gitu? Wkwkwkw. Thx ya udah review. Kalo boleh dijabarkan itu hanya 200-300 kata.

mihawk607 : Ini komplit kok /tapigakyakinsih. Thx ya udah review. Thx juga atas pujiannya, ehehe. Baru pertama kali bikin sih.

krz5 : Aku ngerasa di sini Natsu OOC banget, lebih cocok ke Jellal sebenarnya. Oke deh nanti aku bikin lagi kok, mumpung idenya masih banyak. Thx ya udah review.

Aoi Shiki : Di fandom ini kan banyakkan NaLu, kamu pasti seneng banget ya hahaha. Thx udah review. Ada kok ini buktinya, semoga kamu suka yaa. Thx udah review.

mika : Oke deh thx ya udah review. Thx juga udah terima promosi memaksaku, wkwkw. Semoga suka dengan chap 2-nya~