Kuroko Tetsuya, seorang pemuda tulen yang sangat imut. Baru kali ini merasa harga dirinya telah ternodai, oleh teman sekamarnya sendiri.

Akashi Seijuuro.

Pemuda yang baru pertama kali ditemuinya ini benar-benar spesies langka. Sangat tampan sekaligus sangat menyebalkan.

.

.

.

Kuroko no Basuke by Fujimaki Tadatoshi

Pair: AkaKuro, slight AoKise, MidoTaka dan MuraHimu

Other Chara: Kagami Taiga, dan kawan-kawan.

Rate: T

Genre: Drama, Friendship, Romance and gado-gado XD

Warning: OOC, Shounen-Ai, semoga tidak ada Typo.

Akashi Bokushi/Oreshi bisa berubah-ubah setiap waktu, namun mata tetap heterochome

Seme!Akashi X Uke!Kuroko.

.

.

.

"Kuroko Tetsuya-deshu. Yoroshiku!" Kuroko berdiri di depan kelas untuk memperkenalkan diri. Dia membungkukan badan, tanda salam.

"Silahkan duduk, Kuroko-kun." Sang sensei menunjuk bangku di samping Akashi.

"Ano, Sensei. Apa tidak ada bangku kosong yang lain?" tanya Kuroko. Dia tidak terlalu suka harus duduk di samping pemuda mesum itu –menurut Kuroko.

"Seperti yang kau lihat, Kuroko-kun. Tidak ada lagi bangku kosong selain di samping Akashi-kun." Ucap sang sensei.

Kuroko melihat ke arah Akashi. Dia terlihat menyeringai.

"Menyebalkan!" batin Kuroko.

"Baiklah, sensei. Arigatou gozaimasu." Kuroko dengan terpaksa berjalan mendekati Akashi, dan dia mendudukan pantatnya di samping si setan merah.

"Doumo, Tetsuya." Akashi tersenyum ke arah Kuroko, kali ini dengan senyuman yang 'biasa'.

Sedangkan Kuroko menundukan kepalanya ke bawah.

Kise, Aomine, Murasakibara dan Midorima gagal paham terhadap sikap kapten tim basket mereka –Akashi Seijuuro- hari ini. Semenjak Kuroko Tetsuya sang murid baru masuk kelas dan memperkenalkan diri, Akashi terus saja memandangi Kuroko sambil tersenyum-senyum sendiri. Sedang orang yang bersangkutan justru terus menundukan kepala, mereka sempat melihat ada gradiasi merah muda menghiasi pipi putihnya, istilah kerennya blushing.

Mungkin bagi kebanyakan orang tersenyum merupakan hal yang biasa, namun bagi seorang Akashi Seijuuro tersenyum adalah hal yang amazing alias luar biasa. Karena setiap dia tersenyum, justru hal itu terlihat mengerikan bagi yang melihatnya.

Aomine yang memang dasarnya pemuda yang mesum. Berpikir yang bukan-bukan.

"Mungkin mereka habis melakukan 'itu'." batin Aomine. Oh pikiranmu nista sekali, Ahomine.

.

Mari kita kembali kebeberapa saat yang lalu...

Kreket...

Pintu kamar sukses terbuka. Menampakan Akashi Seijuro yang masuk ke dalamnya. Dia melebarkan matanya, saat melihat seorang pemuda yang hanya menggunakan handuk untuk melilit pinggangnya.

Kuroko baru menyadari ada orang yang masuk ke ruangan, saat mendengar pintu kamarnya dibuka. Dia memutar badan mungilnya, dan matanya seketika membulat sempurna.

'Di-diakah Akashi itu?' batin Kuroko.

Selama beberapa detik mereka hanya diam mematung, sambil memandangi satu sama lain.

Detik berikutnya Akashi tiba-tiba menyeringai menakutkan. Bahkan Kuroko sampai bergidik melihat seringaian laki-laki di depannya.

Dan detik berikutnya Kuroko baru menyadari kalau...

Kalau...

Kalau...

Kalau...

Handuk yang menutupi bagian vitalnya, merosot dengan indahnya kelantai.

Dan tiba-tiba...

"Kyyaaaaaaaaaaaaaaaaaaa...!"

Kuroko Tetsuya sungguh telah keluar dari karakternya, karena dia menjerit begitu keras seperti anak perempuan. Bagaimana tidak, dia kini benar-benar telanjang bulat, selain itu ada orang lain yang melihatnya dalam keadaan yang begitu memalukan.

"Hee. Tak ku sangka ada seseorang yang telah menunggu untuk disantap."

Krakk.

Urat nadi kekesalan Kuroko terputus, dia kesal bukan main terhadap pemuda di depannya.

"Mau sampai kapan kau menggodaku seperti itu. T-e-t-s-u-y-a!"

"Tidak sudi aku menggoda laki-laki mesum sepertimu!"

Brakk

Kuroko membanting pintu kamar mandi begitu keras, melampiaskan kekesalannya.

Dari dalam kamar mandi dia sempat mendengar bunyi tawa yang begitu keras dari luar, siapa lagi kalau bukan berasal dari tuan muda Akashi Seijuuro.

Kuroko merasa ada sesuatu yang janggal, tapi dia mengabaikannya. Yang harus dia lakukan adalah cepat-cepat memakai baju, agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkannya. Ingatkan Kuroko untuk memakai pakaian di kamar mandi mulai saat ini.

.

.

.

Kuroko merasa hidupnya penuh dengan teka-teki. Pertama, dia mendapatkan beasiswa di sekolah elit seperti SMA Teikou, padahal dia merasa tidak mendaftar beasiswa apapun. Ibunya yang memang sangat bahagia mengetahui berita itu, langsung memaksanya mengambilnya. Ibunya terus mendesak Kuroko, bahkan dia mengancam tidak akan memberikan uang jajan, agar Kuroko tidak bisa membeli Vanila Milkshake –minuman kesukaannya. Karena Kuroko anak yang patuh kepada orang tua, sekaligus tidak mungkin bisa hidup tanpa minuman favoritnya. Diapun menerima beasiswa itu, toh dia tidak merasa dirugikan. Namun kehidupannya mulai berubah semenjak dia sekolah di sana.

Yang kedua, kenapa pemuda yang dijuluki Generasi Keajaiban yang terdiri dari Akashi, Aomine, Kise, Midorima dan Murasakibara, terus membuntutinya kemanapun dia pergi. Tak lupa juga dengan Kagami Taiga, teman yang pertama kali dia kenal di Teikou Gakuen.

Stop! Kuroko sudah tidak kuat lagi dengan tingkah mereka yang sudah membuat semua orang di sekolah menatap kearahnya. Dia merasa sangat risih ditatap seperti itu oleh banyak orang, karena selama ini dia tipe orang tidak suka menjadi pusat perhatian.

Kuroko berhenti mendadak, dan otomatis para pengikutnya itu juga ikut berhenti.

"Bisakah kalian tidak mengikutiku!" ucap Kuroko masih dengan ekspresi datar.

"Tidak bisa!" jawab mereka kompak.

"Tolong jangan mengikutiku lagi. Aku bisa marah!" GoM dan Kagami speechless. Baru kali ini ada orang yang mengatakan akan marah sebelum dia marah. Oh kau memang berbeda dari kebanyakan orang, Kuroko.

"G-gomen Kurokochi ini perintah dari Akashichi." Jawab Kise jujur.

Kuroko menatap pemuda yang berada tepat di depannya dengan tajam.

"Apa maumu?"

Akashi meletakan jari telunjuknya di antara dada Kuroko. Semua orang disana menahan nafas melihat adegan tersebut.

"Lepaskan tanganmu!"

Kuroko menyingkirkan jari nakal yang telah menyentuhnya.

"Aku hanya ingin kau masuk tim basket, karena ku dengar kau bisa bermain basket. Tidak ada maksud lain, atau kau memang ingin ada maksud lain." Jawab Akashi , dia menyeringai lebar melihat Kuroko semakin menatapnya tajam.

Oh baru kali ini ada orang yang berani menatapnya seperti itu. Sangat menarik.

"Aku mau masuk tim basket, asalkan kau berhenti menjadi kapten." Tantang Kuroko. Semua orang membeku mendengar perkataan Kuroko.

"Hee. Sou ka."

Akashi mendekati Kuroko dan berbisik tepat ditelinganya.

"Jadi, kau ingin memilih mati mengenaskan atau menyenangkan, T-e-t-s-u-y-a!" Kuroko bergidik mendengar ucapan Akashi. Akashi sedang dalam mode yandere. Akashi tidak suka kalah dari siapapun, tak terkecuali oleh Kuroko Tetsuya.

"Aku tidak mau mati, Akashi-kun." Jawab Kuroko. Wajahnya tetap datar, meski dia sangat ketakutan terhadap perubahan sikap Akashi.

"Baiklah kalau begitu." Akashi meninggalkan Kuroko yang tetap diam di tempat. Tak ada tanda-tanda dia akan bergerak. GoM dan Kagami hanya bisa meminta maaf dan berlalu pergi.

"Mama anakmu sungguh tidak kuat lagi." Kuroko menjerit dalam hati. Kuroko OOC mode on.

.

.

.

Malam hari di kamar nomer 114, alias kamar Akashi dan Kuroko.

Hening.

Dari tadi tak ada salah seorang dari mereka yang ingin memulai percakapan. Akashi yang duduk di meja dekat ranjang, dia sibuk dengan laptop. Dan Kuroko yang duduk di tepi ranjang, sambil belajar untuk ulangan besok.

"Akashi-kun." Kuroko memanggil Akashi sedikit takut, karena kejadian tadi siang.

Akashi menoleh dan menatap Kuroko dengan mata heterochomenya.

"Aku sudah memikirkannya. Aku akan ikut bergabung dalam tim basket." Lanjut Kuroko.

"Baguslah kalau begitu." Akashi kembali sibuk dengan laptopnya. Itu membuat Kuroko sedikit kesal, dia tidak suka diabaikan seperti ini.

"Akashi-kun!"

"Hemm." Kali ini Akashi menjawab tanpa menatapnya.

"Besok ada ulangan Matematika." Kuroko berharap kali ini Akashi akan menatapnya, setidaknya menoleh ke arahnya, tapi harapannya tidak terkabul. Akashi justru diam tidak menjawab.

"Akashi-kun!"

Hening.

"Akashi-kun besok mulai latihan jam berapa?"

"Akashi-kun!"

"Akashi-kun!"

"Akashi-kun!"

"Akashi-ku..."

"Ya ampun, Tetsuya. Tidak bisakah kau diam, dan tidak menanyakan sesuatu yang sudah kau tau jawabannya. Aku sedang sibuk sekarang!" bentak Akashi. Kuroko manyun tanpa sadar. Apa sebegitu pentingnya laptop itu, sampai-sampai Akashi mengabaikan teman sekamarnya sendiri. Sayangnya Akashi tidak melihat keimutan Kuroko saat sedang cemberut.

Merasa tidak ada respon yang berarti dari Kuroko, Akashi menoleh. Ternyata Kuroko sedang berbaring membelakanginya. Akashi tau Kuroko daritadi sedang mencari perhatiannya, namun dia tidak bisa mengabaikan tugasnya sebagai pewaris Akashi Corps.

"Oyasumi, Tetsuya."

Kuroko tidak mengerti dengan Akashi. Terkadang dia sangat menyebalkan, namun terkadang dia bisa bersikap baik seperti ini. Tanpa sadar Kuroko tersenyum.

.

.

.

Mari kita tengok di kamar lain...

Kamar Aomine dan Kise.

"Aominechi besok ada ulangan Matematika-ssu! Kenapa kau malah tidur, ayo belajar!" teriak Kise tepat ditelinga Aomine.

"Berisik Kise, pergi sana! Suaramu cempreng seperti kaset rusak!"

Jlebb.

Kise menangis di pojokan.

"Suaraku bagus kan-ssu? Suaraku kan seperti Kensho Ono, penyanyi terkenal itu." Kise sedang berbicara dengan tembok. Depresi mode on.

"Suaramu jelek, mengganggu tidurkuuu~" sayup-sayup terdengar suara jawaban.

"Kyaaa ada hantu bisa bicara!" Kise muter-muter, seperti cacing ditaburi garam.

"Berisik!".

Blakk

Aomine melempar bantal tepat di muka Kise.

Kise menangis bombay.

"Mama, Kise dibully oleh dua makhluk tak kasat mata!" jerit Kise dalam hati.

.

.

.

Di kamar Midorima dan Takao Kazunari.

Ternyata Midorima dan Takao sedang belajar bersama untuk ulangan Matematika besok. Anak yang rajin, harus dicontoh nih. Mereka berdua sedang belajar di ruang tamu, duduk dengan beralaskan karpet.

"Shin-chan ajari aku soal yang ini dong!" Takao sengaja duduk menempel dengan Midorima.

"Soal mudah seperti ini kau tidak bisa, memalukan. Baiklah akan aku ajarkan, tapi bukannya aku peduli padamu-nanodayo!" Takao tersenyum senang mendengar jawaban dari Midorima.

Midorima sedang serius mengajarkan cara menyelesaikan soal pada Takao. Namun dia mulai terganggu dengan tingkah laku Takao di sebelahnya. Bukannya mendengarkan penjelasannya, dia justru terus menatapnya.

"Apa ada sesuatu di wajahku-nodayo?" tanya Midorima.

"Mou~ Kenapa wajahmu begitu tampan Shin-chan. Aku sampai tidak bisa berpaling darimu." Jawab Takao.

Blush

Rayuan Takao sukses membuat pipi Midorima memerah.

"Berhenti menatapku seperti itu. Kau membuatku risih-nodayo!"

"Ah ternyata Shin-chan malu-malu. Kawaii~" muka Midorima semakin memerah.

"Diam kau Bakao!"

Dasar penganut Tsundere akut.

.

.

.

Di dalam kamar Murasakibara dan Himuro Tatsuya.

Himuro sedang khusyuk belajar. Sedang makhluk titan di depannya hanya memakan cemilannya terus tanpa niatan menyentuh bukunya. Melihat itu Himuro tidak bisa tinggal diam.

"Atsushi, berhenti makan! Kau harus belajar untuk ulangan besok!" nasehat Himuro hanya bagaikan angin lalu bagi Murasakibara.

"Besok aku kan bisa nyontek sama Muro-chin, buat apa belajar!" jawab Murasakibara watados.

Himuro menghela nafas lelah. Menasehati Murasakibara sama halnya seperti menasehati anak kecil.

"Kalau hasil ulanganmu tidak memenuhi standar, aku tidak akan memberi jatah untukmu!" woh perkataanmu ambigous sekali Himuro.

"Kalau Muro-chin tidak memberi jatah, aku mau cari yang lain saja."

Krakk

Oh Atsushi kau telah mematahkan hati anak orang.

Himuro Tatsuya pemuda manis, dengan wajah ke-ibuan, positif dibuat sakit hati oleh sang titan ungu.

"Kalau begitu aku pergi saja dari sini." Ucap Himuro nelangsa.

Himuro berdiri, dia hendak beranjak ke luar ruangan. Dia sekarang sedang memegang handle pintu.

"Jangan pergi Muro-chin!" Murasakibara memegang tangan kanan Himuro.

Terjadilah adegan seperti di film-film.

"Bukankah kau tidak peduli lagi padaku, Atsushi. Biarkan aku pergi!"

"Ie. Jangan tinggalkan aku Muro-chin. Nanti siapa yang ngasih aku makan."

"Aku bukan ibumu!"

"Tapi kan nanti Muro-chin yang akan menjadi ibu dari anak-anakku."

Badooom

Himuro merasa ada yang berterbangan di perutnya. Mukanya memerah sempurna, dia terlihat sangat manis.

"Haah. Baiklah tapi kau harus tetap belajar."

Murasakibara mengangguk lesu.

.

.

.

Di kamar Kagami Taiga.

Kagami sedang depresi karena besok ada ulangan matematika. Dia sudah mencoba belajar, namun tetap saja otaknya yang pas-pasan tidak mampu untuk memahami rumus-rumus yang begitu banyak. Mulai dari menghafal dengan cara sambil bermain bola basket, sampai meminum air yang berisi rumus-rumus. Tolong yang ini jangan ditiru. Namun tetap saja saat mengaitkannya dengan soal dia tidak bisa menyelesaikannya.

"Haaaa!" dia berteriak frustasi sambil menjambak rambutnya sendiri.

Furihata yang pada dasarnya pendiam. Hanya fokus pada belajarnya. Dia mencoba tidak menghiraukan tingkah Kagami yang absurd.

Karena sudah tidak kuat, Kagami akhirnya menyerah. Dia mulai tiduran di ranjang, sambil bermain dengan Hp-nya.

Kagami mengirim pesan kepada Kuroko.

To: Kuroko

From: Kagami

21.30 PM

Kuroko, kau sudah tidur?

Send

Tak beberapa lama ada balasan masuk dari Kuroko.

To: Kagami

From: Kuroko

21.34 PM

Belum Kagami-kun, ada apa?

Send

.

.

To : Kuroko

From: Kagami

21.36 PM

Aku tidak bisa tidur. Ulangan matematika besok membuatku setress.

Send

.

.

To: Kagami

From: Kuroko

21.40

Jangan menyerah, Kagami-kun. Kau pasti bisa!

Send

Kagami tersenyum senang mendapat balasan dari Kuroko. Dia hendak membalasnya kembali. Namun sebelum itu ada sebuah pesan yang masuk dari orang lain.

To: Kagami

From: Iblis merah

21.42 PM

Taiga. Dari pada kau mengganggu Tetsuya lebih baik kau belajar, supaya besok bisa menjawab soal. Aku yakin, kau belum bisa satupun dari yang telah diajarkan oleh sensei.

Send

"Cih, sial. Dasar iblis merah. Mati saja sana!" Gumam Kagami.

To: Kagami

From: Iblis merah

21.44 PM

Aku tahu kau sedang menyumpahi ku, Taiga. Kalau begitu latihanmu besok ku lipat gandakan menjadi 3 kali lipat.

Send

"Cebol sialan. Kenapa kau hidup di dunia haa? Kalau tidak ada orang sepertimu dunia pasti akan tenang.!"

"Siaaaaal!" Teriak Kagami sekeras-kerasnya sambil meninju guling ditangannya.

Furihata geleng-geleng kepala melihat Kagami yang mulai kesetanan.

.

.

.

Di kamar sebelah.

Akashi yang mendengar teriakan Kagami, tersenyum puas. Mendengar teriakan itu, Kuroko duduk di tepi ranjang dan melihat Akashi yang sedang tersenyum.

"Akashi-kun, apa kau baik-baik saja?" Kuroko mulai khawatir melihat Akashi tersenyum sendiri seperti itu.

"Aku baik-baik saja, Tetsuya. Jangan khawatir. Tidurlah! Agar besok bisa bangun pagi." Kuroko mengangguk mengerti. Dia merasa teriakan Kagami yang begitu keras, ada hubungannya dengan Akashi tapi dia mengabaikannya. Lebih baik dia tidur, lagi pula dia sudah sangat mengantuk.

"Oyasuminasai, Akashi-kun." Kuroko kembali berbaring.

"Oyasumi, Tetsuya. Semoga mimpi indah." Kali ini, Akashi tersenyum tulus.

.

.

.

Kuroko terbangun dari mimpi indahnya. Dia menyibak selimut, dan mengucek matanya pelan. Tak lupa dengan bad-hairnya saat bangun dari ritual –tidur. Diedarkan pandangannya ke samping tempat tidurnya.

Kosong.

Tak ada orang di sampingnya.

"Apa Akashi-kun sudah bangun dari tadi?" tanya Kuroko entah pada siapa.

Merasa tidak perlu menghiraukan hal yang tidak penting. Kuroko beranjak dari tempat tidur dan menuju kamar mandi. Jelas tujuannya adalah untuk mandi, dan bersiap-siap untuk berangkat sekolah.

Kuroko sudah selesai mandi, dan dia sudah segar dan wangi. Kuroko menuju meja belajar untuk merapikan buku pelajaran hari ini. Tanpa sengaja, dia melihat sebuah catatan di atas meja.

Tetsuya, aku pergi selama 5 hari. Aku tidak suka dengan ketidak rapian. Jadi, ketika aku pulang, aku harap kamar kita dalam keadaan bersih dan rapi. Kalau tidak, tunggu hukuman dariku. Kau paham!

From: Akashi Seijuro

Kuroko mengangguk menanggapi pesan dari Akashi.

"Tunggu! Akashi pergi kemana selama 5 hari? Apa dia tidak sekolah? Hari ini kan ada ulangan matematika. Bagaimana dengan latihan pertamaku?" oceh Kuroko pada diri sendiri.

"Akashi-kun, I don't know with You." gumam Kuroko.

Kuroko sungguh tidak tahu apa-apa mengenai kehidupan dan Akashi Seijuro sendiri.

.

.

.

To be Continued...

.

.

.

Author note:

Makasih buat para readers yang sudah membaca. Ini udah update kilat, mumpung lagi nganggur hehehe, tapi chap selanjutnya aku ga yakin bisa update kilat seperti ini.

Maaf ga panjang, soalnya aku ga terlalu suka yang panjang-panjang XD

Dichap ini hanya menceritakan kehidupan seputar AkaKuro + GoM ditambah Kagami jadi bagi yang menunggu chara lain maaf tidak aku masukin, mungkin lain kali. Apa ada yang request siapa yang ingin di masukin? Aku terima sarannya ko. InsyaAlloh nanti aku usahain.

Oh ya nomer kamar AkaKuro aku cantumkan 114 bukan karena Kuroko yang menjadi seme tapi karena entah kenapa aku lebih suka no itu dari pada 411. Mungkin ada dari readers yang salah paham mengenai hal ini.

Special Thanks to:

Kuroyuuki Tetsuya

Akari Kareina

Yoshikuni Rie

Sheriacchi

shfly9 - Kim

Aiko Hikari Fujoshi

Akhir kata, terimakasih dan sampai jumpa

Salam, AkaKuro 3