Title : The Feelings
Main Casts : Oh Se Hun and Lu Han
Rated : M (Mature)
Genre : Romance, Hurt/Comfort
Length : Chaptered
Author/Writer : seluddict
Warning : There are no notice for some flashback part. Puzzle storyline. Be a sensitive!
.
.
.
.
.
-The Feelings-
.
.
.
By seluddict
.
.
HunHan | Gender Switch | Hurt/Comfort
.
.
.
.
.
Terkadang Sehun memiliki perasaan aneh yang dominan buruk. Sehun berfirasat, hidupnya takkan pernah mulus semulus ketika ayah dan ibunya masih ada. Hidupnya takkan pernah baik setelah Zitao ikut pergi, dan Sehun salah satu faktor yang mempercepat kematiannya. Rasa bersalah tak pernah habis di ulu hatinya. Realitas jelas terbukti. Hidupnya tak mulus dan itu sungguh tidak menghibur Sehun.
Sampai sekarang Sehun masih belum percaya bahwa Luhan telah menjadi istrinya. Semua akan baik-baik saja. Segalanya akan baik-baik saja. Sehun teringat akan ucapannya dulu. Itu adalah sebuah kebohongan, dan Sehun sudah mengira bahwa Luhan mengetahuinya.
"Tidak," katanya protes dengan suara parau dan jemari yang bergetar. "Setengah pegawai di lantai atas melihatnya… akulah… yang ada di bawah tubuhmu, bersamamu, dengan posisi… seperti itu. Kau tahu sifat manusia dengan lidahnya yang tak bisa diam, besok, semua akan tahu!"
"Sebuah pernikahan. Kita harus membicarakannya di rumahku."
"Kau gila! Semudah itukah kau mengatakannya? Kau pasti bercanda!" Luhan mulai merasakan kepanikan yang berlebih, seolah mencekik lehernya. Lehernya mulai pegal dan Luhan menekan pipinya dengan kedua tangan. Pipinya terasa agak panas. Ayahnya akan membunuhnya. Jabatan tinggi mengharuskan pembuatan skenario yang penuh kebohongan di mata dunia. Tapi tak akan ada lagi skenario seolah-olah perusahaan ayah Luhan dan Sehun terlihat baik dan bersih. Setelah ini, mungkin.
Pilihan baik apa yang Luhan punya sejak pertengkaran di dalam ruang kerjanya yang terus berlanjut di ruang tamu rumah Sehun? Luhan tak mempunyai solusi dan hanya Sehun yang tahu satu-satunya solusi tersebut. Tetapi Luhan tidak akan menikah hanya karena mencoba merasakan kenikmatan jasmani di atas meja!
Luhan tak pernah merasa sebingung ini seumur hidupnya. Ibunya pasti sangat terpukul karena kejadian bodoh yang begitu konyol.
"Dengarkan aku, aku akan membawamu dengan mobilku. Mari pergi dari sini, kita akan mencari tempat pribadi untuk berbicara."
Seharusnya Sehun tak pernah mengatakan hal itu. Seharusnya Sehun membiarkan reputasi Luhan sebagai wanita sekaligus putri tunggal pria terpandang terancam dan memilih untuk tidak membicarakan apa pun dengan Luhan.
Terakhir kali melihat Luhan setelah keributan itu, semuanya hening. Dan besok paginya, bukan kepala Luhan yang tergantung di atas meja makan keluarga Xiao, tapi ayah Luhan yang mendatangi rumahnya untuk meminta pertanggung jawaban. Oh Tuhan. Luhan yang menolak tawarannya, lalu untuk apa Sehun perlu dipaksa lagi untuk menikahi Luhan?
"Kau cukup jantan untuk itu, Oh Sehun. Kau telah merusak reputasinya dan rumor di perusahaan meluas dengan sangat buruk."
"Kau tidak bisa memaksaku untuk menikahi Luhan sedangkan putrimu sendiri tidak menyetujuinya. Putrimu membenciku."
Luhan membenci Sehun, itu sangat menamparnya. Dan andai saja ayah Luhan tidak mengotot, juga Sehun tidak pernah tahu bagaimana sifat ayahnya itu, mungkin tiada cerita tentang perjodohan. Nasi telah menjadi bubur—sejak lama Luhan sangat membenci istilah ini, meskipun ia jauh lebih membenci lelaki yang meraba paha dalamnya.
Terlepas dari itu, tak pernah Sehun sangka Luhan pernah menjadi seorang yang ia benci. Dulu. Sudah lama sekali. Memang begitu kenyataannya. Suatu hal membuat Sehun membenci Luhan, mengusir Luhan. Sehun tidak mau melihat gadis itu. Sehun pernah tidak menginginkan Luhan. Sehun malu dan rasanya… jijik.
Sehun takkan berdusta, saat itu—kira-kira delapan belas tahun yang lalu?—Luhan tidak lebih dari sekadar gadis mungil berpipi tembam dan bergigi kelinci. Luhan murah menebar senyum lebar, jauh berbeda seperti Sehun ketika seusia Luhan. Sehun bertingkah dingin, menjaga Luhan, Baekhyun, dan dua gadis kecil lain dari jarak yang cukup jauh. Ia tak sebegitu kuat menaruh perhatian pada gadis kecil tersebut. Tetapi dari segalanya, ada yang berhasil menyapa diri Sehun. Dan semua itu berasal dari jernihnya dua mata Luhan seperti pantulan madu.
Sehun mendesah keras sambil memijit pelipisnya di kursi kebesarannya sebagai CEO. Melihat pintu masuk yang tepat berada di depannya membuat pikiran Sehun terasa tertarik ke dua bulan lalu ketika Luhan membuka pintunya tanpa mengetuk untuk memberikan beberapa berkas hubungan kerja dengan ayah Luhan. Luhan datang seperti calon sekretarisnya yang seksi—ah, Sehun sangat mengharapkan status itu.
Tidak masalah kalau Luhan menginginkan hubungan seksual di dalam ruangannya walau bergerombol pegawainya menonton dari luar. Takkan ada yang menganggap serius karena wajar saja, zaman sekarang apa yang tidak bagi keinginan nafsu seseorang? Tapi sayangnya, ada suatu status yang melarang. Dan hal itu benar terjadi. Larangan telah dilanggar, dan mereka terpaksa menikah. Rasa sakit yang dirasakan Sehun di bahunya menyebar ke dadanya. Pernikahan apa yang lebih buruk dengan dasar skandal dan menjalaninya sebaik mungkin? Ini sudah cukup buruk, berhentilah menjalankan rumah tangga yang pada akhirnya menyakiti dua belah pihak.
Sehun tidak pernah menerapkan larangan pada Luhan semenjak pernikahannya. Pergi dengan siapa, pergi ke mana, percuma saja, dia tak berhak untuk itu. Luhan boleh melakukan urusannya, dan Sehun melakukan urusannya juga. Luar biasa, tapi apa pedulinya? Terkecuali, sifat penyuka minuman keras seperti Luhan. Luhan tak boleh dan takkan pernah Sehun izinkan untuk minum di luar rumah. Tidak hanya karena sesuatu yang berbahaya dapat mengancam tubuhnya, namun reputasinya di mata semua orang sebagai istri Sehun juga. Sehun pernah memergoki wanita itu mabuk di salah satu bar ternama, dan itu sangat sukses menjadikan kepalanya panas karena ada pemandangan sial; Luhan terhimpit kuat oleh seorang pria. Sehun tak mau hal serupa terjadi lagi karena menurutnya sangat berbahaya dan tak etis. Kesimpulannya, Sehun telah menerapkan klaimnya pada Luhan. Maka dari itu, Sehun lebih memilih membeli sebuah almari besar untuk menjadi tempat penyimpanan berbagai alkoholnya. Luhan boleh mengambilnya, tapi dengan batas wajar dan waktu yang tepat.
Awalnya memang tolol. Ceroboh ketika Sehun berada di dekat Luhan yang baru. Luhan yang anggun dan menggairahkan di pesta. Sehun kehabisan kata-kata. Apa yang dilihatnya seperti gadis delapan belas tersebut baru keluar dari cangkang kepompongnya dan memekarkan sayapnya yang indah.
Lima tahun yang lalu juga—astaga, Sehun sangat suka bagian ini—semua yang ada pada Luhan berubah begitu pesat. Semua, terkecuali matanya yang membuat para pria hanyut dengan mulut yang terbuka. Semenjak terakhir kali melihat Luhan, jujur saja Sehun tak menemukan hal yang sangat menonjol di bagian dadanya. Sehun mengakuinya meskipun kesan pertama tersebut terdengar sedikit cabul—masa bodoh. Pinggulnya tidak begitu terbentuk sehingga dulu Luhan remaja terlihat biasa saja dan tak memiliki hal yang dapat menarik perhatian. Dan ini menakjubkan, Luhan datang ke pesta perusahaan dengan gaun yang mempesona layaknya putri kerajaan. Belahan dada putih yang memberi Sehun sedikit pengertian bahwa payudara itu merasa sesak dan tidak tahan berada dalam kekangan korset gaun. Pinggulnya yang berlekuk seakan merayu Sehun untuk mencengkramnya kuat. Astaga, fisik Luhan banyak memang berubah. Bentuk kejantanannya saat itu juga sempat berubah; terangsang.
Perubahan tersebut dan perubahan bagian dalam Luhan yang hanya Sehun tahu, membuat Sehun jatuh pada pesonanya. Rasa tertarik yang tak tahunya berkembang drastis menjadi rasa rindu dan perasaan sesak seperti sedang jatuh cinta—ya, sialnya ia memang telah jatuh cinta—di tahun kedua setelah pesta itu berakhir. Luhan memabukkan. Luhan telah membuatnya gila.
Sehun berharap seseorang dapat membawanya ke Rumah Sakit Jiwa terdekat. Tanpa sadar, hal tersebut sekaligus berguna untuk mengobati perasaannya yang kebas.
Sehun sudah pergi. Demi Tuhan, Sehun sudah pergi. Dengan senang hati, Luhan membuka matanya. Pinggulnya terasa hendak patah saat ia mengganti posisi berbaring. Perlahan ingatannya datang. Malam hebat bersama Sehun dan meninggalkannya dengan keadaan telanjang di bawah selimut. Pertama, Luhan menyentuh keningnya, mengusapnya pelan, ada sesuatu yang terasa membekas di sana yang seharusnya tidak bertahan se-lama ini. Mungkin efek dari kecupan Sehun satu jam yang lalu? Kenapa bibirnya masih terasa di kening? Ya ampun, berhenti memikirkan bibir Sehun beserta kecupannya, Luhan sudah terlambat kerja! Luhan tak peduli. Kemudian tangannya kontan meraba meja nakas. Satu tekstur yang biasa Luhan temukan, ini rutinitas Sehun jika ia lebih dulu berangkat kerja. Luhan menariknya dan melihat dengan mata menyipit sebuah kertas berwarna kuning.
"Aku berangkat lebih dulu. Sarapan sudah ada di bawah dan jangan terlambat bekerja.
Milikmu, Sh."
Luhan menjatuhkan tangannya, matanya kembali tertutup senang. Asal Sehun tahu saja, hari ini Luhan takkan bekerja. Dia sedang malas melakukan apa pun. Pengecualian untuk membesuk ibunya seminggu sekali. Demi Dewa Neptunus, Luhan setengah malas juga untuk hal sepele itu.
Dan di sinilah Luhan. Dengan blouse satin hitamnya, di depan pintu rumah orangtuanya. Berdiri tak terlalu yakin akan rencananya ini. Kepalanya pusing hanya karena bergelut untuk masuk atau tidak. Luhan punya kenangan buruk untuk menginjakkan kakinya di sini dan rasanya Luhan lebih ingin hilang, tenggelam oleh tanah yang tengah ia pijak. Luhan menekan belnya satu kali. Tapi tidak ada yang memberinya respons bahkan ketika Luhan mulai sedikit kesal dan menekan lagi belnya secara beruntun. Luhan menoleh dengan anggun saat seorang pria dari arah taman di sebelah berlari tergopoh-gopoh mendatanginya. Luhan jadi berpikir, ada apa lagi dengan keanehan ini.
"Maafkan aku, Nyonya…"
"Tenang saja, apa yang terjadi?"
Ilwoo, pria berumur empat puluhan tersebut mengerjap beberapa kali. Hening menyergap ketika pria yang telah bekerja selama separuh umurnya itu belum juga menjawabnya. Tiba-tiba Luhan menepuk dahinya, Luhan teringat bahwa di usianya, Ilwoo sudah cukup pelupa untuk apa pun, kecuali namanya sendiri mungkin. "Apa Mama ada di dalam?"
"Saya kurang tahu, Nyonya. Tadi Nyonya Xiao…" Ilwoo mulai kelihatan berpikir-pikir lagi.
"Oh, tidak, Ilwoo. Maksudku, apakah kau memperbolehkanku untuk masuk sekarang?"
Ilwoo mengangguk sopan dan membuka pintunya. Luhan menghembuskan napas kasar dan masuk ke dalam. Ia mengira jika ibunya itu tengah duduk di kursi makan sambil mengupas apel merah kesukaannya. Tapi, jika betul begitu, mungkin tadi orang pertama yang menyambutnya bukanlah Ilwoo. Kakinya yang dibalut jins biru melangkah ke lantai atas. Di depan kamar sang ibu inilah Luhan sempat berpikir lagi akan keputusannya. Dentingan kaca di dalam kamar membuat Luhan mengernyitkan dahi kemudian menggenggam kenop perak berukiran bunga di pintunya. Luhan mengenal sangat baik jenis dentingan itu dan untuk apa dentingan tersebut berasal dari kamar wanita tua di dalam ruangan seperti ini.
Luhan mendengar gumaman kecil yang aneh dari dalam, seperti, "Jangan hari ini. Jangan pernah datang." Atau, "Aku menyayangimu, tapi kau perempuan." Ia tak tahan dan segera membuka pintunya. Ibunya yang masih memakai piyama abu-abu—Luhan mencari jam dinding melalui penglihatannya dan ini sudah pukul setengah sepuluh pagi—sedang duduk kacau di lantai dengan menyandar pada sisi ranjang. Yang membuat Luhan semakin geram adalah botol-botol minuman keras yang berdiri di sekitar ibunya. Sebagian sudah terjatuh.
Luhan mendapat interaksi mata dengan ibunya, dan wanita berumur tersebut terlihat amat tidak suka. Lalu Luhan mulai berpikir sesuatu yang mengerikan. Ini salah. Keputusannya salah untuk datang ke sini di waktu yang tidak tepat, atau selama-lamanya memang tidak tepat.
"Kau datang?"
"Ya." Luhan menjawab dengan agak terbata. "Salahkah aku?"
Ibunya tertawa sesaat. "Harusnya kau tahu itu, bodoh." Luhan merasa bulu-bulu halusnya merinding. Ia membutuhkan seseorang. Sehun… Di mana Sehun?
"Mama…" Dengan sedikit keberaniannya, Luhan maju berjalan mendekat. Air matanya sudah siap tergenang di pelupuk mata dan pipi Luhan sudah mulai terasa menghangat. Saat Luhan menyentuh lengannya dan berjongkok di samping ibunya, ibunya tersebut mendadak muntah di kaki Luhan. Cairan bening dan sisa makanan yang masih terbentuk menyelimuti kakinya. Dengan begitu jelas Luhan merasakan hangat-hangat licin yang menjijikkan. Ibunya kembali mengucapkan sesuatu yang aneh seperti mengobrol dengan imajinasinya sendiri. Pelan berlanjut, Luhan merasa iba dengan keadaannya. Ia ingin marah mengingat kakinya sudah berlumuran muntah. "Sadarlah, apa kau bisa sadar? Kau mengotori kakiku." Luhan melirih, menahan tangisnya, tapi wanita dengan keriput samar di tangannya masih saja berkata tak jelas. Mingtze, ibu Luhan, mengangkat botol yang sejak tadi tergenggam di tangannya kemudian meneguknya kuat. Luhan membelalak dan ia merebut botol tersebut. "Hentikan! Kau sudah tua, berhentilah minum-minum!"
"Kembalikan, Pelacur!"
"Aku bukan pelacur!"
Tepat ketika itu, pipi Luhan terasa terbakar. Sebuah tamparan mendarat dengan sangat baik di sana dan Luhan merasakan darahnya menggelenyar begitu deras. Dia baru saja ditampar, itu sangat perih dan baru kali ini ia mencicipi tamparan yang begitu hebat. Dari ibu kandungnya sendiri. "Jangan coba-coba untuk mencegahku! Kau yang membuatku seperti ini dan semua sudah berlangsung selama bertahun-tahun!"
Luhan berhasil menjatuhkan air mata beningnya. Dengan cepat ia menyekanya, mencoba untuk terlihat kuat, dan menatap Mingtze dengan dahi yang berkerut beserta hati yang perlahan hancur. "Apa yang kau katakan? Aku tidak bermaksud membuatmu hancur, aku tidak bersalah dan kau tak berhak seperti ini."
"Kau selalu saja menjadi anakku yang sialan. Berterimakasihlah padaku, kau boleh melakukan apa pun tapi jangan menghalangiku! Dan, Pelacur, berhentilah seperti ini. Menangis membuatmu terlihat lemah… dan menjijikkan."
Hati Luhan seperti teremas oleh tangan ibunya sendiri. Menyakitkan dan Luhan sangat ingin berlari sambil menutup telinganya rapat-rapat. "Kumohon, jangan lakukan aku seperti dulu." Luhan menangis lebih deras. Kenapa Sehun tidak datang juga? Di mana pelindungnya? Hatinya semakin hancur tak berbentuk. Perasaannya sakit tak terkira ketika Luhan harus mengatakan satu kenyataan. "Aku ini anakmu…"
Ibunya tidak sudi, mungkin Luhan juga tidak pernah berharap dapat lahir dari rahim yang salah. Luhan tidak diinginkan, Luhan begitu paham akan hal ini.
"Bukan berarti kau bisa melarangku untuk meminum alkohol, dungu! Kurasa Sehun punya lebih banyak dari ini, kan? Kenapa kau mempermasalahkannya?" Ibunya mendorong tubuh Luhan hingga ia terjatuh dengan pantat yang menabrak keras lantai serta dentingan antara botol kristal di tangannya dan lantai. Wanita itu merebut lagi alkohol di tangan Luhan dan menyiram perempuan tersebut dari kepala hingga kakinya yang terkena muntahan. Luhan tak dapat bergerak. Lebih tepatnya, Luhan tak mau bergerak. Membiarkan ibunya melampiaskan apa saja. "Pergilah dari rumah setelah ini." Bagaimana ia akan pulang dengan keadaan seperti kucing yang jatuh ke selokan?
Sekarang Luhan tak peduli. Tubuhnya basah dan baunya sangat tak nyaman. Karena aroma minuman keras tidak pantas untuk disiram ke tubuhnya. Menangis dengan badan basah kuyup membuatnya kembali teringat masa lalu. Ia tak akan mencoba bangkit untuk meminta maaf lagi. Ini bukan salahnya. Sama sekali bukan.
Luhan mulai bisa melihat cerminan dirinya dari ibunya itu.
Kepala batu. Penyuka minuman keras. Pelanggar aturan. Dan mandul.
Mungkin dirinya juga mandul, tak dapat memiliki keturunan dari Sehun. Luhan pun tak peduli. Seperti orangtuanya yang salah melahirkan seorang anak perempuan di saat mereka menginginkan seorang laki-laki bersamaan dengan kemandulan ibunya setelah itu. Luhan menangis lagi di sela air yang masih mengalir dari helai rambutnya. Bibirnya terasa membengkak dan matanya mulai perih. Ini teramat menyakiti perasaannya. Seharusnya sejak awal Luhan tak pergi ke sini. Bahkan untuk kembali merencanakannya di kemudian hari.
Ini bukan rumahnya lagi.
.
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continued
.
.
Weyoooo~
Karena di prolog kemaren kayaknya respons sangat mudah ditebak, yaitu kebingungan dengan bahasa dan alurnya, atau malah nganggap diri sendiri yang lambat mikir (lol, please), sebenarnya semua itu saling berhubungan hahaha XD Saranku ya cuma baca ulang.
Masalahnya, kalau di prolog enggak paham, di chapter-chapter selanjutnya cuma beberapa hal aja yang bisa nyangkut. Di prolog kemarin, bagian awal sebelum dipisahkan dengan judul adalah present (dan itu menyambung ke chapter ini) dan setelah muncul judul itu adalah flashback yang menjadi dasar; skandal apa, kenapa mereka jadi suami-istri, dan blah blah XD
Karena masalah gaya alur ini kupikir bakal buat kalian enggak nyaman, jadi aku nurutin untuk mengubah flashback atau tidaknya dengan suatu perbedaan. Ini FF yang butuh waktu buat update, bedakan dengan novel yang sudah selesai. Alur yang missing bakal jelas seiring update kok.
Special thanks buat owner OA Line HunHan Indonesia yang sedang butuh kesabaran tinggi, I feel you~ Happy Anniversary, semoga makin sukses, jangan bosen bahas couple ini sampai mereka nikah hwhw LOL.
Mind to Review?
.
.
And big thanks to :
MissPark92 | nisaramaidah28 (karena alurnya sengaja dibuat teka-teki~) | lulu-shi | LisnaOhLu120 | Lisasa Luhan (as your wish. Thank you) | Selenia Oh | Baby niz 137 | seluhunhanshp (cek PM) | Juna Oh (my pleasure~) | labaikands | ruixi1 | Guest (pls jangan nebak-nebaaaak) | Kitty Miu | rikha-chan | BananaHun | Ty Kim | DEERHUN794 | sehundick | anisaberliana94 | candelyrufela28 | ohrere1208 | redmascarphone | Ludeer (please don't XD) | gigi onta
