Chapter II


.

.

Mendengar seseorang memanggil namanya. Ssuke mendongak serta meletakkan ponselnya. Dihadapannya -berbatas meja- Hiashi Hyuuga berdiri bersama Neji. Sasuke heran, apa yang dilakukan disini oleh seorang Hiashi Hyuuga, pemilik Hyuuga Corp,. Sasuke berdiri, membungkuk hormat pada ayah Hinata dan Neji. Lalu mempersilakan mereka berdua duduk. Hiashi mengangguk.

"Aku ada janji dengan beberapa orang disini," ucap Hiashi saat sudah duduk. "apa kau baik-baik saja? Kau tidak ke rumah beberapa hari ini?"

Rumah? Ah ya, rumah Hinata. Sasuke sedikit salah tingkah saat harus menjawab pertanyaan ayah Hinata. "Aku baik, paman. Hanya sedikit sibuk dengan skripsi."

"Oh. Ku kira kau selingkuh," seloroh Neji.

Sesaat tubuh Sasuke menegang, pandangan matanya tertuju pada tangannya yang mengambang di samping cangkir kopi. "Tidak."

Bohong. Neji tahu Sasuke berbohong. Tetapi bukan porsinya untuk menghakimi Sasuke. Memilih diam dan mengutak-atik ponselnya menjadi pilihannya, setelah ber-oh pada Sasuke.

"Apa kau ada janji dengan Hinata? tanya Hiashi. Netranya meneliti meja didepannya.

"Tidak, Paman."

"Lau kenapa kau memesannya?" Sasuke paham benar maksud pertanyaan ayah Hinata.

"Hanya ingin mencoba memakannya saja."

Dan Sasuke berbohong lagi.

.

.

Merasa bosan, Hinata memilih jalan-jalan. Ayah dan kakaknya juga sedang pergi entah kemana. Untungnya seminggu ini sekolah libur. Libur untuk persiapan ujian akhir kelas tiga, dan Hinata salah satu siswi kelas tiga itu. Udara luar rumah memang sedikit berbeda dengan udara di kamar berACnya. Lebih segar dan bebas. Ia berjalan di sekitaran pusat kota. Banyak toko yang menjual makanan dan fashion, Mall-mall besar, dan cafe.

Hinata baru saja keluar dari toko roti dan berjalan lima langkah, saat klakson mobil berbunyi dua kali dan seseorang memanggil namanya. Tubuh Hinata berbalik sembilanpuluh derajat, manik lavendernya menangkap sosok tak asing. Itachi Uchiha.

"Masuk. Ada yang ingin kubicarakan denganmu," perintah Itachi mutlak.

Tanpa membuang waktu lama, Hinata segera menghampiri mobil Itachi lantas masuk ke dalam mobil itu. "Ada apa?"

"Kita bicara di apartemenku."

Mobil Hitam itu melaju menuju apartemen Itachi. Ada yang aneh, jalanan ini tidak asing bagi Hinata. Tapi Hinata tidak terlalu ambil pusing. Tidak ada pembicaran basa-basi selama perjalanan yang tidak lama itu.

Itachi mempersilakan Hinata masuk setelah sampai di apartemen Sasuke. Apanya yang apartemen Itachi? "Ini apartemenku. Yang membayar semua tagihannya aku. Si bodoh itu dengan seenaknya menempati."

Hinata terkikik geli mendengar fakta yang terlontar dari mulut Itachi. Sungguh Hinata tidak menyangka. Ia kira selama ini, apartemen ini milik Sasuke. Nyatanya, diluar dugaan. Hinata masuk ke dalam apartemen. Matanya meneliti setiap sudut. Ada yang berbeda. Yah, perasaannya bilang begitu. Hinata cukup terkejut mendapati sofa yang berbeda warna. Terakhir kali ke sini sofanya berwarna hijau, sekarang berwarna cokelat susu.

.

.

Sepasang suami istri memasuki cafe tempat Sasuke berada. Menengok ke kanan dan ke kiri. Karena pengunjung cafe tidak terlalu ramai. Tidak sulit bagi sepasang suami istri ini untuk menemukan orang yang dicarinya, walau yang tengah mereka cari membelakangi mereka berdua. Gaya rambut mereka tidak akan ada yang menyamai. Sepasang suami istri itu mendekati mereka yang dicarinya. Dan sedikit terkejut karena menemukan orang yang dikenalnya dibangku yang sama.

"Sasuke," suara lembut kembali menyapa Sasuke.

"Ibu?" ucap Sasuke sedikit kaget. "apa yang Ibu dan Ayah lakukan disini?"

"Tentu saja menemui calon besan." Fugaku mengangguk membenarkan ucapan Istrinya.

"Calon besan?" Sasuke menautkan alisnya. Bingung.

"Apa Hinata tidak memberi tahumu?" tanya Neji.

Sasuke menggeleng. Sungguh. Ia bingung sekarang.

Akhirnya Neji menceritakan bahwa beberapa hari yang lalu Hinata pergi ke apartemen Sasuke, untuk memberitahu Sasuke bahwa lamarannya diterima oleh Ayahnya.

Mata Sasuke membulat sempurna. Memorinya kembali pada hari minggu lalu, saat Hinata mengunjungi apartemennya dan memergokinya sedang bersama wanita lain. Jadi, maksud pesan Hinata akan memberinya kejutan adalah ini. Lamaran darinya untuk meminang Hinata disetujui.

Sial. Brengsek.

Dengan cepat ia menelpon Itachi. Entahlah. Hanya saja Itachi orang yang tepat untuk keadaan ini.

Ponsel Itachi berdering. Ada panggilan masuk dari... Sasuke. Itachi mengernyit. Baru saja masuk, belum juga duduk. Adiknya ini memang perusak suasana. Tanpa menghiraukan Hinata yang ada di sampingnya, ibu jari Itachi menggeser papan tombol terima diponselnya.

"Ada apa?" ketus Itachi. Ia mendengarkan Sasuke, dan memandan Hinata. Kemudian menyeringai. "aku? Ada di apartemen."

Hinata yang tidak mengetahui bahwa itu panggilan dari Sasuke hanya cuek dan duduk di sofa. Itachi mendekat ke arah Hinata, dengan ponsel sedikit menjauh dari telinganya. Masih tersambung. "Hinata, aku keluar sebentar."

"Baik."

Apa? Hinata?

.

.

Sasuke tidak salah dengar 'kan soal Itachi memanggil nama orang itu. Mungkin, Itachi mengerjainya. Tapi, tidak, Sasuke tidak salah mendengar. Karena setelahnya, ia mendengar suara yang ia rindukan beberapa hari ini. Suara itu benar-benar milik Hinata. Tanpa berpamitan terlebih dulu, Sasuke pergi. Melesat menuju apartemennya. Ia juga langsung mematikan sambungan telepon ke Itachi.

Sesampainya di apartemen, ia tidak melihat Itachi diluar apartemennya. Kakaknya itu, memang tahu situasi dan kondisi.

.

.

Karena bosan menunggu Itachi yang sedang menelpon. Hinata memilih melihat-lihat apartemen Sasuke. Dapur yang masih sama. Tanaman balkon juga sama, hanya saja kering dan tak terurus. Biasanya Hinata yang menyirami tanaman itu saat berkunjung. Sekarang berbeda. Apartemen ini bukan lagi tujuannya. Hinata menepuk-nepuk pelan kedua pipinya. Langkah kakinya membawa Hinata ke dalam kamar Sasuke. Ia membelalakan mata bulatnya. Ini kamar atau kapal terkena badai? Berantakan sekali.

Hinata menghela napas. Ia tipe orang yang tidak tahan melihat keberantakan sesuatu. Hinata meletakan tasnya di meja belajar Sasuke. Ia memunguti plastik bungkus makanan ringan yang tersebar. Membereskan kertas-kertas yang dirasa masih layak dan penting. Ia juga mengganti sarung bantal dan guling, seprei dan selimut. Kemudian meyapu lantai kamar Sasuke. Tak lupa, Hinata menyibak korden supaya cahaya masuk dan tidak membuat pengap kamar.

Selesai membereskan dan membersihkan, Hinata duduk dipinggiran kasur. Tangan kanannya mengelus sepresi kasur itu.

Jauh di dalam hatinya, Hinata masih sangat mencintai Sasuke. Akan tetapi, perbuatan Sasuke telah mengkoyak hatinya. Sampai sekarang Hinata masih belum bisa memaafkan perbuatan Sasuke. Memang Hinata tidak tahu alasannya, tapi alasan apaun itu, tidak membenarkan perbuatan menjijikan Sasuke.

-TBC-

.

Juli mojok XD : Fic ini masih anget kok, bukan sekuel TO *lirik TO* Idenya sedikit ngambil dari klien Katakan Putus yang cowoknya itu -piiip- XD Tadinya mau 2shoot, eh jadi 3shoot. Takut yang baca bosen. Kan kalo pendek-pendek yang baca pada gregeten *Dihajar masal* Saya semangat kok dan lanjutin ini fic, 1 Lagi dan Dadah. Alasan Mas Sasuke gitu, besok diliat ajah XD Ngebuat Sasuke nelangsa itu pasti, tapi bakalan susah *puterin pulpen* Saya kan pecinta romance fluff walau gagal XDa Ada yang bilang keren, wahaha Makasih *pelukcium* Ini masih jauh dari kata keren sebenernya.
Balesan ripiu gini aja yah? *kedip-kedip*
Makasih buat fave, foll, ripiu dan kunjungannya.
Juli sayanggg~ kalian *disambit pedang*

Thanks to: CallistaLia, yvkiss, DMalf79, Uchiha Cullen738, Daisy352, yurivisian, cintya cleadizzlibratheea, Arcan'sGirl, hyacinth uchiha, Ella9601, Baby niz 137, Jojo Ayuni, hinatauchiha69, Birubiru-chan, ejacatKyu, Keita uchiha, Julliana1, dedeqseokyu, NurmalaPrieska, onyx dark blue, mikyu, Nurul851 II, EsterhazyTorte, lovely sasuhina, sukenata, shutimboel

27-10-2025