Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto. I don't take any material profit from it

Pairing : SasuFemNaru

Rated : M

Warning : Gender switch, OOC, OC, typo (s)

Genre : Romance, fluff

Selamat membaca!

Love Me One More Time

Chapter 2 : Hey You!

By : Fuyutsuki Hikari

Pagi ini Sasuke bersenandung riang saat keluar dari apartement pribadinya. Jam masih menunjukkan pukul tujuh pagi saat ini. Masih sambil bersiul dia masuk ke dalam mobil sedan berwarna perak miliknya, yang kemudian dikendarainya menuju hotel dimana Naruto menginap untuk satu minggu ke depan. Hotel tempat wanita itu menginap sama dengan hotel tempat berlangsungnya resepsi pernikahan Tenten dan Neji tadi malam.

Sasuke tersenyum tipis mengingat kejadian tadi malam. Naruto membalas ciumannya. Sasuke bersorak di dalam hati saat mengingatnya. Rencana pertamanya berhasil. Persetan dengan Shikamaru dan Neji yang terus mengoloknya sejak tadi malam. Dia juga tidak peduli pada Sai yang terus menghubunginya, mencari tahu kebenaran yang diberitakan oleh Shikamaru. Ayolah, kenapa Sai terdengar lebih tertarik pada kehidupan asmaranya dibandingkan dengan kondisi istrinya yang akan segera melahirkan? Sasuke juga tidak peduli pada Tenten yang mengancam akan membotakinya jika dia berani menyakiti Naruto.

Dia bisa meyakinkan Tenten dengan susah payah. Dengan suara mantap dia mengatakan jika dia sama sekali tidak berniat untuk menyakiti Naruto. Justru sebaliknya, Sasuke menginginkan Naruto di dalam kehidupannya. Dia bahkan tidak keberatan jika harus menyeret Naruto ke depan altar jika hal itu bisa mengikat Naruto bersamanya untuk selamanya.

Oh, lihatlah bagaimana hati bisa berubah dengan sangat cepat.

Sasuke baru saja masuk ke dalam lobby hotel saat melihat Naruto berjalan penuh percaya diri, keluar dari lift. Ekspresi wajah pria itu menggelap, rahangnya mengeras, dengan langkah cepat dia berjalan ke arah Naruto yang sepertinya sangat terkejut melihat Sasuke, pagi ini.

"Apa yang kau lakukan di-"

Ucapan Naruto terpotong. Tanpa mengatakan apapun, Sasuke menarik pergelangan tangan kanan Naruto, memaksanya untuk kembali masuk ke dalam lift. "Kamarmu ada di lantai berapa?" tanya Sasuke tajam tanpa memperdulikan protes wanita yang ditariknya.

Sebelah alis Naruto terangkat, sebelum akhirnya dia berkata, "sepuluh," jawabnya pendek. "Untuk apa kita ke kamarku?" tanya Naruto tidak mengerti. "Aku mau jalan-jalan," tambahnya saat Sasuke tidak menjawab pertanyaannya. Naruto berniat keluar pagi ini untuk mengambil beberapa foto kehidupan Kota Tokyo untuk koleksi pribadi, serta mencari ilham untuk novel barunya.

Keduanya terdiam hingga keluar dari dalam lift setelah sampai di lantai yang dituju. Menghentakan kakinya kesal, Naruto akhirnya berjalan kembali ke kamarnya dengan Sasuke yang terus mengekorinya di belakang.

"Jadi apa masalahmu?" tanya Naruto sembari berkacak pinggang saat keduanya sudah berada di dalam kamarnya. Naruto menatap Sasuke dengan sikap menantang.

"Masalahnya ada pada cara berpakaianmu," jawab Sasuke dingin. "Kau tidak akan pergi keluar dengan pakaian seperti itu!" tambahnya terdengar mutlak.

Mulut Naruto terbuka lebar, seperti ikan trout, sementara kedua matanya terbelalak, kaget. Berani sekali Sasuke mengaturnya, pikirnya sebal. "Apa yang salah dengan cara berpakaianku?" tanyanya dengan nada satu oktaf lebih tinggi.

"Kau tidak tahu apa yang salah dengan penampilanmu?" Sasuke balik bertanya dengan nada sinis. "Kau hanya memakai bra dibalik blazermu!" ujarnya berusaha menekan kemarahannya, dan gagal. Bagaimana bisa Naruto mengenakan sesuatu yang bisa mengundang mata lapar pria? Penampilannya saat ini bahkan mampu membuat Sasuke panas dingin karena gairah. Sudah pasti pria normal lainnya pun merasakan hal yang sama jika melihat Naruto dengan pakaian seksi ini.

Wanita itu pasti sudah gila jika tidak memikirkannya hingga sejauh itu. Pasti ada yang salah pada otak Naruto hingga dia bisa bersikap cuek, melenggang dengan pakaian terkutuk yang kini dikenakannya. Tidak. Di sini bukan Sasuke yang bersikap berlebihan, melainkan Naruto yang terlalu memikirkan segalanya dengan sederhana, pikir Sasuke untuk membenarkan tindakannya saat ini.

"Ini mode!" pekik Naruto kesal, dengan mata melotot. Saat ini dia mengenakan celana pensil katun semata kaki berwarna putih, dipadankan dengan blazer berwarna senada. Di balik blazernya dia hanya mengenakan bra hitam yang terlihat kontras dengan kulit kuning langsatnya.

Sasuke mengangkat kedua tangannya ke udara, "kau memamerkan payudara dan perutmu, Naruto!" ujarnya dibalik giginya yang terkatup rapat. Ya, Tuhan. Pekik Sasuke di dalam hati. Apa Naruto memang sengaja berpakaian seperti ini untuk menarik perhatian lawan jenis?

"Aku memakai bra," jawab Naruto dengan napas memburu karena marah. "Lagipula aku mengancingkan blazerku," ujarnya membela diri. "Dan kau tidak bisa mengatur caraku berpakaian!" raungnya bertambah marah saat Sasuke menatapnya dengan ekspresi dingin.

"Kau tidak akan keluar dengan pakaian sialan ini!" tegas Sasuke tidak kalah emosi. "Kau akan mengganti pakaianmu atau kau tidak akan kuijinkan untuk keluar dari kamarmu."

Naruto kembali terbelalak. Mungkin dia harus memeriksakan pendengarannya. Telinganya pasti salah mendengar, kan? Bagaimana bisa Sasuke melarangnya ini dan itu? Memangnya dia pikir dia siapa? Ayahnya saja tidak banyak mengeluh mengenai penampilannya. Ini hidupnya, pilihannya. Naruto tidak suka jika orang asing ikut campur dalam kehidupan pribadinya.

Wanita itu menggigit bibir bawahnya, menahan emosinya yang semakin meledak-ledak. "Kau benar-benar brengsek, Uchiha Sasuke!" desis Naruto kemudian, dengan mata berkilat marah. "Setelah apa yang kau lakukan tadi malam seharusnya kau meminta maaf padaku, bukan mengatur caraku berpakaian."

Sasuke melipat kedua tangannya di depan dada, sebelah alisnya kembali diangkat. Dengan sikap angkuh dia menyandarkan punggungnya ke tembok di belakangnya. "Kau menyukai ciumanku," ujarnya dengan senyum mengejek. "Tadi malam kau bahkan membalas ciumanku," tambahnya semakin senang saat Naruto melotot ke arahnya. "Kau menautkan lidah-"

"Arghh... hentikan!" teriak Naruto, memotong ucapan Sasuke sembari menutup kedua telinganya dengan telapak tangannya. "Jangan membahasnya lagi! Jangan pernah membahasnya lagi. Aku-"

Sasuke bergerak cepat, tangan kanannya menarik pinggang Naruto, membuat tubuh wanita itu terhuyung dan menabrak dadanya. Sementara itu tangan kiri Sasuke menarik pundak Naruto, membuat jarak wajah keduanya semakin menipis. Sasuke memiringkan kepalanya ke satu sisi, dan sebelum Naruto menyadari akan apa yang terjadi, Sasuke sudah mendaratkan mulutnya di mulut Naruto yang terbuka.

Naruto meletakkan kedua tangannya di dada Sasuke, berusaha untuk mendorong tubuh pria itu untuk menjauh. Namun usahanya gagal. Kekuatan Sasuke jauh lebih besar, dan dengan kurang ajarnya, Sasuke meletakkan tangan kanannya di pinggang Naruto yang telanjang. Membuat kulit wanita itu memanas oleh sentuhan tangannya.

Wanita itu berusaha menutup mulutnya saat Sasuke melancarkan serangannya yang ahli untuk mengobrak-abrik rongga basah mulut Naruto. Sasuke melilitkan lidah mereka, menyesap dan mncumbunya dengan sensual. Bukan Sasuke jika dia harus menyerah hanya karena Naruto menolaknya. Dengan kurang ajar, sebelah tangan Sasuke turun, untuk meremas pantat Naruto. Sementara bibirnya terus menggoda, menggigit serta menghisap dengan sensual.

Tidak perlu waktu lama hingga Sasuke mendapatkan apa yang menjadi tujuannya. Suara erangan pelan pun terdengar dari tenggorokan Naruto. Pria itu bersorak gembira di dalam hati dan sedetik kemudian dia mengakhiri ciumannya.

Naruto meraup udara dengan rakus untuk mengisi paru-parunya. Matanya berkabut karena gairah. Dia terlalu bingung, bahkan sama sekali tidak bereaksi saat Sasuke kembali mendekatkan wajahnya untuk mengecup kening serta ujung hidungnya.

"Hanya aku yang boleh melihatmu mengenakan pakaian ini," kata Sasuke dengan suara lembut namun posesif. Kedua tangannya kini melingkar di pinggang Naruto. Kancing blazer yang dikenakan oleh Naruto entah sejak kapan terbuka, memberikan keleluasaan pada Sasuke untuk menatap serta memuji perut rata, pinggang kecil serta payudara penuh dibalik bra hitam yang dikenakan oleh wanita itu.

Setelah sadar, Naruto mengepalkan kedua tangannya erat hingga buku-buku jarinya memutih. Menahan amarah, dia menghembuskan napas keras, kemudian kembali bicara dengan nada tertahan. "Brengsek!" makinya dengan kilat tidak suka. "Kau pikir kau siapa?"

"Jadi kau memang berniat menarik perhatian pria, hah?"

"Maaf?" tanya Naruto dengan kedua alis saling bertaut.

Sasuke kembali menarik pergelangan tangan Naruto, lalu memerangkapnya diantara tembok dan tubuhnya. Pria itu menatap lekat wajah Naruto, lalu tatapannya beralih, seolah menelanjangi, matanya menatap perut, dada, leher dan kembali ke wajah Naruto yang kini memerah karena marah. "Selain aku, tidak ada satu pri apun yang boleh melihatmu seperti ini," desis Sasuke serak. Jujur saja, melihat dada Naruto naik turun dengan cepat membuat gairahnya semakin tidak terkendali. Ditambah lagi dengan suguhan payudara penuh Naruto yang hanya ditutupi oleh bra hitam. Sasuke mengumpat di dalam hati. Sekuat tenaga dia menekan kebutuhannya sendiri. "Kau tidak boleh berkeliaran dengan pakaian ini. Mengerti?"

Naruto menyempitkan mata, membalas tatapan Sasuke dengan sikap menantang, lalu menjawab dengan suara dingin yang menusuk. "Dan siapa kau hingga berani melarangku?"

Sasuke tersenyum tipis dan menjawab mutlak, "I'm your future husband." Dan Sasuke pun kembali mencium mulut Naruto, memotong umpatan-umpatan kasar yang sudah sampai ditenggorokan wanita itu. Ciumannya sama sekali tidak lembut. Sasuke menciumnya dengan hasrat dan amarah, menyalurkan rasa frustasi yang bergolak di dalam dirinya.

.

.

.

Naruto tidak ingat kapan terakhir kali dia begitu marah terhadap seseorang. Saat ini Sasuke benar-benar membuatnya sangat marah. Pria itu dengan lancang menciumnya, mengkritik cara berpakaiannya, bahkan berani melarangnya keluar kamar jika dia tidak mengganti pakaiannya.

Sasuke kembali mengancamnya, menegaskan dengan mutlak jika Naruto tidak akan pergi kemanapun dengan penampilannya saat ini. Setengah enggan, Naruto pun memilih untuk mematuhi Sasuke. Bertengkar dengan pria itu hanya akan membuang waktunya dengan percuma.

Namun apa yang didapatnya setelah dia menuruti perintah Sasuke? Setelahdia mengganti pakaian, Sasuke kembali melayangkan protes keras, meminta Naruto untuk kembali mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lainnya. What the hell! Pikir Naruto gemas.

"Sebenarnya apa maumu?" bentak Naruto tepat diwajah Sasuke. "Aku sudah mengganti pakaianku. Sekarang apalagi yang jadi masalahmu?" raungnya marah, dengan kedua tangan diangkat ke udara.

Naruto tidak mengerti. Benar-benar tidak mengerti. Dia tidak bisa membaca apa yang jadi keinginan Sasuke. Dan kenapa juga pria itu harus datang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Sejak tadi malam dia sudah memiliki firasat jika pertemuan mereka akan membuatnya dia menyesal setengah mati karena harus bertemu kembali dengan Sasuke. Mungkin sebaiknya dia tidak datang ke pernikahan Tenten jika tahu hal ini akan terjadi.

Sasuke menyempitkan mata, sembari melipat kedua tangannya di depan dada, lalu menjawab dengan suara tertahan. "Apa kau tidak memiliki celana lain yang bisa kau pakai, Nona Namikaze?" tanyanya tanpa menatap kaki jenjang Naruto yang terlihat menggiurkan. Wanita itu mengenakan celana super pendek berbahan jeans berwarna pudar, yang dipadankan dengan kaos putih polos serta sepatu kets warna biru muda yang nyaman.

Naruto mendengus kasar, lalu memijat keningnya yang mulai berdenyut sakit. Wanita itu tidak suka sikap arogansi yang ditunjukan Sasuke kepadanya saat ini. Sasuke hanya pria yang dulu pernah disukainya saat remaja, selebihnya mereka tidak saling mengenal. Iya, kan?

Abaikan fakta jika dulu Naruto pernah mencari tahu segala sesuatu mengenai pria itu. Naruto bahkan pernah mengambil foto pria itu secara diam-diam. Abaikan juga fakta jika sejak tadi malam dadanya bergemuruh hebat tiap kali Sasuke menyentuhnya. Dia tidak akan pernah mengakui jika ciuman pria itu mampu membuatnya lupa diri. Dia juga tidak akan pernah mengakui jika sentuhan Sasuke meninggalkan jejak panas yang menjalar cepat ke seluruh tubuhnya. Tidak. Sasuke tidak perlu mengetahui mengenai fakta-fakta itu.

"Aku bebas mengenakan apapun yang membuatku merasa nyaman," desis Naruto penuh penekanan, memutus keheningan yang menggantung diantara keduanya. "Kau tidak bisa melarangku, bahkan jika aku keluar dari hotel ini hanya dengan mengenakan bikini," tambahnya lantang, berkacak pinggang. "Kau bukan orangtuaku, bukan sahabat dekatku, juga bukan kekasihku. Kau tidak berhak melarangku ini dan itu!" semburnya dalam satu tarikan napas.

.

.

.

TBC

Halo... saya jawab beberapa pertanyaan dulu;

1. Kenapa banyak fic menceritakan Sasuke mengejar-ngejar chara wanita? Atau mengejar femNaruto? Kenapa nggak buat Sasuke mengejar Sai? Jawabannya karena setiap orang memiliki selera dan kesukaan yang berbeda-beda. Jangan menunggu orang lain membuat fic dengan pair yang kamu inginkan, Tia. Kamu bisa membuat ficmu sendiri sesuai dengan yang kamu mau.

2. Alamat wattpad saya ; fuyutsukihikari

3. Fic lain belum kelar, udah bikin fic baru! Emberan... semakin dilarang saya malah semakin tertantang. Selama saya bisa memenuhi kewajiban saya,boleh dong menggunakan hak saya untuk mempublish fic baru sebanyak apapun?

4. Jadwal update; Tidak tetap. Yang pasti, dalam satu minggu, minimal satu fic saya update.

5. Ceritanya jadi mirip fic ISILY; Sama nggak yah? Saya balikin lagi penilaiannya ke pembaca. Btw, saya lupa ini pertanyaan di ffn atau di wattpad. #Nyengir

5. Sasuke gampang dapetin Naruto nggak? Saya buat dia muntah darah dulu kali ye... baru bisa dapetin FemNaru

6. Kenapa Sasuke nolak Naruto saat SMA? Nanti dijelasin

Sip deh, segitu dulu yah. Terima kasih untuk dukungannya. Sedikit lega karena ternyata banyak yang berpendapat untuk fluff dific ini sudah kerasa. ^^ Dan untuk yang udah review, maaf tidak saya balas satu per satu. Tapi saya baca semuanya, kok. Untuk yg PM sudah saya balas yah... (:

Sampai jumpa dichap selanjutnya! ^^

#WeDoCareAboutSFN