~You and him~
Ansatsu Kyoushitsu
Rated : T
Pair: KaruIto atau KaruNagi? Tunggu saja-
Genre : Romance, Hurt/Comfort, etc.
Disclaimer:
Ansatsu Kyoushitsu milik Matsui Yuusei-sensei. Saya hanya meminjam tokohnya saja.
Warning:
Jika kalian tidak menyukai Yaoi/BL, maka silakan lambaikan tangan ke kamera. Ralat, silahkan menekan tombol back. Memang tertulis bahwa genre fic ini Romance, namun jika tidak berkenan di hati Anda, saya minta maaf. Jika anda tidak suka fic saya, sekali lagi silahkan menekan tombol back.
Summary :
Itona Hirobe merebut semuanya. Aku tidak membencinya. Aku tidak berbuat hal yang membuat dia begitu membenciku. Tapi, mengapa ... kau merebut Akabane Karma dariku? Terinspirasi dari Ansatsu Kyoushitsu S2 Episode 4. Request by Ratu Dilla.
Chapter 2
Sakit ...
Semakin hari mereka berdua selalu bersama. Aku ingin menghentikan mereka. Namun, aku siapanya? Hakku apa menghentikan mereka? Aku bukanlah pria yang memiliki harga diri yang rendah. Aku juga tahu diri. Aku bukanlah siapa-siapa. Aku tak berhak memisahkan mereka. Apa aku harus melepaskan mereka berdua...?
Apakah aku harus berpasrah tanpa berusaha?
Ya, sebuah usaha. Aku membutuhkan itu.
. . .
"Karma-kun!"
"Oh, Nagisa-kun, nande?" Nagisa tersenyum manis dan membungkukkan badannya.
"Eh, Nagisa-kun?"
"Kumohon!" Nagisa sedikit berteriak. Untunglah suasana di koridor itu sepi.
"...hah?"
"Ajarkan aku matematika!"
...
"Hanya itu, Nagisa-kun?"
"I-Iya..." Nagisa masih tetap di posisi. Belum mau mengangkat badannya.
"Tak perlu sampai segitunya bukan? Ahaha, aku mengerti, akan kuajarkan, kok. Asal kau mengingatkan."
Nagisa mengangkat badannya dan tersenyum, "Terimakasih, Karma-kun!"
"Hoiy, Karma."
Lagi-lagi ...
"Ck, apalagi?"
"Tanggung jawab. Aku mual-mual pagi ini."
. . .
"Eh?"
"K-Karma-kun, apa yang kau lakukan pada Itona-kun?!" Nagisa panik.
Itona telah mengambil Karma.
"PFFT! Apa?! Huahaha," Sebagian besar anggota kelas dapat mendengar gelak tawa Terasaka yang tidak biasa itu.
"Diamlah."
"Kau tak percaya padaku? Dia dengan polosnya memakan ramen yang sudah kutambahkan wasabi tanpa curiga sama sekali dengan warna kuahnya, pfft."
"Diamlah, Karma."
"Kau tak lihat bercermin tadi? Lihat bibirmu, mem-beng-kak." Karma tersenyum jahil.
Nagisa memperhatikannya dari jauh. Menatap kumpulanTerasaka yang tengah tertawa terbahak melihat ekspresi dari Itona. Kesal, namun terkesan lucu akibat bibirnya yang sedikit memerah. Ah, mungkin dari dekat kelihatan bengkak.
Karma tertawa begitu lepas, seakan bahwa yang sedang dibicarakan adalah seorang teman dekat, atau bisa juga sahabat. Karma itu pendiam. Dia tak mungkin akan menceritakan apa yang tengah dilakukan, atau setidaknya bagaimana cerita ketika dia menjahili targetnya. Tak akan pernah. Nagisa pun begitu. Dia tak pernah mendengar cerita, "Nagisa-kun, tadi ada anak yang kujahili,lo." Tak pernah terdengar di telinga Nagisa.
Seolah-olah Karma meninggalkan kelompoknya dan masuk ke kelompok Terasaka semenjak kedatangan Itona.
"Nagisa?"
Nagisa tersentak kemudian menoleh ke arah sumber suara cepat, "Kayano, ya?" Dia menghela napas lega. "Ada apa?"
"Tidak ... Kau sedikit lesu. Apa terjadi masalah?"
Nagisa tertawa pelan sambil menggerakkan tangannya, "Aku baik. Terimakasih sudah khawatir."
"Begitu? Yah, baguslah. Jangan paksakan diri,ok?"
Nagisa tersenyum membalas ucapan Kayano dan kembali menatap Karma yang masih asyik bercerita sambil menyeruput jus strawberry makan siangnya.
Iri ...
"Nagisa! Temani aku main bola, yuk!"
Ajakan Sugino langsung dia terima dan segera dia berlari menuju ke lapangan.
Karma ...
"Jadi, x dipindahkan ruasnya, kemudian – " Karma menatap Nagisa, "Hoiy, Nagisa-kun!"
"E-Eh? I-Iya?!"
Karma menghela napas dan mengetuk pelan kepala biru Nagisa dengan pensil. "Yang mengajakku mengajarkan matematika siapa? Mengapa bengong begitu?"
Nagisa menggeleng pelan, "Tidak apa. Itona-kun sendiri ...?" Nagisa mengigit bagian bawah bibirnya, "...tidak belajar?"
"Tidak. Aku tak mau diajarkan oleh setan merah ini."
"Hee..."
Nagisa tersenyum melihat tingkah laku keduanya. "Kalian cukup akrab, ya?"
"Begitu menurutmu? Aku benar-benar ingin membunuhnya, sungguh."
"Jangan marah, dong. Sebagai gantinya, aku akan mentraktirmu makan malam. Sudah kukatakan, 'kan? Tapi, aku harus menepati janjiku pada Nagisa-kun. Kau keberatan, Nagisa-kun?"
"Aku keberatan."
"Kalau begitu, pergilah."
"Hei."
"Aku bercanda."
Nagisa tersenyum melihat tingkah keduanya.
Jangan ...
"Bagaimana jika kita sekaligus makan malam? Kebetulan cafe ini juga menyediakan makanan berat, kok." Nagisa menutup bukunya dan memasukkan dalam tas. Benar, mereka sedang berada di cafe. Nagisa yang memilih tempat ini untuk dijadikan belajar bersama dengan Karma. Yah, namanya juga usaha untuk mendekati Karma.
Tetapi, Karma membawa Itona.
Kenapa, ya?
"Kenapa tidak? Itu ide bagus. Mau?"
"Terserah."
Nagisa tertawa pelan melihat mereka. "Nah, Itona-kun, Karma-kun, ingin memesan apa?"
...tunjukkan kebersamaan kalian ... tepat di hadapanku.
Usaha awalnya gagal.
Bagaimana dengan usaha keduanya jika terus seperti ini?
Sebenarnya, dia tidak boleh menyerah di usaha kedua. Karena hubungan Karma dan Itona malah meregang.
Semenjak itu, tak pernah lagi dia lihat Karma ataupun Itona berdua. Bercanda tawa dengan kelompok Terasaka pun tak pernah lagi dilakukan oleh Karma. Karma melakukan aktivitasnya seperti biasa, membolos, belajar, makan siang, jalan-jalan, dan sebagainya.
Nagisa mengeryit. Sungguh, dia benar-benar bingung. Apakah ini kesempatan baginya untuk mendapatkan hati Karma?
"K-Karma ...-kun,"
Karma yang saat itu sedang melamun menoleh ke arah pemuda bersurai biru muda itu, "Ya, Nagisa-kun? Belajar matematika lagi?"
Nagisa menggeleng pelan, "Apa ... kau bertengkar dengan Itona-kun?"
Giliran Karma yang mengeryit, "Hah? Apa yang kau bicarakan?"
Nagisa menatap Karma ragu. "Karena ... kalian jarang bersama lagi."
Karma terdiam sejenak, kemudian menatap Nagisa. "Kalau begitu, kenapa? Kami bukan sepasang kekasih yang selalu bersama, lho. Seharusnya kau di sampingku, kau kan teman dekatku."
"Ehehe, benar juga... Eh?" Nagisa mengedipkan mata beberapa kali. Apa dia salah dengar?
"Kenapa 'eh'? Kita sudah lama tidak mengobrol, Nagisa-kun. Ingin bolos bersamaku? Setelah ini, matematika. Aku bosan. Nanti akan kuajarkan cara cepatnya, ok?" Karma tersenyum tipis, tanpa menunggu jawaban Nagisa, dia segera menarik tangan Nagisa. Melompat dari jendela tanpa mempedulikan teriakan sang ketua kelas yang menyuruh mereka berdua berhenti.
. . .
"Yakin ingin membolos bersamaku, Karma-kun?"
Nagisa menatap Karma yang tengah berjalan di depan matanya. Ini kesempatan sangat bagus untuk mendekati Karma, tetapi ...
...hatinya sungguh ragu.
"Hmm... Kau tidak mau, Nagisa-kun?"
"B-Bukan seperti itu!" Nagisa berteriak pelan. "Aku ... hm, yah begitulah..."
Karma mengeryit menatap Nagisa, kemudian terkekeh pelan. "Kalau sudah rajin, berbuat salah pun merasa tidak aneh, ya?"
Nagisa terdiam, terutama saat menatap Karma tengah memanjat pohon.
"Kau akan tidur disana lagi dan meninggalkanku sendirian?"
"Tidak juga. Naiklah, pemandangan disini bagus, lo!"
Nagisa tersenyum, kemudian memanjat dengan lincahnya. Jangan heran karena tubuh mungilnya yang cukup membuatnya lincah (dan kewajibannya sebagai seorang pembunuh)
"Kau benar!" Nagisa tersenyum senang. Duduk di samping Karma dan menikmati pemandangan bukit belakang sekolah. "Mungkin ... tak sia-sia aku membolos."
"Uhhmm..."
Nagisa menatap Karma sebentar, kemudian meneguk ludah pelan.
"Terjadi ... sesuatu pada kalian?"
Karma awalnya tersentak kaget, kemudian menatap heran Nagisa, "Kalian siapa?"
"Kau dan ...," Nagisa memandang bagian bawah dengan ragu, lalu menatap Karma lagi, "Itona-kun."
Karma terdiam, kemudian memalingkan wajahnya. "Kenapa kau bertanya seperti itu?"
"Hm, yah ..." Nagisa menatap langit, berpikir sebentar. "Tidak ada,sih. Nanya saja."
"Hm..." Karma bergumam pelan. "Tidak ada apa-apa, sih."
"Begitu." Nagisa mengangguk pelan. Dia tahu, Karma pasti tidak akan menceritakannya. Dia sangat ingin berkata, "Kenapa kau tidak menceritakannya?! Aku ini sahabatmu, bukan? Katakan semuanya padaku! Aku akan menolongmu!"
"Nagisa-kun ...,"
Nagisa menatap Karma lagi. Wajahnya yang tampan membuatnya sedikit merona. Posisi mereka juga bisa dibilang cukup dekat. Rambut merahnya yang bergerak-gerak akibat ditiup angin, dan deru napasnya membuat jantung Nagisa berdetak kencang.
"Menurutmu ...," Karma menatap Nagisa. Keduanya saling bertatapan. Jarak wajahnya dekat –
"Hubunganku dengan Itona bagaimana?"
TBC
Sepertinya sebelumnya saya sudah mengatakan bahwa fic ini akan kelar jika tugas saya selesai.
Tapi, benar-benar, selama seminggu terakhir, tugasnya bukan main bikin pinggang pegal.
Tapi, tangan saya tak bisa diajak kerjasama, sudah kebiasaan dari SD, kalau ndak nulis cerita, ndak bisa tidur /sasugaore
YOSH! DENGAN BEGINI YNH SUDAH ADA CHAPTER DUANYA~~~!
Nah, sekarang ... KARUITO ATAU KARUNAGI? BEB, SAYA GALAU~
Yoga205 : Kalau ada luang, masalahnya aku ndak mau belajar *lempar anak ini* Terimakasih atas repiuwnyaaa~
Sagami Emi : Pendatang baru kah? Selamat datang di dunia kami /eiy
Karma dengan Itona ya... Masalahnya aku ndak suka mereka berdua dan baru mengenal mereka ternyata dijadikan pairing juga :v Bagaimana ya... Ntaran deh, dipikirkan dulu endingnya kayak mana. Terimakasih
Mel : EH?! GUA NDAK TERIMA /santainak
Aku maunya Nagisa sama Itona, biar ntaran Asano aja yang temanin Karma yang ngegalauan/?
Endingnya masih belum dipikirkan. Ntaran yaa~ Terimakasiii
Atin350 : Cemburunya lucu, kn? Wkwkwk,, Terimakasih ripiuwnyaaa
Aisora : Suka? Makasihhh~~ 3 Saya kasih cium dulu /eiy
Terimakasih sudah mengikuti, yaa... Semoga cerita kali ini akan tetap menjadi favorite Anda /?
Terimakasih atas segalanya *tebar cium* *peluk satu-satu reaaders* *kecapean*
Untuk chapter selanjutnya, err- mungkin selesai aku ujian praktek- /selesainyabulanApril Idih, semoga tidak ketemu gadis pemain biola di bulan April /hah
Salam,
Ivy-chan9
