2
ARRIVE IN YUKO'S SHOP
Japan
Year 1
Wanita berambut panjang dan berjubah hitam itu sedang berdiri di depan rumahnya ditemani oleh seorang pria berkacamata tengah memeluk sesosok makhluk mungil berbulu putih seperti kelinci. Dia nampak sedang menunggu sesuatu di halaman rumahnya dan benar saja, ketika lima cahaya menyilaukan muncul dari langit menampakkan tujuh sosok manusia di hadapannya. Wanita itu tersenyum melihatnya.
"Akhirnya, sudah kutunggu kedatangan kalian," katanya.
"Siapa kau dan dimana aku?" tanya seorang pria berjubah hitam dan berikat kepala merah.
"Japan," jawab wanita itu. "Kalian berada di Japan."
"Negeriku juga Japan…!"
"Ah, tentunya dengan nama yang lain. Ini adalah Japan yang lain. Duniamu adalah Nihon, bukan?" kata wanita itu.
Laki-laki itu terdiam. Dia melihat sekelilingnya. Lima orang remaja berusia 18 tahun, tiga orang pemuda dan dua orang gadis, salah satunya kelihatan pingsan dan digendong oleh seorang remaja pria berambut hitam dan berkacamata. Mirip dengan laki-laki di samping wanita itu. Sedangkan yang lainnya adalah seorang remaja berambut merah dan coklat sedangkan di sebelahnya seorang gadis berambut pirang dan laki-laki berambut kuning. Dia bertanya-tanya dalam hati siapakah mereka.
Wanita itu memandang mereka semua lalu tersenyum lagi. "Selamat datang di Japan. Aku sudah tahu berita kedatangan kalian semua. Aku sudah menunggu kalian. Namaku Yuko Ichihara, salam kenal."
"Jadi, kau adalah Penyihir Dimensi itu?" tanya Kurogane.
"Semua orang menyebutku begitu," kata Yuko. Dia melangkah pelan menuju seorang remaja berkacamata yang tengah menggendong gadis berambut merah yang masih pingsan. Dia mengulurkan tangannya dan menempelkannya di dahi gadis itu. Seperti tengah mengobati namun Yuko tidak melakukan apapun. Dia menatap remaja itu. "Gadis yang malang."
"Maaf, bisakah Anda menolong Putri?" tanya remaja itu. "Dia…"
"Siapa namamu?" tanya Yuko.
"Aku Harry dan gadis ini adalah Putri Ginny. Kami berasal dari Hogwarts Kingdom. Aku harus menemukan bulu sayapnya yang hilang agar jiwanya terselamatkan," jawab remaja itu.
"Sudah kuduga," kata Yuko, tersenyum misterius. "Jadi, inilah yang kurasakan. Bahaya besar sudah di depan mata."
"Apa maksudmu?" tanya remaja berambut merah. "Bahaya besar? Omong kosong!"
"Kau tidak tahu karena tidak merasakannya," kata Yuko tersenyum menatapnya. "Ngomong-ngomong bukankah Putri Hermione mengirimmu kemari untuk menerima pelajaran dariku?"
"Bagaimana kau tahu itu?" tanya remaja itu tidak percaya.
"Tentu aku tahu, Putri Hermione yang memberitahuku. Tapi aku tidak akan memberitahumu bagaimana caranya."
Ron langsung menggerutu. Kemudian Yuko berjalan lagi menghampiri remaja barmbut coklat, gadis berambut pirang dan pria kurus berambut kuning. "Negeri kalian dalam bahaya, benar?"
"Clow Country diserang musuh," kata remaja itu. "Bisakah kau membantu kami?"
"Negeriku juga," kata pria berambut kuning.
"Aku juga," kata Kurogane.
Yuko tersenyum menatap mereka semua. "Aku sudah mendengar permintaan kalian semua. Kalian membutuhkan bantuanku, bukan?"
"Ya," jawab semuanya serempak.
"Kuberitahu penyebabnya mengapa tiga negeri kalian diserang," kata Yuko kepada Shaoran, Sakura, Kurogane dan Fai. "Semua itu karena menghilangnya bulu-bulu sayap Putri Ginny ke berbagai penjuru dunia. Untuk menempuh dunia-dunia tersebut harus menggunakan gerbang sihir dimensi dan hanya aku yang bisa menggunakannya."
"Bulu sayap Putri Ginny?" kata Ron tidak percaya.
"Tidak mungkin!" ujar Shaoran. "Kami tidak melihat bulu apapun di dunia kami."
"Menyebarnya bulu-bulu sayap itu menyebabkan kekacauan di dunia-dunia tersebut dan ada sesuatu kekuatan misterius mengincar Putri Ginny sehingga kekuatan misterius itu digunakan untuk menculik Putri Ginny tapi gagal. Benar, kan?" tanya Yuko kepada Harry.
"Bagaimana kau tahu itu?" tanya Harry.
"Tentu aku tahu, selalu tahu," kata Yuko. "Dan semua itu saling berkaitan. Mengapa musuh-musuh yang menyerang Clow Country, Ashura, dan Nihon sangat kuat dan sulit dikalahkan. Semuanya saling berkaitan dengan peristiwa hilangnya bulu-bulu sayap itu. Dan jalan satu-satunya untuk menyelamatkan tiga negeri itu adalah, kalian berempat harus membantu Harry menemukan bulu sayap Putri Ginny yang hilang dan menyelamatkannya dari tangan orang jahat. Karena bulu-bulu tersebut bukanlah bulu sembarangan. Mereka memiliki kekuatan sihir yang sangat kuat dan aku bisa merasakannya. Jika bulu-bulu itu jatuh ke tangan orang yang salah, maka dunia tersebut akan hancur. Apabila semua bulu sayap Putri Ginny berhasil terkumpul, maka tiga dunia kalian akan selamat dan musuh kalian akan terkalahkan selamanya."
"Jadi, tidak ada jalan lain bagi kami kecuali harus menemukan bulu sayap Putri Ginny?" tanya Sakura.
"Sayangnya, ya," jawab Yuko dengan lembut. "Sekarang kuserahkan semua jawabannya kepada kalian."
"Hyuu, jadi ini jawabannya," ujar Fai sedikit ceria. "Pantas saja aku merasakan ada kekuatan aneh dari musuh-musuh yang menyerang negeriku. Ternyata sumbernya adalah bulu-bulu sayap Putri Ginny."
"Belum tentu," jawab Yuko. "Bisa saja mereka memiliki kekuatan sendiri dan kekuatanmu belum bisa menandingi mereka."
"Ah, jadi begitu," kata Fai. "Tapi aku bersedia untuk melakukannya. Akan kulakukan apapun untuk membantu Harry mencari bulu sayap Putri Ginny dan menyelamatkan negeriku."
"Jadi, kau bersedia, Fai D. Fluorite?" tanya Yuko.
"Ya," jawab Fai sambil mengangguk.
"Tapi tentunya itu tidak gratis, Fai," kata Yuko pelan. "Ada harga yang harus kau bayar agar aku bisa membantumu kali ini."
"Harga?"
"Kau harus serahkan tato yang kau miliki di punggungmu sebagai pembayaran. Kau tidak keberatan, Fai?"
Fai terdiam lalu tersenyum, "Sebenarnya tato ini adalah sumber kekuatan sihirku. Tapi baiklah, aku merelakannya untukmu."
"Aku akan mengembalikannya padamu setelah semua bulu sayap Putri Ginny terkumpul," kata Yuko, mengulurkan tangannya dan mengeluarkan sihirnya. Secercah cahaya muncul dari balik punggung Fai dan melayang menuju Yuko. Dia menyimpannya dalam bola kaca yang ia miliki. Kemudian tatapannya teralih kepada mereka yang masih tercengang menyaksikan perbuatan Yuko. "Tidak ada lagi yang bersedia?"
Shaoran menatap Sakura dan keduanya saling mengangguk. "Kami bersedia."
Yuko tersenyum melihat mereka berdua. "Harga yang kuminta dari kalian berdua adalah memori."
"Memori?" tanya Shaoran heran.
"Memori, kenangan kalian tentang Clow Country. Kalian tidak akan ingat dari mana asal negeri kalian. Dan ingatan itu tidak akan bisa kembali sampai semua bulu sayap berhasil dikumpulkan."
"Kami harus melupakan negeri kami?" Sakura tidak percaya mendengarnya. "Aku adalah Putri Clow Country!"
"Dan kau akan kembali menjadi Putri Clow Country setelah kalian kembali ke negeri kalian," kata Yuko.
"Kapan?" tanya Shaoran.
"Tidak tahu, tergantung kemana perjalanan dimensi membawa kalian," ujar Yuko. "Tapi kalau kalian tidak bersedia juga tidak apa. Kalian akan menyaksikan negeri kalian hancur lebur dan orang-orang yang kalian sayangi, mati."
"Tapi…"
"Percayalah, jika orang-orang mengetahui kalian berasal dari Clow Country, nyawa kalian juga akan terancam. Bahaya besar sedang mengintai kalian," kata Yuko menyela kalimat Sakura.
Sakura dan Shaoran terdiam. Mereka sudah tidak tahu lagi harus berkata apa. Melupakan negeri mereka sendiri rasanya sangat berat. Banyak kenangan indah yang mereka dapatkan dari negeri itu. Namun Yuko meminta kenangan mereka sebagai harga yang harus dibayar. Maka Shaoran dan Sakura menyatakan kesediaannya. Yuko langsung mengambil kenangan mereka dan menyimpannya dalam bola kaca yang lain. Bola-bola kaca itu disediakan oleh seorang pria berkacamata di sebelahnya. "Aku akan mengembalikan semuanya kepada kalian berdua. Percayalah," kata Yuko. Shaoran dan Sakura mengangguk. Kepala mereka sangat pusing dan rasanya sulit mengingat apa-apa.
Kemudian pandangan Yuko teralihkan ke Kurogane dan Ron. "Kurogane, kau ingin menyelamatkan Nihon dan Putri Tomoyo, bukan?"
"Ya," jawab Kurogane mengangguk. "Apa harga yang harus kuserahkan?"
"Pedangmu," kata Yuko.
"Apa? Pedangku?" seru Kurogane terkejut. "Jangan bercanda, bagaimana aku bisa bertarung tanpa pedangku!"
"Tentu kau bisa. Ini bukan perang, Kurogane. Kau akan pergi berkelana bersama teman-temanmu bukan pergi berperang. Jadi pedang tidak akan kau butuhkan di sini."
"Tapi…"
"Bukankah kau ingin menyelamatkan Nihon, Kurogane?" tanya Yuko dengan nada sedikit menekan.
Kurogane menelan ludahnya. Tidak ada jalan lain baginya, ia pun menyerahkan pedangnya kepada Yuko dan menyaksikan Penyihir Dimensi itu mengecilkan pedangnya lalu memasukkannya ke bola kaca ketiga. Kemudian Yuko langsung berbicara kepada Ron, "Kau juga, serahkan pedangmu."
"Apa kau gila, perempuan? Mengapa aku juga harus menyerahkan pedangku?" tolak Ron.
"Bukankah kau ingin belajar bagaimana menjadi ksatria sejati, Ron? Aku kuatir jika pedangmu tetap kau pegang, kau tidak akan segan-segan membunuh bahkan kepada orang yang tidak bersalah sekalipun," kata Yuko.
"Ini bukan keinginanku, tapi keinginan wanita sialan bernama Putri Hermione!" kilah Ron.
"Dan kau harus melaksanakannya karena kau adalah bawahannya yang setia, benar, kan?" tanya Yuko.
"Aku tidak akan menyerahkannya!" ujar Ron, angkuh.
"Kalau begitu, aku harus mengambilnya dengan paksa. Watanuki, ambil pedangnya!" perintah Yuko kepada laki-laki di sebelahnya. Orang bernama Watanuki itu menurut. Dia berjalan mendekati Ron dan merampas pedang yang digenggamnya. Ron hendak melawan namun akhirnya jatuh terjerembab ke tanah karena sihir Yuko menghantam dadanya. Dia meringis kesakitan dan tidak berdaya apa-apa begitu melihat pedangnya juga bernasib sama dengan pedang Kurogane.
"Dengan ini, kau akan belajar bagaimana menjadi ksatria sejati, Ron. Kau tidak akan lagi menggunakan tanganmu untuk membunuh orang sembarangan. Kau akan menikmati pelajaranmu melalui perjalanan ini bersama mereka," kata Yuko.
"Tidak akan pernah dan aku bersumpah akan membunuhmu!" teriak Ron begitu ia bangkit berdiri di atas tanah.
"Coba saja jika kau bisa," cemooh Yuko. "Aku ingin melihatnya, Ron."
"Hiaa!" Ron langsung menyerang Yuko namun akhirnya jatuh terpental karena tangkisan Yuko yang menggunakan sihirnya. Sekali lagi ia meringis kesakitan dan ia memegang perutnya. Mulutnya sedikit berdarah. "Penyihir sialan," rintihnya.
"Kau ingin mencoba lagi, Ron?" tantang Yuko. "Aku akan senang meladenimu berapa kalipun kau menyerangku."
Ron berusaha bangkit lagi dan ia berhadapan dengan Yuko. Keduanya mulai siap untuk bertarung. Tatapan Ron ingin membunuh namun Yuko tetap tenang. Dia tersenyum misterius. "Kemarilah, Ron."
Ron langsung menyerang lagi dan ia kembali jatuh terpental ke tanah. Sihir Yuko sangat kuat dan sulit ditaklukkan. Ron menjerit kesakitan. Tidak tega menyaksikan pertarungan itu, Sakura langsung mendekati Ron yang masih terkapar dan sedang merintih. "Hentikan, kau tidak akan bisa mengalahkannya!"
"Diam, minggir kau!" rintih Ron.
"Aku akan senang melihatmu mati di sini, Ron," jawab Yuko sambil mencemooh. "Jadi beban Putri Hermione akan ringan. Dia akan senang karena orang yang sudah lama memalukan dirinya dan negerinya sudah tiada."
Mendengar nama Putri Hermione disebut, dia terdiam. Dia berusaha bangkit lagi dibantu oleh Sakura. Napasnya tersengal-sengal. "Aku adalah orang kepercayaan Putri Hermione. Dia tidak akan mungkin senang melihat kematianku!"
"Kalau begitu kau harus membahagiakannya, bukan?" kata Yuko. "Jika kau memang adalah orang kepercayaan Putri Hermione yang selalu setia untuk negaramu dan duniamu, maka kau harus melaksanakan tugas darinya. Kau harus menerima pelajaran ini darinya dan aku di sini untuk membantumu. Kau harus pergi bersama mereka untuk berkelana mencari bulu sayap Putri Ginny."
Ron akhirnya memutuskan untuk diam. Mukanya penuh sembab dan mulutnya berdarah. Sakura mengeluarkan sapu tangan dan membersihkannya. Kemudian Yuko beralih ke Harry dan Ginny. "Mereka sudah menyatakan kesediaannya untuk membantumu mencari bulu-bulu sayap Putri Ginny."
"Terima kasih, Madam Yuko. Tapi tidak usah repot-repot," kata Harry sedikit merendah.
"Tidak apa, Harry. Kau tidak akan bisa melakukannya sendiri. Kau butuh teman-temanmu. Dan kini mereka semua sudah hadir di sini."
"Terima kasih, Madam," kata Harry.
"Tapi tetap saja ada yang harus kau serahkan, Harry. Kau dan Putri Ginny," ujar Yuko.
"Saya bersedia menyerahkannya, apapun itu demi menyelamatkan Putri!" kata Harry.
"Kalau begitu, berikan kenanganmu dan kenangan Putri Ginny. Kenangan kalian satu sama lain. Putri Ginny dan seluruh orang dari Hogwarts Kingdom akan melupakanmu dan tidak akan ingat sama sekali dengan asal usulmu. Itulah pembayaran yang harus kau berikan. Bagaimana, Harry?"
"Jika saya harus menyerahkannya berarti ibu saya pun juga harus melupakan saya?" tanya Harry tidak percaya begitu mendengarnya.
"Begitulah. Mereka tidak akan bisa mengingatmu sama sekali. Kau masih bisa mengingat mereka tapi mereka sebaliknya, tidak," kata Yuko.
"Kalau begitu bagaimana dengan kenangan saya?" tanya Harry.
"Kenanganmu bersama Putri Ginny yang akan kuambil. Kau tidak akan bisa hadir dalam kenangan-kenangannya. Dia tidak akan tahu siapa dirimu dan bagaimana dia tidak bisa mengingatnya. Itulah kenanganmu," kata Yuko.
Harry memandang wajah Ginny yang masih pucat. Rasanya sangat berat harus menyerahkan segala kenangan tentang orang-orang yang dicintai namun tidak ada jalan lain. Dia teringat kata-kata Raja Fred kepadanya bahwa dia adalah ksatria sejati Hogwarts Kingdom. Dialah yang akan melindungi Putri Ginny dengan segenap jiwa dan raga. Dia harus melakukannya. Maka ia menatap Yuko lalu mengangguk dengan penuh ketekadan hati. "Aku bersedia."
"Bagus," jawab Yuko sambil tersenyum. Dia mengambil kenangan dari dua orang itu dan menaruhnya ke dalam bola kaca terakhir. Setelah selesai menerima pembayaran dari mereka, Yuko memanggil Watanuki dan menyuruh para pengelana berbaris secara berjajar. "Kenalkan, ini Mokona Modoki," tunjuk Yuko kepada sosok makhluk mungil yang sedang dipeluk Watanuki. Makhluk itu tersenyum ramah kepada mereka. "Halo, aku Mokona!"
"Lucunya," puji Sakura. "Makhluk apakah kamu?"
"Mokona adalah Mokona!" makhluk mungil dengan telinga panjang seperti kelinci itu langsung melompat ke pelukan Sakura. "Salam kenal!"
"Halo, aku Sakura," kata Sakura ramah.
"Mokona akan menemani perjalanan kalian dari dunia ke dunia melalui sihir dimensi. Dialah yang akan merasakan kekuatan bulu sayap Putri Ginny dan membantu kalian untuk berkomunikasi denganku kapanpun jika kalian ingin mengobrol denganku," kata Yuko.
"Hah, bola bulu ini yang akan menemani kita? Idiot!" umpat Ron.
"Mokona bukan idiot!" seru Mokona.
"Heh, kurasa anak ini benar. Aku ingin melihatnya jika ia bisa mengantar kita ke tempat yang benar," kata Kurogane dengan nada meremehkan.
"Aww, Kuro-chan dan Ronnie-chan, jangan begitu. Bukankah kita akan bertualang bersama. Mokona akan membantu kita semua," ujar Fai.
"Namaku RON!"
"KUROGANE!"
Mokona, Shaoran, Sakura dan Fai langsung tertawa. Hanya Harry yang tersenyum memandang mereka semua. Sedangkan Ron dan Kurogane hanya menggerutu.
"Baik, cukup semuanya," sela Yuko. "Sebelum kalian berangkat, aku harus memberi kalian pesan. Dunia-dunia yang akan kalian datangi, ada orang-orang yang mirip dengan kalian bahkan orang-orang yang kalian kenal dari dunia kalian. Jiwa dan semangat mereka sama namun memiliki jalan takdir yang berbeda. Kalian harus siap untuk menemui mereka."
"Orang-orang yang mirip dengan kami?" tanya Shaoran. "Menarik."
"Juga orang-orang yang kami kenal?" ujar Harry.
"Ya, kalian akan menjumpainya," kata Yuko. "Bagaimana? Sudah siap untuk berangkat?"
"Siap!" jawab mereka serempak.
"Baiklah, Mokona. Bawa mereka pergi dari sini," perintah Yuko.
"Oke, siap berangkat!" seru Mokona dengan penuh semangat. Dia melompat dari pelukan Sakura sedangkan mereka bertujuh langsung berpegangan tangan. Mokona mengeluarkan sihir dari mulutnya dan secercah cahaya putih keperakan menyelimuti mereka semua. Rombongan pengelana itu akhirnya pergi dan menghilang dalam sekejap dalam sihir dimensi.
