This is my second story-Crossover Story-between Evernight and Twilight. They'll show you HOW MUCH I LOVE VAMPIRES! XD

Enjoy then ;) *my special thanks to Stephenie Meyer and Claudia Gray who have create such dark-romance-and-never-ending-love-story novels. You all RAWKS!*

From Stephenie Meyer's and Claudia Gray's books.


Twilight in Evernight

Chapter 2

"Di sini adalah aula besar, tempat para murid Evernight Academy berkumpul jika ada acara-acara besar seperti Pesta Dansa Musim Gugur yang sebentar lagi akan diadakan. Selain itu, di lantai satu juga ada ruang-ruang kelas. Di lantai dua ada perpustakaan, sisanya adalah ruang-ruang kelas seperti yang ada di lantai satu. Menara Utara adalah asrama pria dan Menara Selatan adalah asrama wanita. Beberapa guru tinggal di Menara Utara dan Menara Selatan untuk menjaga keamanan murid-murid," pada akhir penjelasannya mengenai denah gedung Evernight Academy, Mrs. Olivier kembali mengedipkan mata sambil tersenyum geli pada Edward. Edward hanya tertawa kecil padanya.

"Well, Mr. Cullen, aku cukup senang melihat ekspresimu yang sudah lebih baik sekarang. Kukira kau sudah mendapat teman yang cocok, apakah aku benar?"

Edward mendesah, kembali memikirkan sosok Lucas dan Balthazar serta bagaimana mereka menanggapinya tadi. "Kurasa tidak."

"Belum," gumam Mrs. Olivier lembut, "Tetapi aku yakin kau akan memiliki banyak teman di sini. Dan aku akan sangat senang jika kau berteman dengan Balthazar More."

"Balthazar… More?"

"Ya, dia murid favoritku—maksudku, jika seandainya ada pemilihan murid favorit, aku pasti akan memilihnya. Dia pintar, sangat berbakat, dan baik hati. Dia selalu menolong putriku dulu," tiba-tiba saja mata Mrs. Olivier berkaca-kaca. Edward menatapnya heran.

"Mrs. Olivier, mengapa Anda bisa menangis?"

Wanita itu cepat-cepat menghapus air matanya, "Eh, ti-tidak… aku hanya sedih, Mr. Cullen."

"Bukan, maksud saya, mengapa Anda bisa mengeluarkan air mata?"

"Aku tidak mengerti maksudmu, Mr. Cullen."

"Vampir kan tidak bisa memproduksi air mata, Mrs. Olivier."

Kali ini Mrs. Olivier bisa memahami maksud perkataan Edward. Dengan senyum sedih, dia berkata, "Well, kami bisa, Mr. Cullen."

Bella,

Tahukah kau bahwa aku merindukanmu? Aku merindukanmu di setiap milliliter udara yang kuhirup, di setiap partikel debu yang menyertainya, dan di setiap ruang paru-paru yang tidak sengaja terisi oleh udara itu setiap kali aku menarik napas. Aku tidak membutuhkan udara ini; aku membutuhkan aromamu, Bella. Setidaknya aku merasa benar setiap kali menghirup manisnya—meskipun kenyataan berkata bahwa itu semua salah. Setidaknya aku merasa benar di sisimu. Tempat ini benar-benar planet asing bagiku; mereka semua alien, Bella.

Edward mendengar pikiran Mrs. Bethany—guru Bahasa Inggris sekaligus Kepala Sekolah Evernight academy—sedang mempertimbangkan untuk memanggil namanya. Namun, alih-alih memanggil Edward, wanita itu malah berjalan ke arahnya sehingga Edward harus menyembunyikan surat untuk Bella yang sedang ditulisnya. Mrs. Bethany sepertinya memutuskan untuk menanyai murid lain yang duduk tepat di belakang Edward mengenai karya Emily Bronte.

"Wuthering Heights," tegas Mrs. Bethany, "adalah karya sastra yang sangat fenomenal, Miss Deveraux. Mengapa begitu?"

"Uhm, karena menimbulkan kontroversi?" cewek yang duduk di sudut kelas—yang dikenali Edward sebagai Patrice Deveraux dari pikiran teman-teman sekelasnya yang lain—menjawab dengan nada ragu.

Mrs. Bethany melemparkan tatapan yang membuat siapapun gugup setelah melihat matanya yang mengintimidasi. Edward tidak sengaja mendengus saat mendengar pikiran Patrice yang berteriak bahwa dia ingin sekali kabur dari mulut harimau seperti Mrs. Bethany.

Wanita itu mendengar Edward dan mengalihkan tatapan dari Patrice, "Mr. Cullen, apakah Anda merasakan humor dalam pertanyaan saya kepada Miss Deveraux tadi?" tanyanya dengan suara lembutnya yang entah mengapa kedengarannya sangat berbahaya.

"Tidak, Mrs. Bethany."

"Lalu,mengapa Anda terlihat seolah menahan tawa, Mr. Cullen?"

"Saya tidak menahan tawa, Ma'am.

"Well, jika Anda berkata begitu. Tetapi, maukah Anda menjawab pertanyaanku untuk Miss Deveraux tadi?" wanita itu tersenyum, aroma lavender memenuhi udara di sekitar Edward saat dia mendekat ke arah meja Edward.

"Saya kira… Wuthering Heights menjadi fenomenal karena banyaknya kritik mengenai penulisan alur cerita dan karakter-karakter dalam Wuthering Heights tersebut. Mungkin ini ada hubungannya dengan latar belakang Emily Bronte yang tumbuh tanpa sosok ibulah yang mempengaruhi penulisan karya ini."

Mrs. Bethany memandang Edward dengan mata menyipit curiga. "Cukup baik, Mr. Cullen. Tetapi saya akan lebih terkesan jika Anda memberikan jawaban yang berasal dari pikiran Anda sendiri, bukan dari pikiran orang lain."

Edward mengejang kaku. Apakah dia baru saja mendengar bahwa Mrs. Bethany menyadari bakat istimewanya, atau perkataannya tadi hanyalah sebuah kelakar? Namun, melihat ekspresi Mrs. Bethany yang perlahan-lahan berubah datar, Edward tahu Mrs. Bethany benar-benar tidak memiliki maksud apapun saat mengatakannya.

"Baiklah, cukup sampai di sini pelajaran hari ini. Tugas untuk minggu depan, membuat esai mengenai karya keluarga Bronte yang lain, Jane Eyre, sebanyak 2000 kata. Bagi yang tidak menyerahkan akan segera mendapatkan hukuman dariku. Apakah Anda semua mengerti?"

"Ya, Ma'am," kelas menjawab serentak. Begitu Edward keluar dari kelas, dia melihat sosok Lucas dari kejauhan. Betapa terkejutnya Edward saat melihat tidak ada perban atau apapun di pelipis dan keningnya. Bekas lukanya pun tidak ada, seolah-olah tidak pernah terjadi luka di sana. Lucas sepertinya merasakan tatapan penasaran Edward karena dia menoleh kea rah Edward dengan tatapan kesal.

'Apa-apaan orang itu? Kenapa dia menatapku seperti itu?' Edward mendengar pikiran Lucas yang kedengarannya sangat terganggu dengan tatapan ingin tahunya. Dengan cepat Edward mengalihkan tatapannya agar pikiran marah orang itu berhenti.

Namun, saat Edward hendak beranjak menjauhi Lucas, pikiran orang itu tiba-tiba berubah. Edward mendengarnya sejelas saat kalimat itu diucapkan di telinganya.

'Well, kenapa tadi dia bisa melukaiku? Apakah dia sengaja melakukannya? Kalau iya, aku harus mencurigainya kalau-kalau—.'

Tubuh Edward kembali mengejang. Dia tidak habis pikir mengapa seisi sekolah ini seolah mencurigainya sebagai ancaman. Tadi Balthazar, lalu sekarang orang bernama Lucas itu. Perlahan Edward kembali menolehkan kepalanya ke arah Lucas. Cowok itu masih menatapnya dengan tatapan curiga, pikirannya masih meneriakkan kecurigaan yang sama padanya. Edward ingin sekali membungkam pikiran orang itu dengan beberapa pukulan atau mungkin dengan terjangan di perut. Namun, kali ini Edward berusaha untuk tidak membuat dirinya terjerat masalah. Lagipula, dia belum benar-benar mengetahui vampir seperti apakah yang berada di balik tembok dingin Evernight Academy.

Dengan tenang Edward kembali membalikkan tubuhnya menuju tangga lantai dua, mengabaikan Lucas yang mulai meneriakkan 'Dasar orang aneh' di belakangnya.

Langit yang terlihat dari jendela tinggi perpustakaan Evernight sudah terlihat gelap saat Edward selesai menuliskan esai yang ditugaskan oleh Mrs. Bethany. Edward tidak sengaja mendengar pikiran penjaga perpustakaan yang mengatakan bahwa seharusnya Edward sudah berada di kamar asramanya untuk makan malam. Sudut bibir Edward sedikit naik saat mendengar kata-kata 'makan malam'.

Meskipun kebanyakan murid di Evernight Academy adalah jenis vampir, Edward heran juga saat mendengar peraturan yang mengatakan bahwa murid-murid dipersilakan untuk makan di kamar masing-masing. Sebelumnya Edward membayangkan akan ada kegiatan berburu bersama ratusan vampir lainnya di hutan Evernight yang mengerikan. Namun sepertinya para vampir di sini lebih suka makan di kamar daripada berburu. Lagipula, Edward tidak habis pikir kenapa vampir-vampir di sini memerlukan kamar tidur.

Beberapa menit kemudian, Edward keluar dari perpustakaan yang hampir tutup dan berjalan santai menuju asrama pria di Menara Utara. Suasana di kampus Evernight Academy pada malam hari sangat sepi; hampir tidak ada murid yang berkeliaran di lantai dua maupun lantai satunya, tidak seperti siang hari. Beberapa kali Edward sempat berpapasan dengan guru-guru Evernight Academy yang rata-rata heran melihatnya berkeliaran malam-malam begini di kampus Evernight. Namun tidak ada yang berpikiran bahwa dia kelihatan mencurigakan seperti yang dilakukan Lucas dan Balthazar sebelumnya. Mengingat kedua orang itu membuat Edward ingin meninju dinding di sampingnya.

Tanpa Edward sadari dia sudah berada di tangga batu Menara Utara. Edward mengeluarkan formulir dalam tasnya dan mendadak terkesiap melihat nama teman asramanya yang sudah tertera di sana. Lucas Ross? Apakah mungkin orang itu? pikir Edward. Ternyata benar, saat Edward membuka pintu kamarnya, dia melihat mata Lucas membelalak tidak percaya dan pikirannya meneriakkan kata-kata makian. Edward sampai harus menutup matanya untuk meredam emosinya saat mendengar pikiran Lucas yang seperti diteriakkan di telinganya.

"Bisakah kau diam? Kau membuatku muak," Edward menyemburkan kata-kata itu di sela-sela giginya. Lucas menatapnya tegang.

"Kau yang seharusnya diam. Aku belum mengatakan apapun padamu," jawab Lucas tak kalah sengitnya. Edward membuka matanya dan menghujamkan tatapan membunuh ke arah Lucas yang sedang duduk di pinggir ranjangnya. Lucas membalasnya dengan tatapan yang sama, pikirannya kembali meneriakkan makian untuk Edward.

Tiba-tiba saja Edward melompat ke arah Lucas dan membenturkan tubuhnya ke dinding. Lengan Edward menjerat leher Lucas hingga membuatnya terbatuk-batuk; wajah Edward hanya berjarak beberapa senti dari wajah Lucas. Edward menatapnya dengan marah, "Hentikan pikiran kotormu, Ross!"

"Kau… apa-."

"Hei kalian!" Balthazar berseru saat melihat Edward yang hendak melayangkan tinjunya ke wajah Lucas dan dia buru-buru menarik punggung sweater Edward. "Ada apa ini?"

"Dia yang menyerangku, Balthazar," Lucas mengacungkan telunjuknya tepat di depan wajah Edward. "Apa masalahmu, Anak baru?"

Edward tidak menjawab pertanyaan Lucas maupun Balthazar. Dia hanya terus menatap Lucas dengan tatapan marah.

"Edward, mengapa kau menyerang Lucas? Apakah dia melakukan sesuatu padamu?" tanya Balthazar yang langsung diprotes Lucas. Balthazar mengisyaratkan Lucas untuk diam sejenak sementara dia menunggu jawaban Edward.

"Aku mendengarnya berpikir buruk tentangku. Hanya itu saja," jawab Edward singkat. Keheningan mendadak menyelimuti kamar Lucas dan Edward. Edward mendengar pikiran Lucas dan Balthazar yang sama-sama tidak mengerti dengan maksud perkataan Edward.

Edward berdehem sejenak, "Aku hanya berharap kalian berhati-hati dengan pikiran kalian jika berada di dekatku. Aku tidak suka mendengar kalian memikirkan hal-hal buruk."

Baru saja Edward hendak berjalan ke tempat tidurnya, Lucas menahan bahu Edward sehingga dia terpaksa berhenti berjalan. Wajah Lucas masih menunjukkan kebingungan. "Apa maksudmu dengan… mendengar pikiran tadi?"

"Aku bisa mendengar pikiran kalian."

Lucas dan Balthazar masih terdiam. Dari raut wajah mereka, Edward bisa melihat bahwa mereka masih tidak memahami maksud perkataan Edward tadi.

"Siapa kau sebenarnya, Edward Cullen?" bisik Balthazar.

Edward menyunggingkan senyum separonya, "Aku vampir yang bisa membaca pikiran orang lain."


If you don't mind, please review my story. It'll be such a big help for me and for my writing ability. Thank you so much :D - fiorendita