Sasuke melirik sekilas orang yang mengintrupsi kegiatannya hari ini dan ini yang kedua. Dengan perlahan tangan Sasuke membimbing tubuh Hinata, membiarkannya merosot ke lantai karena kaki Hinata tak mampu menopang tubuhnya akibat perbuatan Sasuke.

"Mulai besok pagi kau harus sudah ada di sini sebelum aku tiba. Kalau kau terlambat tak hanya kesempatanmu masuk Osiga yang hilang, kesempatanmu untuk mendapatkan Naruto pun bisa ku pastikan hanya tinggal mimpi," kata Sasuke pada Hinata yang menunduk. Dengan jemarinya Sasuke mengangkat dagu Hinata."Kau mengerti?"

Hinata menatap Sasuke tak percaya. Sungguh kejam iblis satu ini, pikir Hinata. Sudah merebut ciuman pertamanya yang hanya untuk Naruto sekarang dia benar-benar mengekang Hinata. Dengan berat hati Hinata mengangguk mengiyakan.

Sasuke tersenyum tipis lalu mengecup sebentar bibir Hinata sebelum dia berdiri. Meninggalkan Hinata yang mematung bersandar di tembok dengan air mata yang mulai mengalir kembali.

"Jarang sekali kau memperlakukan seorang cewek dengan begitu lembut. Biasanya kalau ada seseorang yang masuk ke ruanganmu kau langsung melemparnya menjauh?" tanya pemuda berambut merah yang berwajah imut saat sedang dalam perjalanan menuju ruang rapat.

"Hn, dia berbeda Sasori," jawab Sasuke sambil menyembunyikan seringai tipisnya.

"Memang apa yang berbeda darinya? Bukankah kebanyakan cewek masuk ke ruanganmu hanya untuk bisa dekat denganmu?"

"Tapi dia rela menjadi Maidku hanya untuk bisa dekat dengan seseorang yang dia sukai."

"Dan ku tebak itu bukan kau."

"Hn."

Sasori tertawa."Jarang sekali ada gadis yang lepas dari pesonamu. Apalagi kulihat tadi dia menangis, kau memaksanya ya?"

"Hn. Lumayan menghibur untuk selingan."

"Tapi kau harus hati-hati Sasuke. Kau bisa jatuh cinta padanya."

Sasuke tersenyum mengejek menatap Sasori."Takkan pernah terjadi."

"Kita lihat saja nanti."

Sasuke hanya mendengus mendengarnya.

.

.

Discalaimer:

Naruto © Masashi Kisimoto

Devil Beside Me! By Tsubasa XasllitaDioz

Pairing: Sasuke Uchiha and Hinata Hyuuga

Rated: M for safe

Warning: AU, Typo's-selalu-, dan rated M pertamaku jadi maaf kalau jelek dan jangan terlalu berharap akan ada lemon maybe just lime.

Summary: Hinata rela tidak ikut keluarganya untuk pindah ke Kyoto demi masuk ke sekolah yang sama dengan Naruto, kakak kelas yang dulu pernah menolongnya. Tapi sangat sulit untuk berada di dekat Naruto karena Sasuke mengharuskan Hinata menjadi, budaknya?

.

.

-Chapter 2-

Why Me?

.

.

Hinata terduduk murung di jendela apartementnya sambil menatap langit yang sedang di penuhi bintang. Indah memang. Tapi itu tak cukup menghibur kegalauan hati Hinata. Bayangkan saja hanya dalam sehari dunia Hinata berjungkir balik dengan ekstrimnya. Berawal dari niatannya untuk bergabung dalam Osiga demi mendekati Naruto dengan cara menjadi sekretaris ketua Osiga malah terperangkap dengan Sasuke-yang notabene ketua Osiga- menjadi Maid pribadinya. Hingga membuat ciuman pertama Hinata -malahan ciuman keduanya pula- yang seharusnya hanya untuk Naruto. Diambil seenaknya oleh iblis bernama Uchiha Sasuke. Apalagi tangannya yang dengan nakalnya menyentuh dada Hinata sehingga membuat gadis itu meski berlama-lama di kamar mandi untuk menghilangkan bekas-bekas sentuhan Sasuke di tubuhnya. Karena kalau boleh jujur dia merasa jijik dengan sentuhan Sasuke. Dengan tangan itu entah sudah berapa banyak wanita yang di sentuhnya. Entah sudah berapa banyak wanita yang sudah melihat tubuh Sasuke hingga bagi Hinata itu bukan kebanggaan melainkan hanya mendapat sisa. Walau sisa itu seorang Uchiha Sasuke begitu banyak wanita rela memberikan apa saja asalkan dapat one night stand dengan Sasuke tapi tak berlaku bagi Hinata.

Hinata menghela napasnya. Walau menyesal pun tak ada gunanya. Nasi sudah menjadi bubur. Walau bagaimana pun ciuman pertamanya takkan pernah kembali walau dia harus memohon pada Kami-sama untuk memintanya. Kecuali kalau Kami-sama mengabulkan permintaanya untuk memutar kembali waktu sampai saat dia berniat bergabung di Osiga. Tapi apa semua pengorbanannya masuk Osiga ini sepadan dengan mendapatkan cinta Naruto?

.

Flashback on

.

Hinata kecil tertunduk menangis dengan sekeliling anak kecil yang melemparinya dengan batu-batu.

"Dasar mata aneh! Kau itu keturunan hantu tau," teriak salah saru anak.

"Benar! Seharusnya kau pergi jauh dari sini! Kembali ke dunia hantumu!" sahut yang lainnya.

"Pergi jauh dasar setan," timpal yang lain.

Hinata hanya menangis tersedu-sedu sambil memegangi kepalanya agar tak terantuk batu yang di lempar oleh anak-anak tadi. Dia heran kenapa semua anak begitu memusuhinya, padahal dia tak pernah salah apa-apa pada mereka yang melemparinya batu sekarang. Apa itu salah Hinata kalau ia memiliki bola mata unik yang bahkan indah dan langka? Tentu bukan. Kalau mau menyalahkannya kalian pasti akan di bantai habis oleh keluarga Hyuuga. Apa karena Hinata selalu mendapat peringkat 1 di mata pelajaran apa pun, kecuali olahraga? Kalau ini salahkan diri kalian sendiri kenapa tak kunjung menjadi anak pintar yang rajin belajar.

Disaat anak-anak itu melemparinya batu secara membabi-buta datanglah seorang pangeran datang pada Hinata. Naruto lagi-lagi datang menyelamatkan Hinata yang di bully oleh teman-temannya yang lain. Bukan hanya sekali atau dua kali Naruto menemukan Hinata di bully oleh teman-temannya. Pertama kali Naruto menemukan Hinata sehabis di bully di belakang sekolah dengan luka-luka lecet di tubuhnya. Tapi entah kenapa Hinata tak pernah melapor kepada pihak sekolah. Mungkin dari sinilah Naruto tau kalau Hinata tak ingin membuat khawatir keluarganya. Hinata kuat dan bertahan dengan cara yang berbeda. Karena itu Naruto ingin melindungi Hinata agar tak terluka lebih banyak lagi akibat ulah anak-anak yang tak suka padanya.

"Pergi kalian atau ku hajar kalian semua!" seru Naruto yang kontan membuat semua anak yang bisa di katakan masih kohai Naruto segera pergi berlari menjauh.

Naruto memeluk Hinata yang sedang menangis."Tenanglah Hinata-chan mereka semua telah pergi. Ayo kita ke ruang kesehatan kita harus mengobati lukamu."

Sasuke menggendong Hinata di punggungnya. Hinata melingkarkan kedua tangannya di leher Naruto."Arigatou Naruto-kun. Kau selalu menyelamatkanku."

Naruto tersenyum mendengarnya."Sama-sama Hinata-chan. Aku senang membantu gadis baik dan manis sepertimu."

"Hiks.. ba-bagaimana ca-caraku untuk membalas kebaikanmu selama ini Naruto-kun?" Hinata masih menangis kecil di belakang punggung Naruto.

"Mudah saja. Hinata-chan harus menjadi anak yang kuat, tak mudah menyerah dan tak cengeng lagi seperti sekarang. Apa kau mau berjanji padaku?"

Hinata mengangguk di belakang punggung Naruto dan Naruto dapat merasakannya."A-aku akan coba Naruto-kun. Aku tidak akan menjadi anak yang cengeng lagi agar N-Naruto-kun suka padaku."

Naruto tertawa."Tentu aku suka padamu Hinata-chan."

Perkataan Naruto yang blak-blakkan itu kontan membuat Hinata merona. Hinata selalu menyukai Naruto yang penuh semangat itu. Karena Naruto lah Hinata terus berkembang menjadi seorang yang perlahan menjadi berani. Paling tidak, tak ada lagi anak-anak yang menjahili Hinata. Walau sikap pemalunya memang sudah mendarah daging untuk yang itu tak dapat di ubah bahkan oleh Hinata sendiri.

Karena Naruto adalah senyumnya. Karena Naruto adala semangatnya. Dan Naruto adalah seorang yang membawa Hinata kembali dari tempat yang gelap.

.

Flashback off.

.

Sepadan. Semua pengorban Hinata sepadan dengan semua kebaikan Naruto selama ini. Hinata menyukai Naruto tidak dengan perasaan yang dangkal, tapi ini sudah ada bahkan saat dia masih berumur 9 tahun. Sekarang saat Hinata merasa yakin kalau ini kesempatan terbaiknya tentu Hinata tak ingin melewatkannya. Meski harus cukup bersabar dengan iblis satu itu. Hinata rasa dia bisa.

Hinata buru-buru bangkit dari duduknya di jendela. Daripada ia menyesali takdir dengan melihat bintang yang tak mungkin merubah apa pun lebih baik kalau Hinata menjahit seragam sekolah barunya. Atau lebih tepatnya seragam Maid si pervert Sasuke menjadi lebih longgar hingga Hinata tak perlu merasa sesak saat memakainya.

'Hinata ganbatte ne!'

.

.

Hinata berjalan menunduk menuju ruangan Sasuke. Untung saja blazer sekolah Hinata cukup besar sehingga membantu Hinata menutupi kemeja sekolahnya yang begitu ketat. Paling tidak sampai bertugas di ruangan Sasuke Hinata akan tetap memakai blazer sekolahnya.

Hinata membuka pintu ruangan Sasuke. Kosong. Tentu saja, karena Sasuke belum datang dan Hinata bersyukur karenanya. Kalau Sasuke datang lebih dulu darinya bisa di pastikan kalau iblis satu itu akan minta yang aneh-aneh untuk menghukumnya.

Hinata perlahan menuju salah satu meja di seberang meja kerja Sasuke. Membereskan file-file yang berantakan di atasnya. Begitu banyak hingga menumpuk tinggi. Seharusnya file-file ini segera di masukan ke ruangan file agar tak berhamburan seperti ini.

.

.

Sebuah mobil mewah Ferrary hitam memasuki halaman sekolah yang kontan membuat perhatian semua siswi di sana segera bergerombol berkumpul di dekat tempat parkir khusus untuk ketua Osiga. Uchiha Sasuke. Dengan arogannya Sasuke turun dari mobil. Berjalan tanpa peduli teriakan para Fans Girlnya, padahal kalau hari biasa Sasuke mungkin akan menarik salah satu siswi yang menurutnya layak di pakai kedalam ruangannya untuk sekedar mengisi waktu. Walau akhirnya permainan mereka takkan mencapai pucak, paling tidak sekedar selingan sudah cukup. Tapi hari ini Sasuke tak perlu membawa salah satu gadis-gadis bodoh yang berteriak tak jelas untuk menemaninya. Karena Sasuke sekarang punya seorang gadis yang sukar di taklukkan hingga membuat permainannya nanti akan lebih menarik.

Dengan membayangkannya saja Sasuke sudah tak sabar. Begitu sampai di ruangannya dapat Sasuke melihat Hinata sedang sibuk membereskan dokumen file yang menurutnya tak penting. Sasuke menyeringai ketika melihat Hinata. Perlahan Sasuke mendekati Hinata dan langsung melingkarkan lengannya kanannya di leher Hinata dari belakang.

"Siapa yang menyuruhmu memakai blazer ini?" bisik Sasuke lirih di telinga Hinata. Hinata terkejut mendengar suara Sasuke di telinganya.

"T-tolong l-lepaskan Uchiha-senpai.."

"Sasuke-sama." Potong Sasuke."Panggil aku Sasuke-sama."

Tangan kiri Sasuke yang bebas bergerak di atas perut Hinata membuka kancing blazer satu per satu."T-Tolong S-Sasuke-sama l-lepaskan.."

"Huh.. kau siapa memerintahku." Tangan kanan Sasuke perlahan membuka jaket blazer Hinata hingga kemeja ketat Hinata terlihat. Perlahan tangan kanan Sasuke membuka kancing kemeja Hinata sehingga memudahkannya mencium leher jenjang Hinata. Tempat wangi yang begitu Sasuke sukai paling kuat terasa.

"S-Sasuke-sama t-tolong lepaskan," ujar Hinata sambil menjauhkan tangan Sasuke yang nakal mulai menyusuri dadanya lebih jauh.

"Hn." Sementara bibirnya sibuk mengecup leher putih Hinata hingga meninggalkan lebih banyak lagi bekas memerah di sana, tangan kiri Sasuke mulai merayap dari paha jenjang Hinata hingga memasuki rok pendek Hinata. Dan mulai menyusup kedalam celana dalam Hinata.

Hinata tersentak kaget dan segera berbalik yang hanya memberi kesempatan untuk Sasuke mencium bibir Hinata. Hinata mati-matian mendorong dada Sasuke untuk segera menjauh yang tak menghasilkan apa-apa. Malah Sasuke semakin memojokan dirinya di sisi meja dan tangan Sasuke merangsek masuk ke dalam rok lipit Hinata menyentuh bagian sensitif bagi wanita. Ciuman Sasuke di bibir Hinata semakin dalam ketika lidah Sasuke berhasil masuk ke dalam pertahanan Hinata yang tengah lengah. Jari-jari jenjang Sasuke mulai menyentuh bagian sensitif Hinata dan memasukan jarinya ke dalam sana.

"Plakk..." suara tamparan Hinata menggema di dalam ruangan Sasuke. Hinata kontan saja menampar orang yang berani-beraninya menyentuh bagian yang seharusnya hanya akan menjadi milik orang yang di cintainya. Ciuman pertamanya telah di rebut, tidak akan di permasalahkannya lagi. Tapi kalau telah menyangkut bagian ini tentu saja setiap wanita takkan rela kalau di sentuh orang yang bahkan tak disukainya.

"Apa-apaan kau! Beraninya!" ujar Sasuke geram.

"K-kau yang apa-apaan. Aku tidak seperti gadis murahan lainnya yang bisa k-kau sentuh seenaknya lalu kau buang b-begitu saja. K-kalau kau memang mau melakukan itu, ajak saja gadis lain yang bersedia untuk menyerahkan dirinya untukmu. Bukan aku," kata Hinata diiringi dengan isakan kecil.

Sasuke menatap tajam Hinata. Huh! Seumur-umur baru kali ini ada gadis yang menolak untuk dia sentuh. Sungguh gadis bodoh, pikirnya.

"Memang apa yang menjaminmu tak sama seperti gadis-gadis bodoh lainnya? Karena semua wanita di dunia ini hanyalah sampah menurutku, tak terkecuali kau."

"Terserah k-kau mau bilang apa tentangku, a-aku pun tak bisa menjamin kalau aku tak seperti gadis-gadis bodoh lainnya. Tapi S-Sasuke-sama jangan pernah mengatakan kalau seluruh wanita di dunia ini hanyalah sampah."

Sasuke mendengus mendengarnya."Bagiku wanita di dunia ini hanyalah sampah. Tak lebih dari kotoran."

"Wow.. aku tak menyangka kalau kau ternyata homo Teme?" sahut suara yang bersumber dari pria berambut blonde dan berkulit tan.

Sasuke mantatap tajam sang empunya suara yang sungguh baginya sangat mengganggu.

"Ada apa kau kesini Baka-Dobe?" tanya Sasuke dingin. Dari sudut matanya, Sasuke dapat melihat wajah Hinata bersemu merah melihat wajah bodoh Naruto yang entah kenapa menyusupkan rasa kesal dihatinya.

"Ini." Naruto meletakkan sebuah map tebal berwarna hitam diatas meja Sasuke."Bukankah minggu kemarin kau menyuruhku untuk mendata klub sepak bola berserta manager barunya. Semua sudah ku data bersama Sakura-chan."

"Bukankah kubilang kumpulkan 3 hari setelahnya. Kalau kau begini anggaran klub sepak bola mungkin akan dikurangi karena kau terlambat menyerahkannya."

Naruto memasang wajah nelangsanya."Yah, Teme kau sendiri tau kan kalau anggota klub sepak bola itu banyak dan kalau kau juga sampai mengurangi anggaran klub bagaimana kami mau bertanding keluar?"

"Itu masalahmu dan bukan urusanku. Pergilah."

Naruto mengerucutkan bibirnya."Baiklah. Hinata-chan kau mau keluar bersamaku? Berbahaya kalau kau satu ruangan dengan Teme."

Hinata buru-buru berjalan mendekati Naruto sebelum nantinya Sasuke menariknya lagi. Dan tak ada satu pun yang menyelamatkannya. Hinata tak mau terjadi.

Tanpa Hinata ataupun Sasuke sadari sepasang manik onyx milik Sasuke menatap tajam pintu tempat keduanya keluar. Lalu dokumen-dokumen menumpuk yang sempat Hinata benahi terlempar jatuh kelantai tak berdaya. Jadi percuma Hinata membereskannya pagi-pagi kalau akhirnya Sasuke memberantakkinya lagi.

"Hinata apa kau merasa nyaman dekat dengan Sasuke?" tanya Naruto tiba-tiba saat keduanya sedang berjalan menuju kelas masing-masing.

Hinata kontan tersentak mendengarnya."T-tidak apa-apa Naruto-kun."

Sungguh jawaban yang sama sekali tak nyambung dan Hinata sadari itu. Karena daripada merasa nyaman Hinata malah merasa takut pada Sasuke, apalagi pikiran Sasuke yang sepertinya tak pernah jauh dari yang namanya seks, ciuman dan make out. Tapi Hinata tak ingin Naruto merasa khawatir dengan keadaanya karena Hinata tak ingin lagi dianggap Hinata 9 tahun yang lalu yang hanya bisa menangis saja. Hinata ingin membuktikan kalau dia telah berubah dan pantas berada disamping Naruto karena unsahanya sendiri.

"Hmm.. Baguslah kalau begitu. Asal kau tau Hinata-chan, Teme dulu tak seperti itu. Dia dulu selalu menghargai wanita. Sampai dengan kejadian itu." Mata shapirre Naruto meredup.

"K-kejadian a-apa Naruto-kun?" sungguh sejujurnya Hinata penasaran, apa yang membuat Sasuke sepertinya menganggap wanita hanyalah sampah.

"Saat 9 tahun yang lalu saat keluarga Sasuke masih utuh dan begitu harmonis. Dimana Tou-san, Kaa-san dan juga Itachi-nii masih sering berkumpul bersama. Tapi semua berubah saat Itachi jatuh cinta kepada seorang wanita yang bisa dikatakan bukan dari kalangan baik-baik. Tentu saja semua keluarga Uchiha melarang Itachi untuk menikahi wanita tersebut. Tetapi Itachi tak peduli dan malah nekat kawin lari dengan wanita tersebut yang berujung kecelakaan maut. Kematian Itachi itulah titik awal perubahan hidup Sasuke. Fugaku-jiisan menjadi workaholic, tak peduli lagi dengan keluarganya karena menurutnya dia telah kehilangan sang pewaris utama."

"L-lalu Naruto-kun?" entah kenapa rasa penasaran menghinggapi pikiran Hinata saat mendengar penjelasan dari Naruto.

"Sasuke merasa kalau Tou-sannya menjadi seperti itu karena dirinya yang kurang mampu untuk menjadi penerus Uchiha selanjutnya. Hingga dia mencoba belajar begitu keras agar dapat membanggakan Tou-sannya dan diakui sebagai penerus Uchiha. Suatu malam saat Sasuke sedang belajar dikamarnya, tiba-tiba terjadi pertengkaran antara Mikoto-baasan dan Fugaku-jiisan yang akhirnya Sasuke ketahui penyebabnya ternyata Mikoto-baasan selingkuh dengan pria lain karena Fugaku-jiisan tak pernah lagi memberikan perhatian dan cinta kepadanya lagi. Itu yang sangat membuat Sasuke jatuh terpuruk. Kalau ternyata wanita yang sangat dia hormati, sayangi dan dia banggakan ternyata berselingkuh dengan pria lain."

Hinata tercengang mendengarnya. Dia baru mengetahui bahwa Sasuke yang begitu dingin, egois dan pemaksa itu mempunyai masa lalu yang begitu kelam. Sekelam mata onyxnya.

"L-lalu apa kedua orang tuanya... ehmm.. bercerai?" tanya Hinata ragu.

"Tidak. Keduanya masih tetap bersama atau lebih tepatnya harus tetap bersama demi menjaga nama baik Uchiha didepan umum. Itu yang membuat hidup Sasuke sampai sekarang bagaikan di neraka. Keduanya bertemu hanya untuk saling bertengkar tentang selingkuhan masing-masing bukannya membagi kasih sayangnya kepada Sasuke. Itulah yang membuat Sasuke menjadi seorang yang tak berperasaan seperti ini. Karena itu kau harus bersabar menghadapi Teme, Hinata-chan," ujar Naruto dengan senyum tipisnya.

Hinata tertegun melihatnya."K-kenapa Naruto-kun memberitahukan hal ini kepadaku?"

Naruto meletakkan kedua tangannya dibahu Hinata dan menatapnya dalam."Karena aku merasa entah kenapa kau mampu menjadi seorang yang dapat membawa Sasuke ketempat terang. Karena Hinata adalah tempat matahari bersinar dan tolonglah temanku satu itu ketempatmu yang terang itu. Berbagilah tempat padanya."

Seumur-umur baru kali ini Hinata mata Naruto begitu bersinar saat menatapnya. Mata yang mampu melumpuhkan setiap syaraf-syaraf dalam tubuhnya. Membuat pikirannya melayang entah kemana saat mata itu menatapnya dalam. Menghantarkan sejuta sensasi berbeda dalam setiap tatapannya. Mata itulah yang membuat Hinata jatuh cinta untuk pertama kalinya. Semangat untuk menolong temannya, semangat untuk selalu berusaha dan semangat untuk tidak menyerah sampai kapan pun, semua itu tersirat dari mata Naruto.

"Y-ya. A-aku akan mencoba Naruto-kun," jawab Hinata setengah-ah bukan seperempat- yakin. Karena Hinata tau takkan pernah mudah menghadapi seorang Uchiha yang liar dan tak terkendali itu.

"Arigatou Hinata-chan." Senyum Naruto kembali mengembang. Tapi semua terbayar hanya dengan melihat senyum malaikat dari Naruto. Lebih dari cukup kalau Hinata mampu membuat Naruto tersenyum karenanya.

.

.

To Be Continue..

.

.

A/N: Mungkin lebih tepatnya author curhat. Duh.. duh.. dengan update ini aku nyatakan kalau aku akan Hiatus sampai waktu yang tak dapat ditentukan. Bisa-bisa sampai tahun baru atau lebih karena jadwal ku di Real World begitu padat, mulai dari tugas kuliah yang numpuk, persiapan panitia Sea Games sampai mau pertandingan daerah.-Gaya orang sok sibuk-^_^v

Dan lagi aku mau menyampaikan permintaan maafku karena tak bisa menepati janjiku untuk meng-update sekuel That Autumn. Aku perlu ide yang lebih pantas untuk melanjutkan ficku yang mendapat review WoW dari para reader sekalian. Agar nilai review itu sepadan dengan kualitas fic yang menjadi sekuelnya. Dan juga permintaa maafku karena entah kenapa aku merasa kalau That Autumn itu penyebab SHDL bukannya penuh fic yang romance tapi malah Sad Ending.T^T

Spesial Thanks to: Shieri Tjan, Reader biasa, lovely-heero, Hyou Hyouichiffer, ulva-chan, Yumi michiyo, keiKo-buu89, tsubaki21, Keio, Mamizu mei, Vipris, draconisflame72, Yhatikaze-kun, Lupphi Tango, zoroutecchi, Lollytha-chan, Mona Rukisa-chan, uchihyuu nagisa, yesungielf, lavender chan, chibi tsukiko chan, YamanakaemO, hyuuchiha prinka, Imarukochan, Ri-chan, Firah-chan, AiChan-Kie, fatma-hime chan, Ryu Uchiha, uchiha yoichi, UQ, cherrysakusasu, tsuki sora, Mega hime, GoodNight, Hikari Ichimai, reader, SasuHinaHime and Nur AmhaLia.

See you next time Minna..!