When I Was Your Man
• YUNJAE •
Main Cast :
√ Jung Yunho
√ Kim Jaejoong
Disclaimer :They are belongs to them selves, family, Elite Minority Cassiopeia, and shipper.
Author : Alyse Shanidas
Genre : AU, OOC, BL, Slight Humor, Drama, Family, Mpreg(maybe)
Rating : T-M
Warning : DON'T LIKE DON'T READ. Author Newbie, Typos *ngacir dimana2*, Tidak sesuai EYD, Slash.
•
•
•
√ Previous Chapter √
•
•
•
Mengetahui jika Kim Heechul adalah seorang pebisnis yang berkecimpung dalam dunia entertain sebagai seorang artis dan model, akhirnya membuat mereka mengangguk mengerti. Beberapa orang yang tadi mengerumuninya pun membalas Heechul dengan senyuman manis. Mereka kemudian membubarkan diri dan kembali berjalan layaknya tidak terjadi apapun sebelumnya. Melihat itu Heechul menghembuskan nafas lega. Meski perasaan dongkol dan emosi masih menyelimuti hatinya.
"Khhh, akting?. Harus ku akui kau memang pintar dalam hal itu Mrs. Kim. Ckckck." Siwon menggeleng pelan sambil berdecak meremehkan. Kedua tangannya bertepuk tangan seolah memuji kemampuan lawan bicaranya.
"Terimakasih sebelumnya Mr. Jung. Tapi kehadiran anda sudah terlalu menyita waktu saya yang berharga." Heechul tersenyum sinis sebelum membalikkan tubuhnya dan berlalu meninggalkan Siwon yang terpaku dengan rahang mengeras. Kalimat singkat yang begitu menusuk. 'Satu sama Mr. Jung.'
•
•
•
•
√ Chapter 2 √
•
•
•
•
"Joongie sayang, cepat bangun!... bukankah hari ini kau ada pemotretan?." Heechul mengguncang bahu mungil Jaejoong cukup keras. "Dimana suamimu? Kenapa dia tidak ada disampingmu?"
"Nghhhh, ada di kamar," Jaejoong berucap malas. Matanya masih sangat berat untuk terbuka. "Sebelah." Lirihnya pelan -sangat-pelan- saat kantuk mulai menerbangkan nyawanya untuk terjatuh kembali ke alam mimpi. Membuat Heechul mengernyitkan dahi karena tidak dapat mendengar suaranya dengan jelas. Yang ditangkapnya hanyalah jawaban 'di kamar'.
"Umma bahkan tidak mendapatinya ada disebelahmu." Heechul mengernyit heran. Kedua matanya mengedar menatap ke seluruh penjuru kamar untuk menemukan tanda-tanda keberadaan Yunho. Tapi nihil, kamar mandi pun tidak terdengar ada gemericik air.
"Mungkin dia masih tidur." Jaejoong mendengung lagi. Asal menjawab tanpa memikirkan dampak dari jawaban cerobohnya itu.
"Jangan berputar-putar. Apa kalian pisah ranjang?" Heechul menuntut tidak sabar.
"He'emb."
"APA?" Heechul melotot shock. Pisah ranjang? Ohh Astaga. Pernikahan mereka bahkan baru berumur dua hari. Tapi putranya itu sudah membuat keputusan untuk berpisah secepat ini? Jelas saja kalau ia tidak senang mendengarnya. Ya, meskipun pada awalnya ia tidak terlalu menyetujui pernikahan mereka, tapi ia sangat menjunjung tinggi kesetiaan dalam menjaga ikatan sakral seperti ini.
Huhh, lihat saja nanti, akan ia pastikan untuk memukul kepala Yunho dan mencekik leher pemuda itu karena telah mencampakkan putranya setelah berhasil menidurinya. Jangan harap Yunho bisa lepas dari pernikahan ini. Tidak setelah lelaki itu mengambil mahkota suci Jaejoong. "TIDAK BOLEHHH." Heechul berseru lantang.
Dan teriakan itu sukses membuat Jaejoong terbangun dengan posisi duduk karena terlalu kaget. Mengakibatkan kepalanya sedikit pening saat terbangun dengan tiba-tiba seperti ini. Kedua mata bulatnya yang indah mengerjab cepat. Sekarang rasa kantuk yang menderanya sejak tadi lenyap tak bersisa. Teriakan sang umma sukses membuatnya terbangun dengan wajah terkejut.
Di kamar lain Yunho bahkan sampai terjatuh dari ranjang hanya karena teriakan super dahsyat itu. Dua kali ia terjatuh dari ranjang setelah hari pernikahannya. Ohh astaga. Ranjang bahkan ikut berkompromi dengan para orang tua sampai tidak mau menerima tubuhnya. Konyol. "Aishh, menyebalkan."
Yunho sudah hampir merebahkan tubuhnya kembali ke atas ranjang sebelum ia teringat tentang teriakan tadi. Suara teriakan perempuan. Dan itu artinya, tadi yang berteriak adalah mertuanya. Ohh ya ampun, selesai sudah kedamaiannya pagi ini. Hahh, mungkin nanti ia akan menyuruh maidnya untuk tidak membukakan pintu kepada siapapun. Tapi mengingat betapa galaknya sang mertua membuatnya menggeleng pasrah. Mustahil sekali hal itu bisa dilakukan. Kalau ia tidak mau berakhir dengan tuduhan memisahkan ibu dan anak. Oh God.
Yunho buru-buru menempelkan tubuhnya ke dinding pembatas kamar mereka. Mencoba mendengarkan suara sekecil apapun.
"Umma tanya sekali lagi. Apa kalian pisah ranjang?".
"Pisah ranjang?" Yunho yang mendengarnya membeo. "Aishh, apa lagi yang sudah di lakukan Jaejoong?"
Sedangkan Jaejoong yang mendapat pelototan menyelidik itu hanya menelan paksa salivanya. Sungguh ia tidak sadar apa yang tadi sudah di ucapkannya pada sang umma. Kalau Yunho mendengarnya matilah ia. Tapi ini kan bukan murni kesalahannya, ia tadi masih tertidur lelap bukan?. Jaejoong bermonolog dalam hati.
"Jung Jaejoong? Jawab umma." Heechul mendengus kesal mendapati keterdiaman putranya.
"T-tidak..." Jaejoong berucap lirih. Kedua matanya melirik resah ke segala arah. Sekarang apa coba yang harus dikatakannya?. "Ahh, kenapa Umma sudah ada disini?... Lalu dimana Siwon abeonim?" Jaejoong berteriak lantang seakan memberi kode kepada Yunho yang ada di kamar sebelah.
"Dia diluar-..."
Jaejoong menyela cepat. "Abeonim ada di luar." Teriaknya lebih kencang. Yunho suamiku, sekarang tamatlah riwayatmu. Kau tidak bisa keluar dari pintu kamar dengan normal eoh?. Jaejoong meringis resah.
Yunho yang sudah hampir membuka pintu terperanjat kaget. God. Sekarang Ayahnya ada di luar. Entah di ruang tamu atau mungkin juga ada di ruang santai yang tepat berada di depan kamarnya. Hebat. Pagi yang sangat damai. Sekarang ia terjebak di kamar saat suasana sedang genting seperti ini. Bagus. Bagus sekali. Yunho tertawa sarkatis. Kepalanya mengangguk-ngangguk kesal.
"Baiklah. Tidak ada pilihan lain," Yunho berjalan menuju balkon. Kepalanya menunduk untuk menatap balkon lantai bawah yang berada tepat dibawahnya. Untung saja apartemennya memiliki dua lantai. Ada gunanya juga kalau sedang seperti ini. Yunho menengok lebih dalam, bulu romanya meremang. Gila. Saat ini ia ada di lantai 10, salah pijakan sedikit saja ia dipastikan terjatuh ke bawah. Dan bumm. Melayanglah nyawanya.
"Kau lelaki kuat. Jadi, hal sepele seperti ini kau pasti bisa melakukannya." Yunho mencoba menyemangati dirinya sendiri. Dengan sedikit gemetar ia mulai menaiki teralis balkon. Menjulurkan kaki kirinya ke bawah dengan sebelah kakinya masih memijak celah jeruji balkon. "Hoohoo, ini hal sepele yang bisa melayangkan nyawa." Yunho meringis ngeri. Kedua tangannya mencengkeram jeruji teralis balkon dengan sangat kuat. Hingga rasa kebas dan panas menjalar di telapak tangannya.
Sedikit demi sedikit Yunho mulai menurunkan tubuhnya. Kedua kakinya melayang-layang di udara mencoba menggapai pijakan teralis balkon di bawahnya. "Uwoo..." Jantung Yunho serasa dihantam benda tumpul tak kasat mata hingga berdetak dengan sangat cepat dan sedikit sesak. Astaga, ia hampir terpeleset tadi.
Yunho mencoba mengatur nafasnya agar tubuhnya bisa berdiri seimbang di atas teralis balkon. Jangan ada angin, Demi Tuhan jangan ada angin. Rapalnya dalam hati. Dan Hupp. Yunho mendarat sempurna di atas lantai balkon. "Apa kubilang, aku pasti bisa melakukannya." Ucapnya menyombongkan diri.
"Apa yang kau lakukan dengan bergelantungan di balkon seperti itu?"
Suara itu menginterupsi senyum sombong yang masih terukir di wajah Yunho. Ia lalu membalikkan tubuhnya dan terkejut mendapati sang appa yang sedang duduk di kursi santai yang memang di letakkan di balkon apartemennya. Ohh Shit. Ia berjuang mempertaruhkan nyawa tapi ternyata orang yang ingin dihindarinya itu ada disini. Di depannya. God. Ingatkan ia untuk menghukum istrinya nanti. Gzzzz. "A-aku sedang...mencoba...errr hal ekstrim appa. ." Yunho tertawa sumbang.
"Hal ekstrim?" Siwon membeo. Ia berjalan mendekati putranya sambil mengamati balkon atas dan Yunho secara bergantian. "Kenapa tidak langsung terjun ke lantai terbawah saja? Itu pasti akan lebih memukau bukan?" Siwon menaikkan sebelah alisnya.
"Hhaa. Aku akan mencobanya lain kali." Yunho berucap sinis. Bisa dipastikan ia sudah remuk duluan saat mencapai lantai terbawah. "Apa yang appa lakukan disini?" Ia mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Ini." Siwon menunjukkan koran pagi yang ada ditangannya. "Aku tidak cukup gila untuk melakukan hal ekstrim seperti dirimu putraku. Kau tahu? Aku sudah cukup tua dalam hal itu." Siwon tersenyum manis sambil menepuk bahu tegap Yunho.
Mendengar itu Yunho hanya membalasnya dengan senyum kaku. Ia tahu appanya itu sedang menyindirnya. Tidak sang appa, mertua, bahkan istrinya sekalipun mempunyai lidah tajam seperti itu. Apa disini hanya ia yang masih sangat baik? Ohh astaga. Yunho segera melenggang masuk ke dalam setelah sebelumnya mendengus kesal.
"Nahh! Itu dia suamiku yang tampan." Jaejoong segera beranjak berdiri untuk menyambut Yunho. Kedua tangannya segera memeluk leher Yunho dan melayangkan kecupan kecil di pipi suaminya.
"Ingatkan aku untuk menghukummu Jung Jaejoong." Yunho mendesis pelan di telinga istrinya. Ia memeluk Jaejoong penuh semangat hingga membuat Jaejoong meringis sakit sekaligus sesak.
"Apa kau sedang mencoba meremukkan tubuhku huh?" Jaejoong ikut mendesis diantara ringisannya. Yunho gila. Harusnya tadi ia tidak perlu berakting memeluk mesra seperti ini. Sekarang yang ada tubuhnya bagai dalam cengkeraman beruang besar super gendut. Ini sesakkkhh. Batin Jaejoong merana.
"Yahh! Hentikan... Kalian sangat tidak sopan." Kaki Heechul menghentak-hentak lantai dengan perasaan jengkel. Ia sudah seperti menonton live drama romantis seperti yang ada di film-film. Khh, mereka seperti baru saja dipertemukan setelah berpisah ratusan tahun. Batinnya mendumel kesal.
"Ahh, omeonim. Selamat pagi," Yunho menunduk hormat. "Maafkan ketidak sopananku karena tidak menyapa omeonim terlebih dulu. Dan...bisakah omeonim menunggu diluar? Karena sepertinya aku dan Jaejoong harus mandi terlebih dahulu."
Mata dan bibir Heechul membulat shock. Apa itu tadi katanya? Ia disuruh keluar? "Yahh! Kau sedang mencoba mengusirku?" Heechul memekik marah. Ia tidak terima menantu kurang ajarnya ini mencoba mengusirnya secara halus. Hal itu sangat melukai harga dirinya kau tahu?.
"Umma sudahlah," Kali ini Jaejoong yang mengucapkannya dengan pandangan memohon.
Melihat itu Heechul hanya mendengus sebal sambil membuang muka ke samping kiri. Kedua tangannya dilipat di depan dada. "Aku tidak akan keluar. Titik." Seru Heechul keras kepala. Kalau ia menurutinya itu berarti ia menjatuhkan harga dirinya di depan menantu kurang ajarnya itu. Jadi ia memilih tetap ditempat sampai ia mau keluar dengan sendirinya nanti.
"Baiklah eomonim, kita akan mandi bersama saja untuk mempersingkat waktu. Jja istriku sayang." Yunho dengan semangat segera menarik pergelangan tangan Jaejoong menuju kamar mandi. Mengabaikan lirikan tajam dari Heechul dan tatapan shock Jaejoong.
"Yahh! Apa kau sudah gila?" Jaejoong menuntut dengan suara pelan. Takut-takut jika sang umma mendengar percakapan mereka.
"Tidak ada cara lain. Toh kita sudah menjadi suami istri, jadi cepat buka bajumu."
Heechul melirik gugup ke arah pintu kamar mandi yang kini sudah tertutup rapat. Keningnya mengernyit heran ketika ia mendengar suara-suara berisik dari dalam. "Apa mereka bercanda? Mereka berani melakukan hal itu disaat aku masih ada di dalam kamar mereka? Ohh astaga. Aku bisa gilaaaa." Heechul memekik histeris.
Hingga beberapa menit suara berisik itu tak kunjung berhenti. Dan Heechul mulai mendengar suara air shower yang dinyalakan. Di dukung dengan rasa penasaran, Heechul mulai berjalan mengendap-ngendap mendekati pintu kamar mandi. Ia menempelkan telinganya ke arah pintu. Mencoba mendengar lebih jelas suara-suara itu.
"Akhh. Yunhooooo mmmhhhh..."
Heechul terdiam kaku. Itu suara Jaejoong. Putranya menjerit dan mendesah nikmat seperti itu. Hyaaa! Heechul mencoba menghapus bayang-bayang erotis yang berkeliaran di dalam benaknya.
"Yunho hhhh... hentikan. Yahhh! Ngggghhhhh..."
Heechul menggigit bibirnya resah. Apa yang sedang dilakukan Yunho terhadap putranya sampai Jaejoong menjerit seperti itu?. "Astaga." Heechul menggigit jari telunjuknya dengan gugup. Apa Yunho sedang mencoba memasukkan miliknya ke dalam tubuh Jaejoong? "Hyaaaa..." Heechul menjerit histeris sambil berlari ke luar kamar. Memegang handle pintu dan buru-buru membukanya. Dimana disaat yang bersamaan Siwon yang tidak sabar menunggu pun juga sedang membuka pintu.
Dan...
"Aww."
"Ouchh."
Keduanya melolong sakit sambil memegang kening. Hantaman keras itu membuat mereka terhuyung ke belakang dengan ringisan sakit saat kepalanya mulai berdenyut pening.
"Yahh! Ada apa denganmu huh?" Siwon melotot marah menatap wajah Heechul yang memerah. Ehh? Kenapa dengan Heechul? Kenapa wajah wanita itu tampak memerah merona seperti itu?. Kening Siwon mengernyit heran.
"Ini semua karena salahmu. Dengar saja sendiri sana."
Tubuh Siwon hampir terjungkal ke depan saat Heechul mendorongnya dengan cukup kuat. Ada apa dengan wanita cerewet itu? Memang ia sudah melakukan kesalahan apa coba? Ia bahkan tidak merasa telah melakukan sebuah kesalahan.
Suara debaman terjatuh membuat Siwon terlonjak kaget. Suara apa itu?. Dengan penuh rasa penasaran Siwon juga melakukan hal yang sama seperti Heechul. Mengendap-ngendap dan mencoba menguping lebih jelas gerangan apa yang sedang terjadi di dalam kamar mandi.
"Yunhooo...tidak-tidak... Hyahhh... Ughhhhhh..sakithh."
Nafas Siwon tercekat. Apa ia tidak salah dengar? Diantara suara gemericik air shower ia mendengar dengan jelas desahan itu. Dan itu artinya? Ohh tidak mungkin. Apa mereka benar-benar sedang bercinta sungguhan di dalam kamar mandi?
"Jaeee...Yaaa... Ohhh.. Hmphhhh."
Tubuh Siwon menegang kaku. Itu jelas suara putranya. Jadi mereka sudah benar-benar melakukan hal itu? Hyaaa. Siwon segera lari terbirit-birit keluar kamar. Nafasnya menderu cepat saat ia sudah sampai di luar kamar. Ditutupnya pintu kamar itu dengan sangat keras. Biar saja. Biar saja Yunho dan Jaejoong mendengarnya. Khhh, desahan liar anak muda jaman sekarang benar-benar berisik. Batin Siwon mendumel kesal.
•
•
•
•
Sarapan pagi yang seharusnya dilakukan tepat pukul delapan pagi, kini harus mundur dua jam hanya karena menungu acara mandi dua sejoli yang merupakan pengantin baru di ruangan itu. Ya. Siapa lagi kalau bukan Jung Yunho dan Jung Jaejoong. Entah berapa ronde yang sudah mereka lewati di kamar mandi sampai hampir dua jam lamanya tak kunjung keluar. Dasar anak muda. Rutuk Siwon dan Heechul bersamaan.
Heechul masih diam membisu ketika Jaejoong sudah duduk di sampingnya. Wanita paruh baya yang masih sangat cantik di usianya yang sudah memasuki kepala empat itu hanya menatap putra cantiknya dengan mata memicing tajam karena kesal. Demi Tuhan ini sudah jam 10 lebih. Bagaimana ia tidak kesal kalau seharusnya jam segini ia sudah duduk di meja pimpinan yang ada di perusahaannya. Mulai berkutat dengan beberapa berkas untuk ditangani sebelum melakukan pemotretan sebagai model kosmetik untuk perusahaannya. Amorepacific Corporation, perusahaan kosmetik terbesar di korea yang ada di bawah kepemimpinannya. Untung saja kedudukannya adalah seorang CEO, jadi tidak akan ada yang berani memarahinya hanya karena telat.
Tak jauh berbeda dengan yang sedang dilakukan Jung Siwon saat ini. Lelaki paruh baya yang juga terlihat masih sangat tampan dan berwibawa di usianya yang juga memasuki kepala empat itu tak lepas mengarahkan tatapan kesal ke arah putranya. Pekerjaannya sebagai seorang CEO dari LG Corporation membuatnya harus selalu menampilkan image disiplin waktu setiap harinya. Tapi pagi ini image yang selalu di jaganya itu runtuh seketika karena ulah putranya. Bisa saja kalau ia pergi bekerja terlebih dahulu tanpa menunggu pewarisnya itu. Hanya saja ia tidak ingin putranya berada dalam bahaya jika hanya bersama dengan Heechul, musuh bebuyutannya. Jadi selama saingannya itu berada disini, ia pun juga akan tetap berada disini. Begitu ikrarnya dalam hati.
Dan karena nama kedua perusahaan besar itulah yang membuat Heechul dan Siwon bersaing secara ketat. Seakan tak ingin kalah dari saingannya Siwon juga mengeluarkan produk kosmetik dibawah label perusahaannya. Jadi LG Corporation tidak hanya memproduksi barang elektronik tetapi juga merambah di bidang kesehatan di bawah anak perusahaan bernama LG Household and Health Care. Dari LG H&H meluncurlah produk kosmetik brand yang diberi nama The History of Whoo. Dengan menggunakan konsep rahasia kecantikan dari ratu-ratu dinasti kerajaan jaman dahulu.
Produknya yang unik dengan packing elegan membuat The History of Whoo mulai melejit di pasar Asia. Yang mana hal itu membuat Heechul semakin geram dibuatnya. Meski produknya sudah terlebih dahulu terkenal di berbagai negara. Namun jika ada yang ingin menyainginya tentu ia akan merasa sangat marah bukan?. Ia tidak ingin dikalahkan. Tidak setelah ia selalu menjadi yang nomor dua sejak mereka duduk di bangku sekolah dasar hingga bangku perkuliahan.
Persaingan dan perselisihan antara Jung dan Kim memang sudah terjadi sejak puluhan tahun lalu. Dan selalu seperti itu hingga generasi penerus mereka. Namun sekarang, kebiasaan turun temurun itu telah terpatahkan oleh pernikahan Yunho dan Jaejoong. Yang mana sempat membuat berbagai media gempar karenanya. Banyak spekulasi muncul tentang pernikahan dari keluarga yang saling bermusuhan itu, tetapi semuanya hanya di jawab Yunho dan Jaejoong dengan sebuah kata. Yaitu, Cinta.
Heechul dan Siwon melotot selebar-lebarnya saat mendapati tanda merah, ahh tidak-tidak bahasa manisnya adalah kissmark atau lovebite yang bertengger cantik di leher bagian bawah Jaejoong. Tercetak sempurna dan terlihat sangat kontras dengan kulitnya yang seputih susu. Astaga, yang itu benar-benar asli.
"Ummm... Apa ada yang salah dengan pakaianku?" Jaejoong bergerak tidak nyaman di atas tempat duduknya saat mendapati tatapan intens dari sang umma dan mertuanya. Seingatnya ia sudah memakai pakaian yang layak pakai. Ya meskipun kerahnya sangat lebar karena memang berbentuk V neck. Dan seingatnya ia juga sudah memakai celana yang benar meski sedikit ketat. Lalu apa yang salah?.
"Tidak ada yang salah sayang. Kau sudah sangat mempesona dengan pakaian seperti itu. Mereka hanya terpesona saja melihatmu, jadi tidak perlu khawatir okay?" Yunho mencoba mengukir senyum manisnya. Dengan sedikit gemas ia meremas jemari Jaejoong yang berada di atas meja sebelum kemudian meringis sakit karena mendapatkan dua pukulan yang berbeda.
"Jaga tangan mu itu saat sedang berada di meja makan, menantuku." Desis Heechul tajam.
Heechul memukul tangan Yunho menggunakan kipas tangannya. Wanita itu memaksakan senyumnya yang semakin terlihat menakutkan. Bagaimana tidak ngeri jika bibirnya menyunggingkan senyum tapi kedua matanya melotot tajam. Melihat itu membuat Yunho bergidik ngeri. Mertua yang seram. Serunya dalam hati.
"Apa itu masih kurang huh?" Siwon berucap sinis dengan tangan yang menunjuk-nunjuk leher Jaejoong setelah sebelumnya memukul bahu Yunho sepenuh hati. Bisa-bisanya putranya itu berlovey dovey ria tanpa rasa bersalah sedikitpun. "Apa yang sudah kau buat itu huh?" Siwon menyindirnya sambil berdecak kesal.
"Itu tanda cinta. Apa ada yang salah? Ahh, apa itu masih kurang? Kalau begitu akan ku tambah lagi nanti, emm mungkin di tengkuknya, dagunya, di bawah telinganya, ahh atau di belahan-..."
"Yahhh!" Heechul dan Siwon berteriak kesal menghentikan ucapan Yunho yang semakin melantur.
"Buah jatuh tidaklah jauh dari pohonnya. Appanya saja sudah pervert jelas sekali kalau anaknya pun akan semakin double pervert." Heechul melirik sinis ke arah Siwon yang duduk tepat di seberang Jaejoong. Sedangkan posisinya sendiri berhadapan dengan Yunho.
"Kau..." Siwon mendesis marah. Heechul memang pintar sekali menyulut amarahnya.
"Umma... Abeonim... Tidak bisakah kita hentikan perdebatan konyol ini? Aku sudah sangat lapar dan lelah." Jaejoong mencoba menengahi perdebatan itu.
"Jelas saja kau lelah, kau melakukannya selama berjam-jam." Siwon dan Heechul berseru kompak.
Mendengar itu Jaejoong menelan paksa salivanya dengan gugup. Sedangkan Yunho berusaha sekuat tenaga menahan tawa kerasnya yang ingin meledak. Padahal itu baru permulaan dengan lovebite, tapi reaksi mereka sudah meledak kesal seperti itu. Bagaimana kalau ia menampilkan yang lebih ekstrim? Apa mereka akan terdiam shock dengan mata melotot horror? Ahaaahaaa. Siapa suruh mengganggu kedamaian pagi Jung Yunho dan Jung Jaejoong. Yunho menyeringai kecil.
Yunho dan Jaejoong membiarkan kedua orang tuanya itu untuk mengambil makanan terlebih dahulu. Bagaimana pun mereka tetap harus mengutamakan kesopanan dengan membiarkan yang tua mendahuluinya bukan?.
Yunho melotot kesal ke arah istrinya yang dengan santai mengambil makanannya sendiri tanpa memperdulikan dirinya. Apa lelaki cantik itu lupa kalau perannya sebagai seorang istri harus melayani suaminya terlebih dahulu? Astaga Jung Jaejoong, kau bisa membuat mereka curiga.
"Jung Siwon. Jangan memulainya lagi." Heechul memekik kesal. Kedua matanya memicing tajam menatap wajah heran Siwon.
"Apa maksudmu?" Siwon ikut melotot tidak terima.
"Kenapa kau menginjak kakiku huh?" Sanggah Heechul tidak terima. Wajahnya memerah menahan kekesalan. Tangan kanannya sudah melampiaskan kekesalan itu dengan mencengkeram sendok makannya.
Yunho menegang kaku. Jadi itu bukan kaki Jaejoong? Matilah kau Jung. Ucapnya sakartis dalam hati. Dengan sengaja ia menjatuhkan sendoknya dan menengok di bawah meja tepat dimana kakinya sedang bertengger manis di atas kaki ramping halus yang sedang menggunakan sepatu mahal Stiletto dengan model tali yang bertabur berlian. Ohh astaga. Ia sudah salah menginjak kaki mertuanya. Yunho mengedarkan pandangannya ke arah kaki Jaejoong yang terlipat di atas kursi. Aishh. Sial.
"Apa sendokmu beratnya sampai berton-ton? Kenapa kau tak kunjung selesai mengambilnya?"
Yunho yakin itu suara mertuanya. Dan sepertinya ia sudah di curigai. Ohh Gzzz. Sial sekali ia hari ini. "Sendoknya hilang omeonim, tidak ku temukan di kolong meja." Jawab Yunho cepat sambil menginjak sendoknya. Sebisa mungkin menyembunyikan benda itu dari pandangan menyelidik sang mertua.
"Ohh benarkah?... Khh bagus, sekarang menantuku pun sangat pintar berakting." Sinis Heechul. "Jaejoongie? Kau sedang tidak menduduki sendok juga kan? Kenapa cara dudukmu aneh seperti itu?" Ucapnya sambil memicing curiga menatap putra cantiknya.
"Pantatku sakit umma." Desah Jaejoong jujur. Ia mengusap-ngusap pinggulnya sambil mendesis tidak nyaman. Yunho sialan. Umpatnya dalam hati ketika rasa nyeri itu semakin terasa.
Mendengar itu Siwon tersedak coffee Latte yang sedang diminumnya. Wajah tampannya bahkan sampai memerah hingga ke telinga. Ohh astaga. Menantunya itu polos atau apa?. Sedangkan Heechul menatap Jaejoong dengan pandangan yang sulit di artikan. Rasanya ia ingin membenturkan kepalanya ke atas meja. "Joongie, umma peringatkan kepadamu. Jangan pernah mengatakan hal seperti itu saat kita sedang ada di meja makan. Itu sangat jorok kau mengerti?"
"Iya umma. Aku takkan mengulanginya lagi." Jaejoong menjawab lirih. Kedua matanya memicing ke arah Yunho yang sejak tadi menutup bibirnya rapat-rapat hanya karena menahan tawa.
Siwon berdehem pelan. Ia lalu membersihkan bibirnya yang sedikit basah. "Astaga. Sebentar lagi aku ada meeting. Appa pergi dulu." Pamitnya buru-buru pergi.
"Ahh. Sebentar lagi aku juga akan ada pemotretan. Umma pergi dulu." Buru-buru Heechul bangkit berdiri dan mengecup puncak kepala Jaejoong. "Jung Siwon, tunggu." Teriaknya sambil berlari kecil mengejar langkah kaki Siwon yang sudah menjauh.
"Phuahhahaa..." Yunho segera meledakkan tawa yang sejak tadi ditahannya saat appa dan mertuanya sudah tidak tampak di belokan tangga. Ia mulai memegangi perutnya yang terasa sedikit kram. Melihat wajah kesakitan Jaejoong dan reaksi mertua juga sang appa, tak ayal membuatnya tergelak.
"Tertawa saja terus... Tertawalah sampai lidahmu itu mati rasa." Jaejoong bersungut-sungut marah. Ia sudah hampir melayangkan sendoknya ke arah Yunho sebelum mendapati lelaki itu sudah berlari menjauh darinya. "Jung Yunho sialan. Awas kau.!" teriaknya marah.
•
•
•
•
TBC.
Notes :
1. Untuk judul, meski agak melow tapi ini fanfic gak akan saya buat melow. Suer deh. Jadi abaikan saja judulnya. Saya pakai itu karena saya suka *plakk*. Konfliknya juga gak akan saya buat berat plus rumit, cukup FTM aja yang kayak gitu. Hoohoohoo.
2. Untuk isi cerita tentunya banyak scene yunjae karena maincast sudah saya sebutkan YUNJAE. yeayy *tebar confetti*, tapi karena tujuan mereka biar Si-Chul damai gak berantem mulu jadi akan ada beberapa scene tentang mereka ber-empat. Dan gak akan ada pair SiChul ya, karena mereka udah jadi besan dear. He'emb, Si-Chul single parent dear. Ngahaahaa.
Untuk pertanyaan lain akan terjawab seiring berjalannya chapter. Kan tujuan saya selain menghibur juga mau bikin penasaran kalian. *jingkrak2*
Nahh.. Kalau ada pertanyaan lagi silahkan ditanyakan lewat repiu atau pm juga boleh.
Sebelumnya terimakasih untuk readers yang berkenan membaca, para reviewers yang berkenan meninggalkan jejak, dan semua yang sudah memfollow dan memfavoritkannya, jeongmal gamsahamnida *bow*.
*Ketjup banjir* untuk reviewers tercintahh.. Gamsahamnida dear untuk semangat dan reviewnya.
Spesial thanks for :
√ maymayun5 √ 5351 √ shipper89 √ Yikyung √ Jaenna √ Rsza √ Reanelisabeth √ apine shim √ poppo bubbleboo √ Natsumi Shinju √ Mickeyrang √ anakyunjae √ Shim Chwang √ chayurieza √ Yanie √ My beauty jeje √ jjbear √ ranum92 √ Minkyu √ jejeni √ JonginDO √ nabratz √ misschokyulate2 √ yunjaeboo √ Jaejoongiewife √ aismamangkona √ azahra88 √ ShinJiWoo920202 √ kimjaejoong309 √ yeojakim2 √ maharanisafitri91 ms √ Beserta para Guest.
Cukup sekian.. terimakasih sebelumnya untuk antusiasme para readers *bow*
Keep RnR ... And last... Wanna tell me what do you feel about this chapter?...
