Hongbin masih tersenyum-senyum sendiri sambil menatap layar handphonenya itu. Ia dan Wonshik selalu bertukar pesan sejak malam itu. Hongbin juga sering mengajak Wonshik ke rumahnya, begitu juga dengan Wonshik. Mereka juga sering belajar bareng di perpus, makan bareng, juga kadang Wonshik mengajak Hongbin berkeliling kota di free-time mereka. Hongbin merasa nyaman di dekat Wonshik, dan begitu juga sebaliknya.
Sanghyuk memperhatikan temannya itu dengan penuh penasaran. Ia heran kenapa Wonshik melarangnya ikut setiap Wonshik dan Hongbin pergi. Padahal kan ia hanya ingin membantu agar keduanya semakin dekat. Agar hyungnya itu cepat menyatakan cintanya pada Hongbin. Ia tau Wonshik menyukai Hongbin sejak mereka bertemu. Ia juga sudah kenal lama dengan Wonshik, dan Wonshik bukan tipe yang mudah jatuh cinta. Bahkan ia bosan karena setiap malam Wonshik akan menerobos masuk ke kamarnya dan menanyai tentang Hongbin. Hongbin ngapain aja di kelas, apa Hongbin selalu tersenyum saat menerima sms nya, apa yang Hongbin makan siang tadi, apa kesukaan Hongbin, apa Hongbin menanyai dirinya pada Sanghyuk, dll. Hyuk mulai bosan hingga ia harus bersusah payah mendorong Wonshik keluar dari kamarnya.
Sanghyuk mencoba mengintip isi pesan temannya itu secara diam-diam, sayangnya Hongbin menyadari itu dan dengan cepat membalikkan layar handphonenya.
"Oh ayolah! Aku tidak akan membacanya dengan keras!"
"Ini rahasia!"
Sanghyuk tertawa mengejek, "apa jangan-jangan kalian sedang... sexting?" Ia memainkan alisnya pada Hongbin.
Hongbin segera menutup mulut Hyuk dan memelototi Hyuk.
"Sssh! Kami tidak-... aah! Sudahlah! Pokoknya kami tidak sssssexting!" Kata Hongbin pelan dengan wajah merah.
Hyuk menertawai reaksi Hongbin lalu ia memukul pundak Hongbin pelan, "ia juga gak masalah. Kau menyukainya kan? Kenapa tidak-mmmhnngghh"
Hongbin menutup mulut Hyuk lagi sambil memperhatikan ke sekelilingnya. Tapi sepertinya tidak ada yang peduli dengan apa yang mereka bicarakan, semua sibuk dengan kesibukan masing-masing.
"Ssshhhh!"
"Dia juga menyukaimu, tau!"
Itu membuat Hongbin semakin merah padam. Ia menggigit bibirnya dengan kuat menahan dirinya agar tidak menjerit kuat.
"Ngomong-ngomong.. itu Wonshik hyung. Nah lihatkan! Dia bahkan rela datang ke kampus demimu walau dia lagi free" Sanghyuk bersiul sambil melambaikan tangannya pada Wonshik.
"Yo Hyuk! Hai Hongbinnie"
Hyuk tidak bisa menahan tawanya melihat ekspresi Hongbin yang malu-malu.
Wonshik duduk di samping Hongbin dan menyenggol pelan pundaknya, "kau sudah selesai kan? Apa ada jadwal lagi?"
Hongbin menggeleng cepat.
"Well, let's go!" Wonshik menarik tangan Hongbin dan membawanya ke mobilnya.
"Yaaah! Kalian meninggalkanku?" Rengek Hyuk yang mengekor di belakang mereka.
"Hyukkie, kau pulang saja duluan. Sorry, aku dan Hongbin ada kencan"
Jantung Hongbin berdegup kencang, mendengar hal itu membuatnya semakin tersipu malu. Ia mencoba menahan dirinya untuk melompat kegirangan. Bahkan ia tidak mendengar Hyuk yang terus menggoda mereka. Yang ia tau kalau dia sudah berada di dalam mobil Wonshik. Dan ia membiarkan Wonshik memasangkan seat belt nya.
"Hello Binnie" Wonshik menjentikkan jemarinya di depan wajah Hongbin.
Hongbin tersentak dan kaget saat wajah Wonshik di depannya. Ia bahkan bisa melihat jelas bintik komedo di hidung Wonshik. Hongbin segera berpaling ke jendela sambil mencoba mengatur irama jantungnya yang semakin lama semakin cepat itu. Ia merasa sesak dan merasa suasana di mobil semakin panas. Ia mendengar kekehan Wonshik dan tak lama kemudian suara gemuruh mesin mobil Wonshik pun terdengar.
"Kau besok free?"
Hongbin memiliki energi untuk mengangguk pelan.
"Good..."
Hongbin tidak perlu bertanya kemana Wonshik akan membawanya. Ia percaya pada Wonshik. Dan ia menikmati setiap waktu bersama Wonshik.
Setelah perjalanan yang cukup panjang, Wonshik akhirnya memarkirkan mobilnya di sebuah resort. Ia membangunkan Hongbin dengan lembut dan mengajaknya turun. Ia juga menyandang tas jinjingnya lalu menarik tangan Hongbin dan berjalan ke arah resepsionis.
"Eh? Kita... mau ngapain?" Tanya Hongbin dengan sedikit panik.
Wonshik hanya menyeringai padanya. Lalu ia berbicara pada wanita resepsionis itu dan memberinya kunci.
"W-wonshik-ah? Untuk apa kunci itu? Kita tidak.. umm..."
"Kita holiday satu malam disini Bin-ah?
"Eh?"
"Tenanglah, aku sudah minta izin pada umma mu"
"Kau?" Hongbin berhenti seketika dengan wajah yang syok.
"Surprise?"
"Apa dia tidak marah? Atau... Hey! Kau bohong padanya?"
Wonshik melepas genggamannya dan berbalik, bahunya berguncang hebat sambil menahan tawanya itu.
Hongbin menggerutu sambil memukuli punggung Wonshik.
"Wonshik-ah! Kau nakal!"
Wonshik segera berbalik dan menahan kedua tangan Hongbin, ia menaikkan alisnya, "enggak! Umma mu itu menyayangiku makanya dia percaya padaku!" Wonshik menjulurkan lidahnya ke arah Hongbin, dan terkikik saat Hongbin menggerutu lagi.
"Kau butuh sedikit refreshing Bin-ah" kata Wonshik sambil mendekati wajahnya. Mata Hongbin membesar akibat perilaku Wonshik barusan yang membuat jantungnya juga tak karuan.
Lalu Wonshik menariknya menuju kamar mereka.
Hongbin dengan bosan menukar channel di tv. Tidak satu acara pun ia tertarik. Tak berapa lama, Wonshik keluar dari kamar mandi dan Hongbin berpura-pura tertarik menonton kartun di depannya.
"Hongbin? Kau mau berjalan di sekitar pantai?"
Mendengar itu membuat Hongbin langsung berdiri tegak dengan senyum lebarnya.
"Yeah! Itu lebih baik!"
Wonshik mengangguk, ia menyisir rambutnya yang masih basah lalu mereka keluar dengan bergandengan tangan.
Mereka menikmati sunset dengan berjalan di tepi pantai. Hongbin tertawa dengan leluconnya Wonshik dan kadang Hongbin tersipu malu setiap Wonshik meremas tangannya dan berbisik ke telinganya mengatakan betapa Wonshik sangat menyukai suara tawa dan lesung pipitnya itu. Hongbin berpikir apakah Wonshik bisa mendengar irama jantungnya yang cepat itu.
Tiba-tiba Wonshik menarik kedua tangan Hongbin dan menarik tubuhnya. Ia meletakkan dahinya ke Hongbin dan menatapnya dengan lembut.
"Aku senang bisa mengenalmu, Binnie" bisiknya dengan suara paraunya.
Hongbin menahan senyumnya sambil mengingatkan dirinya untuk tetap tenang.
"Aku ingin terus bersamamu, Lee Hongbin"
Hongbin merasa dunia di sekitarnya berhenti, ia hanya merasakan hangatnya tubuh Wonshik dan pandangan lembut Wonshik dan irama jantungnya yang cepat dan mulut Wonshik yang dengan pelan menyentuh bibirnya dan saat itu Hongbin perlahan menutup kedua matanya, merasakan kedua kakinya yang mulai terasa lemah. Genggaman Wonshik di pinggang Hongbin mengerat, Hongbin menciumnya kembali sambil menarik lengan baju Wonshik. Ombak pantai yang lembut yang perlahan menyapu kaki mereka tidak membuat mereka menghentikan ciuman mereka.
Tidak ada yang tau berapa lama seperti itu. Perlahan gerakan mulut mereka semakin pelan lalu berhenti. Wonshik menangkup wajah Hongbin dan dengan lembut ia berbisik ke wajah Hongbin.
"I love you Hongbin-ah"
Wonshik tau ia tidak membutuhkan jawaban lagi dari Hongbin. Hongbin tersenyum lebar sambil mengalungkan kedua lengannya ke leher Wonshik. Ia membalas Wonshik dengan ciuman lagi. Itu membuat Wonshik dengan cepat memegang pinggul Hongbin dan berusaha untuk tidak jatuh. Malam itu, mereka menghabiskan malam mereka bersama dengan penuh cinta.
