Kuroko no Basuke Tadatoshi Fujimaki

Naruto Masashi Kishimoto

Portal Dimensi AutumnSpring98

Warning : AU-Canon (?), OOC, typos, little bit romance, fantasy dan humor semau author. Saran dan kritik sangat diterima. Flamers tanpa akun saya hapus.

A/N : Holla! Ketemu lagi! Betewe cuma mau ngasih tau kemarin kan Tenten ngeralat ucapannya ke Kise. Nah maksud saya bukan alis, tapi bulu mata. Kan bulu mata Kise emang cantik ya? Ehehe! Gomen! Selesai sudah bacotnya. Happy reading!

xXx

"Kenapa kau bisa ada di sini, nanodayo?"

Di hadapan Midorima berdirilah Tenten dan Kise dengan pose berbeda-beda. Tenten yang sedang mengelap keringatnya dan Kise yang terus berkedip seperti boneka barbie.

"Oi, siluman lumut! Kunai-ku mana?" tanya Tenten menatap Midorima.

TWICH!

Julukan Tenten lagi-lagi membuat Midorima mengeluarkan perempatan di wajah tampannya. "Berhenti memanggilku seperti itu, nanodayo," ujarnya tak suka.

"Baiklah, baiklah~" Tenten berdehem kemudian tersenyum manis pada pemuda di hadapannya. "Kunai-ku mana, Midorima-sama~?" lanjutnya dengan nada lembut yang dibuat-buat.

Melihat senyuman Tenten entah kenapa membuat wajah Midorima sedikit memanas.

'Astoge, ternyata dia manis juga.' batin Takao sambil memperhatikan Tenten.

"Oi, kau mendengarku?" Tenten menjentikkan jari di hadapan Midorima.

"Tch, apa matamu rabun?" ujar Midorima sarkastik.

"Dimana?! Aku tak bisa tau jika kau tak memberi tauku, lumut!"

Midorima menghela napas lelah kemudian pergi dari hadapan Tenten. "Takao, kita pergi―"

Tenten buru-buru menghalangi jalan yang akan Midorima lewati dengan merentangkan kedua tangannya. "Eits, kau tak bisa pergi sebelum mengembalikan kunai-ku, Midorima-sama!" kali ini Tenten mengembangkan senyum kepuasan.

"Takao,"

Bagai anjing yang mematuhi majikannya, Takao segera menyerahkan sebuah benda kepada Tenten yang ia ambil saat benda itu terjatuh.

"Terimakas―" mendadak Tenten tak melanjutkan ucapannya ketika melihat benda yang diterimanya bukanlah sebuah kunai. "APA? KENAPA BISA BERUBAH JADI GULUNGAN?!" serunya tak percaya.

"Ehm, tadi pisau milikmu sempat terjatuh dan tau-tau malah berubah menjadi gulungan kertas itu." jelas Takao.

"Begitu ya."

Tenten meletakkan gulungannya di sebuah bangku pinggir lapangan kemudian membuat segel tangan, "Kai!" ucapnya. Gulungan itupun terbuka, namun ...

"KOSONG?" ujar koor mereka berempat.

"K-Kenapa bisa?" tanya Tenten pada dirinya sendiri. Wajahnya tampak kebingungan.

"Memangnya gulungan itu berisi hal penting ya?" tanya Takao.

"Di dalam gulungan ini tadinya aku menyegel alat ninja, dimana aku bisa menyegel musuh dalam sekejap. Tapi, entah kenapa alat itu malah hilang, padahal sebelumnya aku sudah benar-benar menyegelnya dalam gulungan ini," jelas Tenten.

"Mungkin saat Tenten-cchi tersedot portal, segel pada gulungan itu terbuka lalu kemudian alat ninjamu terlempar asal," ujar Kise yang sudah berhenti berkedap-kedip karena capek.

"Dia benar, karena aku juga pernah mengalaminya, nanodayo."

"Midorima-cchi ..."

"Shin-chan ..."

"KAU PERNAH MEMASUKI PORTAL DIMENSI-SSU?!" seru mereka berdua heboh. Takao tidak memakai akhiran 'ssu' seperti Kise, tentunya.

Midorima dan Tenten sweatdropped mendengarnya.

"Jadi, kau juga pernah memasuki portal dimensi ya?" tanya Tenten menatap Midorima.

"Bukan urusanmu, nanodayo."

"Oh, ayolah! Kau tidak bisa ramah sedikit padaku ya?" ujar Tenten manyun. "Dan namaku Tenten bukan nanodayo!"

"Itu semacam kata favoritnya, bukan nama orang, Panda," jelas Takao.

"Sudah kubilang―ah, sudahlah, terserah!" Tenten menghela napas kemudian kembali menatap Midorima. "Jika kau tau sesuatu tentang portal dimensi, tolong beritahu aku! Aku ingin mencari alat ninja itu lalu kembali ke tempatku."

"Tidak―"

"Kumohon!" potong Tenten dengan mata bercermin-cermin―anti mainstream.

"Ayolah bantu dia, Midorima-cchi. Kau tidak kasihan ya? Dia juga ingin berkumpul dengan orangtua dan sahabatnya," ujar Kise.

"Dia itu sebenarnya ingin membantumu, Panda. Tadi saja ia membaca buku ini, yah, mungkin untuk mencari info lebih banyak." Takao memperlihatkan buku tadi ke hadapan Tenten dan Kise.

"Bakao!"

"Ehehe, gomen. Tapi sekali-kali kau harus membuang sifat tsundere-mu, Shin-chan. Bagaimana jika adikmu yang berada di posisinya?"

Midorima menghela napas, membenarkan letak kacamatanya yang sama sekali tak melorot kemudian berkata, "Baiklah. Aku akan membantumu. Tapi bukan berarti aku peduli padamu, nanodayo."

"Benarkah?! Arigatou gozaimasu! Kau baik sekali, lumut, eh maksudku Midorima-san!" seru Tenten riang.

"Ngomong-ngomong kalian pergi ke sini naik apa? Kenapa tiba-tiba sudah berada di lapangan sekolah kami?" tanya Takao bingung.

"Ah iya, ssu! Tadi itu kekuatan apa?! Aku saja heran kenapa tiba-tiba sudah berada di sini." Kise menatap Tenten penasaran.

"Jadi itu alasanmu berkedap-kedip seperti tadi?" tanya Tenten.

"Ehehehe, begitulah."

"Itu namanya Shunshin no Jutsu, teknik perpindahan tempat dengan cepat. Tapi teknik itu tak seberapa jika dibandingkan dengan teknik milik Nidaime-sama dan Yondaime-sama," jelas Tenten. "Jangan tanyakan siapa mereka padaku. Pokoknya mereka itu shinobi terhebat di desaku!" tambahnya ketika melihat gelagat Kise yang seperti ingin menanyakan hal itu.

"Ehehe, kau pandai membaca gelagat seseorang ya!" ujar Kise nyengir.

"Jadi sekarang bagaimana?" tanya Tenten pada Midorin.

"Bagaimana apanya?" Midorima malah balik bertanya.

"Itu ... Bagaimana caranya kau membantuku? Maksudku kapan?"

"Jika aku tidak sedang sibuk, nanodayo."

"Eh? Kupikir hari ini." Tenten sepertinya kecewa.

"Untuk sementara waktu, bagaimana kalau kau tinggal di apartemen Shin-chan saja? Dia itu sebenarnya kesepian lho," ujar Takao.

"Aku menolak, nodayo." Midorima memberikan tatapan kematian pada si Bakao.

"Sudahlah. Lagipula aku bisa tidur di luar―"

"JANGAN!" seru Kise cepat. "Midorima-cchi, aku sejuta―"

"Setuju," ralat Takao.

"Iya, maksudku aku setuja, eh, setuju dengan usulan Takao-kun. Lagipula kau kan pernah memasuki portal, siapa tau kau bisa berbagi pengalaman dengan Tenten-cchi."

"Tch, aku bukan kau, nanodayo."

"Ayolah, Shin-chan. Aku tau kau sebenarnya kesepian. Buktinya kau selalu memintaku tinggal di apartemenmu."

"Benarkah? Midorima-cchi kau homo." Kise berkata polos seperti Kuroko.

Hidup KasaKise! Lho?

TWICH!

TWICH!

Berbagai perempatan sudah muncul di kening si megane. Bahkan ia sudah berkeinginan melempar dua pemuda urusai itu ke ring basket SMA Rakuzan seperti Takao.

"Dengan ini sudah diputuskan bahwa si Putri Panda akan tinggal bersama di apartemen milik Pangeran Wortel Bermegane. Dan jika Pangeran Wortel Bermegane menolak, maka saya sebagai partnernya akan berhenti membantu dia mencarikan lucky itemnya. Bagaimana, saksi?" tutur Takao menatap Midorima, Tenten dan Kise.

"SAH, SSU!" seru Kise lantang.

PROK ... PROK ... PROK ...

Mereka itu ... menikah atau apa?

xXx

"Saat kita memasuki portal, bukankah ada seorang gadis yang ikut tersedot ke dalam?" seorang pria bersurai cokelat bertanya pada si lawan bicara yang tengah sibuk menikmati minumannya.

"Kau benar. Dia Tenten, salah satu murid didikan Gai," jawab pria bersurai hitam―si lawan bicara.

"Lalu dimana dia sekarang? Kenapa dia tidak bersama kita?"

"Tch, kau ini banyak tanya. Sebelum memasuki portal, kita kan memiliki tempat yang akan dituju, sedangkan dia tidak. Jadi mungkin saja dia asal terlempar ke dimensi lain."

"Pasti dia kebingungan. Lalu bagaimana nasib Konoha ya?"

"Tenang saja. Mereka semua akan baik-baik saja. Kita sudah mengorbankan diri untuk tetap tinggal di tempat ini agar mereka selamat dari proyeksi Mugen Tsukuyomi Madara."

"Tapi, tetap saja ini terlarang kan? Kita seperti dua shinobi pengkhianat."

"Biarlah..."

xXx

Karena Takao mengancam tidak akan membantu mencarikan lucky item untuknya lagi, pada akhirnya Midorima menyetujui Tenten untuk tinggal di apartemen miliknya. Lagipula kan hanya sementara, pikirnya.

Tenten terkagum-kagum melihat isi apartemen Midorima. Ruangannya luas dengan khas anak muda pecinta basket. Tak banyak barang, selain televisi layar datar, rak buku, sofa, meja berkaki rendah, dan kulkas. Sederhana tapi nyaman, begitulah menurut Tenten.

"Karena kamar di apartemenku hanya ada satu, kau tidurlah di sofa, nodayo."

"Umm, b-baiklah. Tapi, apa aku boleh meminta ... umm ... itu ... meminta minum?!"

'Oh, siyal! Kenapa aku malah mengatakan 'minum' sih? Padahal kan aku lapar...' keluh Tenten dalam hati.

Midorima melangkahkan kaki menuju dapur, kemudian dalam beberapa menit ia kembali membawa satu cup ramen instan dan sebotol minuman. "Bukannya aku peduli padamu, nodayo. Tapi aku tak mau repot mengurusi kematianmu," ujarnya sadis.

"K-Kematian?" Tenten mangap shock.

"Aku tak mempan kau bohongi, nodayo." Midorima meletakkan makanan dan minuman tersebut di atas meja berkaki rendah, kemudian berlalu pergi.

"Kalau hanya kelaparan, aku tak akan mati. Lagipula kata-katamu itu kejam sekali, tau!" gerutu Tenten merengut tak suka.

Midorima mengabaikan gerutuan Tenten. Pemuda itu memasuki kamar pribadinya kemudian mengeluarkan sebuah kotak kayu bertekstur halus dari laci meja belajarnya.

"Apa dia menggunakan semacam jurus teleportasi ninja untuk sampai ke tempat ini? Ataukah ... oleh benda ini?" Midorima mengeluarkan sebuah batu kristal bening dari kotak kayu tadi. Di dalam kotak itu juga terdapat sebuah kunai dan shuriken.

"Kau ..."

"Kenapa kau masuk ke kamarku, nodayo?!" ujar Midorima buru-buru menyembunyikan benda rahasianya.

"K-Kenapa kau memiliki benda itu juga?" tanya Tenten mengabaikan pertanyaan Midorima.

"Bukan urusanmu, nanodayo. Pergilah."

"Tidak! Aku butuh penjelasan, karena sebenarnya kristal seperti itu yang menyebabkan aku bisa tersesat ke sini."

Midorima menatap Tenten cukup lama, kemudian menghela napas. "Ini lucky item yang kubeli dari suatu tempat. Tapi aku juga tak tau bahwa kristal ini merupakan pembuka portal dimensi."

"Jadi, kau juga pernah masuk portal karena kristal itu?"

Midorima hanya mengangguk.

"Lalu, saat kau membuka portal, kau tersesat di dimensi mana?"

"Es," jawabnya singkat, padat dan jelas. "Jangan meminta aku untuk menceritakannya, karena aku tak ingat."

"Memangnya siapa juga yang mau bertanya seperti itu!"

Midorima menaikkan kacamatanya yang sekali lagi tidak melorot. "Jadi, ada apa kau ke kamarku, nodayo?"

"Emmm, tak tau?" ujar Tenten menggaruk-garuk pipinya, bingung. "Ya sudah lah. Aku keluar ya. Oyasummi!"

Midorima menatap kepergian Tenten dengan tatapan heran.

"Hoi!"

Midorima berjengit mendengar suara seseorang di kamarnya.

Hey, tidak ada seseorang selain dirinya di kamar ini kan?

"Midorima-cchi, di sini!"

TWICH!

Tampaknya sekarang Midorima sudah tau siapa suara orang-orang itu. Pemuda itu melangkah dan membukakan pintu yang menghubungkan kamarnya ke balkon.

Nah kan benar! Begitu terbuka, ada dua orang pemuda yang asyik bergelantungan di dahan pohon dekat kamarnya.

"Takao? Kise?"

"Yoo! Selamat malam! Kami datang untuk melihat keromantisan pengantin baru kita," jawab mereka serempak.

Dan Midorima harus mundur ketika melihat gelagat dua orang pemuda berisik itu akan menerobos pintunya.

SWING!

SWING!

BRUK!

"Yosh! Berhasil!" Takao mendarat sempurna tanpa terjatuh atau menabrak sesuatu.

Lain dengan Kise yang tubuhnya terpental akibat menabrak dinding kamar temannya. "Hidoi, ssu~ Kenapa Midorima-cchi meletakkan tembok kampret ini di hadapanku?" protes Kise sembari mengusap-usap jidatnya. Untung bibirnya tidak monyong gara-gara tabrakan ekstrim itu.

"Itu salahmu, nodayo," jawab Midorima tak peduli.

"Oi, Shin-chan! Jadi benar ya kakek buyutmu itu seorang ninja?"

Midorima menoleh ke arah Takao dan mendapati pemuda itu sedang sibuk mengacak-acak kotak kayu rahasianya. Segera saja pemuda penembak jarak jauh itu berlari ala missdirection Kuroko.

"Eh? Aku baru tau kalau kakek buyutmu seorang ninja. Pantas saja Midorima-cchi hampir tau tentang ninja," ujar Kise menghampiri kedua pemuda itu.

"Aku hanya membaca sejarahnya saja. Dan benda itu, aku menemukannya di suatu tempat, nanodayo."

"Lalu kristal ini?" tanya Takao sembari memperlihatkan kristal yang sedang dipegangnya.

"Kembalikan Takao! Itu lucky itemku," pinta atau perintah Midorima tegas.

"Heh? Benarkah? Bagaimana kalau ..." Takao mengangkat tangan kanannya ke udara, kemudian ...

Midorima melebarkan matanya ketika melihat kristal yang dipegang Takao digunakan untuk menggambar pola abstrak di udara. "Takao bodoh, jangan!" serunya kencang.

Midorima langsung merebut kristal tersebut dan membentuk pola lain untuk mencegah terbukanya portal dimensi. Namun sayangnya sudah terlambat, karena sebuah pusaran angin berhasil menghancurkan pola yang dibuat Midorima dan akhirnya menyedot mereka bertiga masuk menuju dimensi lain.

.

.

.

TBC

.

.

.