Am I Late?
Chapter 1
Disclaimer: BTS milik themselves, agensinya, dan juga Tuhan YME. saya hanya meminjam nama saja.
.
.
.
.
.
.
.
Enjoy
._.v
.
.
.
.
.
.
.
"Taehyung-ie, turunlah, ada tamu," panggil Eommanya, setengah berteriak.
"Ah, ne, Eomma, aku akan berganti pakaian dulu," dia membalas, setengah berteriak pula. Dia bergegas megambil kemeja putih polosnya.
"Tae," Eommanya memanggil.
"Ne, Eomma," Taehyung membalas seraya mengancingkan kancing taerakhir kemejanya. Dia menuruni tangga, setengah berlari.
Sesampainya disana, dilihatnya orang tuanya duduk berseberangan dengan sang Tamu. Dua orang dewasa dan satu anak lelaki.
"Oh, Annyeonghaseyo, Ahjumma, Ahjussi, Kim Taehyung imnida, dan kau, uh—annyeong?" ucap Tahyung sambil menunjuk lelaki yang duduk di sebelah—Eommanya? Entahlah, Taehyung tak tahu.
Lelaki itu sontak berdiri.
"Annyeonghaseyo, Jeon Jungkook imnida," tersenyum. Gigi kelincinya terekspos.
Imut, batin Taehyung.
Keduanya duduk, berhadapan.
"Tae, mereka sekarang jadi tetangga kita, kemarin mereka pindah, rumahnya di sebelah rumah berwarna hijau," Eommanya menjelaskan.
Berarti selang 5 rumah dari sini, Dia membatin.
"Kalau boleh tahu, Taehyung-ah, kau kelas berapa?" Eomma Jungkook bertanya. Sedang Jungkook hanya memperhatikan Taehyung. Sedikit terpaku.
"Aku kelas 9, Ahjumma," Taehyung menjawab dengan senyuman lebar. Memamerkan rectangle smile khasnya.
"Jungkok dan Taehyung akan bersekolah di sekolah yang sama, bukan? Besok jemput dia, kalian berangkat bersama, " usul Appa Taehyung.
"Ah, ide yang bagus, besok jemput dia ya, Tae," Eomma Taehyung menyetujui.
"Taehyung biasa naik bus untuk berangkat ke sekolahnya, tidak apa-apa kan, Jungkook-ah?" tambahnya.
"Uh, maaf merepotkan," Jungkook menunduk, malu.
"Tidak, tidak sama sekali, iya kan, Tae?" Eomma Taehyung berucap.
"Besok kita berangkat bersama, ya," Taehyung mengiyakan perkataan Eommanya.
"Baiklah, kami pamit dulu, sudah malam," Appa Jungkook menyahut.
Mereka beranjak dari tempat duduk. Berjalan menuju pintu depan.
Jungkook melamun, pipinya bersemu samar, entah kenapa.
Aku besok berangkat bersama Taehyung-sunbae, BESOK AKU AKAN BERANGKAT BERSAMA SUNBAE GANTENG! Jungkook bersorak dalam hati.
"… Kook, Kookie, halo, Jungkook? Taetae kepada Kookie?" Taehyung mengibaskan tangannya di depan muka Jungkook.
Jungkook melamun? Taehyung membatin.
"Eh, ne? ada apa, Taehyung-sunbae?" Jungkook menjawab, gelagapan.
Setelah dilihat kembali, di situ hanya ada Jungkook dan Taehyung. Sedang orangtua mereka masih berbincang, entah membicarakan apa.
"Ah, paggil saja Taetae-hyung," Taehyung sedikit tidak enak mendengar embel-embel –sunbae melekat pada namanya.
"Ne, Taetae-hyung," Jungkook memalingkan wajahnya sedikit, berusaha menyembunyikan wajahnya.
"Kook, kalau berbicara, lihat lawan bicaramu," Taehyung menasehati.
Uh, apa dia tersinggung? aduh, Jungkook membatin.
"Maafkan aku, Taetae-hyung, aku hanya sedikit mengantuk, maaf," Jungkook berucap, pelan.
"Ah, tidak apa-apa, Kook-ie. Besok kujemput pukul 06:15, ya? Tunggu aku di depan rumahamu besok, jangan terlambat, oke?"Taehyung tersenyum menenangkan. Membuat rasa bersalah Jungkook sedikit berkurang.
Ya Tuhan, imut sekali, aku dipanggil Taetae-hyung, Taehyung membatin. Lebih tepatnya ber-fanboy ria. Namun hal tersebut ditutupinya dengan senyum kalem.
"Pukul 06:15? Bukankah itu terlalu pagi?" Jungkook bertanya.
"Yaampun, Kook, sekolah kita masuk pukul 07:00, lalu, kita berangkat pukul 06:15, sedang perjalanan yang ditempuh memakan waktu 30 menit, belum lagi jika bus yang ditunggu sedikit molor, ya, bukan?" Taehyung menjawab, gemas.
Jungkook menelengkan kepalanya. Matanya sedikit dilebarkan. Dapat dipastikan Taehyung sedang ber-fanboy ria di dalam hati.
"Oh, begitu, ya, hyung," jawabnya.
"Jungkook-ie, mari kita pulang,"
"Kalau begitu, sampai jumpa besok, hyung," dia tersenyum, memamerkan gigi kelincinya.
"Sampai jumpa besok, Kook-ie," Taehyung tersenyum, mungkin senyum milik Jungkook menular?
Taetae-hyung, terdengar seperti pangilan sayang, Ya Tuhan, dia sangat ramah padaku tadi, Jungkook membatin.
.
.
.
"Taehyung-ah tampan sekali ya, dia juga ramah," Eommanya memulai pembicaraan.
"Iya, dia tampan sekali," Appanya menimpali.
"Oh, begitu, jadi aku tidak tampan, ya?" Jungkook memanyunkan bibirnya.
"Ya ampun, bukan begitu, Jungkook-ie, kau juga tampan, hanya saja Taehyung-ah lebih tampan," Eommanya menjelaskan.
"Tapi, kan, sama saja, aku lebih jelek," Jungkook merajuk.
"Kau lebih imut dari Taehyung-ah, Jungkook-ie," Eommanya mencoba menghibur.
Jungkook kembali tersenyum.
"Taetae-hyung memang tampan sekali ya, Eomma," Jungkook berucap, kali ini dengan senyum erulas di wajahnya, serta rona merah samar tersapu di kedua pipinya.
"Oh, Jungkook-ie sudah besar rupanya," Eommanya menggoda.
Memang sedari tadi dilihatnya sikap putranya itu sedikit aneh. Mulai dari tidak fokus, terlihat seperti sedang melamun.
Sikap Jungkook berubah semenjak Taehyung menyebutkan nama dan menyapanya.
Hanya dari gelagatnya saja, Eomma Jungkook dapat menyimpulkan bahwa Jungkook mulai menyukai Kim Taehyung. Yang bahkan, barusaja ditemuinya beberapa menit yang lalu.
Eomma Jungkook tidak keberatan orientasi seksual putranya sedikit menyimpang.
Apapun akan diberikan, demi kebahagiaan putranya itu.
Dia melihat putranya kembali. Menatapnya dalam.
"Jungkook-ie jatuh cinta, ya?" digodanya anaknya itu.
"Apasih," Jungkook memalingkan wajahnya.
"Appa! Bisa tolong agak cepat? Aku mengantuk sekali," lanjutnya.
Ketika pagar rumahnya terbuka, ia bergegas masuk.
"Appa! Ayolah," Jungkook merengek. Sebenarnya hal ini dilakukannya agar sang Eomma tidak menggodanya lagi.
Jatuh cinta? Huh, mana mungkin, aku, kan, hanya membeberkan fakta—ini merujuk pas si Jungkook bilang kalo Tae itu ganteng—apa salahnya? Dia membatin.
Pintu rumahnya terbuka, Jungkook bergegas masuk dan berlari ke atas menjuju kamarnya.
"Eomma, Appa, aku mau tidur, selamat malam," dia berteriak.
Setelah itu, ia beringsut menuju kasurnya, menutup seluruh badannya menggunakan selimut.
Jungkook mencoba memejamkan matanya, ingin menarik diri menuju dunia mimpi.
Namun, apadaya, muka Taehyung membayangi.
Ketika dia tersenyum. Keika dia menyuruhnya untuk menghapus embel-embel –sunbae menjadi –hyung.
Entah kenapa Jungkook terbayang wajah Taehyung.
.
"Jungkook-ah terlihat sangat manis, gigi kelincinya itu, lho," Eommanya memulai pembicaraan.
"Iya, sikapnya juga, dia terlihat malu saat berkenalan dengan Taehyung-ie tadi," Appanya menimpali.
"Menurutmu, apa Taehyung-ie cocok dengannya?" Eommanya bertanya, terdengar menyelidik.
"Taehyung-ie terlihat terpesona saat berbicara berdua saja dengan Jungkook-ie tadi, tidakkah kau melihatnya?" lanjut Eommanya.
"Sepertinya, Taehyungie mulai menyukai Jungkookie," Eommanya menambahkan.
"Mereka memang terlihat cocok," Appanya menyetujui.
Astaga, mereka berdua membicarakan apa? Aku menyukai Kook-ie? Tidak mungkin, kami bahkan beru saja berkenalan, tapi Kook-ie memang sangat imut dengan gigi kelincinya itu, Taehyung membatin.
Taehyung mencoba tidur, tidak ingin mendengar percakapan orang tuanya di balkon—ceritanya, kamarnya Tae deket balkon, oke.
Kook-ie memang sangat imut, terlebih saat dia memanggilku 'Taetae-hyung' astaga, dia benar-benar menggemaskan. Taehyung membatin, lalu tersenyum.
Sepertinya, malam ini akan menjadi malam yang panjang bagi Taehyung—dan juga Jungkook.
.
.
.
.
.
.
.
"Kenapa aku tak bisa tidur," Jungkook merengek. Berguling-guling di atas kasurnya.
"Taetae-hyung menyebalkan! Huh, gara-gara memikrkan dia, aku tidah bisa tidur," dengusnya.
"Kenapa aku memikirkan dia, ya?" tambahnya lagi. (a/n: percaya love at first sight kook? Yas. Aku percaya sih—lel).
"Pukul berapa sekarang?" diliriknya jam.
.10:57.
Jungkook sudah tidak sabar menunggu besok.
.
.
.
.
.
.
.
"Kenapa aku tidak bisa tidur?" tanya Taehyung, pada dirinya sendiri.
"Kau kenapa?" Taehyung berucap, dengan suara yang dinyaringkan, menyerupai wanita.
"Ah, kau bertanya padaku?" sang Lelaki menjawab. Kali ini suaranya lebih dalam. Terdengar husky.
Sang Lelaki menunjuk dirinya sendiri.
"Iya, kau yang sedang berdiri di sana," jawab si Wanita.
"Aish, aku masih tak bisa tidur," Taehyung berucap. Memotong acara monolognya.
Tidak biasanya monolog yang kerap kali dilakukannya tidak membantu—untuk memanggil kantuk.
Diliriknya jam.
.10:57.
"Pagi masih lama, ya," dia mendesah.
They are impatient, right?
.
.
.
.
.
Halo, saya kembali, hue.
Aduh, jangan panggil saya thor atau author, panggil aja seo atau minseo, oke?
Makasi banget buat yang nge-review di prolog kemarin. Jeongmal gamsahamnida. Maaf juga gabisa balesin satu-satu.
Btw, chapter ini aneh ya? Bahasa sama diksinya jelek banget σ(oдolll).
Lastly, mind to review? Ato ini fict dihapus aja?
