Disclaimer: Tsugumi Ohba dan Takeshi Obata
Chapter 2
Lawliet menaruh cangkir kosongnya ke atas meja. Itu adalah cangkir kedelapan yang telah ia habiskan hari itu. Mencari korban pertama dan kedua dari sebuah kasus universal tidak akan semudah yang dibayangkan. Ia telah menggunakan nama Erald Coil untuk menggali informasi dari para FBI dan polisi dari berbagai negara.
Tiba-tiba ia menyadari sesuatu, tidak ada korban pertama dalam kasus ini. Seperti berkamuflase dengan kasus bunuh diri lainnya, sekeras apapun Lawliet mencari tidak ada kepastian siapa korban pertama. Ini akan menjadi sulit karena tidak ada pengurangan jangkauan.
"Watari, tolong siapkan tiket pesawat ke Jakarta besok siang," ucap Lawliet sembari menekan interkomnya.
Meskipun Lawliet tidak yakin ini adalah korban pertama tapi pantas untuk diselidiki karena cara yang digunakan agak berbeda. Jika dilihat dari tanggal kematian, kedua korban inilah yang paling awal, dua tahun yang lalu.
29 Januari 1996, Lawliet sama sekali tidak menyangka bahwa cuaca di Jakarta akan secerah dan sepanas ini walaupun seharusnya sudah memasuki musim hujan. Seraya menunggu berkas-berkas yang akan diterimanya dari kantor kepolisian yang menangani kasus ini, Lawliet memakan es serut yang dibelikan Watari untuknya sehingga mengundangan banyak pandangan aneh dari orang-orang disekitarnya. Tampak tak peduli, ia membiarkan kakinya menekuk diatas kursi sampai seorang polisi berbadan tegap menghampirinya.
"Maaf membuat anda menunggu lama," kata polisi itu dengan bahasa Inggris yang agak kaku. "Ini adalah berkas dari kasus kebakaran keluarga Bapak Sugianto dua tahun lalu."
"Terima kasih. Maaf telah menyita waktu anda," ucap Lawliet dengan nada datar.
Ketika Lawliet berada selangkah lagi untuk memasuki mobil, lagi-lagi ia merasakan seseorang sedang mengawasinya. Tidak menghiraukannya, pria kurus itu duduk nyaman di kursi mobil dan membaca semua berkas yang baru saja diterimanya.
Kebakaran yang terjadi karena hubungan arus pendek listrik dengan empat korban meninggal. Seorang balita, seorang wanita paruh baya yang sakit, dan sepasang remaja yang kebetulan sedang berada di satu kamar. Terlihat sangat biasa, tetapi ada keanehan dengan sepasang remaja ini. Kebakaran terjadi pada siang hari atau saat jam pelajaran sekolah, mereka berasal dari sekolah yang berbeda dan baru berpacaran selama tiga minggu.
Di media massa setempat menyebutkan bahwa kedua remaja ini sedang melakukan sesuatu yang tidak senonoh, Lawliet tidak terlalu mengerti isi artikelnya, dan kebakaran murni karena kecelakaan. Yang menjadikannya aneh adalah kematian mereka. Wajar saja jika seorang balita dan wanita paruh baya itu tidak dapat melarikan diri, tetapi sepasang remaja ini dapat dengan mudah lolos dari kobaran api. Jelas ada sesuatu yang terjadi.
Yang membuat kasus ini berbeda dengan yang lainnya adalah tidak ada yang mengatakan bahwa ini kasus bunuh diri. Bila Love Case menjadi sorotan karena "bunuh diri" yang tidak lazim maka kasus ini seolah dikaburkan sehingga hilang dari pengawasan.
"Watari, bisa kau turunkan aku di sini?" pinta Lawliet tiba-tiba. Watari memerhatikan sekitarnya dan merasa bingung dengan keinginan detektif jenius itu.
"Apa kau yakin L? Siapa yang kau lihat?" tanya Watari memastikan. Mereka berada di perempatan yang sepi dan gelap. Matahari telah berganti dengan rembulan dan tak ada lampu jalan yang menerangi tempat mereka kecuali cahaya dari mobil.
"Ada seseorang yang harus kutemui," sahut Lawliet lalu keluar dari mobilnya sementara Watari mengawasinya dari kaca spion.
"Selamat malam," sapa Lawliet dengan suara baritonnya.
Seseorang yang berada dibalik bayangan keluar dari persembunyiannya secara perlahan. Wanita muda itu terlihat cemas dan ketakutan. "Apa ada yang harus kita bicarakan?" tanya Lawliet lagi.
Wanita itu seakan sedang menahan kata yang akan keluar dari bibirnya. Dia memegangi kedua lengannya dan tampak ragu. "Putriku hilang," ucapnya. "Kau detektif hebat, bukan? Aku sudah tidak bisa menaruh kepercayaanku kepada polisi. Tolong temukan putriku."
Lawliet mengerutkan keningnya. Jauh dari dugaannya. Tipuankah?
"Boleh saya tahu seperti apa putri anda?"
30 Januari 1996, Perkembangan kasus ini baru saja selangkah dan Lawliet sudah menarik napas dalam karena merasa ada sekelompok orang yang menginginkan penyelidikannya berlangsung rumit. Pria itu melirik kedua kertas yang ada di tangannya. Data lengkap dari seorang gadis yang hilang beserta fotonya dan surat dari si inisial Love.
Untuk Tuan Lawliet
Amaris Hotel
Room 422
Teruslah mencari
Ini akan menyenangkan
Love
Lawliet tersenyum membaca barisan kata itu lalu memandangi kembali foto gadis yang hilang. Marina Katlinda, umur empat belas tahun ketika menghilang, dua tahun yang lalu. Dia mulai memahami permainan yang diajukan Love untuknya.
Wanita yang mencari putrinya yang hilang bernama Nata Katlinda. Lawliet sudah berusaha mencari dia dan anak gadisnya di berbagai negara tapi tidak menemukan satupun yang berwajah seperti mereka dengan kedua nama itu. Detektif swasta itu semakin yakin bahwa dia sedang digiring ke suatu permasalahan yang melibatkan suatu kelompokbawah tanah.
Lawliet menekan interkomnya, "Watari, tolong siapkan tiket ke Paris." Tanpa menanyakan alasannya, Watari segera mencari tiket dan mereka mendapatkan pesawat besok pagi.
31 Januari 1996, Lawliet berjalan tergesa-gesa dengan merapatkan mantelnya. Dia menemui seorang dosen muda yang sedang duduk di ruang kosong sambil termenung. "Selamat pagi, Profesor Palson. Maaf membuat janji dengan anda secara mendadak."
"Tidak masalah, Detektif Coil. Saya justru senang bisa membantu anda menemukan sahabat saya," ucapnya. Suaranya sendu dan lelah. Wajahnya tampak muram dan tak bersemangat.
"Apa anda sedang sibuk? Saya bisa melihat anda kurang beristirahat," ucap Lawliet.
"Sebenarnya ada beberapa hal yang mengganggu saya belakangan ini. Anda pun terlihat kurang beristirahat," ucap Palson saat melihat kantong mata Lawliet yang menghitam.
"Sebenarnya ini adalah kondisi fit saya," jawabnya terus terang. "Mengenai hilangnya Profesor Grove pada Agustus 1993 lalu, saya menemukan sesuatu yang agak mengejutkan di meja saya." Lawliet mengeluarkan foto Marina Katlinda dari saku mantelnya dan menunjukkannya kepada Palson. "Saya harap saya tidak salah dengan ini."
Palson membelalakkan matanya ketika melihat foto itu dan dengan tergesa-gesa memakai kacamata berbingkai persegi panjang dari saku kemejanya. "Tidak salah, ini adalah foto Christina Grove ketika masih muda. Bagaimana anda bisa mendapatkan foto ini?" tanyanya terkejut.
"Saya dalam penyelidikan Love Case, seseorang yang tidak saya ketahui mengirimkan foto ini dan beberapa surat," Lawliet memperlihatkan tiga surat yang diterimanya dari si inisial Love. "Saya datang ke sini untuk mendengar pendapat anda, Profesor Palson."
Pria yang berada di akhir dua puluh tahun itu memijit pangkal hidungnya dan memakai kembali kacamatanya. "Saya harap anda tidak memberitahu siapa-siapa tentang hal ini, Detektif. Saya mengharapkan banyak hal kepada anda. Saya akan menjelaskan apa yang saya ketahui. Semoga anda tidak berpandangan buruk terhadap ilmuan muda seperti kami."
02 Februari 1996, Lawliet memandangi salju yang jatuh ke bingkai jendela yang ada di hadapannya. Palson sedang mencari sebuah kertas berharga yang bertumpuk dengan kertas-kertas penuh pengharapan ilmuan muda yang tidak terlalu berguna di gudang.
Lima belas menit kemudian Palson mendapatkan apa yang ia cari. Sebuah surat resmi yang menuliskan tentang kesepakatan kerja sama. "Perusahan Asuransi BAA?" tanya Lawliet sembari mengangkat sebelah alisnya tanpa mengalihkan matanya dari surat tersebut.
"Mungkin terdengar konyol tapi kami memercayai bahwa perusahaan itu dapat mewadahi semua kegilaan kami. Diawali dengan percakapan singkat Christina dengan seorang pria di cafe lalu surat itu datang dan segalanya seolah berputar begitu cepat."
Lawliet dapat melihat penyesalan di wajah Palson. Apa yang sudah dialaminya memang bukan sesuatu yang patut dibanggakan. Empat ilmuan muda melakukan penelitian terhadap reaksi manusia terhadap cinta, awalnya penelitian berlangsung normal tanpa ada suatu keanehan yang terjadi. Setelah lima bulan penelitian, sepasang objek uji coba melakukan bunuh diri. Lalu tiga bulan kemudian sepasang objek yang lainnya juga melakukan hal yang sama.
Mengerikan, itulah yang Palson katakan mengenai pendapatnya. Lawliet membiarkan Palson berbicara tanpa disela oleh pertanyaan. Pria itu menceritakan semua proses penelitiannya dengan lugas.
"Christina yang mengusulkan dan kami tertarik. Manusia haus akan cinta dan mereka akan melakukan apa saja karenanya, itulah yang dia ucapkan sehingga kami tergoda untuk mengetahui apa saja yang bisa manusia lakukan demi cinta. Semakin jauh kami memahami, semakin kami ketakutan dibuatnya. Hingga akhirnya objek penelitian kami meninggal dengan cara bunuh diri. Tidak lama setelahnya pasangan kedua melakukan hal yang sama. Saya segera mengundurkan diri dari penelitian ini. Saya putus kontak dengan segala hal tentang penelitian tersebut sampai akhirnya saya mendengar bahwa epidemi Love telah melanda dunia. Apa sekarang kau berpikir Love Case terjadi karena penelitian konyol kami, Detektif Coil?"
"Mungkin benar, mungkin juga tidak. Jujur saja, saya bukanlah orang yang mudah percaya kepada orang lain. Tapi saya akan mengucapkan sesuatu yang tak akan saya beritahukan kepada orang lain kecuali kepada anda. Saya bisa berada di sini sebenarnya bukan karena foto Christina Grove saja. Ada cukup banyak ilmuan yang hilang dari tiga tahun yang lalu hingga saat ini. Saya mencurigai adanya kelompok bawah yang membelakangi semua kegilaan ini. Mendengar cerita anda dan merangkumnya dengan hasil penyelidikan saya, tampaknya anda bukanlah orang pertama yang melakukan penelitian ini. Mungkin secara kebetulan saja penelitian anda dan teman-teman anda sudah diketahui oleh kelompok ini. Atau jangan-jangan ini bukan suatu kebetulan. Bagaimana pendapat anda, Profesor?"
Palson terkesiap mendengar penjelasan detektif muda itu. Dia nyaris tak dapat berkata apa-apa dan hanya menatap Lawliet dengan keraguan. "Apa maksud anda sebenarnya? Apa anda menuduhku, Detektif?"
"Bukan anda lebih tepatnya, Profesor. Saya penasaran bagaimana dengan dua orang ilmuan yang lainnya. Apa mereka juga menghilang atau mengundurkan diri sepertimu?"
"Larisa McDenit meninggal bunuh diri, sedangkan Tommy Fizbest menghilang bulan April tahun lalu," jelas Palson tanpa memandang mata Lawliet.
"Saya turut berduka cita, Profesor. Bagaimana kalau kita membuat kesepakatan? Anda akan membantu penyelidikan saya dan saya akan membantu anda mencari kedua sahabat anda."
"Anda tidak memercayai saya, bukan, Detektif?"
"Saya sangat menghargai orang yang dapat membantu saya, Profesor Palson."
Percakapan itu terjadi kemarin dan sekarang Lawliet sedang memikirkan apa yang diharapkan selanjutnya oleh si Love dengan surat yang ada di tangannya saat ini.
Untuk Tuan Lawliet
Paris
Kediaman Profesor Palson
Kami memiliki mawar biru di sini
Dan mereka mengawasimu
Harap lebih berhati-hati
Love
Lawliet menghela napas. Ini adalah kasus pertama yang membuatnya harus memperlihatkan wajahnya kepada orang yang memiliki kemungkinan sebagai salah satu tersangka. Ia memandang surat kesepakatan yang dikirimkan perusahaan asuransi BAA itu lalu menatap Palson. "Baiklah, kita akan menangkap mereka. Ini merupakan suatu kejahatan dan mereka harus segera ditangkap. Tidak perlu khawatir Profesor Palson, keadilanlah yang akan menang," ucap Lawliet sambil tersenyum simpul layaknya anak kecil.
Review?
