Game over

.

.

.

Happy reading

.

.

,

"Bagus Hanabi, sekarang gigit kartu kreditnya."

Ckrek

"Seret kopernya sayang, efek angin!"

Ckrek

"Good job sayang. Istirahat lima menit" ucap sang fotografer.

Senyum diwajah Hinata pudar seketika, melelahkan sekali apalagi dia disuruh suruh seperti tadi. Ingin Hinata mencekik leher si fotografer.

"Kerja bagus Hanabi, aku berhutang banyak padamu" ucap Shino.

Hinata mendekati Shino dengan wajah menggelap. "Aku siap menjadikanmu korban mutilasi hari ini" ucap Hinata.

"Maafkan aku Hinata, harusnya model itu datang, tapi dia sakit" cicit Shino.

"Meskipun Hanabi-san baru pertama kali melakukan pemotretan, tapi anda seperti sudah terlatih. Terima kasih kerja samanya" ucap asisten fotografer mengahampiri Hinata.

"Bukan masalah, jangan terlalu memujiku"ucap Hinata tersenyum ramah dan menerima paket makan siangnya.

'Siapa dia? Hanabi bisa berubah secepat mengedipkan mata' batin Shino ngeri melihat perubahan Hinata.

Hinata world : ON

Aku masih memasang wajah bete, sembari menyuap makan siangku. Hari ini harusnya aku terbang ke kepulauan tropis nan hangat. Shino sudah bilang pada sang fotografer, tapi si kepala batu itu bilang dia belum menemukan foto terbaik dariku.

Pemotretan untuk promosi apalah yang dilakukan bank Shino, tapi apa perlu mengecat rambutnya juga? Rambut indahnya berubah seperti rambut nenek-nenek. Dia harus dibayar seharga model profesional.

"Fiuu mau ikut denganku nona?"goda seorang lelaki paruh baya melihat penampilanku.

"Mau kubunuh pak tua?" umpatku dengan kesal.

Bukannya marah, laki-laki itu malah tertawa sambil berlalu, dia fikir aku main-main hah? Belum tahu tinju maut milik keluarga tidak maksudku tinju maut milik kepalan tanganku?

Mau bela diri bagaimana? Penampilannya seperti pelacur. Sebuah hotpans dan bikini yang ditutupi selembar kemeja, diikat dibawah buah dadanya tanpa dikancing. Belum lagi tempat pemotretannya yang ga banget, bandara man! Tuhan apa salahku?

Aku membuka koperku yang siap diajak terbang, jadwal berangkatnya 5 menit lagi. Masih ada waktu untuk kabur dari pemotretan sialan ini. Aku memasang seringai diwajahku, sudah kuputuskan untuk terbang sekarang.

Hinata world : OFF.

Naruto terburu-buru melewati pengecekan terakhir, dia telat bangun pagi ini, padahal dia akan membuntuti calon istrinya yang sedang bersama Sasuke. Dia butuh sebuah bukti untuk menjauhkannya dari status kambing hitam yang akan membuatnya menyesal seumur hidup.

"Ah, nyamannya" ucap Hinata duduk dikursi kelas ekonomi, liburan dipulau tropis, tunggu Hinata. Kalau sedang sepi seperti ini, rasanya Hinata ingin menghadirkan Naruto disampingnya.

"Ya sayang, aku ada disampingmu kok" ucap Naruto lembut.

"Naruto-kun" seru Hinata senang.

"Kita akan bersenang-senang hanya berdua saja. Hanya kau dan aku" ucap Naruto mencolek hidung Hinata.

"Rasanya seperti bulan madu" ucap Hinata memeluk tangan Naruto.

'Sepertinya aku salah duduk? Ah tidak nomornya benar' batin Naruto melihat penghuni sebelah kursinya. 'Mungkin sedikit mabuk'

Bisa dibilang gadis besurai putih pucat ini agak sedikit terganggu karena alkohol? Jet lag? Pokoknya yang bikin hilang kesadaran. Dari tadi dia tertawa dan sesekali bergumam tidak jelas. Gadis itu berbalik ke arah Naruto sembari tersenyum dan terkekeh pelan 'lihat?' batin Naruto bergerak menjauhkan tubuhnya dari gadis itu.

Hinata membuka matanya perlahan, Narutonya sedang memandangnya dengan wajah merona. Menyenangkan sekali, tunggu dulu. Dengan cepat Hinata bangun dari tidurnya, pipinya merah sempurna. Sejak kapan Naruto dalam fikirannya menjelma menjadi Naruto yang asli? "Kau baik-baik saja Nona?" tanya Naruto.

'Tidakkkk!' batin Hinata menjerit, segera saja tubuhnya berlari menuju toilet. 'Kenapa ini terjadi padaku? Kenapa harus dihadapan Naruto-kun, kenapa?'

Naruto world : ON

Apa aku salah? Dia terlihat sangat malu dan ya tentu aku membuat seorang gadis malu dihadapan pria, dan tatapan mesumku tadi? Aku menggeleng pelan. Mengenyahkan dada dibalik bikini biru kurang bahan, kurang jahitan yang membuat milik siapapun bangun tanpa permisi.

Butuh waktu lama bagi gadis itu untuk menenangkan diri, kurasa. Dengan wajah masih merah dia berjalan kembali kebangkunya yang ada disebelahku.

Bruk!

Dan insiden memalukan menimpa gadis ini yang menyeret-nyeret diriku.

"Kau baik-baik saja nona?" tanyaku lagi.

"Eto tanganmu ada di-"

Kyut

Kyut

Benda kenyal nan besar yang sedang kutangkup, bersuara bak musik rohani yang membuatku damai. Dan tidak pernah aku sangka akan mendapat bonus desahan surgawi yang keluar dari bibir mungilnya. "Maaf!" seruku melepas dua bongkahan kenyal itu dengan enggan.

"Kyaa hmp" gadis itu menjerit karena tidak siap dengan tanganku yang melepaskannya tiba-tiba.

Kembali aku mengulang insiden memalukan lainnya, bibirnya menghantam bibirku keras. "Ittai!" jerit kami berdua menjauhkan diri. Aku merasan amisnya darah memenuhi rongga mulutku.

"Ada apa tuan, nyonya?" ucap seorang pramugari tergesa-gesa menghampiri kami.

"Kotak P3K" ucapku.

Demi apapun aku bukan orang mesum seumur hidupku, nafsu seksku bahkan sudah lenyap bersama dengan kedua makhluk sialan itu. Seks itu jadi begitu menjijikan. Tapi gadis ini, bibirnya meringis menahan sakit. Ada robekan kecil disana, sementara aku menyumpal bibir atasku dengan kapas.

"Maaf, demi tuhan aku bukan orang mesum!" ucapku setelah pendarahan dimulutku berhenti.

Dengan tersipu dia mengangguk pelan, kami tidak berinteraksi lagi sampai pesawat kami tiba di tujuan.

Naruto world : OFF

Hinata membuka pintu balkon kamarnya, ah astaga udara laut memenuhi paru-parunya, belum suara deburan ombak yang mengundangnya untuk segera berlari ke pantai. Tidak mau membuang waktu, Hinata segera mengambil kamera dan topi lebar yang disediakan pihak hotel.

Pertama, Hinata akan mencari makan di pasar. Beberapa turis tampil lebih bugil daripada Hinata dengan hanya menggunakan bikini saja, hilir mudik menuju pantai. "Sir, aku ingin makan makanan seafood pulau ini, dimana aku dapat menemukannya?" tanya Hinata pada seorang pejalan kaki.

"Ikuti saja jalan ini,"

Dengan semangat kaki Hinata melangkah menuju pasar, sembari menerka - nerka apa yang bisa dia beli dipasar nanti.

Klik. Klik. Klik.

Naruto membidik Sakura dan Sasuke yanh sedang berbelanja dipasar ini, kemeja, topi dan kacamata hitamnya melengkapi penyamaran Naruto distan buah-buahan. "Sasuke, kau mau ini?" tawar Sakura menyodorkan cumi kering kemulut Sasuke.

Klik.

"Sasuke ayo kesana" seret Sakura.

'Tunggu, sialan!' umpat Naruto bangkit dan bersiap mengejar mereka, tapi satu kotak apel berhamburan tersenggol Naruto. "Whaa maaf Sir!" seru Naruto memungguti apel yang berserakan dijalan.

"Ittai!" teriak Hinata kesakitan. Pantatnya menghantam aspal cukup keras, saking asyiknya melihat-lihat Hinata sampai tidak memperhatikan buah apel yang berserakan dijalanan. "Woi! Naruh apel yang bener dong!" maki Hinata pada orang yang sedang memungguti apel dihadapannya.

"Maaf Nona," ucap Naruto menyesal.

"Kau fikir cukup dengan minta maaf huh? Aku jadi susah jalan dan aku semakin kelaparan" tuding Hinata.

"Akukan sudah minta maaf, aku juga sedang buru-buru" ucap Naruto setelah berhasil memasukan apel terakhir dan membayar kerusakan apel-apel itu.

'Dia belum tahu bagaimana Hinata marah rupanya' batin Hinata. Dengan sigap tangannya memeluk kaki pria itu hingga tersungkur. "Kau harus tanggung jawab!" jerit Hinata mengeluarkan jurus airmata duyung.

"Hei! Apa-apaan kau?" ucap Naruto sewot sembari berusaha membebaskan diri. Bukannya lepas gadis ini malah semakin mengeratkan pelukannya dikakinya.

"Kau harus tanggung jawab!" jerit Hinata tidak mendengarkan pria itu.

Adegan keduanya semakin ramai ditonton orang-orang yang kebetulan ada dipasar. Penasaran tanggung jawab apa yang dimaksud si gadis hingga dia menangis meraung-raung. Ini gawat untuk Naruto yang sedang menyamar.

"Sst baik! Baik! Aku akan tanggung jawab!" ucap Naruto menenangkan gadis yang sedang memeluk kakinya itu.

'Bagus, dia mau menyerah juga' batin Hinata semangat dan menampakkan permata bulannya.

"KAU!-" pekik keduanya, membuat kerumunan yang hendak bubar kembali menonton pertengkaran baru ini.

"Kau sengaja ya mengikutiku?" geram Naruto.

"Kau fikir aku tidak akan kenal dengan penyamaran payahmu itu?" sewot Hinata.

Hinata world : ON

Kuso! Kenapa aku malah bertengkar dengan Naruto, cintaku, pujaan hatiku? Aku tidak tahu dia yang menjatuhkan apel-apel ini. Lihat dia melihatku dengan tatapan marah, seperti pet yang sedang merajuk saja, apa yang harus aku lakukan? Tidak mungkin kan aku berubah lembut setelah marah-marah seperti tadi. Baiklah pilihan terakhir.

"Huaa aku tidak mengikutimu! Kau jahat huaaa" tangisanku pecah lagi.

Wajah marah Naruto berubah menjadi panik dan buru-buru minta maaf.

"Kau yakin mau mengantarku kemana saja?" tanyaku dengan puppy eyes no jutsu ciptaan BrotherBee.

"Iya" jawabnya pasrah.

Aku menghapus airmata duyung dipipiku. "Aku lapar, aku ingin makan lobster atau kepiting"

"Ayo berdiri"

"Apa kau bercanda" gerutu sembari memegang pantatku yang sebenarnya sudah tidak sakit sama sekali.

"Lalu kau mau pergi pakai apa?" tanya Naruto menahan amarahnya.

"Gendong"

"Huapa?"

Aku kembali memasang puppy eyes no jutsu dan bibir memelas, dengan enggan Naruto berjongkok dan menawarkan punggungnya. Aku dengan senang melompat ke punggung Naruto. "Dimana restorannya?"

"Restoran apa?" jawabku polos.

"Jadi, kau ingin makan lobster atau kepiting tapi kau tidak tahu restorannya dimana?" ucap Naruto dengan penuh penekanan.

"Ha'i" jawabku semangat.

Sembari mengumpat Naruto berjalan menyusuri trotoar berharap menemukan restoran yang diinginkan gadis dipunggungnya. "Namamu siapa?" tanya Naruto tiba-tiba memecah ocehannya sendiri.

"Panggil saja Hana" jawabku tanpa pikir panjang.

"Aku Naru- ah itu restorannya" ucap Naruto segera berbelok masuk.

Ini seperti sebuah kencan ya kan? Aku dan Naruto makan berdua, apalagi kejutan kamisama untukku?

Huee! Naruto meninggalkanku setelah aku memesan menu lobster, uuh menyebalkan. Aku dengan rakus menyantap menu lobster dan memesan lagi menu kepiting sampai tanganku belepotan bumbu super lezat olahan lobster dan kepiting. Yummy, walaupun tak mengurangi rasa kecewaku.

Hinata world : OFF

Suara dentuman musik DJ menggema dipantai yang sudah mulai menggelap. Beberapa orang sudah mulai menari dilantai dansa. Naruto sedang mengaduk birnya, kemudian minum dalam sekali teguk. Sebentar lagi dan semuanya beres.

Buag!

Sebuah tinju melayang menghantam pipi Naruto yang langsung tersungkur, kemudian diseret menuju tempat sepi dan kembali dipukuli berkali-kali.

"Cuih, apa yang kalian lakukan?" ucap Naruto marah, membalas pukulan yang didapatkannya.

Suara tepuk tangan terdengar dibelakang Naruto, "Dobe, sedang apa kau disini?" tanya Sasuke.

"Aku? Tentu saja berlibur, apa lagi Teme?" jawab Naruto santai.

"Berlibur dengan mengikuti kami?" ucap Sasuke melempar kamera Naruto kemudian dengan sekali injak kamera itu dirusak Sasuke. "Dobe, aku tidak pernah memaafkanmu lagi untuk hal ini meski kau sahabatku sekalipun"

'Ah, Teme sialan' batin Naruto. "Hentikan itu Teme, kau hanya menyakiti dirimu sendiri dan aku! Jika kau mau bermainlah sendiri, kenapa harus membawaku segala?"

"Kenapa? Karena kau yang membiarkannya mati"

"Kau masih menyalahkanku?" ucap Naruto sarkatik, "demi Tuhan! Bukan aku yang membiarkannya mati! Aku sudah menolongnya sekuat yang aku bisa, lalu bagaimana dengan dirimu hah? Kau bahkan tak menghadiri pemakamannya dan minta maaf karena telah jadi pengecut"

Buag! Tinju Sasuke mendarat ditubuh Naruto. Naruto meringis kecil. Dirinya terlalu terbawa suasana. "Jangan terus ikuti kami" ancam Sasuke sebelum meninggalkan Naruto.

"Kenapa kau tidak katakan saja. Katakan aku hanya budakmu Teme!" teriak Naruto dengan wajah kecewa. Dimana sahabatnya itu berada sekarang? Sahabatnya yang dulu bukan yang sekarang.

Hinata terheran melihat laki-laki yang terus berusaha membuka pintu kamar hotelnya. Siapa dia? Jantung Hinata berpacu cepat, jangan-jangan dia maling. Dirabanya alat kejut listrik didalam tas dan mulai mendekat.

"Kenapa tidak mau terbuka?" gerutu Naruto mengotak atik kuncinya. Pipinya terasa mau copot dan giginya rontok. "Ouch sakit!" erang Naruto.

"Eh? Tuan sedang apa kau didepan pintu kamarku?" tanya Hinata

"Aku sedang mencoba membuka pintu kamarku, ish sana pergi ouch" jawab Naruto mengusir Hinata.

Tangan Hinata menyodorkan kunci, "Coba yang ini".

"Eh, kenapa bisa?" tanya Naruto bingung.

"Tentu saja. Ini kamar hotel saya." ucap Hinata bosan, "kamarmu ada di sebrang kamarku" tambah Hinata menunjuk dengan dagunya.

"Ouch maaf, mataku agak kabur" ucap Naruto berbalik dan menuju pintu kamarnya. "Mau membantuku?"

"Ya?" jawab Hinata semangat.

"Aku butuh P3K untuk wajahku"

Hinata melongo cukup lama dengan kapas ditangannya. 'Kejam sekali, wajah Naruto-kun jadi jelek begini!' batin Hinata marah.

"Parah?" tanya Naruto yang mendapati Hinata yang hanya menatap ngeri wajahnya.

"Iya," jepawab Hinata menempelkan pelan kapas berisi cairan antiseptik diluka Naruto. "Ittai!" jerit Naruto sembari meringis.

"Tahan sebentar, kau itu laki-laki" omel Hinata semakin menempelkan kapasnya, membuat Naruto lagi-lagi menjerit dan menjauhkan kepalanya. Hinata tertawa pelan melihat Kelakuan Naruto yang kekanakan.

oOo

Malam yang menyenangkan saat Hinata dapat menyentuh dan berinteraksi tanpa canggung didekat Naruto. Ini liburan terbaik yang pernah Hinata rasakan seumur hidupnya. Hari ini, berbekal dress motif bunga selutut dan tas gendong kecil oh, oh jangan lupakan topi lebar yang dibelinya kemarin. Hiasan pitanya menjuntai cukup panjang.

Karena diluar akan cerah seharian, maka Hinata menjalin rambutnya dan diahiasi beberapa bunga dari spa pagi ini.

"Kau mau keliling?" tanya Naruto melihat Hinata berpenampilan bak anak SMA yang sedang study tour.

"Iya, mau ikut? Aku akan ke water world dan berjemur dipantai." jawab Hinata semangat. "Nanti malam juga ada festival laut" tambah Hinata.

Mata itu berbinar menyilaukan menusuk mata Naruto. "Ah silau, baiklah jika kau memaksa"

Hinata segera menarik tangan Naruto dan membawanya menuju tempat penyewaan sepeda. Letak water world yang cukup jauh membuat Hinata tidak mau lelah sebelum agendanya penuh dengan tanda centang.

Memasuki halaman water world, Hinata sampai dibuat takjud dan berteriak "ini game adventure"

"game?"

"Baiklah dimana kita bisa menemukan check point pertama?" ucap Hinata membuka peta yang dibawanya dari depan kasir.

"Check? Wa-"

Mata Hinata berkilat senang saat menyeret Naruto masuk dan melihat - lihat apa yang ada didalamnya. "Hapalochlaena maculosa ( gurita cincin biru)" tebak Hinata semangat, kemudian memotret dirinya sendiri dengan aquarium gurita itu.

"Hapaloch apa?" tanya Naruto bingung. Kemudian mencari keterangan aquarium itu.

Beberapa check point telah dilewati Hinata dan Naruto. Naruto bahkan sampai kewalahan mengikuti Hinata. Belum lagi mulutnya yang terus berseru dan mengatakan bahasa latin dari hewan yang Hinata temui.

"Ini yang paling besar yang bisa dimasukan aquarium, Rhyncodon typus" ucap Hinata memandang langit-langit aquarium yang terbuat dari kaca tebal untuk dinikmati dari bawah. Seekor hiu paus berenang perlahan dan anggun.

"Rhynco hufth" ucap Naruto duduk dibangku yang telah disediakan.

"Ini menyenangkan! Iyakan? Kita baru selesai satu game! Masih ada lagi sampai festival laut dimulai" ucap Hinata semangat yang dibalas sebuah senyum meringis dari Naruto, sepertinya salah ikut gadis energik keliling seharian.

"Kemana selanjutnya?" tanya Naruto mengipaskan topinya.

"Tentu saja pantai!"

"Huaaa! Hentikan aku mau turun!" teriak Naruto diatas banana boat dengan wajah ketakutan, dia takut dengan apa yang mengincar dari dalam laut seperti. Ugh bagaimana orang tuannya meninggal.

"Hahahaha!" balas Hinata semakin keras tertawa.

Di daratan Hinata diceramahi habis-habisan oleh Naruto dengan wajah pucat, baru mau menyela, dia dimarahi. Sampai akhirnya Naruto jatuh pingsan karena tidak ingin disela oleh Naruto.

Naruto world : ON

Ah tidak, aku mimpi ini lagi. Aku ingin sekali memaki si pembuat mimpi agar tak terus memutar kaset yang sama dimimpiku.

"Naruto, sini sayang" panggil Kushina diatas kursi santai. Boat mewah yang mereka sewa sedang berlayar menuju pulau penelitian Minato.

"Ayah, lepaskan ikan itu" rengekku melihat ayahku bersiap membedah ikan malang yang dipancingnya.

Ayah hanya tertawa, dan mengatakan dia tidak akan membunuh ikan itu. Riak air laut mengalihkan perhatianku yang sedang merengek. "Aku menemukan duyung" ucapku menghampiri tepi kapal boat yang sedang berhenti.

Sebuah benda bulat sepert pipa kecil bertemu dahiku yang akan mengintip. Benda dingin itu dipegang oleh seorang berbaju serba hitam head to toe. Tubuhnya semakin naik lewat tangga dan melalui bahuku dia membidik kepala ayah, tidak ada suara yang terdengar tapi ibuku berteriak melihat ayahku yang tiba-tiba bersimbah darah.

"Siapa kau?" cicitku pelan. Merasakan getaran hebat yang menguasai tubuhku, aku mungkin anak yang kejam, berfikir kalau orang dihadapanku ini sangat keren.

"Naruto! Menjauh darinya akh"

"Ibu..!" teriakku melihat kepala ibuku berlubang, dibidik dan ditembak dari arah bahuku.

Itu bukan mimpi. Samasekali bukan mimpi. Rasanya bahuku masih bisa merasakan dinginnya senjata dan hidungku mengendus bau mesiu yang keluar setelah senjata itu membunuh kedua orangtuaku. Kenangan yang paling aku ingin lupakan, selamanya.

"Kau sudah sadar?" tanya Hana. Tangannya bergerak didepan wajahku. "Kau terus saja mengomel padahal wajahmu sudah seperti menahan BAB selama seminggu" omel Hana yang sukses membuatku tertawa.

Aku mencoba bangun dan melihat aku masih dipantai, "berapa lama?"

"Hanya sekitar 1 jam" jawab Hana, setelah memberikan sebotol teh dingin. Dia berpindah ke kursi santai disebelah aku berbaring tadi. Tangannya segera membuka dress bunga yang kelihatannya sudah basah sejak tadi.

Hah? Aku segera menutup mataku dan mengintip dicelah jarinya. "Hoi apa yang kau lakukan?" teriakku marah disuguhi adegan Rate H dihadapanku.

"Kenapa?" tanya Hana polos, masih dengan tangan membuka dress, dadanya bergerak kenyal saat dress itu berhasil lolos dibagian dadanya. Aku menelan liurku susah payah. "Aku kan mau berenang" tambah Hana mengobrak-abrik isi tasnya dan mengeluarkan sun block.

Ucup di cinta, gajah terbangpun mungkin. Hana pasti menyuruhku mengoleskan sunblock dipunggungnya. "Mau bantu aku ?" lihat? Tentu saja aku tidak akan menolak.

"Dengan senang hati kubantu." ucapku mantap.

"Eh? Naru-kun juga?"

Eh apa maksudnya? Aku melihat Hinata yang sedang menyerahkan sundblock kepada seorang anak perempuan. Eh? Eeeh? Jadi dia tidak bertanya padaku? "Yaa, r-rambutmu itu terlalu ramai, akan kubantu melepaskannya" kilahku.

Terlalu mengoda, terlalu seksi, terlalu sayang untuk dilewatkan. Tubuh Hana yang sedang dipoles sunblock memintaku untuk menyentuhnya. "Paman, jangan mecum" ucap si anak perempuan yang entah sejak kapan mengalihkan perhatiannya padaku. Andai kau seorang pria dewasa normal nak!

Naruto world : OFF

Suara gemerincing kaki yang diikat lonceng-lonceng kecil terdengar dari pusat festival laut. Beberapa wanita mengenakan dress tradisional dan menari mengelilingi api unggun.

Cring. Cring. Cring.

Gerakan kaki sekecil apapun akan membuat lonceng dikaki para penari berbunyi. "Aku mau!" teriak Hinata mendekati seorang penari. Setelah diajari dasar tariannya, Hinata mulai bergabung dengan penari didekat api unggun.

'Jiwa yang bebas. Jiwa yang tak kenal batas' batin Hinata bergerak maju mundur kemudian melompat berteriak.

"Ne kakak. Pergilah sejauh yang kakak bisa. Putuskan semua yang kau punya sekarang, aku berkata seperti ini agar kakak tidak seperti aku" ucap sebuah suara bergema ditelinga Hinata.

"Kakak sudah melakukannya, sekarang tidak ada seorangpun yang mengekang hidupku. Aku akan hidup untuk bagianmu juga, Hanabi" bisik Hinata, seolah angin malam dapat mengantarkan bisikannya pada seseorang yang tak lagi berada didunia ini. Setetes permata cair jatuh menelusuri pipi porselin itu, rindu yang teramat dalam padanya dia sampaikan dengan tarian ini.

Penari-penari yang terus berputar membuat Naruto cemas terutama Hinata berputar tanpa henti. "Hana!" tangan Naruto menarik Hinata. Kenapa dia menangis tapi tidak berhenti barang sedetikpun? Kenapa dia menangis? Kenapa Naruto merasakan sakit didadanya?

"Hahaha" tawa Hinata mengembang melihat Naruto berwajah cemas, "ada apa?"

Tertegun, wajah itu mengingatkan Naruto pada seorang wanita yang gagal Naruto lindungi. "Kembalilah pada Sasuke" ucap Naruto tanpa sadar.

"Sasuke?" tanya Hinata bingung, kepalanya sedikit miring.

Sadar akan ucapannya, Naruto menggeleng pelan, "gara-gara kau aku mengatakan hal aneh" gerutu Naruto menarik Hinata menjauh dari para penari.

"Hei, tariannya belum selesai" protes Hinata meronta ingin kembali ke tengah festival,

"Terus meronta akan kucium bibirmu" ancam Naruto.

"TIDAK MAU!" tolak Hinata. Mana berani Naruto melakukan itu, tapi jika dia berani Hinata akan senang menerimanya.

Kiss..

Spontan, Naruto melakukannya secara spontan hanya agar Hinata tidak melawannya terus. Hinata memamatung menerima ciuman dadakan ini, dia belum siap! Belum sepenuhnya siap menerima ciuman tanpa dasar ini.

"Sudah kukatakan jangan meronta" ucap Naruto menyeka bibir Hinata dengan ujung jarinya. Seolah apa yang baru dia lakukan tidak boleh berbekas dibibir Hinata.

"A-ku, kenapa kau menciumku? Padahal.. Padahal.." bibir Hinata terbata hanya untuk bilang padahal Naruto akan menikahi gadis berambut pink itu? Kenapa Naruto jadi playboy seperti ini?

"Aku kenapa?" tanya Naruto.

"Padahal kau akan segera menikah, apa kau tidak kasihan padanya?"

"Darimana kau-"

"Ah maaf, terima kasih untuk hari ini. Bye" ucap Hinata cepat. Salah! Hinata kenapa malah jadi terbawa perasaan seperti ini. Apa yang harus Hinata lakukan sekarang selain kabur dan segera pulang ke jepang.

"Hana tunggu" teriak Naruto berlari dan mencekal tangan Hinata. Sepasang mata bulan yang terlihat gelisah itu menatap Naruto. "Ini hadiah karena telah bersedia menemaniku liburan" ucap Naruto memberikan sebuah potret Hinata yang sedang tersenyum menawar barang di pasar.

"Ini kan gambarku sendiri eh" Hinata mengeser foto ditangannya dan menemukan kalung berbentuk kulit kerang dengan black mutiara dikedua sisinya.

"Bye" ucap Naruto menjauh.

Sudah selesai, semuanya. Liburan mimpi ini sudah selesai. Saat Hinata kembali ke jepang apa akan ada hari-hari seperti ini lagi? Apa ada kesempatan seperti ini lagi. Sebuah senyum miring terbentuk diwajah Hinata, gamenya baru dimulai? Iyakan, kamisama?

.

.

.

Tbc..

.

.

.

Kalo ada yang bilang kurang sreg, authorpun berfikir hal yang sama. :v