SOMETHING YOU MAY CALLED LOVE, OR ANYTHING

.

Chapter 2

.

.

Sore menjelang ketika aku menyelesaikan kuliah terakhirku, dengan Yukimura yang tidak berkata apapun kecuali memandangku dengan pandangan bersalah. Sebenarnya aku ingin bilang bahwa dia sama sekali tidak bersalah, tapi rasanya malas juga menjelaskan padanya. Pasti nanti dia akan membuntutiku seperti dia kebingungan karena memecahkan kaca rumah orang.

Tergagap kedua kalinya di hari yang sama, aku baru sadar bahwa hanya aku yang berada di kelas. Sepertinya aku tidak sadar bahwa kuliah pun sudah berakhir. Yah, tidak apa-apa melamun sedikit, toh biasanya aku bahkan tidak bisa mendengarkan materi yang disampaikan para dosen akibat Yukimura yang terlalu banyak bicara.

"Oi."

DEG!

Tanpa menunggu suara yang memanggilku dari pintu masuk kembali mengulangi panggilannya, kaki dan tubuhku langsung tergerak cepat spontan untuk menjauh; kau bisa menebak siapa yang kau maksud.

Yep, Masamune-sensei. Kali ini dengan raut wajah yang bersalah seperti yang ditampakkan Yukimura. Kaki dan seluruh tubuhku yang sudah terkoordinasi dengan baik dalam rangka kabur-begitu-mendengar-suara-Masamune-sensei, langsung terhenti begitu saja. Kupikir Masamune-sensei pun melihat gestur tubuhku yang mengerti bahwa dia ingin mengatakan sesuatu padaku, dan sekarang dia duduk tak jauh dari tempatku berdiri.

"Ada apa, Sensei? Aku sudah menyapa Hanbei-sensei dan Hideyoshi-sensei. Kami berjanji akan mengerjakan sebuah penelitian bersama dengan Mori-senpai dan Sasuke-senpai, jadi…"

"Aku tahu. Yukimura yang mengatakan padaku tadi."

Aku menghentikan penjelasanku mengenai alasan mengapa aku memperhatikan kedua rekan kerja Sensei tadi. Rupanya Sensei sudah mendengar penjelasan lengkapnya dari Yukimura dan Keiji Maeda yang dengan susah payah menjelaskan kesalahpahaman kami (meskipun mereka juga tidak mengerti kenapa Masamune-sensei menghardikku) melalui perkelahian-di-dalam-ruangan yang dilerai dengan telak oleh Oichi-senpai yang murka.

Percayalah, aku pernah melihat Oichi-senpai memarahi Nobunaga Oda-san, suami Nohime-sensei sekaligus kakak kandung Oichi-senpai sendiri saat SMP, dan Nobunaga-san yang dikenal gahar bahkan di kalangan pejabat se-Jepang karena kegalakan…maksudku ketegasannya itu diam saja alih-alih balas marah.

Kemudian disinilah Masamune-sensei, menungguiku selesai kuliah sepanjang hari untuk meminta maaf padaku.

"… jadi begitulah!" Masamune-sensei selesai menceritakan ulang semua kejadian setelah aku pergi. Dengan tatapan tajamnya yang khas, ia menoleh untuk mendapatiku hanya duduk menyangga dagu dengan sebelah tangan. "You see?"

"Hm-mm," anggukku santai. Aku mulai bisa mengikuti orang yang mudah meledak-ledak seperti Sensei setelah berteman dengan orang-orang semacam Yukimura dkk, jadi aku mudah saja mengerti maksud dan alasan Masamune-sensei, dan toh aku tidak marah padanya.

Siapa pula yang marah?

Kami terdiam cukup lama dan menyadari beberapa lebam di wajah Sensei yang untungnya tertutup poninya yang tidak terurus. Sepertinya dia cukup berpengalaman hingga bisa menghindar dari tempat vital. Ngomong-ngomong soal lebam, lebam di wajah Yukimura tadi juga lumayan parah, sampai-sampai dia memakai plester di pipi dan sekitar mata kirinya membiru sampai para wanita fans clubnya histeris kebingungan. Bagaimana dengan Keiji yang fans clubnya lebih besar dari Yukimura, ya?

"Oi, kau melamun lagi."

Aku melirik Masamune-sensei. Ia terlihat kesal melihatku yang tidak minat sedikitpun dengan penjelasannya. Dengan meniru cengirannya, aku hanya menjawab singkat. "Cool it off, Sensei."

"Gah! Itu kalimatku!"

"Aku tahuu~" sejenak kupandangi Sensei, tidak terasa aura Masamune-sensei yang membuat orang mengira bahwa dia pongah atau terlalu percaya diri di saat kami berdua begini. Suasana ini sama terasa saat Natal tempo hari, terasa begitu nyaman…

Oi. Apa maksudnya terasa nyaman? Seakan-akan aku menyukai Masamune-sensei?

Meskipun begitu, aku mengakui angin sore yang kurasakan saat bersama Masamune-sensei lebih nyaman ketimbang tadi. Mungkin karena aku tidak sendirian?

"Kudengar dari Oichi, kau tinggal sendirian."

Masamune-sensei lagi-lagi mengatakan kalimat pernyataan. Terlihat sekali kepercayaan dirinya (atau kebanggaan yang berlebihan?) saat ia menatap wajah curigaku disertai seringai khasnya. "Stay calm, girl. Aku hanya ingin mengantarmu pulang."

"Aku terbiasa pulang sendiri, Sen—"

"No rejection!'" seruan Masamune-sensei bergaung singkat di dalam kelas menjadi tanda bahwa dia tak ingin mendengar apapun yang ingin kukatakan, sekaligus isyarat bagiku untuk mengikuti sosoknya yang sudah berdiri dan melangkah keluar kelas.

Aku hanya bisa mendengus pasrah. Mana bisa aku menolak Masamune-sensei? Lagipula dia membawa mobil, suatu keuntungan bagiku untuk tidak berdesak-desakkan di jam pulang kerja bersama penumpang yang lainnya, yang kebetulan beberapa sempat membuatku trauma naik kereta… kalian tahu maksudku.

"Lagipula…" aku mendongak dari kegiatan memberesi tasku sembari berjalan. Masamune-sensei sepertinya mengatakan sesuatu, tapi aku tidak melihatnya menoleh atau berhenti sekalipun.

"Maaf, Sensei ngomong apa?"

Masamune-sensei terdiam sebelum mengulangi kalimatnya tadi. Dan aku benar-benar tidak percaya dengan pendengaranku akibat kalimatnya barusan. Apa aku…benar-benar dalam suatu keadaan yang tidak bisa kutolak, bahkan aku sendiri tidak mengerti perasaan serta kondisiku sendiri?

"Lagipula…aku tidak mau mendengar cerita lagi tentang pelecehan di kereta terhadapmu yang kudengar dari para mahasiswaku, kau harus tahu itu."

"…Sensei?"

"No protest!"

Dan aku tidak bisa berkata lagi


"Jadi…begitulah yang kurasakan. Entahlah, aku tidak tahu bagaimana 'dia' menganggapku, tapi…yah, pokoknya begitu. Jadi kira-kira bagaimana menurutmu, Matsu-chan?"

"Ng…aku tahu kau tengah ragu, tapi aku tidak ingin berkomentar saat ini."

"Ayolah Matsu, kau tahu apa yang harus kau katakan!"

"Tapi ini adalah seorang Masamune Date, dan aku tidak ingin berurusan dengan dosen itu karena salah komentar!"

"Kau berkata seolah-olah dia sedang menyadap telepon ini," aku mencibir saat mengatakan kalimat terakhir. Terdengar Maeda Matsu, salah seorang teman sekelasku yang membanggakan diri sebagai penasihat-cinta-di-kampus-Sengoku-yang-paling-cantik, tertawa terbahak-bahak. Dia adalah kakak kandung Keiji, hanya saja apartemen mereka terpisah sehingga aku yakin seratus persen, saat kami bertelepon ria seperti ini tidak ada yang mendengarkannya, kecuali Keiji yang hobi keluyuran tidak jelas entah kemana itu minta makan disana. Tapi aku pun ragu, karena bahkan Keiji sanggup menahan lapar seminggu penuh ketika kiriman uang dari orang tuanya habis di akhir bulan, dan baru makan saat teman-teman di dewan mahasiswa menaruh iba padanya.

"Bagaimana kalau saat ini aku sedang bersama Masamune-sensei? Kau kan tidak tahu apa yang kulakukaaan~"

"JANGAN BERCANDA, MAT— ."

"Dia tidak bercanda."

Sekejap angin dingin seperti menerpa tengkukku.

MASAMUNE-SENSEI?

Kenapa dia bisa bersama Matsu—tunggu, kenapa aku kaget? Mungkin saja mereka sedang berpesta berdua…

Berdua?

Aku tersentak. Tak ada jawaban lagi dari seberang, bahkan saat ini nada terputus sudah menggantikan suara Masamune-sensei yang tiba-tiba mengambil alih telepon, hanya aku yang termangu dengan perasaan yang barusan menghantamku seperti badai.

Ini seperti…perasaan cemburu?

Tapi kenapa aku harus cemburu? Bukannya Matsu sudah mempunyai Toshiie, bahkan mereka baru saja menikah? Lagipula buat apa berkomentar tentang hubungan mereka?

Jika kalian ingin tahu apa yang kubicarakan dengan Matsu, aku sedang membicarakan perihal Masamune-sensei yang bersikap lain jika kami berduaan. Baiklah, silakan kalian berdoa. Aku pun butuh orang-orang yang mendoakanku saat aku merasa ingin mati saking malunya agar aku tidak masuk neraka.

Entah untuk berapa menit, atau malah jam, karena saat itu sudah malam dan aku hanya duduk diam memandangi pemandangan kota yang terlihat dari balkon belakang apartemenku. Aku tak melakukan apapun kecuali duduk meringkuk seperti orang kedinginan padahal saat itu awal musim panas. Aku bahkan masih termenung saat mendengar bel apartemen berbunyi.

Siapa?

Pikiranku masih terhubung dengan alam nyata, menanyakan pada diriku sendiri siapa kira-kira yang membunyikan bel di malam selarut ini. tapi tubuhku berkebalikan, malah terdiam begitu saja seolah-olah hal itu bukan urusanku,

Lama kudengar bel dipencet berkali-kali, kemudian hening. Mungkin si calon tamu menganggapku pergi, atau apalah. Tapi dugaanku salah. Kali ini ponselku yang tergeletak di sampingku berbunyi. Melongok, melihat nama yang tertera di situ; unknown number calling.

Penguntitkah?

Yah, penguntit atau apalah itu, toh dia sudah tahu nomor ponselku. Besok aku akan mengganti nomornya, pikirku masa bodoh, kemudian bergeser posisi untuk mengambil ponsel dan mengangkat telepon.

"Kalau kau dirumah, buka pintunya."

Rasanya aku mengenal suara ini… "Siapa ini?"

"…Date."

Astaga. Date…Masamune Date?! Masamune Date-sensei?

"…Sensei?"

Tawa kecil terdengar dari seberang telepon. "You're right, girl. Sekarang buka pintunya."

Dengan kalimat terakhir, aku akhirnya bisa mengumpulkan seluruh kesadaranku dan membuka pintu depan yang berjarak tidak lebih dua puluh kaki. Kulihat dengan jelas, Masamune-sensei mengenakan kinagashi kesukaannya dengan pipa cerutu menggantung di sudut bibirnya. Tak ketinggalan senyum (sok) penuh kepercayaan dirinya itu.

"Yo, girl!" serunya enteng, sebelum tiba-tiba ia merangsek masuk ke apartemenku dan saat kusadari, pintu sudah menutup sementara dia menahanku di antara dinding dan sosoknya yang jauh lebih tinggi dariku.

Sebelum aku benar-benar sadar apa yang dilakukannya padaku, Sensei berbisik didekat telingaku. Suara yang sangat dalam, perlahan, seductive

"Aku mendengar semua yang kau katakan pada Matsu tadi. Benarkah…kau menyukaiku?"

"Sensei…!?"

"Tapi sayang sekali, aku tidak menyukaimu."

"…Eh?"

Dengan jelas, saat otakku dapat berkoordinasi dengan tubuh dan telingaku, aku bisa melihatnya dengan jelas: Masamune-sensei yang mengatakan kalimat menyakitkan itu, namun dengan raut wajah…yang menahan kesedihan?


.

.

.

TBC

.

.

.


Me's notes :

karena nggak ada yang komen, saya kesepian dan mencoba mencari perhatian lagi dengan ngapdet chapter... :'( /author malang

well, sepertinya peminat Masamune x Reader tergolong sedikit...atau cerita saya yang tergolong nggak penting? XDa

yang mana juga, terima kasih sudah membaca karya saya, silakan berandai-andai digedor Masamune tengah malam. Orz. Saya nggak mau ah, ntar digerebek pak RT. *kemudian di-blast off Masamune*

by the way, saya menemukan beberapa nama lain Masamune, kira-kira kalian memilih yang mana jika kalian diijinkan memanggil nama kecilnya? Botenmaru kayaknya nggak relevan sama jamannya...tolong saya please, dan saya beneran bingung dengan bahasa inggris sok ambigu si mune ini :'( *di-war dance Masamune*

Saya akan berusaha sebisa mungkin di chapter berikutnya!