Remake dari Kak Valeria Verawati yang judulnya "Pacarku Juniorku".
Jadi kalau ada cerita yg mirip atau persis seperti ini itu wajar ya, namanya juga remake :)
Novel ini adalah salah satu Novel favorit aku jaman sekolah dulu loh.
Jadi kupikir kayanya kalau diremake dengan member Bangtan cukup seru juga.
Semua alur cerita sesuai dengan Novel aslinya, cuma beberapa situasi akan disesuaikan dengan konsep boy x boy & imajinasiku :p
Sekali lagi aku bikin FF with no GS, semuanya cowok cakep yeee…
& mungkin karakter-karakter di sini adalah OOC. Tapi aku usahain supaya gak terlalu berbeda dengan karakter asli mereka, konsep 'Yoongi si manis galak' selalu aku tanamkan kok dipikiranku hihi.
Happy reading, semoga suka ya! ^^
Main cast: Min Yoongi.
MInYoon / JiHope / ChanJin / NamJin
Featuring: All BTS member & other Idol yang belum aku tentukan.
Rating T, Humor, Slice of Life, Fluff.
Yaoi, boy x boy.
DON'T LIKE DON'T READ.
Chapter 2
Tiga hari sudah berlalu. MOS sudah selesai dan sekolah mulai berjalan seperti biasa. Nggak ada lagi yang namanya bentak-bentak dari sunbae, dan anak-anak kelas satu pun kini bisa bernapas lega.
Seperti biasa, Yoongi duduk di kantin sambil menikmati semangkuk ramen bersama teman-teman segengnya: Jin, JHope, dan V.
Jam istirahat memang waktu yang paling menyenangkan buat mereka, bisa nongkrong di kantin sambil menikmati jajanan.
Dan yang namanya geng, pasti punya markas. Meja yang ada di pojokan kantin, itulah yang menjadi markas geng Yoongi, dan secara de facto menjadi daerah teritorial milik mereka.
Yoongi dan ketiga temannya udah sobatan sejak pertama kali mereka menginjak sekolah ini. Dan saat ini, di antara mereka berempat cuma Hoseok dengan nama beken 'JHope' yang beda kelas. Tapi yang jelas, persahabatan nggak pernah memedulikan elo di kelas mana dan gue di kelas mana. Bagi mereka, sekali sahabat ya tetap sahabat.
V yang nama aslinya Taehyung melahap sepotong kecil fishcake goreng sambil bertanya,
"Gimana MOS kemarin, Yoongi?"
"Biasa aja," jawab Yoongi singkat. Ia mengambil kimchi yang ada di meja dan menuangkan isinya ke dalam ramennya.
"Ah, elo nggak asyik nih. Cerita dong. Masa nggak ada yang seru sih!" V protes mendengar jawaban Yoongi yang begitu singkat.
"Bagi gue, semuanya emang biasa aja, Tae. Tanya aja sama Jin," kata Yoongi. "Dia kan juga pengurus OSIS."
V menoleh ke arah Jin yang duduk di sebelahnya, lalu berkata,
"Cerita dong, Jinnie!"
"Lo mau gue ceritain tentang apa?" tanya Jin, cowok cantik sempurna yang jadi inceran sebagian besar cowok-cewek di SMA Bangtan ini. Tapi sayang, Jin udah ada yang punya.
"Mmm... si Yoongi dapat senior ter- apa nih?" tanya V.
"Sama kayak tahun kemarin, senior tergalak dan terjudes," jawab Jin.
"Hahaha! Tepat seperti dugaan gue, lo tuh emang nggak bisa lembut dikit ya, Yoongi," tawa V.
"Kenapa harus lembut? Gue terpilih sebagai senior tergalak dan terjudes itu kan berarti gue sukses bikin anak-anak baru itu hormat sama gue," Yoongi membela diri.
"Lo nggak salah? Mereka tuh bukan hormat sama elo, tapi takut dan benci setengah mampus," JHope ikut sumbang suara sambil tertawa.
"Bener tuh, sekali-sekali kayak Jinnie dong," ujar V. "Pasti Jin jadi senior tercantik dan terbaik lagi."
"Kurang satu... senior terfavorit," sambung Yoongi.
"Tuh kan."
Jin tersenyum bangga. Hidungnya kembang kempis gak karuan, tapi memang dasarnya cantik ya tetap saja kelihatan cantik.
"Tae, Yoongi emang judes banget, tapi judesnya itu malah bikin MOS kita sukses, dan nggak ada masalah kok. Soalnya cuma ketegasan Yoongi yang bisa nyelesaiin semua masalah dan bikin anak-anak baru itu nggak berani ngelawan."
"Dengar tuh, Tae," kata Yoongi senang karena dapat pembelaan dari Jin.
"Ah, bodo deh sama senior ter- itu. Yang perlu gue tau, anak barunya subur atau gersang nih?" tanya JHope.
"Tanaman, kaleee...," sahut V.
"Yeee, gue serius nih. Masa SMA kita kan tinggal setahun ini. Kalau pemandangannya nggak ada yang baru, bisa butek nih otak gue," kata JHope.
"Lo suka daun muda, Hobi?" tanya V.
"Kalau tampangnya oke, why not?!"
"Ih... anak kelas satu gitu loh. Masih bau kencur, kali," sahut Yoongi dengan tampang jijik.
"Menurut gue, it's okay kok. Asal tampangnya oke, dokunya kenceng, bau tanah juga nggak apa-apa," kata JHope.
Semua tertawa mendengar kata-kata JHope itu.
"Serius dong... Ada yang cakep, nggak? Kalo ada, mau gue samperin tuh anak," ujar JHope lagi.
"Menurut gue sih ada, Hob. Dan kalau lo beneran serius pengen kenalan, lo harus buru-buru. Soalnya udah banyak yang ngincer," jawab Jin.
"Masa sih? Siapa namanya? Siapa? Kelas berapa?" tanya JHope antusias.
"Jinnie, jangan bilang kalau yang lo maksud itu si cowok bantet itu ya," kata Yoongi curiga.
"Iya, emang dia kok. Namanya Park Jimin, anak kelas 1 D. Satu-satunya cowok yang bikin surat cinta buat elo waktu MOS," jawab Jin kepada Yoongi.
Yoongi menghela napas. Tepat dugaan dia. Cowok aneh itu emang punya tampang oke. Nggak heran dia langsung jadi idola baru di sekolah ini.
"Park Jimin? Bikin surat cinta buat Yoongi?" tanya JHope heran.
"Wah... ada yang nyimpan cerita sendirian nih. Curang lo berdua, berita heboh gitu kok nggak diceritain sih. Ayo dong cerita!" seru V penasaran.
"Cerita apaan sih?" Tiba-tiba sesosok makhluk 'kurang' tinggi muncul di sebelah Yoongi.
Semua terdiam karena kaget. Terutama V dan JHope. Keduanya melongo melihat cowok keren yang berdiri di dekat mereka itu.
"Lho, kok pada diam sih, sunbae-nim yang cakep?" tanya cowok itu tersenyum manis.
"Lo ngapain di sini?!" bentak Yoongi. "Nggak ada yang ngajak lo ikutan gabung. Pergi sana!"
"Ih, Sunbae kok galak gitu sih," rajuk cowok itu.
"Pergi nggak lo!" usir Yoongi kasar.
"Nggak mau ah. Saya kan mau kenalan sama Sunbae-sunbae yang cantik, cakep, dan keren ini," ujar cowok itu sambil beranjak ke samping V dan JHope.
"Halo, Sunbae. Saya Jimin," kata Jimin sambil mengulurkan tangannya ke arah JHope.
"Boleh kenalan nggak, Sunbae?"
"Boleh, nama gue Jung Hoseok, tapi lo panggil aja gue JHope." JHope membalas uluran tangan Jimin. "Dan jangan panggil kami, Sunbae. Kesannya formal banget."
"Kalo gue Kim Taehyung, tapi lo boleh panggil gue V." V nggak mau kalah. Dia ikut-ikutan mengulurkan tangannya dan bersalaman dengan Jimin.
Jimin menyambutnya sambil tersenyum manis.
"Kalau yang cantik ini gue udah kenal. Jin angel, kan?" goda Jimin.
Jin tersenyum manis mendengar namanya disebut Jimin dengan embel-embel angel.
"Gue sama sekali nggak nyesel masuk sekolah ini. Ternyata di sini banyak bidadarinya," kata Jimin.
"Lo nggak usah ngegombal deh sama teman-teman gue. Cepet lo pergi dari sini sebelum gue lempar nih gelas!" bentak Yoongi keki.
"Wah... lo kejam banget, Yoongi. Lo cemburu ya, gue deket sama cowok lain," kata Jimin. "Tenang aja, cuma Yoongi manis kok yang ada di hati Jimin..."
"Panggil gue Suga, yang boleh panggil gue Yoongi, cuma sahabat-sahabat gue! Sekarang, pergi nggak lo!" bentak Yoongi sambil mengangkat gelas minumannya yang sudah kosong.
Tepat saat Yoongi mengangkat gelasnya, bel tanda istirahat telah selesai, berbunyi dengan nyaringnya.
Saved by the bell.
"Oke deh, gue masuk kelas dulu ya," kata Jimin sambil tersenyum manis ke arah Yoongi. "See you, my sweet sugar."
Jimin beranjak meninggalkan kantin sambil melambaikan tangan. JHope dan V membalas lambaian itu sambil tersenyum lebar. Yoongi melotot kesal melihat ulah kedua temannya itu.
"Gila! Itu yang namanya Jimin? Cakep tuh!" seru JHope.
"Iya. Mukanya itu loh. Ya ampun... cute abis!" tambah V nggak kalah heboh dari JHope.
"Cakep? kayak gitu lo bilang cakep? Lo berdua buta kali ya!" ujar Yoongi heran.
"Yoongi, kayaknya si Jimin serius naksir sama elo deh," kata Jin dengan senyum manisnya.
"APA?! AMIT-AMIT DEH!" ujar Yoongi jijik sambil mengetuk-mengetukkan jarinya di meja berulang kali.
.
(^-^)
.
Udara siang ini luar biasa panasnya. Matahari sedang seru-serunya memancarkan sinar. Naik bus dari sekolah sampai ke rumah benar-benar telah menguras keringat Yoongi. Tapi lumayan juga sih buat membakar kalori. Nggak perlu menghabiskan uang buat mandi sauna. Lebih alami!
Yoongi mengeluarkan kunci dari dalam tas ranselnya dan membuka pintu pagar rumah. Ia buru-buru masuk ke rumahnya sebelum kulitnya gosong terkena sengatan sinar matahari. Ia melempar tas ranselnya dan bergegas ke dapur mengambil segelas air dingin dari kulkas. Yoongi meneguk air minumnya dengan cepat untuk meredakan dahaga.
Hah... lega rasanya.
Saat menutup pintu kulkas, Yoongi menemukan secarik memo tertempel di pintu kulkas. Memo dari Mama.
Yoongi yah, ada nasi dan ayam goreng di meja makan, kimchi masih ada di kulkas. Maaf ya, Mama cuma sempat masak itu tadi pagi. Nanti Mama pulang malam. Kamu nggak usah nunggu Mama. Kalau kamu mau, nanti malam beli makanan saja, lalu tidur duluan.
Hati-hati di rumah ya.
Love, Mama.
Lagi-lagi pulang malam, gerutu Yoongi dalam hati. Belakangan ini Mama kelihatannya benar-benar sibuk. Hampir setiap hari Mama lembur.
Mama Yoongi bekerja di bagian pembukuan di sebuah pabrik tekstil. Sedangkan papanya... Yoongi nggak tahu laki-laki mana yang layak disebutnya papa. Sejak lahir Yoongi nggak pernah tahu siapa papa kandungnya. Yoongi lahir di luar nikah. Anak haram... mungkin itu sebutannya.
Berulang kali Yoongi menuntut Mama untuk menceritakan siapa papa kandungnya, tapi Mama selalu bungkam. Bahkan nggak jarang Mama malah marah besar sewaktu Yoongi memaksa Mama bicara.
Bukan hanya Mama yang bungkam, tapi semua keluarga Mama juga bungkam. Kalau Yoongi mencoba bertanya pada mereka, mereka segera mengalihkan pembicaraan. Yoongi nggak tahu apa alasannya, tapi Yoongi yakin Mama sudah meminta semua orang untuk merahasiakan identitas papa kandungnya.
Lambat laun Yoongi menyerah. Dia nggak lagi berusaha mencari tahu tentang papa kandungnya. Tapi satu keyakinan yang tertanam dalam benaknya, laki-laki yang meninggalkan anak dan istrinya tanpa alasan pasti bukan laki-laki yang pantas untuk dipanggilnya papa. Dan Yoongi membenci laki-laki yang sudah membuat dirinya dipanggil anak haram itu.
Mama memang pernah menikah secara resmi. Waktu itu Yoongi baru kelas 6 SD. Mama menikah dengan laki-laki yang usianya lebih muda dua tahun. Yoongi memanggil laki-laki itu Papa Minwoo. Papa Minwoo adalah orang yang humoris. Yoongi nggak bisa memungkiri, dia senang Mama menikah dengan Papa Minwoo. Tapi sayang, pernikahan itu nggak bertahan lama. Penyebabnya karena Mama memergoki Papa Minwoo selingkuh. Dan Mama kembali terluka.
Sekarang Yoongi cuma tinggal berdua lagi dengan Mama. Sejak perceraian itu, Mama kembali berperan sebagai single parent buat Yoongi. Sama seperti sebelum Mama menikah dengan Papa Minwoo, Mama bekerja banting tulang untuk memenuhi semua kebutuhan Yoongi. Mama nggak pernah mau menerima belas kasihan dari siapa pun. Mama selalu menolak setiap bantuan yang hendak diberikan oleh keluarga Mama. Bagi Yoongi, Mama adalah segalanya.
Yoongi menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Dia berjalan menuju kamarnya sambil menyeret tasnya yang tergeletak di lantai. Setelah meletakkan tasnya di meja belajar, cowok itu berjalan gontai menuju tempat tidur. Direbahkannya tubuhnya di atas tempat tidur. Ditatapnya langit-langit kamarnya. Pahitnya masa lalu kembali bergulir dalam memorinya.
Semua peristiwa yang dialaminya selama ini telah mengubah hidup Yoongi. Pengkhianatan Papa Minwoo dan tak adanya figur seorang papa membuat Yoongi menjadi pribadi yang keras. Di mata Yoongi, semua laki-laki brengsek. Makanya, Yoongi nggak suka kalau ada cowok yang coba-coba mendekati dirinya, padahal orientasinya kepada cowok tidak bisa dipungkiri. Dia memang tertarik dengan cowok alias dia adalah gay. Tetapi sejak peristiwa itu, prinsipnya yang sebelumnya: I don't need a girl berubah menjadi : I don't need everyone.
Yoongi nggak mau disakiti cowok seperti Mama yang sudah disakiti Papa Minwoo, juga papa kandungnya yang sudah meninggalkan dirinya dan Mama begitu saja. Yoongi yakin dirinya mampu berdiri sendiri tanpa kehadiran orang lain dalam hidupnya. Yoongi nggak akan membiarkan seorang cowok pun menyakiti dirinya. Cita-cita Yoongi cuma satu, membuat Mama bahagia.
.
(^-^)
.
"Kriinngg...!"
Dering HP dari sebelah ranjang mengembalikan Yoongi ke alam nyata. Yoongi dengan malas mengangkat teleponnya tanpa melihat ke caller idnya, kebiasaan.
"Halo...," sapa Yoongi.
"Halo, ini Yoongi, ya?" balas si penelepon dari seberang. Suara cowok.
"Iya. Ini siapa ya?"
Bukannya menjawab, cowok di seberang malah berkata,
"Wow! Suara lo di telepon merdu banget. Suara lo imut, kayak orangnya."
Yoongi melotot mendengar kata-kata si penelepon gelap itu. Dia paling nggak suka cowok yang berani ngegombal padanya.
"Siapa lo? Gue nggak suka gaya bicara lo!"
"Duilee... marah lagi... marah lagi. Gue kan cuma berkata jujur. Gue Jimin, Yoongi. Masa lo nggak kenal sama suara keren gue ini."
"Jimin?! Berani-beraninya lo nelepon gue! Dapat dari mana lo nomor telepon gue!" bentak Yoongi kaget.
Gila juga nih cowok, baru sehari selesai MOS udah berani kurang ajar sama kakak kelas. Apa perlu ditambah ya MOS-nya? Biar digojlok habis-habisan sampai kapok.
"Sabar dong, Yoongi. Gue nggak punya maksud jelek kok sama elo. Jangan galak-galak gitu dong...," ujar Jimin.
"Gue tau nomor telepon lo dari temen lo, JHope. Tadi pas pulang sekolah gue nyari elo, tapi nggak ketemu. Gue malah ketemu JHope di kantin. Katanya lo udah pulang duluan naik bus. Padahal gue bermaksud nganterin lo pulang tadi. Ya udah, sekalian aja gue tanya nomor telepon lo."
Dasar Hobi rese! Ngapain juga dia ngasih tau nomor telepon gue ke anak kutu ini! rutuk Yoongi dalam hati.
"So, elo ada perlu apa sama gue sekarang?" tanya Yoongi ketus.
"Gue cuma mau nanya... ng... lo lagi jomblo ya?"
"Apa?!" pekik Yoongi kaget.
"Gue serius nih, Yoongi. Gue boleh nggak jadi pacar lo?"
"Jangan kurang ajar ya!" suara Yoongi makin melengking.
"Ya ampun. Nggak usah histeris gitu dong. Kaget ya, ditembak cowok ganteng?"
"Ngaca dulu sana, Bantet! Song Joong Ki aja nembak gue, gue tolak. Apalagi elo! Sadar ya, di mata gue, lo tuh masih bau kencur! Gue ini Sunbae lo. Lo nggak usah main-main sama gue. Oke?" jawab Yoongi sambil tertawa merendahkan.
"Begitu ya. Jadi lo nggak mau sama gue cuma karena gue adik kelas lo?" suara Jimin terdengar lirih.
Kayaknya dia kecewa. Nggak tau kenapa. Yoongi jadi nggak enak hati udah ngomong sekasar itu pada Jimin. Padahal biasanya kalau ada cowok yang nembak, langsung ditolaknya tanpa memedulikan perasaan tuh cowok.
Tapi nggak tau kenapa, kok sekarang Yoongi jadi kasihan sama Jimin? Mungkin karena Yoongi merasa Jimin masih muda, jadi belum tahan banting, kali ya. Mmm... ada hubungannya nggak sih?
"Mmm... bukan cuma karena itu, tapi karena gue emang nggak minat pacaran," suara Yoongi mulai melembut.
"Kenapa?"
"Lo nggak perlu tau alasannya, Jimin. Lagian lo tuh belum kenal siapa gue. Gue yakin lo nggak serius sama gue."
"Gue kenal kok siapa elo," sahut Jimin. "Elo tuh Min Yoongi, cowok yang emang udah ditakdirkan Tuhan buat gue. Gue serius sama elo dan gue akan membuktikan hal itu sama elo. Gue akan membuat elo mau membuka hati buat gue. Gue akan membuat lo jatuh cinta sama gue..."
"Omong kosong!"
Brak! Yoongi membanting HP-nya dan memutus pembicaraan begitu saja.
Dasar cowok rese! Nggak tau malu! Nggak tau diri. Dia kira gue cowok gampangan apa. Yang klepek-klepek kalau dengar rayuan murahan kayak gitu. Nih cowok emang nggak bisa dikasih hati. Dilembutin dikit malah makin ngegombal. Gue paling benci sama cowok kayak gitu.
Ih, kesel banget deh gue! Semua cowok emang sama aja! GOMBAL!
Yoongi ngedumel nggak keruan gara-gara keki mendengar kata-kata Jimin di telepon barusan. Dia membanting tubuhnya di sofa ruang tamu lalu merengut kesal.
-TBC-
[Hai, aku baca ada yang nanya Yoongi uke kan di sini?]
[Bingo! Si manis mungil nan galak itu uke kok]
[Cuma tau sendiri kan Yoongi kaya nasgor karetnya dua, extra pedasss, uke manis tapi tsundere :p]
[Terus untuk tingkatan kelas hanya Jimin & Jungkook yang anak baru kelas 1]
[Yoongi, Jin, Jhope, Namjoon, & V kelas 3]
[Keep review ya!]
[Akan diusahain fast update :)]
