"Konoha, apa kamu ingin melakukan sesuatu?" Aku bertanya kepada laki-laki albino itu.

"Mm.." Dia menggumam sambil tetap bermain-main dengan boneka triceraptor miliknya. Aku menghela nafas dan bersender di sofa. Aku melihat ke sekeliling ruangan dan menyadari kalau hanya ada aku dan Konoha disini. Yah, tidak seperti itu adalah sebuah masalah. ..

Di ruangan hanya terdengar suara jam dinding yang berbunyi setiap detiknya. Konoha masih sibuk dengan bonekanya dan aku hanya melihatnya dengan bosan, tidak tau harus berbuat apa.

"[Name].." Aku mengedipkan mataku saat Konoha mulai berbicara. Jadi sekarang dia ingin berbicara denganku?

"Ada apa?"

"Aku lapar.." Dan hilanglah semua harapanku.

"Hah.. Aku akan membuatkanmu sesuatu. Apa yang kamu inginkan?" Aku bertanya kepada Konoha yang terlihat segera ingin menjawab, tapi aku memotongnya.

"Kita tidak bisa membuat negima disini." Konoha mengeluarkan wajah memelasnya, dan aku harus memalingkan wajahku dari tatapan matanya yang berbinar.

"[Name].. Tolong?" Aku bisa mendengar suaranya yang—Ah! Tidak, tidak! Aku tidak boleh mengalah begitu saja!

"Tidak berarti tidak, Konoha. Walaupun begitu, aku bisa membuatkanmu omurice." Mata Konoha kembali berbinar seperti anak-anak, dan dia mengangguk. Aku tersenyum kecil melihatnya dan langsung berjalan ke arah dapur.

"Nasinya ada di rice cooker. Telurnya masih di kulkas.. Kita masih perlu bawang—Ah, apa kita punya saus tomat?" Aku bergumam sambil berjalan ke kabinet. Saat aku berjongkok dan akan membuka kabinet itu, tiba-tiba listriknya mati.

"Kyaa!" Aku berteriak kaget. Dapur yang tadinya terang, berubah menjadi gelap gulita hanya dalam waktu singkat. Aku tidak bisa mendengar suara apapun selain suara nafasku yang tidak teratur. Aku berusaha mencari Konoha dalam kegelapan, tapi dia tidak terlihat dimana-mana.

Aku mulai gemetaran karna takut. Ya, kegelapan ini membuatku takut, dan aku sendirian disini membuatku semakin ketakutan. Dimana Konoha?

Aku merapatkan jarak antara kaki dan badanku sambil menutup telingaku. Suara petir dan kilat mulai terdengar, membuat ruangan terang untuk sesaat, dan kembali gelap. Aku mengedipkan mataku saat aku melihat siluet seseorang di pintu dapur.

"K-Konoha?" Aku bertanya untuk memastikan. Saat tidak ada yang menjawab, aku bisa merasakan air mata mulai mengalir di wajahku. Tiba-tiba, aku bisa merasakan tubuhku dipeluk oleh seseorang dari belakang. Tangan orang itu menyentuh pipiku, menghapus air mata yang tadinya mengalir.

"Tenang saja, [Name]. Aku ada disini." Walaupun dia mengatakan ini dengan nada datar, aku bisa merasakan kalau Konoha berusaha menenangkanku. Tubuhku yang tadinya menggigil ketakutan, mulai menjadi rileks dan tenang.

Aku memutar kepalaku untuk melihat Konoha, dan dia berwajah datar seperti biasanya. Tapi aku bisa melihat ujung bibirnya yang sedikit mengarah ke atas, tersenyum kecil kepadaku.

"Terima kasih, Konoha." Aku berkata dengan suara kecil. Konoha hanya mengangguk dan tetap memelukku, membuatku yang baru sadar tentang hal ini berubah menjadi semerah tomat.

...Aku akan selalu berada di sampingmu.