THE CURSED DEMON

Summary

Naruto adalah seorang pangeran iblis dari neraka, dia dikutuk menjadi manusia karena nekat melawan Malaikat.

DISCLAIMER: MASASHI KISHIMOTO

WARNING:

IF YOU DON'T LIKE WITH THE PAIRING IN THIS STORY PLEASE DON'T FLAME

Author note: Akhirnya bisa publish chapter II, pegel banget. Bagi yang pengen tau jadwal updatenya, Author insya allah selalu Update setiap hari rabu sore atau kamis. Jadi doain terus author biar bisa update ya! (ni update cepet soalnya chapter dua udah keburu jadi)

(kalo author gak update antara tiga kemungkinan; Author sibuk, internet di rumah Author mati, atau Authornya yg mati)

Bagian 2: Sakura

~~()~~

Naruto terkejut karena tiba-tiba tubuhnya dibungkus cahaya putih misterius.

"I..INI!"

Cahaya tersebut lalu mulai meredup, lalu lama-lama menghilang. Naruto tertegun sejenak, dia merasakan ada kekuatan menjalari seluruh tubuhnya saat cahaya tersebut membungkusnya. Naruto lalu teringat kata-kata Gabriel sesaat sebelum menjatuhkannya dari langit.

"Aku akan menyegel kekuatanmu dan menjadikanmu manusia. Setiap kau melakukan satu kebaikan, aku akan mengembalikan sedikit kekuatanmu . . ."

Naruto kembali mengingat kata-kata bagian terakhir yang Gabriel katakan.

"Setiap kau melakukan satu kebaikan, aku akan mengembalikan sedikit kekuatanmu . . ." gumam Naruto.

"Aku tadi mungkin melakukan sebuah kebaikan, berarti ada sedikit kekuatanku yang kembali. Tapi apa?" Naruto bingung sendiri.

Sementara itu Sakura yang masih pingsan kepalanya terus mengeluarkan darah. Naruto pun mulai panik melihat hal tersebut.

"Bertahanlah Sakura." katanya sambil berusaha menutup luka yang ada di kepala Sakura dengan tangannya.

Tiba-tiba luka di kepala Sakura tertutup dengan sendirinya. Darah yang keluar dari kepalanya pun terhenti. Naruto tertegun melihat kejadian itu.

"Sepertinya kekuatanku yang kembali adalah kekuatan penyembuhku." gumam Naruto.

Sakura yang dari tadi pingsan mulai membuka matanya sedikit demi sedikit.

"Hei Sakura, kau baik-baik saja?" tanya Naruto dengan khawatir.

Sakura melihat ke arah Naruto, lalu memegang bekas luka yang ada di kepalanya. Hilang tak berbekas.

"Hei, apa yang kau lakukan dengan lukaku?" tanya Sakura.

"Heh kau tak perlu tahu apa yang kulakukan, yang penting sekarang aku bisa lega karena kau baik-baik saja" jawab Naruto santai sambil mengulurkan tangannya untuk membantu Sakura berdiri.

Sakura lalu berdiri dibantu Naruto. Dia lalu memperhatikan Naruto yang terlihat seperti gembel karena memakai baju yang sudah compang camping plus kotor akibat pertarungan tadi.

"Hei Naruto, apa kau punya rumah?" tanya Sakura sambil melihat ke arah Naruto.

"Tidak, aku tidak punya rumah" kata Naruto.

"Huff sudah pasti, seharusnya aku tidak perlu bertanya." kata Sakura ke arah Naruto yang mirip gembel belum mandi sebulan.

Sakura terdiam sebentar seperti berpikir tentang sesuatu. Dia lalu kembali menoleh ke arah Naruto.

"Kalau begitu kau bisa tinggal di rumahku, anggap saja ini sebagai permintaan maaf dan ucapan terima kasihku karena kau telah menolongku tadi." kata Sakura.

"Benarkah?" tanya Naruto.

"Tentu saja, tapi sebelumnya kau harus mandi dan memakai baju yang pantas dulu . . ." kata Sakura sambil melirik ke arah tubuh-tubuh tak berdaya yang ada disekitar mereka.

"Mandi? Mandi dimana?" Naruto bingung karena biasanya Iblis mandi dengan api.

"DI SUNGAI LAH BEGO!"kata Sakura sambil menendang Naruto sampai ia terpental ke sungai.

Naruto yang tercebur ke dalam sungai langsung megap-megap.

"HEI SAKURA TOLONG AKU! AKU TAK BISA BERENANG!"teriak Naruto panik.

"BODOH SUNGAI ITU DALAMNYA CUMAN TIGA PULUH SENTI IDIOT!" balas Sakura dari pinggir sungai.

Naruto lalu berdiri dan menyadari bahwa kedalaman sungai tersebut bahkan tidak sampai menyentuh lututnya.

"Sekarang mandi dan ganti bajulah, aku akan menunggumu disana" kata Sakura sambil menunjuk sebuah pohon

Naruto yang masih bingung dengan cara mandi dengan air lalu ditinggalkan oleh Sakura. Naruto lalu langsung berguling-guling seperti orang gila di sungai. Sakura yang mendengar suara gaduh langsung berbalik menoleh ke arah Naruto. Dia pun langsung syok melihat gaya mandi Naruto yang lebih mirip kura-kura overdosis.

"WOI NGAPAIN GULING-GULING KAYA GITU!" teriak Sakura ke arah Naruto.

"BIAR BERSIH!"balas Naruto gak nyambung.

Sakura hanya dapat geleng-geleng kepala sambil meninggalkan Naruto yang masih tetap guling-guling gak jelas di sungai.

"Aaah, baru kali ini aku melihat ada orang seaneh ini" gumam Sakura sambil masih geleng-geleng kepala.

Naruto yang sudah puas guling-guling di sungai lalu berjalan ke pinggir sungai dan langsung mengeringkan dirinya dengan baju yang dipakai oleh tubuh tergeletak yang ada disekitarnya. Dia pun lalu mengambil baju lain yang kering untuk dipakai. Yang jadi masalah adalah, Naruto-Belum-Pernah-Sama-Sekali-Memakai-Baju-Manusia.

Naruto lalu dengan asal memakaikan kancing baju dimana-mana. Sakura tambah syok melihat hasil Naruto berpakaian yang bahkan lebih berantakan dari seorang gembel gila yang suka nongkrong di pasar Konoha.

"Sepertinya kau harus kubantu sedikit . . . "kata Sakura sambil membantu mengancingkan baju Naruto.

Naruto setelah dengan susah payah dibantu Sakura memakai baju, lalu mencari celana untuk dipakai karena celananya basah kuyup. Dia lalu memelorotkan celana dari seseorang yang masih tak sadarkan diri dihajarnya tadi. Nah kali ini masalah kedua, Naruto-Juga-Belum-Pernah-Memakai-Celana-Manusia. Naruto pun lalu tanpa rasa berdosa sedikitpun langsung berjalan ke arah Sakura dan berkata.

"Hei Sakura, bisakah kau juga memakaikan aku celana?" tanya Naruto dengan tampang tanpa dosa

Naruto langsung digampar Sakura.

Naruto pun akhirnya berusaha sendiri memakai celana manusia. Dan setelah lama bersusah payah, Naruto pun berhasil memakai celana. Dia lalu langsung menunjukkan hasil memakai celananya ke arah Sakura dengan bangga. Sakura langsung menonjok muka Naruto dengan sangat keras.

"ITU KEBALIK CELANANYA BEGOOOOO!" teriak Sakura marah.

Naruto yang panik takut kena gampar lagi langsung berusaha memperbaiki celananya. Yang salah adalah, Naruto langsung dengan begonya membuka celana di depan Sakura. Sakura pun langsung menonjok muka Naruto kali ini dengan jauh lebih keras hingga Naruto terpental jauh. Setelah beberapa lama, akhirnya Naruto sudah bisa memakai celana dengan benar.

"Ahhh akhirnya selesai juga, ayo sekarang kita pergi ke rumahku." kata Sakura lega sambil berjalan, diiringi oleh Naruto dibelakangnya.

Mereka berdua pun berjalan menuju rumah Sakura. Naruto melihat kekiri kanan jalan, memperhatikan dunia manusia. Naruto tertegun takjub melihat banyak padang rumput dengan langit biru diatasnya.

"Dunia kalian indah juga." gumam Naruto.

"Maksudmu?" Sakura agak bingung dengan kata-kata Naruto.

"Tidak, bukan apa-apa" kata Naruto sambil tetap berjalan mengikuti Sakura.

Naruto lalu kembali tertegun. Dia berpikir sebaiknya dia tetap merahasiakan jati dirinya yang sebenarnya. Karena Naruto takut Sakura menjauhinya setelah mengetahui bahwa dia adalah seorang pangeran iblis.

Setelah beberapa saat, Naruto dan Sakura sampai di depan rumah Sakura. Naruto lalu melihat sebuah tembok tinggi mengelilingi halaman rumah tersebut, di tembok itu terdapat sebuah gerbang yang besar yang memiliki tinggi sekitar tiga meter.

Sakura mendekati gerbang tersebut, lalu tiba-tiba ada lubang berbentuk kotak kecil terbuka dari dalam gerbang itu. Ada sepasang mata seseorang dari dalam lubang tersebut.

"Kata Sandi." tanya pemilik sepasang mata itu.

"Tidak ada kata Sandi." jawab Sakura singkat.

Lalu tiba-tiba gerbang tersebut langsung terbuka lebar. Naruto langsung terdiam takjub melihat banyak orang membuat barisan di kiri kanan jalan menuju rumah Sakura.

"Selamat datang di rumah Nyonya muda!" kata semua orang yang berbaris itu berbarengan.

"Jangan memakai penghormatan berlebihan seperti ini, aku tidak suka ini." jawab Sakura dengan nada kesal.

"Ini sudah menjadi kewajiban kami untuk mengabdi pada keluarga anda, nyonya muda" kata seseorang sambil mempersilahkan masuk Sakura.

Sakura lalu berjalan masuk gerbang. Saat Naruto ingin mengikuti, dia langsung ditahan oleh para pengawal Sakura.

"Mau apa anak kecil?" tanya pengawal tersebut ke arah Naruto.

"Lepaskan dia! dia adalah tamuku." kata Sakura ke arah para pengawal itu.

Mereka berdua langsung melepaskan Naruto. Naruto pun lalu mengikuti Sakura menuju rumahnya. Naruto yang penasaran lalu bertanya pada Sakura.

"Hei Sakura, mereka itu siapa?" tanya Naruto pelan sambil berjalan disamping Sakura.

"Mereka anak buah ayahku."

"Wow ayahmu hebat juga, memang ayahmu sebenarnya siapa?"

"Ayahku adalah pemimpin Haruno, Yakuza yang menguasai daerah sekitar ini."

"Kau anak bos Yakuza!" kata Naruto kaget.

"Iya, memangnya kenapa?" tanya Sakura dengan sedikit nada bangga.

"Yakuza itu apa?" tanya Naruto dengan nada polos.

Sakura langsung terdiam. Sebenarnya dia sudah mau melemparkan bangku taman yang ada di dekatnya ke kepala Naruto, tapi karena malu dilihat oleh para pengawalnya, dia pun mengurungkan niatnya itu.

Naruto dan Sakura lalu sampai di depan pintu rumah Sakura. Setelah beberapa saat, muncullah seorang laki-laki yang umurnya kelihatan agak tua.

"Syukurlah, kau selamat Sakura!" kata laki-laki tua itu sambil berusaha memeluk Sakura.

Sakura langsung menghindar lalu menendang laki-laki tua itu dari belakang. laki-laki itu pun terpental dan menabrak lampu taman.

"Aduh Sakura, seperti itukah salam mu kepada orang tuamu sendiri?"kata orang tua itu seakan-akan tak terjadi apa-apa

"Berisik!" kata Sakura sambil masuk kedalam rumah.

Naruto hanya terdiam bingung melihat kejadian aneh tersebut. Dia lalu membantu ayah Sakura berdiri.

"Hahaha terima kasih nak, ngomong-ngomong kau siapa?" tanya Ayah Sakura pada Naruto.

Belum sempat Naruto menjawab, tiba-tiba Sakura keluar lagi dari dalam rumah.

"NARUTO CEPAT MASUK!" teriak Sakura kepada Naruto.

Naruto yang takut kena hajar lagi lalu mengikuti Sakura kedalam rumah. Ayah Sakura lalu mengikuti mereka berdua masuk ke dalam rumah.

Dalam rumah Sakura sangat luas. Naruto lalu mengedarkan pandangannya ke segala arah. Dia melihat banyak hiasan-hiasan digantung di langit-langit rumah. Sakura lalu berhenti sebentar, dia lalu berbalik ke arah Ayahnya yang ada di belakang Naruto.

"Hei! Orang ini akan tinggal disini" kata Sakura kepada Ayahnya.

Ayahnya lalu terdiam, dia lalu memperhatikan mata anaknya yang kelihatan serius.

"Sebenarnya siapa dia?" tanya ayah Sakura

"Dia orang yang tadi menolongku saat aku diserang preman tadi pas lagi ditengah jalan." kata Sakura menjelaskan.

Ayah Sakura lalu menoleh ke arah Naruto. Naruto tiba-tiba merasakan hawa yang aneh dari tatapan ayah Sakura.

"Tidak, dia tidak bisa tinggal disini" kata ayah Sakura.

Sakura lalu memelototi mata ayahnya dengan tatapan mengancam yang sangat mengerikan.

"Hmm tapi mungkin untuk sementara dia bisa tinggal" kata ayah Sakura gugup sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain.

Sakura kembali mengeluarkan aura ancaman ke arah ayahnya. Ayah Sakura langsung mengeluarkan keringat dingin.

"Ok ok baiklah dia bisa tinggal disini, aku juga akan sekalian memasukkannya ke satu sekolah denganmu" kata Ayah Sakura dengan nada sedikit ketakutan.

Sakura lalu menoleh ke arah Naruto yang hanya dapat terdiam melihat kejadian itu.

"Baik Naruto, sekarang kau dapat tinggal disini. Kamarmu ada dilantai dua." kata Sakura.

Sakura lalu pergi meninggalkan Naruto dan Ayahnya menuju kamarnya

Naruto lalu menoleh ke arah ayah Sakura. Dia seperti merasakan hawa yang berbeda dari laki-laki tersebut. Tiba-tiba Ayah Sakura langsung tersenyum dan menyalaminya.

"Oh maaf masalah yang tadi, namaku Jiraiya" kata ayah Sakura sambil menjulurkan tangannya.

"Tidak apa-apa, namaku Naruto" kata Naruto sambil menyalami tangan Jiraiya.

"Ok Naruto, pertama aku harus berterima kasih padamu karena telah menyelamatkan Sakura dari preman-preman biadab itu. Kedua aku minta maaf atas kelakuan anakku yang tidak sopan . . ."

Tiba-tiba terdengar teriakan dari arah Sakura pergi tadi.

"AYAH, AKU MENDENGARMUUU!" teriak Sakura .

"Eh Sakura, Ayah hanya bercanda tadi!" jawab Jiraiya panik.

Tak ada jawaban.

"Habislah aku . . ." kata Jiraiya pasrah.

Naruto hanya terdiam, dia lalu bertanya pada Jiraiya.

"Apa Sakura selalu seperti itu?" tanya Naruto.

"Hahahaha tidak, biasanya lebih kejam dari ini . . ." kata Jiraiya dengan senyum terpaksa.

"Hahahaha" balas Naruto dengan sedikit tertawa.

"JANGAN TERTAWA NARUTO, KAU JUGA AKAN KUHAJAR!" teriak Sakura lagi dari jauh.

Jiraiya dan Naruto hanya dapat menelan ludah.

"Habislah kita berdua . . ." kata mereka berdua bersamaan dengan pasrah

Jiraiya terdiam sejenak, lalu dia menoleh ke arah Naruto.

"Oh ngomong-ngomong Naruto, aku akan mengantarmu ke kamarmu, ayo ikuti aku" kata Jiraiya sambil naik ke lantai dua.

Naruto lalu mengikuti Jiraiya ke lantai dua. Di lantai dua, dia melihat sebuah koridor dengan tiga pintu disebelah kirinya.

"Kamarmu adalah kamar ketiga yang ada di kiri ujung koridor ini" kata Jiraiya sambil menunjuk sebuah kamar

Naruto lalu berjalan menuju kamar tersebut.

"Aku pergi dulu" kata Jiraiya seraya meninggalkan Naruto

Naruto lalu mendekati kamar tersebut. Dia merasakan ada hawa dingin aneh di kamar itu. Dia pun membuka pintu kamar itu. Naruto hanya melihat sebuah kamar yang normal, tak ada apa-apa. Naruto lalu masuk ke kamar itu, dia lalu berkeliling-keliling melihat-lihat kamar tersebut. Di dalam kamar itu terdapat sebuah ranjang lengkap dengan kasurnya yang masih rapi. Di kanan ranjang itu terdapat sebuah lemari kecil. Naruto memperhatikan lemari itu, dia mendapati ada foto berframe diatas lemari tersebut. Naruto pun lalu mendekati lemari tersebut dan mengambil foto itu. Naruto memperhatikan foto tersebut, dia melihat foto seorang laki-laki yang tersenyum bersama Sakura yang juga sedang tersenyum dengan senangnya.

"Siapa laki-laki ini?" gumam Naruto sambil memperhatikan foto itu.

Entah darimana, tiba-tiba muncul sepercik perasaan marah pada Naruto saat melihat Sakura bersama dengan laki-laki lain di foto itu. Dia lalu memperhatikan sekali lagi laki-laki misterius tersebut. Dia menyadari bahwa wajah laki-laki itu sangat mirip dengan dirinya sendiri, hanya saja dengan rambut berwarna putih dan agak panjang.

Tiba-tiba terdengar suara bantingan pintu yang keras dari belakang Naruto. Naruto yang terkejut langsung melihat ke belakangnya. Dia melihat Sakura yang sepertinya sangat panik.

"Hei Naruto, berikan foto itu!" kata Sakura ke arah Naruto yang masih memegang foto itu ditangannya.

Naruto lalu memberikan foto itu ke arah Sakura. Sakura langsung mengambil foto itu dengan muka merah dan membawanya lari keluar kamar Naruto.

"Hei Sakura, tunggu . . ." kata Naruto sambil berusaha mengejar Sakura

Sakura tetap berlari sambil membawa foto itu. Naruto hanya dapat melihat dengan bingung melihat Sakura yang berlari kencang meninggalkan dirinya.

"Apa yang sebenarnya terjadi?" gumam Naruto.

Langit sore yang berwarna kemerahan mulai menggelap. Matahari pun tenggelam. Naruto lalu diajak oleh Jiraiya untuk makan malam bersamanya dan Sakura. Naruto lalu mengikuti Jiraiya ke ruang makan. Sampai di ruang makan, Naruto melihat berbagai macam makanan telah tersedia diatas meja makan. Naruto lalu duduk disalah satu kursi yang telah disediakan oleh Jiraiya. Jiraiya juga lalu duduk di kursinya.

"Umm Jiraiya, apa kau melihat Sakura?" tanya Naruto khawatir karena Sakura tidak datang untuk makan malam.

"Sepertinya dia masih mengunci dirinya dalam kamarnya, paling sebentar lagi dia keluar" kata Jiraiya santai.

Benar kata Jiraiya, setelah beberapa saat, Sakura muncul keluar dari kamar. Matanya terlihat merah seperti sehabis menangis. Dia lalu duduk di kursi kosong ketiga yang telah disediakan Jiraiya.

"Kau kenapa Sakura?" tanya Naruto khawatir

Sakura tidak menjawab, dia hanya diam sambil memakan makanan yang tersedia di meja makan

Naruto pun tidak berani lagi bertanya, dia lalu langsung makan. Masalahnya, dia tidak pernah memakai sumpit untuk makan. Dia pun lalu dengan asal menusuk setiap lauk dengan sumpit seperti menggunakan garpu lalu memotongnya dengan sumpit yang lain seperti menggunakan pisau makan. Jiraiya yang melihat hal itu langsung mengajari Naruto memakai sumpit.

"Seperti ini . . ." kata Jiraiya sambil mencontohkan cara memegang sumpit

Naruto lalu mencoba meniru tangan Jiraiya, namun tak berhasil. Dia malah kelihatan seperti orang stroke kena overdosis. Sakura lalu tertawa kecil melihat kekonyolan Naruto saat makan, namun ketika Naruto melirik kearahnya. Dia kembali memasang ekspresi murung.

Setelah beberapa lama, akhirnya Naruto berhasil menggunakan sumpit dan makan dengan benar. Naruto pun lalu langung makan seperti gembel yang belum makan satu minggu. Dalam waktu singkat seluruh makanan yang ada di meja makan langsung habis dilahapnya.

"Hahahaha kau benar-benar mirip Sasuke." kata Jiraiya melihat Naruto yang masih makan dengan biadab.

Sakura yang mendengar nama Sasuke langsung berdiri dan berjalan masuk kamarnya sambil membanting pintu kamar dengan keras.

"Kenapa dia?" tanya Naruto bingung melihat Sakura yang sepertinya sangat marah.

Jiraiya hanya terdiam, dia lalu berkata.

"Sepertinya dia masih teringat dengan Sasuke." kata Jiraiya dengan nada agak murung.

"Sasuke?" tanya Naruto bingung.

"Ya, kami dulu juga pernah kedatangan tamu yang sangat mirip dengan dirimu. Kami menolongnya saat dia sedang pingsan dalam keadaan terluka parah di depan rumah kami. Dia lalu tinggal bersama kami. Kamar orang itu adalah kamar yang sekarang kau tempati. Orang itu sangat baik pada Sakura. Sakura pun bahkan sampai menganggap Sasuke sebagai kakak kandungnya sendiri. Tapi semua berubah saat kejadian itu . . ." kata-kata Jiraiya terhenti.

"Kejadian apa?" tanya Naruto penasaran

Jiraiya diam sejenak, dia lalu memandang ke arah mata Naruto.

"Maafkan aku Naruto, namun aku sudah berjanji pada Sakura agar tidak memberitahukan kejadian ini pada siapapun."

"Oh maafkan aku karena telah lancang berani bertanya." Kata Naruto pelan.

"Tidak apa-apa, sekarang sebaiknya kau beristirahat di kamarmu. Sudah malam dan besok kau harus sekolah"kata Jiraiya

Naruto lalu berjalan menuju kamarnya dengan tertegun. Dia lalu membuka pintu kamar dan langsung berbaring di atas ranjangnya. Matanya tetap terbuka melihat langit-langit kamar. Dia masih bingung bercampur terkejut karena tiba-tiba dia harus tinggal di dunia manusia seperti ini. Belum ditambah perubahan sikap Sakura yang tiba-tiba sangat dingin padanya. Juga tentang lelaki misterius bernama Sasuke tersebut.

"Mungkin besok aku harus bertanya tentang Sasuke pada Sakura langsung."gumam Naruto.

Naruto lalu kembali memperhatikan langit-langit kamar. Pandangannya mulai meredup, lalu sedikit demi sedikit kesadarannya mulai hilang. Dia pun lalu tertidur lelap.

Sementara itu, Jiraiya berdiri diluar rumahnya sambil menatap ke arah langit. Dia lalu menghela napas panjang seperti kelelahan karena sesuatu.

"Gabriel, apa sebenarnya tujuanmu?" gumamnya sambil melihat ke langit yang gelap.

TO BE CONTINUED

REVIEW PLEASE!
I

I

I
V