Note: berdasarkan permintaan dari teman-teman yang lain, maka ditulislah pasangan lain yang bisa dijadiin tempat curhatannya Shura XD

Credit buat Saint-Chimaira

Disclaimer: kalo udah punyaku, gold saint udah jadi heronya deh!

Pemilihan tokoh untuk fic 'Antara benci dan Rindu'

Scene 5

Action!

"Dialog?" tanya Shura kaget.

"Anggaplah Saga itu orang yang kamu maksud." Begitu Kanon ngomong, Saga langsung berdiri dengan kaget.

"APA! Ngak mau!"

"Lho, kak, kan musti bantuin dia donk. Demi persatuan dan kesatuan para gold saint."

"Apa hubungannya?!" Si kakak makin geram, idih kalo disuruh berakting sebagai cewe yang pernah jadi pacar Shura sih, OGAH!!!

"Lho supaya dia ngak murung terus, coba kalau dia diserang musuh dalam keadaan seperti ini. Nanti Athena gimana coba?" Saga tidak bisa berkata-kata, memang logis pemikiran Kanon tapi… kagak mau!

"Kak ayolah, jadi ceritanya dia bisa langsung ngomong ke orang yang bersangkutan."

"Bisa juga sih. Tapi!" Saga mau memulai protes babak ke dua namun…

"Gimana Shur? Mau ga?" tanya Kanon dengan cengiran khasnya. Shura hanya mengangguk kecil. "Trus ganti nama orangnya, kamu biasanya manggil dia apa?" tanya Kanon lagi.

"Gua manggil dia 'sayang'" jawabnya dengan enggan.

"WHAT!!!!!!!!!" Saga mulai ingin menarik-narik rambutnya tanda frustasi tapi batal, takut rambutnya rontok! Koreksi kayanya rambutnya udah mulai rontok deh!

"Gimana sih baru aja mo ngomong udah kek gitu, ngak jadi! Gua pulank aja!"

"Eh! Jangan!" Kanon menarik paksa Shura untuk duduk lalu melirik sangar ke arah kokonya. "Gimana sih, katanya rela berbuat apa saja demi Athena dan sesama gold saint, koq cuma jadi pengganti aja ngak mau!"

"Kenapa ngak kamu saja!" Balas Saga ngak kalah sangarnya.

"Gua kan psikolognya!" Sahut Kanon sambil memakai kacamata, buku notepad kecil dan pensil yang muncul tiba-tiba dari tangannya.

"Kalau gitu gua jadi assistant psikolognya." Shura langsung sweatdrop ketika mendengar hal itu. Sebenarnya mereka mau bantuin dia atau main rumah-rumahan sama dia?

"Psikolog ngak punya assistant, adanya juga sekretaris!"

"Grrr! Ok gua jadi sekretarisnya dan Shura pasiennya." Sahut Saga lagi tidak mau menyerah begitu saja.

"Gua mo sekretaris cantik!" Kanon melotot.

"Yah udah gua panggil Si Aphro!" Teriak Saga dengan kesal.

"Eh! Kalian ini." Kata Shura namun belum sempat dia berkata kedua kakak-beradik itu melotot dengan sangar ke arahnya sambil berteriak "Pasien diem aja!"

"Sok! Kalo Aphro jadi sekretaris, kamu jadi apanya!" Kanon menyahut lagi. Lho ini beneran jadi main rumah-rumahan!

"Gua… gua jadi psikolog ke 2!"

"Apaan ini teriak-teriak psikolog?!" Tiba-tiba Milo datang bareng dengan Camus dari pintu depan. Mereka berdua baru saja pulang dari market dengan box sayur-sayuran dan daging di tangan mereka, cukup untuk keperluan para gold saints selama 2 minggu. Tentu saja berhubung tiba-tiba hujan turun, baju mereka berdua juga basah kuyup.

"Si Saga mau ngerebut peran gua sebagai psikolog!" Cecar Kanon dengan sengit sambil menatap ke arah kakaknya dengan tajam.

"Hah?!" Milo dan Camus jelasnya bingung setengah mati, mereka berdua saling melirik sebelum kembali menatap Kanon.

"Lho! Gua kan sekarang udah jadi psikolog ke 2, bidangnya rumah tangga tahu!" Saga teriak lagi sambil melihat ke arah 2 saint emas termuda lalu menunjuk. "Itu pasangan suami istrinya udah ada di depan!"

"HAH!" Si rambut biru Scorpio hampir saja jatuh lantaran kaget sedangkan Camus… dia tidak bereaksi tapi box yang dipegangnya lepas dari tangan dan jatuh ke bawah. Untung Shura cukup sigap…

"Ha! Nah sekarang kamu tidak keberatan kan?!" Sahut Saga bangga.

"Keberatan! Pasien gua cuma 1, loe ada 2!" Teriak Kanon tidak terima.

"Psikolog rumah tangga jelas pasiennya 2! Kan suami istri!!" Tantang si kakak.

"Ngak lucu! Mana sekretaris gua! Suruh dia nyari pasien!"

"Sekretaris loe lagi kencan sama orang schizophren! (alian Deathmask)"

"Ini… apa-apaan sih Shura?" Tanya Milo sambil sesekali mengguncang Camus yang masih ngefreeze….

"Psikolog gua lagi lepas gearnya…" Jawab Shura sekenanya sambil meletakkan box yang tadi dia tangkap ke bawah. Serta merta dia membuka payung hitamnya dan kembali berjalan menapaki tangga menuju kuilnya. Milo cuma bisa kedip-kedip bingung lalu melihat ke arah dua kakak beradik yang masih bertengkar ria dan memandang Camus yang masih ngefreeze.

"Kayaknya gua salah ambil jurusan… mustinya jadi psikolog kali yah, pasti laku di sini…" Kata Milo sambil ngedumel.

CUT! ltifal tertawa terbahak-bahak membayangkan event yang terjadi. Mungkin kalau characternya ganti lagi…


Scene 6

Action!

"Jadi, sebenarnya, kenapa dia menghianatimu?" tanya Shion dengan sabar.

"Tadi kan udah dibilang, kita sering banget ngobrol tentang laut biru, untuk menjadi tumpuan impian dan harapan kita." Jawab Shura.

"Iya.. lalu..?" Tanyanya hati-hati.

"Ngomong-ngomong soal laut…" Dohko memandang jauh ke depan "Ingat tidak waktu Degel memaksa Kardia masuk ke laut?"

"Iya ya, reinkarnasi Degel sekarang kebalikan dari dirinya sendiri, Degel lebih hangat dibanding Camus dan Kardia… mungkin karena jantungnya itu lebih anti social dibanding Milo." Mendengar itu Dohko tertawa kecil.

"Meski dua duanya sama-sama gegabah dan teman baik Aquarius?" Mata Shion memancarkan sinar lembut, sekarang giliran Shura yang bengong…

"Aneh sekali 200 tahun kemudian, Milolah yang memaksa Camus ke laut."

"Indeed." Sahut si rambut coklat mengangguk-angguk.

"Oh Sorry, Shura, maklum nostalgia, terusin curhatnya."

"Eh… iya… um…ingat tukang es krim yang selalu ada di pinggir pantai tempat kita kencan itu kan?? Yang ada di sebelah laut biru tempat kita selalu ngobrol berdua itu"

"Iya, tau. Yang kamu beli es krim coklat terus cewe itu beli es krim vanila itu kan?" tanya Dohko sambil tersenyum.

"Ngomong soal es krim, ingat ngak waktu Shaka ngisengin Mu pake es? Saya tidak akan bisa membayangkan reincarnasi Asmita dapat berbuat seperti itu begitu." Shion kembali tersenyum membayangkan Virgo Asmita yang buta memasukkan es balok ke dalam baju Sage. Lalu kedua saint tertua itu tertawa terbahak-bahak. Shura sendiri memandang mereka dengan datar. Niat dia buat curhat benar-benar lenyap…

"Oh maaf Shura, lanjutin deh." Kata Dohko.

"Yah… dia ternyata selingkuh sama tukang es krim…" Kata Shura malas-malasan dan tidak semangat, tidak lagi mendalami perannya.

"Oh, begitu…" Shion lalu menepuk-nepuk pundak Shura dengan lembutnya. "Jangan khawatir, kamu masih muda, wanita tidak hanya satu di dunia ini." Baru saja Shion mau memberikan beberapa kata bijaknya, Dohko memotong.

"Mungkin kamu bisa coba dekatin Shaina, kamu dan dia sepertinya cukup akrab." Potong sang Libra sambil tersenyum jahil.

"What! No no no!" Saint muda tersebut langsung kalang kabut. "Shaina suka sama orang lain!"

"Oh? Siapa?" Si rambut hijau memang sudah dapat mengira namun dia belum bisa mendapatkan faktanya dengan jelas.

"Er…" Kalau bisa, Shura sudah mengkerut, dia kelepasan ngomong… celaka, dia juga baru tahu kalau 2 orang tertua saint emas itu tukang gosip!

"Aih.. bukan gosip koq, cuman pengumpul informasi." Libra tertawa girang.

"Dohko, tidak baik membaca pikiran seseorang." Sahut Aries memandang tajam.

"Ngak dibaca koq, cuman terbaca." Katanya lagi dengan ringan.

"Um… aku harus pergi…" Si penyuka musik 'Antara Benci dan Rindu' ini bangkit dan melarikan diri, curhatnya nanti-nanti deh, yang pasti ngak sama Shion-Dohko!

CUT! Kembali ltifal geleng-geleng kepala, yang tersisa dari gold saint adalah Alderbaran, begitu pikir ltifal. Hm…


Scene 7

Action!

"Aku cuma tiba-tiba inget dia pas lewatin jalan Sanctuary tadi." Kata Shura, matanya memandang ke arah hujan dengan sedih

"Lho tangga tiap hari juga dilewati. Kenapa baru ingetnya sekarang??" tanya Alderbaran dengan bingungi.

"Soalnya hujan.. terus pas aku bawa payung item."

"Ha???" Shun benar-benar bingung sampai berhenti mengocok adonan kue sus.

"Shun, itu kalau berhenti, ngak ngembang susnya."

"Oh… iya, sorry…" Shun kembali ke tugasnya yakni mengocok adonan kue. Mau bagaimana lagi, Shura tiba-tiba kepergok berdiri di tengah hujan begitu tepat pada waktu Alderbaran mengajarkan cara bikin kue sus. Huh… tahu gitu ngocoknya nanti deh, pikir si rambut hijau yang makin giat mengocok adonan.

"Gua ngak ganggu kan?" Tanya Shura.

"Tentu saja tidak, gua cuma lagi ngajarin Shun manggang kue sus doank koq." Senyum Alderbaran menyerebak bangga, memang Deathmask jago masak Italian food, tapi kalau soal pastry, Alderbaranlah jagonya!

"Eh iya, um Aku inget dulu pas ujan turun, aku berlindung di bawah payung hitam itu, dan berjalan berdua dengannya di tangga itu."

"Oh, ternyata tentang pacar yah?"

"Iya…" Klontang! Sendok dari tangan Shun tiba-tiba jatuh ke bawah.

"Sori… terusin-terusin." Katanya dengan muka sedikit merah karena malu, namun mulutnya nyegir dengan manis. Dia mengambil sendok itu lalu kembali mengaduk-ngaduk.

"Shun! Itu udah jatuh!" Aldebaran teriak.

"Belum lima menit." Sahutnya ngak peduli, adonannya bisa diulang lagi tapi dia ngak mau ketinggalan cerita. No way!

"er… sampe di mana yah tadi?"

"Loe ingat dia saat hujan turun." Sahut Shun dengan cepat.

"Boleh tahu siapa ngak?" Tanya Alderbaran. Bukannya menjawab, Shura hanya bisa diam dan tertunduk.

"Gua… panggil dia sayang." Klontang! Sendok itu jatuh untuk kedua kalinya.

"Ups sori…" Shun kembali nyegir, kali ini ada kejenakaan di matanya.

"Benernya loe mo dengerin ngak sih?" Sahut Shura dengan marah.

"Udah-udah wajar saja kalau Shun kaget, you juga tahu, Bronze saint umurnya lebih muda dari kita, jadi ini sisi gold saint yang belum pernah dia tahu." Kata Alderbaran bijak sambil mengambil sendok itu lalu ditusukan ke adonan.

"Itu udah jatuh 2 kali!" Teriak Shura, jorok banget!

"Udah kepalang basah, kocok lagi Shun."

"… udah jadi batu sih…" Kata si rambut hijau dengan pelan

"APA! Adonannya jadi batu?" Baru kali ini Alderbaran liat ada adonan jadi batu karena dikocok.

"Kebanyakkan dikocok, airnya udah abis."

"Argh!! Gua pulang aja!" Sahut Shura sambil ngeloyor pergi.

Owari


ltifal: demikianlah akhir kisah tentang audisi pemeran 'Antara Benci dan Rindu'. Sutradara akhirnya dengan keputusan tetap menjadikan Milo dan Aiolia sebagai tempat curhatan Shura.

Shura: capek… belum direkam udah capek duluan!

Milo: makannya jangan kasih ide aneh-aneh ke si ltifal, bisa parah

Aiolia: ia, curhat aja koq susah, yah ngak Mi?

Milo: Iya sayang.

Camus: …

Milo: eh, Camus gua ngak liat loe di situ

BRUAK! Kue batunya Shun mendarat di dahi Milo

Milo: WADAU! APAAN SIH!

Camus akhirnya balik badan sambil berjalan cepat ke luar dengan dingin

Saga: jealous dia, loe panggil Aiolia sayang

BRUAK! Kue batunya mendarat di dahi Saga.

Milo: CAMUS!!!!!!!! GUA KAN CUMA BERCANDA!!!!!!!!!!!!!

Kanon: psikolognya parah loe, masa pasangan suami istrinya malah putus beneran

BRUAK… 3 detik kemudian terjadinya perang antara Saga dan Kanon sedangkan Shura dan Aiolia hanya bisa melihat pasrah. ltifal sendiri? Well dia tertawa terbahak-bahak sebelum kembali ke pekerjaannya.