A Fake Smile, Chapter 2
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Main Character : Sakura H., Sasuke U.
Warning (s) : Semi-Canon, AU, Miss-Typo, OOC?
Happy Reading~
~0~
Pagi itu diawali Sasuke dengan rasa kantuk yang luar biasa menyebalkannya.
Karena kemarin terlalu asyik mengobrol dengan Karin, pria itu jadi lupa waktu. Ketika malam itu ia menyelesaikan waktunya berbincang-bincang bersama Karin, ia baru sadar kalau malam itu sudah terlalu larut untuknya tidur. Kalau biasanya seorang Uchiha bungsu itu tidur jam sembilan malam, kemarin ia tidur jam dua belas malam. Dan ia begitu idiot ketika baru ingat kalau hari ini ia akan lembur, mengerjakan banyak tugas di kantor seharian penuh, dan menangani banyak klien yang sedang bermasalah di perusahaan warisan sang ayah.
"Sasuke-kun? Kantung matamu menebal."
Peringatan halus itu membuat kedua mata Sasuke yang hampir terpejam, kembali terbuka dan melotot lebar-lebar agar tidak tertidur lagi. Samar-samar, dipandangnya seorang wanita manis yang sedang duduk dengan tubuh menghadap padanya. "Sakura."
Sasuke bisa melihat dengan remang-remang, wanita manis itu bangkit seraya mengambil segelas air putih dan menyodorkannya secara sopan padanya. "Nah, minumlah. Wajahmu benar-benar kelihatan tidak sehat hari ini," ucapnya halus, namun tetap bernada tegas.
Tanpa rasa terpaksa sedikit pun, Sasuke menerima air putih itu dan menghabiskannya dalam sekali teguk.
Barulah sekarang, ketika penglihatannya mulai jernih, ia bisa melihat sepenuhnya wajah manis yang dihiasi dengan jidat super-lebarnya itu. "Ohayou, Sakura," sapanya ramah, seraya memperlihatkan senyum super tipisnya.
Sakura tersenyum lebar, kemudian merapikan poni pendek yang berantakan dan menutupi mata kiri sang suami. "Sekarang sudah jam tujuh. Jam delapan kau ada janji dengan seorang klien, bukan?" tanya Sakura memperingatkan, sambil menaruh selembar handuk putih polos yang terlipat rapi diatas kedua tangan hampa Sasuke.
Berusaha membuktikan apa yang Sakura katakan, keturunan terakhir Uchiha itu melihat jam dinding di kamarnya. Ia tersenyum tipis. "Arigato, Saku."
Sakura mengangguk mantap, kemudian menatap intens Sasuke yang tengah bangkit menuju kamar mandi di dalam kamar sepasang suami-istri itu. Suara bedebum kecil dari balik pintu kamar mandi, membungkam mulut Sakura seketika.
Wanita itu menatap ranjang tidurnya semalam, kemudian menghela napas menahan kekecewaan.
Ia memegangi kening lebarnya dengan lembut, tersenyum miris.
Kelihatannya Sasuke-kun melupakan suatu hal pagi ini, ya?
~0~
Ketika Sakura berjalan menuju dapur, wanita itu bisa mendengar dengan jelas suara singgung-menyinggung yang agak bising dari dalam ruang masak-memasak itu.
Dengan pelan, Sakura mencoba mengintip apa yang terjadi dalam ruangan yang sering ia jamah itu.
Wanita itu tampak agak terkejut, melihat seorang gadis manis yang sedang menumis berbagai bumbu masak dan bahan-bahannya diatas sebuah wajan kuno miliknya. Tatapannya beralih pada tiga piring kosong yang terhidang di meja makan serta alat-alat makan lainnya. Sakura membuka mulutnya menahan keterkejutan.
Sebegitu cepatkah Karin melakukan tugas paginya?
"Karin-san?"
Sapaan lembut nan menyejukkan itu sukses membuat Karin mengalihkan pandangannya dari tumisan sayur yang sedang dimasaknya.
Gadis bersurai merah magenta itu menoleh ke arah Sakura, memamerkan senyum manis dua jarinya. "Ohayou gozaimasu, Sakura-sama. Aku boleh pinjam dapurmu sebentar, kan?" sapanya halus, sambil terus memfokuskan dirinya pada sarapan pagi yang sedang dibuatnya.
Sakura tersenyum tipis, kemudian beranjak mendekati Karin. Ia menatap apa yang sedang dimasak oleh gadis manis itu, "Kau membuat apa? Semacam kreasi sendiri?"
Karin tersenyum tipis, kemudian segera mematikan kompor minyak dalam dapur itu dengan bantuan tangan kanannya. "Kelihatannya begitu. Aku hanya ingin berbalas budi sedikit atas apa yang sudah kau berikan, Sakura-sama."
Dukkk!
Karin hampir saja menjatuhkan wajan masakannya, jika ia tidak menyadari kalau sosok yang menyodok pinggulnya itu adalah Sakura. Gadis berambut merah itu segera menaruh kembali wajannya diatas sumbu kompor. "Apa yang Sakura-sama lakukan? Kalau wajannya jatuh, kau juga yang kesakitan. Sarapan ini masih sangat panas, lho," tegur Karin, seraya mengambil selembar handuk kecil dari dalam laci alat kebersihan, kemudian mengelap lantai yang berbekas sedikit tumpahan kuah tumisannya tadi.
"Sudah kubilang berapa kali sih, untuk tidak memanggilku dengan suffix sama? Kita ini sama, Karin-san," nasihat Sakura dengan wajah kusut, seraya membantu Karin mengelap bekas tumpahan sarapannya di atas lantai dapur.
Karin menatap Sakura sekilas, kemudian menunduk kalut. "Gomenasai, Sakura-san… A-aku tak biasa menganggap orang yang sudah terlalu baik seperti kau ini sama denganku."
Sakura mendelik bingung, "Maksudmu apa?"
Karin tertegun sejenak. Meski pun ia masih fokus dengan sarapan yang baru saja dibuatnya, entah kenapa otaknya dibuat untuk berputar ke sebuah masa lalu kelam yang hampir saja dilupakannya. Oh, Kami-sama. Aku sudah benar-benar melupakan kejadian itu, kenapa tiba-tiba kau memutarnya lagi dalam memoriku?
"Karin-san?" Kali ini sapaan yang didapatnya terdengar lebih kencang.
Karin mengerjapkan matanya sejenak, kemudian menatap iris emerald yang dimiliki seorang wanita hamil di hadapannya. Gadis itu tersenyum miris, "Kau tidak membangunkan suamimu, Sakura-san? Bukankah hari ini hari kerja?"
Sakura mengambil alat-alat makan dari laci alat makan besar di ruang makan, kemudian mulai membuka mulut, "Ia sedang mandi."
"Souka…"
"Karin-san, boleh aku bertanya suatu hal?"
"Tentang apa?"
"Kapan kau akan mendiskusikan masalahmu baik-baik dengan Suigetsu?"
Deg!
Lagi-lagi, Karin harus dilanda perasaan takut.
Kenapa pagi-pagi begini Sakura sudah membicarakan nama orang yang tak disukainya itu?
Gah. Mendokusei.
"Ma-maaf, Sakura-san. Untuk saat ini, a-aku benar-benar tak bisa menemui Suigetsu," jawab Karin dengan wajah lemas, seraya menautkan erat-erat kedua tangannya. Sakura hanya menatap keraguan yang terbias di wajah Karin itu dengan tatapan pilu. "Ma-maaf… kalau kehadiranku benar-benar merepotkanmu."
"Bu-bukan itu!" seru Sakura menengahi, seraya berjalan cepat ke arah Karin. Ia memegang salah satu tangan Karin, hangat.
"A-aku sama sekali tak ingin mengusirmu dari sini, Karin-san. Bah-bahkan, kau sudah benar-benar menerima kehadiranmu disini. A-aku hanya ingin hubunganmu dengan Suigetsu bisa diperjelas."
Karin tertegun sesaat. Mata merahnya menatap dalam mata hijau Sakura, kemudian tersenyum kecil.
"Aku sama sekali tak bisa menebaknya. Suigetsu orang tak terduga. Mungkin aku langsung babak belur sampai di rumah nanti."
"Karin–"
"Ohayou. Apa yang sedang kalian buat?"
Kedua gadis yang sedang bertengkar kecil itu terdiam, mendengar sapaan dari balik pintu dapur. Segera, Karin memalingkan wajahnya dari Sakura dan meneruskan kegiatan masak-memasaknya. Sakura tertegun, menatap Sasuke yang sedang berdiri di belakangnya.
"Ah, gomen. Aku tunggu di luar," ucap Sasuke datar, kemudian berjalan menuju dapur.
Kelihatannya pria itu sudah selesai mandi. Lagipula, samar-samar Sakura bisa merasakan bau maskulin segar tiap Sasuke habis mandi tadi.
Wanita manis itu tetap berdiri di samping Karin, menunggui gadis berambut merah itu menyelesaikan masakannya.
~0~
Ketika sarapan sudah terhidang rapi di atas meja makan, ketiga penghuni rumah itu segera berdoa bersama dan menghabiskan sarapan mereka masing-masing. "Itadakimasu!" seru Sakura riang, kemudian segera menyendok sesendok nasi goreng ke dalam mulutnya. Yah, tidak buruk. Karin punya bakat cukup baik dalam bidang memasak.
Sarapan pagi itu dijalani dengan sangat tenang dan sunyi. Tidak ada satu pun yang bersuara, sebelum akhirnya Sasuke menyelesaikan sarapannya dan usai menghabiskan segelas air putih.
"Hari ini kau ada check-up ke dokter kandungan?" tanya Sasuke pelan, yang dibalas Sakura dengan gelengan kecil.
Wanita itu sudah terbiasa untuk tidak bersuara saat memakan atau meminum apapun. Pribadinya memang mirip bangsawan, meski pun ia sendiri tak ingin menjadi keturunan bangsawan.
"Baiklah. Kalau tiba-tiba ada kendala, kau bisa menemaninya ke dokter kan, Karin?" tanya Sasuke pada Karin, yang baru saja menyelesaikan sarapannya.
Karin mengontrol makanannya dalam mulut, kemudian mengangguk paham. "Baik," ucapnya tanpa menatap langsung wajah Sasuke.
Sasuke mengangguk, kemudian menatap arloji di tangan kirinya. "Aku berangkat. Jaga dirimu baik-baik, koichi-chan," pesan Sasuke hangat, seraya mengecup pelan dahi Sakura. Wanita itu tersenyum seraya menganggukkan kepalanya. Sebentar lagi sarapannya habis.
"Ah, Sasuke-kun!" seru Sakura, seraya berlari mendekati Sasuke. Sarapan paginya sudah bersih.
Sasuke berhenti sebentar, "Nani?"
"Kalau sudah pulang, bawakan aku buah apel! Sejak malam, aku ingin memakannya! Kumohon.." ucap Sakura dengan wajah memelas, yang disambut dengan senyum–sangat tipis–Sasuke. "Hn," jawabnya singkat, kemudian kembali berjalan meninggalkan Sakura. Wanita itu tersenyum girang. "Jangan lupa, Sasuke-kun!"
Karin berdiri dari bangkunya, kemudian merapikan alat-alat makan di atas meja makan. "Sakura-san? Kau tidak istirahat? Sejak tadi kau menemaniku kemana-mana, pasti kau lelah."
Sakura berjalan mendekati Karin, membantu gadis itu merapikan meja makan.
"Entahlah. Aku tak mau istirahat," jawab Sakura seadanya, kemudian membawa sisa piring di atas meja makan ke dapur untuk dicuci. Karin hanya mengekor di belakangnya.
"Aku mandi dulu. Biarkan piring-piring itu, biar aku yang bersihkan," titah Sakura pelan, kemudian berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.
Mencari refreshing dengan mandi pagi rasanya juga menyenangkan.
~0~
Usai mencuci beberapa piring yang tersisa, Karin segera menuju kamarnya.
Gadis itu ingin menenangkan diri di sana, mencari sedikit ketenangan.
Namun, ketika sedang memejamkan mata di atas kasur, matanya kembali dipaksa terbuka ketika mendengar suara dering ponselnya. Dengan lemas, ia bangun dan menghampiri ponselnya di atas laci kamar itu. Mata yang berkunang-kunang itu, secara ajaib melotot lebar, ketika membaca nama yang tertera di atas panggilan masuk itu. Antara takut dan cemas, Karin menjawabnya.
"H-halo?" sapa Karin gugup.
"Baka! Kau kemana saja, bodoh?"
Karin menggigit bibirnya kencang. "Gomen, Shion. Hari ini aku absen."
"Eeeeh!? Hari ini pelanggan penuh, dan kau mau absen? Tidak bisa!"
"Shi-Shion… kumohon! Besok, aku pasti masuk!"
"Kau tahu? Bos besar menantikan kedatanganmu kemarin, tapi kau tidak datang juga. Pokoknya malam ini kau harus datang!"
"Shion–"
Terlambat. Arus telepon diputus.
Karin menghela napas berat, kemudian menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Ia melempar ponselnya ke sembarang tempat, kemudian memejamkan matanya sesaat. Jujur, saat ini ia ingin beristirahat total sampai tubuhnya bisa benar-benar pulih. Tapi, sekarang sudah banyak pekerjaan menumpuk di pundaknya. Mana mungkin di saat kritis seperti ini ia melalaikan pekerjaannya?
"Baiklah. Kutunggu nanti malam saja."
~0~
Tok! Tok! Tok!
Pria yang hampir menyelesaikan tugasnya itu, melirik sebal pada pintu ruang kantornya. Dengan wajah menahan marah, ia berucap, "Masuk."
Dari luar, seorang wanita berambut cokelat datang dengan membawa sebuah map dan surat di atasnya. Wanita itu menyerahkan barang yang dibawanya di atas meja sang pria. "Maaf mengganggumu, Sasuke-sama. Ada kiriman yang harus kuantar dari seorang tamu."
Pria itu mengambil sepucuk surat di atas map itu, kemudian membukanya perlahan. "Dari siapa?"
Wanita itu menggeleng. "Entahlah. Ia hanya bilang, kalau aku disuruh mengirimkan ini semua pada Anda. Setelah itu, Anda juga dapat pesan lisan darinya."
"Apa?"
"Usai mengecek isi map dan surat ini, Anda disuruh datang ke Lown Café di dekat komplek rumah Hoku Konoha."
Itu kan dekat rumahku?
"Lalu?"
"Itu saja."
Sang direktur mengangguk-anggukan kepalanya. "Oke. Kau boleh kembali kerja, Yato," ucapnya memerintah, seraya mengambil map yang baru saja diserahkan sang wanita.
Wanita itu mengangguk seraya tersenyum. "Arigatou, Sasuke-san."
Ketika sang karyawan keluar dari ruangnya, Sasuke segera membaca isi surat tersebut. Matanya dibuat sedikit melotot.
.
Hai, Uchiha.
Sangat senang manakala temanku yang anti-perempuan ini sekarang sudah menikah dengan putri semanis Sakura. Kukira, kau akan jadi perjaka selamanya. Ternyata, hatimu luluh pada Sakura, ya? Haha.
Jadi bagaimana rumah tangga kalian? Semoga awet ya.
Omong-omong, kau mendapat map kan? Buka map itu. Kau diundang seorang temanku untuk mengikuti pesta di sebuah bar terbuka di Konoha. Dan kau kenal pasti dengan seorang temanku ini. Datanglah kesana! Itung-itung, mengisi waktumu saat berumah tangga dengan Sakura, haha.
Lalu, temui aku di Lown Café ketika kau ada waktu luang. Tapi hari ini saja ya, kalau memang tak ada waktu, ya sudah.
Titip salamku pada istrimu.
-Sasori-
.
Sasuke tersenyum tipis.
"Sasori, ya?"
~0~
"Ah, Sasuke?"
"Hn."
Pemuda bermata hazelnut itu tersenyum, kemudian segera duduk bersamaan dengan Sasuke. "Kudengar, sekarang kau naik pangkat menjadi direktur?"
"Hn."
"Aku turut senang," ucap Sasori berbasa-basi. Pemuda itu menyeruput cangkir teh hangatnya, kemudian menghela napas sebelum mengutarakan sesuatu pada Sasuke.
"Selain ini, aku juga membawakan kabar tentang kakakmu."
Deg!
Mata oniks itu melotot mendengar penuturan Sasori tadi, namun tubuhnya tak bergerak barang satu detik pun. Sasuke pun menunduk ke bawah dengan wajah gugup.
Setahunya, Itachi sudah tak ada.
Perusak keluarga Uchiha itu sudah dideportasi dari Konoha karena sudah mengancam dan membuat resah para warga Konoha, dan sekarang berada entah dimana. Sasuke sudah sepenuhnya melupakan bayang-bayang kakak satu-satunya itu. Meski pun merupakan figur terburuk Konoha, Sasuke tak dapat memungkiri kalau Itachi lah sumbernya untuk bisa bangkit dari keterpurukan seperti ini.
Dan sekarang, kabar yang Sasori bawa memaksanya untuk memutar masa lalunya itu.
"Dimana Itachi?" tanya Sasuke dengan hawa hitam, membuat Sasori mulai bergidik melihat tatapan elangnya. Pemuda itu menaruh cangkir tehnya di atas meja dengan wajah tenang.
"Berhenti bersikap sepanik itu," ujar Sasori. "Pemuda itu mulai membuat kerusuhan di Iwa. Kelihatannya, pemuda itu mulai jadi buronan lagi."
Sasuke menghempaskan tubuhnya di atas kursi. Ia memijit keningnya dengan wajah kusut. "Lama-lama marga Uchiha tercemar karenanya," komentar Sasuke seraya menatap kosong ke bawah.
Padahal, pemuda itu sudah hampir membangun secara keseluruhan marga Uchiha yang baik-baik dan terhormat.
Tapi, keberadaan Itachi dipastikan mampu meruntuhkan nama baik marga terpandang di Konoha itu.
"Maaf, tapi aku tak bisa menahannya," ucap Sasori dengan mata sedih. "Aku bukan polisi yang mudah menangkap buronan seenaknya. Aku juga tak mau mati di tangan kotornya."
Sasuke mengambil cangkir kopinya, dan menyeruputnya sedikit demi sedikit. Ia tak lepas memandang Sasori yang sedang menatap jauh dari jendela.
"Hanya itu yang mau kau sampaikan?" tanya Sasuke. Sasori pun segera menatapnya dan menggeleng. "Datanglah ke bar nanti malam. Kau tahu kan, siapa yang mengundangmu?"
"Hn. Neji."
Sasori tersenyum paham, kemudian berdiri. "Kau boleh pergi duluan. Atau kau ingin disini? Bersantai saja dulu."
Pria berambut chickenbutt itu menatap arlojinya. "Pekerjaanku masih sibuk. Aku permisi."
"Baiklah."
Sasuke berdiri, kemudian berjalan meninggalkan Sasori. Namun, sebelum benar-benar meninggalkan pemuda berwajah babyface itu, Sasuke berujar sesuatu yang membuat Sasori sedikit terkejut mendengarnya.
"Kalau kau menemui Itachi, lain kali langsung bunuh dia."
Sebegitu bencikah kau pada kakakmu, Uchiha?
~0~
Sore itu, kediaman Uchiha terasa sangat sunyi.
Sakura yang baru saja selesai memasak, segera merapikan meja makan dan menyajikan makan malam dengan rapi di atasnya. Ia melepas celemeknya dan tersenyum manis. Wanita itu berharap suaminya cepat pulang dan merasakan masakannya. Sakura memang tak pandai memasak, namun sekedar membuat makanan seperti pasta dan spaghetti, bukanlah hal yang sulit buatnya.
Usai merapikan meja makan, Sakura segera berjalan ke kamar Karin. Ia ingin mengajak gadis itu untuk segera turun makan malam.
Tok! Tok!
"Karin? Bisa kau buka pintunya?" sapa Sakura dari luar, tentunya dengan nada yang ramah dan bersahabat.
Setelah sekian lama menunggu, tak ada jawaban dari dalam. Sakura menghela napas. Karin jangan dibiarkan tertidur terus, wanita itu paling tak suka melihat seorang gadis yang terus berleha-leha dari pagi sampai sore menjelang malam begini. Sudah bukan tamu sementara lagi namanya.
"Karin?"
Namun hening, tak ada jawaban sedikit pun.
Dengan hati-hati, Sakura membuka pintu kamar itu. Mata hijaunya meneliti sekitar kamar Karin, namun gadis itu sama sekali tak ditemukan di sudut mana pun.
Kelihatannya ia pergi diam-diam saat Sakura sedang beristirahat tadi siang.
Sakura baru saja akan keluar, ketika melihat secarik kertas di belakang pintu kamar tamu itu. Sebelah alisnya terangkat, sepertinya memo itu ditulis oleh Karin sendiri.
.
Aku pergi sebentar. Maaf sudah membuatmu merasa kesal. Karin.
.
"Haah… pergi kemana sih, dia? Ada-ada saja."
~0~
"Halo?"
"Ino-chan! Kau ingat aku?"
"Hei, hei. I-ini forehead?"
Sakura mengerucutkan bibirnya ke depan. "Dasar pig. Berhentilah memanggilku jidat lebar!" seru Sakura manyun.
"Ahaha. Gomen, gomen. Kemana saja kau? Habis SMU, aku tak melihatmu lagi. Kau tahu? Aku kangeeeeen!"
"Aku juga, aku baru tahu nomormu dari Sabaku-san."
"Hoo… gimana keadaanmu sekarang? Ah, kudengar kau sudah menikah dengan pangeran es itu, ya?"
Sejenak, pipi Sakura memerah tipis. "A-ah… begitulah."
"Wah, selamat! Aku turut bangga mendengarnya! Semoga mendapat keturunan yang secantik kauuuu!"
"Ahahaha, kau bisa saja."
Hening sesaat. Tak ada yang mampu memulai pembicaraan.
"Errr… Ino?"
"Nani?"
"Hari ini kau ada acara? Kalau tidak, kita ketemuan yuk! Aku ingin melihat wajahmu, pig!"
"Ah, sudah kuduga. Aku juga merindukanmu, forehead! Baiklah, nanti jam enam ya. Kau sudah minta izin Sasuke, kan?"
Sakura menelan ludahnya. Ia bahkan sudah menelepon sang suami hampir lima kali, namun apa yang didapatnya selalu nihil. Jadi, mana mungkin ia bisa meminta izin dari pria keturunan terpandang itu?
"Eh… su, sudah."
"Oke. Jam enam, oke?"
Usai menutup telepon, Sakura menatap meja makannya. Sudah terhidang berbagai macam masakan di sana, namun tak ada seorang pun yang berniat memakannya. Segitu jijikkah masakan Sakura dipandang orang? Padahal, masakan Sakura jauh lebih baik dari masakan Ino yang bisa dibilang sebagai biang racun sekeluarga.
Dengan hati sedikit kecewa, Sakura menutup masakan yang baru saja selesai dimasaknya itu dan menaruhnya di kulkas.
"Sasuke-kun pasti pulang malam lagi. Biar kuhangatkan saat pulang nanti."
Sakura pun segera bersiap-siap, menemui kawan lamanya.
Sekaligus menemui sesuatu yang cukup mengejutkan.
~0~
Glek… Glek… Glek…
Di depan seorang bartender muda, pria itu berulang kali meneguk bir dari gelas yang sama. Bayangkan, sudah dua botol bir habis dengan cepat olehnya. Bau alkohol tercium jelas dari dalam mulutnya. Ia sama sekali tak tampak sesegar ketika memasuki bar tersebut.
"Baka. Kau bisa dimarahi istrimu jika pulang-pulang mabuk berat begitu," nasihat Sasori yang baru saja menemukannya. Sasori memang kehilangan Sasuke saat sedang berpesta bersama Neji. Secara tiba-tiba, Sasuke ditemukan sedang mabuk-mabukkan usai pesta berlangsung.
Sasuke melirik Sasori sekilas, kemudian tertawa renyah. "Hik… Hik, kau yang bodoh. A… hik, hik… aku tak peduli."
Sasori geleng-geleng kepala mendengar ucapan Sasuke yang berada di bawah alam sadarnya, kemudian menjauhkan botol bir yang masih tersisa setengah di hadapan pria itu. "Hentikan. Kau tak boleh begini hanya karena kakakmu."
"Terserah… hik, hik."
Sasori menunduk pasrah, kemudian melihat jam tangannya. "Ini sudah jam tujuh. Mungkin saja istrimu sedang menunggu kedatanganmu untuk makan malam bersama, kan?"
"Di-dia… hik, sudah ditemani… hik, hik… Ka-Karin."
"Karin?"
"Hn."
Ketika Sasori ingin menghalau Sasuke yang berusaha mengambil botol birnya, Neji muncul. Pria yang baru saja memulai rumah tangganya dengan Tenten dua bulan yang lalu itu terkejut melihat Sasuke di sampingnya. "Lho, sejak kapan kau disini, Uchiha? Kau tak ikut minum bersamaku?" tanya Neji. Bola mata lavendernya menoleh pada Sasori.
"Dia menghilang saat pesta," jawab Sasori seadanya. Keduanya menatap Sasuke yang sedang meneguk vodka itu.
~0~
"Ah, Sasuke masih bekerja?"
Sakura mengangguk, mengiyakan jawaban Ino. Kedua wanita itu menyeruput teh masing-masing secara bersamaan. "Entahlah. Sudah kutelepon berulang kali, tapi ia tak mengangkatnya. Mungkin ia sedang sibuk."
Ino menaruh cangkir teh manisnya. "Kenapa kau nggak ke kantornya saja? Bukan maksudku menyumpahi, tapi firasatku tentang pria itu sama sekali tak menyenangkan."
Sakura mengangkat sebelah alisnya. "Maksudmu?"
Ino tertegun sebentar, kemudian tertawa garing. "A-ah… tidak ada."
Sakura mengangguk-angguk paham.
"Nah, bagaimana hubunganmu dengan Sai, pig?"
Sekejap, wajah Ino diliputi rasa malu. Pink blush terlihat jelas di pipinya. "Ah, pipimu memerah. Kawaiiii!"
Ino segera melambai-lambaikan tangannya dengan wajah malu di depan Sakura. "Uh, jangan begitu! Saat ini, Sai sedang sibuk dengan pekerjaan melukisnya itu."
"Ohaha…"
Ketika suasana mulai hening, Ino mendekatkan wajahnya pada Sakura.
"Sekedar memberitahu," tambah Ino dengan wajah serius. "Kau tahu Konan, kan? Wanita itu sudah lama sekali menikah dengan Pain."
"Hm," balas Sakura seadanya.
"Kemudian, yah… ketika malam, Pain tidak pulang-pulang. Dengan wajah gelisah, Konan pergi ke segala tempat yang selalu disinggahi Pain. Dan kau tahu? Konan menemukan pria itu sedang berada di bar–" Ino mengambil cangkir tehnya, kemudian menyeruputnya, "–sedang bercumbu dengan seorang pelacur."
Deg!
Entah kenapa, perasaan Sakura mendadak semakin tak enak mendengar ucapan Ino.
Sakura menghela napas berat. Tak mungkin seorang Uchiha Sasuke melakukan hal sebiadab itu.
Sasuke kan tidak seperti Pain, yang punya otak sangat mesum.
"Huh. Kau datang kesini untuk membuatku cemas, ya?" ejek Sakura seraya mengerucutkan bibirnya ke depan. Wajah cemberut Sakura yang terlihat imut, disambut Ino dengan tawa cekikikan. Hal itu membuat Sakura makin jengkel. "Maksudmu apa menertawaiku begitu, pig?"
Ino menghentikan tawanya, kemudian mengaduk-aduk cangkir tehnya. "Bukan begitu. Aku kan, hanya bercanda. Jangan dianggap serius begitu, forehead."
Sakura menghela napas berat, kemudian melirik jam di ponsel touchscreennya. "Ano… sepertinya aku harus pulang. Sekarang hampir menuju jam delapan," ucap Sakura seraya memasukkan gadget-gadget miliknya ke dalam tas. Giliran Ino yang mengerucutkan bibirnya. "Sebentar saja, nih? Aku masih ingin bersamamu, Sakura!" seru Ino seraya menatap Sakura memohon dengan iris aquamarine yang indah itu.
Sakura tersenyum pasrah. "Mau bagaimana lagi? Ini tanggungan seorang istri," ucap Sakura, kemudian bangkit dari tempat duduknya.
"Titip salamku untuk Sai, ya? Ngomong-ngomong, ini uang untuk tehku," ucap Sakura, seraya memberikan beberapa keping uang pada Ino.
"Baiklah," jawab Ino dengan wajah kecewa. "Kapan-kapan kita ketemu lagi, ya! Daisuki desu, forehead!" seru Ino, seraya melambai-lambaikan tangannya pada Sakura yang mulai meninggalkan kafe tersebut.
Sakura membalas lambaian tangan itu, sekaligus senyum Ino. "Daisuki, pig!"
.
Dalam perjalanan pulang, entah kenapa firasat Sakura mulai tidak enak. Tentu saja firasat itu mengenai sang suami dan teman barunya, Karin. Dengan hati-hati, Sakura menekan nomor ponsel kantor suaminya, berharap sang suami masih sibuk dengan pekerjaannya. Sangat jarang ketika Sasuke pulang jam segini. Pasti keadaan rumah masih kosong.
"Ah, Sakura-sama?" sapa Yato, asisten Sasuke, dengan ramahnya.
"Ah, Yato. Apa Sasuke masih di kantor, atau sudah pulang? Entah kenapa firasatku hari ini tentangnya sama sekali tak enak."
"Sasuke-sama? Hm… tunggu sebentar…"
"Ah! Kurasa, Sasuke-sama belum pulang. Katanya, nanti malam ia akan ada janji di suatu klub di daerah Konoha. Tapi, aku tak tahu dimana klub yang ia maksud."
Sakura semakin cemas. Apa yang Sasuke lakukan malam-malam begini di klub? Apa janjinya disana? Bersama siapa ia berjanji?
Sakura mulai berpikir yang tidak-tidak.
"Apa ada petunjuk? Klub di Konoha kan banyak, Yato."
Sekitar semenit, Sakura menunggu jawaban asisten terpercaya suaminya itu.
"Hum… a-aku tak begitu yakin. Ta-tapi… tadi, Sasuke-sama sempat menyebut-nyebut kata 'ao' dan 'kaote'."
"Ao dan kaote?" balas Sakura dengan wajah kebingungan.
"Ya, begitulah."
Sakura berpikir sejenak. Rasa-rasanya, ia pernah mendengar kata-kata itu dari seseorang. Ao dan kaote, ya?
"Haaah… baiklah. Terima kasih atas informasimu, Yato."
"Oke, Sakura-sama. Maaf tak bisa membantumu lebih banyak."
Tit.
Dengan wajah lusuh, Sakura memasukkan ponselnya dan berjalan pulang dengan kekecewaan. "Sasuke-kun dimana? Kenapa ia nggak bilang dulu kalau ingin ke klub?"
Di tengah-tengah keputusasaannya, Sakura secara tak sengaja menabrak seorang pemuda yang berjalan dengan lunglai. Dengan wajah kaget, Sakura langsung membantu pemuda itu bangun. "Go-gomenasai!"
Dengan wajah yang penuh semburat merah karena terlalu mabuk, ia menatap Sakura. Matanya terlihat tajam. "Cih. Kalau jalan yang benar, bodoh!"
Ketika pemuda itu melanjutkan jalannya dengan lunglai, Sakura kembali berjalan pulang. Namun, entah kenapa cercahan sinar di samping kanannya mengganggu matanya.
Dengan penasaran, Sakura menoleh ke samping. Matanya melotot lebar.
Di depan matanya, banyak sekali gadis dengan pakaian yang sangat mini lalu-lalang memasuki gedung tua itu. Sakura menaikkan sebelah alisnya. Mau apa para gadis yang terlihat murahan itu?
Ketika Sakura mendongakkan kepalanya ke atas, ia menemukan suatu nama yang membuatnya tersenyum lega.
Ao Kaoteru
Mata hijaunya berbinar-binar. "Tadi Yuto bilang ao dan kaote, kan? Mungkin saja tempat ini!" serunya girang.
Dengan wajah lega, Sakura berjalan memasuki gedung kuno itu.
Sekaligus berharap agar tak ada hal tolol yang Sasuke lakukan di dalam.
~0~
"Nah, kau tampak cantik!"
Dengan wajah berseri-seri, Shion menatap temannya yang sekarang berbalut kimono berbahan tipis dengan panjang sepaha. Apalagi, saat ini wajahnya sudah berhiaskan lipstik merah muda tipis dan eyeshadow berwarna abu-abu. "Simpel, tapi kau tetap terlihat istimewa!"
Karin yang sedang duduk itu hanya tersenyum malu. "Shi-Shion… tetap saja, kau kan pujaan lelaki di sini!" seru Karin dengan wajah jahilnya.
Shion menyambut hal itu dengan tawa lebarnya. "Pembual. Banyak lelaki yang menginginkanmu, Karin!"
"Tapi–"
Omongan Karin terhenti, ketika seorang pemuda dengan pakaian bartendernya masuk. "Karin, Shion?" sapanya pemuda itu, yang dibalas oleh Shion dan Karin dengan anggukan singkat. "Pergi ke meja bar. Banyak lelaki yang sedang mabuk disana!" seru pemuda itu, kemudian berlari kembali menuju meja bar.
Shion dan Karin saling menatap, kemudian berdiri. Mereka berjalan bersamaan keluar dari ruang ganti.
Dan ketika keluar, Karin terkesima. Sangat banyak pelanggan di meja bar saat ini. Keringat dingin mulai bercucuran di kepalanya.
Namun, tiba-tiba saja tangan Shion yang hangat mengekang tangan kanannya. Gadis itu menatap Shion dengan tatapan takut.
"Hei, kau jangan takut," ucap Shion menyemangati, sambil menghapus keringat di wajah Karin. "Kita melakukan ini, juga untuk hidup kita, kan? Ini tanggungannya menjadi geisha."
Karin terdiam sejenak, mata merah itu menatap iris lavender Shion dengan hangat.
Tak lama kemudian, ia tersenyum pasrah. "Iya. Ayo, Shion."
Dengan menahan gugup, Karin berjalan kepada para pria berhidung belang itu. Ada yang menatapnya dengan tatapan haus, ada pula yang menatapnya jijik. Karin hanya mendekati para pria itu sesaat, kemudian meninggalkan mereka dengan alasan takut.
Dan inilah saat kagetnya. Ketika gadis itu menemui pria yang sedang mabuk-mabukkan di barisan paling ujung.
Pria itu sama sekali tak tampak sehat. Wajahnya pucat, dan ia menatap Karin dengan wajah yang agak kaget. Meski pun saat ini tampaknya ia sedang mabuk. "Ka-Karin?" tanyanya dengan suara tak karuan.
Karin tertegun sejenak. Ia kenal betul siapa pria ini. Pria berambut pantat ayam yang sedang mabuk-mabukkan itu… bukankah Sasuke?
"Sa-Sasuke-sama? Kenapa kau kemari?" tanya Karin dengan wajah heran sekaligus kaget. Sasuke hanya memandangnya dengan tatapan hina.
"Hik, hik… ka-kau… hik, pelacur… hi-hik… ya?"
Deg!
Karin menghela napas berat. Sudah sangat sering dihina begini, tapi menurutnya ini sangat berat jika yang mengatakannya adalah sosok seorang Uchiha Sasuke.
"Ano, Sasuke-sama–"
BRUK!
Dan tanpa diduga, hal mengejutkan itu terjadi.
~0~
Sedangkan Sakura? Ia masih sedang mencari sang suami.
"Sasuke-kun? Sasuke-kun?"
Tiap kali berjalan, acapkali Sakura menabrak seorang pemuda berhidung belang yang sedang mabuk atau seorang bartender. Keadaan di klub itu memang sangat ramai, bahkan Sakura tak memungkiri kalau sudah lebih dari sepuluh kali tubuhnya terombang-ambing diantara lautan manusia pemabuk ini. Melelahkan, bukan?
"Sasuke–"
Grep!
Sakura baru saja akan menemukan Sasuke, ketika sebuah tangan menggapainya dengan cepat. Dengan panik, Sakura berusaha melepas genggaman tangan mendadak itu. "Le-lepaskan! Kurang ajar! Pengecut! Lepaskan!"
Sekian lama Sakura berteriak, barulah ia menyadari kalau pemuda yang mengeluarkannya dari keramaian itu adalah sosok teman masa lalunya.
"E-etto… Sasori-kun?" tebak Sakura dengan wajah bingung, yang disambut dengan senyum dari wajah super babyface itu. Ia kemudian melepas tangan Sakura yang sudah digenggamnya dengan erat sejak tadi.
"Hah, Sakura. Sedang apa kau disini?" tanya Sasori dengan wajah berkeringat.
Entah kenapa, rasanya ia sedang menyembunyikan sesuatu dari Sakura.
Sakura melirik ke sekitarnya. "Sasuke-kun! Kau melihatnya, tidak?" tanya Sakura dengan wajah cemas.
Kini giliran Sasori yang menelan ludah menahan panik dan cemas.
"Eh, Sasuke ya? I-ia tadi kesini, ta-tapi–"
"Berarti yang kulihat tadi memang dia!"
TAP! TAP! TAP!
Mata hazelnut itu kaget bukan main, melihat Sakura yang langsung berlari menerobos puluhan manusia yang sedang menari itu. "SAKURA-CHAN! Aduh, gawat…" seru Sasori dengan wajah panik, seraya berlari mengejar Sakura. Namun terlambat, bayangan Sakura makin memudar seiring membludaknya jumlah penari di klub tersebut.
"Hah… hah…"
Dengan sekuat tenaga, Sakura berlari mendekati sosok lelaki di ujung sana yang sedang membelakanginya. Senyumnya makin merekah lebar. "Sasuke-kun!"
Sebentar lagi, sebentar lagi…
DEG!
Entah kenapa, tiba-tiba saja Sakura berhenti.
Bibirnya mendadak tak bisa digerakkan, apalagi tubuhnya. Melihat seseorang yang saat ini sedang asyik bersama Sasuke, mendadak kemampuannya menghilang entah kemana.
Apalagi saat ini hal yang tengah mereka lakukan bukan hal yang main-main, bukan hal yang sering Sakura rasakan tiap hari.
Bercumbu. Tidakkah itu keterlaluan?
Jantung Sakura hampir saja berhenti.
"Ka-Karin-san?"
~0~
To Be Continued!
.
Moshi-moshi! ^o^
Masih adakah yang inget sama fic ini? Kalau ada, kupeluk ya~
Aku selesain fic ini, karena ngerasa fic ini udah bulukan banget. Sayang kan, kalau engga di lanjut? Tentu saja, aku butuh kritik dan saran kalian, minna~
Oh iya, tentang Sleeping Prince, kukira bakal hiatus dulu. Aku bingung mau lanjutinnya gimana.
Oh iya, sebenernya, tugas geisha yang sebenernya nggak sama kayak (maaf) pelacur di kota metropolitan ini. Tapi, di fic ini kusamakan sama budaya Jakarta. Nggak apa-apa, ya?
Gomenasai T-T
Pastinya, aku minta saran kalian yaaaa~
Sampaikan di kotak review, minna-san ;)
Arigatou gozaimasu! :)
.
Friday, 10 May 2013
At Jakarta
Analicious!
.
