2
Eegsy menguatkan diri untuk kembali ke bangku sekolah. Terlebih dengan sedikit baju yang bisa ia pilih di lemarinya yang tidak membuatnya kesal, ia tidak ingat selera Michelle seburuk itu, terutama dengan gambar-gambar jerapa itu. Ibunya menatapnya dengan aneh saat ia menolak apa yang disebut baju favoritnya dan memilih kaos biru tua tanpa motif dan jins. Sepertinya ia juga tidak mengingat banyak hal, seperti sebesar apa anak-anak lain terlihat dibanding dirinya. Ia memang tidak begitu tinggi untuk ukuran pria Inggris, namun sebagai anak-anak ia merasa seperti kurcaci. Itu tidak memperbaiki mood-nya.
Ia tidak bisa berhenti memperhatikan CCTV di sepanjang jalan yang bergerak mengikutinya—ia tahu Harry berada dibalik itu—dan melambai. Ia menghela napas saat Jamal berlari dari pelukan ibunya ke arahnya dan tersandung sebelum tersungkur. Kini ia harus kembali menghadapi jamal versi belum di update. Jamal duduk disebelahnya saat makan siang dan secara harafiah mengikutinya seperti anak bebek. Wajah polosnya tampak heran saat Eegsy menimpalinya dengan cara serius; ia memang di tubuh anak-anak, tapi itu tidak membuatnya menjadi idiot. Setelah sepanjang hari berjuang menahan kantuk, bel pulang akhirnya berbunyi. Ibunya ada sesi ke psikiater hari ini, jadi ia tahu harus pulang sendiri. Ibunya sempat ragu sebelum ia berhasil meyakinkannya membiarkannya pulang endiri. Jarak sekolah dengan rumah cukup dekat dan ia kenal semua orang yang tinggal di lingkungan itu. Tapi Eegsy tidak punya rencana untuk minta diantar salah satu dari mereka, ia cukup dewasa untuk tidak mengikuti orang asing. Dan Harry Hart bukan orang asing.
Pria itu berdiri bersandar di payungnya, tepat di depan pagar sekolah dengan pakaian rapi dan tatanan rambut sempurna. Seakan tahu jika Michelle tidak datang, well, tentu saja dia tahu. Para wali murid yang tidak terbiasa melihat orang berpakaian sepertinya di daerah ini tak berhenti menatap. Tapi Harry tampak tak peduli.
"Halo, Eegsy."
"Hulo," ia mendekat selangkah, sebelum mundur kembali; tampak seperti bocah pemalu walau sebenarnya lebih karena kaget.
"Ibumu mengambil sesi di Psikiater?" seakan ia belum tahu saja.
Eegsy mengangguk, "Terima kasih, sudah mau membantu ibu." Pria itu masih menjaga jarak. Ingin rasanya Eegsy berlari dan memeluknya.
"Sudah kewajibanku."
"Apa kau datang untuk menjemputku?"
"Well... bisa dibilang begitu," baru Harry mendekatinya perlahan, seakan takut Eegsy berlari menjauh. Ia merendahkan tubuhnya hingga kepala mereka sejajar sehingga Eggsy tidak harus menengadah. "Walau kita bisa jalan-jalan sebentar sebelum pulang," kalimat itu dikatakan dengan nada bertanya. Sehingga semua terserah Eegsy.
"Tentu, Harry," ia menolak memanggilnya sir atau apapun selain Harry.
"Kita bisa menjemput ibumu juga, seandainya sesinya sudah selesai." Eegsy mengerdikkan bahu, seakan berkata cukup adil, dan itu membuat tatapan Harry mengandung humor. "Aku harap ibumu segera sehat."
"Begitu juga aku, Harry," katanya, meraih dan menggandeng Harry, membuat pria itu membeku beberapa detik sebelum kembali melangkah menuju taxi Kingsman yang sudah menunggu. Sepanjang perjalanan, ia tahu Harry memperhatikannya dari sudut matanya. Eegsy tidak bodoh, bah, ia mantan agen rahasia. Sejak pertamakali bertemu dengannya, pria itu memandangnya seakan ia puzzle yang harus dipecahkan. Eegsy membiarkan pria itu menatap sepuas hati, karena tidak ada mungkin ada yang bisa menebak sikap anehnya karena ada orang tua di tubuh anak kecil.
"Bagaimana sekolah, Eegsy?"
Eegsy berpaling dari jendela, "Hm... guru memberiku banyak soal hari ini, bilang ingin mengukur kemampuanku," ia mengerdikkan bahu, "Tidak terlalu sulit untuk soal yang dibuat mengukur kemampuan."
Harry menaikkan alis, "hm..."
Pria itu tidak berusaha mengajaknya bicara lagi, menyadari jika Eegsy tidak seperti anak kebanyakan yang harus dialihkan perhatiannya supaya tidak bosan. Eegsy oke dengan diam saja, maka, pria itu membiarkannya menghabiskan waktu memandang ke luar jendela, memikirkan ibunya; Eegsy menyadari dilema yang dihadapi ibunya. Ia tahu jika ibunya benci pergi ke psikiater, ia tahu jika ibunya tak merasa membutuhkan bantuan. Cinta Michelle pada Lee begitu dalam sehingga mampu menguatkan, namun begitu hilang menjatuhkan ibunya ke jurang paling gelap. Ia memahami itu, namun ia juga bukan hanya Eegsy yang berumur 7 tahun, ia juga Eegsy yang merasakan hidup di bawah kaki Dean, ia Eegsy yang pernah menjajakan dirinya sebagai pelacur, sementara ibunya memalingkan muka dan hidup dalam delusi. Ia Eegsy yang menelungkup melindungi Daisy sementara tubuhnya dihajar, Ia Eegsy yang tidak lagi menghitung jumlah botoh alkohol di konter dapur, ia Eegsy yang bisa kejam, ia Eegsy yang pernah merasakan beratnya memegang pistol. Maka, walau ia tahu Michelle belum menjadi orang yang sama, ia tahu ibunya akan jatuh pada lubang yang sama. Ia mencintai ibunya, tapi ia juga tidak bisa disuruh memilih antara ibunya dan Harry, karena Harry adalah simbol apapun yang ibunya tak pernah bisa berikan.
Harry membantunya turun dari taxi, tangannya tidak lepas dari punggungnya, membimbingnya pada restoran klasik yang familier. Eegsy sempat gamang, seandainya Harry tak memeganginya, mungkin ia sudah jatuh karena kakinya terlalu lemas. Pria itu memandangnya dengan cemas, dan Eegsy tidak bisa menahan diri untuk tidak menghambur, menabrakkan kepalanya ke perut pria itu hingga ia terjengkal selangkah ke belakang. "Eggsy?" Ia tetap Harry, seperti apapun awal pertemuan mereka, sebeda apapun mereka, ia tetap Harry dan ia tetap membawanya ke restoran Itali. Harry yang bingung melihat tingkahnya, turun dan memeluknya lembut. Eegsy melingkarkan lengannya ke leher Harry dan memejamkan mata kuat-kuat. "Eegsy? Jika kau tidak suka kita bisa ganti tempat."
"Tidak." Eegsy melepaskan diri supaya bisa menatap Harry, tapi tidak bergerak menjauh. "Trims, Harry. Sudah lama aku ingin kesini." Melihat senyum lebarnya, Harry tampak lega dan membalas dengan senyum yang sama, membuat warna tembaga matanya menjadi lebih hangat. Harry menarik lepas tangan Eggsy, tapi tidak melepaskannya. Tangannya yang berada di punggung Eegsy, membimbing langkahnya saat pelayan membuka pintu untuk mereka dan mengarahkan pada meja resevasi. Eegsy menyipitkan mata pada Harry yang berpura-pura tidak melihat. "Percaya diri, Harry," gerutunya.
Mereka melewatkan makan siang yang memuaskan; Eegsy tidak menumpahkan makannya—well, hanya sedikit, karena ia tak terbiasa dengan tangan kecil. Harry sempat heran melihatnya memilih makanan tradisional Itali, bukan sejenis spagetti yang biasa disukai anak-anak. Ia bahkan sempat menganjurkan beberapa menu lain, tidak yakin Eegsy benar-benar tahu apa yang dipilihnya. Tapi Eegsy tidak membiarkan pria itu memisahkannya dari makanan favoritnya. Ia tampak lega setelah melihatnya tidak memutahkannya kembali. Sepanjang waktu Harry mengamatinya, tidak yakin perbincangan yang cocok untuk anak umur 7 tahun. Lagipula, pembicaraan yang umum bagi mereka hanya ada di seputar Kingsman, dan guyonan pribadi yang belum menjadi bagian hidup Harry. Ia merasa sedikit sedih, tapi makan berdua sudah cukup untuknya. Dan rupanya, melihat Eegsy puas sudah cukup bagi Harry untuk melanjutkan suapannya.
Mungkin karena perasaan puas dan teman makan seorang Harry Hart yang membuatnya menurunkan kewaspadaan hingga ia tak ingat kapan ia tertidur, tapi begitu terbangun, kepalanya bersandar di bahu Harry dengan muka menghadap ke lehernya; ia mencium aroma khas Harry dan kain mahal. Tubuhnya yang kecil dipeluk sementara pria itu membawanya menaiki tangga apartemen. "Aku membuat jasmu kusut..." komentarnya dengan nada mengantuk.
Pria itu hanya tersenyum, "Ah... bukan masalah. Aku tidak tega membangunkanmu."
Eegsy mengerjap beberapa kali sebelum kembali merebahkan kepalanya. "Kuncinya ada di bawah pot..."
"Hm... tidak seharusnya kau memberitahu orang asing," nadanya jahil.
"Kau bukan orang asing, Harry."
Pria itu tiba-tiba membeku. Sebelum mengendorkan gendongannya, supaya ia bisa menggerakkan tangan untuk meraih kunci itu. Eegsy tidak lepas dari gendongannya, bahkan setelah mereka masuk. Pria itu berdiri diambang pintu sambil memandang sekeliling, seakan baru pertamakalinya bisa mengamati lebih baik. Pria itu membawanya ke kamar, mengamati sejenak pada mainan yang ditumbuk dalam kotak dan tampak lama tak tersentuh, juga buku-buku yang berserakan dan menumpuk hingga masuk ke kolong tempat tidur, sebelum menurunkan Eegsy ke tempat tidur. Pria itu melepaskan sepatunya dan mengusap pipinya sementara Eegsy menatapnya. "Kau lebih baik pulang, sebelum ibu datang dan menemukanmu disini."
Pria itu mengerjapkan mata, tampak terkejut Eegsy menyadari ibunya tidak menyukainya. Lalu mengangguk dan menegakkan tubuh sembari berpamitan. "Sampai jumpa, Eegsy."
"bye, 'rry..." bisiknya sambil menguap.
