"Apa kau serius naruto? Ini bukan hal yang anak seumuranmu bisa lakukan." kakek tua itu memijat keningnya untuk meredakan pusing yang diakibatkan pernyataan tiba-tiba anak pirang berpakaian serba hitam didepannya. Sedangkan yang diajak bicara sedang tersenyum ceria, tak menyadari bahwa perkataannya bisa membuat kakek serasa ingin jantungan dini.

"Minato bahkan tidak sekalipun mencoba pada seusiamu. Setiap orang berbeda formula, dan walau kemampuanmu tak diragukan, namun ini terlalu beresiko Naruto. Kau tidak tahu kecelakaan apa saja yang bisa menimpamu." bibir anak muda terkatup rapat, ekspresi ceria menghilang.

"Aku tahu itu jiji. Aku mengumpulkan segala informasi mengenai hal ini dan semua sudah siap . Aku kemari hanya ingin memberi tahu jiji. Keputusanku sudah bulat." Tatapan tak terbaca Naruto menatap lawannya. Sebelum membalikan badan berjalan menuju pintu ruangan.

"Bagaimana dengan ibumu? Kami khawatir kalau kau kenapa-kenapa, Naruto!" seruan pria yang sudah berambut putih menghentikan langkah kaki si pemuda. Naruto menengok kesamping, sedikit melirik sang kakek yang sedang duduk dengan raut kekhawatiran yang jelas disela-sela wajah keriput

"Tak masalah, ada nii-san yang menjaganya. Jangan terlalu khawatir, karena aku tak pantas dikhwatirkan." tangan dibalut kulit putih menggenggam gagang pintu. "Saya permisi dulu, Hokage-sama."

Blam

Suara pintu kayu tertutup sebelum hening. Asap cerutu disudut meja masih terbakar. Hokage tua itu memutar kursinya, menghadap jendela. Menampilkan pemandangan bukit Hokage. Menatap sedikit lama pada pahatan rupa Hokage termuda di konoha. Raut yang sangat mirip dengan sang pemuda yang baru menemuinya. Iris hitamnya melirik kebawah. Menemukan anak pirang berjalan dengan kedua tangan menyusup di saku celana hitamnya. Dengan kepala tegak, melewati jalan dengan orang yang berbisik-bisik melihatnya.

"Apa—yang sedang kau kejar, Naruto?" suara lirih menghilang, ditengah gesekan angin musim gugur.


Naruto belongs to

Masashi Kishimoto

Harry Potter © J.K. Rowling

The Black Parade

Original story by: Larryry


Summary : Naruto sering dijauhi karena dianggap aneh. Akhirnya ia menemukan bahwa apa yang dianggap orang-orang suatu keanehan adalah keajaiban yang tak mereka miliki di tanah ini.

"—aku akan pergi." Tempatku bukan disini.

"—kalian bisa memanggilku, Nash." Rahasia tersembunyi.

"Jadi, siapa kamu sebenarnya?" Anggapan sebuah anomali.

Warning :Typo(s), OOC! OC! Harry Potter universe.

.

.

.

Hogwarts.

Edward beberapa kali menggosok telunjuknya pada hidungnya setelah mencium bau bawang putih yang menguar dalam kelas pertahanan ilmu hitam. Di depan kelas, berdiri Quirrell disamping papan tulis. Lelaki itu tak cukup baik menyembunyikan kegugupannya. Ada rumor yang mengatakan Quirrell ketakutan setelah pertemuannya dengan vampire di Rumania.

Edward sedikit memutar bola matanya, bosan. Mendengarkan seorang lelaki tua berbicara hampir selalu gagap dan menjelaskan suatu hal yang perlu kau pahami adalah campuran terburuk. 'Kalau ingin mengajar, ajarlah seorang troll saja sekalian, mereka akan lebih membutuhkan pengetahuan'. Edward membatin sarkastik seraya mendengus pelan.

Bulir cinnamonnya melirik kesisi kiri, terlihat Nash serius sekali memperhatikan Quirrell, terlukis jelas dirupa indah itu, walau Edward tak pernah mau mengakui tentu saja. "Kenapa sih terlihat serius sekali? apa menariknya? bicara aja gagap begitu?" Nada bosan tak disembunyikan Edward saat berbisik pada teman sekamar diasramanya itu.

"Menarik, aku dengar dia salah satu penyihir hebat bisa dibilang jenius, sedangkan kenyataanya ia bertingkah gugup dan ketakutan. Apa yang membuatnya begitu?" telapak tangan kiri menyangga sisi wajahnya, tangan lainnya berada diatas buku yang terbuka.

"Kau tidak tahu ya? Beberapa Gryffindor berkata bahwa Quirrell bertemu dengan vampir, karena itulah dia berubah, membuat kelasnya berbau ladang bawang putih." perhatian Edward sepenuhnya beralih pada Nash, tak lagi mengengarkan ocehan menyakitkan pikiran untuk memprosesnya sebagai ilmu.

"Kau lupa ya? Beberapa waktu lalu kau sudah mengatakannya padaku saat makan malam. Sangat sampai Lelucon kembar Weasley pada Quirrell." Nash berpaling pada Edward, dengan tatapan 'You-always-tell-anything-to-me-anytime-I-want-it-or-not'.

"Oh aku lupa— " si dirty blonde terkekeh kecil. Nash memutar bola mata, tak diragukan lagi. Edward termasuk banyak bicara dengannya, walau sedikit pendiam pada orang lain. Herannya kenapa disekian banyak orang, harus ia yang mengetahui sisi menyusahkan Edward. "—tapi, tenang saja. Ia akan diganti pada tahun depan. Kudengar posisi guru pertahanan ilmu hitam adalah terkutuk sejak you-know-who pernah ditolak dua kali saat mencoba mengajar posisi ini."

Nash mengangkat sedikit alis kirinya. "Well, Aku sudah dengar itu darimu."

Pemuda tampan itu tersenyum, hingga gigi putihnya sedikit terlihat.

"Sorry, aku lupa— haruskah aku menanyaimu terlebih dahulu sebelum memberi informasi?"

Menaikan bahu, rupa itu setengah tak peduli "Terserah kaulah. Tapi ide itu tidak buruk." Jemari lentik membalik kertas.

"Apa yang kau pikirkan tentang dia, Nash?"

Kelopak mata si pemuda pirang mengerjab beberapa kali. Terdapat kebingungan disana. Memiringkan sedikit kepalanya.

"Apa maksudmu, Ed?"

Pemuda yang lebih tinggi itu menyangga kepalanya dengan telapak tangan kanan. Posisi mirip dengan orang disebelahnya, memandang dalam iris masing-masing.

"Kau punya pemikiran lain tentang dia, Buddy. Entah kenapa aku merasa dirimu sedang memikirkan hal lain tentang dirinya. Semua orang berpikir ia pengajar yang tidak kompeten. Aneh saja, kau memperhatikan hal yang seluruh orang berkata dia hanya lelaki tak mengesankan dan paranoid, bahkan mungkin takut pada bayangannya sendiri."

Diantara mereka terdiam cukup lama. Nash mengalihkan tatapannya pada Quirrell didepan kelas, yang beberapa kali menghapus peluh di dahinya.

"Karena itulah bagian menariknya, Ed—" Nash menatap bagian belakang Quirrell saat sedang berbalik menulis sesuatu, tepat bagian kepala yang tertutup sorban, menelisik seolah bisa menembusnya.

"—aku pun juga ingin tahu, kenapa."

.

.

Menara Ravenclaw.

.

"Ayo keluar, Nash!" alis coklat Edward menukik tajam.

"Kenapa? Malas ah. Tanggung nih." Seru Nash yang masih berbaring tengkurap dengan santainya. Siku tangan menyangga tubuhnya. Ia membalik halaman buku dengan malas.

"Ayolah, memangnya kau tidak lapar?" terdapat nada rajukan dalam kata Edward. Ia tak habis pikir, membujuk Nash seperti membujuk anak balita.

"Diet sesekali bagus juga." jawab Nash tanpa mengalihkan pandangan pada deretan tulisan.

"Diet? Memangnya kau wanita?" setelah sidikit melongo akan jawaban teman sekamarnya, akhirnya si pemuda itu dapat bersua.

"Memangnya kenapa? Laki-laki kan nggak dilarang buat diet." masih dengan nada tak peduli yang sama.

"Tapi, diet itu tradisi cewek, Nash. Cowok kurus kurang gizi gitu, apa bagusnya?" Edward gregetan.

"Memang cowok tambun gitu, apa bagusnya?"

"Setidaknya, lebih kelihatan berisi dan jantan dibandingkan sekurus kertas."

"Tapi, tidak enak dilihat mata, Ed."

"Memangnya kurus enak dilihat mata?"

"Si Potter itu kurus seperti kurang makan banyak yang suka sama dia."

"Itu juga salah satunya dia terkenal, dear."

"Longbottom juga terkenal, tuh. Tapi aku nggak ngelihat fans-nya sebanyak Potter. Jadi, terbukti kurus lebih oke."

"Sejak kapan kau jadi fans-nya Potter?" Edward sedikit memiringkan kepalanya " Itu karena Longbottom punya sedikit otak, Nash."

"Hush! You're so rude, Ed. Dan Tidak, aku bukan fans-nya Potter." Pemuda iris cinnamon memberikan tatapan 'Oh yeah, tentu saja.'

"Ho? Kenapa tahu sampai sedetail itu soal fans-nya?" Edward memutar bola mata.

"Orang cerdas peka terhadap sesuatu disekitarnya, Edward."

Dan, buku tebal melayang pun bertabrakan pada kepala bersurai pirang. Menghasilkan bunyi brukk pelan.

"Yakk! Sakit tahu!" Nash menoleh cepat pada pelaku pelemparan buku dan melotot.

"Sorry? Tanganku bergerak atas kemauanku. Hanya mengetes, kau cerdas atau tidak."

Pemuda pirang posisinya berubah menjadi duduk. mendumel, menggerutu dan menyerampahi Pemuda yang lebih tinggi dari dirinya, seraya mengusap-usap surai pirangnya.

"Awas kau! Ku Santet dengan boneka Voodoo baru tahu rasa."

"Ho? Berarti aku perlu membuat boneka Voodoo untukmu juga. Ide bagus, terima kasih sudah menggingatkan." Edward sedikit menyeringai, membuat Nash sedikit kesal. Buku melayang ke arah Edward adalah hal yang terjadi berikutnya. Mencium dahi Edward dengan mulus.

"Shit! Kalau aku mati, aku akan menghantui mu, Nash!" pemuda itu terduduk dilantai karena shoot Nash yang akurat sambil mengusap-usap dahinya yang seketika memerah.

"Ho? Tak mau berpisah padaku ya? Setia sekali. Bahkan sampai mati. Sungguh hantu kurang kerjaan."

"Kau menyebalkan, Nash."

"Terima kasih."

"Sama-sama."

Yang semula terduduk dilantai dingin pun beranjak berdiri. Mengambil objek pelemparan dan menaruhnya dimeja.

"Benar nih? Nggak mau ke aula? Yakin?" Edward mananyai, namun tatapannya tertuju pada buku yang baru diletakkannya.

"Yakin. Tenang saja, aku tidak akan mati semudah itu kok walau melewatkan makan malam." Nash melanjutkan ke posisinya semula, Tengkurap.

"Oke, aku akan pergi sama Terry." pemuda itu berjalan ke arah pintu.

Blam

Pintu kamar tertutup.

Tak berapa lama kemudian Nash memutar badannya menjadi terlentang. irisnya memandang kosong langit kamarnya. Bangkit dari ranjang empuknya, berjalan ke arah jendela ruangan.

Halaman Hogwarts sepi pada malam hari, terutama saat makan malam. Aula sekarang pasti penuh hiasan labu Jack'O, tepat dimana malam halloween terjadi. Tak pernah terbayangkan olehnya, kehidupan masa remaja dihabiskan pada dunia ini, dunia sihir.

Pemuda pirang itu terkekeh kehidupan dirinya dulu, seorang shinobi yang sering dijauhi dan dianggap aneh. Hanya karena dirinya saat marah atau sedih sesuatu disekelilingnya berubah aneh. Sekeras dan gemilang apapun usahanya di bidang shinobi, tetap saja tak ada yang berubah. Anak aneh yang terkutuk, Nickname amat melekat bersanding namanya, Namikaze Naruto. Bukankah seharusnya mengeluarkan api dari mulut juga bisa disebut aneh?

Anak umur sebelas tahun itu sedikit mendengus. Orang-orang takut pada apa yang mereka yakini. Pemuda itu melihat telapak tangannya, mengamati guratan-guratan tak terlalu ketara, bukti perjuangan keras dalam karier shinobinya. Naruto sendiri sempat bingung, kenapa dia memiliki sihir disaat bersamaan ia mempunyai chakra.

Menariknya, orang-orang dunia ini sangat minim memiliki chakra, muggles jika tidak dirasakan dalam jarak dekat, tak akan terasa chakranya. Sedangkan penyihir? Malah tidak punya sama sekali.

Chakra dan sihir, menurutnya suatu kekuatan yang cara kerjanya mirip. Chakra membutuhkan segel tangan untuk memulai jutsu, sihir memerlukan tongkat untuk membuat mantra. Semakin kuat sebuah jutsu semakin banyak merapal segel tangan, beberapa shinobi berbakat dapat meringkas segel atau dapat segel hanya sebelah tangan. Dan sihir, beberapa orang dapat merapal mantra non verbal ataupun wandless.

Tak hanya sekali Naruto mencoba merapal mantra tanpa tongkat sihir. Kesulitan terbesar wandless padanya ialah memisahkan energi chakra dan sihir. Tak jarang kecelakaan terjadi karena bercampurnya dua energi.

Naruto biasanya melatih kemampuannya diluar Hogwarts beberapa jam pada dini hari sebelum kembali ke kastil. Meloncati dan berjalan di atap-atap Hogwarts adalah hal biasa yang dilakukannya. Jika akan ketahuan Flich tinggal mengubah dirinya. Kebanyakan memakai jutsu perubahan menjadi Prefek sekolah, kupu-kupu, atau kucing bahkan nyamuk. Iya, nyamuk.

Kenapa terkadang pilih makhluk penghisap darah itu? Karena nyamuk lebih kecil, lebih efisien dan tak terlalu mencolok.

Terkadang ia ingin tertawa saat melihat Professor McGonnagal berubah menjadi kucing, sosok animagusnya, Potter dan Weasley memucat pada hari pertama di Hogwarts. Di dunia shinobi, jutsu perubahan ialah jutsu standar anak akademi. Berubah menjadi benda atau orang lain adalah biasa, walau biasanya tidak dipakai dalam waktu lama oleh si pengguna. Tapi di dunia sihir, matra perubahan tidak bisa menyihir dirinya sendiri. Menjadi orang lain, perlu ramuan polyjus dan menjadi hewan, mempelajari animagus. Sosok animagus bahkan harus tercatat di kementrian, sungguh merepotkan.

Naruto menggelengkan kepalanya beberapa kali, menjernihkan pikirannya yang semakin ngelantur. Ia memfokuskan tatapannya pada pemandangan hogwarts yang indah, sebelum memincingkan matanya. Di kejauhan ia melihat Quirrell berjalan dengan sosok tinggi besar dibelakangnya, Troll. Walau tak terlihat jelas, namun orang memakai sorban hanyalah ia.

Nafas Naruto sedikit tercekat, bukan berarti ia takut pada Troll gunung bodoh itu. Namun, arah kemana Troll itu menuju. Edward masih berada di aula, bisa saja anak menyebalkan satu itu bertemu tak sengaja dengan makhluk bodoh kembaranya. Tapi tetap saja, Troll bisa membunuhnya!

Ekspresi Pemuda itu mengeras, terlebih melihat Quirrell yang berjalan cepat dengan raut dingin terlihat jelas diterangi sinar bulan. Sungguh berbeda dengan sosok kesehariannya. Pikirannya bergejolak seketika. Intuisinya lebih dulu menyuruhnya bergerak. Menapaki sisi jendela dan meloncat keluar dari kukungan bangunan asrama biru. Tersadar saat angin dingin bulan Oktober menampar pipinya, membuat beberapa detik otaknya macet seketika. Dan meruntuki sikapnya yang terkadang mirip asrama singa.

###

.

Aula Hogwarts.

.

"Cepat sekali makanmu, Ed." Terry Boot menyeletuk ditengah makannya dimana tepat duduk disamping Edward.

"Lapar? Atau terlalu enak masakkan peri rumah?" Anthony Goldstein yang duduk disebelah Michael Corner menyanyainya dengan nada canda.

"Entahlah" Edward menaikan bahunya sebentar dan menyambar jus labu, meminumnya dengan cepat.

Edward Mengambil tongkatnya, menyihir beberapa kue agar terbungkus. Edward menghela nafas. Memikiran tingkah freak teman satu kamarnya yang memilih kencan dengan buku. Edward bertekat akan menagih bayaran untuknya nanti.

"Aku pergi dulu." Edward berkata sambil bangkit dari duduknya, berjalan cepat keluar aula. Tak mendengarkan reaksi temannya.

.

Edward melihat Quirrell di lorong. Membuat Edward sedikit mengerutkan dahinya, melihat Quirrell yang berjalan dengan langkah lebar.

Saat akan berpapasan, Edward menghentikan langkahnya. "Selamat malam professor."

"O-oh. Se-se-selamat ma-malam, Mr Sa-Sangster." Dengan terbata-bata Quirrell menjawab. "Sa-saya per-gi du-dulu." dan berlalu tanpa mendengar sahutan Edward.

Edward seketika menengok untuk melihat Quirrell kembali, irisnya mengikuti Quirrell sampai ia menghilang dibelokkan. Jelas ada yang aneh dengan Quirrell.

Sembari memikirkan keanehan guru pertahanan ilmu hitamnya, Edward tak sadar sosok pemuda berlari kearahnya dengan cepat. Sadar-sadar ia melihat Nash berada tepat didepannya dengan ekspresi datar, namun kilat mata yang khawatir.

Membuat kerutan dahi Edward semakin dalam.

"Kau kenapa, Nash? Mau ke aula?" tanya Edward dengan raut bingung dimuka.

Nash mendecakkan lidah.

Menarik lengan atas Edward supaya mengikutinya berlari. "Ada Troll disini. Ayo cepat kembali." Nash berkata sambil melepaskan lengan Edward.

"HAH? TROLL?!"

Yang tiba-tiba diajak lari setengah berteriak.

"Iya, pokoknya pertanyaanmu pending dulu sampai asrama." Nash menjawab dengan kalem. Membuat pemuda surai dirty blonde ingin mengutuknya, Ia bisa mati penasaran!

Saat berbelok, bayangkan makhluk besar memasuki retina mereka.

"Shit!"

"Bloody hell!"

Dengan kompaknya mereka berhenti berlari dan mengumpat di timing bersamaan.

"Aku bahkan belum membuat surat wasiat, Nash. Masak aku mati duluan?" Edward berkata setengah hopeless.

"Buat dulu sana, aku akan menahan makhluk kembaranmu itu." walau perkataan Nash terdengar bercanda, Ekspresi kaku dan alik menukik tajam pada wajah rupawan itu membuat perkataannya jadi terkesan serius.

"Oh, yeah. Mau ku buat—" perkataan Edward tak selesai karena Troll tepat didepan mereka. Troll itu bewarna hijau dengan membawa sebuah pemukul ditaruh pada bahunya.

Mendekati dan mengayunkan pemukul itu diantara mereka berdua, hingga terpaksa menghindar. Troll itu mengubah arah pemukulnya menjadi horizontal menuju Edward yang berada disisi kiri sang Troll. Membuat Edward yang merasakan bahaya menunduk dan mencabut tongkat sihirnya, seraya menjerit.

"Wigardium Leviosa!" pemukul yang akan mengenai Edward dengan cepat berhenti beberapa saat. Edward pun mengayunkan pemukul itu mengenai wajah Troll beberapa kali. Namun tak berapa lama, pemukul ditangkap tangan si Troll dan tangan lainnya lagi mengangkat badan Edward. Membuat Edward mengumpat keras-keras.

Naruto yang melihat Edward, berpikir cepat. Ia tak membawa tongkat sihir karena tindakkan bodohnya dengan cepat terjun dari menara Ravenclaw setinggi lebih dari 20 meter itu. Sadar saat melihat hijaunya rumput yang akan jadi tempat mendaratnya. Karena kepalang tanggung, ia meninggalkan tongkat sihirnya saja dikamar dari pada kembali naik.

Naruto bisa saja membereskan Troll dengan ninjutsu, tapi itu bisa dianggap Edward aneh. Jeritan Edward menyadarkannya dari terus berpikir. Naruto berlari kedepan memutuskan menggunakan taijutsu. melocat memukul wajah menjijikan Troll hingga menoleh ke kiri dan menendang Troll itu tepat diperut dengan kaki kanan. Troll itu menjatuhkan pemukulnya dan tergeletak dilantai, menghasilkan bunyi cukup keras.

Edward dengan cepat menyikir dari tangan Troll saat merasakan genggamannya melemah. Edward dengan cepat menghampiri pemuda pirang itu dengan nafas sedikit berat.

"Ayo pergi, Ed." pemuda lebih pendek tinggi badannya dari Edward segera menariknya berlari. Menjauhi Troll yang masih tergeletak.

Serasa jaraknya cukup jauh, Edward menghentikan larinya. Tangan kirinya bersandar pada dinding Hogwarts dengan nafas masih memburu. Kelopak matanya setengah terbuka memandang Nash yang berdiri didepannya tanpa nafas tersenggal-senggal seperti dirinya, bahkan tanda-tanda kelelahan tidak ada! Edward membuang pikiran jauh-jauhnya untuk bertanya. Kelelahan berlari membuatnya malas banyak berkata. Saat nafasnya lebih teratur, dua pemuda itu meninggalkan lorong sunyi Hogwarts dengan langkah yang cepat.

.

Ruang rekreasi Ravenclaw.

.

"Tadi itu gila! Bagaimana bisa Troll masuk Hogwarts?!" Edward setengah berteriak sambil berjalan memasuki ruang rekreasi asrama biru.

Pemuda pirang dengan kalem berjalan menuju salah satu kursi disana.

"Mungkin Troll nya lapar? Seberapa tahu apa yang terjadi pada makanannya di gunung?" Nash duduk dengan santai, menyandarkan badanya pada kursi empuk berwarna biru.

"Pemikiran yang bagus, Nash." Edward berkata sedikit sinis.

"Memang, dan berhentilah mondar-mandir, Ed." Pemuda berkulit putih pun menyerah dan mulai duduk. Tatapannya serius memandang pemuda yang sedang setengah menutup mata.

"Nash, Troll bukanlah makhluk yang bisa dengan mudah dijumpai di Hogwarts. Hogwarts adalah salah satu tempat paling aman didunia sihir. Bagaimana bisa tiba-tiba ada Troll gunung?" Nash menegakkan punggungnya yang semula bersandar santai, memandang iris cinnamon didepannya.

Langkah kaki beberapa orang dengan cepat masuk indra pendengaran kedua murid tahun pertama. Pintu asrama terbuka, seperti seekor semut yang keluar dari kandangnya, banyak anak masuk secara bersamaan. Kebanyakan orang masuk dengan suara umpatan atau pekikan dan dengan cepat menaiki tangga.

Nash dan Edward saling pandang. Mereka menyadari apa yang membuat kegaduhan ini.

.

.

Yeah, Troll.

.


TBC

A/n : Hallo semua :v

Terima kasih bagi pembaca fic ini. Terima kasih juga yang telah mereview, Fav dan foll.

Chap lalu, ada beberapa hal yang hilang dari tulisan saya, entah kenapa ._.

Saya sering merasa hal yang saya tulis mengandung ke gajean, ngerasa nggak sih?. Kadang merasa Sumvah saya nulis apa ya lord?

Saya senang bagi yang mengeritik tulisan saya. EYD saya bahkan belum lulus T.T

Hitung-hitung disini saya belajar juga.

Disini terjawab.

Nash itu Naruto, Naruto itu Nash. :v Iyeyy!

Saya akan menulis kata naruto saat ia terjebak dalam pikirannya sendiri, dan menulis Nash saat orang lain melihatnya.

Terima kasih semuanya.

See you next chap.