Chapter 2 - Afraid

.

.

.

Aku terbebas dari penderitaan

Namun terbelenggu oleh masa lalu

Seperti burung yang tak bisa terbang

Meski memiliki sayap

.

.

.

.

Saat itu pukul sembilan pagi ketika Hongbin di tinggal di Apartemen sendirian. Meski tidak benar-benar sendirian, karena nyatanya ada Taekwoon yang masih tak sadarkan diri di kamar tamu.

Saat sarapan pagi, Jaehwan dan Hakyeon terus membicarakan tentang tuntutan yang harus mereka ajukan untuk Ayah Taekwoon. Ia masih ingat betapa bersemangatnya Jaehwan ketika membahas berapa lama masa hukuman yang harus di terima orang tua tersebut karena telah menyiksa anaknya sedemikian rupa.

Saat itu Hongbin terus terdiam, terjebak dalam dunianya sendiri. Namun sesekali sebaik mungkin ia mencoba bersikap biasa, Hongbin tidak berharap membuat Hakyeon khawatir karena perubahan sikapnya.

Sekarang ia sendirian, duduk di meja ruang makan yang telah di bersihkan beberapa menit yang lalu. Di depannya terdapat sebuah nampan berisi air dan bubur.

Pasti untuk Taekwoon.

Hakyeon sedang pergi, ia bilang sebentar. Hanya mengantar Jaehwan dan Wonsik, lalu pergi membeli beberapa barang di Minimarket. Namun Hongbin tidak bisa mendeskripsikan, sebentar itu_

.

.

.

_Sampai kapan.

.

.

.

Perlahan Hongbin berdiri, lalu berjalan menuju kamarnya. Ia merasa ingin bersembunyi, meski tidak tahu dari apa.

Saat melewati kamar yang di tempati Taekwoon, langkah kakinya melambat hingga akhirnya terhenti. Hongbin terdiam, mengamati pintu kamar tamu dalam bisu.

Entah apa yang ada dalam pikirannya.

Menggelengkan kepalanya pelan, laki-laki bersurai coklat itu mencoba kembali melanjutkan langkahnya. Namun setiap akan mengambil langkah baru, ia terlihat ragu hingga akhirnya kembali terdiam. Terkadang ia melirik kamar tamu dengan raut wajah penasaran.

Hingga akhirnya dengan sedikit keberanian, tangannya terulur menyentuh knop pintu. Rasa takut yang lebih besar hampir mengurungkan niatnya, namun perasaan yang lebih besar muncul. Ia ingin melihat_

.

.

.

_Keadaan Taekwoon.

.

.

.

Setelah mengumpulkan keberanian-nya, Hongbin membuka pintu kamar tamu pelan. Membiarkan sedikit demi sedikit celah yang tadinya tertutup menjadi terbuka.

Ia tidak berani membuka pintu lebih lebar, hanya membuat celah kecil yang cukup untuknya sedikit mengintip ke dalam.

Di sana, diatas tempat tidur. Hongbin melihat anak laki-laki sedang terduduk sambil memeluk kedua lututnya.

Taekwoon sudah bangun rupanya.

Anak yang lebih tua satu tahun dari Hongbin itu menatap sekelilingnya dengan perasaan takut, namun juga penasaran. Mungkin terbangun di tempat asing membuatnya bertanya-tanya.

Ia ada dimana?

Kenapa ia berada disini?

Hongbin hampir kembali menutup pintu, ketika suara familiar memasuki indra pendengarannya. Ia tertegun.

Taekwoon... Lapar.

Dengan perasaan gusar Hongbin menutup pintu secara perlahan. Ia menggigit bibir bawahnya, bingung dengan tindakan apa yang harus di lakukan.

Haruskah ia memberikan bubur yang di siapkan Hakyeon untuk Taekwoon? Jelas, Hongbin tidak mau. Ia belum siap untuk melihat Taekwoon lebih dekat. Apalagi jika ia sendirian, tanpa seseorang di sampingnya.

Hongbin terlalu takut.

Salahkan masa lalunya yang terlihat jelas pada diri Taekwoon.

Setelah beberapa menit berdiam diri dengan perasaan berkecamuk, akhirnya Hongbin melanjutkan langkahnya menuju kamar tidur. Namun tangannya kembali terhenti sebelum menyentuh knop pintu.

Kedua matanya terpejam erat, seolah menahan siksaan berat. Tangan kecilnya terkepal, menahan gejolak perasaan besar yang melingkupi hatinya. Hingga akhir kepingan hazel itu kembali terbuka, memcarkan kesenduan yang mendalam.

.

.

Aku orang jahat.

.

.

Sepuluh menit berlalu, dan Hongbin masih berdiam diri di tempatnya. Kedua tangannya membawa sebuah nampan berisi air dan bubur untuk Taekwoon. Sesekali ia membalikkan badan, berpikir untuk pergi dan membiarkan Hakyeon saja yang nanti mengurus Taekwoon.

Namun Hongbin selalu menemukan dirinya terap berada di tempat yang sama, tanpa beranjak sedikitpun. Hati nuraninya menentang untuk pergi, ia tidak tahu kapan Hakyeon akan kembali.

"Ughh... Memikirkannya saja aku merasa ingin mati" Rengek Hongbin gusar. Bingung dengan pilihan pergi mencoba tak peduli, atau masuk dengan semua rasa takut yang mengalir di setiap pembuluh darahnya.

Ahh... Kepalanya ingin meledak.

"Hakyeon hyung, kau bilang hanya pergi sebentar. Tapi ini rasanya seperti kau sudah pergi ribuan tahun meninggalkanku" Keluhnya berlebihan, nampak benar-benar putus asa.

"Jika aku menunggu Hakyeon hyung, dia tidak akan matikan?" Monolognya pada diri sendiri.

Sebuah gambaran tiba-tiba muncul di atas kepalanya seperti layar proyektor. Apartemennya masuk berita utama di Televisi, memberitakan tentang seorang laki-laki yang di temukan tewas di salah satu kamar. Lalu Hakyeon di bawa pergi oleh dua orang polisi dengan tangan terborgol, dan Hongbin menemukan dirinya sedang di bawa menuju panti asuhan.

Anak bersurai coklak itu mengerang pelan, tampak begitu frustasi.

" Dia akan mati, bersama aku dan Hakyeon hyung"

Rasanya Hongbin jadi ingin menangis. Berapa lama ia sudah berdiri di luar? Bagaimana jika Taekwoon sudah terbujur kaku di dalam?

"Ahh... Hakyeon hyung, kau membunuhku" Rengeknya frustasi.

Setelah membulatkan tekad, sebelah tangan Hongbin terulur untuk membuka pintu. Ia menelan salivanya gugup. Perlahan pintu di depannya terbuka, dalam hati ia mencoba menyemangati dirinya sendiri.

Rasa takut ada, bukan untuk di hindari. Namun untuk di hadapi. Jika ia berlari, maka Hongbin membiarkan dirinya terpenjara oleh jeruji yang bernama... Ketakutan.

Seseorang boleh merasa takut, namun bukan menjadi pengecut.

.

.

.

Taekwoon mengigit bibir bawahnya kuat, sebelah tanganya mencengkram perutnya erat. Ia begitu lapar, entah kapan terakhir kali ia makan. Taekwoon tidak ingat, mungkin beberapa hari yang lalu.

Ia tidak tahu sedang berada dimana sekarang, ia tidak ingat apapun. Apakah tempat ini aman? Atau sama mengerikannya seperti rumah?

Krieet

Anak bersurai hitam itu mendongak ketika mendengar suara pintu terbuka, kedua bola matanya menatap penuh selidik pada apa yang akan datang dari balik pintu. Ia begitu waspada, seolah mempersiapkan diri akan segala sesuatu yang akan terjadi padanya.

Pintu terbuka sepenuhnya,

Hongbin berdiri dengan gugup di ambang pintu. Tampak begitu ragu untuk melangkah lebih dalam. Taekwoon tertegun.

Orang asing.

Taekwoon belum pernah melihatnya.

Siapa dia?

Apakah dia baik?

Atau_

.

.

_ jahat?

.

.

Tubuh Taekwoon meringsut kebelakang, ia memeluk dirinya sendiri saat melihat Hongbin yang berjalan mendekat. Kedua bola matanya menatap penuh waspada. Ia tampak begitu ketakutan.

Hongbin merasa begitu gugup dan takut hingga kedua tanganya bergetar, ia berharap tidak menjatuhkan nampan yang ia bawa.

.

.

.

Kita seperti dua racun sama yang disatukan

Tak akan pernah menjadi obat penawar

Hanya akan memberi siksaan

Kenapa kita bertemu?

Jika hanya untuk berbagi kesedihan.

.

.

.

Perlahan Hongbin mendudukkan diri di depan Taekwoon yang semakin meringkuk memeluk dirinya. Hongbin menyimpan nampan yang di bawanya di atas nakas, lalu mengambil mangkuk bubur dan menyodorkannya pada Taekwoon.

"Ma-makanlah, kau pasti lapar"

Taekwoon tetap terdiam, kedua bola matanya menatap Hongbin dan mangkuk bubur secara bergantian.

Hongbin menggigit bibir bawahnya, tangan kanannya bergerak menyendokkan bubur dan mendekatkannya pada Taekwoon.

"Makanlah" Ucapnya pelan dalam keheningan.

Awalnya Taekwoon masih terdiam, namun aroma harum yang masuk indra penciumannya membuat ia meringsut maju mendekati Hongbin. Ia begitu lapar.

Perlahan-lahan mulutnya terbuka, dengan sedikit keraguan Taekwoon memakan bubur dari sendok yang dipegang Hongbin.

Detik berikutnya Taekwoon merebut mangkuk bubur dari tangan Hongbin, membuat laki-laki yang lebih muda memekik kecil karena terkejut. Taekwoon memakan buburnya dengan begitu lahap hingga membuat Hongbin tertegun.

Taekwoon pasti begitu kelaparan.

Sudut bibir Hongbin perlahan tertarik membentuk sebuah senyuman, kedua bola mata besarnya menatap yang lebih tua dengan sendu.

Saking lahapnya, sudut bibir Taekwoon belepotan penuh dengan bubur. Hongbin tersenyum kecil. Tanpa sadar sebelah tangannya bergerak untuk membersihkan sudut bibir Taekwoon dengan lembut. Lelaki yang lebih tua mendongak menatapnya.

Deg

Deg

Hongbin tertegun, apa yang ia lakukan? Dengan gugup lelaki yang memiliki lesung pipi itu kembali menarik tangannya.

Hongbin melihat dirinya dalam tatapan Taekwoon. Ia teringat pada saat pertama kali bertemu Hakyeon. Tatapannya sama dengan Taekwoon saat pertama kali melihat Hakyeon.

Waspada

Ketakutan.

Hongbin mesara pusing, kepalanya berdenyut sakit. Dengan cepat ia segera beranjak berdiri dan berlari ke luar kamar. Meninggalkan suara 'gedebuk' yang cukup keras ketika ia menutup pintu.

Suara barang yang berjatuhan beradu dengan pekikkan Hakyeon ketika keduanya tidak sengaja bertabrakan.

"Hongbinnie, ada apa? Apa ada maling yang masuk?" Tanya Hakyeon panik, kedua tangannya memegang bahu Hongbin erat.

Hongbin membuka mulutnya, ia berbicara dengan tergagap.

"Ti-tidak apa-apa hyung. A... Aku, aku baik-baik saja. Semuanya baik-baik saja" Hakyeon mengangkat sebelah halisnya, tampak tidak yakin dengan jawaban Hongbin.

"Kau yakin?" Tanyanya memastikan. Hongbin menganggukkan kepalanya cepat.

"Aku akan pergi bermain dengan Sanghyuk dan Gongchan, aku akan pulang sore. Jangan mengkhawatirkan-ku, bye... Hyung" Tanpa membiarkan Hakyeon membalas ucapannya, Hongbin segera berlari pergi. Keluar dari Apartemen dengan tergesa-gesa.

Hakyeon terdiam, ia menatap nanar barang belanjaannya yang berserakan di lantai. Lalu pandangannya beralih pada pintu kamar Taekwoon yang tertutup.

Hakyeon melihat dengan jelas, bahwa Hongbin baru saja keluar dari kamar Taekwoon. Laki-laki berusia 24 tahun itu mendesah pasrah.

"Ini akan sulit" keluhnya putus asa.

.

.

.

.

"Taekwoon-ah tidak apa-apa, kami tidak akan menyatikimu. Tenanglah"

"Jaehwaaann, kenapa anak ini kuat sekali?"

"Mana ku tau"

"Wonsik, tarik dia lebih kencang"

"Dia bisa terluka, Hakyeon"

"Aisshh..."

Hongbin mengerutkan dahinya bingung, sebelah tangannya mengambang di udara. Ia tampak ragu untuk membuka pintu ketika mendengar suara Hakyeon, Jaehwan, dan Wonsik yang begitu ribut dari dalam Apartemen.

Apa yang terjadi?

Saat itu pukul empat sore ketika Hongbin pulang dari rumah Sanghyuk. Ia tidak mengerti dengan apa yang terjadi saat ia pergi. Tapi mendengar keributan dari dalam Apartemen seketika membuatnya enggan untuk masuk.

Dengan rasa penasaran, Hongbin membuka pintu secara perlahan dan masuk kedalam Apartemen. Anak laki-laki yang berusia 15 tahun itu tertegun, menatap apa yang terjadi di depannya.

Taekwoon berpegangan pada kedua sisi pintu dengan sekuat tenaga. Disisi kanan dan kirinya ada Hakyeon dan Jaehwan yang mencoba melepaskan pegangan tangan Taekwoon, lalu ada Wonsik yang mencoba menariknya dari belakang. Hongbin mengerjap pelan.

"Ada apa ini?" Tanyanya bingung. Hakyeon dan Jaehwan menoleh secara bersamaan pada Hongbin.

"Hongbin, cepat bantu kami!"

"Huh? Ta-tapi kenapa, Jaehwan hyung"

"Hongbinnie, kami akan membawanya pergi menemui Psikiater. Tapi Taekwoon tidak mau"

"Hongbin-ah, cepat bantu kami"

"U-uh... Baik"

Belum sempat Hongbin beranjak dari tempatnya, ia harus di kejutkan dengan teriakan Wonsik. Lelaki yang memiliki tubuh paling tinggi itu tersungkur di lantai setelah Taekwoon menendangnya.

Hakyeon dan Jaehwan memekik terkejut. Karena lengah, Taekwoon berhasil melepaskan diri dan bersembunyi di balik kursi. Jaehwan membantu Wonsik berdiri.

"Aishh... Kenapa ini sulit sekali" Keluh Hakyeon frustrasi, ia menghentakkan sebelah kakinya kesal. Hongbin tersenyum kecil.

"Hyung" Hongbin berjalan mendekati Hakyeon dan mengapit lengannya.

"Kalau Taekwoon hyung tidak mau, jangan di paksa. Nanti kalian sendiri yang repot" Hakyeon menghela nafas pasrah.

"Kau benar"

"Lebih baik kita memanggil psikiater, dan membiarkannya menemui Taekwoon hyung disini"

"Hongbin benar, Hakyeon" Ucap Wonsik memegang perutnya yang masih terasa ngilu. Hakyeon mengelus kepala Hongbin, dan tersenyum lembut.

"Anak pintar" Hongbin tersenyum senang, memperlihatkan sepasang dimple kesukaan Hakyeon.

"Baiklah, kita sudah memutuskan"

Jaehwan berjalan perlahan menghampiri Taekwoon, lelaki yang lebih muda meringsut mundur saat melihat kedatangannya.

"Tidak apa-apa Taekwoon, kami janji tidak akan membawamu pergi. Kau aman disini"

Jaehwan terus melangkah mendekati Taekwoon, bibirnya terus mengucapkan kata-kata untuk memenagkan Taekwoon.

"Tidak apa-apa, kami tidak akan menyakitimu. Percayalah"

Kali ini Taekwoon tidak lari ketika Jaehwan memegang tangannya, dan membantunya berdiri. Ia sudah mulai merasa tenang.

"Baiklah, sekarang kau bisa beristirahat kembali. Ayo kembali ke kamarmu"

Jaehwan membimbing anak bersurai hitam itu kembali masuk ke kamarnya. Taekwoon tidak menolak. Dengan langkah pelan ia berjalan mengikuti langkah Jaehwan.

Hongbin memalingkan wajahnya, dengan lembut ia bergerak memeluk Hakyeon. Menyembunyikan wajahnya di lekukan leher yang lebih tua. Hakyeon mengelus punggungnya lembut.

"Hey... Ada apa?"

"Lapar" Lelaki berusia 24 tahun itu tertawa ringan.

"Kalau begitu makan, ayo pergi ke dapur"

Melepaskan pelukannya dengan enggan, Hakyeon dan Hongbin berjalan ke dapur bersama Wonsik yang mengikutinya dari belakang.

"Hey... Kau tidak menawariku makanan? Aku ini tamu" Dan keluhan Wonsik hanya di respon oleh suara tawa Hongbin yang mulai memenuhi setiap sudut ruangan.

Tepat saat Jaehwan mengantar Taekwoon kembali ke kamarnya, lelaki itu menyempatkan diri menatap punggung Hongbin sebelum ia menghilang di balik pintu kamar yang di tutup Jaehwan.

.

.

.

.

Karena tidak berhasil membawa Taekwoon keluar untuk menemui Psikiater, akhirnya mereka memanggil Psikiater ke Apartemen Hakyeon di hari berikutnya. Namun semuanya tetap tidak berjalan baik. Apapun yang di ucapkan atau dilakukan Psikiater, Taekwoon hanya terus diam membisu dengan tatapan kosong.

Hakyeon dan Jaehwan menatap anak laki-laki di depannya dengan tatapan prihatin. Sementara yang di tatap hanya berdiam diri, duduk tegak, tampak melamun dengan tatapan kosong pada lantai.

"Kita harus bagaimana?" Tanya Jaehwan bingung, tatapan matanya tidak pernah lepas dari Taekwoon.

Sudah tiga kali Hakyeon dan Jaehwan membawa psikiater yang berbeda untuk Taekwoon, berharap akan ada sedikit perubahan. Namun mereka harus menelan kenyataan pahit. Kondisi psikis Taekwoon tidak mengalami kemajuan apapun.

"Aku tidak tahu, Jaehwan. Aku tidak tahu" Jawab Hakyeon pelan. Sebelah tangannya menepuk lembut gumpalan besar yang meringkuk di pangkuannya.

Itu adalah Hongbin, tidur meringkuk seperti kepompong dengan menjadika paha Hakyeon sebagai bantalnya. Sesekali yang lebih tua menepuk-nepuk atau mengelus punggungnya, mencoba membantu Hongbin untuk lebih cepat sampai ke alam mimpi.

Jaehwan mengerang frustrasi "Kenapa kau tidak jadi Psikolog saja sih? Ku pikir setelah bertemu Hongbin kau akan menjadi Dokter Psikolog, tapi ternyata bukan"

Hakyeon menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia tersenyum canggung.

"Yaa kau tau sendiri kan Hongbin itu orangnya ceroboh, dulu dia sering sekali melukai dirinya sendiri" Hakyeon mendongak menatap langit-langit Apartmennya. Mencoba menerawang, mengingat masa lalunya yang sulit saat merawat Hongbin.

"Saat pertama kali Hongbin bicara padaku, aku merasa begitu senang" Hakyeon tersenyum kecil, tidak ada yang dapat membuatnya lebih bahagia, selain fakta bahwa kondisi mental Hongbin yang semakin lama semakin baik.

"Tapi aku selalu terganggu, setiap melihat semua bekas luka yang ada pada tubuh Hongbin. Sejak saat itu... Aku berjanji" Hakyeon memejamkan kedua matanya pelan.

"Tidak akan membiarkan Hongbin terluka lagi, bagaimanapun caranya. Jika ia terluka, maka aku yan akan mengobatinya sampai sembuh" Jaehwan menatapnya dan tersenyum lembut.

"Aku jadi merasa tidak enak" Hakyeon menatap Jaehwan dengan tatapan bingung.

"Kenapa?"

"Bagaimanapun aku yang membawa Taekwoon padamu" Hakyeon tersenyum lembut, ia menepuk pundak Jaehwan pelan.

"Tidak apa-apa, aku yakin kita bisa melewati semua ini bersama" Jaehwan tersenyum mendengar ucapan Hakyeon yang penuh keyakinan. Tatapannya kembali tertuju pada Taekwoon, sedetik kemudian ia mendesah pelan.

"Dia bahkan tidak tersenyum" Hakyeon ikut mengalihkan pandangannya pada Taekwoon.

"Jangankan tersenyum, berbicara satu katapun tidak" Keduanya menghela nafas pelan, berharap beban baru di pundak mereka sedikit berkurang.

Hongbin yang sebenarnya belum tertidur, diam-diam menyingkap selimut yang menutupi wajahnya. Menatap sebentar Taekwoon dari balik kain berlapis tebal tersebut sebelum menutupnya kembali secara perlahan.

Hongbin juga pernah mengalaminya. Tidak berbicara, tidak tersenyum. Terlalu lama disakiti, membuatnya lupa bagaimana caranya berekspresi.

Dia hidup, namun seperti orang mati.

.

.

.

.

Aku tidak tersenyum

Aku bahkan lupa kapan terakhir kali tersenyum

Aku tidak bicara

Aku lupa caranya bicara

Aku hanya bisa mengingat semua kekosongan yang mengisi hatiku

Hari ini pun sama

Merasa begitu takut semua hal baik akan menghilang seperti mimpi ketika aku membuka mata

.

.

.

.

Hari terus berlalu, tidak ada kemajuan sedikitpun dalam diri Taekwoon. Ia masih sama, seperti saat pertama kali ia datang. Hakyeon dan Jaehwan hampir menyerah padanya, namun bagaimanapun mereka masih terlalu peduli untuk menyerah begitu saja.

Setidaknya Hakyeon dan Jaehwan mencoba merawatnya sebaik mungkin. Memberinya makan, memakaikannya pakaian yang layak, dan memberinya tempat tinggal. Karena setelah Ayahnya di masukkan ke penjara, Taekwoon tidak punya siapa-siapa lagi selain Hakyeon dan Jaehwan.

Meskipun kondisi mental Taekwoon belum menunjukkan perkembangan apa-apa, namun keduanya akan terus bersabar dan menunggu. Segala sesuatu butuh proses, berapa lama pun itu Hakyeon dan Jaehwan yakin suatu hari Taekwoon pasti akan sembuh.

Setiap hari ketika Hakyeon pergi bekerja, hanya akan ada Taekwoon dan Hongbin yang berada di dalam Apartemen. Namun keduanya seperti dua orang yang hidup dalam dunia berbeda.

Hongbin akan lebih banyak menghabiskan waktunya di kamar, kecuali jika Hakyeon telah pulang. Sangat jelas bahwa ia menghindari Taekwoon. Ia hanya akan menemui Taekwoon jika waktunya makan sudah tiba, itu pun karena terpaksa.

Taekwoon sendiri lebih banyak menghabiskan waktu untuk duduk melamun sambil menatap keluar jendela. Keduanya hidup dalam dunia masing-masing, seolah tidak saling merasakan keberadaan satu sama lain.

Setiap hari yang telah berlalu, selalu di lewati dengan cara yang sama.

.

.

Saat itu Hongbin baru pulang sekolah ketika mendengar suara benda yang pecah. Dengan panik Hongbin segera berlari ke asal suara. Di ruang Tv ia menemukan Taekwoon sedang berdiri sambil menatap pigura foto yang telah pecah di lantai. Perlahan-lahan Hongbin berjalan menghampirinya.

Anak yang lebih muda tersentak ketika melihat pigura foto mana yang telah pecah. Ia berjongkok dengan bola mata berkaca-kaca. Itu adalah foto pertama yang ia ambil bersama Hakyeon, foto saat pertama kalinya ia mulai berbicara pada Hakyeon. Pigura itu adalah benda berharga bagi Hongbin.

Lelaki yang masih mengenakan seragam sekolah itu berdiri dan menatap Taekwoon dengan marah. Kedua mata besarnya masih berkaca-kaca.

"APA YANG KAU LAKUKAN, KENAPA KAU HANCURKAN PUGURANYA?" Teriakan Hongbin menggema dalam setiap sudut ruangan, berteriak begitu keras sehingga ia sendiri terkejut mendengarnya. Detik berikutnya Hongbin menyesali perbuatannya.

Tubuh Taekwoon bergetar kecil, ia terkejut hingga merasa ketakutan. Tapi di bandingkan takut_

.

.

_ ia lebih merasa terluka.

.

.

Hongbin menundukkan kepalanya, ia menyesal sudah membentak Taekwoon. Ia memang marah, tapi ia tidak bermaksud menyakitinya.

Bunyi suara derap langkah kaki yang pergi menjauh membuat Hongbin kembali mendongakkan kepalanya, ia terkejut ketika melihat Taekwoon berlari pergi meninggalkannya. Hongbin segera berlari menyusul lelaki yang lebih tua satu tahun darinya itu.

Rasa panik menyergap Hongbin ketika melihat Taekwoon mencapai pintu keluar. Tepat sebelum Taekwoon menyentuh knop pintu, Hongbin memeluknya dari belakang dan membawanya menjauh.

"Hyung, apa yang kau lakukan?"

Taekwoon tidak bisa berhenti bergerak, ia terus memberontak mencoba melarikan diri. Hongbin hampir kewalahan menanganinya, ia sebisa mungkin tidak membiarkan Taekwoon lepas darinya.

"Hyung, kau tidak boleh pergi" Taekwoon terus memberontak ketika Hongbin berhasil menyeretnya kembali ke ruang Tv, namun ia mulai kelelahan. Taekwoon begitu kuat, Hongbin merasa tidak mampu untuk menahannya lebih lama.

"Maafkan aku, tapi jangan pergi. Nanti Hakyeon hyung akan khawatir"

Kedua bola mata Hongbin mulai berkaca-kaca, tangannya mulai terasa sakit.

.

.

Apakah kau takut?

Apakah aku terlalu menyakitimu?

.

.

Hongbin mulai melemah, tenaganya telah habis. Ia tidak kuat lagi menahan Taekwoon.

Rasanya ia ingin menangis. Bagaimana reaksi Hakyeon hyung nanti jika Taekwoon tidak ada. Ini semua salahnya, seandainya Hongbin tidak membentak Taekwoon. Kejadiannya pasti tidak akan runyam seperti ini.

"Hyu-hyung..." Suara Hongbin bergetar karena menahan tangis.

"Kumohon, jangan pergi"

Tenaga Hongbin sudah benar-benar habis, sementara Taekwoon memberontak semakin kuat. Ia memejamkan matanya, siapa jika tiba-tiba saja Taekwoon lepas dari pelukannya.

Bruukkk

"Arrgghhh..."

Kenyataannya yang terjadi malah lebih buruk. Hari ini tidak ada satu hal yang pun yang berjalan baik. Apakah jarak yang membentang di antara keduanya akan semakin meluas?

Ini di luar dugaan, Taekwoon tidak bermaksud menyakiti Hongbin. Tidak, tidak sedikitpun ia ingin membuat Hongbin terluka.

Jantungnya berdetak kencang, seakan ingin keluar dari tempatnya. Badannya bergetar, Taekwoon bergerak mundur dengan penuh ketakutan ketika melihat Hongbin yang terus mengerang kesakitan sambil memegang kepalanya.

Tidak

Ia tidak sengaja

Ia tidak sengaja

Tidak

Tidak

Ini salahnya

Ini semua salahnya

Ini semua salahnya.

Tepat saat pelukan Hongbin hampir terlepas, Taekwoon memberontak semakin kuat. Ia tidak sengaja menyikut wajah Hongbin, sehingga lelaki bersurai coklat itu terkejut dan terpental jatuh ke lantai. Namun saat terjatuh, kepala Hongbin tidak sengaja terbentur meja kaca di belakangnya dengan keras.

Hongbin terus mengerang keasakitan, ia memegang belakang kepalanya yang begitu terasa perih. Sesuatu yang kental merembes keluar dari kepalanya yang terluka, mengalir tanpa henti.

Sambil terus merintih kesakitan, Hongbin membawa sebelah tangannya ke depan wajah. Tubuhnya terasa semakin lemah, rasa sakit yang ia rasakan kian bertambah. Hongbin menatap terkejut pada telapak tangannya yang berlumuran cairan pekat berwarna merah.

Darah.

Setiap udara yang keluar masuk dari paru-paru Hongbin jadi tak beraturan. Ia tersenggal-senggal menahan sakit, nafasnya tersendat. Sementara itu kepalanya mulai terasa pusing. Kedua bola mata besarnya mulai terlihat sayu, tak mampu terbuka sepenuhnya.

Hongbin mencoba bertahan, disaat kesadarannya mulai menipis.

.

.

.

Bunyi suara derap kaki kecil yang tengah berlari memecah keheningan malam. Langit malam tampak kelabu tanpa bulan dan bintang, membuat kegelapan terasa begitu mencekam.

Seorang anak berusia 9 tahun tengah berlari diantara Gang-gang kecil di sudut kota, di belakangnya seseorang yang lebih dewasa sedang berlari mengejar anak yang lebih kecil.

"Hongbin-ah berhenti, aku mohon"

Diantara nafasnya yang tak beraturan, Hakyeon berteriak memanggil Hongbin. Namun anak berusia 9 tahun itu terus berlari tanpa mendengarkan teriakan Hakyeon.

"Hongbin... Hongbin, berhenti. Jangan lari"

Hongbin terus berlari, kaki kecilnya melaju dengan kecepatan tinggi. Tak bermaksud sedikitpun untuk membiarkan Hakyeon dapat mengejarnya.

Kenapa harus berhenti?

Bukankah semua orang tidak menginginkannya?

Hongbin ingin pergi, sejauh mungkin. Kemanapun itu, ia tak ingin kembali.

Jika ia berhenti dan kembali, maka ia hanya akan terluka. Tidak ada alasan untuk ia tinggal, ketika semua orang tidak menginginkan kehadirannya.

"Maafkan orang tuaku" Suara Hakyeon hampir pecah oleh tangisan, ia menahan air mata yang ingin meluncur sebisanya.

Ia begitu khawatir, ia takut Hongbin terluka.

"Orang tuaku tidak membenci mu, aku tidak akan membiarkanmu pergi. Aku akan melindungimu"

Lelaki berusia 18 tahun itu mempercepat larinya guna untuk dapat mengejar yang lebih muda.

Melarikan diri.

Pergi sejauh-jauhnya.

Menghilang.

Itulah yang dipikirkan Hongbin ketika ia terus berlari, tak terbesit sedikitpun untuk berhenti.

Semua orang tak menginginkannya

Ia harus pergi

Semua orang membencinya

Ia ingin menghilang

Tapi kemana?

Kemana?

Tidak ada tempat, tidak ada tujuan.

Tolong!

Seseorang, ku mohon tolong.

Hakyeon hyung

Hakyeon hyung

Tolong selamatkan aku.

Kaki kecil yang sudah lecet itu berhenti berlari ketika ia tidak sengaja mengambil jalan buntu. Hongbin terengah-engah, ia mengamati sekitar dengan nafas pendek.

Tak ada jalan, hanya ada dinding tinggi yang mengakhiri jalan, terdapat beberapa potongan kayu yang bersandar di dinding, sampah di mana-mana, dan beberapa potongan besi kecil tergeletak di sudut.

Tidak ada jalan

Tidak ada.

"Hongbin!"

Hongbin berbalik, menatap Hakyeon yang sedang berjongkok memegangi lututnya dengan nafas terputus-putus.

"Jangan..." Nafasnya seolah akan habis karena kelelahan.

"Jangan pergi" Lirih Hakyeon dengan tatapan sendu.

Kedua Bola mata Hongbin berkaca-kaca, ia mengigit bibir bawahnya sambil berjalan mundur.

Bohong jika Hongbin tidak merasa nyaman saat bersama Hakyeon. Namun jika ia tinggal, ia hanya akan menyulitkan Hakyeon.

Hongbin harus pergi, meski nyatanya ia ingin tinggal dan hidup bersama Hakyeon.

"Hongbin-ah, kembalilah"

Yang lebih muda bergerak mundur ketika melihat Hakyeon berjalan mendekati. Lelehan air mata meluncur membasahi pipinya.

"Hongbin, aku tak akan menyakitimu"

Hongbin terus berjalan ke belakang, mencoba menjaga jarak dengan Hakyeon. Namun ia tak sengaja tersandung kakinya sendiri, sehingga membuatnya terjatuh dan membentur salah satu kayu yang bersandar di dinding.

Kayu di belakangnya bergoyang, Hongbin mendongak dan tertegun. Perlahan-lahan kayu yang awalnya masih berdiri tegak kini mulai goyang_

.

.

.

_ dan jatuh menimpanya.

.

.

.

Rasa sakit membuat Hongbin kehilangan suaranya, bahkan untuk mengerang atau merintih, ia tidak sanggup. Semua udara seperti tersendat di tenggorokannya, dan kepalanya berkunang-kunang, semuanya mulai terlihat buram.

Ia terlonjak ketika melihat sepasang tangan terulur di depannya. Taekwoon dengan langkah takut mencoba bergerak mendekati Hongbin, ia merasa khawatir dan ingin mengecek keadaannya.

Namun Hongbin terlihat sangat ketakutan. Ia beringsut mundur menuju sudut ruangan ketika merasakan Taekwoon mendekatinya. Ceceran darah membasahi lantai ketika ia terus bergerak mundur. Dengan tenaga yang hampir tak tersisa ia mencoba sebisa mungkin tak membiarkan Taekwoon menyentuhnya.

Bruukkk

Hongbin mengerang tanpa suara ketika punggungnya tanpa sengaja menabrak lemari buku, dengan nafas terputus-putus karena masi menahan sakit Ia mendongak ketika mendengar suara di atas kepalanya, sebuah vas bunga yang terbuat dari kaca bergoyang-goyang di atas lemari, Hongbin terbelalak. Vas bunga yang awalnya berdiri tegak, akhirnya terjatuh dan... menimpanya.

Taekwoon tertegun.

.

.

.

.

Tiba-tiba Hongbin lupa caranya bernafas, jantungnya seolah berhenti berdetak. Kayu yang hampir menimpanya jatuh di tanah. Ia masih jatuh terduduk, namun meringkuk aman dalam pelukan Hakyeon.

Tangan kecilnya yang gemetar bergerak menggoyangkan tubuh Hakyeon yang terasa melemas. Yang lebih tua bergerak perlahan, melepaskan pelukannya dan menatap Hongbin.

Anak berusia 9 tahun itu tertegun.

Hakyeon tersenyum lemah, kedua bola matanya tampak sayu. Darah merembes keluar dari kepalanya. Ia mencoba tetap bertahan diatas rasa sakit.

"Kau, tidak apa-apa?" Suaranya nyaris hilang, terendam oleh rasa sakit.

Lelehan air mata mengalir semakin deras dari pelupuk mata Hongbin, kesedihan merambat menjadi rasa sakit melihat Hakyeon terluka untuknya.

"Jangan menangis"

Tangannya yang lemah bergerak menghapus air mata Hongbin, Hakyeon masih tersenyum meski menahan sakit.

"Aku... Sudah berjanji untuk melindungimu" Lirihnya penuh ketulusan.

Hongbin mulai terisak pelan, wajanya basah oleh air mata.

"Tak akan ku biarkan kau terluka sedikitpun, tak akan"

Air mata mulai menganak sungai membasahi pipi Hakyeon. Ia menatap Hongbin penuh sayang, sakit yang ia rasakan seolah tidak ada apa-apanya jika di bandingkan dengan keselamatan Hongbin.

"Maaf untuk segalanya" Lirih Hakyeon nyaris tak terdengar.

"Jangan pergi" Air mata mengalir sebanyak darah yang merembes keluar dari kepalanya.

"Aku berjanji akan melindungimu, tidak akan membiarkanmu terluka, dan membuatmu bahagia. Hongbin-ah_

.

.

.

_tetaplah disisiku.

.

.

Dengan itu isakan Hongbin terdengar semakin keras, membelah malam dengan suaranya yang menyayat hati. Tangan kecilnya memeluk tubuh Hakyeon yang perlahan mulai tak sadarkan diri.

Langit malam yang kelabu tak hanya terasa mencekam, namun juga menyimpan banyak kesedihan. Dalam mimpi terburuknya sekalipun, Hongbin tidak pernah berharap melihat seseorang terluka karena mengasihinya.

.

.

.

.

Hongbin mendongakkan kepalanya, menatap sepasang mata tajam yang selalu memancarkan kesedihan. Tatapan keduanya bertemu dalam kesenduan, saling merasakan rasa sakit dan kesedihan meski tak diungkapkan dengan kata-kata.

Taekwoon terengah, rahangnya mengeras karena menahan sakit. Ia berjongkok, menjadikan tubuhnya sebagai tameng untuk melindungi Hongbin. Akibatnya vas bunga yang seharusnya menghantam kepala Hongbin, malah jatuh menghantam kepalanya.

Air mata Hongbin turun secara perlahan, menatap Taekwoon dengan penuh kepedihan.

.

Kenapa kita seperti ini?

Apa yang salah?

.

Setetes air mata meluncur dari pelupuk mata Taekwoon, jatuh menyatu bersama air mata Hongbin sebelum akhirnya meluncur turun melewati dagu dan menghilang dalam lakukan leher.

.

.

.

Emosi yang jatuh dari ruang gelap meluap menjadi tangisan

Kita membawa beban dari semua masa lalu seorang diri

Merasa sedih dan kesepian

Tak ada yang bisa di salahkan jika kita takut untuk mencintai

.

.

.

Nafas hangat Taekwoon menerpa wajah Hongbin, ia memejamkan matanya menahan rasa sakit yang semakin menyengat. Kepala Hongbin mulai berkunang-kunang, ia kembali menatap Taekwoon sebelum akhirnya jatuh tak sadarkan diri di lantai.

Taekwoon memejamkan matanya erat, ia limbung dan jatuh di samping Hongbin yang tak sadarkan diri. Darah merembes dari kepalanya dan mengotori lantai. Kepingan onix nya terus tertuju pada Hongbin, menatapnya dengan kesedihan yang mendalam sebelum akhirnya tertutup secara perlahan.

.

.

.

Tangan-tangan ini menjadi begitu dingin

Membeku seperti es

Kita memiliki luka yang sama

Namun tak mencoba saling menyembuhkan

Tidak ada seorangpun yang dapat di salahkan

Bisakah kita memulainya lagi dari awal?

Mencairkan hati yang membeku

Dan menghangatkan nya dengan cinta

.

.

.

.

Hakyeon melangkahkan kakinya menuju Apartemen dengan perasaan gusar, hatinya bergejolak merasakan pirasat buruk. Jantung nya berdebar kencang ketika ia menyentuh knop pintu.

Apa yang salah?

Perasaannya semakin tak menentu ketika ia mulai berjalan masuk ke dalam Apartemen, Hakyeon mengernyit bingung. Terlalu hening, kemana Taekwoon dan Hongbin?

Langkah kakinya berhenti ketika telah mencapai ruang Tv.

Deg

Deg

Ia berdiri mematung dengan kedua bola mata terbelalak, menatap dua sosok yang ia kenal tengah tak sadarkan diri di lantai serta berlumuran darah.

Tubuh Hakyeon merosot kelantai, ia menahan diri agar tak jatuh pingsan.

"HONGBIN... TAEKWOON"

.

.

.

TO BE CONTINUE

Maaf jika banyak typo bertebaran, aku tidak mengecek ulang hehe...

Terima kasih yang sudah meluangkan waktunya untuk mampir!