FATE IS FATE


Halo, saya dechii. salam kenal OTL
saya kurang berpengalaman dalam tulis menulis, jadi yang ringan-ringan aja dulu deh
Oh iya sekali lagi diingatkan ini adalah kelanjutan dari WHEN YOU WILL GO AWAY yaitu cerita pertama saya, jadi yang belum baca, biar nyambung, leave this page and baca yang pertama dulu *sekalian promotor eh promosi*
Content Boys Love, (mungkin) typo dan ada beberapa karakter non-naruto seperti shino dan karin. entah siapa mereka. 8D~
Semboyan yang telah lama melanglang buana di dunia fanfic "DON'T LIKE, DON'T READ!"
Saya menerima apapun, mau ngeflame kek, silahkeun, tapi kalo ga dipeduliin ya ga apa ya? :P
HAPPY READ READERS xD


This all characters belongs to Masa-sih? Kishimo(l)to-sensei *dicubitin* AW!

Author : DeChii

Pairing : SasuNaru

Rating : K (aman bagi tubuh dan jiwa)

Warning : Content Boys Love (soft banjet kayak kenjen ben~), (mungkin) typo dan ada beberapa karakter non-naruto seperti shino dan karin. entah siapa mereka. 8D~


~Is it Happiness?~

It's not easy for me to stand alone, but I try

It's also not easy for me to not remember you and your smile

But someday, maybe you will make me realize how shine you are

How shine your love

Even your body isn't exist anymore

If fate makes me meet someone else, let the time keep spinning.

You and I make a new life for a new time. For the sake of sadness and happiness


Sasuke's POV

Saat tengah santai di ruang guru, mungkin aku yang baru menyadari dia ada, guru berambut kuning itu sudah mengerjakan tugas-tugasnya sepagi ini dan hampir rapi. Ketika kulihat rambutnya yang kuning "ngejreng banget sih ini guru, well pantaslah mejanya juga ngejreng. Tapi sepertinya aku pernah melihat warna rambut itu, tapi dimana ya?" Ah, sudahlah, yang penting aku harus segera memberitahu tentang tugas yang kemarin saat aku menggantikannya. Aku memaksakan diriku bangun dan pergi ke kursinya padahal aku tidak mau berinteraksi, toh dia bisa ke mejaku, tapi karena kelihatnnya dia sibuk sekali, ya sudah apa boleh buat. Ku cari kertas-kertas tugas itu dan langsung membalikkan badan, segera berjalan ke tempatnya.

"Permisi, Naruto-sensei", sapaku agar dia menoleh.

"Ya?", dia melihatku, mata kami bertemu. Aku seperti melihat langit di dalam matanya, seperti terhipnotis olehnya, bau harum citrus dari tubuhnya, melayangkan pikiranku ke awang-awang.

"Rasanya pernah lihat mata itu" batinku. Ah, hanya lamunan saja. Ku lirik sedikit papan namanya, "oh, jadi ini yang tadi dia ribut2. Pantas ada orang rebut-ribut daritadi. Oh, namanya jadi sedikit panjang. Apa itu?".

Kubaca perlahan, namun pasti. Tak percaya akan bacaannya, ku ulang lagi dan ku eja dalam hati. "Na…Naruto…." Gelagapan hatiku.

"Na…Namikaze?" aku kaget, tapi tetap menjaga image cool-ku biar ga dikata norak terlalu terkejut.

"Ya, saya Naruto Namikaze." Jawabnya polos.

End of Sasuke's POV

Pantaslah rasanya Sasuke pernah melihat rambut kuning seperti matahari, bola mata saphire milik Naruto kecuali bau harum citrus itu, itu hanya ciri khas Naruto saja.

"Ya? Ada apa…unnn…" Naruto melihat papan nama di meja Sasuke. Matanya membesar, berbinar karena senang, "Oh, Sasuke-kun! Jadi kau yang bernama Sasuke-kun?" tanyanya takjub.

Sebenarnya lebih takjub Sasuke daripada dia. Langsung saja Naruto menyambar tangannya memaksa bersalaman.

"Terima kasih kau sudah rela menggantikanku kemarin ya. Orochimaru sering mengeluh kalo aku tidak masuk. Huh, menyebalkan! Dia tidak tau mungkin rasanya sakit. Hehehe", Naruto senang.

Sasuke diam saja saat dipaksa salaman, bola mata Sasuke membesar, dia tahu siapa pemuda ini. Dulu ia mengenalnya, bahkan lebih dari sekedar kenal. Namikaze! Namikaze Minato! Ya, itulah dia, si Namikaze, adik kelasnya dulu yang sempat merajut tali kasih dengan dirinya sebelum akhirnya pergi untuk selamanya. Perasaannya membuncah antara sedih, senang, takjub, terkejut…ya semua bercampur, tapi Ia tetap mempertahankan imagenya.

"Ya, saya Sasuke, Uchiha. Sama-sama. Ini, aku hanya mau memberikan hasil tugas yang kemarin saat aku menggantikanmu.", ujar Sasuke seraya mengeluarkan kertas dari belakang badannya.

Naruto senang bukan kepalang, "hyaaaaaaaa~ Sasuke-kun~ terima kasih!", Naruto lompat kesenengan dan memeluk si stoic Uchiha ini, wajarlah, tidak pernah ada yang mau menggantikan Naruto mengajar. Orochimaru? Dia hanya asal-asalan saja dalam mengajar, dan setelah menggantikan mengajar, dia malah marah-marah pada Naruto.

Sasuke bisa merasakan seluruh tubuhnya jadi panas, mukanya memerah, "Ti..tidak boleh! Dia Namikaze bukan berarti dia adalah Minato!".

Naruto yang memeluknya bisa merasakan badan Sasuke panas, "Kau kenapa Sasuke-kun?" dilepaskannya pelukan termakasihnya itu dari Sasuke, dan menempelkan keningnya dengan kening Sasuke. Menjadi-jadilah Sasuke, TAPI tetap mempertahankan imagenya (lagi-lagi saya harus berulang kali ngebilang ini, dasar pemuda jaim! *author dilindes*).

Dijauhkannya badan mereka berdua, muka Sasuke sudah tidak merah lagi, badannya sudah tidak panas lagi (secepat itukah?) ya, itulah Uchiha! Tapi coba kalian dengarkan detak jantungnya dan deruan nafasnya. Sangat sangat sangat KACAU!

"A-ku ti-dak a-pa apa" jawabnya terputus-putus karena mengatur nafas dan jantungnya, dan tentu saja Naruto tidak tahu~.

"Oh, terima kasih ya Sasuke-kun untuk yang kemarin", Naruto mengedipkan sebelah matanya pada Uchiha muda ini.


-DeChii*IsItHappiness?*-


"Tsunade-samaaaaaaaaa~ aku mohon~~" rengekan seperti bayi itu terdengar dari kantor Tsunade-sama dan terdengar ke seluruh penjuru ruang guru. Guru-guru lain sudah paham sekali dengan rengekan itu, dan hanya tertawa saja. Aura di kantor hari ini lebih ceria dari biasanya.

"Dasar anak kecil", Kakashi mendengus tanpa mengalihkan pandangannya dari buku mesum yang sedang dipegangnya.

Ternyata Naruto sedang meminta kenaikan gaji pada Tsunade-sama. Uang kontrakannya naik, obatnya pun mahal, uang makan juga naik, padahal dia hanya beli ramen ramen ramen dan jeruk, shampoo citrusnya juga naik harga, uang kendaraan umum juga naik. Semua serba naik mau bikin kepala pecah dan telinga Tsunade-sama juga hampir pecah gara-gara rengekan Naruto yang seperti bayi itu mendengung di ruangannya tiada henti.

"Berapa kali harus kukatakan Naruto? Gaji kita sudah ditentukan dari sananya. Menumpanglah tinggal pada temanmu, jadi biaya bisa dibagi dua.", kata Tsunade sambil menutup telinganya.

"TAPI~~~~~", rengekan Naruto makin menjadi-jadi, si ceria ini rupanya pantang menyerah.

" Kenalanpun aku tidak punya Tsunade-sama~~~ bolehkah aku tinggal di rumahmu?" rengekan yang satu ini terdengar jelas oleh guru-guru lain yang kaget dan Sasuke yang daritadi hanya mendengarkan Ipodnya, dan hanya itu yang terdengar olehnya sebelum mulut guru yang merengek itu membuyarkan fokus sistem pendengarannya terhadap Ipod itu.

Detak jantungnya jadi tak karuan entah kenapa (cemburu kale loo~ *dichidori Sasuke*). Bangkitlah dia dari singgasananya, berjalan ke arah ruangan Tsunade-sama, guru-guru lain hanya diam melihatnya jalan. Kemudian ia membuka pintunya.

Dilihatnya tangan Naruto sedang menarik-narik baju Tsunade-sama dan hamper lepas, tanda "perempatan jalan" langsung muncul di keningnya.

Dengan muka stoicnya, sambil kesal ia hanya berkata, "tinggallah di rumahku Dobe", kemudian Sasuke meninggalkan ruangan itu.

Naruto hanya diam dan me-loading-kan otaknya. "Do…DOBE? Apa katamu TEME!" Naruto ngamuk-ngamuk di ruangan Tsunade, dan tentunya ditahan oleh Tsunade-sama.

Sasuke melangkah santai tanpa ekspresi, "Hn, dasar anak kecil".


-DeChii*IsItHappiness?*-


Hari sudah sore, sementara tugas Tuan Muda Uchiha telah selesai di sekolah, tugas Naruto masih banyak sekali. Satu tas ransel yang Ia bawa sekarang plus kantung plastik yang ada di tangannya, isinya hanya kertas-kertas tugas.

"Hei, Dobe. Mau kau apakan kertas-kertas itu?", tanya Sasuke datar.

Sepintas terbesit sebuah nama panggilan di pikiran Naruto yang hatinya kesal dipanggil DOBE itu, "Teme! Aku punya nama! N-A-R-U-T-O!", eja Naruto kesal. "Mau dikerjakan di rumah", jawabnya kelelahan. Bibirnya sudah pucat, pancaran cerianya sudah menghilang, sungguh berbeda.

Hati Sasuke langsung berdetak tidak karuan mengingat yang pernah memanggil nama ejekan seperti itu hanya satu orang, ya "dia". Tapi Sasuke menganggap mungkin itu hanya sebuah kebetulan dan menerimanya.

"Kerjakan saja di rumahku, aku bantu.", Sasuke menawarkan diri.

"Benarkah? Terima kasih Sasuke-kun!", Naruto memaksa agar dirinya tersenyum walau dia sangat kelelahan.

Naruto mengekor Sasuke dari ruang guru menuju tempat parkiran. Sasuke naik ke atas motor ninja-nya dan menstarternya. "Naiklah.", seru Sasuke dibalik helmnya.

Naruto pun naik ke atasnya dan menyenderkan diri ke punggung Sasuke, kelihatannya sangat lelah sekali. "Maaf ya, aku nyender sedikit. Lelah sekali rasanya.

"Oh, ya, boleh aku minta tolong Sasuke?" Sasuke menengok ke belakang dan hanya mengangguk.

"Tunggu, apa benar aku boleh tinggal di rumahmu?", Naruto bertanya memastikan sambil mengangkat kepalanya memandang wajah si Uchiha di balik helm.

"Hn, Dobe", Jawabnya.

Naruto kembali menyenderkan kepalanya ke punggung Sasuke, "tolong ke rumahku dulu ya, Teme. Aku tunjukkan jalannya".

"Hn" Hanya itu jawaban yang keluar dari mulutnya dan segera dia keluar dari sekolah dan mengikuti arah yang ditunjukkan oleh Naruto.

"Kiri, Teme! Belok kiri!", perintah Naruto kepada Sasuke. Sasuke mendengar apa yang diperintahkan oleh Naruto, tapi tangan Naruto mengarah ke kanan. Sasuke berhenti sebentar, melihat ke belakangnya dan membuka kaca helm.

"Hei, Dobe, yang benar. Belok kanan atau kiri?" Naruto berpikir cukup lama, entah apa yang dipikirkannya padahal hanya tinggal tunjuk.

"Emmm, sini.", tangan Naruto mengarah ke arah kanan.

"Dobe, cukup tunjuk saja, jangan bicara." Sasuke menutup kaca helmnya. Dan sampailah mereka di rumah mungkin tepatnya kontrakan Naruto.

"Hei, Dobe, kita sudah sampai!".

"Hn, ya, maaf aku tertidur", Naruto mengucek-ngucek matanya yang merah. Dilangkahkan kakiknya ke pijakan motor, bermaksud ingin turun dan walhasil keseimbangannya goyah, akhirnya ia terjatuh dari motor Sasuke. Sasuke langsung menyetandarkan ninjanya dan melepas helmnya, "Hei! Kau tak apa?"

Naruto berdiri sendiri sekuat tenaganya, "Ya, tak apa" Senyuman malaikat secerah matahari ditemui Sasuke lagi, untuk kedua kalinya.


-DeChii*IsItHappiness?*-


To be Continued

Mind to Read and Review Right?