Seorang pria berumur sekitar pertengahan dua puluhan duduk di atas sebuah sofa berwarna cokelat yang tampak mewah. Dia berada di dalam sebuah ruangan yang cukup luas. Sepertinya ruangan itu adalah ruang kerjanya, karena terdapat satu buah meja dan kursi, lengkap dengan PC keluaran terbaru. Di seberang meja kerja itu terdapat lemari kaca berukuran besar, yang berisi folder-folder dokumen berwarna biru yang berjejer rapi.
Pria itu duduk di sebuah sofa berwarna cokelat tanah yang terlihat mahal. Dia menghisap rokok yang tersemat di jari kirinya dengan hikmat, tangan kanannya menggenggam ponsel mahal yang ditempelkan di telinga. "Bagaimana?" tanyanya, pada seseorang di seberang telepon.
.
"Sudah, Tuan. Dia sepertinya tidak curiga." Jawab lawan bicaranya.
.
Pria itu menghisap rokoknya lagi, lalu menghembuskan asapnya ke udara dengan pelan. "Bagus. Terus awasi dia. Ingat, aku tidak menerima kegagalan, atau adikmu yang berharga─"
.
Sosok di seberang telepon segera menyela, "Saya mengerti, Tuan. Saya pasti akan melakukannya dengan baik. Saya rasa dengan mendapatkan kepercayaannya, dia akan lebih mudah dipancing untuk keluar dari zona keluarga Uchiha." Katanya, penuh dengan kecemasan. Masalahnya, pria itu benar-benar berbahaya. Salah sedikit, adiknya yang akan menjadi sasaran.
.
Pria itu tertawa pelan, "Bagus. Laporkan padaku jika Uchiha itu bertindak macam-macam. Aku tidak akan segan menghabisi mereka jika berani mengganggu rencanaku. Yang jelas, aku mau kau membuatnya mendatangiku tanpa paksaan. Aku tidak mau dia membenciku."
.
Ada jeda sejenak, "Saya mengerti." Jawab si penerima telepon pada akhirnya.
.
Setelah memutuskan sambungan telepon, dia meletakkan ponsel mahal itu di sebelah pahanya. Dia mematikan rokok itu di asbak, setelah itu meraih gelas kristal berisi cairan berwarna kuning, menenggaknya hingga tandas.
Pria itu meraih ponselnya lagi, membuka kuncinya sehingga muncul wallpaper seorang anak laki-laki berambut pirang sedang tersenyum lebar. Anak laki-laki itu terlihat bahagia dalam foto itu.
Dia menyeringai, "Tunggulah, sayang. Aku akan segera datang padamu. Setelah itu, tidak akan ada yang bisa memisahkan kita." Dia memandangi layar ponselnya, kali ini seringainya menghilang berganti dengan senyum lembut.
Suaranya pun terdengar lembut dan sarat akan cinta yang begitu mendalam ketika menyebutkan sebuah nama,
"Naruto…"
Disclaimer : Naruto hanya milik MK seorang, saya hanya meminjam charanya saja.
.
Old Grudges Die Hard © Vandalism27
.
Warning : YAOI, SASUNARU, alur kecepetan, alur gak jelas ngalor ngidul, typo(s), dan seabrek kekurangan lainnya.
.
RATE : M; untuk adegan dan hal-hal lain yang tidak sesuai untuk anak-anak.
.
Note :
Fic ini menggunakan Naruto's POV, jadi kalau tidak menggunakan 'aku' berarti menggunakan POV yang lain (normal POV), untuk beberapa hal yang Naruto tidak terlibat di dalamnya. Semoga reader paham, ya.
Karakter disini bakalan banyak yang OOC, tidak sesuai dengan karakter aslinya demi kepentingan cerita. Lagi pula ini fanfiction, bukan manga aslinya kan. Jadi mohon pengertiannya…
.
Sinopsis:
Dulu, aku dan kau bersahabat. Kita tidak terpisahkan. Tapi semenjak kejadian itu, kau berubah. Benar-benar berubah hingga aku tidak bisa mengenalimu lagi. Apakah tidak ada kesempatan kedua bagiku, meskipun aku menerima semua perlakuanmu padaku? Ataukah aku harus memberikan nyawaku, agar kau mau memaafkan aku, Sasuke?
.
.
Selamat Membaca!
.
.
"Huh? Apa maksudmu membuatmu hangat, Sasuke?" Tanyaku.
Sasuke tidak menjawab, dia menatapku dengan tatapan tajam. Rahangnya mengatup erat, sepertinya dia sedang menahan emosi. Tapi, emosi kenapa? Apa aku berbuat salah yang tidak aku sengaja lagi?
Semua orang di rumah belum datang, jadi tidak akan ada yang membanntuku seandainya Sasuke benar-benar menghajarku, seperti malam kemarin. Kaasan sampai heran aku tidak keluar kamar, bahkan melewatkan makan malam.
Itu karena Sasuke, dia memukuliku hanya karena aku akrab dengan Hinata, adik Neji.
Aku dan dia sering bertemu di perpustakaan. Hinata merupakan gadis cantik dan baik, dia selalu membantuku belajar. Kami hanya akrab di perpustakaan, karena aku tidak ingin Hinata merasakan apa yang aku rasakan, ditindas di sekolah. Yah, meskipun kemungkinannya kecil sih, karena dia adiknya Neji.
"Sudah berapa kali aku katakan, jauhi Hinata dan Neji." Desis Sasuke di depan wajahku. "Dan apa itu tadi? Pulang diantarkan Neji? Kau menggodanya, huh?"
Aku mengerutkan keningku, "Menggoda? Tidak, tadi aku hanya tidak sengaja bertemu dengannya, lalu aku dipaksa masuk ke mobilnya." Jelasku. Sebenarnya aku merasa aneh harus menjelaskan hal seperti ini, "Lagipula apa hubungannya denganmu, Sasuke? Itu kan urusanku."
Aku sangat ingin menggigit lidahku, perkataanku barusan bagaikan menyiram bensin ke kobaran api.
PLAKK!
Telingaku berdenging karena Sasuke menampar pipi kiriku. Aku diam, antara menahan sakit dan menahan tangis. Tamparannya kuat sekali, Sasuke tidak tanggung-tanggung.
"Bukan urusanku? Tapi kau menumpang di rumahku, dan aku berhak melakukan apapun padamu! Dasar parasit!" desisnya lagi. Sasuke memang tidak berteriak, tapi kata-kata tajam dan sinis itu benar-benar membuatku ingin menangis.
Aku juga tidak ingin tinggal disini jika kau memperlakukanku seperti ini! Aku tidak akan tinggal disini jika bukan karena kaasan menangis sambil memohon padaku untuk tinggal di rumah ini!
Ku gigit bibirku, menahan isakan yang mengancam keluar. "M-maaf, Sasuke."
Sasuke mendengus, lalu dia menarik tangan kiriku. Aku kebingungan ketika dia menyeretku menuju ke ranjang, untuk apa ke sana? Sasuke membantingku, kasurnya memang tidak keras sih, tapi dibanting begitu rasanya tetap tidak enak.
"Sekarang, aku akan menghukummu karena kau berani melawan kata-kataku."
Aku takut, apalagi yang akan dia lakukan padaku?
Sasuke menjauhiku, dia bergerak menuju ke pintu lalu menguncinya. Perasaanku jadi tidak enak, kenapa dia mengunci pintu segala? Perasaanku makin tidak enak ketika dia membuka lemari di dekat pintu kamar mandi, lalu mengambil tali dari sana, dan juga sebuah botol berisi cairan berwarna biru. Apa itu?
Sasuke mendorongku kasar untuk menelungkup. Ku lihat Sasuke merentangkan tali itu, lalu kedua tanganku diangkat, disatukan ke atas kepalaku dan mengikatnya dengan tali. Sedangkan ujung tali itu diikatkan pada bedpost. Aku tidak mengerti jadi aku menurut saja, dia mau apa sih?
Tapi rasa penasaranku berubah menjadi horor ketika Sasuke menaikkan kausku, lalu melepas paksa celana training yang aku pakai. "Sasuke! Kau mau apa?" kataku sambil menengok ke belakang dengan susah payah.
Bukannya menjawab, Sasuke malah menyeringai, "Bukannya sudah jelas, Dobe? Aku akan menghukummu agar kau tidak macam-macam lagi dengan Hyuuga itu."
"Tapi, menghukum bagaimana? Ini terasa seperti… um, seperti…" aku kesulitan meneruskan kata-kataku, aku malu mengatakannya. "S-seperti diperkosa."
Sasuke tertawa, bukan jenis tawa yang enak didengar, tawanya seperti menghinaku. "Dasar bodoh, sudah jelas kenapa kau bertanya lagi, hah? Kau mau ku hajar?" hardiknya.
Aku mengatupkan bibirku rapat-rapat, takut membuat emosinya semakin parah.
Sasuke mengambil botol biru tadi, lalu menuangkan isinya pada telapak tangannya. Tuhan… Aku sangat takut. Tolong buat seseorang menginterupsi ini. Aku mohon…
Dia menyuruhku menungging, lalu dia mengusapkan cairan itu pada bagian belakangku. Rasanya dingin, dan juga geli ketika dia mengusap-usapnya dengan telunjuk kirinya. Aku meringis ketika Sasuke memasukkan jarinya. Saat ini aku sudah tidak bisa menahan tangisku lagi, aku terisak dengan air mata yang mengalir.
"Sasuke… Hentikan ini, Sasuke… Hiks─tolong, hentikan…"
Sasuke tidak menggubrisku, dia terus saja memasukkan jarinya, yang kini bertambah menjadi dua jari. Dia menggerakkan jarinya keluar dan masuk, gerakannya kasar sehingga membuatku mengernyit sakit.
Aku memekik ketika jari ketiga Sasuke mulai ikut andil mengobrak-abrik lubangku. "Aaaaargh! Sasuke! Sakit!"
PLAKK!
Bukannya iba, Sasuke malah menampar bokongku dengan keras, seperti saat kaachan memarahiku dulu. Tapi ini beda, rasanya sakit, dan juga... menjijikkan. Aku semakin terisak, aku tidak mau diperlakukan seperti pelacur rendahan seperti ini.
"Diam. Kecilkan suaramu, atau aku akan berbuat kasar hingga kau merasa menyesal pernah dilahirkan. Paham?" desisnya. Aku mengangguk, tidak mau membuat dia semakin emosi dan berbuat semakin kejam lagi.
Sasuke melanjutkan aksinya, jarinya maju mundur, sesekali membuat gerakan seperti menggunting. Aku bernafas lega ketika jari Sasuke keluar, tapi tidak bertahan lama ketika kudengar suara resleting dibuka. Lalu kurasakan sesuatu yang besar dan panas menyentuh bagian belakangku.
Mataku membulat ketika menoleh ke belakang, "Sasuke, j-jangan… Please, jangan. Tolong…" kataku lirih, mengiba belas kasihan pada diri seorang Uchiha Sasuke.
Tapi seperti biasa, dia tidak menggubris. Benda besar itu masuk ke lubangku, memaksa masuk lebih tepatnya. Aku menggertakan gigiku kuat-kuat, menahan rasa sakit yang seperti membelahku menjadi dua. Aku bergerak secara tidak sadar, berusaha menghilangkan─atau setidaknya meredakan rasa sakit yang aku rasakan.
"Ssshhh… Diamlah Naruto, jangan bergerak dulu. Lubangmu sangat sempit." Sasuke mendesis rendah di belakangku, suaranya bertambah berat dari biasanya.
Kata-kata Sasuke terdengar menjijikkan. Lebih menjijikkan dari apapun yang pernah dia lakukan padaku sebelumnya. Tidak apa kau menghajarku, menamparku, memakiku, dan lainnya, tapi… kalau begini, lebih baik aku mati.
Air mataku mengalir deras, isakanku bercampur desahanku ketika dia mulai bergerak. Awalnya pelan, tapi lama-lama gerakannya cepat dan semakin kasar. Sasuke terus bergerak sampai aku merasakan sesuatu dari dalam tubuhku mendesak untuk keluar. Aku tidak tahan lagi.
Aku menjerit tertahan ketika aku mencapai klimaks, bersamaan dengan Sasuke yang menggeram rendah di belakangku.
Sasuke menjatuhkan tubuhnya di sampingku, napasnya terengah-engah.
Dia tertawa pelan, "Inilah hukumanmu kalau berani melanggar perintahku. Mulai sekarang, jauhi Hyuuga atau aku akan memperlakukanmu lebih buruk dari ini. Mengerti?"
Aku mengangguk, tidak sanggup berkata-kata karena tangisku belum berhenti. Hatiku sakit sekali diperlakukan seperti ini, seperti aku benar-benar tidak berharga. Aku memang bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa.
Aku tahu, gara-gara aku Sasuke kehilangan seseorang amat dia sayangi. tapi kenapa aku diperlakukan seperti ini? Kenapa, Sasuke? Tidak bisakah kau memperlakukanku lebih manusiawi?
"Tsk, berhenti menangis, idiot!"
Sasuke bangkit, membenarkan celananya lalu melepaskan ikatannya di tanganku. Pergelangan tanganku memerah karena bergesekan dengan tali itu. Kuusap-usap, berharap warna merah itu tidak menjadi memar.
"Cepat rapikan pakaianmu, dan keluar dari sini. Aku tidak mau orang rumah curiga."
Aku tidak menjawab. Dengan langkah pelan dan terseok-seok, serta menahan sakit di bokongku, aku berjalan meninggalkan kamar laknat ini.
Aku merebahkan diriku di kasur ketika sampai di kamarku dengan susah payah. Tadi aku sempat berpapasan dengan kaasan, untung saja kaasan tidak curiga melihat cara berjalanku, beliau baru saja pulang kerja. Kaasan bekerja sebagai designer di sebuah butik terkenal yang dia miliki dan kelola sendiri, sedangkan tousan dan Itachi-nii bekerja di perusahaan besar milik keluarga Uchiha.
Tok tok tok
Pintu kamarku diketuk, suara lembut Ayame terdengar. "Naruto, makan malam sudah siap." Katanya.
Aku bergegas berjalan menuju pintu sambil meringis, nyeri di bokongku sungguh mengganggu. "Iya, Ayame. Terima kasih. Tapi aku mau mandi dulu." Kataku setelah ku buka pintu kamarku.
Ayame mengerutkan keningku. "Kau belum mandi? Tadi kan habis kehujanan! Bagaimana kalau sakit? Seharusnya tadi kau langsung mandi!" seru Ayame khawatir.
"Tidak akan, Ayame, tenang saja. Kalau begitu aku mandi dulu, beritahu kaasan aku mandi dulu ya, atau kaasan makan duluan saja. Oke?"
Ku tutup pintu kamarku, lalu aku segera beranjak ke kamar mandi. Sebenarnya tadi aku sudah mandi, tapi aku harus mandi lagi. Tubuhku kotor dan… menjijikkan.
.
.
.
Saat ini, Sasuke sedang berada di belakang sekolah berdua dengan Karin. Oh, tidak, tidak. Mereka bukan sedang berduaan atau saling mengungkapkan perasaan. Sasuke bahkan tidak ingin dekat-dekat gadis genit itu, tapi kali ini situasinya berbeda.
Sasuke berdiri angkuh. Kedua tangannya dia masukkan ke dalam saku celana. Tatapan matanya tajam, membuat seorang gadis yang berdiri di depannya takut.
"Aku tanya sekali lagi. Kenapa kau sengaja membuat Naruto terjatuh di kelas kemarin, Karin?" tanyanya. Nadanya sedingin es, membuat Karin semakin mengkeret ketakutan.
"A-aku hanya iseng, Sasuke-kun. Lagi pula teman-teman yang lain juga menindasnya, kan? Mereka semua sering mengerjai Naruto." Ucap Karin membela diri. "Bukannya kau suka kalau Naruto tersiksa? Kau sendiri sering menindasnya."
Sasuke menggeram. "Bukankah sudah pernah aku katakan, kalian hanya boleh mengerjainya, bukan melukainya! Hanya aku yang boleh membuatnya terluka!" Teriaknya murka. "Kali ini kau ku lepaskan. Tapi, kalau sekali saja kau membuat Naruto terluka..."
Sasuke menggantungkan kalimatnya, dia berjalan perlahan mendekati Karin. Dia berhenti tepat beberapa inchi dari tubuh Karin, kemudian membungkuk untuk mencapai telinga gadis yang jauh lebih pendek darinya itu.
"Kau akan mati di tanganku." Bisiknya, membuat Karin mematung. Matanya terbelalak ngeri, Sasuke yang seperti ini tidak pernah main-main. "Apa kau mengerti, bitch?" tambahnya.
Karin mengangguk kaku, "A-aku mengerti."
Sasuke menyeringai, kemudian meninggalkan Karin seorang diri.
.
.
.
Sasuke bersandar pada dinding di belakangnya. Kali ini dia sedang berada di sebuah gedung tua yang sudah tidak terpakai lagi, menunggu teman-temannya. Ketika dia akan menyulut rokoknya, pintu terbuka, memperlihatkan Sai dan Suigetsu bersama empat orang pemuda yang sepertinya seumuran dengan mereka.
"Well, selamat datang, Kimimaro, Idate, Haku dan Juugo." Kata Sasuke, masih dengan sikap santainya menghisap rokok.
Seorang yang bernama Idate memberanikan diri bertanya. "Ada apa Sasuke senpai memanggil kami kemari?"
Sasuke membuang puntung rokoknya sembarangan, lalu menginjaknya. "Ada apa. Kau bertanya ada apa?" dia menegakkan tubuhnya, berjalan mendekati Idate yang membuat Idate mundur selangkah. "Bukankah sudah jelas? Atau perlu aku jelaskan sekali lagi?" tanyanya, dengan nada mengancam.
Idate meneguk ludah. Sepertinya dia tahu kenapa. Sebelum Idate sempat membuka mulut, Kimimaro sudah berbicara duluan. "Kami kemarin memukuli Naruto senpai." Ucapnya, "Kami kesal karena hanya dia yang tidak mendapatkan hukuman karena terlambat."
Sasuke memandangi wajah Kimimaro dengan raut wajah yang sulit diartikan.
"Aku tidak ikut-ikutan. Aku tidak melakukan apapun." Itu Juugo yang berkomentar. Pemuda berbadan tinggi besar itu menunduk, memandang Sasuke yang lebih pendek darinya dengan tatapan datar. "Aku hanya berdiri dan tidak menyentuhnya sama sekali."
Haku melotot, "Hei, kenapa kau berbicara begitu? Kau mau cuci tangan, hah?!" bentaknya, merasa tidak terima. Bagaimana pun, Juugo tetap ikut dalam aksi pengeroyokan itu, meskipun dia tidak melakukan apa-apa.
Sasuke mendengus, "Meninggalkan teman?"
Juugo menggeleng, "Mereka bukan temanku. Mereka memaksaku ikut untuk memberikan pelajaran pada Naruto senpai. Awalnya aku menolak, karena hal itu tidak berguna, lagi pula Naruto senpai tidak pernah menggangguku. Tapi mereka terus memaksaku. Jadinya aku hanya menonton saja, karena memang tidak tertarik sejak awal." Jelas Juugo panjang lebar.
"Baiklah, kau mundur. Biar teman-temanmu ini bersenang-senang denganku." Sasuke mengambil tongkat kayu yang ada di dekatnya. "Hei, Juugo. Seperti apa mereka memukuli Naruto?"
Juugo menghela napas. "Pukul saja punggung mereka dengan kayu di tanganmu itu, seperti itulah mereka menyiksa Naruto. Ah, sisanya aku tidak ingat."
Sasuke mengangguk, kemudian menginstruksikan tiga orang pemuda itu untuk berbalik. Kayu yang cukup besar itu dia hantamkan sekuat mungkin ke punggung mereka. Biar saja, biar mereka merasakan apa yang Naruto rasakan. Tidak ada yang boleh menyakiti Naruto selain dirinya!
Haku yang pertama kali tumbang. Badannya memang kecil, jadi dia tidak tahan dengan pukulan bertubi-tubi yang diberikan Sasuke. Lalu Idate jatuh berlutut, dia meringis kesakitan. Kimimaro masih bertahan, meskipun kakinya mulai gemetaran.
Ketika Sasuke hendak melayangkan pukulan lagi, Juugo menghentikannya. "Sudah cukup, Sasuke senpai, mereka memukuli Naruto tidak lebih dari sepuluh kali." Katanya datar.
Sasuke mendengus, "Sekarang kau membela mereka?"
"Aku tidak membela, hanya saja aku tidak ingin repot membawa mereka jika sampai pingsan." Dia menyeringai, "Lagi pula kau harus bermain fair, kau tidak ingin mendapat julukan pecundang, kan?"
Sasuke berdecak, "Terserahlah. Kau urus teman-temanmu ini. Dan kalian, jika sekali lagi melukai Naruto, aku tidak akan segan meremukkan kepala kalian, mengerti?!" Sasuke membuang kayu besar di tangannya itu, lalu menatap kedua temannya yang malah asyik berjongkok sambil bertopang dagu, "Sai, Suigetsu, kita pergi."
Mereka pun meninggalkan keempat pemuda itu.
.
.
.
Aku sedang menikmati makan siangku sendirian di atap sekolah. Kiba dan Shikamaru tidak bisa menemaniku hari ini. Shikamaru sedang dimintai tolong Asuma sensei untuk membantu mengoreksi hasil tes matematika, sedangkan Kiba tidak masuk karena demam.
Untunglah aku tidak demam, kemarin kan aku hujan-hujanan.
Tiba-tiba aku teringat perlakuan Sasuke padaku. Hanya karena aku diantar pulang oleh Neji dan sering mengobrol dengan Hinata, Sasuke sampai tega memperkosaku. Padahal aku tidak pernah mencampuri urusannya.
Neji.
Sepertinya dia orang yang baik. Setidaknya dia tidak pernah berkelakuan buruk padaku. Terlepas dari tatapan matanya yang kadang membuatku tidak nyaman, dia lebih baik dari pada Sasuke. Jauh, jauh lebih baik.
Ngomong-ngomong, hari ini Sasuke tidak muncul di kelas. Kedua temannya, Sai dan Suigetsu juga tidak hadir. Hanya Neji yang hadir, itu juga dia ikut menghilang setelah pelajaran pertama berakhir. Seingatku tadi Sasuke berangkat sekolah bersamaku─seperti biasa, aku diturunkan di jalan. Apa dia bolos sekolah ya? Atau jangan-jangan dia sakit? Ah, tidak, tidak. Berhenti mengkhawatirkan orang yang tidak peduli padamu, baka Naru!
"Di sini kau rupanya. Aku mencarimu dari tadi."
Sebuah suara mengagetkanku. Tanpa melihat pun aku tahu siapa pemilik suara itu.
Hyuuga Neji.
Aku menoleh kaku, "A-ah, Neji. Ada perlu apa?" ujarku gugup, aku sangat takut jika Sasuke melihat ini dan dia kembali memperkosaku. Aku tidak mau itu terjadi!
Aku semakin menegang ketika dia berjalan mendekatiku, lalu duduk tepat di samping kananku. Tangannya menggenggam sebuah roti melon. "Aku lapar, tapi tidak mau makan sendirian. Sasuke dan yang lain sedang membolos, aku tidak ikut." Katanya.
Dia membuka roti itu kemudian memakannya dengan santai. Sama sekali tidak menyadari aku yang duduk tegang di sebelahnya. Duh, perutku jadi mulas.
"Kau makan apa?" tanyanya, setelah sekian lama kami diam. "Kelihatannya enak."
Aku melirik bekalku, masih tersisa setengah. "Oh, ini bentou buatanku. Aku kadang membawa bekal sendiri dari rumah." Kataku.
Karena sudah terbiasa dengan Kiba ataupun Shikamaru yang selalu aku tawari makan siangku, dengan santainya aku menawarinya. "Kau mau coba?" ujarku tanpa dosa. Detik berikutnya, aku menganga ketika menyadari dengan siapa aku berbicara.
Neji menatapku tanpa ekspresi, ingin rasanya aku mencopot lidahku dan membuangnya jauh ke angkasa. Sial, sial, sial! Untung Sasuke tidak masuk sekolah, kalau dia melihat ini semua, tamat riwayat bokongku!
"Bolehkah?"
"Huh?" tanyaku cengo. "Oh, iya. Silahkan. Tapi maaf sumpitnya hanya ada satu, aku tidak membawa lagi." Ucapku sambil menyerahkan kotak makan itu padanya.
Dia menerimanya sambil tersenyum kecil, lalu mulai memakannya. "Hmm, lumayan juga masakanmu." Gumamnya, yang entah kenapa membuat wajahku terasa hangat. "Kapan-kapan bawakan bekal seperti ini untukku, ya?"
Aku melongo. Seorang Neji, minta aku buatkan bekal? "Iya, aku bawakan, tapi…" Neji berhenti mengunyah ketika kalimatku menggantung. "Jangan sampai ketahuan Sasuke, ya? Please, aku mohon."
Neji mengangguk, "Ya, aku tidak akan memberitahukannya pada Sasuke." Kemudian dia meneruskan makannya.
Aku jadi kepikiran Sasuke, apakah dia sudah makan siang? Coba saja dia bersikap baik seperti Neji, dengan senang hati aku akan membuatkannya bekal setiap hari. Aaaah, seandainya…
Aku tersadar dari lamunanku ketika kotak bekal makanku dikembalikan oleh Neji. Aku menerimanya dengan senyum tipis, hendak melanjutkan makan siangku tapi senyumku pudar ketika melihat kotak bekalku kosong.
Kemana bekalku?
Ku tatap Neji, dia tersenyum tanpa dosa. Kaachan dan touchan di surga, bolehkah aku menangis sekarang? Aku masih lapar…
.
.
.
Aku terlonjak ketika pintu depan dibuka dengan bantingan keras. Sepertinya Sasuke sudah pulang. Dia masih memakai seragam, meskipun berantakan.
"Sasuke, kenapa tadi kau tidak masuk? Asuma sensei menyuruhku memberitahumu untuk ikut tes matematika susulan hari senin sepulang sekolah." Ujarku, ketika dia melewati ruang tengah tempatku menonton tv untuk menuju ke dapur.
"Hn. Bukan urusanmu." Ujarnya ketus. "Lebih baik kau diam saja, atau kau mau seperti kemarin malam?"
Aku membeku. Jelas tidak! Aku tidak akan mengulangi lagi kesalahan yang sama. "Eh… tidak. Aku hanya ingin menyampaikan pesan dari Asuma sensei saja, kok." Aku buru-buru berdiri hendak berlari ke kamarku ketika suara benda pecah terdengar.
Sasuke meringis, tangan kirinya memegangi pergelangan tangan kanannya. Ayame berlari mendekati Sasuke, lalu menyuruhnya menjauh agar bisa membereskan pecahan gelas itu.
Saat itu lah aku melihat telapak tangan Sasuke dipenuhi luka lecet, bahkan ada yang berdarah. Aku mendekatinya dan langsung menyambar telapak tangan kanannya itu, membuat Sasuke meringis.
"Apa-apaan kau?!" serunya.
Tapi aku tidak mendengarkan, "Kau habis berkelahi, Sasuke?" mataku menatap ngeri goresan-goresan yang lumayan banyak itu. "Tanganmu terluka, harus segera diobati!"
Sasuke menyentakkan tanganku kasar. Dia memandangku tajam sebelum beranjak meninggalkanku menuju kamarnya. Tapi, aku tidak akan menyerah sebelum dia setuju aku merawat lukanya.
Ku susul dia ke kamarnya setelah sebelumnya menyambar kotak obat di dekat dapur. Tepat sebelum dia menutup pintu kamarnya, tanganku menahan pintu hingga terjepit. Sasuke buru-buru membuka pintu kamarnya.
"Apa yang kau lakukan, bodoh?!"
Aku meringis, tanganku sakit karena terjepit, tapi aku yakin luka ditangan Sasuke lebih sakit.
"Aku tidak akan berhenti mengganggumu sampai kau mau aku merawat lukamu." Kataku, lalu aku menerobos kamarnya, meletakkan kotak obat itu di atas meja. Sasuke sudah menutup pintu, tapi dia masih berdiri disana sambil menatapku.
Aku balas menatapnya, aku tidak peduli dia mau apa yang penting lukanya diobati.
"Tsk. Terserah kau sajalah!"
Dalam hati aku bersorak, Sasuke yang dulu juga seperti ini, dia selalu mengalah demi aku. Meskipun kadang caranya menyebalkan, tapi setidaknya dia tidak kasar seperti sekarang.
Sasuke duduk di pinggir ranjang sambil menyodorkan tangan kanannya padaku. Segera aku berlutut di depannya, dan mulai merawat luka-luka itu. Sasuke sedikit mendesis ketika luka itu ku olesi alkohol.
"Pelan-pelan, bodoh." Katanya sambil meringis. Sudah tahu diobati itu sakit, kenapa berkelahi sih? Rutukku dalam hati.
Aku meniupi luka itu, agar tidak terlalu menyakiti Sasuke. "Apa sakit sekali? Kau habis melakukan apa, kenapa sampai terluka begini sih?" kataku, sambil tetap mengolesi luka itu dengan alkohol, sambil sesekali meniupinya.
Sasuke tidak menjawab, dia hanya diam sampai aku selesai membalut lukanya dengan kassa. "Nah, selesai. Dua hari lagi buka kassanya ya, kalau bisa jangan kena air dulu supaya lukanya cepat kering." Setelah itu aku membereskan kotak obatnya, buru-buru keluar dari sana mumpung Sasuke masih diam.
Siapa yang tahu kan, lima atau sepuluh menit lagi dia kembali jahat padaku?
Begitu aku keluar dari kamar Sasuke, aku berpapasan dengan Itachi-nii.
"Eh, Naruto? Sedang apa di kamar Sasuke?" tanyanya, "Sasuke tidak melakukan hal buruk lagi padamu, kan?" selidiknya.
Aku menggeleng, "Ah, tidak kok. Aku hanya membantu Sasuke membersihkan lukanya saja. Tadi dia terjatuh di sekolah sampai telapak tangannya terluka, makanya aku mengobatinya." Kataku mengarang alasan.
Itachi-nii mengangguk tanda mengerti. "Oh, begitu." Lalu dia menyodorkan satu buah kotak berlabel toko kue terkenal padaku, "Ini, aku diberi brownies oleh salah satu temanku. Kau saja yang makan, aku tidak terlalu suka brownies."
Aku melompat senang menerima pemberian itu. Tentu saja akan aku habiskan, aku suka makanan manis.
Itachi-nii dan aku kemudian menonton film horror yang sempat kami bicarakan sebelumnya, tentang sebuah boneka yang 'dihuni' makhluk halus. Lampu ruang tengah dimatikan, katanya biar lebih seru. Hah, Seru apanya? Seram sih iya!
Biarpun judulnya menonton bersama, tapi hanya Itachi-nii yang benar-benar menonton, aku lebih banyak mengkerut ketakutan sambil menutup wajahku dengan bantal sofa. Kami bebas berteriak karena kaasan dan tousan sedang ada urusan di luar kota, jadi malam ini tidak pulang. Sedangkan besok hari minggu, kami bisa bersantai di rumah karena libur.
Tiba-tiba Sasuke muncul, membuatku kaget saja. "Sedang menonton apa kalian?" katanya. Dia duduk di sofa sebelah Itachi-nii, sambil mencomot keripik kentang di atas meja.
"Memangnya sejak kapan kau suka film horror, Sasuke?" Itachi-nii mendengus. "Kau kan lebih suka menonton drama picisan yang isinya percintaan."
Aku menggigit bibirku, berusaha menahan tawa. Seorang Sasuke menonton drama? Pantas saja dia suka menindasku, ternyata dia salah satu korban drama. Oh, wow.
"Enak saja. Masih lebih baik, dari pada sok menonton tapi menutupi wajahnya dengan bantal." Kata Sasuke sambil mengunyah keripik kentang itu.
Sialan, dia menyindirku. Tapi tidak aku pedulikan, ada Itachi-nii di sini. Dia pasti akan menjagaku dari tangan jahil Sasuke. Rasakan kau, memang enak. Adik kandungnya kan dia, tapi aku yang selalu dibela.
Kami terus menonton film dengan konsentrasi penuh─mereka berdua, aku jangan dihitung. Entah sudah berapa kali aku memekik tertahan karena hantunya tiba-tiba muncul. Lama-kelamaan, karena sudah tidak kuat membuka mata, aku tertidur.
.
.
.
Dua Uchiha bersaudara itu duduk bersebelahan, sambil menonton film horror yang diputar di ruang tengah. Seorang lagi sudah tertidur lelap, kepalanya menyandar pada bantal sofa yang dipeluknya erat.
"Mau sampai kapan kau begini, Sasuke?" Uchiha yang lebih tua membuka pembicaraan.
Pandangan sang adik tetap fokus pada layar televisi, tapi dia jelas mendengarkan. "Apa maksudmu, aniki?" sang adik bertanya, pura-pura tidak mengerti.
Itachi menghela napas, "Mau sampai kapan kau menyiksa Naruto? Dia tidak bersalah, Sasuke. Dia pun lebih menderita dari pada kau, lebih kehilangan dari pada kau. Orang tuanya tewas karena ulah bajingan tengik itu, sedangkan kau? Meskipun kehilangan, kau masih punya aku, kaasan, tousan. Sedangkan dia? Dia sebatang kara, Sasuke." Jelas Itachi panjang lebar, dia mulai jengah dengan tingkah tidak masuk akal adiknya. "Kejadian itu diluar kuasa Naruto, dia bahkan tidak tahu alasan sesungguhnya orang tuanya tewas."
Sasuke memandang televisi dengan pandangan kosong. "Aku tidak tahu, aniki. Aku sangat membencinya, tapi di saat bersamaan aku juga menyayanginya." Sasuke memijat pelipisnya yang berdenyut, "Setiap aku berusaha baik padanya, aku selalu ingat kejadian itu, aku selalu berpikir dia penyebab semuanya. Padahal kalau dipikir-pikir lagi, dia adalah korban."
Itachi menghela napas. "Lalu apa kau akan selamanya bersikap begitu pada Naruto? Itu tidak adil, Sasuke. Disini aku tidak membela siapapun, kau dan Naruto adalah adikku. Aku tidak melaporkan tindakanmu pada tousan agar kau tidak mendapat masalah, tapi bukan berarti kau bisa seenaknya dan aku tidak selamanya diam." Katanya, kemudian Itachi menepuk bahu Sasuke, "Tapi berjanjilah, kau akan melindunginya dari orang itu."
"Ya, aku tahu. Aku selalu melindunginya dari siapapun yang berusaha melukainya. Sekalipun tanganku harus berdarah, aku tidak masalah. Tapi aku tidak bisa menatap wajahnya tanpa terpancing emosi, apa yang harus aku lakukan, aniki?"
Itachi menatap Sasuke iba. Dia mengerti betul, Sasuke itu dari dulu sampai sekarang sangatlah menyanyangi Naruto. Tapi karena peristiwa yang merenggut nyawa orang itu, dia menjadi seperti Sasuke yang sekarang.
"Terserah kau saja, Sasuke. Aku harap kau tidak menyesali semua kelakuanmu ini." Setelah itu, Itachi bangkit sambil menggendong Naruto di lengannya. Tapi gerakannya berhenti ketika Sasuke menahan lengannya. "Ada apa?"
"Biar aku saja."
Itachi mengernyit, "Huh?"
"Aku yang akan membawanya ke kamar." Kata Sasuke, lalu dia mengambil alih tubuh Naruto di gendongan Itachi dan menggendongnya sampai ke kamar.
Begitu sampai di kamar, Sasuke merebahkan tubuh Naruto, lalu menyelimutinya. Setelah itu dia tidak langsung pergi, dia duduk di pinggir ranjang luas itu sambil memandangi wajah tidur Naruto.
"… Ngh, j-jangan, Sasuke. Maaf…"
Naruto mengigau dalam mimpinya, dia merengek seperti hendak menangis. Bahkan dalam mimpi pun, Naruto merasa tersiksa karena ulahnya? Sasuke yang melihat itu jadi terenyuh. Tanpa dia sadari, ibu jari kanannya mengelus lembut pipi Naruto.
"Apa yang sudah aku lakukan padamu, Naruto? Maafkan aku…" bisiknya lirih, yang hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri.
.
.
.
Aku membuka mataku ketika sinar matahari yang mengintip dari sela gordin mengenai mataku. Ah, sudah pagi ternyata. Aku menguap sambil sedikit melakukan peregangan. Aku menoleh kesana kemari, sejak kapan aku ada di kamar?
Seingatku semalam aku berniat begadang bersama Itachi-nii untuk menonton film horror. Mungkin aku tertidur, lalu Itachi-nii yang membawaku ke kamar. Tidak mungkin Sasuke yang membawaku ke kamar, itu mustahil sekali. Itachi-nii memang sering menggendongku kalau aku ketiduran di sofa.
Ku sibak selimutku, lalu beranjak menuju ke kamar mandi. Aku harus bersiap-siap, hari ini aku punya acara penting. Aku mau mengunjungi makam kedua orang tuaku. Setelah berpakaian dengan rapi dan menenteng tas selempangku, aku keluar dari kamar.
Ku lihat Itachi-nii sudah siap dengan pakaian formalnya. "Lho, Itachi-nii tidak libur?" tanyaku. Aku duduk di sebelahnya sambil mencomot roti bakar buatan Ayame. Hmm, enak.
"Inginnya sih libur, tapi tousan menelepon katanya ada hal penting yang harus segera ditangani, jadi aku akan menyusul tousan ke Ame." Katanya. "Kau mau pergi? Sudah rapi sekali."
Aku mengangguk antusias, "Tentu saja, aku berencana mengunjungi makam touchan dan kaachan."
Itachi-nii mengangguk, "Apa kau akan pergi sendiri? Ajak Sasuke saja." Katanya santai, yang langsung membuatku mendelik tajam.
"Mana mau dia mengantarku!" Aku meraih gelas susuku, kemudian menenggaknya sampai tandas. "Aku pergi dulu, bye."
Aku buru-buru keluar rumah, aku sudah tidak sabar untuk bertemu kaachan dan touchan. Aku berjalan menuju halte sambil bersenandung kecil. Sudah lama aku tidak jalan sesantai ini. Biasanya tiap pagi aku selalu buru-buru berlari ke halte, gara-gara Sasu-teme itu sering kesiangan.
Setibanya di halte, aku menunggu bus datang sambil memainkan ponselku. Lima menit kemudian, bus yang aku tunggu datang. Hanya perlu waktu dua puluh menit untukku tiba di lokasi pemakaman. Aku sudah membeli bunga lili putih, satu untuk touchan dan satu untuk kaachan. Bunga ini bukan kesukaan kaachan, apalagi touchan. Tapi entahlah, aku suka bunga ini.
"Hai, kaachan, halo, touchan." Sapaku, ketika aku berada di depan makam kedua orang tuaku. Ku letakkan bunga yang aku bawa di atas makam mereka, lalu kupanjatkan doa dengan kyusuk. Aku meminta pada Tuhan untuk selalu menjaga orang tuaku, menyanyangi mereka di surga sana.
"Kaachan, touchan, apa kabar kalian? Tahu tidak, sekarang sudah tahun kedua aku bersekolah di Konoha High School, lho. Dulu, waktu ikut tesnya, aku sempat takut tidak akan bisa, tapi ternyata aku lulus. Bahkan touchan sampai berjanji akan membelikanku game mahal yang aku inginkan. Tapi…" Aku diam sejenak, mencoba menahan kesedihanku. "Tapi ternyata Tuhan punya rencana lain, kalian sudah dipanggil oleh-Nya ketika aku lulus tes itu."
"Padahal kan touchan sudah berjanji akan membelikanku game mahal itu. Tapi tidak apa, aku yakin kalian pasti bahagia di atas sana melihatku bersekolah di sekolah yang kalian inginkan. Meskipun perlakuan teman-teman padaku tidak begitu baik, tapi aku akan bertahan disana, karena touchan ingin aku lulus dari sana."
Ku gigit bibirku, mataku mulai memburam karena air mata yang berkumpul di pelupuk mataku.
"J-jadi, bagaimanapun sikap mereka, aku akan bertahan─hiks, a-aku akan bertahan demi kalian. K-kaachan di sana jangan galak ya pada touchan. A-aku jadi ingat saat dulu touchan sering berlindung di balik punggungku demi menghindar dari amukan kaachan."
Aku tersenyum, tapi air mataku tidak bisa berhenti mengalir. Mungkin sekarang wajahku sudah seperti orang bodoh, tapi biarlah.
"A-aku sayang pada Sasuke, kaachan. Tapi kenapa dia jahat padaku?" Aku mengusap air mata yang mengalir menggunakan ujung lengan jaketku. "A-aku ingin dia seperti dulu lagi, bermain bersamaku, tertawa bersamaku, menangis bersamaku. Bukan dia yang selalu memukulku, membentakku, memakiku. Apa itu sesuatu yang sulit, kaachan?"
Aku sudah tidak bisa berbicara lagi, air mataku turun semakin deras. Aku menutup wajahku dengan telapak tangan. Aku menangis tanpa suara, bahuku berguncang hebat karenanya.
Setelah tangisku mereda, aku mengusap air mataku, lalu berpamitan pada orang tuaku dan berjanji akan berkunjung lagi.
Ketika aku berbalik, ternyata ada seseorang berdiri tidak jauh dariku. Seorang pria, yang sepertinya lebih tua dariku. Dia memandangku lekat-lekat. Ada apa dengan orang ini?
Aku semakin bingung ketika dia mendekatiku, "Halo, kau habis mengunjungi makam Minato-san dan Kushina-san ya?" katanya berbasa basi, yang hanya aku balas anggukan. "Apa kau anaknya? Kau mirip sekali dengan Minato-san."
Aku mengangguk. "Umm, iya. Mereka orang tuaku. Apa kau kenalan ayah dan ibuku?" tanyaku. Aku memperhatikan wajahnya, sepertinya aku pernah melihat wajahnya, tapi aku tidak ingat dimana.
"Hmm, kenalan, ya…" gumamnya, "Yeah kurang lebih seperti itu. Namamu siapa? Aku Kyuubi." Dia menyodorkan tangan kanannya, mengajak berkenalan.
Kusambut tangannya dengan tanganku sendiri lalu menyebutkan namaku. "Aku Uzumaki Naruto, Kyuubi-san."
"Baiklah, Naruto. Aku akan mengunjungi makam orang tuamu dulu, setelah itu bagaimana kalau kita minum kopi? Ada kafe di dekat sini. Sejak dulu aku ingin sekali mengobrol dengan anak Minato-san."
Entah apa yang merasukiku, aku mengangguk mengiyakan. Padahal sangat berbahaya, mengikuti orang asing yang baru kau kenal meskipun dia bilang merupakan kenalan orang tuamu. Tapi entah mengapa, aku merasa ada sesuatu yang terasa familiar dari orang itu, tapi aku tidak tahu apa.
Sepuluh menit kemudian dia menghampiriku yang berdiri di bawah pohon. Kami berjalan berdampingan menuju kafe yang terletak di ujung jalan.
Setelah itu, seperti di drama picisan yang kata Itachi-nii disukai oleh Sasuke, kami memesan makanan dan minuman, mengobrol, bahkan bercanda, lalu kami bertukar alamat email. Oh, Kyuubi-san baik sekali, dia sampai mentraktirku segala.
Akhirnya kami berpisah karena sudah menjelang sore, aku tidak ingin pulang kemalaman. Aku baru sadar ternyata Kyuubi-san mengendarai mobil. Jenis mobil sport yang terlihat mahal dan mengkilap.
Aku berjalan pelan menuju ke halte. Tinggal beberapa langkah lagi aku sampai disana, tapi aku menghentikan langkahku ketika bertemu dengan seseorang yang sama sekali tidak aku sangka.
"Sasuke?"
Dia ada di halte itu, berdiri dengan angkuh dan seperti biasa, kedua tangannya berada di dalam saku celananya. Dia terlihat mencolok berada disana, karena sosoknya yang… yeah, aku akui cukup menawan. Bahkan beberapa wanita terang-terangan tersenyum padanya. Membuat iri saja.
Aku menahan senyumku ketika berpikir kalau tangannya itu mirip telur, dierami di dalam saku terus menerus agar tetap hangat.
Aku tidak yakin berada satu halte dengannya, aku takut dia marah dan memukuliku lagi, jadi ku putuskan untuk berbalik. Sasuke juga tidak mungkin mau berada dekat denganku, jadi lebih baik aku mengalah dan kembali lagi ketika dia sudah pergi.
Aku memekik ketika tanganku ditahan entah oleh siapa, lalu dipaksa berbalik.
"Berani sekali kau mengacuhkan aku?" Uh-oh, ternyata Sasuke. Dia memandangku tajam.
Aku mengerjap bingung, "Huh? Siapa yang mengacuhkanmu?" Lalu aku tersadar apa maksud perkataannya. "Oh, aku tidak bermaksud begitu, kau kan biasanya tidak suka aku berada di sekitarmu. Jadi, ya, begitulah." Kataku mencoba menjelaskan, semoga saja dia mau mengerti.
"Kau kenapa lama sekali?! Aku kelaparan di rumah! Ayame-san ijin pulang ke rumahnya, jadi tidak ada yang memasak makan siang, dan aku tidak familiar dengan dapur!"
Aku memiringkan kepalaku, semakin bingung. "Kau kan bisa beli makan diluar, atau delivery seperti biasanya." Ada apa sih dengannya? Aneh sekali.
Sasuke tidak menjawab, wajahnya berubah kesal. Ku lihat dia mengangkat tangan kanannya. Aku bersiap menerima tamparan atau apapun itu, tapi ternyata dia mengepalkan tangannya kemudian menurunkannya lagi.
"Sudahlah, tidak usah banyak bicara! Cepat pulang dan buatkan aku makanan!"
Aku menghela napas, lalu mengangguk. Sasuke mencengkeram erat pergelangan tanganku, lalu menarikku untuk mengikutinya. Sial, orang-orang melihat ke arah kami sambil berbisik dan menunjuk tangan kami yang bagi mereka mungkin terlihat sedang bergandengan. Tapi serius, ini jauh dari berjalan-sambil-gandengan-tangan! Dia menyeretku!
Dahiku mengerut bingung ketika haltenya terlewat. "Err, Sasuke, maaf. Tapi haltenya terlewat." Kataku, menunjuk halte yang kini ada di belakang kami.
Dia menoleh, dahinya juga berkerut sama sepertiku, "Lalu? Aku bawa mobil, disana." Katanya, sambil menunjuk sebuah mobil hitam mengkilat yang sangat familiar untukku.
Eh, tunggu. Kalau dia bawa mobil, kenapa dia ada di halte?
Jantungku berdetak lebih cepat, pipiku jadi terasa panas, senyumku mengembang dengan sendirinya. Mungkinkah? Mungkinkah jika Sasuke ternyata…
Tersesat?
Iya, pasti begitu. Tidak mungkin kan dia menjemputku.
.
.
.
Keesokan harinya, kami berangkat sekolah seperti biasanya. Tapi anehnya, kali ini Sasuke tidak menurunkanku di tikungan itu seperti biasanya. Duh, aku jadi takut. Jangan-jangan Sasuke salah makan? Atau dia mau membuangku?
Aku hendak bertanya, tapi aku tidak berani membuka mulut.
Aku tidak berani turun dari mobil ketika kami sudah sampai di parkiran sekolah. Masalahnya semua mata tertuju pada mobil hitam Sasuke. Apa jadinya kalau mereka melihat aku keluar dari mobil ini?
"Mau sampai kapan kau duduk disini, Dobe?" kata Sasuke.
Aku meremas tanganku gugup, "Aku tidak berani keluar, Sasuke. Aku takut membuat fansmu marah, terutama Karin." Ku lirik Sasuke yang menatapku datar.
"Tidak usah pikirkan dia. Cepat keluar."
Akhirnya mau tidak mau aku mengikuti Sasuke keluar dari mobil. Sesuai prediksiku, mereka semua tercengang melihatku keluar dari mobil ini. Aku tidak suka ini, kenapa sih mereka berlebihan begitu? Seakan akan aku ini alien yang baru pertama kali menginjakkan kaki di bumi.
Sasuke sudah berjalan lebih dulu, mengabaikan tatapan mata yang mengarah padanya. Ada tatapan memuja, terpesona, dan sebangsanya. Sedangkan aku? Aku merasa seperti sedang diawasi puluhan pasang mata predator yang mengincar tubuhku untuk mereka kuliti hidup-hidup.
Setelah perjuangan panjang melewati koridor, akhirnya aku sampai di kelasku. Kulihat Karin sedang memandangku sambil menyeringai, dan juga tatapan-tatapan meremehkan lainnya. Ah, sudah biasa. Abaikan.
Aku bergegas menuju bangkuku, ku lihat Kiba sudah masuk sekolah. Shikamaru seperti biasa, tidur dengan kepala bertumpu pada lengannya. "Kiba! Selamat pagi, kau sudah sembuh?" sapaku ketika aku sudah duduk di bangku.
"Selamat pagi, Naruto!" sapanya balik, "Ya, aku sudah sembuh. Syukurlah ada Shikamaru, ibu dan kakakku keluar kota menghadiri pernikahan kerabat, jadinya dia yang merawatku."
Aku dan Kiba tenggelam dalam obrolan seputar anime yang kami tonton. Anime itu menceritakan tentang seorang ninja berisik yang dikucilkan di desanya sendiri. Tapi berkat usahanya yang keras dan pantang menyerah, dia berhasil menjadi pahlawan untuk desanya, bahkan seluruh negara.
Hmm, kisah yang menginspirasi sekali, aku juga ingin menjadi seperti dia. Pantang menyerah menghadapi orang-orang yang mengucilkanku.
Kelas yang awalnya ricuh berubah tenang ketika Kakashi sensei memasuki kelas.
Aku tidak terlalu memperhatikan Kakashi sensei, aku sibuk melamun sambil memandang keluar jendela sampai Kiba menepuk tanganku. Aku menoleh dengan tampang bertanya.
"Kakashi sensei menyuruhmu mengangkat tangan." Ucapnya sambil berbisik.
Aku mengangkat tangan kananku, "Ya, sen─KAU?!" aku berteriak keras, tanganku yang kuangkat berubah menunjuk seseorang di depan sana yang juga menatapku terkejut. Kok dia bisa ada di kelasku?
"Oh, kalian sudah saling kenal? Baguslah, Gaara-kun akan menjadi teman sebangkumu. Nah, Gaara-kun, silahkan duduk di bangkumu."
Aku menatap horror orang yang pernah membuatku takut itu. Tanpa ku sadari, kepalaku menoleh ke bangku Sasuke dan gengnya. Firasatku jadi tidak enak melihat Neji dan Sasuke yang memandang Gaara itu dengan tatapan yang errr… Entahlah.
"Siapa namamu?" tanyanya ketika dia sudah duduk di bangkunya.
Aku menoleh, "Aku Uzumaki Naruto." kataku antusias, aku sangat ingin punya teman sebangku. "Kalau yang ini, Inuzuka Kiba, dan yang tidur di sebelahnya, Nara Shikamaru." Kiba mengangkat tangan kanannya sambil mengucapkan 'salam kenal' pada Gaara.
"Baiklah, Naruto, Kiba, dan… Shikamaru. Mohon bantuannya."
Jam istirahat tiba, aku dan kedua temanku di tambah Gaara menuju ke atap, tempat kami biasa menghabiskan waktu istirahat. Ku abaikan Sasuke dan Neji yang terus menatapku. Ketika sampai di atap, ternyata ada beberapa anak kelas tiga yang terkenal berandalan sedang merokok disitu. Eh? Tumben ada orang di atap?
"Hei, untuk apa kalian kemari?" tanya salah seorang dari mereka.
Aku menggaruk tengkukku, "Errr, kami ingin makan siang disini. Sebenarnya biasanya kami kesini." Jawabku hati-hati, tidak ingin membuat mereka marah.
"Enak saja─"
Ucapan kakak kelas itu terhenti ketika melihat Gaara di belakang kami. Mereka semua membelalak, seakan melihat hantu di siang bolong. Gaara maju, mendekati kakak kelas itu. Setelah berbicara tidak lebih dari satu menit, kakak kelas itu meninggalkan atap sambil terburu-buru.
"Kita sudah bisa makan siang disini. Ayo, aku sudah lapar."
"Whoa, kau hebat, Gaara! Apa yang kau lakukan sampai para berandalan itu mau mengalah?" tanya Kiba.
Gaara tersenyum tipis. "Tidak ada, hanya mengatakan aku ingin makan disini, lalu mereka semua pergi."
Aku menganga tidak percaya. Bagaimana bisa dia mengusir berandalan itu hanya dengan kalimat sederhana seperti itu? Tapi biarlah, yang penting sekarang aku dan teman-temanku sudah bisa makan dengan tenang.
Kami makan siang dengan tenang, sambil sesekali mengobrol dan bercanda.
Selesai makan siang, kami berjalan beriringan menuju ke kelas. Sepanjang perjalanan banyak yang menatap kami─maksudku menatap Gaara. Yeah, aku akui Gaara memang tampan, tidak berbeda jauh dari Sasuke dan gengnya.
Aku juga ingin punya wajah tampan, orang-orang sekitarku sering menyebutku manis. Ew, itu kan sebutan yang lebih cocok untuk anak perempuan, bukan laki-laki.
Ketika sampai di kelas, aku terkejut ketika tanganku ditarik oleh Suigetsu. "Heh, kerjakan PR ku dong, aku lupa mengerjakannya. Kerjakan dengan benar, atau kau─" Dia mengangkat tinjunya di depan wajahku, sebagai tanda dia akan menghajarku kalau tidak mau mengerjakannya.
"Atau apa?" Gaara mencengkeram kepalan tangan Suigetsu yang ada di depan wajahku. Dia mengernyit, lalu berusaha melepaskan tangannya yang dicengkeram erat oleh Gaara.
"Hei, apa-apaan kau?! Kalau kau membelanya, kau akan kena sial! Dia itu pembawa sial! Teman sebangkunya yang dulu saja sampai pindah sekolah gara-gara dia!" Suigetsu berteriak sambil tetap berusaha melepaskan cengkeraman Gaara.
Gaara tidak menjawab, dia memelintir tangan Suigetsu ke belakang tubuhnya, lalu menghempaskan tubuhnya ke atas meja dengan salah satu sisi wajah menempel di meja. Satu tangan Gaara yang bebas mencengkeram belakang kepalanya. "Kau, dan kalian semua yang ada di kelas ini─" Gaara memandang tajam ke seluruh penjuru kelas, "─Kalau ada satu dari kalian, ada yang berani menindas Naruto─" Gaara menghentikan kata-katanya, di saat bersamaan Suigetsu berteriak kesakitan karena Gaara semakin menekan tangannya, "─akan merasakan seperti anak ini, bahkan lebih buruk lagi."
Setelah itu, dia melepaskan Suigetsu. Bocah sok jagoan itu lantas memegangi lengannya yang pastinya terasa sakit itu, mengumpat lalu meninggalkan kami menuju ke bangkunya.
Aku merinding ketika menyadari Sasuke sedang menatapku tajam. Oh, jangan lupakan Neji.
Keributan di kelas mereda ketika Orochimaru sensei, guruku yang nyentrik sekaligus menyeramkan itu memasuki kelas.
"Hari ini saya tidak bisa mengajar, karena ada keperluan mendesak yang harus segera saya tangani." Matanya yang mirip ular itu memandang seluruh siswa di kelas ini. Aku tersenyum tipis ketika melihat wajah senang teman-temanku. Jam kosong merupakan favorit siswa, meskipun tidak semua.
"Saya kemari hanya ingin menyampaikan bahwa minggu depan sekolah akan mengadakan acara berkemah untuk seluruh murid kelas dua. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat di papan pengumuman. Dan, saya juga memberikan tugas sehubungan dengan acara berkemah itu. Bentuklah kelompok berisi empat sampai lima orang, lalu kalian kumpulkan serangga yang kalian temukan disana, minimal lima jenis serangga. Kalian bisa mengawetkannya, untuk diletakkan di sebuah frame. Di kumpulkan seminggu setelah acara kemah selesai."
Orochimaru sensei meninggalkan kelas, barulah seluruh isi kelas bersorak sorai. Tapi entah kenapa, firasatku tidak enak tentang acara berkemah ini.
.
.
.
TBC
.
Huaaa… apa ini? Aku sudah berusaha keras membuatnya, tapi maafkan aku kalau fic ini malah makin gaje dan tidak jelas.
Hmm, untuk bagian yang 'iya-iya' aku baru bisa membuat segitu dulu, aku masih perlu belajar dan mencari referensi. Mungkin nanti, suatu saat nanti aku bisa membuat yang lebih hot, muehehehehe…
Dan, disini aku udah berusaha mengungkap sedikit perasaan Sasuke untuk Naruto. Jadi dia itu sebenernya sayang, tapi dia juga benci. Dia ga bakal tinggal diem kalo ada yang ngegebukin Naruto kalau bukan dia. #dasar makhluk labil.
Chapter ini saya usahakan update super kilat, tapi chapter depan sepertinya akan agak lama karena ada yang harus saya urus di kampus (menjelang sidang skripsi), huhuhu T.T
Saya membaca semua review kalian, tapi maaf saya tidak sempat membalas satu persatu. Saya mengucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya untuk kalian yang sudah menyempatkan diri untuk mereview cerita abal ini...
Oke, sekian cuap-cuapnya.
RnR, please?
