Lanjoot! baca aja ya~ keabisan kata! #digaplok


Roderich dan Gilbert berangkat dari gedung dengan helikopter yang dikendarai oleh Tn. Fathero. Tidak, dia bukan seorang bapak, tetapi namanya terbentuk dari kata 'Fat' dan 'Hero'. Yup, dialah Alfred F. Jones.

Setelah berjam-jam penuh penderitaan, dengan tugas membaca doujin yaoi R-18 G-A-P, sampailah mereka di Indonesia.


Di sebuah sawah, berpuluh-puluh kilometer dari Kota Surabaya…

Yadi sedang sibuk mencangkul sawahnya. Tiba-tiba, dia melihat Roderich dan Gilbert yang kegerahan karena panasnya daerah utara Jawa. "Hei Rod, orang itu mirip nggak?" Tanya Gilbert. "Hmm… Mirip sih… samperin aja." Kata Roderich. Mereka berdua pun menghampiri Yadi.

"Eh, permisi… Anda kenal orang ini?" Tanya Roderich sambil menunjukkan kartu nama Yadi. Yadi mengambil kartu nama tersebut, dan berkata "Ya. Saya kenal banget orang ini. Ini kan saya! Lihat, mirip kan?" Yadi mencocokkan foto itu dengan wajahnya. "Sebenarnya, kulitmu lebih gelap sekarang." Kata Roderich.

"Ah, palingan pengaruh matahari! Biasa itu!" Kata Yadi enteng. "Kalian pasti orang yang dikirim Bos X itu! Ayo ke rumahku, kalian pasti perlu minum!" Kata Yadi riang, menarik Roderich dan Gilbert ke sebuah rumah kayu di pinggir sawah.


Yadi mempersilahkan mereka duduk, lalu ia pergi ke dapur. Disana, ia merebus air, menanak nasi, menggoreng ikan, dan mengulek sesuatu. Tak berapa lama kemudian, ia sudah menghidangkan the, tiga piring nasi, sepiring ikan asin, dan secobek sambal. "Silahkan~ kalau kalian mau, minum saja tehnya dulu." Kata Yadi menuangkan teh di gelasnya Roderich dan Gilbert.

"Gak ada bir?" Tanya Gilbert dengan inosennya. "Gak ada. Kalo mau, ini aja." Kata Yadi menyodorkan semangkok wedang jahe. "Hmm… kelihatan awesome!" Kata Gilbert yang dengan belagunya meminum wedang jahe itu langsung dari mangkoknya, seperti saat dia minum bir. Tak berapa lama berselang… "HUAH! PEDAS! PEDAS YANG TAK AWESOME~" teriak Gilbert keliling ruangan. Yadi yang panik, segera cabut ke dapur, mengambil sekendi air dan meminumkannya langsung ke Gilbert. Gilbert berhenti berlari. "Aaahhh~"


"Makanya… jangan belagu dong, Gil…" Kata Yadi sambil mengambilkan nasi untuk Gilbert. "Ehh… maaf ya, aku hanya punya ikan asin, aku belum menyembelih ayamku bulan ini…"

"Jadi… ini yang namanya nasi? Jujur, ini lembek sekali." Kata Roderich. "Ya itulah nasi. Kamu mau makan beras, kayak ayam-ayamku?" Kata Yadi. Seekor ayam masuk ke rumah dan langsung diberi sejumput beras oleh Yadi. Bos X telah memberitahu, beras itu hambar dan keras, jadi mereka memutuskan untuk tetap makan nasi.

"Hei, merah-merah apaan itu? kelihatannya awesome~" Kata Gilbert melihat sambal cobek. "Itu sambal. Kau boleh ambil, tapi jangan banyak-banyak." Kata Yadi. "Hei Yadi, kau harus tahu satu hal," Kata Gilbert, mengambil sendok nasi. "Hal yang awesome itu, harus diambil banyak-banyak." Gilbert menciduki sambal itu dengan sendok nasi.

Gilbert mencampur nasinya dengan sambal, lalu menyuapkan nasi itu ke mulutnya. Satu pikosekon kemudian… "PEDAAAS~" Dan kali ini, diperlukan tiga kendi air untuk menghilangkan rasa pedasnya.

"Merah-merah tidak awesome! Jauhkan itu dariku!" Kata Gilbert pada sambal cobek. Tiba-tiba… TING! Gilbert dapat ide. "Yadi, wasweswosweswos…" Gilbert berbisik ke Yadi. "Ohh… bisa sih kayaknya, tapi kau harus makan banyak." Kata Yadi. "Wasweswosweswos…" "Oh, oke. Nanti kuajak saja kau dan Roderich untuk wisata kuliner ke Surabaya." Janji Yadi, sementara Roderich merasakan aura tak enak di sekitarnya.

Setelah makan dan istirahat sebentar, Yadi mengajak mereka. "Hei, mau wisata kuliner nggak?" "Boleh! Pasti awesome sekali merasakan makanan daerah ini!" Kata Gilbert senang. "Kita naik apa, Yadi?" Tanya Roderich. "Hmm… Kita naik… Sebentar ya… KEBO! SINI KAU!" Teriak Yadi memanggil Kebo, kerbau kesayangannya. Kebo pun datang dari belakang rumah. "Nah, naik ini, kawan-kawan~" kata Yadi.

Roderich langsung loncat ke gendongan Gilbert. "HUAAA~ mendingan aku diraep Francis daripada naik ini!" Teriaknya. "Roderich? Kau serius mau diraep Francis? menurutku sih, enakan wisata kuliner lho…" Kata Yadi.

Tiba-tiba, Francis datang dengan cara ber-apparate, dan bertanya, "Mon cher, kau mau menerima 'jasaku'? Oh, bahagianya~ Gilbert, bisakah kau serahkan dia padaku?" Gilbert langsung saja menyerahkan Roderich ke Francis, dan yang bisa didengar sekarang adalah sebuah teriakan panjang. "TIDAAAAK~"


Sekitar 20 menit kemudian, Roderich berhasil kembali, dengan baju yang agak berantakan dan kancing kemejanya yang sudah dibuka dua. Yadi yang melihat keuntungan langsung memotretnya dengan kamera HP dan mengunggahnya ke forum PFFI (Perkumpulan Fujoshi dan Fudanshi Indonesia). "Fufufu… untung besar nih gue…" kata Yadi senang. Roderich yang sudah membetulkan kancingnya langsung berkata, "Aku salah! lebih baik wisata kuliner naik Kebo daripada diraep Francis~" Dia nangis-nangis, dan langsung ditenangkan oleh Yadi. "Cup-cup-cup… ayo kita naik… tapi, Kebo lagi males, jadi jalannya satu kilometer per jam. Tak negoin dulu ya…" Kata Yadi. "A-APA?" Roderich merasa ini akan segera jadi hari sialnya.

Setelah nego… "Rod, Kebo setuju, tapi dengan satu syarat. Kau harus mau berpose uke kayak tadi sepuluh kali." Kata Yadi. Roderich kaget, Gilbert senang, dan Yadi menyiapkan kamera instannya. "Ayo cepat, kamu mau wisata kuliner nggak?" Kata Yadi menarik tangan Roderich kembali ke rumahnya.

20 menit kemudian, mereka kembali. Saat melewati persawahan, Yadi menunjukkan foto-foto itu, padi-padi tersebut dengan ajaibnya langsung mengeluarkan beras. Saat foto-foto itu ditunjukkan ke Kebo, ia langsung mimisan. "Huah… bisa untung besar aku kalo ini kujual ke Bu Eliza~" kata Yadi senang.

"Ayo naik!" Yadi menaiki Kebo, sementara Gilbert dan Roderich menaiki gerobaknya, meski Roderich melakukannya dengan ogah-ogahan.

"Baik, semua siap… KEBO, UNTUK FOTO UKE!RODERICH, GO!" Teriak Yadi, dan Kebo berlari sangat cepat, mengalahkan mobil Fe-piiip- yang berpegangan ke Kebo, Gilbert berpegangan pada gerobak, dan Roderich… di kakinya Gilbert.

"GIMANA? LEBIH CEPAT, KAN KAWAN-KAWAN~" Teriak Yadi. "AAWESOOME~" Teriak Gilbert. "AAAAAAH~" Teriak Roderich ketakutan. Mereka terus seperti itu, hingga akhirnya mereka sampai di surabaya. Yadi ngerem mendadak, dan mereka semua jatuh. Yadi jatuh di Kebo, Gilbert jatuh di gerobak, dan Roderich jatuh di tanah.


Mereka bergerak pelan, dan berhenti tidak jauh dari sebuah warung lontong balap. "Disini, menunya cuman lontong balap doang. Gak ada bir, wurst, schnitzel, kue, cappuccino, dan…" Kata Yadi berusaha menyebutkan makanan lain dari Jerman dan Austria.

"Sayang sekali," Kata Gilbert yang harus berpisah dari bir kesayangannya. Mereka pun duduk dan memesan masing-masing satu.

Anehnya, Gilbert yang sudah kepedasan tingkat akut karena makan sambal cobek beberapa waktu lalu, sekarang meminta banyak sambal. Nyaris setengah piringnya diisi sambal. Roderich hanya bisa geleng-geleng kepala dan tangan *?* melihatnya.

Gilbert, dengan kepedesan yang ia bawa, akhirnya disuruh jalan-jalan di sekitar bersama Roderich. Di luar… "Gil, kamu ngapain sih, makan sambal sebanyak itu?" Tanya Roderich. "Oh, aku yang sangat awesome ini punya rencana, yaitu… FUUUUUUHHH…" Gilbert meniup tepat ke arah Roderich. Apinya muncul, dan… Roderich langsung kegosongan. Mariazell-nya juga hangus. "M-Mariazell-ku…"

Yadi yang sudah selesai membayar, langsung menghampiri Roderich yang sekarang berwarna hitam gosong dan Gilbert yang tertawa-tawa. "Ya ampun… Roderich…" dia pun membersihkan kegosongan di sekujur tubuh Roderich.

"berikutnya, warung rawon!" Kata Yadi semangat, dan Kebo berlari (tanpa mereka) ke warung rawon terenak di situ. "KEBO! KEMBALI~" Teriak Yadi sambil mengejar Kebo, diikuti Gilbert dan Roderich di belakangnya. Setelah Kebo berhenti, "Hh… Huff… Capek! Tapi… Ayo kawan-kawan!" Kata Yadi mengajak mereka masuk.

Setelah melakukan prosesi kebiasaan yaitu masuk, duduk, dan memesan, Roderich mengamati jeruk nipis. Tiba-tiba, ia mendapat ide, persis seperti D**k di buku L**a S*ka***. Dia ambil salah satu potongan jeruk nipis tersebut, dan ia cipratkan ke matanya Gilbert. Mata Gilbert jelas langsung keperihan, dan sekarang bukan hanya iris matanya yang berwarna merah, tapi bagian putih matanya juga.

"PERIH! TIDAK AWESOME~" Teriak Gilbert dengan tak elit. Untung saja warungnya masih sepi. "Hei, Rod! Aku yang awesome ini cuman mau balas waktu kau cekek aku di lift tempo hari! Jadi udah impas dong! Mataku yang awesome~" Beberapa pelayan yang lewat cengo melihatnya.

Tiba-tiba, Gilbert mengambil semangkok sambal dan melempari isinya, alias sambal tentunya, ke Roderich. Roderich langsung limbo, lompat, dan cabut menghindari sambal dari Gilbert.

Aksi lontar sambal dan hindar sambal berhenti ketika seorang pelayan menyerahkan pesanan mereka. beberapa saat kemudian, aksi berlanjut. Roderich mengambil mangkok berisi tauge pendek, ia buang isinya (dan ditadahi oleh Yadi), dan mangkoknya ia gunakan untuk menampung lemparan sambal. Sebutan lontar-hindar sambal telah berubah menjadi lontar-tampung sambal.

Yadi memakan pesanannya sambil menunggu pertemputan warung rawon berakhir. Setelah Yadi selesai, ternyata Roderich dan Gilbert masih betah bertempur, kali ini menggunakan sambal dan mangkok tauge dari meja sebelah. Yadi mulai frustasi, dan berhubung pesana mereka berdua sudah dingin, Yadi menarik napas dalam-dalam, dan…

"HEH, KALIAN MAU MAKAN GAK SIH?" Tanya Yadi keras, membawa mangkok rawon dingin di tangan kanan dan sambal serta taugenya di tangan kiri. "KALO KALIAN GAK MAU, TAK ABISIN NIH! CEPETAN MAKAN SONO, TRUS BERSIHIN SAMBELNYA!" Perintahnya.

Dua orang itu langsung duduk, memakan makanan mereka cepat-cepat, sementara Yadi menunggu di atas Kebo sambil main suling. Lalu Roderich dan Gilbert mengambil alat pel dan membersihkan bekas-bekas pertempuran yang berupa sambal dan tauge yang berserakan di lantai.


Serombongan fans Hetalia yang lagi gathering berjalan ke warung rawon tersebut. Tanpa sengaja, mereka melihat Mariazell-nya Roderich nongol dari balik tembok. "Eh, kalian nyadar nggak, kalo rambut aneh yang nongol tadi itu mirip Mariazell-nya Roderich?" Tanya salah seorang anggota. "YA IYALAH~" Koor serombongan. "Pergi ke situ yuk, siapa tahu kita nemu Roderich beneran lagi! Lumayan tuh... Bisa dipairingin ama..."

"Gilbert!" "Antonio!" "Francis!" "Ivan!" Dan akhirnya para fans Heta tersebut malah berdebat soal dengan siapa Roderich dipairingin. "Tapi, bagaimana jika itu bukan Roderich? Bisa saja itu orang lain, atau bukan apa-apa." Kata salah seorang fans. "Sudahlah, apapun itu, lihat saja dulu." Usul yang lainnya. mereka pun berjalan ke sana.

Yadi yang mengetahui hal tersebut langsung menyuruh mereka keluar lewat pintu belakang. Yadi membawa Kebo memutar. Di pintu belakang, Gilbert dan Roderich bertanya, "Ada apaan sih sampe nyuruh kita lewat sini? (Gak awesome jalannya!)" "Udah ah, gak ada waktu. Ayo cepat!" Yadi menyuruh mereka naik.


Kebo terus berjalan, sementara pairing PruAus menanyai Yadi apa yang terjadi. "Oh… Tadi itu, ada serombongan fans hetalia lagi gathering datang ke warung rawon. Mereka tertarik untuk mendekat dan rambut gaje-mu itulah yang menyebabkannya!" Kata Yadi. "Maksudmu Mariazell-ku?" Tanya Roderich. "Ya. tepat sekali. Sekarang ayo kita ke warung rujak cingur."


Aaaa... makasih sudah baca, maaf kalau penggambaran WisKul-nya kurang intensif, maklum soalnya saya sendiri kurang tau sudut pandang seorang bule! #plak! tolong review, saya kehabisan review *?* dan... tunggu chapter depan ya~