Chapter 2 is here…
Yeihaa..
Terimakasih yang sudah membaca dan mereview chapter sebelumnya. Ri sangat senang~
Baiklah, ri persembahkan Prince of Snow chapter 2 ini, silahkan membaca dan jangan lupa mereview yaa..
CHAPTER sebelumnya..
"Pangeran Uchiha akan melanjutkan study di sini loh!"
"Biarkan seorang Pangeran Uchiha yang menghadapi ini"
"Sasuke-kun?"
"Shut! Secret!"
"Ya..benar!di Perancis.."
##############
Naruto © Masashi Kishimoto
Prince of Snow © rizukauchiha29
Warning : OOC, gaje, abal, typo,
dan segala macam kekurangannya
Review please ?
##############
CHAPTER 2
Sakura POV
"Kau ini kenapa, Sakuraa?" aku bertanya pada sosok diriku sendiri yang tengah menatap gusar cermin dihadapanku. Sejak tadi aku merenung, bimbang rasanya. Aku tidak cukup cantik untuk mensejajarkan diri dengan gadis itu. Aku tidak cukup cocok untuk menjadi pasangan seorang Hatake Kakashi, tapi aku tak mampu jika mesti terus terusan tersenyum di balik gundah ini. Bagaimanapun aku masih ingin bersama Kakashi.
Lalu dengan ajaib, perasaan ini terbagi pada sosok yang amat sulit untuk digenggam, aku menyukai Prince Sasuke –kurasa begitu- soalnya aku merasa entahlah~ kau tau, dag-dig-dug tanpa sebab saat dia ada didekatku.
Baiklah ini hal-hal gila yang tak mungkin kucapai. Aku tak mungkin menjadikan Kakashi pendampingku karena sudah SANGAT JELAS, dia akan bertunangan dengan gadis luar biasa dari clan Mitarashi. Dan aku juga tak mungkin menjadi pendamping Prince Sasuke karena dia seorang putra mahkota yang terikat dengan protocol kerajaan, berarti dia pasti sudah memiliki calon permaisuri yang sudah SANGAT JELAS bukan aku. OH! Ayolah Sakura, berhenti bermimpi.
"Sakura.." suara halus terdengar dari luar pintu kamarku. Aku tersenyum lega. Rupanya kaasan dan tousan sudah kembali dari Venice. Itu suara kaasanku, Haruno Ran. Wanita lembut yang cantik dan sempurna.
"Boleh kaasan masuk?" ucapnya lagi. Aku tersenyum dan segera membukakan pintu. Kaasan tersenyum setibanya di kamarku, sungguh senyum lembut yang menenangkan.
"Sakura, kau bisa ke kantor pusat Vogue, besok?"ucap Kaasan. Vogue adalah majalah fashion milik kaasanku, kantor pusat Vogue terletak di pusat kota, itu kantor kaasan dan kantorku juga sih, sejak 4 bulan lalu aku ditunjuk oleh kaasan sebagai vice presdir disana. Profesiku sebagai pelajar sekaligus model catwalk dan majalah membuat kaasan percaya padaku untuk urusan fashion.
"Ya tentu saja.." ucapku menjawab pertanyaan kaasan. Setelah mendengar jawabanku, kaasan bangkit dan mengecup puncak kepalaku, kemudian ia melangkah keluar. Aku menghela nafas berat, kaasan dan tousan memang sangat sibuk, kadang aku sering merasa sepi. Untung saja ada teman-temanku dan segudang jadwal show yang membuatku lupa dengan rasa sepi ini.
"drrt..drrt.."bunyi getar handphone terdengar, aku rogoh ponsel touch yang tergeletak pasrah disamping laptop. Sebuah sms terpeta dilayar.
From : Hatake Kakashi
My pixie, kita jalan-jalan yuu? Aku jemput 10 menit lagi, bye..
Love
Yours
Aku tersenyum miris. Kakashi, selalu seperti ini, kekanakkan dan tetap menjadi Kakashiku yang dulu. Itulah hal yang mungkin yak mampu aku lupakan dari sosok Hatake muda ini.
^^^Prince of Snow^^^
Normal POV
Pagi yang cerah digantikan oleh terik menyengat di siang hari. Sepasang remaja baru saja turun dari mobil sport hitam. Sosok tinggi tampan dengan rambut perak melawan gravitasi menggandeng lengan gadis berambut merah muda. Mereka berjalan beriringan kedalam sebuah taman lavender yang tidak begitu ramai.
"Indah sekali.." gadis berambut merah muda bergumam. Ia pejamkan matanya erat, menghirup wangi khas lavender yang menguar dan bercampur dengan wangi maskulin khas milik pria disampingnya. Ia terperanjat dan sontak membuka matanya lebar tatkala sepasang tangan merangkul dan merengguhnya dalam sebuah dekapan hangat yang terasa memilukan. Ia masih terdiam membisu. Merasa bingung dan senang sekaligus. Namun detik berikutnya, ia tersadar dan segera mendorong sosok tang tengah memeluknya.
"Kakashi! Kumohon!"isak gadis itu, perlahan bulir air mata mengalir dari emerald itu, semakin lama semakin deras. Pria yang dipanggil Kakashi terdiam setelah tersungkur jatuh, ia sendiri bingung dengan hal diluar batas yang dilakukannya. Seperti tangannya bergerak tanpa komando dari otaknya dan penyesalannya semakin mendalam saat ia menangakap bulir air mata yang mengalir semakin deras dari gadis dihadapannya. Gadis yang amat ia cintai, kasihi dan sayangi.
"Sakura.. aku.. maafkan aku.."ucap pria itu lirih. Ia menunduk dan meremas kuat rumput dikedua tangannya. Sesak menyeruak diantara kosongnya jiwa.
"Kakashi.. kumohon! Jangan buat aku semakin tak bisa melepasmu, aku.. mohon.."Sakura-nama gadis itu- terduduk lemas. Batinnya perih. Entah mengapa rasa sesak kembali memenuhi kalbunya. Rasa sulit untuk melepaskan seseorang yang amat disayangi memang selalu datang tatkala kita tak bisa memiliki orang itu. Rasa yang luar biasa sakit yang semakin terasa mengoyak jiwa, bukan begitu?
^^^Prince of Snow^^^
Hitam putih tuts piano dimainkan hingga membuat nada-nada indah yang berbaur dalam irama menghanyutkan. Music klasik roman yang dikemas apik melalui simphoni nada cinta milik seorang putra mahkota tentu hal menarik untuk ditatap dan didengar.
"Pangeran.." suara baritone menghentikan music indah itu, sang pangeran berdecak sebal, ia berbalik dan menatap garang pria berjas yang sudah merusak ketenangnannya di istana membosankan ini.
"Ma..maaf. ada yang ingin bertemu dengan pangeran.."pria berjas itu menunduk, diam ditempatnya, menunggu jawaban pasti dari sang Earl.
"Hn, siapa?"sang pangeran bertanya dengan nada datar.
"Seorang gadis berambut indigo dan berpupil lavender, kalau tidak salah namanya, Hyu..Hyuuga.. Hi.. aduh apa ya?Hyuuga Hina.."
"Hyuuga Hinata!"ucapan sang pangeran sukses memotong ucapan pria berjas itu. Sebuah mantel berlambang kipas dikenakan saat sang pangeran melangkah keluar. Sesuatu bergejolak didadanya. Ia tidak terlalu yakin dengan hal yang ia lakukan, menemui orang yang paling tidak ingin ditemuinya selama di Konoha, bukankah itu konyol?
^^^Prince of Snow^^^
''Perunanganmu sudah diputuskan!"
Kalimat pendek yang diucapkan sang raja membuat 2 orang didepannya kaget. Sosok cantik berambut hitam panjang yang dikenal sebagai permaisuri Konoha, Uchiha Mikoto dan sosok tampan yang dikenal sebagai putra sulung sang raja, Uchiha Itachi membelalak. Keduanya terperangah menatap sang raja Konoha, Uchiha Fugaku menatap serius.
"Ayah.. apa maksudmu?" Itachi bertanya pelan. Ia masih bingung dengan 3 kata yang baru saja didengarnya. Pertunangan? Apa dia salah dengar?
"Pertunanganmu sudah diputuskan, minggu depan saat festival kembang api. Jadi persiapkan diri mu!" Fugaku kembali berujar. Aksen serius tetap membingkai wajah bangswannya.
"Fugaku!kita belum bicarakan ini, bahkan kita belum meminta pendapat Itachi!" Mikoto berusaha membela anaknya. Ia seringkali gerah dengan sikap suaminya, sikap egois, keras dan konvensional yang selalu dilengkapi dengan aksen serius. Seringkali Itachi dan Sasuke-lah yang menerima dampak sikap sang ayah.
"Kita orangtuanya, Mikoto! Dia putra mahkota kerajaan ini. Sudah sepatutnya ia menikah dengan gadis dari kalangan bangsawan yang setara dengan kita. Suka maupun tidak, ia akan tetap bertunangan.."ucap Fugaku sedikit membentak. Kilat kemarahan terlihat jelas dari onyx pekat yang terbingkai dimatanya.
Itachi tertunduk, ia tak mungkin melanggar perintah ayahnya. Ia sadar, menjadi seorang putra mahkota ynag berada digaris keturunan pertama bukanlah sesuatu yang mudah. Selama 20 tahun, ia tinggal dalam belenggu protocol kerajaan, meski 8 tahun tinggal di Perancis, tugas kenegaraan tak pernah absen dilaksanakannya, betemu jutaan Earl sudah menjadi kegiatan rutinnya, sapaan pagi kerajaan, bertemu dengan rakyat, wawancara kerajaan, pelatihan kepribadian dan yang terakhir bertunangan bahkan menikah dengan gadis kalangan atas yang tak pernah ia kenali atau ia cintai sedikitpun. Lengkap sudah segala kewajibannya sebagai putra mahkota.
Lalu apa yang ia dapatkan? Sejujurnya ia ingin melepas mnarga "UCHIHA" dan tinggal sebagai rakyat biasa. Berpakainan biasa sama seperti yang lain, bukan memakai pakaian khusus yang terbuat dari sutra dan emas. Tersenyum tulus karena bahagia, bukan senyum paksa untuk menunjukkan wibawa. Ia lelah, yaa seorang Uchiha Itachi lelah memangku jabatan sebagai pewaris tahta kerajaan di garis terdepan.
"Ya, aku mengerti!" Itachi berujar datar. Fugaku dan Mikoto memandang lekat putra sulung mereka. Ekspresi datar yang sulit ditebak terpeta jelas di wajah tampan Itachi.
"Aku mengerti akan kewajibanku sebagai putra mahkota. Apapun yang ayah perintahkan, akan kulakukan.." Itachi kembali berkata, mimic wajahnya tetap datar tak terbaca. Mikoto heran dengan sikap aneh putra sulungnya. Naluri keibuannya dapat membaca perasaan kalut dihati sang putra. Itachi menengadahkan kepalanya, mentap langit-langit ruangan sembari tersenyum lembut.
"Aku akan bertunangan dengan gadis itu.."
^^^Prince of Snow^^^
Riak-riak air mengambang dipermukaan kolam. Ikan-ikan berkerumun menimbulkan suara0suara teduh di istana Uchiha. Seorang pangeran tampan melangkah santai, ia menutup matanya sesekali. Mencoba menenangkan perasaannya yang tadi bergemuruh hebat, kakinya berhenti saat tiba disebuah taman bertulis 'Uchiha's carnation Garden'.
"Hm.. anyelir.." gumamnya. Ia berjalan masuk ketaman bunga anyelir. Pandangannya menerawang seisi taman. Dan diujung taman sanalah onyxnya dapat menemukan sosok gadis berambut indigo yang berdiri memunggunginya. Seketika senyumnya sirna digantikan kilat sinis, datar dan seringai tajam. Sang pangeran terdiam, menunggu reaksi dari orang diseberangnya, namun cukup lama ia terdiam tak ada tanda-tanda reaksi dari sosok dihadapannya. Kesal menyeruak, ia berdehem pelan.
"Ehm… kau sudah membuang 10 menit waktu berhargaku!" ucap pangeran bungsu Uchiha itu. Seketika sosok dihadapannya berbalik. Jelas sudah sekarang, onyx sang pangeran menatap gadis berambut indigo dengan pupil lavender yang menawan.
"Sasuke-kun.." ucap gadis itu, ia memandang lekat pria tampan yang dipanggil Sasuke-kun olehnya. Jantungnya memompa lebih cepat.
"Dia tetap memesona, onyx, raven, seringai khasnya"bisik gadis itu dalam hati. Hyuuga Hinata nama gadis itu, semua orang di Konoha tentu mengenalnya. Dia yang seorang putrid bungsu clan Hyuuga, segala hal yang ia miliki. Mulai dari harta yang melimpah, kecantikan yang luar biasa, sikap dan sopan santun yang memesona menjadikannya seperti manusia sempurna.
"Kau lancing sekali, kau tidak TAU siapa AKU, hah?oh, atau kau lupa siapa AKU?" Sasuke berujar sinis. Nada suaranya ketus, membuat gadis dihadapannya menatap heran tak percaya.
"Sa..su..ke..kun? ada apa denganmu?"Hyuuga muda itu terisak, bulir-bulir cairan asin merembes dari matanya.
"Kubilang, KAU LANCANG! Kau tidak dengar mereka memanggilku apa? Aku ini UCHIHA SASUKE! Pangeran Konoha, dan ini KONOHA bukan PERANCIS!"Sasuke membentak, penekanan nada yang ia ucapkan membuat Hinata semakin merasa terluka. Hyuuga cantik itu menunduk, menangis semakin kencang. Sedetik, Sasuke terenyuh, bagaimanapun gadis dihadapannya ini pernah ada dalam hidupnya, pernah menjadi seseorang yang penting baginya. Tapi kepingan kenangna yang kembali terputar di otaknya membuat bungsu Uchiha ini kembali bersikap sedingin es.
"Sasuke.. apa.. his.. kau… tidak bisa… menjadi Sasuke yang dulu.."Hinata menghela nafas sejenak, sebelum berkata :
"Sasuke yang kukenal, di Perancis…"
***To be continue***
Asyik.. asyik.. chapter 2…
Bagaimana? Apa sudah cukup memuaskan? Tebak, siapa calon tunangannya Kakashi dan Itachi?terus apa masa lalu Sasuke ama Hinata?ayo-ayo tebak! Jawabannya di chapter 3.. tungguin yaa.. (ngarep pisan)
Ayo semuanya review yang banyak, supaya ri bisa tau kesalahan ri dimana, oke?
Karena review sangat berharga untukku, Terimakasih
