Marry Me, Secretary Oh
KaiHun
Chaptered
T+
Disclaimer: Cast milik orang tua masing-masing. Cerita murni dari otak turun ke tangan.
Warning: BL, Typo
Gak suka gak sah baca eak!
.
.
.
.
Jongin mengerut dan terus mengerutkan mimik wajahnya selagi menatap kosong ke arah tembok. Tidak, di tembok tersebut tidak ada apa-apanya, tidak ada poster jumbo Kim Kardashian dengan bikini atau apapun, hanya berupa dinding polos berwarna biru dongker yang biasa-biasa saja.
Namun, intinya bukan itu.
Si eksekutif muda yang belakangan tengah dilema ini sedang menerima telfon, dan kabar yang di dengarnya dari orang di sebrang telfon inilah yang membuat dia terlibat adu pandang dengan dinding dihadapannya seakan memunggu ajal menjemput.
"Eomma... yakin tidak sedang bercanda ?" Lirih anak semata wayang dalam keluarga Kim tersebut. Berharap mendengar kekehan jail eommanya lalu kemudian berkata. 'Bercanda kok anakku'. Iya itu sih inginnya saja. Tapi yang didengar malah helaan nafas panjang dari sang eomma yang berada nun jauh disana.
"Pasti kau belum juga menemukan calon 'kan ?" Alih-alih menjawab, nyonya Kim malah memberi pertanyaan 'telak' pada anaknya.
Jongin tidak langsung jawab, ia termenung beberapa saat sambil tetap memandang tembok kamarnya, berharap dari tembok tersebut tiba-tiba dapat mengeluarkan calon istri gratis sehingga membuat masalahnya cepat kelar.
Ah, tapi itu sih menyeramkan namanya.
"Apa eomma turun tangan saja ?"
Karena tak kunjung dapat jawaban dari sang anak, nyonya Kim kembali bersuara untuk memberi saran. Jongin paham maksud dari omongan tersebut, paham betul malah, maksud dari turun tangan disini adalah, ia akan dijodohkan oleh eomma dengan beberapa kandidat istri yang cocok.
Tapi maaf, Jongin anti dijodohkan, harga dirinya bisa terluka kalau sampai itu terjadi. Kesannya malah seperti orang tidak laku.
"Tidak usah sajalah eomma, aku cari sendiri saja"
"Iya, tapi mana ? Ingat Jongin, seminggu lagi. Apa bisa kau temukan calon yang pas dengan kriteria kakek dalam waktu segitu, hm ?"
Jongin terdiam lagi. Menyerap kata-kata sang eomma yang mengalir lancar masuk dari telinga kiri tapi -tidak begitu saja- keluar ke telinga kanan. Ini 'kan, masalahnya serius. Masalah yang membuat dia betah berlama-lama memandang dinding polos didepannya yang tidak menarik sama sekali ini.
Rencana awal, kakek tua bang- ehm maaf kakek keluarga Kim tersebut akan memberi waktu 5 bulan bagi cucu-cucunya untuk segera memperkenalkan calon masing-masing. Lumayan lama. Tapi sekarang ia malah dapat kabar bahwa kakeknya yang kini masih menetap di Jeju tersebut dengan gamblang akan segera datang ke rumah induk untuk menuntut calon istri kepada cucu-cucunya. Dalam kurung waktu satu minggu.
Nah, yang perlu digaris bawahi disini adalah betapa plin plan nya si kakek tua bang- maaf, kakek Jongin yang dengan seenak hatinya merubah-rubah jangka waktu seperti itu.
Tidak tahukah kalau disini Kim Jongin masih setia dengan status melajang.
Lain Jongin maka lain lagi dengan sepupunya yang bernama Kim Joonmyun. Kalau dia sih sudah siap nikah kapanpun dengan cowok berlesung pipi yang Jongin lupa siapa namanya itu.
Tiba-tiba saat sedang khidmadnya melamun, sekelebat bayangan wajah pria manis dengan kulit putih susu masuk tanpa izin ke kepala -agak lemot- Jongin. Wajah yang baru tadi siang dilihatnya begitu mempesona sehingga membuat sang eksekutif muda tergiur untuk menjadikannya calon 'istri'.
Oh Sehun. Boleh juga.
Jongin menggeleng untuk menjernihkan kembali pikirannya. "Eomma tenang saja, aku sudah punya calon"
Ucap Jongin mulus tanpa ada keraguan sedikitpun, ia senyum-senyum pede saat mengatakan hal tersebut. Seolah orang yang dimaksud sudah pasti mau diajak nikah.
"Yang benar kamu ?" Nyonya Kim yang dari tadi terdengar murung kini agaknya bersemangat. Bagaiman tidak kalau masalah yang membuat dia uring-uringan beberapa hari kini terselesaikan begitu saja. Agak aneh memang, ditengah-tengah menelfon apa bisa tiba-tiba dapat calon istri ? Ah, tapi sudahlah, anaknya memang terkadang aneh.
Jongin menggumankan jawaban pasti sambil mengangguk tak kalah semangat.
'Semoga ya eomma' sambungnya kemudian dalam hati. Memikirkan cara yang pas untuk menjadikan Oh Sehun 'istrinya'.
Shootdanonymous
"Sudah aku putuskan kalau aku berubah pikiran"
Baru Jongin akan melangkahkan satu kaki kedalam ruang kerjanya. Sesosok orang yang lebih rendah sudah menghadang ditengah-tengah pintu.
Apa-apaan ?!
Jongin menatap lekat ke arah sesosok tersebut yang ternyata adalah sahabatnya, berdiri tegak dengan tangan yang dilipat di depan dada. Untung sudah kenal lama, kalau tidak sudah out office dari tadi orang ini. Ah, tapi tidak juga lah, Jongin tidak se-berkuasa itu untuk memecat Luhan.
"Aku bahkan belum merasakan AC ruangan ku tapi kau sudah menghadang seperti pohon tumbang, minggir!" Jongin berucap kesal. Ia paling tidak suka di usik begini apalagi alasannya tidak jelas.
Luhan tampak tak kalah kesal lantaran sudah disamakan dengan seonggok pohon, tumbang pula. Tapi tetap menurut dengan masuk lebih dulu ke dalam ruang Jongin.
"Apa sih yang mau kau biacarakan ?" Tanya Jongin akhirnya selagi melampirkan jas di senderan kursi. Kemudian pasang posisi nyaman di kursi kerjanya yang sudah ia anggap singgasana tersebut.
Luhan yang sudah lebih dulu duduk dihadapannya mulai buka suara. "Seperti yang ku katakan, aku berubah pikiran"
Jongin melipat tangan di dada dengan alis yang menyatu. "Maksudmu ?"
"Tentang Sehun, sudah ku putuskan aku tidak main menyerah begitu saja" ucap Luhan serius walau tatapannya tak menghadap langsung ke arah sang sahabat.
Jongin menghela nafas malas. "Kenapa lagi ? Kau masih penasaran ?" Padahal sudah bagus kemaren Luhan mau merelakan Sehun. Tapi sekarang sudah berubah lagi. Entah mengapa Jongin jadi sangat sensitif dengan orang plin-plan begini.
Luhan menggeleng. "Sepertinya aku bukan cuma penasaran" ucap Luhan tampak berfikir.
"Aku terus kepikiran dan tidak akan tenang kalau aku tidak mendapatkannya" lanjut Luhan lagi. "Jadi, aku tidak akan begitu saja menyerahkan Sehun padamu"
Luhan tersenyum miring, tampak menatap Jongin yang merengut kesal.
"Itu namanya penasaran! Dasar idiot!" Lihat kan betapa sensitifnya Jongin.
"B-benarkah ?"
Luhan tampak ragu kembali, sepertinya ia sedang menyangkal bahwa rasa yang dimilikinya kepada Sehun hanya sebatas itu saja. "Ah sudahlah, penasaran atau tidak intinya aku tidak akan mengalah padamu!"
Seperti yang Jongin duga, Luhan tetaplah Luhan yang tidak akan mengalah begitu saja jika sudah memiliki ambisi. Sama seperti Jongin. Pada dasarnya sifat mereka berdua memamg sama-sama keras kepala.
"Terserah, kalau begitu mulai sekarang kita bersaing" Jongin berusaha untuk tetap tenang walau dalam hati ia begitu gelisah. Ini Luhan, yang sudah saling sapa akbrab dengan Sehun. Yang tingkat memikat sasarannya paling ampuh se-kantor. Jongin jadi ragu dapat menang.
Ah padahal, dia kan tidak memiliki perasaan cinta atau segala macamnya terhadap si Sehun ini sampai harus berjuang begini. Hanya ingin dijadikan pendamping kemudian bercerai sudah cukup. Tapi lihatlah, untuk mencapai tujuannya saja harus bersaing dulu dengan sahabat sendiri.
Oh Sehun ini, spesial atau merepotkan sebenarnya ?
Shootdanonymous
Oh Sehun tidak tahu apa, mengapa, dan bagaimana, ia bisa berada dalam posisinya sekarang.
Yang jelas sejak 5 menit keberadaannya di ruang ini, ia hanya diam dan berusaha dengan keras untuk mempertahankan expresi setenang mungkin ke seseorang di hadapannya. Tanpa alasan yang jelas, Sehun dipanggil untuk 'menghadap'. Ia bahkan harus meninggalkan setumpuk pekerjaan yang baru setengah ia sentuh demi untuk kesini.
Peduli apalah dengan pekerjaan!
Panggilan dari orang ini lebih penting.
"Jadi, Oh Sehun.."
Sehun terkesiap sejenak. Setelah mengabiskan 7 menit tanpa sepatah katapun. Akhirnya Jongin telah memutuskan untuk ambil suara.
Benar, orang yang membuat ia tegang bukan main saat ini adalah sang atasan, Kim Jongin.
"Iya, bos" sahut Sehun masih dapat mempertahankan expresi tenangnya dengan baik. Percaya dalam hati bahwa ia tidak melakukan kesalahan apapun selama ini, jadi kemungkinan ia akan di marahi sangatlah kecil. Atau bahkan di pecat.
Hmm, semoga.
Tapi kenapa ya wajah si Jongin ini bikin ingin cepat-cepat pulang. Sangarnya minta ampun!
"Apa kau tahu kenapa kau ku panggil kesini ?"
Bahkan gaya bicaranya sudah seperti pembukaan yang paling tepat untuk memecat karyawan.
"Tidak tahu, bos" jawab Sehun lagi, masih betah dalam mempertahankan expresi tenangnya walau dalam hati sudah merancang berbagai kata memohon agar tidak ditendang keluar dari kantor ini. Itu pun jika memang akan di pecat sih.
Jongin membenarkan posisinya untuk duduk tegak, ia mengeluarkan selembar kertas dan sebuah pulpen yang sudah sedia di tangan. "Aku akan melakukan interview" ucapnya pelan.
... melakukan apa ?!
"Interview ?"
Sehun dapat melihat Jongin mengangguk sekali atas pertanyaannya.
"Interview, kau tahu lah... aku mengajukan beberapa pertanyaan lalu kau harus menjawabnya.." Jawab Jongin mengangkat bahu santai seolah sudah memecahkan rasa kebingung yang mendalam dari sekretarisnya ini. Kalau itu kan nenek Sehun yang sedang panen sayur di Busan juga tahu!
Yang jadi pertanyaan, buat apa. Buat apa mengadakan interview lagi.
Seingat Sehun sebelum ia di terima untuk bekerja disini, ia sudah lebih dulu melakukan interview jauh-jauh hari.
Memang tidak dilakukan bersama atasannya ini, melainkan dengan bekas sekeretaris Jongin terdahulu, tapi kan sama saja. Intinya sudah interview!
Jongin berdehem sekali membuat Sehun mau tak mau memusatkan fokus sepenuhnya pada sang atasan.
"Baiklah, kita mulai saja" ucapnya kemudian.
Sehun mengangguk lemas. Pasrah sajalah atas apa-apa yang mau dilakukan sang atasan. Setidaknya ia tidak akan di pecat, kan ?
"Apa kau menemukan kendala selama bekerja disini ?"
Oke, pertanyaan yang normal.
"Seajauh ini lancar saja" jawab Sehun pasti, ia memilih untuk tidak menyuarakan kendala-kendala kecil yang dihadapinya seperti kursi kerja yang sudah tidak nyaman lagi atau kran air yang sering kali mampet. Tidak! Bisa-bisa ia diborder tatapan mematikan sang atasan.
"Transportasi apa yang kau gunakan ?" Lanjut Jongin dengan pertanyaannya.
"Bus kota, terkadang juga taksi" jika dalam keadaan terlambat maka Sehun mau tak mau memanggil taksi.
"Tidak ada kendaraan pribadi ?"
Sehun menggeleng pahit. Mana punya kendaraan pribadi, kerja disini saja belum terima gaji.
"Kau tinggal sendiri, hm ?"
Ia kini mengangguk cepat. "Iya, bos"
Entah Sehun yang terlalu banyak berimajinasi atau ia memang benar melihat Jongin yang sedikit menarik ujung bibirnya membuat senyuman simpul.
"Apa kau.." Jongin terhenti sejenak, ia mengalihkan tatapannya dari selembar kertas di meja ke arah Sehun yang masih duduk anteng dengan tangan yang saling menyatu. Tampak jelas kegugupan dari pria manis dihadapan Jongin ini.
"Masih single ?"
"... hm ?" Sehun menatap dalam diam Kim Jongin dihadapannya yang juga sedang menatap balik. Berharap sang atasan memperbaiki pertanyaan yang tidak normal untuk ditanyakan dalam keadaan begini semacam tadi. Tapi harapan cuma tinggal harapan, si bos tetap diam dengan tatapannya yang kian menunggu jawaban, mau tak mau membuat Sehun buka mulut untuk menjawab pertanyaan 'normal' tersebut.
"... ya, masih single"
"Yang benar ?" Sekarang malah tambah aneh. Bos yang biasanya cuek ini entah mengapa tampak 'agak' penasaran dengan kehidupan pribadinya.
Sehun mengangguk-angguk pelan. Ia tak begitu paham harus bereaksi bagaimana atas situasi yang dihadapinya sekarang.
"Lalu... bagaimana menurutmu Luhan ?"
Nah, kenapa pula Luhan dibawa-bawa dalam interview macam ini. Ayolah, dengan pertanyaan di atas saja sudah cukup aneh.
"Maksud bos ?"
Jongin tersenyum miring, "Luhan, kau suka padanya ?"
Sehun tidak langsung menjawab. Ia masih berusaha dengan baik untuk memproses apa yang baru saja di maksud oleh atasannya ini. Pertama, ia tidak suka Luhan. Well tidak dalam artian yang gimana-gimana. Kedua, apa sih maksud si Jongin ini bertanya macam itu. Ketiga, uhh tiba-tiba Sehun jadi ingin ke toilet saking bingungnya akan situasi ini.
"Tentu, jika yang bos maksud sebagai rekan kerja" akhirnya Sehun memilih jawaban yang di rasa paling aman.
"Rekan kerja ? Bagaimana jika rekan hidup ?"
Rekan hidup ?! Maksudnya apa lagi ? Rekan kerja seumur hidup atau apa, sih?! Dari tadi buat bingung terus. Bos sialan!
Kira-kira begitulah rapalan keluhan batin seorang sekretaris yang hanya bisa ia suarakan di hatinya.
"... bos, bisa tidak di perjelas ? Jangan membuatku berpikir yang jauh-jauh, aku hampir kira bos bertanya bagaimana Luhan jika menjadi suami ku" pada akhirnya luapan emosi yang 'agak' halus itu saja yang keluar dari bibir tipis Sehun. Serius, ia merasa dari tadi dikerjai oleh atasannya ini.
Jongin tertawa geli, ia sedikitnya dapat menangkat raut wajah yang kian berubah dari sekretarisnya ini. Kesal, bingung dan emosi-emosi lain yang membuat Jongin gemas dan betah berlama-lama melihatnya.
"Memang benar, aku memang bertanya bagaimana jika Luhan menjadi suamimu, apa pernah terpikirkan ?" Setelah berhasil meredakan rasa gelinya, Jongin kembali bertanya dengan serius. Menghasilkan kerutan dikening dari Sehun yang semakin kentara.
"Tentu saja tidak... bos" jawab Sehun berusaha menahan sabar.
"Oh ya ? Kenapa ?"
Sehun menghela nafas, tampaknya jika tidak diberi jawaban yang diinginkan, si bos akan terus mengusik sampai ia buka suara sejelas-jelasnya, jadi langsung sajalah,
"Pertama, Luhan sama sekali bukan tipe ku" mulai Sehun telak, sampai lupa menyebut nama yang lebih tua dengan surfix 'hyung'. Peduli apalah.
"Kedua, aku cuma mengaguminya karena dia baik, tidak lebih" jadi itu menjelaskan mengapa ia sangat senang jika bertemu Luhan.
"Lalu, dia itu kan... playboy"
...
Jongin menahan seringainya mati-matian, ia berusaha untuk tetap berwajah biasa walau dalam hati ingin mencium bibir tipis namun tajam milik sang sekretaris. Ah tidak benar-benar ingin mencium juga, hanya sebagai kiasan akan jawaban Sehun yang sudah lebih indah dari apapun saat ini. Sungguh! Jongin lega mendengar tiga jawaban mutlak yang menyatakan bahwa Luhan sudah kalah telak. Ha! Ha!
"Hmm... begitu" Jongin masih berusaha bersikap biasa. Ia memperhatikan Sehun yang kini pasang posisi meliapat dada dengan bibir yang mengkerut. Tampaknya sudah hilang kesabaran karena ditanyai yang aneh-aneh.
Ah, sekalian sajalah Jongin tanyakan lagi.
"Kalau ada yang melamarmu sekarang bagaimana ?" Pancing Jongin, sukses mendapat pemandangan gratis dari mulut Sehun yang menganga lebar.
"M-melamar ?!"
Jongin mengangguk sekali. Mempertahikan dengan seksama bagaimana Sehun tampak kesusahan dalam menjawab.
"... aku.. ah tidak tahu harus jawab apa lah bos!" Mungkin bagi Sehun ini interview kerja ter susah -dan teraneh- yang pernah ia alami.
"Kalau begitu.." Jongin lagi-lagi menggantung omongannya. Ia masih betah menatap Sehun yang tampak meneguk ludah tak nyaman dihadapannya. Kasihan juga lama-lama pada sekretaris muda tersebut.
"Sini... aku lamar"
.
.
.
.
.
.
.
Tbc...
